<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Dissertations and Theses</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/9</link>
<description/>
<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 20:26:22 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-27T20:26:22Z</dc:date>
<item>
<title>Pengaruh Komposisi Bahan Penyalut terhadap Karakteristik Bubuk Campuran Ekstrak Daun Suji dan Pandan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172993</link>
<description>Pengaruh Komposisi Bahan Penyalut terhadap Karakteristik Bubuk Campuran Ekstrak Daun Suji dan Pandan
Farisyi, Afif Nur
Warna merupakan salah satu atribut yang penting pada produk pangan. Seiring berjalannya waktu, preferensi konsumen terhadap pewarna alami semakin meningkat namun pigmen alami seperti klorofil rentan terhadap degradasi selama pengolahan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh komposisi bahan penyalut, yaitu maltodekstrin (MD) dan gum arab (GA) terhadap karakteristik fisikokimia dan penerimaan organoleptik bubuk campuran ekstrak daun suji–pandan. Hasil penelitian menunjukkan komposisi penyalut memengaruhi mutu bubuk ekstrak terutama komposisi maltodekstrin yang tinggi (formulasi F1) memiliki performa terbaik secara relatif dengan total klorofil 4,34 mg/g, aktivitas antioksidan 34,95 mg AE/g, dan efisiensi enkapsulasi 16,19%, serta penerimaan sensori tertinggi (skor 5,62), dibandingkan penyalut gum arab yang memiliki kelarutan tertinggi, yaitu 97,25% (formulasi F3), tetapi retensi pigmen terendah (2,70 mg/g). Selanjutnya, F2 menunjukkan hasil yang cukup baik dengan total klorofil 3,96 mg/g dan efisiensi enkapsulasi 4,18%. Rendemen yang didapatkan relatif rendah (maks. 1,62%). dapat disimpulkan bahwa komposisi maltodekstrin yang lebih banyak pada formulasi mampu meningkatkan perlindungan pigmen dan potensi aplikasi sebagai pewarna alami bubuk, dan disarankan untuk melakukan optimasi parameter proses dan komposisi sebagai upaya meningkatkan rendemen dan efisiensi enkapsulasi.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172993</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Aplikasi Sinbiotik dengan Dosis Prebiotik Inulin Berbeda untuk Pencegahan Penyakit Edwardsiellosis pada Ikan Patin</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172992</link>
<description>Aplikasi Sinbiotik dengan Dosis Prebiotik Inulin Berbeda untuk Pencegahan Penyakit Edwardsiellosis pada Ikan Patin
PARADHIBA, AULIA MARWAH
Usaha budidaya ikan patin (Pangasius sp.) di Indonesia hingga saat ini masih menghadapi hambatan berupa penyakit edwardsiellosis yang dipicu oleh infeksi Edwardsiella tarda. Pengendalian penyakit dengan antibiotik yang dilakukan secara berulang menimbulkan sejumlah persoalan, antara lain penyebaran sifat resistansi bakteri, akumulasi residu antibiotik pada produk budidaya, serta dampak pencemaran lingkungan. Kondisi tersebut mendorong perlunya alternatif yang lebih aman dan efektif, salah satunya melalui pemanfaatan sinbiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aplikasi sinbiotik dengan dosis prebiotik inulin berbeda dalam meningkatkan sistem imun pada ikan patin untuk pencegahan penyakit edwardsiellosis.&#13;
Sinbiotik yang diaplikasikan merupakan kombinasi probiotik Bacillus cereus BR2 dan prebiotik berupa inulin komersial. Benih ikan patin berbobot rata-rata 6,22±0,34 g dipelihara dengan kepadatan 25 ekor per akuarium. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas lima perlakuan dan empat ulangan, yaitu P1 (1% BR2 + 0,1% inulin), P2 (1% BR2 + 0,2% inulin), P3 (1% BR2 + 0,3% inulin), K+ (kontrol positif), serta K- (kontrol negatif). Pakan perlakuan diberikan selama 30 hari, kemudian pada hari ke-31 ikan diuji tantang melalui injeksi intraperitoneal menggunakan suspensi E. tarda dengan kepadatan 107 CFU mL?¹, dan pengamatan dilanjutkan selama 14 hari setelah uji tantang. &#13;
Produksi biomassa probiotik Bacillus cereus BR2 OTCR diawali dengan inokulasi satu ose kultur bakteri ke dalam media cair Tryptic Soy Broth (TSB). Kultur tersebut kemudian dihomogenkan menggunakan vortex dan diinkubasi pada shaker berkecepatan 1400 rpm selama 24 jam. Indikasi pertumbuhan bakteri ditunjukkan oleh perubahan media menjadi keruh. Setelah inkubasi selesai, dilakukan penghitungan jumlah bakteri melalui metode Total Plate Count (TPC). Sebanyak 1 mL kultur B. cereus BR2 OTCR dimasukkan ke dalam mikrotube Eppendorf, lalu disentrifugasi pada kecepatan 10000 rpm selama 10 menit guna memisahkan pelet dan supernatan. Pelet yang diperoleh dicuci dua kali menggunakan larutan phosphate buffered saline (PBS), kemudian ditambahkan kembali PBS hingga mencapai volume akhir 1.000 µL. Suspensi bakteri selanjutnya diencerkan secara bertingkat (serial dilution). Setiap hasil pengenceran ditumbuhkan pada media Tryptic Soy Agar (TSA) dengan teknik sebar (spread plate), kemudian diinkubasi selama 24 jam untuk menentukan jumlah koloni. Berdasarkan hasil penghitungan, diperoleh kepadatan bakteri sebesar 108 CFU mL?¹. Kultur bakteri tersebut dimanfaatkan sebagai bahan formulasi pakan.&#13;
Penelitian ini menggunakan pakan komersial dengan kandungan protein 31-33% (kode 781-1) sebagai pakan dasar. Probiotik Bacillus cereus BR2 OTCR dan prebiotik inulin dicampurkan ke dalam pakan sesuai dosis pada masing-masing perlakuan, dengan penambahan putih telur sebanyak 2% sebagai bahan perekat. Proses pelapisan pakan dilakukan dengan mencampurkan probiotik B. cereus BR2 OTCR dan inulin sesuai takaran yang telah ditentukan, kemudian campuran tersebut dimasukkan ke dalam alat semprot (sprayer). Larutan selanjutnya disemprotkan secara merata ke permukaan pakan sambil diaduk hingga homogen, lalu dikeringanginkan selama kurang lebih 15 menit. Coating pakan dilakukan setiap dua hari sekali. Setelah pakan diberikan kepada ikan, sisa pakan perlakuan disimpan dalam lemari pendingin pada suhu 4°C hingga jadwal pemberian berikutnya. &#13;
Parameter yang diamati dalam penelitian ini mencakup performa pertumbuhan, meliputi laju pertumbuhan spesifik, rasio konversi pakan, dan tingkat kelangsungan hidup. Selain itu, dianalisis pula aspek hematologi dan respons imun yang terdiri atas jumlah total eritrosit dan leukosit, nilai hematokrit, kadar hemoglobin, aktivitas fagositosis, serta respiratory burst. Pengamatan lainnya meliputi aktivitas enzim pencernaan (amilase, protease, dan lipase), histologi usus, keragaman mikrobiota saluran pencernaan, uji mikrobiologi, histopatologi hati, serta evaluasi gejala klinis dan tingkat infeksi.&#13;
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa perlakuan P3 memberikan laju pertumbuhan spesifik tertinggi sekaligus rasio konversi pakan terendah. Perlakuan tersebut juga menunjukkan peningkatan nyata pada aktivitas enzim pencernaan, perbaikan struktur vili usus, serta penguatan parameter imun. Aplikasi sinbiotik berkontribusi terhadap perubahan komposisi dan peningkatan keanekaragaman mikrobiota di saluran pencernaan ikan patin. Seiring dengan bertambahnya dosis inulin, viabilitas dan kolonisasi probiotik Bacillus cereus BR2 di usus meningkat secara signifikan. Lebih lanjut, perlakuan P3 menghasilkan jumlah E. tarda terendah pada organ hati dan tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi dibandingkan kontrol positif (K+).&#13;
Berdasarkan hasil pengamatan histopatologi, ikan patin yang diuji tantang dengan E. tarda memperlihatkan perubahan struktur jaringan hati yang tidak normal pada perlakuan K+, P1, P2, dan P3. Kelainan yang teridentifikasi meliputi piknosis dan kariolisis, hemoragi, degenerasi lemak, degenerasi hidropis, serta fibrosis hati. Derajat kerusakan jaringan hati pada kelompok yang memperoleh suplementasi sinbiotik tampak lebih ringan dibandingkan kontrol positif (K+), dengan perbedaan yang signifikan (p&lt;0,05). Penilaian berdasarkan sistem skoring menunjukkan variasi tingkat kerusakan. Tingkat kerusakan organ hati pada perlakuan sinbiotik lebih rendah dan berbeda nyata (p&lt;0,05) dibandingkan K+.&#13;
Selain itu, kelompok yang memperoleh perlakuan sinbiotik menunjukkan indeks keragaman dan jumlah operational taxonomic units (OTU) lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Analisis hierarchical clustering memperlihatkan adanya pola pengelompokan yang tegas antarperlakuan berdasarkan kemiripan komposisi mikrobiota, khususnya pada P2 dan P3. Hasil Principal Coordinate Analysis (PCoA) juga menunjukkan bahwa sampel P3 berada sangat dekat dengan P2. Analisis pada tingkat kelas mengungkapkan bahwa perlakuan sinbiotik menghasilkan proporsi Bacilli tertinggi dibandingkan perlakuan kontrol.&#13;
Secara umum, pemberian sinbiotik terbukti mampu memperbaiki performa pertumbuhan, meningkatkan aktivitas enzim pencernaan, memperbaiki struktur vili usus, memperkaya keragaman mikrobiota saluran cerna, memperkuat respons imun, serta meningkatkan populasi probiotik Bacillus cereus BR2 pada organ usus. Selain itu, perlakuan ini juga meningkatkan ketahanan ikan patin terhadap infeksi edwardsiellosis, dengan dosis terbaik yaitu dosis 0,3% prebiotik inulin.; Striped catfish (Pangasius sp.) culture in Indonesia continues to face significant constraints due to edwardsiellosis caused by Edwardsiella tarda. Repeated use of antibiotics for disease control has raised several concerns, including the spreading of antibiotic resistant bacteria, accumulation of antibiotic residues in aquaculture products, and potential environmental contamination. These challenges highlight the need for safer and more sustainable disease management strategies, among which synbiotic supplementation represents a promising alternative. Therefore, this study aimed to evaluate the application of synbiotics containing different inclusion levels of inulin as a prebiotic in enhancing the immune response of striped catfish for the prevention of edwardsiellosis.&#13;
The synbiotic formulation consisted of the probiotic Bacillus cereus BR2 combined with commercial inulin as the prebiotic component. Striped catfish juveniles with an average initial weight of 6.22±0.34 g were stocked at a density of 25 fish per aquarium. The experiment was arranged in a completely randomized design (CRD) with five treatments and four replicates: P1 (1% BR2 + 0.1% inulin), P2 (1% BR2 + 0.2% inulin), P3 (1% BR2 + 0.3% inulin), positive control (K+), and negative control (K-). Experimental diets were administered for 30 days. On day 31, fish were challenged via intraperitoneal injection with Edwardsiella tarda at a concentration of 107 CFU mL?¹, and post-challenge observations were conducted for 14 days.&#13;
Biomass production of the probiotic Bacillus cereus BR2 OTCR was initiated by inoculating a single loopful of bacterial culture into Tryptic Soy Broth (TSB). The culture was homogenized using a vortex mixer and incubated on a shaker at 1400 rpm for 24 h. Bacterial growth was indicated by turbidity in the medium. Following incubation, bacterial density was quantified using the Total Plate Count (TPC) method. An aliquot of 1 mL of B. cereus BR2 OTCR culture was transferred into an Eppendorf microtube and centrifuged at 10.000 rpm for 10 min to separate the pellet from the supernatant. The resulting pellet was washed twice with phosphate buffered saline (PBS), resuspended in PBS to a final volume of 1.000 µL, and subjected to serial dilution. Each dilution was spread onto Tryptic Soy Agar (TSA) plates using the spread plate technique and incubated for 24 h to determine colony-forming units. The final bacterial density obtained was 108 CFU mL?¹. The prepared bacterial suspension was subsequently incorporated into the experimental diet formulation.&#13;
A commercial diet containing 31-33% crude protein (code 781-1) was used as the basal feed in this study. The probiotic Bacillus cereus BR2 OTCR and the prebiotic inulin were incorporated into the feed according to the respective treatment dosages, with 2% egg white added as a binder. Feed coating was performed by first preparing a mixture of B. cereus BR2 OTCR and inulin at predetermined concentrations. The mixture was then transferred into a spray bottle and uniformly applied onto the feed pellets while continuously mixing to ensure homogeneity. The coated feed was air-dried for approximately 15 minutes. The coating process was conducted every two days. After feeding, any remaining treated feed was stored at 4°C until the next feeding schedule.&#13;
The evaluated parameters included growth performance indicators, namely specific growth rate (SGR), feed conversion ratio (FCR), and survival rate (SR). Hematological and immune responses were also assessed, including total erythrocyte and leukocyte counts, hematocrit value, hemoglobin concentration, phagocytic activity, and respiratory burst activity. Additional observations comprised digestive enzyme activities (amylase, protease, and lipase), intestinal histology, gut microbiota diversity, microbiological analysis, liver histopathology, as well as the assessment of clinical signs and infection intensity.&#13;
The findings demonstrated that treatment P3 yielded the highest specific growth rate (SGR) and the lowest feed conversion ratio (FCR). This treatment also resulted in significant enhancements in digestive enzyme activities, improved intestinal villi morphology, and strengthened immune-related parameters. Synbiotic supplementation contributed to shifts in microbial composition and increased gut microbiota diversity in striped catfish. Increasing dietary inulin levels significantly enhanced the viability and intestinal colonization of B. cereus BR2, along with the total bacterial population. Furthermore, fish in the P3 group exhibited the lowest E. tarda load in the liver and achieved a higher survival rate compared to the positive control (K+).&#13;
Histopathological observations revealed that striped catfish challenged with E. tarda exhibited abnormal hepatic tissue structures in the K+, P1, P2, and P3 groups. The identified lesions included pyknosis and karyolysis, hemorrhage, fatty degeneration, hydropic degeneration, and hepatic fibrosis. However, the severity of liver tissue damage in synbiotic-supplemented groups was markedly lower than in the positive control (K+), with significant differences observed (p&lt;0.05). Scoring-based evaluation further confirmed variations in the degree of tissue damage among treatments. Fish receiving synbiotic supplementation demonstrated significantly reduced hepatic lesion scores compared to K+ (p&lt;0.05).&#13;
Furthermore, the synbiotic-treated groups exhibited a higher number of diversity index and Operational Taxonomic Units (OTUs) compared to the control group. Hierarchical clustering analysis revealed a clear separation pattern among treatments based on similarities in gut microbiota composition, particularly between P2 and P3. Principal Coordinate Analysis (PCoA) further demonstrated that samples from P3 clustered closely with those of P2, indicating comparable microbial community structures. At the class level, microbiota profiling indicated that synbiotic supplementation resulted in a higher relative abundance of Bacilli compared to the control treatments.&#13;
Overall, synbiotic supplementation significantly improved growth performance, enhanced digestive enzyme activities, promoted better intestinal morphology, increased gut microbiota diversity, strengthened immune responses, and elevated the intestinal population of Bacillus cereus BR2. Moreover, this dietary intervention enhanced the resistance of striped catfish against edwardsiellosis. Among the evaluated treatments, 0.3% inulin was identified as the most effective prebiotic dosage.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172992</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pemodelan Prediksi Kerawanan Kebakaran  Lahan Gambut berdasarkan Tinggi Muka Air dengan Pendekatan Machine  Learning</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172991</link>
<description>Pemodelan Prediksi Kerawanan Kebakaran  Lahan Gambut berdasarkan Tinggi Muka Air dengan Pendekatan Machine  Learning
Wulandari, Ratu Mutiara
Kebakaran lahan gambut di Asia Tenggara merupakan bencana berulang yang &#13;
semakin parah pada musim kemarau, diperparah oleh fenomena El Niño yang &#13;
meningkatkan kekeringan, terutama di Provinsi Jambi, Indonesia. Dampak &#13;
kebakaran gambut meliputi degradasi lingkungan, hilangnya habitat, kerusakan &#13;
ekosistem dan peningkatan emisi akibat kabut asap, sehingga pemantauan &#13;
kerawanan dan mitigasi menjadi sangat penting. Pemantauan berbasis tinggi muka &#13;
air, terutama melalui teknologi Internet of Things (IoT), telah terbukti efektif untuk &#13;
menilai kelembapan tanah secara real-time dan mendukung peringatan dini risiko &#13;
kebakaran. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model prediksi kerawanan &#13;
berdasarkan tinggi muka air dan mengategorikan kerawanan kebakaran berbasis &#13;
data lingkungan dengan pendekatan machine learning, mengevaluasi performa &#13;
model, dan menerapkan model pada wilayah lain. Data dikumpulkan dari stasiun &#13;
pemantauan berbasis Internet of Things (IoT) yang merekam delapan peubah &#13;
lingkungan setiap 15 menit selama 3 bulan di Desa Pematang Rahim. Peubah &#13;
prediktor yang diamati yaitu curah hujan, kelembapan udara, suhu, intensitas &#13;
cahaya, kelembapan tanah, arah angin dan kecepatan angin dengan target peubah &#13;
tinggi muka air. Secara ringkas, model dinyatakan dalam bentuk aturan IF–THEN &#13;
dominan : (1) IF SM &lt; 28 % THEN Y = -75 cm; (2) IF 28 = SM = 62 % AND RF &#13;
= 1,9 mm THEN -41 = Y = -22 cm; dan (3) IF SM  = 62 % AND = 23 TEM = &#13;
THEN  Y = -14 cm. Hasil prediksi menunjukkan nilai performa dengan nilai R² &#13;
0,93, RMSE 10,42, MAE 5,98, dan MAPE 0,76 % yang menunjukkan model yang &#13;
tidak bias. Selain itu, simulasi jumlah peubah dan waktu data menunjukkan bahwa &#13;
memungkinkan reduksi peubah prediktor menjadi tiga peubah utama, yaitu &#13;
kelembapan tanah, suhu, dan curah hujan dengan waktu terbaik selama 3 bulan. &#13;
Selanjutnya, klasifikasi kerawanan dibagi berdasarkan ambang batas kritis tinggi &#13;
muka air &lt; -40 cm untuk menentukan kategori kerawanan "rendah" dan "tinggi". &#13;
Hasil klasifikasi mencapai akurasi 97%. Model kemudian diterapkan pada data &#13;
Desa Teluk Dawan. Hasil penerapan model menunjukkan bahwa model belum &#13;
mampu diterapkan di daerah lain, sehingga perlu dilakukan pelatihan data agar &#13;
model dapat menyesuaikan peubah lingkungan di wilayah lain. Klasifikasi &#13;
kerawanan pada data baru dengan target titik panas menunjukkan bahwa hari tanpa &#13;
hujan, kelembapan tanah, tinggi muka air, dan suhu tanah secara berurutan &#13;
mempengaruhi kerawanan kebakaran. Hasil penelitian ini juga memberi &#13;
rekomendasi untuk menyeleksi peubah lingkungan dalam menduga tinggi muka air &#13;
menjadi tiga, yaitu kelembapan tanah, suhu, dan curah hujan sebagai strategi &#13;
monitoring pencegahan kebakaran hutan dan lahan gambut yang lebih efektif.; Peatland fires in Southeast Asia are recurring disasters that become increasingly &#13;
severe during the dry season and are exacerbated by El Niño, which intensifies &#13;
drought and expands affected areas, particularly in Jambi Province, Indonesia. The &#13;
impacts of peat fires include environmental degradation, habitat loss, ecosystem &#13;
damage, and increased haze-related emissions, underscoring the need for &#13;
vulnerability monitoring and mitigation. Groundwater level-based monitoring, &#13;
particularly through the Internet of Things (IoT), has proven effective for assessing &#13;
soil moisture in real time and for supporting early warning of fire risk. This study &#13;
aims to develop a prediction model based on groundwater levels, categorize fire &#13;
risk using environmental data using a machine learning approach, evaluate model &#13;
performance, and apply the model to other regions. Data were collected from an &#13;
Internet of Things (IoT)-based monitoring station that recorded eight environmental &#13;
variables every 15 minutes for 3 months in Pematang Rahim. The observed &#13;
predictor variables were rainfall, relative humidity, temperature, light intensity, soil &#13;
moisture, wind direction, and wind speed, with groundwater level as the target &#13;
variable. The model is expressed in the form of dominant IF–THEN rules: (1) IF &#13;
soil moisture &lt; 28% THEN groundwater level is in a very low condition (= -75 &#13;
cm); (2) IF soil moisture is 28–62% AND rainfall is = 1.9 cm THEN the &#13;
groundwater level is in a transition state from dry to wet (-41 to -22 cm); and (3) &#13;
IF soil moisture is = 62% AND soil temperature is low THEN the groundwater level &#13;
is relatively shallow (= -14 cm). The prediction results show an R2 of 0.93, RMSE &#13;
of 10.42, MAE of 5.98, and MAPE of 0.76%, indicating an unbiased model. In &#13;
addition, the simulation of the number of variables and data time shows that it is &#13;
possible to reduce the predictor variables to three main variables, namely soil &#13;
moisture, temperature, and rainfall, with the best time being 3 months. Furthermore, &#13;
vulnerability classification is divided based on a critical threshold of groundwater &#13;
level &lt; -40 cm to determine the categories of "low" and "high" vulnerability. The &#13;
classification results achieved 97% accuracy. The model was then applied to data &#13;
from Teluk Dawan Village. The results of the model application showed that it &#13;
could not yet be applied to other areas; training data were needed to enable the &#13;
model to adapt to environmental variables. The classification of vulnerability in the &#13;
new data with hotspot targets shows that, in sequence, days without rain, soil &#13;
moisture, water level, and soil temperature affect fire vulnerability. The results of &#13;
this study also provide recommendations for selecting environmental variables for &#13;
estimating water levels, namely soil moisture, temperature, and rainfall, as a &#13;
strategy for more effective monitoring of forest and peatland fire prevention.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172991</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>PENGEMBANGAN MODEL EIGENVECTOR SPACE TIME FILTERING - VARYING COEFFICIENT DENGAN GAMMA GLMM UNTUK PENDUGAAN CURAH HUJAN DI RIAU</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172990</link>
<description>PENGEMBANGAN MODEL EIGENVECTOR SPACE TIME FILTERING - VARYING COEFFICIENT DENGAN GAMMA GLMM UNTUK PENDUGAAN CURAH HUJAN DI RIAU
Mahkya, Dani Al
Pendugaan curah hujan merupakan instrumen penting dalam pengelolaan sumber daya alam dan mitigasi bencana hidrometeorologi, khususnya di wilayah dengan karakteristik ekosistem sensitif seperti Provinsi Riau. Sebagai daerah yang memiliki sekitar 5,09 juta hektar lahan gambut, Provinsi Riau sangat peka terhadap variasi curah hujan. Kondisi defisit air akan memicu kebakaran hutan, sementara curah hujan tinggi berisiko menyebabkan banjir musiman. Namun, akurasi prediksi sering kali terkendala oleh fenomena autokorelasi ruang-waktu dan heterogenitas spasial yang melanggar asumsi fundamental independensi dalam model statistik klasik. Selain itu, penggunaan luaran general circulation model (GCM) terkendala oleh resolusi spasial yang rendah, sehingga memerlukan pendekatan statistical downscaling (SD) untuk menjembatani informasi skala global dengan pengamatan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode eigenvector space-time filtering-varying coefficient (ESTF-VC) dengan asumsi sebaran respons Gamma guna meningkatkan akurasi pendugaan curah hujan di Provinsi Riau.&#13;
Kajian pertama difokuskan pada pemilihan luaran model GCM terbaik melalui teknik stacking ensemble yang melibatkan dua tingkat pemodelan. Level 0 berfungsi sebagai base model menggunakan regresi komponen utama (KU) dan regresi least absolute shrinkage and selection operator (LASSO), sementara level 1 sebagai meta model menggunakan regresi linier berganda. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pendekatan meta model yang menggunakan regresi KU terbukti meningkatkan akurasi pendugaan secara signifikan dibandingkan model dasar individu. Kajian ini menetapkan model CNRM-ESM2 sebagai luaran model iklim global yang paling representatif untuk wilayah Riau berdasarkan kriteria kinerja statistik yang paling optimal.&#13;
Kajian kedua menerapkan pemodelan eigenvector spatial filtering-varying coefficient (ESF-VC) untuk menangani autokorelasi spasial dan ketidakstasioneran pengaruh peubah prediktor. Kajian ini mengonfirmasi adanya variasi spasial yang nyata (nonstasioner spasial) pada pengaruh peubah karakteristik lokal, yaitu ketinggian (Altitude), vegetasi, dan jarak dari garis khatulistiwa (Equator). Namun, pemodelan yang hanya mempertimbangkan aspek spasial terbukti belum cukup memadai karena pola curah hujan aktual dan dugaan masih menunjukkan ketidaksesuaian yang signifikan, serta galat model masih menyisakan autokorelasi spasial yang nyata karena belum mempertimbangkan elemen temporal.&#13;
Kajian ketiga melakukan pengembangan model ESTF-VC dengan membangun matriks bobot jarak ruang-waktu C_ST yang fleksibel berbasis struktur dependensi space-time contemporaneous. Struktur ini dikonstruksi dari kombinasi berbagai bobot spasial dan temporal untuk menangkap keterkaitan antar observasi berdasarkan kedekatan lokasi dan waktu secara simultan. Pengembangan model ESTF-VC ini berhasil secara substansial mengatasi masalah autokorelasi ruang-waktu dan menunjukkan peningkatan kinerja dibandingkan model ESF-VC. Model ESTF-VC terbaik diperoleh dari kombinasi bobot spasial Eksponensial dan bobot temporal Jarak Invers Tipe 1, yang menghasilkan tingkat kemiripan pola yang tinggi antara curah hujan aktual dan hasil dugaan.&#13;
Kajian keempat merumuskan model Gamma ESTF-VC dalam kerangka GLMM untuk mengakomodasi karakteristik data curah hujan yang tidak menyebar Normal. Model ini dirancang untuk menangani data yang bernilai positif dan condong ke kanan dengan mengintegrasikan vektor ciri spasiotemporal sebagai efek acak dalam sebaran Gamma melalui fungsi hubung logaritma. Meskipun terdapat keterbatasan komputasi pada parameter pengendali skala, model ini divalidasi melalui kajian simulasi dan aplikasi empiris mampu menangkap dinamika hubungan yang berubah antar lokasi maupun waktu dalam kondisi sebaran non-Gaussian.&#13;
Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa model Gamma ESTF-VC memberikan kinerja terbaik dengan nilai akurasi tertinggi dibandingkan model ESF, ESF-VC, maupun ESTF-VC berbasis sebaran Normal. Penggunaan skenario matriks bobot tertentu pada model Gamma ESTF-VC terbukti paling optimal dalam meminimalkan nilai galat serta menghasilkan pola prediksi yang konsisten terhadap dinamika curah hujan aktual di Provinsi Riau. Integrasi filtering berbasis eigenvector ke dalam sebaran Gamma memberikan kerangka kerja baru yang andal dalam menangani kompleksitas data hidrometeorologi yang bersifat spasiotemporal dan non-linier. Evaluasi pada data uji menunjukkan bahwa model memiliki stabilitas prediksi yang baik, meskipun masih terdapat kecenderungan under-estimate pada intensitas variasi spasial yang ekstrem dan lokal.&#13;
Implikasi dari penelitian ini adalah tersedianya model statistik yang lebih andal dan adaptif sebagai alat bantu pengambilan keputusan dalam sistem peringatan dini bencana banjir dan kebakaran hutan di Provinsi Riau. Keberhasilan menangani masalah autokorelasi ruang-waktu dan heterogenitas spasial secara simultan memberikan dasar yang kuat bagi pengembangan pemodelan iklim regional yang presisi. Model Gamma ESTF-VC menawarkan solusi metodologis bagi pengembangan statistik spasiotemporal yang mampu mengakomodasi sebaran non-Normal data secara fleksibel. Selain itu, hasil penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi penyusunan strategi adaptasi perubahan iklim berbasis proyeksi data iklim global yang telah disesuaikan dengan karakteristik fisik lokal wilayah regional secara lebih akurat.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172990</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
