<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>DT - Multidiciplinary Program</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/91</link>
<description/>
<pubDate>Thu, 18 Jun 2026 00:43:05 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-06-18T00:43:05Z</dc:date>
<item>
<title>Evaluasi Ekosistem Pulau Osi (Seram Bagian Barat) Untuk Model Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173474</link>
<description>Evaluasi Ekosistem Pulau Osi (Seram Bagian Barat) Untuk Model Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan
Wakano, Deli
Pulau Osi merupakan pulau kecil yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap sumber daya pesisir, khususnya ekosistem mangrove dan lamun yang berperan penting dalam menopang kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Tekanan pemanfaatan yang terus meningkat, terutama dari sektor perikanan tangkap, berpotensi menurunkan daya dukung ekosistem dan mengancam keberlanjutan pembangunan pulau kecil. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan pengelolaan yang mampu mengintegrasikan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial secara terpadu dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi ekosistem Pulau Osi serta merumuskan model pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan berbasis sistem sosial-ekologis. Pendekatan yang digunakan adalah pemodelan sistem dinamik yang mengintegrasikan sub-model ekologi (mangrove dan lamun), ekonomi (pendapatan per kapita), dan sosial (jumlah nelayan). Model ini disusun untuk menangkap hubungan sebab-akibat dan mekanisme umpan balik antar komponen sistem dalam jangka panjang, serta digunakan untuk mensimulasikan berbagai skenario pengelolaan.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem mangrove dan lamun merupakan komponen kunci yang menentukan stabilitas sistem Pulau Osi. Degradasi kedua ekosistem tersebut berdampak langsung terhadap penurunan produktivitas perikanan dan peningkatan tekanan sosial berupa bertambahnya jumlah nelayan. Dari aspek ekonomi, peningkatan pemanfaatan sumber daya alam mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dalam jangka pendek, namun bersifat tidak berkelanjutan ketika daya dukung ekosistem terlampaui. Kondisi ini menunjukkan adanya batas pertumbuhan sosial-ekonomi berbasis daya dukung lingkungan pada skala pulau kecil. Dari aspek sosial, tingginya ketergantungan masyarakat terhadap sektor perikanan dan terbatasnya alternatif mata pencaharian memperkuat tekanan terhadap sumber daya pesisir. Pertumbuhan jumlah nelayan yang relatif konsisten mencerminkan kerentanan sistem sosial-ekonomi terhadap perubahan kondisi ekosistem. Tanpa pengelolaan yang adaptif dan terpadu, peningkatan kesejahteraan masyarakat cenderung bersifat semu dan berpotensi menurun dalam jangka panjang. &#13;
Simulasi skenario current dan reference pada penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan pengelolaan yang menitikberatkan pada perlindungan dan rehabilitasi ekosistem pesisir, pengendalian tekanan pemanfaatan, serta diversifikasi ekonomi masyarakat mampu meningkatkan stabilitas sistem secara keseluruhan. Model sistem dinamik yang dikembangkan terbukti efektif sebagai alat pendukung pengambilan keputusan (decision support system) dalam mengevaluasi dampak kebijakan pengelolaan pulau kecil sebelum diterapkan. &#13;
Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan model sistem dinamik terpadu yang menempatkan ekosistem mangrove dan lamun sebagai variabel pengungkit utama keberlanjutan, sekaligus mengidentifikasi batas pertumbuhan sosial-ekonomi berbasis daya dukung lingkungan pada skala pulau kecil. Penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi konseptual dalam pengelolaan sistem sosial-ekologis pulau kecil, tetapi juga menawarkan kerangka operasional kebijakan yang adaptif dan aplikatif bagi pemerintah daerah. &#13;
Secara keseluruhan, disertasi ini menegaskan bahwa keberlanjutan pengelolaan Pulau Osi hanya dapat dicapai melalui keseimbangan antara perlindungan ekosistem, peningkatan kesejahteraan ekonomi, dan penguatan kapasitas sosial masyarakat. Pendekatan berbasis sistem dinamik menjadi instrumen penting dalam mendukung perencanaan dan pengelolaan sumber daya alam pulau kecil secara berkelanjutan.; Osi Island is a small island characterized by a high dependence on coastal resources, particularly mangrove and seagrass ecosystems, which play a crucial role in supporting the social and economic livelihoods of local communities. Increasing resource utilization pressures, especially from capture fisheries, have the potential to reduce ecosystem carrying capacity and threaten the sustainability of small island development. Therefore, an integrated and sustainable management approach that incorporates ecological, economic, and social dimensions is required. This study aims to assess the condition of Osi Island’s ecosystems and formulate a sustainable natural resource management model based on a social-ecological systems framework. The study employs a system dynamics modeling approach that integrates ecological sub-models (mangroves and seagrasses), an economic sub-model (per capita income), and a social sub-model (number of fishers). The model was developed to capture causal relationships and feedback mechanisms among system components over the long term and to simulate various management scenarios. &#13;
The results indicate that mangrove and seagrass ecosystems are key components determining the overall stability of the Osi Island system. Degradation of these ecosystems directly leads to declining fisheries productivity and increasing social pressure, reflected in the growing number of fishers. From an economic perspective, intensified exploitation of natural resources can increase community income in the short term; however, such gains become unsustainable once ecosystem carrying capacity thresholds are exceeded. This finding highlights the existence of socio-economic growth limits constrained by environmental carrying capacity at the small-island scale. From a social standpoint, the community’s high dependence on the fisheries sector and the lack of alternative livelihoods exacerbate pressure on coastal resources. The relatively consistent growth in the number of fishers reflects the vulnerability of the local socio-economic system to changes in ecosystem conditions. Without adaptive and integrated management, improvements in community welfare are likely to be illusory and may decline over the long term.&#13;
Through simulations of current and reference scenarios, this study demonstrates that management strategies emphasizing coastal ecosystem protection and rehabilitation, control of exploitation pressures, and diversification of local economic activities can significantly enhance overall system stability. The developed system dynamics model proved effective as a decision support system for assessing the potential impacts of small-island management policies prior to implementation.&#13;
The novelty of this research lies in the development of an integrated system dynamics model that positions mangrove and seagrass ecosystems as key leverage variables for sustainability, while explicitly identifying socio-economic growth limits based on environmental carrying capacity at the small-island scale. This study contributes not only conceptually to the understanding of small-island social-ecological systems but also provides an adaptive and operational policy framework applicable to local government decision-making.&#13;
Overall, this dissertation affirms that sustainable management of Osi Island can only be achieved through a balanced approach that integrates ecosystem protection, economic welfare improvement, and strengthening of community social capacity. A system dynamics-based approach emerges as a critical instrument for supporting sustainable planning and natural resource management on small islands.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173474</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Model Spasial Penetapan Areal Konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Berbasis Jasa Ekosistem (JE) :  Studi Kasus DAS Citarum, Provinsi Jawa Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173465</link>
<description>Model Spasial Penetapan Areal Konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Berbasis Jasa Ekosistem (JE) :  Studi Kasus DAS Citarum, Provinsi Jawa Barat
Nahib, Irmadi
Daerah aliran sungai (DAS) Citarum merupakan kawasan strategis yang menopang ketahanan air, pangan, energi, dan keberlanjutan lingkungan bagi Provinsi Jawa Barat dan wilayah metropolitan Jakarta. DAS ini menyuplai air baku, mendukung sistem irigasi dan pembangkit listrik tenaga air, serta menyediakan berbagai fungsi ekologis penting. Dalam beberapa dekade terakhir, pertumbuhan penduduk, urbanisasi, ekspansi pertanian, industrialisasi, dan perubahan iklim telah mendorong perubahan tutupan dan penggunaan lahan (TPL) yang berdampak pada degradasi hutan, peningkatan erosi dan sedimentasi, penurunan kualitas dan kuantitas air, serta berkurangnya kapasitas penyimpanan karbon. Perubahan TPL yang tidak terkendali mengganggu keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan. Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan perencanaan DAS yang mengintegrasikan dinamika lahan, jasa ekosistem (JE), nilai ekonomi jasa ekosistem (NEJE), dan perencanaan konservasi secara spasial dan terpadu.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model spasial perencanaan konservasi DAS berbasis JE. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis perubahan TPL tahun 2003, 2013, dan 2023 serta memproyeksikan TPL tahun 2043 dalam beberapa skenario; (2) menyusun model  JE, yaitu hasil air (HA), retensi sedimen (RS), dan stok karbon (SK), serta menganalisis hubungan sinergi dan trade-off antar JE; (3) menilai dinamika nilai ekonomi JE (NEJE) berdasarkan fungsi penyediaan air, pengendalian erosi, pengaturan iklim, dan penyediaan bahan pangan, serta menganalisis sensitivitas NEJE terhadap perubahan TPL; dan (4) menyusun model spasial perencanaan konservasi DAS berbasis JE.&#13;
Penelitian ini dilaksanakan pada Agustus 2024 hingga Maret 2025 di DAS Citarum, Provinsi Jawa Barat. Metodologi penelitian terdiri atas empat tahapan utama. Tahap pertama adalah analisis perubahan dan proyeksi TPL menggunakan citra Landsat 5 dan Landsat 8/OLI yang diklasifikasikan dengan algoritma Random Forest (RF) pada platform Google Earth Engine (GEE). Proyeksi TPL tahun 2043 dilakukan dengan model Multi Layer Perceptron-Markov Chain (MLP-MC) pada platform  Idrisi TerrSet dengan tiga skenario, yaitu business as usual (BAU), perlindungan lahan sawah (PLS), dan perlindungan hutan (PH). Tahap kedua adalah pemodelan JE menggunakan perangkat Integrated Valuation of Ecosystem Services and Trade-offs (InVEST). Model Annual Water Yield digunakan untuk menghitung HA, Sediment Delivery Ratio (SDR) untuk RS, dan Carbon Storage and Sequestration untuk SK. Hubungan sinergi dan trade-off antar JE  dianalisis menggunakan korelasi Pearson dan analisis  Moran's I bivariat untuk mengidentifikasi keterkaitan dan konflik spasial antar JE. Tahap ketiga adalah perhitungan nilai ekonomi JE  menggunakan pendekatan traditional benefit transfer (TBT) dan spatial benefit transfer (SBT) yang merupakan pengembangan dari metode TBT. Pendekatan SBT  mengintegrasikan variabel biofisik : HA, RS, SK, dan  normalized difference vegetation index (NDVI) serta variabel sosial ekonomi : upah minimum kabupaten/kota (UMK)  dan produk domestik regional bruto (PDRB) sebagai faktor koreksi dalam unit analisis grid  dengan resolusi 100 m × 100 m. Tahap keempat adalah penyusunan zonasi areal konservasi menggunakan pendekatan perencanaan konservasi sistematis (PKS) dengan perangkat lunak Marxan. Penyusunan areal konservasi dilakukan dengan dua skenario yaitu skenario A yang memasukkan kawasan konservasi eksisting dan skenario B yang tidak memasukkan kawasan konservasi eksisting. Perbedaan pola spasial antar skenario dianalisis menggunakan Jensen–Shannon Divergence (JSD) dan analisis overlay dalam ArcGIS.&#13;
Hasil analisis TPL selama 2003–2023, hutan dan semak belukar menurun masing-masing sebesar 101.161 ha ( 47,63%)  dan 13.387 ha (34,62%), sementara pemukiman dan pertanian lahan kering meningkat  32.518  ha (89,49%) dan 78.634 ha (38,87%). Validasi model menunjukkan akurasi tinggi dengan nilai Kappa 0,91.  Proyeksi tahun 2043 menunjukkan bahwa pada skenario BAU, tren degradasi berlanjut dengan penurunan luas hutan sebesar 38.561 ha  (34,66%), peningkatan lahan terbangun sebesar 25.328  ha (36,79%), dan peningkatan pertanian lahan kering sebesar  20.936  ha (7,45%). Skenario PLS efektif mempertahankan sawah, tetapi kurang mampu menekan deforestasi. Sedangkan skenario PH paling efektif menjaga hutan meskipun mengurangi luas perkebunan.  Temuan ini menunjukkan adanya trade-off antara perlindungan pangan dan konservasi ekosistem yang memerlukan integrasi kebijakan lintas sektor.&#13;
Pemetaan JE menunjukkan bahwa antara 2003–2013, total HA dan total SK mengalami penurunan sebesar 25,39% dan 6,81%, sedangkan RS meningkat 20,27%. Pada periode 2013–2023, penurunan HA dan SK sebesar  19,31% dan 0,37%, sementara RS meningkat sebesar 14,00%. Pola ini mencerminkan dampak konversi hutan menjadi pertanian lahan kering dan pemukiman.  Analisis korelasi Pearson menunjukkan adanya sinergi kuat antara HA-RS (0,613–0,652), serta sinergi lemah antara HA-SK (0,280–0,262) serta RS-SK (0,297-0,349). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat wilayah yang mengalami trade-off dan terdapat wilayah lain yang menunjukkan hubungan sinergis. &#13;
Analisis NEJE dengan metode SBT menunjukkan penurunan  total NEJE sebesar US$ 108,07 juta (-25,48%) selama 2003–2023. Penurunan terbesar terjadi pada periode 2003–2013 sebesar  US$ 67,64 juta (-15,95%), sedangkan pada 2013–2023 sebesar US$ 40,43 juta (-11,34%). Berdasarkan fungsi JE, NEJE  penyediaan air menyumbang penurunan terbesar dengan nilai US$ 44,93 juta (36,57%), dan NEJE fungsi pengaturan iklim sebesar US$ 38,80 juta (26,14%). Metode SBT menghasilkan faktor koreksi sebesar 0,34–0,56 terhadap NEJE dengan metode TBT. Hasil uji sensitivitas menunjukkan bahwa hutan memiliki indeks tertinggi (rata-rata 0,6851), menunjukkan hutan relatif stabil terhadap perubahan NEJE. &#13;
Hasil simulasi Marxan menunjukkan bahwa pendekatan multi-JE (all ecosystem services, AES) menghasilkan konfigurasi areal konservasi paling optimal dibandingkan pendekatan JE tunggal. Pada target perlindungan JE sebesar 60%, skenario A menghasilkan areal konservasi seluas 247.600 ha (34,24%) dengan pola distribusi yang berdekatan dengan kawasan konservasi eksisting, mencerminkan keterhubungan dan kesinambungan ekologi yang baik. Skenario B menghasilkan areal konservasi seluas 217.400 ha (30,04%) dengan areal yang tersebar dan terfragmentasi. Strategi penerapan skenario sangat tergantung kebijakan pengelolaan untuk menambah areal konservasi eksisting atau mencari areal potensi untuk dicadangkan sebagai areal konservasi. Nilai JSD sebesar  0,89 menunjukkan perbedaan pola  distribusi spasial  yang signifikan antara kedua skenario konservasi. Areal dengan status yang sama pada kedua peta tersebut adalah seluas  425.600 ha (58,85%) yakni areal konservasi sebesar 83.700 ha (11,57%) dan areal non konservasi sebesar 341.900 ha (47,28%).&#13;
Penelitian ini menghasilkan kerangka kerja  perencanaan konservasi DAS berbasis JE yang komprehensif dan aplikatif. Model yang dikembangkan ini menyediakan dasar ilmiah yang kuat bagi perencanaan tata ruang, pengendalian degradasi lingkungan, dan implementasi kebijakan konservasi DAS yang selaras dengan agenda nasional dan global, termasuk target 30 by 30 dalam kerangka Kunming–Montreal Global Biodiversity Framework.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173465</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Model Kebijakan Alokasi Beban Pencemaran Air di Sungai Cileungsi Kabupaten Bogor Jawa Barat.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173217</link>
<description>Model Kebijakan Alokasi Beban Pencemaran Air di Sungai Cileungsi Kabupaten Bogor Jawa Barat.
Komarudin, Muhamad
Disertasi ini membahas model kebijakan alokasi beban pencemaran air di Sungai Cileungsi Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sungai Cileungsi mengalami tekanan pencemaran akibat meningkatnya aktivitas domestik, industri, pertanian, peternakan, perubahan penggunaan lahan, serta lemahnya pengendalian sumber pencemar. Penelitian ini tidak hanya menilai kualitas air, tetapi merumuskan model kebijakan yang menghubungkan kondisi biofisik sungai, sumber pencemar, aktor kelembagaan, instrumen pengendalian, dan prioritas program secara terpadu.&#13;
Disertasi ini bertujuan untuk : (1) menganalisis potensi beban pencemaran air di Sungai Cileungsi menurut sektor, distribusi spasial, dan waktu; (2) menyusun model Alokasi Beban Pencemaran Air Cileungsi; (3) menganalisis dinamika  peran pembangku kepentingan dalam pengelolaan alokasi beban pencemaran air sungai; dan (4) menyusun model kebijakan alokasi beban pencemaran air sungai yang berkelanjutan.&#13;
Kerangka pikir penelitian dibangun dari hubungan antara sistem daratan dan badan air dalam DAS Cileungsi. Kualitas air sungai dipengaruhi oleh batas administrasi, batas DAS, karakteristik badan air, hidrologi, hidrolika, meteorologi, penggunaan lahan, serta sumber pencemar point source dan non-point source. Oleh karena itu, penelitian menggunakan pendekatan integratif yang menggabungkan analisis spasial berbasis SIG, inventarisasi beban pencemaran, pemodelan kualitas air QUAL2Kw, model dinamik Powersim, Load Action Translation, MACTOR, dan PROMETHEE.&#13;
Wilayah penelitian berada pada DAS Cileungsi seluas 26.614,68 ha yang terdiri atas Sub DAS Cileungsi, Citeureup, Cijanggel, Ciherang, Cibadak, dan Cikeruh. Sungai dimodelkan dalam empat segmen badan air dengan panjang total 48,93 km. Untuk menghubungkan sumber pencemar di daratan dengan segmen sungai penerima, penelitian menetapkan sembilan Wilayah Pengelolaan Sumber Pencemar, yaitu Citeurep, Cikeruh, Cibadak, Ciherang, Cijanggel, Cileungsi 1, Cileungsi 2, Cileungsi 3, dan Cileungsi 4.&#13;
Hasil analisis wilayah menunjukkan bahwa DAS Cileungsi mengalami peningkatan kawasan terbangun, terutama permukiman, tempat kegiatan, dan kawasan industri. Perubahan tutupan vegetatif menjadi lahan terbangun meningkatkan limpasan permukaan, erosi, serta potensi masuknya bahan pencemar ke sungai. Pengukuran kualitas air memperlihatkan bahwa parameter BOD dan COD telah melampaui baku mutu, sedangkan TSS masih memenuhi baku mutu sesaat, tetapi tetap perlu dikendalikan berdasarkan neraca beban agar daya tampung tidak terlampaui pada kondisi hidrologi tertentu.&#13;
Potensi Beban Pencemaran Air di DAS Cileungsi menunjukkan bahwa tekanan pencemaran didominasi oleh sektor domestik dan industri. Total potensi beban pencemaran mencapai 31.560,33 kg/hari untuk BOD, 57.947,78 kg/hari untuk COD, dan 29.864,35 kg/hari untuk TSS. Untuk parameter BOD, kontribusi terbesar berasal dari domestik sebesar 59,57%, sedangkan menurut parameter COD didominasi industri sebesar 49,48%, sedangkan berdasatkan parameter TSS didominasi domestik sebesar 59,80% dan diikuti industri. Distribusi Potensi Beban Pencemaran terbesar berada pada wilayah hulu, Segmen 1, dan Segmen 2.&#13;
Model Alokasi Beban Pencemaran Air disusun menggunakan QUAL2Kw untuk parameter BOD, COD, dan TSS. Model BOD menunjukkan beban eksisting 4.480,90 kg/hari dan ABPA akhir menuju Kelas II sebesar 2.005,91 kg/hari, sehingga reduksi terutama perlu diarahkan pada non-point source. Model COD menunjukkan beban eksisting 28.199,39 kg/hari dan ABPA akhir 22.119,93 kg/hari, dengan respons yang dipengaruhi distribusi beban, debit, pengenceran, dan degradasi alami. Model TSS menunjukkan beban eksisting 3.632,22 kg/hari dan ABPA Kelas II sebesar 3.287,85 kg/hari, sehingga diperlukan pengendalian preventif sebesar 344,37 kg/hari.Berdasarkan sektor, kebutuhan penurunan beban berbeda antar parameter.  untuk BOD total reduksi sebesar 2.492,50 kg/hari, terutama di Segmen 1 dan Segmen 2, dengan sumber utama domestik sebesar 1.474,24 kg/hari dan industri 844,37 kg/hari. Untuk COD, total reduksi mencapai 6.079,46 kg/hari, terutama dari industri 3.007,89 kg/hari dan domestik 2.711,86 kg/hari. Untuk TSS, reduksi mencapai 482,81 kg/hari, didominasi industri 344,37 kg/hari dan peternakan 126,59 kg/hari. Secara ekonomi, pencapaian mutu air Kelas II memerlukan dukungan biaya pengolahan yang relatif besar, dengan estimasi biaya operasional atau operational expenditure (OPEX) sebesar Rp16.633.128,04/hari atau Rp5.987.926.093,75/tahun, serta biaya investasi atau capital expenditure (CAPEX) sebesar Rp19.959.753.645,84. Oleh karena itu, implementasi pengendalian perlu dilakukan secara bertahap melalui model dinamik untuk memantau perubahan beban, menguji skenario intervensi, dan mendukung kebijakan operasional berbasis optimasi biaya.&#13;
Model dinamik Powersim dikembangkan untuk menjembatani hasil QUAL2Kw dengan simulasi kebijakan. QUAL2Kw menyediakan informasi teknis tentang kualitas air, beban eksisting, ABPA, dan KPAL, sedangkan model dinamik digunakan untuk memantau perubahan beban, menguji intervensi, dan mendukung simulasi kebijakan secara operasional. BOD ditempatkan sebagai parameter pengendali utama karena paling konsisten menunjukkan kebutuhan reduksi dan berpengaruh langsung terhadap proses deoksigenasi sungai.&#13;
Model kebijakan ABPA dirumuskan melalui empat tahapan utama, yaitu identifikasi gap daya tampung dengan QUAL2Kw, translasi kebutuhan reduksi melalui Load Action Translation, analisis dukungan dan pengaruh aktor menggunakan MACTOR, serta prioritisasi program dengan PROMETHEE. Load Action Translation menerjemahkan kebutuhan reduksi menjadi program teknis, antara lain pembangunan dan perbaikan IPAL, pembatasan pembuangan pada segmen kritis, produksi bersih, peningkatan sanitasi domestik, infrastruktur hijau, waduk/kolam retensi, reboisasi lereng curam, dan peningkatan kapasitas masyarakat.&#13;
Analisis MACTOR menunjukkan bahwa aktor pemerintah memiliki pengaruh paling kuat dalam regulasi, koordinasi, pengawasan, dan penegakan kebijakan. Aktor strategis meliputi PPA, BPDAS, BBWS-CC, DLH Provinsi, dan DLH Kabupaten. Masyarakat dan pelaku usaha memiliki ketergantungan tinggi terhadap kebijakan pemerintah, sedangkan media berperan sebagai aktor tidak langsung melalui pembentukan opini, tekanan publik, dan pengawasan sosial. Implementasi ABPA karena itu memerlukan kolaborasi pentahelix antara pemerintah, bisnis, akademisi, masyarakat/komunitas, dan media.&#13;
Hasil PROMETHEE menunjukkan bahwa prioritas kebijakan utama adalah perbaikan kinerja IPAL bagi usaha yang telah memiliki fasilitas tetapi belum memenuhi baku mutu, diikuti penerapan produksi bersih, dan kewajiban pembangunan IPAL bagi usaha yang belum memiliki pengolahan air limbah. Program menengah seperti infrastruktur hijau, penggunaan pupuk organik, dan reboisasi tetap penting untuk mengendalikan non-point source. Kebijakan pengendalian perlu dilakukan bertahap dari Kelas IV menuju Kelas III dan Kelas II, berbasis segmen, serta dibedakan antara point source dan non-point source.&#13;
Kebaruan penelitian terletak pada integrasi analisis dinamika penggunaan lahan, QUAL2Kw, model dinamik, Load Action Translation, MACTOR, dan PROMETHEE ke dalam satu kerangka kebijakan pengelolaan alokasi beban pencemaran air berbasis DAS. Model yang dihasilkan bersifat adaptif, aplikatif, dan implementatif karena tidak berhenti pada simulasi kualitas air, tetapi bergerak sampai pada kuota beban, rencana aksi, prioritas program, dukungan aktor, dan instrumen kebijakan pengendalian pencemaran air Sungai Cileungsi.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173217</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Resiliensi Kelembagaan Lokal dalam Mewujudkan Pengelolaan Mata Air secara Berkelanjutan di Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172658</link>
<description>Resiliensi Kelembagaan Lokal dalam Mewujudkan Pengelolaan Mata Air secara Berkelanjutan di Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur
Steni, Bernadinus
Penelitian ini menganalisis resiliensi kelembagaan lokal dalam mengelola mata air di Kabupaten Manggarai, NTT, di tengah kontestasi penggunaan lahan dengan industri pertambangan. Melalui pendekatan Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat (PSDABM), studi ini mengungkap bahwa mata air bukan sekadar sumber hidrologis, melainkan simpul kedaulatan hidup melalui konsep wae barong yang mengintegrasikan dimensi domestik, produktif, dan spiritual.&#13;
&#13;
Namun, penelitian di empat desa ini menunjukkan adanya kerentanan struktural. Ditemukan pola "resiliensi defensif-paradoks": kekuatan kultural yang besar tidak dibarengi dengan ketangguhan institusional. Di Kampung Nggalak, penegakan aturan adat lumpuh akibat paradoks kekerabatan, sementara di Jengkalang terjadi defisit legitimasi yang memaksa ketergantungan pada otoritas eksternal. Temuan ini memberikan kritik terhadap model Elinor Ostrom, karena dalam realitasnya, modal sosial berupa kekerabatan justru menghambat imparsialitas aturan.&#13;
&#13;
Sebagai solusi, diperlukan transformasi melalui kodifikasi aturan adat ke dalam hukum formal desa (Perdes) dan pembentukan unit pengelola lintas klan untuk meminimalkan konflik kepentingan. Pemerintah Daerah wajib mereposisi perannya sebagai penjamin keberlanjutan melalui pengakuan yurisdiksi desa atas zona ekologi sensitif. Langkah ini krusial untuk melindungi hak atas air dari eksploitasi industri ekstraktif dan memperkuat resiliensi komunitas yang terfragmentasi secara ekonomi
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172658</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
