<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>DF - Animal Science</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/84</link>
<description/>
<pubDate>Thu, 27 Aug 2026 02:31:02 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-27T02:31:02Z</dc:date>
<item>
<title>Optimasi Teknik Ekstrusi Bungkil Inti Sawit dan Umbi Singkong Sebagai Bahan Baku Industri Pakan Unggas</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179207</link>
<description>Optimasi Teknik Ekstrusi Bungkil Inti Sawit dan Umbi Singkong Sebagai Bahan Baku Industri Pakan Unggas
Risyahadi, Sazli Tutur
Penelitian ini membahas optimasi proses ekstrusi campuran bahan pakan bungkil inti sawit dan singkong, dengan tujuan untuk menggantikan bahan pakan jagung. Penelitian ini menggunakan metode teknik meta analisis, bibliometriks dan response surface methodology, perbandingan energi metabolis dan performa broiler untuk menganalisis/menginvestigasi potensi penggunaan bungkil inti sawit dan singkong terekstrusi sebagai pengganti jagung. Hasil penelitian metaanalisis menunjukkan bahwa secara umum proses ekstrusi bahan pakan dapat meningkatkan beberapa parameter performa ayam petelur, tidak merusak kualitas telur dan daging broiler. Hasil uji RSM mendapatkan titik optimal proses ekstrusi bungkil inti sawit dan singkong yaitu 88ºC dengan kadar air 25% yang menghasilkan energi metabolis lebih tinggi serta performa broiler yang bisa mensubtitusi 20% energi jagung dalam pakan. Temuan ini memberikan kontribusi terhadap bidang teknologi pakan unggas, serta menawarkan wawasan baru mengenai optimasi ekstrusi bungkil inti sawit dan singkong sebagai bahan pakan lokal untuk industri pakan unggas
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179207</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Kajian nutrigenomik gen CAPN11 dan FABP4 pada Ayam IPB D1 yang diberi Pakan Mengandung Minyak Ikan Lemuru dengan Suplementasi Mineral Zink dan Kromium</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179203</link>
<description>Kajian nutrigenomik gen CAPN11 dan FABP4 pada Ayam IPB D1 yang diberi Pakan Mengandung Minyak Ikan Lemuru dengan Suplementasi Mineral Zink dan Kromium
Harahap, Ahmad Saleh
Ayam IPB D1 merupakan ayam lokal komposit Indonesia yang dikembangkan sebagai ayam pedaging unggul dengan produktivitas yang lebih baik serta memiliki kemampuan adaptasi terhadap lingkungan tropis. Pengembangan ayam IPB D1 tidak hanya diarahkan pada peningkatan performa produksi, tetapi juga pada peningkatan kualitas nutrisi daging sebagai pangan fungsional. Performa dan kualitas daging dipengaruhi oleh interaksi antara faktor genetik dan lingkungan, terutama nutrisi. Perkembangan ilmu nutrigenomik memungkinkan pengkajian hubungan antara keragaman genetik dengan respons terhadap pemberian nutrien tertentu, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai dasar dalam pengembangan nutrisi presisi dan marker-assisted selection (MAS) pada ayam IPB D1. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji respons nutrigenomik gen CAPN11 dan FABP4 pada ayam IPB D1 yang diberi pakan mengandung minyak ikan lemuru dengan suplementasi mineral zink dan kromium, untuk menghasilkan daging yang kaya omega-3 sebagai pangan fungsional.&#13;
Penelitian dilaksanakan menggunakan pendekatan nutrigenomik melalui empat tahapan utama, yaitu identifikasi keragaman gen CAPN11, analisis pengaruh interaksi genotipe CAPN11 dengan perlakuan pakan terhadap sifat pertumbuhan dan bobot karkas, identifikasi keragaman gen FABP4, serta analisis pengaruh interaksi genotipe FABP4 dengan perlakuan pakan terhadap kandungan mineral dan komposisi asam lemak daging. Keragaman genetik dianalisis berdasarkan frekuensi genotipe, frekuensi alel, heterozigositas, dan keseimbangan Hardy–Weinberg, sedangkan analisis asosiasi dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan pengujian interaksi antara genotipe dan perlakuan pakan.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen CAPN11 memiliki keragaman genetik yang tinggi pada ayam IPB D1. Sebanyak tujuh SNP berhasil diidentifikasi pada daerah 3'-UTR, yaitu g.30010797G&gt;A, g.30010795A&gt;T, g.30010778C&gt;G, g.30010767G&gt;T, g.30010658C&gt;G, g.30010652C&gt;A, dan g.30010629C&gt;A. Sebagian besar lokus berada dalam keseimbangan Hardy–Weinberg dengan nilai heterozigositas yang relatif tinggi, menunjukkan bahwa populasi ayam IPB D1 masih memiliki keragaman genetik yang baik dan berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber kandidat marka molekuler. Secara biologis, CAPN11 mengkode enzim µ-kalpain yang berperan dalam proteolisis protein miofibril, perkembangan jaringan otot, dan proses pascamortem, sehingga keragaman genetiknya berkontribusi terhadap perbedaan bobot badan, pertambahan bobot badan, efisiensi penggunaan pakan, bobot karkas, bobot dada, dan bobot paha.&#13;
Gen FABP4 juga menunjukkan keragaman genetik yang dapat dimanfaatkan sebagai kandidat marka molekuler. Gen ini berfungsi mengikat, mengangkut, dan mengatur deposisi asam lemak di dalam sel sehingga berperan penting dalam metabolisme lipid. Keragaman genetik FABP4 memengaruhi kandungan mineral serta komposisi asam lemak daging, termasuk SFA, MUFA, PUFA, omega-3, omega-6, dan rasio PUFA/SFA, sehingga berkontribusi terhadap pembentukan kualitas nutrisi daging ayam IPB D1.&#13;
Pemberian pakan berbasis minyak ikan lemuru yang disuplementasi Zn dan Cr menciptakan lingkungan nutrisi yang mendukung regulasi ekspresi gen dan metabolisme jaringan. Minyak ikan lemuru menyediakan EPA, DHA, dan ALA sebagai sumber asam lemak omega-3, sedangkan Zn berperan sebagai kofaktor berbagai enzim yang mengatur sintesis protein dan ekspresi gen, serta Cr meningkatkan efisiensi metabolisme glukosa, protein, dan lemak. Interaksi antara faktor nutrisi dan keragaman genetik menunjukkan bahwa CAPN11 berperan dominan dalam metabolisme protein dan pembentukan jaringan otot yang memengaruhi pertumbuhan serta bobot karkas, sedangkan FABP4 mengendalikan metabolisme lipid yang menentukan kandungan mineral dan profil asam lemak daging. Sinergi kedua jalur tersebut menghasilkan fenotipe ayam IPB D1 dengan pertumbuhan optimal, bobot karkas yang baik, kandungan mineral seimbang, dan komposisi asam lemak yang lebih sehat.&#13;
Penelitian ini menghasilkan beberapa kebaruan, yaitu berhasil mengidentifikasi polimorfisme gen CAPN11 dan FABP4 pada ayam IPB D1 sebagai kandidat marka molekuler, membuktikan adanya interaksi antara genotipe dan perlakuan pakan terhadap sifat produksi dan kualitas nutrisi daging, serta mengembangkan formulasi pakan berbasis minyak ikan lemuru yang disuplementasi Zn dan Cr sebagai pendekatan nutrigenomik untuk menghasilkan daging ayam yang lebih sehat.&#13;
Secara keseluruhan, penelitian ini memperkuat konsep bahwa peningkatan mutu ayam IPB D1 tidak cukup dilakukan melalui seleksi genetik ataupun perbaikan formulasi pakan secara terpisah, tetapi memerlukan integrasi keduanya melalui pendekatan nutrigenomik. Informasi mengenai keragaman genetik CAPN11 dan FABP4 beserta interaksinya dengan nutrisi memberikan dasar ilmiah bagi penerapan marker-assisted selection (MAS) dan precision nutrition dalam program pemuliaan ayam IPB D1 untuk menghasilkan ayam lokal unggul dengan performa produksi yang tinggi, bobot karkas yang baik, kandungan mineral seimbang, serta profil asam lemak yang lebih sehat sebagai pangan fungsional.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179203</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Mitigasi Stres Pasca Transportasi pada Sapi Lokal: Kajian  Terintegrasi Performa Produksi, Respons Fisiologis, dan Metabolit Darah</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177856</link>
<description>Mitigasi Stres Pasca Transportasi pada Sapi Lokal: Kajian  Terintegrasi Performa Produksi, Respons Fisiologis, dan Metabolit Darah
Aditia, Edit Lesa
Transportasi ternak merupakan salah satu elemen penting dalam rantai &#13;
pasok sapi pedaging. Meskipun demikian, kegiatan transportasi juga dikenal &#13;
sebagai salah satu faktor yang dapat memicu stres pada ternak sehingga &#13;
berdampak pada produktivitas dan aspek kesejahteraan hewannya. Kondisi stres &#13;
cenderung meningkat di wilayah tropis karena cekaman suhu dan kelembapan &#13;
lingkungan serta intensitas radiasi matahari yang tinggi selama perjalanan. &#13;
Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi terkini &#13;
transportasi sapi lokal, baik jarak dekat dan jarak jauh antarpulau, serta (2) &#13;
mengevaluasi status fisiologis, profil darah, dan performa produksi sapi lokal &#13;
(sapi PO dan Silangan lokal) pada transportasi jarak dekat. Penelitian ini &#13;
merupakan penelitian eksploratif, yang memotret kondisi umum transportasi sapi &#13;
di Indonesia, khususnya transportasi durasi singkat (transportasi &lt; 8 jam).  &#13;
Penelitian bagian pertama adalah benchmarking transportasi sapi di &#13;
Indonesia. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi &#13;
terkini transportasi sapi lokal, baik jarak dekat dan jarak jauh, dalam satu pulau &#13;
dan antarpulau di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan survei &#13;
pada proses transportasi sapi, baik jarak dekat dan jarak jauh, dalam pulau yang &#13;
sama dan antarpulau yang berbeda. Total 42 orang pengemudi yang diwawancarai &#13;
dengan total 500 ekor sapi yang diangkut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa &#13;
transportasi sapi di Indonesia masih belum memenuhi standar aspek kesrawan &#13;
karena belum memiliki panduan (SOP) yang sesuai. Selanjutnya kompetensi SDM &#13;
pengemudi ternak masih belum memahami aspek kesejahteraan hewan selama &#13;
pengangkutan dan belum pernah mengikuti pelatihan kesrawan. Selama &#13;
pengangkutan, sapi diikat dan berdiri dengan kepadatan yang tinggi, baik untuk &#13;
transportasi jarak dekat dan jarak jauh (0,7-0,8 m2/ekor) dan tanpa pemberian &#13;
pakan sesuai kebutuhan. Lebih lanjut, penyusutan bobot badan semakin &#13;
meningkat seiring dengan peningkatan jarak tempuh. Rataan persentase &#13;
penyusutan bobot badan untuk transportasi adalah 2,49±1,41% dengan lama &#13;
rekondisi sekitar 10-12 hari, sedangkan untuk transportasi jarak jauh penyusutan &#13;
bobot adalah 17,09±3,86% dengan lama rekondisi sekitar 25-30 hari. Kualitasa &#13;
aspek kesejahteraan hewan berdasarkan skoring indeks kesejahteraan hewan &#13;
(IKH) selama transportasi durasi singkat berada dalam kondisi sedang (skor IKH &#13;
2), sedangkan untuk transportasi durasi panjang masih dalam kondisi yang buruk &#13;
(skor IKH 1,9).  &#13;
Penelitian selanjutnya adalah transportasi jarak dekat sapi Peranakan Ongole &#13;
(PO) dan Silangan Lokal (SL). Total 16 ekor sapi jantan, yang terdiri atas 8 ekor &#13;
sapi PO dan 8 ekor sapi SL dengan umur 18–30 bulan (I1-2). Transportasi yang &#13;
dilakukan menempuh jarak ±102 km dengan total durasi perjalanan selama 6 jam &#13;
35 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan susut bobot badan pada &#13;
kedua bangsa sapi adalah sebesar 1,2%. Waktu pemulihan pada kedua bangsa sapi &#13;
relatif sama, yaitu selama 10 hari. Selain itu, sapi PO yang diberi pakan Sorinfer &#13;
maupun konsentrat komersial memiliki pertambahan bobot badan dan bobot akhir &#13;
yang lebih tinggi (P &lt; 0,05) dibandingkan dengan sapi SL. Dapat disimpulkan &#13;
bahwa pakan Sorinfer efektif dalam mendukung pemulihan sapi potong lokal &#13;
setelah transportasi. Namun demikian, pakan Sorinfer menghasilkan performa &#13;
yang lebih rendah dibandingkan dengan konsentrat komersial pada periode &#13;
penggemukan singkat. &#13;
Selanjutnya adalah pengamatan untuk peubah respons fisiologis dan profil &#13;
darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi PO dan SL mengalami stres &#13;
selama transportasi durasi singkat. Kadar glukosa darah dan PCV sapi PO &#13;
pratransportasi nyata lebih tinggi (P&lt;0,05) dibandingkan pada sapi SL. &#13;
Selanjutnya, kadar glukosa dan PCV sapi PO dan SL pascatransportasi nyata lebih &#13;
rendah (P&lt;0,05), meskipun tidak berbeda nyata antarbangsa sapi. Selain itu, rasio &#13;
neutrophil:limfosit (N:L) meningkat pascatransportasi. Analisis hubungan &#13;
antarvariabel memperlihatkan adanya korelasi yang signifikan antara parameter &#13;
fisiologis dan hematologis dengan performa produksi. Peningkatan indikator stres &#13;
fisiologis cenderung diikuti oleh peningkatan kehilangan bobot badan. Lebih &#13;
lanjut, hasil analisis regresi menunjukkan bahwa beberapa parameter, seperti &#13;
frekuensi respirasi dan variabel hematologi tertentu, memiliki potensi sebagai &#13;
prediktor pada penurunan performa dan kerugian ekonomis. Lama rekondisi untuk &#13;
sapi PO dan SL adalah 10 hari, di mana sapi PO memiliki performa yang lebih &#13;
baik selama pemeliharaan rekondisi. Hal ini dapat dilihat dari bobot akhir &#13;
pascarekondisi, PBBH dan PBB, serta konsumsi pakan dan bahan kering ransum &#13;
sapi PO yang nyata lebih tinggi dibandingkan dengan sapi SL (P&lt;0,05).
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177856</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Disertasi_S3 D2601221003_Dimar Sari Wahyuni</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177396</link>
<description>Disertasi_S3 D2601221003_Dimar Sari Wahyuni
Wahyuni, Dimar Sari
Peningkatan produktivitas ternak domba sebagai bagian dari upaya&#13;
mendukung swasembada daging nasional berpotensi meningkatkan emisi gas rumah&#13;
kaca, terutama metana enterik yang dihasilkan dari fermentasi rumen. Sistem&#13;
peternakan rakyat yang masih didominasi oleh penggunaan hijauan berkualitas&#13;
rendah menyebabkan fermentasi pakan tidak optimal, sehingga meningkatkan&#13;
produksi metana. Selain itu, keterbatasan kandungan nutrien dan rendahnya kualitas&#13;
pakan berkontribusi terhadap rendahnya produktivitas ternak. Makroalga sebagai&#13;
sumber daya hayati laut Indonesia yang kaya akan senyawa bioaktif memiliki&#13;
potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai inovasi pakan bioaditif dalam sistem&#13;
produksi ternak ruminansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil&#13;
metabolit tidak tertarget rumput laut melalui pendekatan metabolomik,&#13;
mengevaluasi potensi berbagai spesies makroalga Indonesia sebagai kandidat pakan&#13;
aditif dalam memperbaiki profil rumen meliputi fermentasi dan kecernaan rumen&#13;
secara in vitro, mengevaluasi pemberian pakan aditif makroalga yang mengandung&#13;
senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai rumen modifier dalam pakan komplit dan&#13;
mendapatkan dosis optimal terbaik berdasarkan spesies dan perbedaan kandungan&#13;
senyawa bioaktifnya sehingga dapat memperbaiki karakteristik fermentasi rumen&#13;
dan kecernaan pakan serta mengurangi emisi gas metana enterik melalui pendekatan&#13;
kajian secara in vitro dan teknologi omik (metabolomik dan metagenomik).&#13;
Penelitian ini dibagi dalam tiga tahap meliputi : 1) Eksplorasi, identifikasi dan&#13;
produksi tepung makroalga dan pakan komplit yang terdiri dari 1.a.) Sampling&#13;
beberapa spesies makroalga dari beberapa daerah di Indonesia, 1.b.) Produksi&#13;
tepung makroalga, bahan pakan komplit dan proses ekstraksi makroalga, 1.c.)&#13;
Identifikasi komposisi kimia makroalga dan bahan pakan komplit melalui analisis&#13;
proksimat (kadar air, abu, protein kasar, lemak kasar, serat kasar, Bahan Ekstrak&#13;
Tanpa Nitrogen (BETN), Total Digestible Nutrient (TDN), energi total, karbohidrat,&#13;
energi dari lemak), dan serat pakan (Neutral Detergent Fiber, Acid Detergent Fiber,&#13;
hemiselulosa, selulosa, lignin), kandungan asam lemak, asam amino, klorofil,&#13;
mineral; 1.d.) Identifikasi dan karakterisasi metabolit primer dan sekunder pada&#13;
beberapa spesies makroalga, 1.e.) Formulasi pakan komplit dan penentuan dosis&#13;
pakan aditif tepung makroalga.&#13;
2) Pengujian in vitro tahap 1 (Identifikasi profil fermentasi dan kecernaan serta&#13;
potensi penurunan produksi metana rumen 14 spesies tepung makroalga secara in&#13;
vitro) dan pengujian in vitro tahap 2 (Evaluasi beberapa spesies makroalga terpilih&#13;
pada pakan komplit terhadap fermentasi dan degradabilitas serta emisi metana&#13;
enterik rumen in vitro). 3) Kajian metabolomik dan metagenomik yang terdiri dari&#13;
3.a.) Analisis metabolomik produk fermentasi rumen hasil pengujian in vitro tepung&#13;
makroalga (metabolit tidak tertarget) dan analisis metagenomik profil mikrobiom&#13;
rumen hasil pengujian in vitro pakan aditif tepung makroalga ke dalam pakan&#13;
komplit.&#13;
&#13;
Untuk tahap identifikasi dan karakterisasi metabolit primer dan sekunder pada&#13;
beberapa spesies makroalga, rancangan acak lengkap dengan 14 perlakuan ekstrak&#13;
makroalga dan 3 ulangan dilakukan untuk kandungan fenol dan flavonoid. Caulerpa&#13;
racemosa memiliki kandungan flavonoid yang tinggi (1,5 mg Quercetin/g), dan&#13;
Ulva lactuca memiliki kandungan fenol tertinggi (0,55 mg Asam Galat/g). Setiap&#13;
sampel makroalga dikeringkan dengan cara dibekukan, digiling, dan diekstraksi&#13;
menggunakan metanol dengan perbandingan 1:20 (berat/volume). Ekstrak dianalisis&#13;
dengan kromatografi cair–spektrometri massa resolusi tinggi (LC-HRMS).&#13;
Sebanyak 31 metabolit yang diduga telah diidentifikasi dan tersedia untuk penelitian&#13;
lebih lanjut. Pearson Correlation Analysis (PCA) menunjukkan bahwa pemisahan&#13;
makroalga tersebut dapat dijelaskan oleh variasi total sebesar 92,6%. Heatmap juga&#13;
menampilkan profil metabolit di antara keempat spesies makroalga tersebut.&#13;
Pada percobaan kultur batch in vitro tahap 1, sebanyak 14 spesies makroalga&#13;
yang digunakan meliputi Sargassum sp., Palmaria palmata, Gelidium sp., Padina&#13;
sp., Halymenia durvillei, Boergesenia forbesii, Gracilaria verrucosa, Eucheuma&#13;
cottonii, Gracilaria gigas, Eucheuma spinosum, Ulva lactuca, Turbinaria ornata,&#13;
Caulerpa racemosa, dan Gracilaria coronopifolia dan diulang sebanyak 5 kali&#13;
pengujian fermentabilitas dan kecernaan rumen in vitro. Pakan yang digunakan&#13;
adalah 500 mg substrat makroalga yang diinkubasi dengan 50 ml campuran cairan&#13;
rumen buffer (perbandingan 1:2 antara cairan rumen sapi Peranakan Ongole yang&#13;
telah difistulasi dan larutan buffer) dalam tabung serum berukuran 100 ml pada suhu&#13;
39?C selama 72 jam. Rancangan acak lengkap diterapkan dengan 14 perlakuan&#13;
tepung makroalga dan 5 ulangan. Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance&#13;
(ANOVA), diikuti dengan uji lanjut Duncan. Hasilnya menunjukkan bahwa&#13;
produksi gas total tertinggi terdapat pada B. forbesii (54,75 mL; p&lt;0,01) dan&#13;
terendah pada T. ornata (10,94 mL). Emisi metana terestimasi dan metana per bahan&#13;
kering terestimasi yang diinkubasi terendah pada Sargassum sp. (1,87 mM dan 3,75&#13;
mM/g bahan kering; p&lt;0,01), dengan Sargassum sp. dan C. racemosa mengurangi&#13;
metana terestimasi sebesar 71,86 %. Tingkat amonia seragam di antara spesies (p&gt;&#13;
0,05). Total Volatile Fatty Acid (VFA) dan asam propionat paling tinggi pada H.&#13;
durvillei dan B. forbesii (p&lt;0,01), dengan rasio asetat terhadap propionat yang lebih&#13;
rendah. Kecernaan Bahan Kering (KCBK) dan Kecernaan Bahan Orgaik (KCBO)&#13;
paling tinggi pada H. durvillei (81,72 % dan 69,53 %; p&lt;0,01). Kinetika gas&#13;
menunjukkan B. forbesii memiliki asimptot tertinggi (201,97 mL; p&lt;0,01) namun&#13;
laju terendah (0,01 mL/jam).&#13;
Pengujian in vitro tahap 2 terdiri dari 10 perlakuan dan 5 ulangan meliputi R1&#13;
= 30% Rumput Gajah + 70% Konsentrat, R2 = R1 + 1% BK Haliminea durvillei,&#13;
R3 = R1 + 2% BK Haliminea durvillei, R4 = R1 + 3% BK Haliminea durvillei, R5&#13;
: R1 + 1% BK Caulerpa racemosa, R6 : R1 + 2% BK Caulerpa racemosa, R7: R1&#13;
+ 3% BK Caulerpa racemosa, R8 : R1 + 1% BK Gracillaria gigas, R9 : R1 + 2%&#13;
BK Gracillaria gigas, R10: R1 + 3% BK Gracillaria gigas. Penelitian in vitro tahap&#13;
2 dengan menginkubasi substrat makroalga sebanyak 750 mg (30% rumput gajah&#13;
dan 70% konsentrat) dalam 50 ml campuran cairan rumen dan larutanbuffer (rasio&#13;
cairan rumen dan larutan penyangga sebesar 1:4) dalam 100 ml botol serum pada&#13;
kondisi anaerob dan suhu 39°C selama 48 jam.&#13;
Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap untuk&#13;
perlakuan dengan kontrol dan rancangan acak lengkap faktorial untuk perlakuan&#13;
tanpa kontrol, sebanyak 3 spesies makroalga dan dosisnya sebagai perlakuan dan 5&#13;
ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi berbagai spesies dan&#13;
dosis makroalga pada pakan komplit memberikan pengaruh nyata terhadap produksi&#13;
gas metana (p&lt;0,05; p&lt;0,01).&#13;
&#13;
Perlakuan R8 (penambahan 1% BK Gracilaria gigas) menghasilkan produksi&#13;
metana terendah secara konsisten pada hampir seluruh parameter, baik dalam satuan&#13;
ppm (71.587,11), mL (8,72), mL/g BK (13,22), mL/g DBK (18,14), mL/g DBO&#13;
(23,93), mM (2796,18), maupun rasio metan terhadap total gas (58,73 mL/L). Hasil&#13;
penelitian menunjukkan bahwa suplementasi makroalga memberikan pengaruh&#13;
yang sangat nyata (p&lt;0,0001) terhadap konsentrasi NH3 dan total VFA dalam&#13;
fermentasi rumen in vitro. Konsentrasi NH3 dan VFA Total meningkat secara&#13;
signifikan seiring dengan peningkatan dosis suplementasi, dengan nilai tertinggi&#13;
pada perlakuan R9. Konsentrasi asetat cenderung meningkat dengan nilai tertinggi&#13;
pada R9, sedangkan propionat relatif stabil di antara perlakuan (p&gt;0,05). Produksi&#13;
asam butirat, valerat, dan asam lemak bercabang (isobutirat dan isovalerat) tidak&#13;
berubah secara signifikan antar perlakuan. Rasio asetat terhadap propionat (A/P)&#13;
sangat berbeda, dengan nilai tertinggi pada R10 dan nilai terendah pada R6.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi makroalga berpengaruh&#13;
sangat nyata (p&lt;0,01) terhadap sintesis protein mikroba (SPM), populasi protozoa,&#13;
partitioning factor (PF), dan estimasi mikroba dalam fermentasi rumen in vitro.&#13;
Nilai SPM meningkat secara signifikan dibandingkan kontrol, dengan nilai&#13;
tertinggi pada perlakuan R9 dan R5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa&#13;
suplementasi makroalga berpengaruh nyata hingga sangat nyata terhadap produksi&#13;
gas total, baik dalam satuan ml/g bahan kering (BK) (p&lt;0,01) maupun volume total&#13;
(ml) (p&lt;0,001). Produksi gas tertinggi diperoleh pada perlakuan R4. Hasil&#13;
penelitian menunjukkan bahwa suplementasi berbagai spesies makroalga pada&#13;
berbagai dosis tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai pH rumen&#13;
(p&gt;0,05), dengan kisaran pH relatif stabil antara 6,77 hingga 6,91. Hasil penelitian&#13;
menunjukkan bahwa suplementasi makroalga memberikan pengaruh sangat nyata&#13;
terhadap degradabilitas bahan kering (% DBK) (p&lt;0,001) dan berpengaruh nyata&#13;
terhadap degradabilitas bahan organik (% DBO) (p&lt;0,05). Nilai % DBK dan %&#13;
DBO tertinggi diperoleh pada perlakuan R9. Suplementasi makroalga pada&#13;
fermentasi rumen in vitro mampu memodulasi komposisi dan keanekaragaman&#13;
mikroba, mempengaruhi populasi arkea penghasil metana, serta mengubah profil&#13;
metabolomik, PCA loading yang menggambarkan 131 metabolit dalam cairan&#13;
rumen produk fermentasi in vitro rumen.&#13;
Kebaruan (kebaruan) dari penelitian ini terletak pada integrasi evaluasi&#13;
fermentasi rumen secara in vitro dengan teknologi omik. Makroalga Indonesia&#13;
berpotensi besar dikembangkan sebagai strategi inovatif untuk memperbaiki profil&#13;
rumen meliputi fermentasi dan kecernaan rumen secara in vitro, meskipun&#13;
penelitian lanjutan secara in vivo masih diperlukan untuk memastikan efektivitas&#13;
dan dosis optimal dalam aplikasi praktis.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177396</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
