<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>DT - Economic and Management</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85</link>
<description/>
<pubDate>Sun, 05 Apr 2026 14:13:46 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-05T14:13:46Z</dc:date>
<item>
<title>Model Pengembangan Rantai Nilai Global Karet Alam Indonesia: Pendekatan Sistem Dinamik</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172884</link>
<description>Model Pengembangan Rantai Nilai Global Karet Alam Indonesia: Pendekatan Sistem Dinamik
AGUSTINA, DWI SHINTA
Pengembangan rantai nilai karet alam Indonesia masih dihadapkan pada&#13;
berbagai permasalahan mulai dari rendahnya produktivitas kebun karet, posisi&#13;
tawar petani yang lemah, rendahnya harga karet yang diterima petani, serta&#13;
kurangnya keterkaitan sektor hulu dan sektor hilir sehingga nilai tambah yang&#13;
diperoleh masih rendah. Penelitian mengenai peningkatan kinerja rantai nilai karet&#13;
pada umumnya dianalisis secara deskriptif, bersifat parsial, dan hanya mencakup&#13;
pada satu waktu tertentu yang biasanya bersifat statis sehingga belum mampu&#13;
menjelaskan dinamika jangka panjang di dalam rantai nilai global karet alam. Oleh&#13;
sebab itu, diperlukan suatu studi yang dapat memotret perilaku, interaksi, dan&#13;
dinamika di dalam rantai nilai secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk:&#13;
(1) memetakan (mapping) rantai nilai global karet alam Indonesia; (2) menganalisis&#13;
tata kelola (governance) rantai nilai global karet alam di Indonesia; (3)&#13;
menganalisis posisi dan partisipasi industri karet alam Indonesia dalam rantai nilai&#13;
global karet; dan (4) menganalisis strategi upgrading rantai nilai global karet alam&#13;
Indonesia. Kebaruan dari penelitian yaitu (a) mengintegrasikan konsep rantai nilai&#13;
global dengan pendekatan sistem sehingga dapat memotret dinamika sistem secara&#13;
holistik; (b) analisis rantai nilai global dilakukan secara keseluruhan mulai dari&#13;
pemetaan aktor, aktivitas, aliran produk, nilai tambah, cakupan geografis, dan tata&#13;
kelola; (c) penelitian ini tidak hanya memotret rantai nilai karet dalam lingkup&#13;
regional tetapi juga menganalisis partisipasi dan posisi industri karet Indonesia&#13;
dalam cakupan global; serta (d) penelitian ini menghasilkan rekomendasi kebijakan&#13;
upgrading karet yang dianalisis secara kuantitatif menggunakan pendekatan sistem&#13;
dinamik mulai dari subsistem produksi, subsistem pengolahan, dan subsistem&#13;
perdagangan.&#13;
Penelitian dilakukan dengan metode survei dan focus group discussion (FGD)&#13;
di dua provinsi sentra karet di Indonesia yaitu Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi.&#13;
Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer&#13;
dikumpulkan dari 236 aktor rantai nilai yang meliputi 201 orang petani, 8 orang&#13;
pedagang perantara skala kecil, 12 orang pedagang perantara skala besar, 9 orang&#13;
pengurus Unit Pengolahan dan Pemasaran Bahan Olah Karet (UPPB), dan 6 orang&#13;
perwakilan pabrik. Selanjutnya, data sekunder diperoleh dari berbagai publikasi&#13;
yang relevan dengan kegiatan penelitian ini seperti publikasi ilmiah hasil penelitian&#13;
terdahulu, data statistik, dokumen, dan laporan serta sumber lainnya. Analisis&#13;
pemetaan rantai nilai dilakukan dengan analisis deskriptif secara kualitatif dan&#13;
kuantitatif menggunakan pendekatan making market work better for the poor&#13;
(M4P). Analisis tata kelola menggunakan skala Likert berdasarkan pendekatan&#13;
Gereffi yang mencakup lima tipe tata kelola yaitu market, modular, relational,&#13;
captive, dan hierarchy. Analisis posisi dan partisipasi industri karet Indonesia dalam&#13;
rantai nilai global menggunakan data MRIO (Multi Regional Input-Output) dari&#13;
ADB (Asian Development Bank) tahun 2015 dan 2022 dari 35 negara. Selanjutnya,&#13;
model strategi peningkatan menggunakan pendekatan sistem dinamik dianalisis&#13;
melalui beberapa tahapan penelitian termasuk artikulasi masalah, identifikasi sistem, perumusan model simulasi, validasi model, analisis sensitivitas, simulasi&#13;
model serta evaluasi kebijakan. Pemodelan sistem dinamik dianalisis menggunakan&#13;
Powersim Studio Academic (versi 10).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rantai nilai global karet alam Indonesia&#13;
terdiri dari lima aktivitas utama yaitu produksi, pasca panen dan pengolahan awal,&#13;
pemasaran, pengolahan lanjutan, dan perdagangan yang melibatkan beragam aktor&#13;
seperti petani skala kecil, UPPB/pasar lelang, pengumpul, pabrik karet remah,&#13;
eksportir, dan konsumen akhir. Setiap pelaku di sepanjang rantai nilai memiliki&#13;
aktivitas yang berbeda yang memberikan nilai tambah dan membedakan produk&#13;
karet alam. Tipe tata kelola rantai nilai karet alam dikategorikan sebagai tata kelola&#13;
modular dengan kompleksitas informasi tinggi, kodifikasi informasi tinggi, dan&#13;
kapabilitas pemasok tinggi. Rantai nilai ini menunjukkan cakupan geografis North-&#13;
South, yaitu produsen karet sebagian besar berada di bumi bagian selatan dan&#13;
konsumen karet alam sebagian besar berada di bumi bagian utara. Hasil analisis&#13;
partisipasi Indonesia di dalam rantai nilai global karet alam dunia menunjukkan&#13;
bahwa partisipasi industri karet Indonesia di pasar karet global pada tahun 2022&#13;
mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2015. Pada tahun 2015 Indonesia&#13;
berada pada peringkat 32 sedangkan pada tahun 2022 berada pada peringkat 28.&#13;
Secara keseluruhan, nilai partisipasi ke belakang (backward participation)&#13;
Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan nilai partisipasi ke depan (forward&#13;
participation). Hasil analisis menunjukkan bahwa industri karet Indonesia paling&#13;
banyak menggunakan input dari negara Cina, Jepang, Singapura, Korea, Thailand,&#13;
India, dan Malaysia. Selanjutnya, negara yang paling banyak menggunakan hasil&#13;
karet Indonesia adalah negara Amerika, Jepang, Korea, Cina, Jerman, dan India. Di&#13;
sisi lain, posisi industri karet Indonesia di pasar karet global mengalami penurunan,&#13;
yang semula berada pada kuadran II pada tahun 2015, bergeser menjadi kuadran IV&#13;
pada tahun 2022. Posisi Indonesia di kuadran IV ini menunjukkan bahwa industri&#13;
karet Indonesia memiliki keterkaitan ke depan dan ke belakang di bawah rata-rata&#13;
dunia. Penggunaan input yang kurang dari sisi backward linkage memengaruhi&#13;
kemampuan ekspor Indonesia dari sisi forward linkage sehingga baik dari sisi input&#13;
dan output mengalami pelemahan.&#13;
Hasil analisis sistem dinamik pada kondisi basis menunjukkan bahwa target&#13;
produksi karet alam sebesar 4,4 juta ton serta target volume ekspor sebesar 4,27 juta&#13;
ton pada tahun 2045 tidak tercapai. Rendahnya produktivitas, pertumbuhan&#13;
produksi yang lambat, luas areal yang terus berkurang, serta fluktuasi harga global&#13;
menjadi kendala utama dalam pengembangan rantai nilai global karet alam&#13;
Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan strategi terintegrasi untuk meningkatkan&#13;
produktivitas, keberlanjutan pasokan, dan kesejahteraan petani guna memperkuat&#13;
kinerja ekspor karet Indonesia. Upaya peningkatan kinerja rantai nilai global karet&#13;
alam Indonesia dilakukan melalui perumusan dan pengujian enam skenario&#13;
kebijakan berupa empat skenario tunggal dan dua skenario gabungan. Empat&#13;
skenario tunggal meliputi upgrading proses melalui peningkatan produktivitas dan&#13;
luas areal (skenario 1), upgrading produk melalui peningkatan mutu produk&#13;
(skenario 2), upgrading fungsi melalui peningkatan teknologi pengolahan lateks&#13;
(skenario 3), dan upgrading rantai melalui perubahan saluran rantai (skenario 4).&#13;
Hasil analisis menunjukkan bahwa skenario 6, yang mengintegrasikan seluruh&#13;
bentuk kebijakan upgrading yang dilakukan secara bersamaan, merupakan strategi&#13;
yang paling efektif dalam mendorong pengembangan rantai nilai global karet alam Indonesia. Implementasi skenario ini meliputi peningkatan produktivitas kebun,&#13;
perluasan areal tanam, perbaikan mutu bahan olah karet, adopsi teknologi&#13;
pengolahan yang lebih maju, serta optimalisasi pemilihan rantai pemasaran. Hasil&#13;
simulasi menunjukkan bahwa skenario terintegrasi tersebut mampu menghasilkan&#13;
capaian tertinggi pada indikator produksi karet alam, pendapatan petani, serta&#13;
kinerja ekspor, baik dari sisi volume maupun nilai, pada akhir periode analisis.&#13;
Dibandingkan dengan jenis upgrading lainnya, perbaikan pada aspek proses,&#13;
khususnya peningkatan produktivitas dan perluasan areal, memberikan pengaruh&#13;
yang lebih besar pada kondisi awal. Analisis sensitivitas lebih lanjut&#13;
mengindikasikan bahwa produktivitas kebun dan luas areal tanam merupakan&#13;
faktor paling menentukan dalam pencapaian target ekspor karet alam Indonesia,&#13;
yang kemudian diikuti oleh peningkatan mutu produk dan peningkatan teknologi&#13;
pengolahan.&#13;
Rumusan kebijakan untuk pengembangan rantai nilai global karet alam perlu&#13;
dilakukan secara menyeluruh di sepanjang rantai nilai, mulai dari sektor hulu&#13;
hingga sektor hilir. Hal ini tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan petani&#13;
dan pelaku usaha, tetapi juga memperkuat partisipasi dan posisi Indonesia di dalam&#13;
rantai nilai global karet alam. Kebijakan di sektor hulu meliputi peningkatan&#13;
produktivitas, perluasan areal tanam, dan perbaikan mutu bahan olah karet&#13;
merupakan strategi yang dapat diambil untuk menjamin keberlanjutan pasokan dan&#13;
daya saing karet alam di pasar global. Selanjutnya, pada sektor hilir, penguatan&#13;
kapasitas pengolahan, inovasi barang jadi karet, serta strategi pemasaran yang lebih&#13;
terintegrasi diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah dan posisi tawar karet&#13;
Indonesia di pasar global.; The development of the Indonesian natural rubber value chain is still faced&#13;
with various problems ranging from low productivity of rubber plantations, weak&#13;
bargaining position of farmers, low prices of rubber received by farmers, and the&#13;
lack of linkage between upstream and downstream sectors so that the added value&#13;
obtained is still low. Research on improving the performance of the rubber value&#13;
chain is still partial so that a study is needed that can comprehensively capture the&#13;
behavior, interactions, and dynamics within the value chain. This study aims to: (1)&#13;
map the global value chain of Indonesian natural rubber; (2) analyze the governance&#13;
of the global value chain of natural rubber in Indonesia; (3) analyze the position and&#13;
participation of the Indonesian natural rubber industry in the global value chain of&#13;
rubber; and (4) analyze the upgrading strategy of the global value chain of&#13;
Indonesian natural rubber. The novelty of this study is (a) integrating the concept&#13;
of the global value chain with a systems approach so that it can capture the&#13;
dynamics of the system holistically; (b) the analysis of the global value chain is&#13;
carried out as a whole starting from mapping actors, activities, product flows, added&#13;
value, geographic scope, and governance; (c) this study not only captures the rubber&#13;
value chain in the regional scope but also analyzes the participation and position of&#13;
the Indonesian rubber industry in the global scope; and (d) this research produces&#13;
recommendations for rubber upgrading policies which are analyzed quantitatively&#13;
using a dynamic systems approach starting from the production subsystem,&#13;
processing subsystem, and trade subsystem.&#13;
The research was conducted using survey and focus group discussion (FGD)&#13;
methods in two rubber-producing provinces in Indonesia, namely South Sumatra&#13;
and Jambi. The data used in this study include primary and secondary data. Primary&#13;
data were collected from 236 value chain actors, including 201 farmers, 8 smallscale&#13;
intermediary traders, 12 large-scale intermediary traders, 9 UPPB&#13;
administrators, and 6 factory representatives. Furthermore, secondary data were&#13;
obtained from various publications relevant to this research activity, such as&#13;
scientific publications of previous research results, statistical data, documents, and&#13;
reports, and other sources. Value chain mapping analysis was conducted using&#13;
qualitative and quantitative descriptive analysis using the M4P approach.&#13;
Governance analysis used a Likert scale based on the Gereffi approach, which&#13;
includes five types of governance: market, modular, relational, captive, and&#13;
hierarchy. Analysis of the position and participation of the Indonesian rubber&#13;
industry in the global value chain used MRIO (Multi Regional Input-Output) data&#13;
from the ADB in 2015 and 2022 from 35 countries. Furthermore, the improvement&#13;
strategy model using a dynamic systems approach was analyzed through several&#13;
research stages, including problem articulation, system identification, simulation&#13;
model formulation, model validation, sensitivity analysis, model simulation, and&#13;
policy evaluation. The dynamic systems modeling was analyzed using Powersim&#13;
Studio Academic (version 10). The research results show that the Indonesian global natural rubber value&#13;
chain consists of five main activities, namely production, post-harvest and initial&#13;
processing, marketing, further processing, and trade, involving various actors such&#13;
as small-scale farmers, UPPB/auction markets, collectors, crumb rubber factories,&#13;
exporters, and end consumers. Each actor along the chain has different value&#13;
activities that add value and differentiate natural rubber products. The natural&#13;
rubber value chain governance type is categorized as modular governance with high&#13;
information complexity, high information codification, and high supplier&#13;
capabilities. This value chain demonstrates a North-South geographic location, with&#13;
rubber producers predominantly located in the southern hemisphere and natural&#13;
rubber consumers predominantly in the northern hemisphere. The analysis of&#13;
Indonesia's participation in the global natural rubber value chain shows that the&#13;
participation of the Indonesian rubber industry in the global rubber market in 2022&#13;
has increased compared to 2015. In 2015, Indonesia was ranked 32nd, while in 2022&#13;
it was ranked 28th. Overall, Indonesia's backward participation value is higher than&#13;
its forward participation value. The analysis shows that the Indonesian rubber&#13;
industry uses the most inputs from China, Japan, Singapore, Korea, Thailand, India,&#13;
and Malaysia. In addition, the countries that use the most Indonesian rubber&#13;
products are the United States, Japan, Korea, China, Germany, and India. On the&#13;
other hand, the position of the Indonesian rubber industry in the global rubber&#13;
market has decreased, from being in quadrant II in 2015, shifting to quadrant IV in&#13;
2022. Indonesia's position in quadrant IV indicates that the Indonesian rubber&#13;
industry has forward and backward linkages below the world average. Insufficient&#13;
use of inputs from the backward linkage side effects Indonesia's export capabilities&#13;
from the forward linkage side so that both the input and output sides experience&#13;
weakness.&#13;
A dynamic system analysis under baseline conditions indicates that the&#13;
natural rubber production target of 4.4 million tons and the export volume target of&#13;
4.27 million tons by 2045 will not be achieved. Low productivity, slow production&#13;
growth, continuously decreasing planted area, and global price fluctuations are the&#13;
main obstacles in the development of the Indonesian natural rubber global value&#13;
chain. Therefore, an integrated strategy is needed to increase productivity, supply&#13;
sustainability, and farmer welfare to strengthen Indonesia's rubber export&#13;
performance. Efforts to improve the performance of the Indonesian natural rubber&#13;
global value chain are carried out through the formulation and testing of six policy&#13;
scenarios: four single scenarios and two combined scenarios. The four single&#13;
scenarios include process upgrading through increased productivity and area&#13;
(scenario 1), product upgrading through improved product quality (scenario 2),&#13;
functional upgrading through improved latex processing technology (scenario 3),&#13;
and chain upgrading through changes in chain channels (scenario 4). The analysis&#13;
results indicate that scenario 6, which integrates all forms of upgrading policies&#13;
implemented simultaneously, is the most effective strategy in encouraging the&#13;
development of the Indonesian natural rubber global value chain. The&#13;
implementation of this scenario includes increasing plantation productivity,&#13;
expanding planted areas, improving the quality of rubber raw materials, adopting&#13;
more advanced processing technologies, and optimizing the marketing chain.&#13;
Simulation results indicate that this integrated scenario is capable of producing the&#13;
highest achievements in natural rubber production indicators, farmer income, and export performance, both in terms of volume and value, at the end of the analysis&#13;
period. Compared with other types of upgrading, improvements in process aspects,&#13;
particularly productivity increases and area expansion, have a greater impact on&#13;
initial conditions. Further sensitivity analysis indicates that plantation productivity&#13;
and planted area are the most determining factors in achieving Indonesia's natural&#13;
rubber export target, followed by improvements in product quality and the&#13;
improvement of processing technology.&#13;
Policy formulation for the development of the global natural rubber value&#13;
chain needs to be comprehensive, spanning the entire value chain, from upstream&#13;
to downstream. This not only has the potential to increase the income of farmers&#13;
and business actors but also strengthen Indonesia's participation and position within&#13;
the global natural rubber value chain. Upstream policies, including increasing&#13;
productivity, expanding planting areas, and improving the quality of processed&#13;
rubber materials, are strategies that can be adopted to ensure the sustainability of&#13;
natural rubber supply and competitiveness in the global market. Furthermore, in the&#13;
downstream sector, strengthening processing capacity, innovation in finished&#13;
rubber products, and a more integrated marketing strategy are needed to increase&#13;
the added value and bargaining position of Indonesian rubber in the global market.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172884</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Model Pengembangan Rantai Nilai Global Karet Alam Indonesia: Pendekatan Sistem Dinamik</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172883</link>
<description>Model Pengembangan Rantai Nilai Global Karet Alam Indonesia: Pendekatan Sistem Dinamik
AGUSTINA, DWI SHINTA
Pengembangan rantai nilai karet alam Indonesia masih dihadapkan pada&#13;
berbagai permasalahan mulai dari rendahnya produktivitas kebun karet, posisi&#13;
tawar petani yang lemah, rendahnya harga karet yang diterima petani, serta&#13;
kurangnya keterkaitan sektor hulu dan sektor hilir sehingga nilai tambah yang&#13;
diperoleh masih rendah. Penelitian mengenai peningkatan kinerja rantai nilai karet&#13;
pada umumnya dianalisis secara deskriptif, bersifat parsial, dan hanya mencakup&#13;
pada satu waktu tertentu yang biasanya bersifat statis sehingga belum mampu&#13;
menjelaskan dinamika jangka panjang di dalam rantai nilai global karet alam. Oleh&#13;
sebab itu, diperlukan suatu studi yang dapat memotret perilaku, interaksi, dan&#13;
dinamika di dalam rantai nilai secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk:&#13;
(1) memetakan (mapping) rantai nilai global karet alam Indonesia; (2) menganalisis&#13;
tata kelola (governance) rantai nilai global karet alam di Indonesia; (3)&#13;
menganalisis posisi dan partisipasi industri karet alam Indonesia dalam rantai nilai&#13;
global karet; dan (4) menganalisis strategi upgrading rantai nilai global karet alam&#13;
Indonesia. Kebaruan dari penelitian yaitu (a) mengintegrasikan konsep rantai nilai&#13;
global dengan pendekatan sistem sehingga dapat memotret dinamika sistem secara&#13;
holistik; (b) analisis rantai nilai global dilakukan secara keseluruhan mulai dari&#13;
pemetaan aktor, aktivitas, aliran produk, nilai tambah, cakupan geografis, dan tata&#13;
kelola; (c) penelitian ini tidak hanya memotret rantai nilai karet dalam lingkup&#13;
regional tetapi juga menganalisis partisipasi dan posisi industri karet Indonesia&#13;
dalam cakupan global; serta (d) penelitian ini menghasilkan rekomendasi kebijakan&#13;
upgrading karet yang dianalisis secara kuantitatif menggunakan pendekatan sistem&#13;
dinamik mulai dari subsistem produksi, subsistem pengolahan, dan subsistem&#13;
perdagangan.&#13;
Penelitian dilakukan dengan metode survei dan focus group discussion (FGD)&#13;
di dua provinsi sentra karet di Indonesia yaitu Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi.&#13;
Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer&#13;
dikumpulkan dari 236 aktor rantai nilai yang meliputi 201 orang petani, 8 orang&#13;
pedagang perantara skala kecil, 12 orang pedagang perantara skala besar, 9 orang&#13;
pengurus Unit Pengolahan dan Pemasaran Bahan Olah Karet (UPPB), dan 6 orang&#13;
perwakilan pabrik. Selanjutnya, data sekunder diperoleh dari berbagai publikasi&#13;
yang relevan dengan kegiatan penelitian ini seperti publikasi ilmiah hasil penelitian&#13;
terdahulu, data statistik, dokumen, dan laporan serta sumber lainnya. Analisis&#13;
pemetaan rantai nilai dilakukan dengan analisis deskriptif secara kualitatif dan&#13;
kuantitatif menggunakan pendekatan making market work better for the poor&#13;
(M4P). Analisis tata kelola menggunakan skala Likert berdasarkan pendekatan&#13;
Gereffi yang mencakup lima tipe tata kelola yaitu market, modular, relational,&#13;
captive, dan hierarchy. Analisis posisi dan partisipasi industri karet Indonesia dalam&#13;
rantai nilai global menggunakan data MRIO (Multi Regional Input-Output) dari&#13;
ADB (Asian Development Bank) tahun 2015 dan 2022 dari 35 negara. Selanjutnya,&#13;
model strategi peningkatan menggunakan pendekatan sistem dinamik dianalisis&#13;
melalui beberapa tahapan penelitian termasuk artikulasi masalah, identifikasi sistem, perumusan model simulasi, validasi model, analisis sensitivitas, simulasi&#13;
model serta evaluasi kebijakan. Pemodelan sistem dinamik dianalisis menggunakan&#13;
Powersim Studio Academic (versi 10).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rantai nilai global karet alam Indonesia&#13;
terdiri dari lima aktivitas utama yaitu produksi, pasca panen dan pengolahan awal,&#13;
pemasaran, pengolahan lanjutan, dan perdagangan yang melibatkan beragam aktor&#13;
seperti petani skala kecil, UPPB/pasar lelang, pengumpul, pabrik karet remah,&#13;
eksportir, dan konsumen akhir. Setiap pelaku di sepanjang rantai nilai memiliki&#13;
aktivitas yang berbeda yang memberikan nilai tambah dan membedakan produk&#13;
karet alam. Tipe tata kelola rantai nilai karet alam dikategorikan sebagai tata kelola&#13;
modular dengan kompleksitas informasi tinggi, kodifikasi informasi tinggi, dan&#13;
kapabilitas pemasok tinggi. Rantai nilai ini menunjukkan cakupan geografis North-&#13;
South, yaitu produsen karet sebagian besar berada di bumi bagian selatan dan&#13;
konsumen karet alam sebagian besar berada di bumi bagian utara. Hasil analisis&#13;
partisipasi Indonesia di dalam rantai nilai global karet alam dunia menunjukkan&#13;
bahwa partisipasi industri karet Indonesia di pasar karet global pada tahun 2022&#13;
mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2015. Pada tahun 2015 Indonesia&#13;
berada pada peringkat 32 sedangkan pada tahun 2022 berada pada peringkat 28.&#13;
Secara keseluruhan, nilai partisipasi ke belakang (backward participation)&#13;
Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan nilai partisipasi ke depan (forward&#13;
participation). Hasil analisis menunjukkan bahwa industri karet Indonesia paling&#13;
banyak menggunakan input dari negara Cina, Jepang, Singapura, Korea, Thailand,&#13;
India, dan Malaysia. Selanjutnya, negara yang paling banyak menggunakan hasil&#13;
karet Indonesia adalah negara Amerika, Jepang, Korea, Cina, Jerman, dan India. Di&#13;
sisi lain, posisi industri karet Indonesia di pasar karet global mengalami penurunan,&#13;
yang semula berada pada kuadran II pada tahun 2015, bergeser menjadi kuadran IV&#13;
pada tahun 2022. Posisi Indonesia di kuadran IV ini menunjukkan bahwa industri&#13;
karet Indonesia memiliki keterkaitan ke depan dan ke belakang di bawah rata-rata&#13;
dunia. Penggunaan input yang kurang dari sisi backward linkage memengaruhi&#13;
kemampuan ekspor Indonesia dari sisi forward linkage sehingga baik dari sisi input&#13;
dan output mengalami pelemahan.&#13;
Hasil analisis sistem dinamik pada kondisi basis menunjukkan bahwa target&#13;
produksi karet alam sebesar 4,4 juta ton serta target volume ekspor sebesar 4,27 juta&#13;
ton pada tahun 2045 tidak tercapai. Rendahnya produktivitas, pertumbuhan&#13;
produksi yang lambat, luas areal yang terus berkurang, serta fluktuasi harga global&#13;
menjadi kendala utama dalam pengembangan rantai nilai global karet alam&#13;
Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan strategi terintegrasi untuk meningkatkan&#13;
produktivitas, keberlanjutan pasokan, dan kesejahteraan petani guna memperkuat&#13;
kinerja ekspor karet Indonesia. Upaya peningkatan kinerja rantai nilai global karet&#13;
alam Indonesia dilakukan melalui perumusan dan pengujian enam skenario&#13;
kebijakan berupa empat skenario tunggal dan dua skenario gabungan. Empat&#13;
skenario tunggal meliputi upgrading proses melalui peningkatan produktivitas dan&#13;
luas areal (skenario 1), upgrading produk melalui peningkatan mutu produk&#13;
(skenario 2), upgrading fungsi melalui peningkatan teknologi pengolahan lateks&#13;
(skenario 3), dan upgrading rantai melalui perubahan saluran rantai (skenario 4).&#13;
Hasil analisis menunjukkan bahwa skenario 6, yang mengintegrasikan seluruh&#13;
bentuk kebijakan upgrading yang dilakukan secara bersamaan, merupakan strategi&#13;
yang paling efektif dalam mendorong pengembangan rantai nilai global karet alam Indonesia. Implementasi skenario ini meliputi peningkatan produktivitas kebun,&#13;
perluasan areal tanam, perbaikan mutu bahan olah karet, adopsi teknologi&#13;
pengolahan yang lebih maju, serta optimalisasi pemilihan rantai pemasaran. Hasil&#13;
simulasi menunjukkan bahwa skenario terintegrasi tersebut mampu menghasilkan&#13;
capaian tertinggi pada indikator produksi karet alam, pendapatan petani, serta&#13;
kinerja ekspor, baik dari sisi volume maupun nilai, pada akhir periode analisis.&#13;
Dibandingkan dengan jenis upgrading lainnya, perbaikan pada aspek proses,&#13;
khususnya peningkatan produktivitas dan perluasan areal, memberikan pengaruh&#13;
yang lebih besar pada kondisi awal. Analisis sensitivitas lebih lanjut&#13;
mengindikasikan bahwa produktivitas kebun dan luas areal tanam merupakan&#13;
faktor paling menentukan dalam pencapaian target ekspor karet alam Indonesia,&#13;
yang kemudian diikuti oleh peningkatan mutu produk dan peningkatan teknologi&#13;
pengolahan.&#13;
Rumusan kebijakan untuk pengembangan rantai nilai global karet alam perlu&#13;
dilakukan secara menyeluruh di sepanjang rantai nilai, mulai dari sektor hulu&#13;
hingga sektor hilir. Hal ini tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan petani&#13;
dan pelaku usaha, tetapi juga memperkuat partisipasi dan posisi Indonesia di dalam&#13;
rantai nilai global karet alam. Kebijakan di sektor hulu meliputi peningkatan&#13;
produktivitas, perluasan areal tanam, dan perbaikan mutu bahan olah karet&#13;
merupakan strategi yang dapat diambil untuk menjamin keberlanjutan pasokan dan&#13;
daya saing karet alam di pasar global. Selanjutnya, pada sektor hilir, penguatan&#13;
kapasitas pengolahan, inovasi barang jadi karet, serta strategi pemasaran yang lebih&#13;
terintegrasi diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah dan posisi tawar karet&#13;
Indonesia di pasar global.; The development of the Indonesian natural rubber value chain is still faced&#13;
with various problems ranging from low productivity of rubber plantations, weak&#13;
bargaining position of farmers, low prices of rubber received by farmers, and the&#13;
lack of linkage between upstream and downstream sectors so that the added value&#13;
obtained is still low. Research on improving the performance of the rubber value&#13;
chain is still partial so that a study is needed that can comprehensively capture the&#13;
behavior, interactions, and dynamics within the value chain. This study aims to: (1)&#13;
map the global value chain of Indonesian natural rubber; (2) analyze the governance&#13;
of the global value chain of natural rubber in Indonesia; (3) analyze the position and&#13;
participation of the Indonesian natural rubber industry in the global value chain of&#13;
rubber; and (4) analyze the upgrading strategy of the global value chain of&#13;
Indonesian natural rubber. The novelty of this study is (a) integrating the concept&#13;
of the global value chain with a systems approach so that it can capture the&#13;
dynamics of the system holistically; (b) the analysis of the global value chain is&#13;
carried out as a whole starting from mapping actors, activities, product flows, added&#13;
value, geographic scope, and governance; (c) this study not only captures the rubber&#13;
value chain in the regional scope but also analyzes the participation and position of&#13;
the Indonesian rubber industry in the global scope; and (d) this research produces&#13;
recommendations for rubber upgrading policies which are analyzed quantitatively&#13;
using a dynamic systems approach starting from the production subsystem,&#13;
processing subsystem, and trade subsystem.&#13;
The research was conducted using survey and focus group discussion (FGD)&#13;
methods in two rubber-producing provinces in Indonesia, namely South Sumatra&#13;
and Jambi. The data used in this study include primary and secondary data. Primary&#13;
data were collected from 236 value chain actors, including 201 farmers, 8 smallscale&#13;
intermediary traders, 12 large-scale intermediary traders, 9 UPPB&#13;
administrators, and 6 factory representatives. Furthermore, secondary data were&#13;
obtained from various publications relevant to this research activity, such as&#13;
scientific publications of previous research results, statistical data, documents, and&#13;
reports, and other sources. Value chain mapping analysis was conducted using&#13;
qualitative and quantitative descriptive analysis using the M4P approach.&#13;
Governance analysis used a Likert scale based on the Gereffi approach, which&#13;
includes five types of governance: market, modular, relational, captive, and&#13;
hierarchy. Analysis of the position and participation of the Indonesian rubber&#13;
industry in the global value chain used MRIO (Multi Regional Input-Output) data&#13;
from the ADB in 2015 and 2022 from 35 countries. Furthermore, the improvement&#13;
strategy model using a dynamic systems approach was analyzed through several&#13;
research stages, including problem articulation, system identification, simulation&#13;
model formulation, model validation, sensitivity analysis, model simulation, and&#13;
policy evaluation. The dynamic systems modeling was analyzed using Powersim&#13;
Studio Academic (version 10). The research results show that the Indonesian global natural rubber value&#13;
chain consists of five main activities, namely production, post-harvest and initial&#13;
processing, marketing, further processing, and trade, involving various actors such&#13;
as small-scale farmers, UPPB/auction markets, collectors, crumb rubber factories,&#13;
exporters, and end consumers. Each actor along the chain has different value&#13;
activities that add value and differentiate natural rubber products. The natural&#13;
rubber value chain governance type is categorized as modular governance with high&#13;
information complexity, high information codification, and high supplier&#13;
capabilities. This value chain demonstrates a North-South geographic location, with&#13;
rubber producers predominantly located in the southern hemisphere and natural&#13;
rubber consumers predominantly in the northern hemisphere. The analysis of&#13;
Indonesia's participation in the global natural rubber value chain shows that the&#13;
participation of the Indonesian rubber industry in the global rubber market in 2022&#13;
has increased compared to 2015. In 2015, Indonesia was ranked 32nd, while in 2022&#13;
it was ranked 28th. Overall, Indonesia's backward participation value is higher than&#13;
its forward participation value. The analysis shows that the Indonesian rubber&#13;
industry uses the most inputs from China, Japan, Singapore, Korea, Thailand, India,&#13;
and Malaysia. In addition, the countries that use the most Indonesian rubber&#13;
products are the United States, Japan, Korea, China, Germany, and India. On the&#13;
other hand, the position of the Indonesian rubber industry in the global rubber&#13;
market has decreased, from being in quadrant II in 2015, shifting to quadrant IV in&#13;
2022. Indonesia's position in quadrant IV indicates that the Indonesian rubber&#13;
industry has forward and backward linkages below the world average. Insufficient&#13;
use of inputs from the backward linkage side effects Indonesia's export capabilities&#13;
from the forward linkage side so that both the input and output sides experience&#13;
weakness.&#13;
A dynamic system analysis under baseline conditions indicates that the&#13;
natural rubber production target of 4.4 million tons and the export volume target of&#13;
4.27 million tons by 2045 will not be achieved. Low productivity, slow production&#13;
growth, continuously decreasing planted area, and global price fluctuations are the&#13;
main obstacles in the development of the Indonesian natural rubber global value&#13;
chain. Therefore, an integrated strategy is needed to increase productivity, supply&#13;
sustainability, and farmer welfare to strengthen Indonesia's rubber export&#13;
performance. Efforts to improve the performance of the Indonesian natural rubber&#13;
global value chain are carried out through the formulation and testing of six policy&#13;
scenarios: four single scenarios and two combined scenarios. The four single&#13;
scenarios include process upgrading through increased productivity and area&#13;
(scenario 1), product upgrading through improved product quality (scenario 2),&#13;
functional upgrading through improved latex processing technology (scenario 3),&#13;
and chain upgrading through changes in chain channels (scenario 4). The analysis&#13;
results indicate that scenario 6, which integrates all forms of upgrading policies&#13;
implemented simultaneously, is the most effective strategy in encouraging the&#13;
development of the Indonesian natural rubber global value chain. The&#13;
implementation of this scenario includes increasing plantation productivity,&#13;
expanding planted areas, improving the quality of rubber raw materials, adopting&#13;
more advanced processing technologies, and optimizing the marketing chain.&#13;
Simulation results indicate that this integrated scenario is capable of producing the&#13;
highest achievements in natural rubber production indicators, farmer income, and export performance, both in terms of volume and value, at the end of the analysis&#13;
period. Compared with other types of upgrading, improvements in process aspects,&#13;
particularly productivity increases and area expansion, have a greater impact on&#13;
initial conditions. Further sensitivity analysis indicates that plantation productivity&#13;
and planted area are the most determining factors in achieving Indonesia's natural&#13;
rubber export target, followed by improvements in product quality and the&#13;
improvement of processing technology.&#13;
Policy formulation for the development of the global natural rubber value&#13;
chain needs to be comprehensive, spanning the entire value chain, from upstream&#13;
to downstream. This not only has the potential to increase the income of farmers&#13;
and business actors but also strengthen Indonesia's participation and position within&#13;
the global natural rubber value chain. Upstream policies, including increasing&#13;
productivity, expanding planting areas, and improving the quality of processed&#13;
rubber materials, are strategies that can be adopted to ensure the sustainability of&#13;
natural rubber supply and competitiveness in the global market. Furthermore, in the&#13;
downstream sector, strengthening processing capacity, innovation in finished&#13;
rubber products, and a more integrated marketing strategy are needed to increase&#13;
the added value and bargaining position of Indonesian rubber in the global market.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172883</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Model Pengembangan Rantai Nilai Global Karet Alam Indonesia: Pendekatan Sistem Dinamik</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172881</link>
<description>Model Pengembangan Rantai Nilai Global Karet Alam Indonesia: Pendekatan Sistem Dinamik
AGUSTINA, DWI SHINTA
Pengembangan rantai nilai karet alam Indonesia masih dihadapkan pada&#13;
berbagai permasalahan mulai dari rendahnya produktivitas kebun karet, posisi&#13;
tawar petani yang lemah, rendahnya harga karet yang diterima petani, serta&#13;
kurangnya keterkaitan sektor hulu dan sektor hilir sehingga nilai tambah yang&#13;
diperoleh masih rendah. Penelitian mengenai peningkatan kinerja rantai nilai karet&#13;
pada umumnya dianalisis secara deskriptif, bersifat parsial, dan hanya mencakup&#13;
pada satu waktu tertentu yang biasanya bersifat statis sehingga belum mampu&#13;
menjelaskan dinamika jangka panjang di dalam rantai nilai global karet alam. Oleh&#13;
sebab itu, diperlukan suatu studi yang dapat memotret perilaku, interaksi, dan&#13;
dinamika di dalam rantai nilai secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk:&#13;
(1) memetakan (mapping) rantai nilai global karet alam Indonesia; (2) menganalisis&#13;
tata kelola (governance) rantai nilai global karet alam di Indonesia; (3)&#13;
menganalisis posisi dan partisipasi industri karet alam Indonesia dalam rantai nilai&#13;
global karet; dan (4) menganalisis strategi upgrading rantai nilai global karet alam&#13;
Indonesia. Kebaruan dari penelitian yaitu (a) mengintegrasikan konsep rantai nilai&#13;
global dengan pendekatan sistem sehingga dapat memotret dinamika sistem secara&#13;
holistik; (b) analisis rantai nilai global dilakukan secara keseluruhan mulai dari&#13;
pemetaan aktor, aktivitas, aliran produk, nilai tambah, cakupan geografis, dan tata&#13;
kelola; (c) penelitian ini tidak hanya memotret rantai nilai karet dalam lingkup&#13;
regional tetapi juga menganalisis partisipasi dan posisi industri karet Indonesia&#13;
dalam cakupan global; serta (d) penelitian ini menghasilkan rekomendasi kebijakan&#13;
upgrading karet yang dianalisis secara kuantitatif menggunakan pendekatan sistem&#13;
dinamik mulai dari subsistem produksi, subsistem pengolahan, dan subsistem&#13;
perdagangan.&#13;
Penelitian dilakukan dengan metode survei dan focus group discussion (FGD)&#13;
di dua provinsi sentra karet di Indonesia yaitu Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi.&#13;
Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer&#13;
dikumpulkan dari 236 aktor rantai nilai yang meliputi 201 orang petani, 8 orang&#13;
pedagang perantara skala kecil, 12 orang pedagang perantara skala besar, 9 orang&#13;
pengurus Unit Pengolahan dan Pemasaran Bahan Olah Karet (UPPB), dan 6 orang&#13;
perwakilan pabrik. Selanjutnya, data sekunder diperoleh dari berbagai publikasi&#13;
yang relevan dengan kegiatan penelitian ini seperti publikasi ilmiah hasil penelitian&#13;
terdahulu, data statistik, dokumen, dan laporan serta sumber lainnya. Analisis&#13;
pemetaan rantai nilai dilakukan dengan analisis deskriptif secara kualitatif dan&#13;
kuantitatif menggunakan pendekatan making market work better for the poor&#13;
(M4P). Analisis tata kelola menggunakan skala Likert berdasarkan pendekatan&#13;
Gereffi yang mencakup lima tipe tata kelola yaitu market, modular, relational,&#13;
captive, dan hierarchy. Analisis posisi dan partisipasi industri karet Indonesia dalam&#13;
rantai nilai global menggunakan data MRIO (Multi Regional Input-Output) dari&#13;
ADB (Asian Development Bank) tahun 2015 dan 2022 dari 35 negara. Selanjutnya,&#13;
model strategi peningkatan menggunakan pendekatan sistem dinamik dianalisis&#13;
melalui beberapa tahapan penelitian termasuk artikulasi masalah, identifikasi sistem, perumusan model simulasi, validasi model, analisis sensitivitas, simulasi&#13;
model serta evaluasi kebijakan. Pemodelan sistem dinamik dianalisis menggunakan&#13;
Powersim Studio Academic (versi 10).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rantai nilai global karet alam Indonesia&#13;
terdiri dari lima aktivitas utama yaitu produksi, pasca panen dan pengolahan awal,&#13;
pemasaran, pengolahan lanjutan, dan perdagangan yang melibatkan beragam aktor&#13;
seperti petani skala kecil, UPPB/pasar lelang, pengumpul, pabrik karet remah,&#13;
eksportir, dan konsumen akhir. Setiap pelaku di sepanjang rantai nilai memiliki&#13;
aktivitas yang berbeda yang memberikan nilai tambah dan membedakan produk&#13;
karet alam. Tipe tata kelola rantai nilai karet alam dikategorikan sebagai tata kelola&#13;
modular dengan kompleksitas informasi tinggi, kodifikasi informasi tinggi, dan&#13;
kapabilitas pemasok tinggi. Rantai nilai ini menunjukkan cakupan geografis North-&#13;
South, yaitu produsen karet sebagian besar berada di bumi bagian selatan dan&#13;
konsumen karet alam sebagian besar berada di bumi bagian utara. Hasil analisis&#13;
partisipasi Indonesia di dalam rantai nilai global karet alam dunia menunjukkan&#13;
bahwa partisipasi industri karet Indonesia di pasar karet global pada tahun 2022&#13;
mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2015. Pada tahun 2015 Indonesia&#13;
berada pada peringkat 32 sedangkan pada tahun 2022 berada pada peringkat 28.&#13;
Secara keseluruhan, nilai partisipasi ke belakang (backward participation)&#13;
Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan nilai partisipasi ke depan (forward&#13;
participation). Hasil analisis menunjukkan bahwa industri karet Indonesia paling&#13;
banyak menggunakan input dari negara Cina, Jepang, Singapura, Korea, Thailand,&#13;
India, dan Malaysia. Selanjutnya, negara yang paling banyak menggunakan hasil&#13;
karet Indonesia adalah negara Amerika, Jepang, Korea, Cina, Jerman, dan India. Di&#13;
sisi lain, posisi industri karet Indonesia di pasar karet global mengalami penurunan,&#13;
yang semula berada pada kuadran II pada tahun 2015, bergeser menjadi kuadran IV&#13;
pada tahun 2022. Posisi Indonesia di kuadran IV ini menunjukkan bahwa industri&#13;
karet Indonesia memiliki keterkaitan ke depan dan ke belakang di bawah rata-rata&#13;
dunia. Penggunaan input yang kurang dari sisi backward linkage memengaruhi&#13;
kemampuan ekspor Indonesia dari sisi forward linkage sehingga baik dari sisi input&#13;
dan output mengalami pelemahan.&#13;
Hasil analisis sistem dinamik pada kondisi basis menunjukkan bahwa target&#13;
produksi karet alam sebesar 4,4 juta ton serta target volume ekspor sebesar 4,27 juta&#13;
ton pada tahun 2045 tidak tercapai. Rendahnya produktivitas, pertumbuhan&#13;
produksi yang lambat, luas areal yang terus berkurang, serta fluktuasi harga global&#13;
menjadi kendala utama dalam pengembangan rantai nilai global karet alam&#13;
Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan strategi terintegrasi untuk meningkatkan&#13;
produktivitas, keberlanjutan pasokan, dan kesejahteraan petani guna memperkuat&#13;
kinerja ekspor karet Indonesia. Upaya peningkatan kinerja rantai nilai global karet&#13;
alam Indonesia dilakukan melalui perumusan dan pengujian enam skenario&#13;
kebijakan berupa empat skenario tunggal dan dua skenario gabungan. Empat&#13;
skenario tunggal meliputi upgrading proses melalui peningkatan produktivitas dan&#13;
luas areal (skenario 1), upgrading produk melalui peningkatan mutu produk&#13;
(skenario 2), upgrading fungsi melalui peningkatan teknologi pengolahan lateks&#13;
(skenario 3), dan upgrading rantai melalui perubahan saluran rantai (skenario 4).&#13;
Hasil analisis menunjukkan bahwa skenario 6, yang mengintegrasikan seluruh&#13;
bentuk kebijakan upgrading yang dilakukan secara bersamaan, merupakan strategi&#13;
yang paling efektif dalam mendorong pengembangan rantai nilai global karet alam Indonesia. Implementasi skenario ini meliputi peningkatan produktivitas kebun,&#13;
perluasan areal tanam, perbaikan mutu bahan olah karet, adopsi teknologi&#13;
pengolahan yang lebih maju, serta optimalisasi pemilihan rantai pemasaran. Hasil&#13;
simulasi menunjukkan bahwa skenario terintegrasi tersebut mampu menghasilkan&#13;
capaian tertinggi pada indikator produksi karet alam, pendapatan petani, serta&#13;
kinerja ekspor, baik dari sisi volume maupun nilai, pada akhir periode analisis.&#13;
Dibandingkan dengan jenis upgrading lainnya, perbaikan pada aspek proses,&#13;
khususnya peningkatan produktivitas dan perluasan areal, memberikan pengaruh&#13;
yang lebih besar pada kondisi awal. Analisis sensitivitas lebih lanjut&#13;
mengindikasikan bahwa produktivitas kebun dan luas areal tanam merupakan&#13;
faktor paling menentukan dalam pencapaian target ekspor karet alam Indonesia,&#13;
yang kemudian diikuti oleh peningkatan mutu produk dan peningkatan teknologi&#13;
pengolahan.&#13;
Rumusan kebijakan untuk pengembangan rantai nilai global karet alam perlu&#13;
dilakukan secara menyeluruh di sepanjang rantai nilai, mulai dari sektor hulu&#13;
hingga sektor hilir. Hal ini tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan petani&#13;
dan pelaku usaha, tetapi juga memperkuat partisipasi dan posisi Indonesia di dalam&#13;
rantai nilai global karet alam. Kebijakan di sektor hulu meliputi peningkatan&#13;
produktivitas, perluasan areal tanam, dan perbaikan mutu bahan olah karet&#13;
merupakan strategi yang dapat diambil untuk menjamin keberlanjutan pasokan dan&#13;
daya saing karet alam di pasar global. Selanjutnya, pada sektor hilir, penguatan&#13;
kapasitas pengolahan, inovasi barang jadi karet, serta strategi pemasaran yang lebih&#13;
terintegrasi diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah dan posisi tawar karet&#13;
Indonesia di pasar global.; The development of the Indonesian natural rubber value chain is still faced&#13;
with various problems ranging from low productivity of rubber plantations, weak&#13;
bargaining position of farmers, low prices of rubber received by farmers, and the&#13;
lack of linkage between upstream and downstream sectors so that the added value&#13;
obtained is still low. Research on improving the performance of the rubber value&#13;
chain is still partial so that a study is needed that can comprehensively capture the&#13;
behavior, interactions, and dynamics within the value chain. This study aims to: (1)&#13;
map the global value chain of Indonesian natural rubber; (2) analyze the governance&#13;
of the global value chain of natural rubber in Indonesia; (3) analyze the position and&#13;
participation of the Indonesian natural rubber industry in the global value chain of&#13;
rubber; and (4) analyze the upgrading strategy of the global value chain of&#13;
Indonesian natural rubber. The novelty of this study is (a) integrating the concept&#13;
of the global value chain with a systems approach so that it can capture the&#13;
dynamics of the system holistically; (b) the analysis of the global value chain is&#13;
carried out as a whole starting from mapping actors, activities, product flows, added&#13;
value, geographic scope, and governance; (c) this study not only captures the rubber&#13;
value chain in the regional scope but also analyzes the participation and position of&#13;
the Indonesian rubber industry in the global scope; and (d) this research produces&#13;
recommendations for rubber upgrading policies which are analyzed quantitatively&#13;
using a dynamic systems approach starting from the production subsystem,&#13;
processing subsystem, and trade subsystem.&#13;
The research was conducted using survey and focus group discussion (FGD)&#13;
methods in two rubber-producing provinces in Indonesia, namely South Sumatra&#13;
and Jambi. The data used in this study include primary and secondary data. Primary&#13;
data were collected from 236 value chain actors, including 201 farmers, 8 smallscale&#13;
intermediary traders, 12 large-scale intermediary traders, 9 UPPB&#13;
administrators, and 6 factory representatives. Furthermore, secondary data were&#13;
obtained from various publications relevant to this research activity, such as&#13;
scientific publications of previous research results, statistical data, documents, and&#13;
reports, and other sources. Value chain mapping analysis was conducted using&#13;
qualitative and quantitative descriptive analysis using the M4P approach.&#13;
Governance analysis used a Likert scale based on the Gereffi approach, which&#13;
includes five types of governance: market, modular, relational, captive, and&#13;
hierarchy. Analysis of the position and participation of the Indonesian rubber&#13;
industry in the global value chain used MRIO (Multi Regional Input-Output) data&#13;
from the ADB in 2015 and 2022 from 35 countries. Furthermore, the improvement&#13;
strategy model using a dynamic systems approach was analyzed through several&#13;
research stages, including problem articulation, system identification, simulation&#13;
model formulation, model validation, sensitivity analysis, model simulation, and&#13;
policy evaluation. The dynamic systems modeling was analyzed using Powersim&#13;
Studio Academic (version 10). The research results show that the Indonesian global natural rubber value&#13;
chain consists of five main activities, namely production, post-harvest and initial&#13;
processing, marketing, further processing, and trade, involving various actors such&#13;
as small-scale farmers, UPPB/auction markets, collectors, crumb rubber factories,&#13;
exporters, and end consumers. Each actor along the chain has different value&#13;
activities that add value and differentiate natural rubber products. The natural&#13;
rubber value chain governance type is categorized as modular governance with high&#13;
information complexity, high information codification, and high supplier&#13;
capabilities. This value chain demonstrates a North-South geographic location, with&#13;
rubber producers predominantly located in the southern hemisphere and natural&#13;
rubber consumers predominantly in the northern hemisphere. The analysis of&#13;
Indonesia's participation in the global natural rubber value chain shows that the&#13;
participation of the Indonesian rubber industry in the global rubber market in 2022&#13;
has increased compared to 2015. In 2015, Indonesia was ranked 32nd, while in 2022&#13;
it was ranked 28th. Overall, Indonesia's backward participation value is higher than&#13;
its forward participation value. The analysis shows that the Indonesian rubber&#13;
industry uses the most inputs from China, Japan, Singapore, Korea, Thailand, India,&#13;
and Malaysia. In addition, the countries that use the most Indonesian rubber&#13;
products are the United States, Japan, Korea, China, Germany, and India. On the&#13;
other hand, the position of the Indonesian rubber industry in the global rubber&#13;
market has decreased, from being in quadrant II in 2015, shifting to quadrant IV in&#13;
2022. Indonesia's position in quadrant IV indicates that the Indonesian rubber&#13;
industry has forward and backward linkages below the world average. Insufficient&#13;
use of inputs from the backward linkage side effects Indonesia's export capabilities&#13;
from the forward linkage side so that both the input and output sides experience&#13;
weakness.&#13;
A dynamic system analysis under baseline conditions indicates that the&#13;
natural rubber production target of 4.4 million tons and the export volume target of&#13;
4.27 million tons by 2045 will not be achieved. Low productivity, slow production&#13;
growth, continuously decreasing planted area, and global price fluctuations are the&#13;
main obstacles in the development of the Indonesian natural rubber global value&#13;
chain. Therefore, an integrated strategy is needed to increase productivity, supply&#13;
sustainability, and farmer welfare to strengthen Indonesia's rubber export&#13;
performance. Efforts to improve the performance of the Indonesian natural rubber&#13;
global value chain are carried out through the formulation and testing of six policy&#13;
scenarios: four single scenarios and two combined scenarios. The four single&#13;
scenarios include process upgrading through increased productivity and area&#13;
(scenario 1), product upgrading through improved product quality (scenario 2),&#13;
functional upgrading through improved latex processing technology (scenario 3),&#13;
and chain upgrading through changes in chain channels (scenario 4). The analysis&#13;
results indicate that scenario 6, which integrates all forms of upgrading policies&#13;
implemented simultaneously, is the most effective strategy in encouraging the&#13;
development of the Indonesian natural rubber global value chain. The&#13;
implementation of this scenario includes increasing plantation productivity,&#13;
expanding planted areas, improving the quality of rubber raw materials, adopting&#13;
more advanced processing technologies, and optimizing the marketing chain.&#13;
Simulation results indicate that this integrated scenario is capable of producing the&#13;
highest achievements in natural rubber production indicators, farmer income, and export performance, both in terms of volume and value, at the end of the analysis&#13;
period. Compared with other types of upgrading, improvements in process aspects,&#13;
particularly productivity increases and area expansion, have a greater impact on&#13;
initial conditions. Further sensitivity analysis indicates that plantation productivity&#13;
and planted area are the most determining factors in achieving Indonesia's natural&#13;
rubber export target, followed by improvements in product quality and the&#13;
improvement of processing technology.&#13;
Policy formulation for the development of the global natural rubber value&#13;
chain needs to be comprehensive, spanning the entire value chain, from upstream&#13;
to downstream. This not only has the potential to increase the income of farmers&#13;
and business actors but also strengthen Indonesia's participation and position within&#13;
the global natural rubber value chain. Upstream policies, including increasing&#13;
productivity, expanding planting areas, and improving the quality of processed&#13;
rubber materials, are strategies that can be adopted to ensure the sustainability of&#13;
natural rubber supply and competitiveness in the global market. Furthermore, in the&#13;
downstream sector, strengthening processing capacity, innovation in finished&#13;
rubber products, and a more integrated marketing strategy are needed to increase&#13;
the added value and bargaining position of Indonesian rubber in the global market.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172881</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Model Pengembangan Rantai Nilai Global Karet Alam Indonesia: Pendekatan Sistem Dinamik</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172878</link>
<description>Model Pengembangan Rantai Nilai Global Karet Alam Indonesia: Pendekatan Sistem Dinamik
AGUSTINA, DWI SHINTA
Pengembangan rantai nilai karet alam Indonesia masih dihadapkan pada&#13;
berbagai permasalahan mulai dari rendahnya produktivitas kebun karet, posisi&#13;
tawar petani yang lemah, rendahnya harga karet yang diterima petani, serta&#13;
kurangnya keterkaitan sektor hulu dan sektor hilir sehingga nilai tambah yang&#13;
diperoleh masih rendah. Penelitian mengenai peningkatan kinerja rantai nilai karet&#13;
pada umumnya dianalisis secara deskriptif, bersifat parsial, dan hanya mencakup&#13;
pada satu waktu tertentu yang biasanya bersifat statis sehingga belum mampu&#13;
menjelaskan dinamika jangka panjang di dalam rantai nilai global karet alam. Oleh&#13;
sebab itu, diperlukan suatu studi yang dapat memotret perilaku, interaksi, dan&#13;
dinamika di dalam rantai nilai secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk:&#13;
(1) memetakan (mapping) rantai nilai global karet alam Indonesia; (2) menganalisis&#13;
tata kelola (governance) rantai nilai global karet alam di Indonesia; (3)&#13;
menganalisis posisi dan partisipasi industri karet alam Indonesia dalam rantai nilai&#13;
global karet; dan (4) menganalisis strategi upgrading rantai nilai global karet alam&#13;
Indonesia. Kebaruan dari penelitian yaitu (a) mengintegrasikan konsep rantai nilai&#13;
global dengan pendekatan sistem sehingga dapat memotret dinamika sistem secara&#13;
holistik; (b) analisis rantai nilai global dilakukan secara keseluruhan mulai dari&#13;
pemetaan aktor, aktivitas, aliran produk, nilai tambah, cakupan geografis, dan tata&#13;
kelola; (c) penelitian ini tidak hanya memotret rantai nilai karet dalam lingkup&#13;
regional tetapi juga menganalisis partisipasi dan posisi industri karet Indonesia&#13;
dalam cakupan global; serta (d) penelitian ini menghasilkan rekomendasi kebijakan&#13;
upgrading karet yang dianalisis secara kuantitatif menggunakan pendekatan sistem&#13;
dinamik mulai dari subsistem produksi, subsistem pengolahan, dan subsistem&#13;
perdagangan.&#13;
Penelitian dilakukan dengan metode survei dan focus group discussion (FGD)&#13;
di dua provinsi sentra karet di Indonesia yaitu Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi.&#13;
Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer&#13;
dikumpulkan dari 236 aktor rantai nilai yang meliputi 201 orang petani, 8 orang&#13;
pedagang perantara skala kecil, 12 orang pedagang perantara skala besar, 9 orang&#13;
pengurus Unit Pengolahan dan Pemasaran Bahan Olah Karet (UPPB), dan 6 orang&#13;
perwakilan pabrik. Selanjutnya, data sekunder diperoleh dari berbagai publikasi&#13;
yang relevan dengan kegiatan penelitian ini seperti publikasi ilmiah hasil penelitian&#13;
terdahulu, data statistik, dokumen, dan laporan serta sumber lainnya. Analisis&#13;
pemetaan rantai nilai dilakukan dengan analisis deskriptif secara kualitatif dan&#13;
kuantitatif menggunakan pendekatan making market work better for the poor&#13;
(M4P). Analisis tata kelola menggunakan skala Likert berdasarkan pendekatan&#13;
Gereffi yang mencakup lima tipe tata kelola yaitu market, modular, relational,&#13;
captive, dan hierarchy. Analisis posisi dan partisipasi industri karet Indonesia dalam&#13;
rantai nilai global menggunakan data MRIO (Multi Regional Input-Output) dari&#13;
ADB (Asian Development Bank) tahun 2015 dan 2022 dari 35 negara. Selanjutnya,&#13;
model strategi peningkatan menggunakan pendekatan sistem dinamik dianalisis&#13;
melalui beberapa tahapan penelitian termasuk artikulasi masalah, identifikasi sistem, perumusan model simulasi, validasi model, analisis sensitivitas, simulasi&#13;
model serta evaluasi kebijakan. Pemodelan sistem dinamik dianalisis menggunakan&#13;
Powersim Studio Academic (versi 10).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rantai nilai global karet alam Indonesia&#13;
terdiri dari lima aktivitas utama yaitu produksi, pasca panen dan pengolahan awal,&#13;
pemasaran, pengolahan lanjutan, dan perdagangan yang melibatkan beragam aktor&#13;
seperti petani skala kecil, UPPB/pasar lelang, pengumpul, pabrik karet remah,&#13;
eksportir, dan konsumen akhir. Setiap pelaku di sepanjang rantai nilai memiliki&#13;
aktivitas yang berbeda yang memberikan nilai tambah dan membedakan produk&#13;
karet alam. Tipe tata kelola rantai nilai karet alam dikategorikan sebagai tata kelola&#13;
modular dengan kompleksitas informasi tinggi, kodifikasi informasi tinggi, dan&#13;
kapabilitas pemasok tinggi. Rantai nilai ini menunjukkan cakupan geografis North-&#13;
South, yaitu produsen karet sebagian besar berada di bumi bagian selatan dan&#13;
konsumen karet alam sebagian besar berada di bumi bagian utara. Hasil analisis&#13;
partisipasi Indonesia di dalam rantai nilai global karet alam dunia menunjukkan&#13;
bahwa partisipasi industri karet Indonesia di pasar karet global pada tahun 2022&#13;
mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2015. Pada tahun 2015 Indonesia&#13;
berada pada peringkat 32 sedangkan pada tahun 2022 berada pada peringkat 28.&#13;
Secara keseluruhan, nilai partisipasi ke belakang (backward participation)&#13;
Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan nilai partisipasi ke depan (forward&#13;
participation). Hasil analisis menunjukkan bahwa industri karet Indonesia paling&#13;
banyak menggunakan input dari negara Cina, Jepang, Singapura, Korea, Thailand,&#13;
India, dan Malaysia. Selanjutnya, negara yang paling banyak menggunakan hasil&#13;
karet Indonesia adalah negara Amerika, Jepang, Korea, Cina, Jerman, dan India. Di&#13;
sisi lain, posisi industri karet Indonesia di pasar karet global mengalami penurunan,&#13;
yang semula berada pada kuadran II pada tahun 2015, bergeser menjadi kuadran IV&#13;
pada tahun 2022. Posisi Indonesia di kuadran IV ini menunjukkan bahwa industri&#13;
karet Indonesia memiliki keterkaitan ke depan dan ke belakang di bawah rata-rata&#13;
dunia. Penggunaan input yang kurang dari sisi backward linkage memengaruhi&#13;
kemampuan ekspor Indonesia dari sisi forward linkage sehingga baik dari sisi input&#13;
dan output mengalami pelemahan.&#13;
Hasil analisis sistem dinamik pada kondisi basis menunjukkan bahwa target&#13;
produksi karet alam sebesar 4,4 juta ton serta target volume ekspor sebesar 4,27 juta&#13;
ton pada tahun 2045 tidak tercapai. Rendahnya produktivitas, pertumbuhan&#13;
produksi yang lambat, luas areal yang terus berkurang, serta fluktuasi harga global&#13;
menjadi kendala utama dalam pengembangan rantai nilai global karet alam&#13;
Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan strategi terintegrasi untuk meningkatkan&#13;
produktivitas, keberlanjutan pasokan, dan kesejahteraan petani guna memperkuat&#13;
kinerja ekspor karet Indonesia. Upaya peningkatan kinerja rantai nilai global karet&#13;
alam Indonesia dilakukan melalui perumusan dan pengujian enam skenario&#13;
kebijakan berupa empat skenario tunggal dan dua skenario gabungan. Empat&#13;
skenario tunggal meliputi upgrading proses melalui peningkatan produktivitas dan&#13;
luas areal (skenario 1), upgrading produk melalui peningkatan mutu produk&#13;
(skenario 2), upgrading fungsi melalui peningkatan teknologi pengolahan lateks&#13;
(skenario 3), dan upgrading rantai melalui perubahan saluran rantai (skenario 4).&#13;
Hasil analisis menunjukkan bahwa skenario 6, yang mengintegrasikan seluruh&#13;
bentuk kebijakan upgrading yang dilakukan secara bersamaan, merupakan strategi&#13;
yang paling efektif dalam mendorong pengembangan rantai nilai global karet alam Indonesia. Implementasi skenario ini meliputi peningkatan produktivitas kebun,&#13;
perluasan areal tanam, perbaikan mutu bahan olah karet, adopsi teknologi&#13;
pengolahan yang lebih maju, serta optimalisasi pemilihan rantai pemasaran. Hasil&#13;
simulasi menunjukkan bahwa skenario terintegrasi tersebut mampu menghasilkan&#13;
capaian tertinggi pada indikator produksi karet alam, pendapatan petani, serta&#13;
kinerja ekspor, baik dari sisi volume maupun nilai, pada akhir periode analisis.&#13;
Dibandingkan dengan jenis upgrading lainnya, perbaikan pada aspek proses,&#13;
khususnya peningkatan produktivitas dan perluasan areal, memberikan pengaruh&#13;
yang lebih besar pada kondisi awal. Analisis sensitivitas lebih lanjut&#13;
mengindikasikan bahwa produktivitas kebun dan luas areal tanam merupakan&#13;
faktor paling menentukan dalam pencapaian target ekspor karet alam Indonesia,&#13;
yang kemudian diikuti oleh peningkatan mutu produk dan peningkatan teknologi&#13;
pengolahan.&#13;
Rumusan kebijakan untuk pengembangan rantai nilai global karet alam perlu&#13;
dilakukan secara menyeluruh di sepanjang rantai nilai, mulai dari sektor hulu&#13;
hingga sektor hilir. Hal ini tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan petani&#13;
dan pelaku usaha, tetapi juga memperkuat partisipasi dan posisi Indonesia di dalam&#13;
rantai nilai global karet alam. Kebijakan di sektor hulu meliputi peningkatan&#13;
produktivitas, perluasan areal tanam, dan perbaikan mutu bahan olah karet&#13;
merupakan strategi yang dapat diambil untuk menjamin keberlanjutan pasokan dan&#13;
daya saing karet alam di pasar global. Selanjutnya, pada sektor hilir, penguatan&#13;
kapasitas pengolahan, inovasi barang jadi karet, serta strategi pemasaran yang lebih&#13;
terintegrasi diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah dan posisi tawar karet&#13;
Indonesia di pasar global.; The development of the Indonesian natural rubber value chain is still faced&#13;
with various problems ranging from low productivity of rubber plantations, weak&#13;
bargaining position of farmers, low prices of rubber received by farmers, and the&#13;
lack of linkage between upstream and downstream sectors so that the added value&#13;
obtained is still low. Research on improving the performance of the rubber value&#13;
chain is still partial so that a study is needed that can comprehensively capture the&#13;
behavior, interactions, and dynamics within the value chain. This study aims to: (1)&#13;
map the global value chain of Indonesian natural rubber; (2) analyze the governance&#13;
of the global value chain of natural rubber in Indonesia; (3) analyze the position and&#13;
participation of the Indonesian natural rubber industry in the global value chain of&#13;
rubber; and (4) analyze the upgrading strategy of the global value chain of&#13;
Indonesian natural rubber. The novelty of this study is (a) integrating the concept&#13;
of the global value chain with a systems approach so that it can capture the&#13;
dynamics of the system holistically; (b) the analysis of the global value chain is&#13;
carried out as a whole starting from mapping actors, activities, product flows, added&#13;
value, geographic scope, and governance; (c) this study not only captures the rubber&#13;
value chain in the regional scope but also analyzes the participation and position of&#13;
the Indonesian rubber industry in the global scope; and (d) this research produces&#13;
recommendations for rubber upgrading policies which are analyzed quantitatively&#13;
using a dynamic systems approach starting from the production subsystem,&#13;
processing subsystem, and trade subsystem.&#13;
The research was conducted using survey and focus group discussion (FGD)&#13;
methods in two rubber-producing provinces in Indonesia, namely South Sumatra&#13;
and Jambi. The data used in this study include primary and secondary data. Primary&#13;
data were collected from 236 value chain actors, including 201 farmers, 8 smallscale&#13;
intermediary traders, 12 large-scale intermediary traders, 9 UPPB&#13;
administrators, and 6 factory representatives. Furthermore, secondary data were&#13;
obtained from various publications relevant to this research activity, such as&#13;
scientific publications of previous research results, statistical data, documents, and&#13;
reports, and other sources. Value chain mapping analysis was conducted using&#13;
qualitative and quantitative descriptive analysis using the M4P approach.&#13;
Governance analysis used a Likert scale based on the Gereffi approach, which&#13;
includes five types of governance: market, modular, relational, captive, and&#13;
hierarchy. Analysis of the position and participation of the Indonesian rubber&#13;
industry in the global value chain used MRIO (Multi Regional Input-Output) data&#13;
from the ADB in 2015 and 2022 from 35 countries. Furthermore, the improvement&#13;
strategy model using a dynamic systems approach was analyzed through several&#13;
research stages, including problem articulation, system identification, simulation&#13;
model formulation, model validation, sensitivity analysis, model simulation, and&#13;
policy evaluation. The dynamic systems modeling was analyzed using Powersim&#13;
Studio Academic (version 10). The research results show that the Indonesian global natural rubber value&#13;
chain consists of five main activities, namely production, post-harvest and initial&#13;
processing, marketing, further processing, and trade, involving various actors such&#13;
as small-scale farmers, UPPB/auction markets, collectors, crumb rubber factories,&#13;
exporters, and end consumers. Each actor along the chain has different value&#13;
activities that add value and differentiate natural rubber products. The natural&#13;
rubber value chain governance type is categorized as modular governance with high&#13;
information complexity, high information codification, and high supplier&#13;
capabilities. This value chain demonstrates a North-South geographic location, with&#13;
rubber producers predominantly located in the southern hemisphere and natural&#13;
rubber consumers predominantly in the northern hemisphere. The analysis of&#13;
Indonesia's participation in the global natural rubber value chain shows that the&#13;
participation of the Indonesian rubber industry in the global rubber market in 2022&#13;
has increased compared to 2015. In 2015, Indonesia was ranked 32nd, while in 2022&#13;
it was ranked 28th. Overall, Indonesia's backward participation value is higher than&#13;
its forward participation value. The analysis shows that the Indonesian rubber&#13;
industry uses the most inputs from China, Japan, Singapore, Korea, Thailand, India,&#13;
and Malaysia. In addition, the countries that use the most Indonesian rubber&#13;
products are the United States, Japan, Korea, China, Germany, and India. On the&#13;
other hand, the position of the Indonesian rubber industry in the global rubber&#13;
market has decreased, from being in quadrant II in 2015, shifting to quadrant IV in&#13;
2022. Indonesia's position in quadrant IV indicates that the Indonesian rubber&#13;
industry has forward and backward linkages below the world average. Insufficient&#13;
use of inputs from the backward linkage side effects Indonesia's export capabilities&#13;
from the forward linkage side so that both the input and output sides experience&#13;
weakness.&#13;
A dynamic system analysis under baseline conditions indicates that the&#13;
natural rubber production target of 4.4 million tons and the export volume target of&#13;
4.27 million tons by 2045 will not be achieved. Low productivity, slow production&#13;
growth, continuously decreasing planted area, and global price fluctuations are the&#13;
main obstacles in the development of the Indonesian natural rubber global value&#13;
chain. Therefore, an integrated strategy is needed to increase productivity, supply&#13;
sustainability, and farmer welfare to strengthen Indonesia's rubber export&#13;
performance. Efforts to improve the performance of the Indonesian natural rubber&#13;
global value chain are carried out through the formulation and testing of six policy&#13;
scenarios: four single scenarios and two combined scenarios. The four single&#13;
scenarios include process upgrading through increased productivity and area&#13;
(scenario 1), product upgrading through improved product quality (scenario 2),&#13;
functional upgrading through improved latex processing technology (scenario 3),&#13;
and chain upgrading through changes in chain channels (scenario 4). The analysis&#13;
results indicate that scenario 6, which integrates all forms of upgrading policies&#13;
implemented simultaneously, is the most effective strategy in encouraging the&#13;
development of the Indonesian natural rubber global value chain. The&#13;
implementation of this scenario includes increasing plantation productivity,&#13;
expanding planted areas, improving the quality of rubber raw materials, adopting&#13;
more advanced processing technologies, and optimizing the marketing chain.&#13;
Simulation results indicate that this integrated scenario is capable of producing the&#13;
highest achievements in natural rubber production indicators, farmer income, and export performance, both in terms of volume and value, at the end of the analysis&#13;
period. Compared with other types of upgrading, improvements in process aspects,&#13;
particularly productivity increases and area expansion, have a greater impact on&#13;
initial conditions. Further sensitivity analysis indicates that plantation productivity&#13;
and planted area are the most determining factors in achieving Indonesia's natural&#13;
rubber export target, followed by improvements in product quality and the&#13;
improvement of processing technology.&#13;
Policy formulation for the development of the global natural rubber value&#13;
chain needs to be comprehensive, spanning the entire value chain, from upstream&#13;
to downstream. This not only has the potential to increase the income of farmers&#13;
and business actors but also strengthen Indonesia's participation and position within&#13;
the global natural rubber value chain. Upstream policies, including increasing&#13;
productivity, expanding planting areas, and improving the quality of processed&#13;
rubber materials, are strategies that can be adopted to ensure the sustainability of&#13;
natural rubber supply and competitiveness in the global market. Furthermore, in the&#13;
downstream sector, strengthening processing capacity, innovation in finished&#13;
rubber products, and a more integrated marketing strategy are needed to increase&#13;
the added value and bargaining position of Indonesian rubber in the global market.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172878</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
