<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>DF - Multidiciplinary Program</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/91</link>
<description/>
<pubDate>Mon, 31 Aug 2026 15:38:49 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-31T15:38:49Z</dc:date>
<item>
<title>Model Perencanaan Penggunaan Lahan Berbasis Jasa&#13;
Ekosistem Pangan Padi dan Stok Karbon (Studi Kasus Kabupaten Sukabumi)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179217</link>
<description>Model Perencanaan Penggunaan Lahan Berbasis Jasa&#13;
Ekosistem Pangan Padi dan Stok Karbon (Studi Kasus Kabupaten Sukabumi)
Kurniawan, Tatang
Kabupaten Sukabumi menghadapi tekanan perubahan penggunaan lahan akibat pertumbuhan penduduk, perkembangan wilayah, pembangunan infrastruktur, dan meningkatnya kebutuhan ruang terbangun. Tekanan tersebut berpotensi mengurangi lahan sawah dan hutan, sehingga menimbulkan trade-off antara kebutuhan pembangunan, penyediaan pangan padi, dan pemeliharaan stok karbon. Penelitian ini bertujuan: (1) menganalisis pola perubahan penutupan/penggunaan lahan; (2) mengidentifikasi faktor pendorong perubahan; (3) membangun model dinamik penggunaan lahan; (4) menganalisis dinamika keruangan hingga 2043; (5) menilai dampak perubahan lahan terhadap jasa ekosistem pangan padi dan stok karbon; serta (6) menyusun arahan perencanaan penggunaan lahan berbasis jasa ekosistem.&#13;
Metode penelitian mengintegrasikan penginderaan jauh, Sistem Informasi Geografis, Sistem Dinamik, CLUE-S, dan InVEST. Peta penggunaan lahan 2000, 2010, dan 2020 disusun dari citra Landsat menggunakan Object-Based Image Analysis dengan Multiresolution Segmentation dan Random Forest. Faktor pendorong dianalisis dengan regresi logistik biner. Sistem Dinamik digunakan untuk memproyeksikan kebutuhan penggunaan lahan, produksi padi, kebutuhan beras, dan stok karbon pada empat skenario: BAU, moderat, optimis, dan progresif. CLUE-S mengalokasikan kebutuhan tersebut secara spasial pada grid 100 x 100 m, sedangkan InVEST mengevaluasi jasa ekosistem pangan padi dan stok karbon. Arahan akhir disusun melalui evaluasi skenario dan tumpang susun dengan pola ruang RTRW Kabupaten Sukabumi 2023-2043.&#13;
Hasil menunjukkan bahwa selama 2000-2020 lahan terbangun meningkat 10.664 ha atau 47,78%, sedangkan hutan berkurang 774 ha, lahan kering 7.748 ha, perkebunan 440 ha, sawah 1.600 ha, dan lahan terbuka 102 ha. Kombinasi klasifikasi terbaik menggunakan scale 50, shape 0,1, dan compactness 0,5 dengan overall accuracy 90,55% dan Kappa 88,85%. Perubahan hutan menjadi pertanian terutama dipengaruhi jarak ke kota terdekat, sedangkan perubahan pertanian menjadi lahan terbangun terutama dipengaruhi kepadatan penduduk. Model Sistem Dinamik menunjukkan bahwa skenario progresif memberikan kinerja terbaik pada 2043: luas sawah 66.997 ha, produksi padi 983.113,98 ton, produksi beras 616.805,71 ton, kebutuhan beras 311.338,52 ton, surplus 305.467,19 ton, luas hutan/fungsi lindung 87.776 ha, dan stok karbon 17.110.157,34 ton C. Dibandingkan kondisi 2020, skenario progresif meningkatkan stok karbon 335.788,40 ton C. Model CLUE-S memiliki Kappa 88,01% dan overall accuracy 91,69%.&#13;
Arahan perencanaan menempatkan perlindungan/penyediaan sawah 66.997 ha dan hutan atau kawasan berfungsi lindung 87.776 ha sebagai target spasial 2043, disertai produktivitas padi 5,80 ton/ha, indeks pertanaman 2,53, laju pertumbuhan penduduk 1,27% per tahun, dan konsumsi beras 0,0930 ton/kapita/tahun. Manfaat utama penelitian adalah menyediakan kerangka ilmiah yang menghubungkan dinamika penggunaan lahan, jasa ekosistem, dan tata ruang untuk mendukung pengambilan keputusan adaptif berbasis bukti di Kabupaten Sukabumi.&#13;
Kebaruan penelitian bukan terletak pada penggunaan individual atau sekadar penggabungan Sistem Dinamik, CLUE-S, dan InVEST, tetapi pada pengembangan feedback-based dynamic-spatial ecosystem-service land-use planning framework. Kerangka tersebut membentuk siklus keputusan dari faktor pendorong dan kebutuhan lahan temporal, alokasi spasial, evaluasi kinerja jasa ekosistem, respons kebijakan, hingga arahan spasial. Kinerja pangan padi dan stok karbon diperlakukan sebagai sinyal untuk mengevaluasi kombinasi kebijakan. Umpan balik yang dimaksud adalah policy/decision feedback, bukan kopling numerik dua arah otomatis antarperangkat lunak.; Sukabumi Regency is experiencing land-use pressure driven by population growth, regional development, infrastructure expansion, and increasing demand for built-up land. These pressures may reduce paddy fields and forest cover, creating trade-offs among development needs, rice-food provisioning, and carbon-stock maintenance. This study aimed to: (1) analyze land-cover/use change patterns; (2) identify the driving factors of change; (3) develop a dynamic land-use model; (4) analyze spatial dynamics up to 2043; (5) assess impacts on rice-food provisioning and carbon stock; and (6) formulate ecosystem-service-based land-use planning directions.&#13;
The research integrated remote sensing, GIS, System Dynamics, CLUE-S, and InVEST. Land-use maps for 2000, 2010, and 2020 were derived from Landsat imagery using Object-Based Image Analysis with Multiresolution Segmentation and Random Forest. Binary logistic regression was used to identify land-use change drivers. System Dynamics projected land demand, rice production, rice demand, and carbon stocks under four scenarios: BAU, moderate, optimistic, and progressive. CLUE-S spatially allocated land demand on a 100 x 100 m grid, while InVEST evaluated rice-food provisioning and carbon-stock ecosystem services. The preferred scenario was then evaluated against the 2023-2043 Sukabumi spatial plan.&#13;
Between 2000 and 2020, built-up land increased by 10,664 ha or 47.78%, while forest declined by 774 ha, dry land by 7,748 ha, plantations by 440 ha, paddy fields by 1,600 ha, and open land by 102 ha. The best classification configuration used scale 50, shape 0.1, and compactness 0.5, producing an overall accuracy of 90.55% and Kappa accuracy of 88.85%. Forest-to-agriculture conversion was most strongly associated with distance to the nearest town, whereas agriculture-to-built-up conversion was most strongly associated with population density. The progressive scenario provided the best 2043 performance: 66,997 ha of paddy fields, 983,113.98 tons of paddy production, 616,805.71 tons of rice production, 311,338.52 tons of rice demand, a surplus of 305,467.19 tons, 87,776 ha of forest/protection-function land, and 17,110,157.34 tons C of carbon stock. Relative to 2020, carbon stock increased by 335,788.40 tons C. CLUE-S validation yielded a Kappa coefficient of 88.01% and overall accuracy of 91.69%.&#13;
The novelty does not lie in the individual use or simple coupling of System Dynamics, CLUE-S, and InVEST, but in a feedback-based dynamic-spatial ecosystem-service land-use planning framework. The framework closes the planning decision cycle from drivers and temporal land demand, through spatial allocation and ecosystem-service assessment, to policy response and spatial planning directions. Rice-food and carbon-stock performance are treated as decision signals for evaluating policy packages. The feedback is operationalized as policy/decision feedback, not as automated two-way numerical recoupling among software platforms.&#13;
The planning direction sets 2043 spatial targets of 66,997 ha of protected/provided paddy fields and 87,776 ha of forest or protection-function land, combined with a rice productivity target of 5.80 tons/ha, a cropping index of 2.53, population growth of 1.27% per year, and rice consumption of 0.0930 tons/capita/year. The study provides a scientific decision-support framework linking land-use dynamics, ecosystem-service performance, and spatial planning for adaptive, evidence-based land-use governance in Sukabumi Regency.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179217</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>MCDM-based Framework Integrating Forest Resilience and Javan Endemic Trees to Support Conservation and EFT in East Java</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179410</link>
<description>MCDM-based Framework Integrating Forest Resilience and Javan Endemic Trees to Support Conservation and EFT in East Java
Risna, Rosniati Apriani
Java Island harbors exceptional plant endemism, including approximately 150 endemic tree species, yet this biodiversity faces mounting threats from forest loss, habitat fragmentation, and climate change. Indonesia's Ecological Fiscal Transfer scheme (TAPE) was introduced to incentivize local governments toward improved environmental performance; however, current allocation still relies on administrative or area-based indicators rather than measurable ecological information. This study aimed to develop an integrated Multi-Criteria Decision Making (MCDM) framework combining species distribution modelling, forest resilience assessment, and socio-economic considerations to support TAPE prioritization. Conducted between November 2022 and June 2025, the research comprised three sequential phases. First, distributions of 33 verified Javan endemic tree species were modelled island-wide using Maximum Entropy (MaxEnt) based on GBIF occurrence records, generating species richness and Habitat Representative Score (HRS) indicators. Second, forest resilience in East Java was quantified through temporal autocorrelation of MODIS Enhanced Vegetation Index time-series (2000–2020), resulting a Forest Resilience Index (FRI). Third, ecological indicators (species richness, HRS, FRI) were integrated with socio-economic indicators—Human Development Index, Human Impact Index, Disaster Risk Index, Gross Regional Domestic Product, and land cost—using PROMETHEE-II with equal baseline weighting. Models achieved strong predictive performance (AUC 0.85–0.95; TSS 0.62–0.77), identifying three environmental niche groups and projecting habitat contraction with upward elevational shifts under SSP2-4.5 and SSP5-8.5 scenarios. Habitat representativeness peaked in southern East Java, while Ponorogo showed the highest species richness. Forest resilience varied substantially (FRI 0.568–0.963), with 63.2% of districts classified as moderately resilient. PROMETHEE-II integration stratified all 38 districts into three priority tiers, distinguishing areas suited for performance-based incentives, capacity-building support, and restoration-focused intervention. These findings demonstrate that combining ecological and socio-economic evidence yields a more comprehensive, transparent basis for fiscal allocation than conventional area-based approaches, offering a replicable foundation for evidence-based conservation planning within provincial Ecological Fiscal Transfer programs.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179410</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Populasi dan Habitat Surili (Preshytis comata) di Resor Tegallega dan Resor Sarongge Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Jawa Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179365</link>
<description>Populasi dan Habitat Surili (Preshytis comata) di Resor Tegallega dan Resor Sarongge Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Jawa Barat
Dharma, Agus Pambudi
The Javan surili (Presbytis comata) is an endemic primate of West Java that is highly dependent on the quality of montane forest habitats, particularly canopy structure, the availability of food plants, and the level of anthropogenic disturbance. Changes in forest landscapes resulting from fragmentation, human activities, and increasing pressures around conservation areas may affect population conditions, social behavior, and the long-term persistence of this species. Although numerous studies have examined the ecology and behavior of the surili, research integrating population status, habitat characteristics, tree-stratum use, and behavioral responses to human disturbance at the resor management scale remains limited. This gap in knowledge is particularly evident in understanding how variations in habitat quality and anthropogenic disturbance influence encounter rates, population density, group structure, daily activity patterns, and vertical space use. A comprehensive understanding of these relationships is essential for developing population and habitat based conservation management strategies.&#13;
This study aimed to analyze the population status of the Javan surili, including encounter frequency, group structure, sex ratio, and population density, as well as to examine habitat characteristics through vegetation structure analysis, food plant assessment, tree-stratum utilization, daily activity patterns, cohabitation with other primates, and habitat suitability modeling in Tegallega and Sarongge Resors of Gunung Gede Pangrango National Park (GGPNP).&#13;
Population data were collected using line transect surveys and direct observations employing the scan sampling method to record daily activities and tree-stratum use. Vegetation analysis was conducted using nested plot sampling to identify the composition and structure of surili habitats. Habitat suitability modeling was performed using the maximum entropy (MaxEnt) approach based on environmental variables, including slope, elevation, land cover, normalized difference vegetation index (NDVI), distance from rivers, distance from forests, distance from settlements, and rainfall. Data were analyzed using quantitative descriptive, comparative, and spatial approaches.&#13;
The results showed that the total encounter frequency of surili was 43 encounters in Tegallega Resor, with an average encounter rate of 34.84%, whereas Sarongge Resor recorded 36 encounters with a higher average encounter rate of 49.88%. Group size ranged from 1 to 6 individuals per encounter in both resors. The Kruskal–Wallis test indicated no significant differences in surili group size among transects in either Resor.&#13;
Across the two study Resors, at least 40 surili individuals were recorded in 10 groups. Tegallega Resor contained at least 25 individuals in six groups, whereas Sarongge Resor contained at least 15 individuals in four groups. The male-to-female sex ratio was female-biased, reaching 2:3 in Tegallega Resor and 4:5 in Sarongge Resor, which indicates a favorable reproductive potential. Based on field observations and the effective size of the study area, the estimated population density was 3.03 individuals/km² in Tegallega Resor and 5.99 individuals/km² in Sarongge Resor. The estimated group density was 1.33 groups/km² in Tegallega Resor and 2.14 groups/km² in Sarongge Resor. The total surili population was estimated at 53 individuals in Tegallega Resor and 66 individuals in Sarongge Resor.&#13;
Vegetation surveys recorded 26 tree species, 28 pole species, 39 sapling species, and 23 seedling species in Tegallega Resor. In Sarongge Resor, 18 tree species, 17 pole species, 17 sapling species, and 10 seedling species were documented. Tree-level vegetation analysis revealed that surili habitats in both resors were dominated by puspa (Schima wallichii), while saninten (Castanopsis argentea) and rasamala (Liquidambar excelsa) also played important ecological roles in shaping forest structure and providing essential habitat resources for surili.&#13;
A total of 11 food plant species were consumed by surili in Tegallega Resor, with leaves accounting for 78.57% of feeding records, followed by fruits (14.29%) and flowers (7.14%). In Sarongge Resor, seven food plant species were recorded, all of which were consumed exclusively for their leaves (100%). The diet was dominated by canopy tree species, particularly C. argentea, L. excelsa, and S. wallichii.&#13;
Surili exhibited a higher degree of spatial tolerance with the Javan lutung (Trachypithecus auratus) than with the Javan gibbon (Hylobates moloch) or the long-tailed macaque (Macaca fascicularis). Cohabitation between surili and Javan lutung was recorded across all observation transects, with frequencies ranging from 1 to 8 co-occurrences per transect, predominantly within canopy strata B and C. In several locations, both species shared the same feeding trees and occupied spaces as close as 0–20 m apart in Sarongge Resor. In contrast, cohabitation with long-tailed macaques exhibited stronger spatial segregation and no direct interspecific interactions.&#13;
Feeding was the most dominant daily activity of surili (52.00% in Tegallega and 42.86% in Sarongge), followed by resting (21.33% and 27.14%), locomotion (14.67% and 15.71%), and social interactions (12.00% and 14.29%). All activities occurred exclusively within arboreal strata, with a strong preference for the mid-canopy layer (stratum C), which supported the highest diversity of plant species used for feeding and other activities. &#13;
Habitat suitability was influenced by environmental variables including elevation, slope, NDVI, land cover, distance from settlements, and distance from forests. In Tegallega Resor, highly suitable habitat covered only 38.09 ha (2.18% of the total area), whereas unsuitable habitat accounted for 810.35 ha (46.36%). In contrast, highly suitable habitat in Sarongge covered 151.12 ha (13.63% of the total area), while unsuitable habitat comprised 665.06 ha (59.99%). Highly suitable habitats in Sarongge were characterized by dense vegetation cover, proximity to water sources, favorable topographic conditions, and relatively low levels of human disturbance. These findings indicate that surili populations in both resors are concentrated in specific areas with optimal habitat quality, highlighting the importance of prioritizing suitable and highly suitable habitats for conservation and management within GGPNP. &#13;
The SWOT analysis indicates that surili conservation strategies should be differentiated according to the ecological characteristics of each resor. Sarongge Resor should be designated as a core habitat for population protection, whereas Tegallega Resor should be prioritized for restoring canopy connectivity and reducing human disturbances. The main strategies include population monitoring, protection of surili groups, enrichment planting of food-tree species, habitat restoration, strengthened patrols, and active engagement of local communities surrounding the conservation area.; Surili merupakan primata endemik Jawa Barat yang sangat bergantung pada kualitas habitat hutan pegunungan, khususnya struktur kanopi, ketersediaan tumbuhan pakan, dan tingkat gangguan antropogenik. Perubahan lanskap hutan akibat fragmentasi, aktivitas manusia, dan tekanan di sekitar kawasan konservasi berpotensi memengaruhi kondisi populasi, perilaku sosial, serta keberlanjutan jenis ini. Meskipun berbagai penelitian telah membahas aspek ekologi dan perilaku surili, kajian yang mengintegrasikan kondisi populasi, karakteristik habitat, penggunaan strata pohon, dan respons perilaku terhadap gangguan manusia pada skala pengelolaan resor masih terbatas. Keterbatasan tersebut menimbulkan celah pengetahuan, khususnya terkait bagaimana variasi kualitas habitat dan intensitas gangguan antropogenik memengaruhi frekuensi perjumpaan, kepadatan populasi, struktur kelompok, serta pola aktivitas harian dan penggunaan ruang vertikal surili. Pemahaman yang komprehensif terhadap hubungan tersebut menjadi penting sebagai dasar ilmiah bagi pengelolaan konservasi berbasis populasi dan habitat.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi populasi surili yang meliputi frekuensi perjumpaan, struktur kelompok, rasio jenis kelamin, dan kepadatan populasi, serta mengkaji karakteristik habitat melalui analisis struktur vegetasi, tumbuhan pakan, penggunaan strata pohon, aktivitas harian, kohabitasi dengan primata lain, dan pemodelan kesesuaian habitat di Resor Tegallega dan Resor Sarongge TNGGP.&#13;
Pengumpulan data populasi dilakukan melalui survei line transect dan pengamatan langsung menggunakan metode scan sampling untuk mencatat aktivitas harian dan penggunaan strata pohon. Analisis vegetasi dilakukan dengan metode petak bersarang untuk mengidentifikasi komposisi dan struktur vegetasi habitat surili. Pemodelan kesesuaian habitat dilakukan menggunakan maximum entropy (MaxEnt) berdasarkan variabel lingkungan berupa kemiringan lereng, elevasi, tutupan lahan, NDVI, jarak dari sungai, jarak dari hutan, jarak dari pemukiman, dan curah hujan. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif, komparatif, dan spasial.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi perjumpaan surili di Resor Tegallega memiliki total 43 kali dengan rerata sebesar 34,84%. Sementara, di Resor Sarongge memiliki 36 kali dengan rerata sebesar 49,88%. Jumlah individu surili di kedua resor berkisar antara 1–6 individu dalam setiap perjumpaan. Uji Kruskal–Wallis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam ukuran kelompok surili antar transek di kedua Resor. &#13;
Jumlah surili di kedua resor penelitian tercatat sedikitnya 40 individu yang tergabung dalam 10 kelompok. Di Resor Tegallega teridentifikasi sedikitnya 25 individu dalam enam kelompok, sedangkan di Resor Sarongge teridentifikasi sedikitnya 15 individu dalam empat kelompok. Rasio jenis kelamin yang didominasi betina, yaitu 2:3 di Resor Tegallega dan 4:5 di Resor Sarongge, yang mengindikasikan potensi reproduksi yang stabil.  Berdasarkan hasil pengamatan dan luas efektif area penelitian, estimasi kepadatan populasi surili di Resor Tegallega sebesar 3,03 individu/km² dan di Resor Sarongge sebesar 5,99 individu/km². Estimasi kepadatan kelompok masing-masing sebesar 1,33 kelompok/km² di Tegallega dan 2,14 kelompok/km² di Resor Sarongge. Estimasi populasi surili sebanyak 53 individu di Resor Tegallega, sementara di Resor Sarongge estimasi populasinya sebanyak 66 individu.&#13;
Tumbuhan yang ditemukan di Resor Tegallega sebanyak 26 jenis pada tingkat pohon, 28 jenis pada tingkat tiang, 39 pada tingkat pancang, dan 23 jenis pada tingkat semai. Sementara, di Resor Sarongge sebanyak 18 jenis pada tingkat pohon, 17 jenis pada tingkat tiang, 17 jenis pada tingkat pancang, dan 10 jenis pada tingkat semai. Analisis vegetasi tingkat pohon, pada habitat surili di kedua Resor didominasi oleh puspa (Schima wallichii), sementara saninten (Castanopsis argentea) dan rasamala (Liquidambar excelsa) juga memiliki peranan ekologis penting dalam membentuk struktur tegakan dan menyediakan sumber daya habitat bagi surili.&#13;
Tumbuhan pakan yang dikonsumsi oleh surili di Resor Tegallega sebanyak 11 jenis. Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan terutama adalah daun (78,57%), buah (14,29%), dan bunga (7,14%). Sementara, di Resor Sarongge, tercatat 7 jenis yang seluruhnya dikonsumsi pada bagian daun (100%). Jenis tumbuhan yang dikonsumsi didominasi oleh jenis pohon kanopi seperti saninten C. argentea, rasamala L. excelsa, dan puspa S. wallichii. &#13;
Kohabitasi surili memiliki tingkat toleransi ruang yang lebih tinggi dengan lutung jawa dibandingkan dengan owa jawa dan monyet ekor panjang. Kohabitasi antara surili dan lutung jawa ditemukan pada seluruh transek pengamatan dengan frekuensi kohabitasi 1–8 kali per transek dan dominan terjadi pada strata tajuk B dan C. Pada beberapa lokasi, kedua jenis bahkan ditemukan berbagi ruang dan pohon pakan yang sama dengan jarak terdekat 0–20 m di Resor Sarongge. Sebaliknya, kohabitasi dengan monyet ekor panjang menunjukkan pemisahan ruang yang lebih kuat dan tanpa interaksi langsung antarjenis.&#13;
Aktivitas harian surili yang paling dominan yaitu aktivitas makan (52,00% di Tegallega dan 42,86% di Sarongge), diikuti oleh aktivitas istirahat (21,33% dan 27,14%), berpindah tempat atau lokomosi (14,67% dan 15,71%), dan interaksi sosial (12,00% dan 14,29%). Seluruh aktivitas surili terjadi secara eksklusif pada strata arboreal, dengan preferensi yang kuat terhadap lapisan tajuk tengah (strata C), yang mendukung jumlah jenis tumbuhan terbanyak yang dimanfaatkan untuk aktivitas makan maupun aktivitas lainnya. &#13;
Kesesuaian habitat surili dipengaruhi faktor lingkungan seperti ketinggian tempat, kemiringan lereng, NDVI, tutupan lahan, jarak dari pemukiman, dan jarak dari hutan. Di Resor Tegallega, habitat dengan kategori sangat sesuai hanya mencakup 38,09 ha atau sekitar 2,18% dari total luas kawasan, sedangkan habitat tidak sesuai mencapai 810,35 ha atau sekitar 46,36%. Sebaliknya, di Resor Sarongge habitat sangat sesuai mencapai 151,12 ha atau sekitar 13,63% dari total luas kawasan, sedangkan habitat tidak sesuai mencapai 665,06 ha atau sekitar 59,99%. Habitat yang sangat sesuai di Sarongge dicirikan oleh tutupan vegetasi yang rapat, kedekatan dengan sumber air, kondisi topografi yang mendukung, serta jarak yang relatif jauh dari gangguan manusia. Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan surili di kedua resor cenderung terkonsentrasi pada area-area tertentu yang memiliki kualitas habitat optimal, sehingga kawasan dengan kategori sesuai dan sangat sesuai perlu menjadi prioritas utama dalam pengelolaan dan konservasi habitat surili di TNGGP.&#13;
Analisis SWOT menunjukkan bahwa konservasi surili perlu dibedakan sesuai karakter ekologis setiap resor, yaitu Resor Sarongge sebagai habitat inti perlindungan populasi, sementara di Resor Tegallega sebagai kawasan prioritas pemulihan konektivitas tajuk serta pengurangan gangguan manusia. Strategi utama mencakup monitoring populasi, perlindungan kelompok surili, pengayaan pohon pakan, restorasi habitat, penguatan patroli, dan pelibatan masyarakat sekitar kawasan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179365</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Rancangan Model Bisnis Hibrid Microgrid dan Solar Home System (SHS) Off-grid dengan Panel Photovoltaic (PV) (Studi Kasus Delta Mahakam)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179363</link>
<description>Rancangan Model Bisnis Hibrid Microgrid dan Solar Home System (SHS) Off-grid dengan Panel Photovoltaic (PV) (Studi Kasus Delta Mahakam)
Santosa, Erwin
Delta Mahakam terletak di Kabupaten Kutai Kertanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Secara geografis, wilayah ini berada di pesisir timur Pulau Kalimantan namun terpisah dari daratan utama. Kondisi tersebut menyebabkan tidak adanya jaringan listrik (off grid), sehingga masyarakat di wilayah ini tidak memiliki akses terhadap pasokan listrik. Di area studi, upaya pemanfaatan energi surya telah dilakukan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) berupa pemasangan unit Solar Home System (SHS) dengan panel photovoltaic (PV) oleh PT Pertamina Hulu Mahakam sejak tahun 2010. Selain itu, kelompok rumah penduduk yang membentuk kampung juga telah dilayani dengan sistem microgrid berbasis teknologi PV yang didanai oleh pemerintah. Tujuan utama penelitian ini adalah mengembangkan rancangan model bisnis hibrid antara microgrid dan SHS dengan panel PV yang mampu memenuhi kebutuhan energi masyarakat Delta Mahakam, dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi.&#13;
Penelitian ini disusun secara bertahap dengan mengintegrasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Tahap awal dilakukan melalui survei lapangan untuk mengevaluasi kondisi SHS dan indikator kunci dengan metode ReliefF, dilanjutkan dengan analisis Life Cycle Assessment (LCA) guna mengidentifikasi hotspot dampak lingkungan sepanjang daur hidup sistem. Selanjutnya, pemetaan faktor dan aktor kunci dilakukan dengan metode MICMAC dan MACTOR, serta analisis hierarki tujuan menggunakan metode ISM. Hasil dari rangkaian analisis tersebut kemudian disintesiskan ke dalam rancangan model bisnis dengan menggunakan metode Business Model Canvas (BMC) dan SWOT.&#13;
Analisis klasifikasi menggunakan metode ReliefF terhadap data primer hasil survei lapangan pada 286 unit SHS dilakukan guna mengidentifikasi tiga atribut utama yang menentukan kondisi SHS, yaitu jenis pendanaan, pemasok, dan jenis baterai, dengan tingkat akurasi antara 0,932 hingga 0,951. Evaluasi dampak lingkungan melalui Life Cycle Assessment (LCA) untuk kategori Global Warming Potential (GWP) dan Natural Resource Depletion (NRD) menunjukkan bahwa titik kritis (hotspot) pada kedua kategori tersebut berada pada fase operasi SHS, yang terutama dipengaruhi oleh jumlah baterai yang digunakan selama masa pakai sistem dan frekuensi penggantian baterai.&#13;
Analisis MICMAC mengungkapkan bahwa keahlian teknis dan dampak lingkungan berperan sebagai variabel penentu, sementara reliabilitas sistem, ketepatan perencanaan, dan visi jangka panjang menjadi variabel kunci yang menjadi faktor kunci (key variables)  dalam keberlanjutan program SHS. Analisis MACTOR memetakan hubungan antaraktor dan menunjukkan adanya ketidakseimbangan struktural, di mana Perusahaan CSR dan Kepala Desa mendominasi aktor lainnya, sementara BUMDes dan masyarakat tetap berada sebagai aktor dependen tanpa adanya aktor penghubung di antara mereka. Analisis ISM selanjutnya mengidentifikasi keterkaitan hierarki tujuan, dengan akses listrik sebagai tujuan dasar, tata kelola kelembagaan sebagai tujuan penghubung, serta pengelolaan lingkungan dan limbah sebagai tujuan yang bergantung pada capaian tujuan lainnya. Hasil ekonomi dan pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil hanya muncul sebagai tujuan akhir, bergantung pada kinerja tujuan di tingkat lebih bawah.&#13;
Akhirnya, tinjauan terhadap model bisnis yang ada menunjukkan bahwa model bisnis program SHS dengan pendanaan perusahaan melalui program CSR memang memberikan akses cepat, tetapi menghadapi masalah keberlanjutan jangka panjang akibat tantangan pemeliharaan mandiri oleh masyarakat. Sementara itu, model microgrid pemerintah menawarkan reliabilitas lebih tinggi, namun sangat bergantung pada subsidi dan investasi awal yang besar. Rancangan model hibrid SHS–microgrid yang diusulkan menekankan aktivitas utama berupa pengoperasian dan pemeliharaan unit SHS serta microgrid pada tingkat pemerintah daerah yang lebih luas dibandingkan dengan tingkat desa. Model ini mengintegrasikan sirkularitas komponen baterai dan ekosistem data baterai, sehingga mampu mengatasi kelemahan dari kedua model bisnis yang ada. Model ini memiliki aliran pendapatan yang beragam (melalui aktivitas daur ulang baterai dan langganan data), memperpanjang umur sistem, serta meningkatkan pengelolaan limbah.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179363</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
