<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>DF - Fisheries</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/86</link>
<description/>
<pubDate>Sun, 30 Aug 2026 03:32:26 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-30T03:32:26Z</dc:date>
<item>
<title>Sistem Pendukung Keputusan Dalam Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Pelagis Kecil di WPPNRI 712</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179379</link>
<description>Sistem Pendukung Keputusan Dalam Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Pelagis Kecil di WPPNRI 712
Ilham
ILHAM. Sistem Pendukung Keputusan Dalam Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Pelagis Kecil di WPPNRI 712. Dibimbing oleh YONVITNER, MENNOFATRIA BOER, RAHMAT KURNIA, dan ZAIRION.&#13;
	Perikanan pelagis kecil di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia 712 (WPPNRI 712), merupakan salah satu perikanan strategis nasional yang menyangga ketahanan pangan dan penghidupan ribuan nelayan. Berdasarkan beberapa hasil riset, tingkat pemanfaatan sumber daya ikan pelagis kecil di kawasan ini telah berada pada status fully exploited. Kondisi tersebut menuntut analisis mendalam berbasis data empiris guna mendukung kebijakan pengelolaan yang adaptif dan berkelanjutan, namun kajian terpadu yang mengintegrasikan data operasional penangkapan, parameter biologi perikanan, dan kerangka pengambilan keputusan secara sistematis masih terbatas.&#13;
	Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis status pemanfaatan sumber daya ikan pelagis kecil di WPPNRI 712 periode 2018-2022 berdasarkan data elektronik logbook penangkapan ikan, (2) menganalisis kondisi biologis populasi ikan pelagis kecil berdasarkan parameter biologi perikanan; dan (3) menyusun model Decision Support System (DSS) berbasis indikator status pemanfaatan dan biologi perikanan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan pengelolaan. Penelitian menggunakan data sekunder dari sistem e-logbook penangkapan ikan periode 2018-2022, serta data primer biologi yang dikumpulkan dari empat lokasi pendaratan, yaitu Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman, Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan, Pelabuhan Perikanan Pantai Bajomulyo, dan Pangkalan Pendaratan Ikan Kluwut. Analisis status pemanfaatan mencakup laju tangkap per upaya (CPUE), tren tangkapan, sebaran spasial, dan pemodelan surplus produksi menggunakan lima model. Analisis biologi meliputi hubungan panjang-bobot, faktor kondisi, nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad (TKG), fekunditas, isi lambung, serta luas dan tumpang tindih relung ekologi. DSS dibangun menggunakan pembobotan Analytical Hierarchy Process (AHP) atas 16 indikator dan perankingan skenario melalui metode Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS), dengan seluruh nilai rasio konsistensi di bawah 0,10.&#13;
Hasil analisis pemanfaatan menunjukkan bahwa 17 jenis alat tangkap beroperasi di WPPNRI 712, dengan bouke ami mendominasi sebesar 34,30 - 44,77% total trip. Pada tahun 2022, jaring tarik berkantong muncul sebagai substitusi cantrang dengan 17,39% trip. Total produksi berkisar antara 81.261 ton sampai 134.984 ton per tahun dengan rata-rata 93.490 ton per tahun. Komposisi tangkapan mengalami pergeseran nyata: dominasi genus Decapterus meningkat tajam hingga 92,84% pada 2022 (D. russelli 62,06% dan D. macarellus 30,78%), sementara lemuru (Sardinella lemuru) mengalami penurunan dari 30,00% pada 2018 menjadi kurang dari 2% pada 2022. CPUE seluruh spesies menunjukkan tren menurun, dengan penurunan paling tajam pada kembung lelaki (-13,759 ton/trip/tahun) dan paling konsisten pada selar (R²=0,84). Pemodelan surplus produksi mengidentifikasi kembung perempuan mengalami overfishing (produksi aktual melampaui maximum sustainable yield, R²=81,78%), selar mengalami growth overfishing (upaya aktual melampaui upaya optimum, R²=83,68%), sedangkan layang menunjukkan fluktuasi antara underfishing dan overfishing yang memerlukan pengelolaan adaptif. Status agregat WPPNRI 712 ditetapkan sebagai fully exploited dengan estimasi potensi 275.486 ton per tahun dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan sebesar 247.937 ton per tahun.&#13;
	Analisis biologi perikanan mengungkap sejumlah temuan orisinal. Sebanyak 85,2% kelompok spesies, lokasi, jenis kelamin menunjukkan pola alometri negatif (koefisien b &lt; 3), mengindikasikan pertumbuhan panjang yang melebihi pertumbuhan bobot sebagai cerminan tekanan pakan dan/atau eksploitasi intensif. Kondisi kritis berupa panjang rata-rata tangkapan (Lc) yang lebih kecil dari panjang pertama kali matang gonad (Lm) teridentifikasi secara spesifik per kombinasi lokasi-spesies-jenis kelamin untuk pertama kalinya di WPPNRI 712, meliputi kembung lelaki betina di PPS Nizam Zachman (Lc=138,95 mm &lt; Lm=202,5 mm), selar jantan di PPS Nizam Zachman (Lc=122,32 mm &lt; Lm=161,5 mm), selar betina di PPS Nizam Zachman (Lc=141,03 mm &lt; Lm=161,5 mm), dan selar jantan di PP Kluwut (Lc=128,3 mm &lt; Lm=148,5 mm), yang menunjukkan bahwa sebagian besar individu tertangkap sebelum sempat bereproduksi. Perbedaan kontras antara dominasi TKG mature (stadium 3 - 4) di PPP Bajomulyo dengan dominasi TKG immature (stadium 1-2) di PPS Nizam Zachman mencerminkan heterogenitas spasial populasi yang sebelumnya tidak terkarakterisasi, dan berkaitan erat dengan perbedaan karakteristik armada serta daerah tangkap masing-masing pelabuhan. Fekunditas berkorelasi positif dengan ukuran tubuh sehingga hilangnya individu besar dari populasi secara langsung mengurangi kapasitas reproduktif total stok. Tumpang tindih relung antara kembung perempuan dan kembung lelaki tergolong sedang (0,58 - 0,63) dengan kopepoda sebagai pakan utama bersama (indeks propenderan &gt;70%), mengindikasikan potensi kompetisi interspesifik yang dapat intensif saat kelimpahan pakan menurun.&#13;
Model DSS yang dibangun mengintegrasikan 16 indikator biologi dan pemanfaatan dalam satu kerangka analitik tervalidasi, integrasi pertama dalam skala ini untuk perikanan pelagis kecil WPPNRI 712. Dua indikator dengan bobot kritis adalah penurunan CPUE kembung lelaki sebesar 83% dalam lima tahun dan kondisi Lc &lt; Lm pada empat spesies di lokasi-lokasi tertentu. Skenario pengelolaan berbasis pendekatan ekosistem (Ecosystem Approach to Fisheries) memperoleh nilai koefisien kedekatan TOPSIS tertinggi sebesar 0,92, menjadikannya prioritas utama rekomendasi kebijakan jangka panjang. Implikasi pengelolaan yang mendesak mencakup : moratorium penambahan unit penangkapan di WPPNRI 712, penetapan ukuran minimum tangkapan tidak kurang dari Lm per spesies, penerapan kawasan perlindungan musiman di hotspot konsentrasi upaya, pelaksanaan kajian khusus lemuru sebagai spesies indikator degradasi ekosistem, pemantauan ketat dan kajian bycatch jaring tarik berkantong. Dalam jangka panjang, transisi menuju pengelolaan berbasis ekosistem dan pengembangan DSS sebagai sistem hidup yang diperbarui secara berkala merupakan langkah strategis yang tidak dapat ditunda guna memastikan keberlanjutan sumber daya ikan pelagis kecil WPPNRI 712.&#13;
Kata kunci: biologi perikanan, decision support system, pelagis kecil, status pemanfaatan, WPPNRI 712; ILHAM. Decision Support System for the Management of Small Pelagic Fisheries Resources in WPPNRI 712. Supervised by YONVITNER, MENNOFATRIA BOER, RAHMAT KURNIA, and ZAIRION. &#13;
	Small pelagic fisheries in the Indonesian Fisheries Management Area 712 (WPPNRI 712), encompassing the Java Sea and its surrounding waters, constitute one of the nation's most strategically important fisheries, underpinning food security and the livelihoods of thousands of fishers. Based on several research findings, the utilization level of small pelagic fish resources in this area has reached a fully exploited status. This condition necessitates in-depth, empirically grounded analyses to support adaptive and sustainable management policies; however, integrated studies that systematically consolidate operational catch data, fisheries biological parameters, and decision-making frameworks remain limited.&#13;
	This study aimed to: (1) analyze the exploitation status of small pelagic fish resources in WPPNRI 712 for the period 2018–2022 based on electronic fishing logbook data; (2) analyze the biological condition of small pelagic fish populations based on fisheries biology parameters; and (3) develop a Decision Support System (DSS) model based on exploitation status and fisheries biology indicators to generate fisheries management policy recommendations. Secondary data were obtained from the electronic fishing logbook system covering the period 2018–2022, while primary biological data were collected from four major landing sites: Nizam Zachman Ocean Fishing Port (PPS), Pekalongan Nusantara Fishing Port (PPN), Bajomulyo Coastal Fishing Port (PPP), and Kluwut Fish Landing Base (PPI). Exploitation status analyses encompassed catch per unit effort (CPUE), catch trends, spatial distribution, and surplus production modeling using five models. Biological analyses included length-weight relationships, condition factor, sex ratio, gonad maturity stage (GMS), fecundity, stomach content, and ecological niche breadth and overlap. The DSS was constructed using Analytic Hierarchy Process (AHP) weighting of 16 indicators and scenario ranking through the Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) method, with all consistency ratio values below 0.10.&#13;
Exploitation analysis revealed that 17 types of fishing gear operate in WPPNRI 712, with bouke ami dominating at 34.30–44.77% of total fishing trips. In 2022, bag seine nets emerged as a substitute for cantrang, accounting for 17.39% of trips. Total production ranged from 81,261 to 134,984 tonnes per year, with an annual average of 93,490 tonnes. Catch composition underwent a marked structural shift: the dominance of genus Decapterus increased sharply to 92.84% in 2022 (D. russelli at 62.06% and D. macarellus at 30.78%), while bali sardinella (Sardinella lemuru) declined from 30.00% in 2018 to less than 2% in 2022. CPUE for all species exhibited declining trends, with the sharpest decline in Indian mackerel (Rastrelliger kanagurta) at -13.759 tonnes/trip/year and the most consistent decline in oxeye scad (Selaroides leptolepis, R²=0.84). Surplus production modeling identified shortbodied mackerel (Rastrelliger brachysoma) as experiencing overfishing (actual production exceeding maximum sustainable yield, R²=81.78%), oxeye scad as experiencing growth overfishing (actual effort exceeding optimum effort, R²=83.68%), while layang scad exhibited fluctuations between underfishing and overfishing conditions requiring adaptive management. The aggregate status of WPPNRI 712 was designated fully exploited, with an estimated sustainable yield of 275,486 tonnes per year and a total allowable catch of 247,937 tonnes per year.&#13;
Fisheries biological analyses revealed a number of original findings. A total of 85.2% of species-location-sex groups exhibited negative allometric growth patterns (coefficient b &lt; 3), indicating that length growth exceeded weight growth as a reflection of persistent feeding pressure and/or intensive exploitation. The critical condition of mean catch length (Lc) falling below length at first maturity (Lm) was identified for the first time in WPPNRI 712 at specific location-species-sex combinations, including female Indian mackerel at PPS Nizam Zachman (Lc=138.95 mm &lt; Lm=202.5 mm), male oxeye scad at PPS Nizam Zachman (Lc=122.32 mm &lt; Lm=161.5 mm), female oxeye scad at PPS Nizam Zachman (Lc=141.03 mm &lt; Lm=161.5 mm), and male oxeye scad at PP Kluwut (Lc=128.3 mm &lt; Lm=148.5 mm), demonstrating that the majority of individuals are captured before they have the opportunity to reproduce. The contrasting patterns between the dominance of mature GMS (stages 3–4) at PPP Bajomulyo and immature GMS (stages 1–2) at PPS Nizam Zachman reflect a spatial population heterogeneity that had not previously been characterized, and is closely associated with differences in fleet characteristics and fishing grounds among ports. Fecundity was positively correlated with body size, such that the removal of large individuals from the population directly reduces the total reproductive capacity of the stock. Niche overlap between shortbodied mackerel and Indian mackerel was moderate (0.58–0.63), with copepods as the shared principal prey (dietary index &gt;70%), indicating a potential for interspecific competition that may intensify when prey abundance declines.&#13;
	The DSS model developed in this study integrates 16 biological and exploitation indicators within a single validated analytical framework, representing the first integration of this scope for small pelagic fisheries in WPPNRI 712. Two indicators carrying critical weights were the 83% decline in Indian mackerel CPUE over five years and the Lc &lt; Lm condition observed across four species at specific locations. The management scenario based on the Ecosystem Approach to Fisheries (EAF) obtained the highest TOPSIS closeness coefficient of 0.92, establishing it as the primary recommendation for long-term policy. Urgent management implications include: a moratorium on the addition of fishing units in WPPNRI 712, establishment of minimum catch size no less than Lm per species, implementation of seasonal protection areas at effort concentration hotspots, conduct of dedicated studies on bali sardinella as an indicator species of ecosystem degradation, and strict monitoring and bycatch assessment of bag seine nets. In the long term, the transition toward ecosystem-based management and the development of the DSS as a living system updated on a regular basis represent strategic steps that cannot be deferred if the sustainability of small pelagic fish resources in WPPNRI 712 is to be assured.&#13;
Keywords: decision support system, fisheries biology, exploitation status, small pelagic, WPPNRI 712
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179379</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Redesain Pengelolaan Ekowisata Berbasis Resiliensi di Pesisir Sawarna, Kabupaten Lebak, Banten</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179361</link>
<description>Redesain Pengelolaan Ekowisata Berbasis Resiliensi di Pesisir Sawarna, Kabupaten Lebak, Banten
Rahmawati, Ani
Kawasan Pesisir Sawarna, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata bahari. Namun, pengelolaannya masih menghadapi empat persoalan mendasar, yaitu potensi sumber daya pesisir yang belum teridentifikasi secara menyeluruh, pemanfaatan kawasan yang belum mempertimbangkan kesesuaian dan daya dukung ekologis, nilai ekonomi jasa ekosistem pantai berpasir yang belum dikuantifikasi, serta resiliensi ekowisata yang belum dikaji secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi redesain pengelolaan ekowisata berbasis resiliensi melalui empat kajian terintegrasi di Pantai Ciantir, Goa Langir, Legon Pari, dan Tanjung Layar. Data dikumpulkan melalui survei lapangan, citra satelit multitemporal periode 2013–2024, wawancara, dan FGD. Analisis dilakukan menggunakan matriks Indeks Kesesuaian Wisata dan Daya Dukung Kawasan, ISM, metode benefit transfer dengan pendekatan Avoided Damage Cost (ADC), serta indeks resiliensi multidimensi yang diadaptasi dari kerangka The Torrens Resilience Institute.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat pantai memiliki karakteristik biofisik, sosial budaya, dan ekonomi wisata yang beragam, tetapi saling melengkapi sebagai satu destinasi wisata bahari. Namun, dinamika garis pantai yang fluktuatif dan kualitas perairan, khususnya padatan tersuspensi total di Ciantir, memerlukan pemantauan berkelanjutan. Daya dukung Ciantir, Goa Langir, Legon Pari, dan Tanjung Layar masing-masing sebesar 966, 784, 433, dan 192 pengunjung per hari. Nilai tersebut jauh lebih rendah dibandingkan kunjungan pada puncak liburan yang mencapai sekitar 8.000 orang per hari. Kesenjangan ini menjadi dasar pengembangan Adaptive Tourism Transition Framework (ATTF), yang mengarahkan transisi bertahap melalui tahapan soft ecotourism, moderate ecotourism, dan hard ecotourism.&#13;
Perubahan garis pantai 2013–2024 menghasilkan akresi neto sistem +3,00 ha, Ciantir satu-satunya segmen abrasi neto (-1,16 ha); nilai ADC kumulatif ˜Rp653,31 juta (skenario sedang), Ciantir bernilai ADC negatif. ISM menghasilkan empat prioritas tata Kelola, penguatan kapasitas-regulasi, integrasi perencanaan, pengendalian dan evaluasi adaptif, dan pemberdayaan ekonomi lokal, dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak sebagai driver utama. Resiliensi keempat pantai berstatus Waspada (indeks 61,2–69,1%; tata kelola terlemah), waktu pemulihan pascagangguan menurun ˜54% dari soft ke hard ecotourism (24,0 menjadi 11,0 bulan). Skenarion tersebut disintesis menjadi empat pilar pengelolaan, yaitu pengelolaan berbasis daya dukung dan kuota berjenjang ATTF, tata kelola adaptif dan inklusif, penguatan kapasitas adaptif masyarakat, serta investasi jasa ekosistem yang didukung pemantauan waktu pemulihan.; The Sawarna Coastal Area, Lebak Regency, Banten Province, has potential as a marine ecotourism destination. However, its management faces four challenges: incomplete identification of coastal resources, inadequate consideration of tourism suitability and carrying capacity, the absence of economic valuation of ecosystem services, and the lack of an ecotourism resilience assessment. This study aimed to formulate a resilience-based ecotourism redesign strategy through integrated assessments conducted at Ciantir, Goa Langir, Legon Pari, and Tanjung Layar beaches. Data were collected through field surveys, satellite imagery covering 2013–2024, interviews, and FGDs. The analyses employed the Tourism Suitability Index and Carrying Capacity matrices, Interpretive Structural Modeling (ISM), the benefit transfer method using the Avoided Damage Cost (ADC) approach, and a multidimensional resilience index adapted from the Torrens Resilience Institute framework.&#13;
The four beaches possessed diverse biophysical, sociocultural, and economic characteristics, as a marine tourism destination. Nevertheless, fluctuating shoreline dynamics and water quality, particularly total suspended solids at Ciantir, require monitoring. The carrying capacities of Ciantir, Goa Langir, Legon Pari, and Tanjung Layar were estimated at 966, 784, 433, and 192 visitors per day, respectively. These figures were lower than peak holiday visitation, which reached 8,000 visitors per day. This disparity provided the basis for developing the Adaptive Tourism Transition Framework (ATTF), which guides a gradual transition through soft ecotourism, moderate ecotourism, and hard ecotourism stages.&#13;
Shoreline changes during 2013–2024 resulted in system-wide net accretion of 3.00 ha, with Ciantir as the only segment experiencing net erosion of 1.16 ha. The cumulative ADC was estimated at approximately IDR 653.31 million under the moderate scenario, whereas Ciantir recorded a negative ADC value. ISM identified four governance priorities: strengthening institutional capacity and regulations, integrating planning, implementing adaptive control and evaluation, and empowering the local economy. The Lebak Regency Tourism Office was identified as the driving institution. All four beaches were classified within the Caution Zone, with resilience indices ranging from 61.2% to 69.1%, and governance consistently emerging as the weakest dimension. Estimated post-disturbance recovery time decreased by approximately 54%, from 24.0 months under soft ecotourism to 11.0 months under hard ecotourism. These findings were synthesized into four management pillars: carrying-capacity-based management and tiered ATTF visitor quotas, adaptive and inclusive governance, strengthened community adaptive capacity, and investment in ecosystem services supported by recovery-time monitoring.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179361</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Kajian Proses Dan Dinamika Oseanografi Untuk Mendukung Penentuan Daerah Penangkapan Ikan Pelagis (Layang dan Tongkol) di Laut Banda Dan Laut Arafura a.n Evangelin Martha Yulia Kadmaer (C5601201001)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179358</link>
<description>Kajian Proses Dan Dinamika Oseanografi Untuk Mendukung Penentuan Daerah Penangkapan Ikan Pelagis (Layang dan Tongkol) di Laut Banda Dan Laut Arafura a.n Evangelin Martha Yulia Kadmaer (C5601201001)
Kadmaer, Evangelin Martha Yulia
EVANGELIN MARTHA YULIA KADMAER. Kajian Proses Dan Dinamika Oseanografi Untuk Mendukung Penentuan Daerah Penangkapan Ikan Pelagis (Layang dan Tongkol) di Laut Banda Dan Laut Arafura. Dibimbing oleh AGUS SALEH ATMADIPOERA, INDRA JAYA, AUGY SYAHAILATUA dan WUDIANTO.&#13;
&#13;
	           Laut Banda dan Laut Arafura merupakan dua kawasan perairan yang memiliki arti strategis bagi perikanan Indonesia karena dikenal memiliki tingkat produktivitas yang tinggi serta menjadi habitat penting bagi berbagai ikan pelagis, terutama ikan layang (Decapterus spp.) dan ikan tongkol (Euthynnus affinis, Auxis thazard, dan Auxis rochei). Variabilitas oseanografi yang berlangsung secara musiman menyebabkan perubahan pada suhu permukaan laut, salinitas, tinggi muka laut, arus, dan konsentrasi klorofil-a. Perubahan kondisi tersebut berpengaruh terhadap pembentukan habitat ikan, proses transport telur dan larva, serta dinamika distribusi daerah penangkapan. Meskipun keterkaitan antara parameter oseanografi dan hasil tangkapan telah banyak dilaporkan, mekanisme yang menghubungkan dinamika oseanografi, konektivitas biologis, dan pembentukan daerah penangkapan ikan masih belum dapat dijelaskan secara menyeluruh. Atas dasar tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan suatu pendekatan integratif yang mampu menjelaskan proses pembentukan daerah penangkapan ikan pelagis di Laut Banda dan Laut Arafura secara lebih komprehensif.&#13;
	           Penelitian ini memiliki tiga tujuan utama, yaitu mengkaji dinamika oseanografi yang memengaruhi pembentukan habitat dan daerah penangkapan ikan layang serta ikan tongkol, menganalisis pola persebaran dan transport telur, larva, serta massa air melalui pendekatan trajektori, dan mengembangkan model prediksi daerah penangkapan ikan dengan mengintegrasikan parameter oseanografi dan data hasil tangkapan.&#13;
          Penelitian ini memanfaatkan data oseanografi yang berasal dari keluaran model INDESO untuk periode 2008–2015 serta data Copernicus periode 2017–2022, yang mencakup parameter SST, SSS, SSH, arus, dan klorofil-a. Informasi hasil tangkapan diperoleh dari data logbook perikanan, sedangkan data aktivitas kapal bersumber dari VIIRS Boat Detection (VBD). Analisis dinamika oseanografi dilakukan melalui pendekatan spasial, analisis struktur vertikal, Empirical Orthogonal Function (EOF), Power Spectral Density (PSD), dan analisis transport massa air. Simulasi trajektori diterapkan menggunakan Ariane untuk mengevaluasi transport massa air serta Ichthyop untuk memodelkan pola transport telur dan larva. Sementara itu, prediksi habitat potensial dan daerah penangkapan ikan dikembangkan menggunakan model Maximum Entropy (MaxEnt) dengan mengintegrasikan parameter oseanografi, data kehadiran spesies, hasil tangkapan, serta aktivitas penangkapan.&#13;
               Temuan penelitian menunjukkan bahwa dinamika oseanografi di Laut Banda dan Laut Arafura terutama dikendalikan oleh variabilitas musiman yang membentuk karakteristik lingkungan berbeda pada masing-masing wilayah. Laut Banda berperan sebagai kawasan transformasi sekaligus jalur distribusi massa air, sedangkan Laut Arafura memiliki produktivitas primer yang lebih tinggi akibat proses pencampuran massa air dan meningkatnya pasokan nutrien. Variasi kondisi oseanografi tersebut berkontribusi dalam membentuk habitat yang sesuai bagi ikan pelagis, sekaligus memengaruhi dinamika spasial dan temporal daerah penangkapan ikan.&#13;
	            Hasil simulasi trajektori memperlihatkan bahwa transport massa air membentuk konektivitas antara Laut Banda dan Laut Arafura melalui mekanisme adveksi, retensi, dan dispersi, yang selanjutnya berperan dalam mengendalikan pergerakan telur dan larva ikan. Konektivitas biologis yang dihasilkan dari proses tersebut mengindikasikan bahwa pola distribusi populasi ikan pelagis tidak semata-mata ditentukan oleh lokasi pemijahan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh dinamika sirkulasi laut yang mengatur penyebaran organisme pada fase awal siklus hidupnya.&#13;
             Pemodelan habitat menggunakan MaxEnt menunjukkan bahwa sebaran habitat potensial ikan layang dan ikan tongkol memiliki hubungan yang erat dengan dinamika oseanografi serta memperlihatkan kesesuaian yang baik dengan pola hasil tangkapan dan distribusi aktivitas kapal. Temuan ini mengindikasikan bahwa terbentuknya daerah penangkapan ikan merupakan konsekuensi dari perubahan kondisi oseanografi yang menghasilkan habitat dengan tingkat kesesuaian tinggi bagi kedua spesies tersebut.&#13;
            Kebaruan utama penelitian ini terletak pada pengembangan kerangka analisis yang mengintegrasikan dinamika oseanografi, transport massa air, konektivitas biologis, pembentukan habitat potensial, dan daerah penangkapan ikan layang dan tongkol di Laut Banda dan Laut Arafura ke dalam satu sistem yang saling terhubung. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa prediksi daerah penangkapan ikan menjadi lebih representatif apabila disusun melalui penggabungan proses oseanografi, simulasi transport biologis, dan pemodelan habitat, dibandingkan dengan pendekatan yang hanya memanfaatkan parameter oseanografi atau data hasil tangkapan secara terpisah..&#13;
           Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah terhadap pengembangan bidang oseanografi perikanan melalui penerapan pendekatan multidisiplin yang memadukan proses fisik dan biologis dalam menjelaskan mekanisme pembentukan daerah penangkapan ikan pelagis. Di samping itu, temuan penelitian ini dapat dijadikan sebagai landasan ilmiah untuk mengembangkan sistem prediksi daerah penangkapan ikan yang lebih adaptif terhadap dinamika lingkungan laut, sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya ikan pelagis yang berkelanjutan di Laut Banda dan Laut Arafura.&#13;
&#13;
Kata kunci: Ariane, Ichthyop, Ikan pelagis, Maxent, Oseanografi.; EVANGELIN MARTHA YULIA KADMAER. Study of Oceanographic Processes and Dynamics to Support the Determination of Pelagic Fishing Areas (Decapterus spp and auxis spp) in the Banda Sea and Arafura Sea. Supervised by AGUS SALEH ATMADIPOERA, INDRA JAYA, AUGY SYAHAILATUA and WUDIANTO.&#13;
&#13;
The Banda Sea and the Arafura Sea are two water areas that have strategic significance for Indonesian fisheries because they are known to have a high level of productivity and are important habitats for various pelagic fish, especially flying fish (Decapterus spp.) and codfish (Euthynnus affinis, Auxis thazard, and Auxis rochei). Seasonal oceanographic variability causes changes in sea surface temperature, salinity, sea level, currents, and chlorophyll-a concentrations. These changes in conditions affect the formation of fish habitats, the process of transporting eggs and larvae, and the dynamics of the distribution of fishing areas. Although the linkage between oceanographic parameters and catches has been widely reported, the mechanisms linking oceanographic dynamics, biological connectivity, and fishing area formation remain comprehensively unexplained. On this basis, this research was conducted to develop an integrative approach that is able to explain the process of forming pelagic fishing areas in the Banda Sea and Arafura Sea more comprehensively.&#13;
	           This research has three main objectives, namely to examine the dynamics of oceanography that affect the formation of habitats and fishing areas for fly fishing and cod fish, analyze the distribution and transport patterns of eggs, larvae, and water masses through a trajectory approach, and develop a prediction model of fishing areas by integrating oceanographic parameters and catch data.&#13;
          This study utilizes oceanographic data derived from the output of the INDESO model for the period 2008–2015 as well as Copernicus data for the period 2017–2022, which includes SST, SSS, SSH, current, and chlorophyll-a parameters. Catch information is obtained from fisheries logbook data, while ship activity data is sourced from VIIRS Boat Detection (VBD). Analysis of oceanographic dynamics was carried out through a spatial approach, vertical structure analysis, Empirical Orthogonal Function (EOF), Power Spectral Density (PSD), and water mass transport analysis. Trajectory simulations were applied using Ariane to evaluate water mass transport and Ichthyop to model egg and larval transport patterns. Meanwhile, the prediction of potential habitats and fishing areas was developed using the Maximum Entropy (MaxEnt) model by integrating oceanographic parameters, species presence data, catches, and fishing activities.&#13;
               The findings of the study show that the oceanographic dynamics in the Banda Sea and the Arafura Sea are mainly controlled by seasonal variability that forms different environmental characteristics in each region. The Banda Sea acts as a transformation area as well as a distribution channel for water masses, while the Arafura Sea has higher primary productivity due to the process of mixing water masses and increasing nutrient supply. The variation in oceanographic conditions contributes to forming suitable habitats for pelagic fish, while influencing the spatial and temporal dynamics of fishing areas.&#13;
	            The results of the trajectory simulation show that the mass transport of water forms connectivity between the Banda Sea and the Arafura Sea through advection, retention, and dispersion mechanisms, which in turn play a role in controlling the movement of fish eggs and larvae. The biological connectivity resulting from the process indicates that the distribution pattern of pelagic fish populations is not solely determined by spawning sites, but is also strongly influenced by the dynamics of marine circulation that govern the spread of organisms in the early phases of their life cycles.&#13;
             Habitat modeling using MaxEnt showed that the distribution of potential habitats of flying fish and codfish is closely related to oceanographic dynamics and shows a good fit with the catch pattern and distribution of vessel activity. These findings indicate that the formation of fishing areas is a consequence of changing oceanographic conditions that result in habitats with a high level of suitability for both species.&#13;
            The main novelty of this research lies in the development of an analytical framework that integrates the dynamics of oceanography, water mass transport, biological connectivity, the formation of potential habitats, and fishing areas into one interconnected system. This approach shows that fishing area predictions become more representative when compiled through a combination of oceanographic processes, biological transport simulations, and habitat modeling, compared to approaches that only utilize oceanographic parameters or catch data separately.&#13;
           This research makes a scientific contribution to the development of the field of fisheries oceanography through the application of a multidisciplinary approach that combines physical and biological processes in explaining the mechanism of formation of pelagic fishing areas. In addition, the findings of this study can be used as a scientific basis to develop a fishing area prediction system that is more adaptive to the dynamics of the marine environment, while supporting the sustainable management of pelagic fish resources in the Banda Sea and the Arafura Sea.&#13;
&#13;
Keywords: Ariane, Ichthyop,  Maxent, Oceanography, Pelagic fish.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179358</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Dinamika Spasio-Temporal dan Ketahanan  Komunitas Karang Pada Rezim Lingkungan Yang Kontras Di Perairan Sumatera</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179278</link>
<description>Dinamika Spasio-Temporal dan Ketahanan  Komunitas Karang Pada Rezim Lingkungan Yang Kontras Di Perairan Sumatera
Siringoringo, Rikoh Manogar
Terumbu karang menghadapi tekanan akibat pemanasan laut, gelombang panas, dan pemutihan massal. Namun, respons komunitas karang terhadap gangguan termal dapat berbeda  antarwilayah karena dipengaruhi oleh rezim lingkungan, komposisi taksonomi, bentuk pertumbuhan, dan riwayat paparan. Penelitian ini menganalisis dinamika spasio-temporal,  resistance, dan recovery komunitas karang pada wilayah barat dan timur perairan Sumatera &#13;
sebelum, selama, dan setelah pemutihan tahun 2016.  Penelitian dilakukan pada 93 stasiun transek permanen di delapan lokasi, yaitu Nias Utara, Tapanuli Tengah, Mentawai, dan Pulau Pieh di wilayah barat, serta Belitung, Bintan, Natuna, dan Batam di wilayah timur. Pengamatan dilakukan pada 2015, 2016, dan 2018. Data komunitas diperoleh melalui Underwater Photo Transect sebanyak 13.950 foto, sedangkan data suhu permukaan laut, Degree Heating Weeks (DHW), salinitas, dan turbiditas berasal dari  NOAA Coral Reef Watch, Copernicus Marine Service, dan MODIS-Aqua. Analisis meliputi perubahan temporal, keanekaragaman, nMDS, PERMANOVA, CCA, environmental fitting, serta perubahan taksa dan bentuk pertumbuhan. Hasil menunjukkan respons yang sangat kontras. Di wilayah barat, tutupan karang hidup menurun dari sekitar 37,33% pada 2015 menjadi 19,38% pada 2016 dan hanya meningkat menjadi 21,99% pada 2018. Di wilayah timur, tutupan relatif stabil, yaitu 34,27% pada 2015, 32,80% pada 2016, dan 32,57% pada 2018. Seluruh lokasi barat mengalami penurunan nyata,  sedangkan Batam, Bintan, dan Natuna relatif stabil. Belitung mengalami penurunan yang diikuti pemulihan parsial. Reorganisasi struktur genera dan bentuk pertumbuhan juga lebih kuat di wilayah barat. Wilayah barat umumnya lebih hangat, lebih asin, dan lebih jernih, sedangkan wilayah  timur lebih dingin, bersalinitas lebih rendah, dan pada beberapa lokasi lebih keruh. Puncak suhu dan tekanan termal terjadi pada 2016, tetapi DHW berbeda antarlokasi dan tidak &#13;
sepenuhnya mengikuti suhu absolut. Acropora, terutama bentuk branching dan tabulate, mengalami penurunan terbesar di wilayah barat, sedangkan Porites dan bentuk masif menunjukkan resistance lebih tinggi. Namun, Acropora relatif mampu bertahan di beberapa lokasi timur, menunjukkan bahwa sensitivitas taksa bergantung pada konteks lingkungan.  Turbiditas yang lebih tinggi di wilayah timur diduga mengurangi irradiance dan tekanan foto&#13;
termal, meskipun hubungan ini bersifat asosiatif.  Penelitian ini menunjukkan bahwa ketahanan komunitas karang ditentukan oleh interaksi &#13;
antara paparan termal, rezim lingkungan lokal, dan sensitivitas biologis taksa serta bentuk pertumbuhan. Kebaruan penelitian terletak pada perbandingan geografis barat–timur, penggunaan transek permanen lintas periode gangguan, analisis multilevel komunitas, dan pembuktian context-dependent vulnerability. Hasil penelitian mendukung pengelolaan berbasiskerentanan spasial, perlindungan lokasi dengan resistance tinggi, serta pemantauan yang mencakup tutupan, komposisi taksonomi, dan sifat fungsional komunitas.; Coral reefs are increasingly threatened by ocean warming, marine heatwaves, and mass bleaching events. However, coral community responses to thermal disturbances may vary among regions due to differences in environmental regimes, taxonomic composition, growth forms, and exposure history. This study examined the spatio-temporal dynamics, resistance, and recovery of coral communities in the western and eastern waters of Sumatra before, during, and after the 2016 bleaching event. The study was conducted at 93 permanent transect stations across eight locations: North Nias, Central Tapanuli, Mentawai, and Pieh Island in the western region, and Belitung, Bintan, Natuna, and Batam in the eastern region. Surveys were conducted in 2015, 2016, and 2018. Coral community data were collected using the Underwater Photo Transect method, generating 13,950 photographs. Sea surface temperature, Degree Heating Weeks (DHW), salinity, and turbidity data were obtained from NOAA Coral Reef Watch, the Copernicus Marine Service, and MODIS-Aqua. Analyses included temporal change assessment, diversity analysis, nMDS, PERMANOVA, CCA, environmental fitting, and evaluation of changes in coral taxa and growth forms. The results revealed strongly contrasting responses between the two regions. In the western region, aggregate live coral cover declined from approximately 37.33% in 2015 to 19.38% in 2016 and recovered only slightly to 21.99% in 2018. In contrast, coral cover in the eastern region remained relatively stable, decreasing from approximately 34.27% in 2015 to 32.80% in 2016 and 32.57% in 2018. All western locations experienced substantial declines, whereas Batam, Bintan, and Natuna remained relatively stable. Belitung showed an initial decline followed by partial recovery. Reorganization of genera and growth-form composition was also more pronounced in the western region. The western region was generally warmer, more saline, and clearer, whereas the eastern region was cooler, less saline, and more turbid at several locations. Peak temperatures and thermal stress occurred in 2016, although DHW varied among locations and did not fully correspond to absolute temperature gradients. Acropora, particularly branching and tabulate forms, experienced the greatest decline in the western region, whereas Porites and massive growth forms showed greater resistance. Nevertheless, Acropora persisted at several eastern locations, indicating that taxon sensitivity is context dependent. Higher turbidity in the eastern region may have reduced irradiance and moderated photo-thermal stress, although this relationship remains associative. These findings demonstrate that coral community resilience is shaped by interactions among thermal exposure, local environmental regimes, and the biological sensitivity of coral taxa and growth forms. The novelty of this study lies in its west–east geographical comparison, use of permanent transects across disturbance periods, multilevel community analysis, and demonstration of context-dependent vulnerability within the same taxa. The results support spatial vulnerability-based management, protection of highly resistant sites as climate adaptation priorities, and monitoring approaches that incorporate coral cover, taxonomic composition, and functional community traits.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179278</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
