<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>DT - Animal Science</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/84</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 11 Apr 2026 15:48:17 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-11T15:48:17Z</dc:date>
<item>
<title>Kajian Agronomis dan Nutrisi Kacang Koro Pedang (Canavalia Ensiformis) sebagai Sumber Pakan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172774</link>
<description>Kajian Agronomis dan Nutrisi Kacang Koro Pedang (Canavalia Ensiformis) sebagai Sumber Pakan
Armaji, Yone
Indonesia memiliki iklim tropis dengan dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Produksi hijauan umumnya lebih melimpah pada musim hujan, namun lebih sedikit pada musim kemarau. Salah satu legum yang berpotensi untuk memenuhi kebutuhan nutrien ternak ruminansia adalah Canavalia ensiformis yang dikenal kacang koro pedang. Kacang koro pedang berpotensi menjadi tanaman yang tahan terhadap penyakit, hama, dan kondisi lingkungan yang merugikan dan tumbuh relatif mudah di lahan kering, semi-kering dan lahan marjinal serta dapat menghasilkan produksi yang tinggi di daerah dengan suhu tinggi, dataran rendah, dan kelembaban tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respon tanaman kacang koro pedang yang diberikan perlakuan dosis pemupukan daun Boron yang dikombinasikan dengan penggunaan mikoriza (Miko-Seedcookies/Miko-SC), terhadap pertumbuhan, produksi biji, kandungan nutrient biji dan hijauan kacang koro pedang serta mengevaluasi ransum ternak ruminansia yang diberikan hijauan kacang koro pedang secara in vitro dan kandungan anti nutrisinya.&#13;
Penelitian ini dilaksanakan dalam 4 tahap penelitian. Tahap pertama merupakan tahap budidaya tanaman kacang koro pedang yang diberikan perlakuan dosis pupuk daun Boron yang berbeda yaitu dosis 0, 23, 46 dan 69 ppm yang dikombinasikan dengan Miko-SC dengan berat 13, 26 dan 53 g. Pada tahap ini mengevaluasi respon agronomi dari tanaman kacang koro pedang seperti pertumbuhan, produksi biji, produksi hijauan dan kualitas biji yang dihasilkan. Studi menemukan penggunaan pupuk daun Boron berbagai dosis yang dikombinasikan dengan Miko-SC tidak berpengaruh nyata terhadap komponen pertumbuhan seperti diameter batang, tinggi tanaman, panjang dan lebar daun kelima, biomasa hijauan, produksi polong/plot, produksi polong pertanaman, berat polong akan tetapi mempercepat waktu panen hanya 98 hari setelah tanam (HST). Pemberian pupuk Boron pada dosis 46 ppm yang dikombinasikan dengan berat Miko-SC 26 g merupakan dosis optimal untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas benih kacang koro pedang seperti pada parameter berat biji per 1.000 butir, produksi biji dan daya kecambah. &#13;
Penelitian tahap kedua dan ketiga memperoleh kandungan nutrien biji dan hijauan kacang koro pedang seperti proksimat, Ca, P, Mg, Mn, Cu, Zn, B, pepsin digestibility, total asam amino, skor kimia, asam amino indeks dan total digestible nutrient (TDN). Hasil penelitian tahap ini ditemukan perlakuan kombinasi pupuk daun Boron dengan inokulasi Miko-SC memberikan dampak positif terhadap kandungan nutrien yang terkandung pada biji kacang koro pedang. Dosis optimal pupuk daun Boron sebesar 69 ppm yang dikombinasikan dengan berat Miko-SC seberat 26 g. Dosis ini direkomendasikan untuk meningkatkan nutrien biji kacang koro pedang yang dapat dimanfaatkan dalam formulasi pakan serta pakan ternak yang bernutrien tinggi dan tanpa menimbulkan efek toksisitas.&#13;
Pada penelitian tahap ketiga ini didapatkan bahwa pemberian pupuk daun Boron berpengaruh nyata terhadap karakteristik kimia daun kacang koro pedang. Kombinasi perlakuan 23 ppm B dengan berat Miko-SC 26 g memberikan hasil terbaik karena meningkatkan kualitas nutrien hijauan kacang koro pedang, sehingga mempunyai potensi untuk menjadi sumber hijauan yang berkualitas dan aman untuk formulasi pakan ruminansia. &#13;
Penelitian tahap keempat mengevaluasi ransum penelitian yang ditambahkan hijauan kacang koro pedang sebesar 0, 10, 20 dan 30% secara in vitro dan kandungan anti nutrisinya. Dari penelitian tahap ini dapatkan penambahan hijauan kacang koro pedang hingga 30% dalam ransum meningkatkan protein kasar dari 15,74% menjadi 18,34% dan tetapi mempertahankan nilai TDN diatas 68%. Penambahan hingga 30% merupakan kombinasi terbaik yang dapat memperbaiki nilai KCBK dan KCBO serta meningkatkan produksi VFA. Hijaua kacang koro pedang dapat sebagai bahan pakan yang meningkatkan kecernaan dan pasokan energi mikroba pada rumen meskipun menaikan kadar NH3 tetapi masih dalam kondisi aman untuk ternak, dan pH yang tetap stabil. Untuk kandungan antinutrisinya pada tanin menurun secara signifikan, sehingga berpotensi meningkatkan efisiensi pemanfaatan protein. Pada kandungan asam sianida (HCN), tripsin inhibitor terjadi peningkatan namun masih di bawah ambang toksik bagi ruminansia, sehingga tidak menghambat aktivitas mikroba selulolitik dan masih aman untuk dikonsumsi oleh ternak. Formulasi ransum yang mengandung hingga 10 – 30% kacang koro masih sesuai dengan beberapa Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk pakan ternak kambing, domba dan sapi baik untuk tujuan penggemukan maupun pemerahan susu.&#13;
Penelitian ini membuktikan perlakuan pupuk daun Boron dosis 46 ppm dengan berat Miko-SC 26 g meningkatkan pertumbuhan, produktivitas, kandungan nutrien biji dan hijauan kacang koro pedang serta mempercepat waktu panen, kombinasi pupuk daun Boron dosis 46 ppm dengan Miko-SC berat 26 g merupakan perlakuan terbaik pada penelitian ini. Penambahan hijauan kacang koro pedang hingga 30% dalam ransum meningkatkan kecernaan, produksi VFA dan NH3, menurunkan kandungan PH, dan kandungan zat anti nutrisi masih aman untuk ternak. Kacang koro pedang berpotensi sebagai leguminosa multifungsi yaitu sebagai sumber pangan dan sumber bahan pakan fungsional. Penambahan hijauan kacang koro pedang 10 – 30% memenuhi beberapa standar SNI untuk pakan ternak kambing, domba dan sapi baik untuk tujuan penggemukan maupun produksi susu.; Indonesia has characterized by a tropical climate with only two seasons, namely the rainy and dry seasons; therefore, forage production is more abundant during the rainy season and declines markedly during the dry season. One legume with considerable potential to meet the nutritional requirements of ruminant livestock is Canavalia ensiformis, commonly known as jack bean. This species is recognized for its tolerance to diseases, pests, and adverse environmental conditions, and it is capable of growing relatively well on dry, semi-arid, and marginal soils. Moreover, high productivity can be achieved under conditions of elevated temperature, low altitude, and high humidity. The present study was conducted to evaluate the response of jack bean to foliar Boron (B) fertilization combined with arbuskula fungi mycorrhiza application (Mikoseed-cookies/Miko-SC), with respect to plant growth, seed nutrient composition, forage nutrient composition, as well as to assess ruminant rations containing sword jack bean forage through in vitro evaluation and analysis of anti-nutritional compounds.&#13;
This research was carried out in four experimental stages. The first stage involved the cultivation of jack bean subjected to different foliar B fertilizer level (0, 23, 46, and 69 ppm) combined with Miko-SC at application rates of 13, 26, and 53 g. At this stage, agronomic responses of jack bean, including growth parameters, seed yield, forage yield, and seed quality, were evaluated. The results indicated that the combined application of foliar B fertilizer and Miko-SC did not significantly affect growth components such as stem diameter, plant height, length and width of the fifth leaf, forage biomass, pod yield per plot, pod yield per plant, and pod weight; however, harvest time was accelerated to 98 days after planting. Meanwhile, foliar B application at 46 ppm combined with 26 g of Miko-SC was identified as the optimal treatment for enhancing productivity and seed quality, as indicated by improvements in 1,000 seed weight, total seed yield, and germination percentage.&#13;
The second and third phases of the study determined the nutrient composition of seeds and forage of jack bean (Canavalia ensiformis), including proximate composition, Ca, P, Mg, Mn, Cu, Zn, B, pepsin digestibility, total amino acids, chemical score, amino acid index, and total digestible nutrients (TDN). The research samples was obtained from previously tagged jack bean plants at seed harvest. The results of this phase indicated that the combined application of foliar Boron fertilizer and Miko-SC inoculation had a positive effect on the nutrient composition of jack bean seeds. The optimal foliar Boron dose was 69 ppm when combined with 26 g of Miko-SC. This dosage was recommended to enhance the nutrient content of jack bean seeds, which can be utilized in functional feed formulations and high-nutrient livestock feeds without inducing toxic effects.&#13;
In the third phase of the study, research samples was collected from the forages harvest of previously tagged jack bean plants. This phase demonstrated that foliar Boron application significantly affected the chemical characteristics of jack bean forages. The combination treatment of 23 ppm Boron with 26 g of Miko-SC produced the best results by improving the nutritional quality of jack bean forages, thereby indicating its potential as a high-quality and safe forage source for ruminant feed formulation.&#13;
The fourth phase of the study evaluated the experimental diets supplemented with jack bean (Canavalia ensiformis) forage at inclusion levels of 0, 10, 20, and 30% through in vitro analysis, along with the assessment of their anti-nutritional contents. This phase demonstrated that the inclusion of jack bean forage up to 30% in the diet increased crude protein content from 15.74% to 18.34%, while maintaining total digestible nutrient (TDN) values above 68%. This treatment represented the optimal combination for improving dry matter digestibility and organic matter digestibility, increasing volatile fatty acid (VFA) production, elevating NH3 concentration while remaining within safe limits for livestock, and maintaining stable rumen pH values. Regarding anti-nutritional factors, tannin content decreased significantly, thereby potentially enhancing protein utilization efficiency. Although hydrogen cyanide (HCN) and trypsin inhibitor contents increased, their levels remained below the toxic thresholds for ruminants, indicating no inhibition of cellulolytic microbial activity and ensuring safety for livestock consumption. Diet formulations containing up to 10 – 30% jack bean forage was consistent with several Indonesian National Standards (SNI) for goat, sheep, and cattle feeds, for both fattening and dairy production purposes.&#13;
This study demonstrated that foliar application of Boron fertilizer at a concentration of 46 ppm combined with 26 g of Miko-SC significantly enhanced growth, productivity, and nutrient content of both seeds and forage of jack bean, while also accelerating harvest time. The combination of 46 ppm Boron foliar fertilizer and 26 g Miko-SC was identified as the best treatment in this study. Inclusion of sword bean forage up to 30% in the diet improved digestibility, VFA and NH3 production, reduced pH values, and maintained anti-nutritional compound levels within safe limits for livestock. Jack bean showed strong potential as a multifunctional legume, serving as both a food source and a functional feed ingredient. Inclusion levels of 10 – 30% sword bean forage met several SNI requirements for goat, sheep, and cattle feeds intended for both fattening and milk production.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172774</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Kinerja Fisiologis dan Produktivitas Puyuh (Coturnix coturnix japonica) yang Diberi Ekstrak Daun Bandotan (Ageratum conyzoides L.)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172747</link>
<description>Kinerja Fisiologis dan Produktivitas Puyuh (Coturnix coturnix japonica) yang Diberi Ekstrak Daun Bandotan (Ageratum conyzoides L.)
Hariono
Puyuh (Coturnix coturnix japonica) adalah komoditas unggas bernilai ekonomi tinggi yang dimanfaatkan sebagai penghasil telur dan daging. Namun, peningkatan suhu lingkungan di wilayah tropis berpotensi menimbulkan cekaman panas yang berdampak negatif terhadap fungsi fisiologis dan produktivitas puyuh. Cekaman panas diketahui dapat meningkatkan produksi radikal bebas yang memicu stres oksidatif, menyebabkan kerusakan sel, penurunan kualitas spermatozoa dan penurunan performa produksi. Upaya penanggulangan stres oksidatif umumnya dilakukan melalui pemberian antioksidan sintetis, namun penggunaannya dibatasi karena potensi efek toksik dan residu pada produk ternak. Oleh karena itu, eksplorasi antioksidan alami menjadi alternatif yang lebih aman dan ramah lingkungan. Ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides L.) diketahui mengandung senyawa bioaktif yang berperan sebagai antioksidan. Penelitian mengenai efeknya terhadap fisiologi dan produktivitas puyuh di lingkungan tropis masih terbatas. Tujuan umum penelitian ini adalah mengkaji dan menganalisis pengaruh pemberian ekstrak daun bandotan pada berbagai dosis terhadap kinerja fisiologis dan produktivitas puyuh.&#13;
Sebanyak 200 ekor puyuh betina dan 100 ekor puyuh jantan dipelihara secara terpisah dalam kandang berbeda. Ekstrak daun bandotan diberikan melalui air minum selama empat minggu dengan empat dosis perlakuan dan lima ulangan, yaitu P0 (0 mg ekor?¹ hari?¹, kontrol), P1 (75 mg ekor?¹ hari?¹), P2 (150 mg ekor?¹ hari?¹) dan P3 (225 mg ekor?¹ hari?¹). Suhu dan kelembapan lingkungan kandang diukur tiga kali sehari. Peubah yang diamati pada puyuh betina meliputi indikator stres fisiologis, yaitu saturasi oksigen, aktivitas enzim antioksidan superoksida dismutase (SOD) dan glutation peroksidase (GPx), serta kadar MDA. Peubah hematologis pada puyuh betina mencakup jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, nilai hematokrit dan total leukosit. Profil biokimia darah puyuh betina dinilai melalui kadar kolesterol dan glukosa darah. Ketahanan tubuh puyuh betina dievaluasi melalui uji tantang menggunakan bakteri Salmonella pullorum. Peubah performa produksi puyuh betina meliputi mortalitas, konsumsi pakan, produksi telur, massa telur dan konversi pakan. Kualitas telur dinilai berdasarkan peubah fisik telur, yaitu bobot telur, ketebalan kerabang telur, skor warna kuning telur dan nilai Haugh Unit telur, serta peubah kimia telur yang meliputi kadar kolesterol kuning telur, kadar MDA kuning telur dan nilai IC50 kuning telur. Pengamatan pada puyuh jantan meliputi evaluasi karakteristik semen segar secara makroskopis, yaitu warna, konsistensi dan pH semen, serta secara mikroskopis, meliputi gerakan massa, motilitas, viabilitas dan persentase abnormalitas spermatozoa.&#13;
Hasil pengamatan kondisi lingkungan pemeliharaan puyuh menunjukkan perbedaan tingkat cekaman termal pada waktu pengamatan pagi, siang dan sore hari. Hasil analisis fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak daun bandotan mengandung senyawa bioaktif dengan potensi antioksidan, meliputi total flavonoid sebesar 3,33%, total fenol 6,57%, tanin 0,06% dan asiatikosida 5,67 mg g?¹, serta secara kualitatif mengandung steroid dan saponin, dengan nilai IC50 sebesar 174,84 µg mL?¹ yang menunjukkan aktivitas antioksidan sedang. Pemberian ekstrak daun bandotan memberikan pengaruh signifikan terhadap berbagai peubah fisiologis dan produktivitas puyuh. Perlakuan pada puyuh betina menurunkan kadar MDA hati dan kolesterol darah, meningkatkan kematian bakteri Salmonella pullorum, serta meningkatkan konsumsi pakan, produksi telur dan massa telur dengan tingkat mortalitas yang rendah. Kualitas kimia telur juga mengalami perbaikan yang ditunjukkan oleh penurunan kadar kolesterol dan MDA serta peningkatan nilai IC50 kuning telur. Perlakuan pada puyuh jantan meningkatkan kualitas semen segar yang ditandai oleh pH semen yang stabil, motilitas spermatozoa yang lebih tinggi, tingkat abnormalitas yang lebih rendah, serta konsistensi semen yang lebih kental yang mencerminkan konsentrasi spermatozoa yang lebih tinggi.&#13;
Hasil penelitian menyimpulkan  bahwa pemberian ekstrak daun bandotan berpengaruh positif terhadap fungsi fisiologis dan produktivitas puyuh. Ekstrak daun bandotan mampu menekan dampak cekaman panas dengan menurunkan kadar malondialdehida MDA hati sebagai biomarker stres oksidatif serta menurunkan kadar kolesterol darah, meningkatkan imunitas dan memperbaiki performa produksi serta kualitas kimia telur pada puyuh betina. Pada puyuh jantan, pemberian ekstrak daun bandotan memperbaiki kualitas semen yang ditunjukkan oleh kestabilan pH, peningkatan motilitas spermatozoa, serta penurunan tingkat abnormalitas. Dosis 150 mg ekor?¹ hari?¹ secara keseluruhan merupakan perlakuan yang paling efektif dalam meningkatkan kesehatan fisiologis dan produktivitas puyuh.&#13;
&#13;
Kata kunci: bandotan, cekaman panas, fisiologis, produktivitas, puyuh
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172747</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Kajian Keragaman Fenotipik dan Total&#13;
Genom Mitokondria Kerbau Jambi Sebagai Dasar Strategi Pelestariannya</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172459</link>
<description>Kajian Keragaman Fenotipik dan Total&#13;
Genom Mitokondria Kerbau Jambi Sebagai Dasar Strategi Pelestariannya
Hendrawan, Panca Andes
Kerbau merupakan salah satu ternak lokal yang memiliki peran strategis dalam sektor peternakan, pertanian, berperan penting dalam berbagai seremonial keagamaan, dan upacara adat masyarakat Jambi. Namun, populasi kerbau Jambi telah mengalami penurunan drastis sebesar 34,13% dalam dua dekade terakhir, sehingga mengancam keberlanjutan populasi dan berpotensi menyebabkan hilangnya identitas genetik ternak lokal. Kondisi tersebut memerlukan upaya mitigasi melalui program pelestarian dan perbaikan mutu genetik yang berlandaskan kajian ilmiah. Sayangnya, hingga saat ini data dasar mengenai kajian struktur populasi, keragaman fenotipik, serta profil genetik pada tingkat DNA mitokondria masih sangat terbatas. Padahal, informasi tersebut merupakan landasan utama bagi pengembangan strategi pelestarian serta peningkatan mutu genetik yang terukur dan berkelanjutan.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi struktur populasi, keragaman fenotipik, dan genetik pada tingkat DNA kerbau Jambi. Penelitian terdiri atas empat tahap: (1) analisis struktur populasi, estimasi ukuran populasi efektif, dan laju inbreeding berbasis data sekunder; (2) karakterisasi fenotipik menggunakan analisis multivariat; (3) analisis keragaman genetik menggunakan penanda genetik ND1 (NADH dehydrogenase subunit 1) mitokondria; dan (4) karakterisasi dan analisis total genom mitokondria (whole mtDNA).&#13;
Data populasi ternak kerbau sebanyak 3.149 ekor diperoleh dari Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional Terintegrasi (iSIKHNAS) Kabupaten Batanghari tahun 2023. Data populasi mencakup kerbau anak (523 ekor: 230 jantan, 293 betina), muda (932 ekor: 346 jantan, 586 betina), dan kerbau dewasa (1.694 ekor: 164 jantan, 1.530 betina). Hasil analisis struktur populasi menunjukkan laju pertumbuhan alami sebesar 14,74%, tingkat penggantian bersih sebesar 279,51%, estimasi ukuran populasi efektif sebesar 592 ekor, dan laju inbreeding per generasi sebesar 0,08%. Analisis dinamika populasi menunjukkan penurunan populasi rata-rata 8,94% per tahun, dengan proyeksi mencapai 4.112 ekor pada tahun 2028, sehingga diperlukan intervensi manajemen pemeliharaan yang meliputi peningkatan ketersediaan jantan dewasa unggul, manajemen penyakit, dan pemberian pakan tambahan untuk meningkatkan produktivitas.&#13;
Pengamatan fenotipik dilakukan pada 168 sampel kerbau dari lima kabupaten di provinsi Jambi yaitu kabupaten Tebo, Tanjung Jabung Barat, Batanghari, Kerinci, dan Merangin. Karakterisasi fenotipik meliputi sifat kualitatif, pengukuran morfometrik, dan indeks morfometrik. Data sifat kualitatif dianalisis menggunakan metode statistik deskriptif, selanjutnya data morfometrik dan indeks morfometrik dianalisis menggunakan General linear model (GLM), pearson korelasi, analisis komponen utama (PCA), canonical discriminant analysis (CDA), dan hierarchical cluster analysis (HCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna kulit abu gelap mendominasi semua populasi (44,7–62,5%), dengan variasi warna hitam yang tertinggi di Batanghari (42,1%). Bentuk&#13;
tanduk menunjukkan keragaman tertinggi dengan lima tipe, didominasi bentuk Siki (26,9–62,5%). Analisis morfometrik mengungkapkan perbedaan signifikan (p &lt; 0,05) antar populasi, dengan lebar pinggul (LPU) dan lingkar dada (LDD) menjadi penciri pembeda kerbau Jantan. Berdasarkan analisis indeks morfometrik menunjukkan populasi dikategorikan sebagai tipe pendek-kompak dengan kedalaman dada yang baik, mengindikasikan potensi sebagai penghasil daging. Analisis komponen utama (PCA) mengklasifikasikan pemisahaan yang lebih jelas pada jantan (PC1: 58,9%) dibanding betina (PC1: 54,9%), dengan lebar pinggul dan lingkar dada sebagai pembeda utama. Canonical discriminant analysis (CDA) mencapai akurasi 87,43% dalam membedakan kelima populasi. Hierarchical cluster analysis (HCA) mengidentifikasi tiga klaster berdasarkan tipe tubuh.&#13;
Analisis keragaman genetik berdasarkan gen ND1 menggunakan sampel DNA yang dikoleksi dari 93 individu kerbau yang terdistribusi di lima sub populasi Jambi (Tebo: 23; Merangin: 9; Tanjung Jabung Barat: 9; Kerinci: 13; Batanghari: 21) dan tiga populasi pembanding (Banten: 4; Sumatera Utara: 6; Riau: 8). Gen ND1 diamplifikasi menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) dengan desain primer spesifik berbasis sekuen referensi GenBank Bubalus bubalis. Sekuensing dilakukan terhadap seluruh 93 sampel, dan analisis sekuen gen ND1 dilakukan menggunakan perangkat lunak MEGA 12, DnaSP6, dan NETWORK. Hasil analisis keragaman genetik menunjukan keragaman genetik yang sangat rendah pada kerbau Jambi dengan keragaman haplotipe (Hd) sebesar 0,128 dan keragaman nukleotida (p) sebesar 0,0002. Sebanyak 93,33% terdistribusi dalam satu klaster haplotipe nenek moyang dominan (Haplotipe 2) dan ditemukan haplotipe spesifik (H1, H3, dan H4) yang terdeteksi pada sub populasi Merangin dan Tanjung Jabung Barat. Nilai Fu's negatif (-2,146) menunjukan inbreeding tinggi dengan indikasi populasi telah mengalami peristiwa bottleneck yang parah. Analisis filogenetik menunjukkan bahwa kerbau Jambi berada dalam kelompok kerbau lumpur Asia Tenggara dan menjadi sub populasi berbeda dengan kerbau Asia maupun kerbau lokal lainnya.&#13;
Analisis total genom mitokondria dilakukan menggunakan empat sampel selanjutnya disekuensing menggunakan platform Illumina NextSeq 2000 dengan pembacaan 300 siklus. Analisis sekuen total genom mtDNA dilakukan menggunakan software Geneious Prime. Sekuensing dan anotasi total genom mitokondria kerbau Jambi menghasilkan sekuen sepanjang 16.360 pasang basa (bp) yang mengkode 13 gen penyandi protein (PCGs), 22 gen transfer RNA (tRNA), 2 gen ribosomal RNA (rRNA) serta satu daerah D-loop. Analisis komposisi nukleotida mengungkapkan adanya bias AT yang dominan (69,81%), konsisten dengan karakter umum mitokondria kerbau, 12 PCGs dikodekan pada untai berat dan ND6 dikodekan pada untai ringan. Start kodon yang umum ditemukan adalah (ATG dan ATA) dan start kodon tidak lengkap TA-. Analisis filogenetik berdasarkan total genom mtDNA menunjukkan bahwa kerbau Jambi berbeda (sub populasi) dengan kerbau lain khususnya di Asia Tenggara sedangkan analisis filogenetik berdasarkan region d-loop mtDNA menunjukkan pemisahan yang jelas antara kerbau Batanghari, Tebo dan kerinci menjadi dua kelompok yaitu kerbau dataran tinggi dan dataran rendah mengindikasikan perbedaan yang spesifik antar populasi tersebut.&#13;
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kerbau Jambi memiliki karakteristik struktural, fenotipik, dan genetik yang spesifik dan&#13;
memerlukan program konservasi prioritas. Data populasi menunjukkan tren penurunan rata-rata 8,94% per tahun dengan proyeksi menurun menjadi 4.112 ekor pada tahun 2028 dengan ukuran populasi efektif rendah (592 ekor). Karakterisasi fenotipik menunjukkan tipe pendek-kompak berpotensi penghasil daging dengan lebar pinggul dan lingkar dada sebagai penciri pembeda berdasarkan analisis komponen utama (PCA). Analisis keragaman genetik gen ND1 menunjukkan keragaman sangat rendah (Hd: 0,128; p: 0,0002) dengan 93,33% konsentrasi pada haplotipe dominan, indikasi bottleneck parah dan inbreeding tinggi (Fu's: -2,146). Ditemukan haplotipe (H1, H3, H4) spesifik pada Merangin dan Tanjung Jabung Barat sebagai penyimpan keragaman genetik. Analisis filogenetik D-loop mtDNA mengungkapkan pemisahan jelas antara kerbau dataran tinggi (Kerinci) dan dataran rendah (Batanghari dan Tebo), menunjukkan adaptasi genetik spesifik terhadap lingkungan. Disimpulkan bahwa kerbau Jambi memiliki struktur genetik kompleks dengan dua kelompok ekologis berbeda, haplotipe ND1 langka pada Merangin dan Tanjung Jabung Barat, dan region D-loop sebagai penciri pembeda antar populasi. Kerbau Jambi layak dipertahankan sebagai sumber daya genetik ternak dengan program konservasi terukur yang mempertimbangkan diferensiasi ekologis dan penanda genetik (ND1 dan D-loop) untuk identifikasi dan pelestarian.&#13;
Kata kunci: Genom mitokondria, keragaman fenotipik, keragaman ND1, strategi pelestarian, struktur populasi; Buffaloes are local livestock with a strategic role in the livestock and agricultural sectors, playing an important part in various religious ceremonies and traditional rituals of the Jambi community. However, the buffalo population in Jambi has declined drastically by 34.13% over the past two decades, threatening the sustainability of the population and potentially resulting in the loss of the local livestock genetic identity. These conditions require mitigation efforts through conservation programs and genetic quality improvement based on scientific research. Unfortunately, to date, baseline data on population structure studies, phenotypic diversity, and genetic profiles at the mitochondrial DNA level remain limited. Such information is fundamental for developing measurable and sustainable conservation strategies and improving genetic quality.&#13;
This study aimed to characterize the population structure, phenotypic diversity, and genetic diversity at the DNA level of Jambi buffalo. The research consists of four stages: (1) analysis of population structure, estimation of effective population size, and inbreeding rate based on secondary data; (2) phenotypic characterization using multivariate analysis; (3) analysis of genetic diversity using the ND1 (NADH dehydrogenase subunit 1) mitochondrial genetic marker; and (4) characterization and analysis of the whole mitochondrial genome (mtDNA).&#13;
The buffalo livestock population, totaling 3,149 heads, was obtained from the Integrated National Animal Health Information System (iSIKHNAS) of Batanghari Regency in 2023. The population data included calves (523 heads: 230 males and 293 females), young buffaloes (932 heads: 346 males and 586 females), and adult buffaloes (1,694 heads: 164 males and 1,530 females). Analysis of the population structure showed a natural growth rate of 14.74%, net replacement rate of 279.51%, estimated effective population size of 592 individuals, and inbreeding rate per generation of 0.08%. Population dynamics analysis indicated an average annual population decline of 8.94%, with a projected population of 4,112 heads by 2028. Therefore, management interventions are needed, including the increased availability of superior adult males, optimal disease management, and the provision of supplementary feed to enhance productivity.&#13;
Phenotypic observations were performed on 168 buffalo samples from five regencies in Jambi Province: Tebo, Tanjung Jabung Barat, Batanghari, Kerinci, and Merangin. Phenotypic characterization included qualitative traits, morphometric measurements and morphometric indices. Qualitative trait data were analyzed using descriptive statistical methods, whereas morphometric and morphometric index data were analyzed using the General Linear Model (GLM), Pearson correlation, principal component analysis (PCA), canonical discriminant analysis (CDA), and hierarchical cluster analysis (HCA). The results showed that dark gray skin color dominated all populations (44.7–62.5%), with the highest black color variation found in Batanghari cattle (42.1%). Horn shape exhibited the highest diversity, with five types, dominated by the Siki shape (26.9–62.5%). Morphometric analysis revealed significant differences (p &lt; 0.05) between&#13;
populations, with hip width (LPU) and chest girth (LDD) distinguishing the male buffaloes. Based on morphometric index analysis, the populations were categorized as short-compact types with good chest depth, indicating their potential as meat producers. Principal component analysis (PCA) revealed a clearer separation among males (PC1:58.9%) than among females (PC1:54.9%), with hip width and chest girth as the main distinguishing factors. Canonical discriminant analysis (CDA) achieved an accuracy of 87.43% in differentiating the five populations studied. Hierarchical cluster analysis (HCA) identified three clusters based on the body type.&#13;
Genetic diversity analysis based on the ND1 gene was conducted using DNA samples collected from 93 individual buffaloes distributed across five Jambi subpopulations (Tebo: 23; Merangin: 9; Tanjung Jabung Barat: 9; Kerinci: 13; Batanghari: 21) and three comparison populations (Banten: 4; North Sumatra: 6; Riau: 8). The ND1 gene was amplified using the polymerase chain reaction (PCR) method with a specific primer design based on the Bubalus bubalis reference sequence from the GenBank database. Sequencing was performed on all 93 samples, and ND1 gene sequence analysis was conducted using MEGA 12, DnaSP6, and NETWORK software programs. The results of the genetic diversity analysis showed very low genetic diversity in Jambi buffalo, with a haplotype diversity (Hd) of 0.128 and nucleotide diversity (p) of 0.0002. A total of 93.33% were distributed in a single dominant ancestral haplotype cluster (Haplotype 2), and rare haplotypes (H1, H3, and H4) were detected in the Merangin and Tanjung Jabung Barat subpopulations. The negative Fu’s value (-2.146) indicates high inbreeding, suggesting that the population has experienced a severe bottleneck. Phylogenetic analysis showed that the Jambi buffalo belong to the Southeast Asian swamp buffalo group and form a distinct subpopulation from other Asian buffaloes and local buffalo breeds.&#13;
Total mitochondrial genome analysis was performed using two liver tissue samples, which were sequenced using the Illumina NextSeq 2000 platform with 300-cycle reads. Total mtDNA genome sequence analysis was conducted using the Geneious Prime software. Sequencing and annotation of the total mitochondrial genome of the Jambi buffalo produced a sequence of 16,360 base pairs (bp) encoding 13 protein-coding genes (PCGs), 22 transfer RNA (tRNA) genes, 2 ribosomal RNA (rRNA) genes, and one D-loop region. Nucleotide composition analysis revealed a predominant AT bias (69.81%), consistent with the general characteristics of buffalo mitochondria; 12 PCGs are encoded on the heavy strand, and ND6 is encoded on the light strand. The common start codons identified were (ATG and ATA) and an incomplete start codon, TA-. Phylogenetic analysis based on the total mtDNA genome showed that Jambi buffalo are distinct (a sub-population) from other buffalo, particularly in Southeast Asia, while phylogenetic analysis based on the mtDNA D-loop region revealed a clear separation between Batanghari, Tebo, and Kerinci buffalo into two groups highland and lowland buffalo indicating specific differences between these populations.&#13;
Based on the research results, it can be concluded that Jambi buffalo possess specific structural, phenotypic, and genetic characteristics and require a priority conservation program. Population data show a declining trend at an average rate of 8.94% per year, with projections dropping to 4,112 individuals by&#13;
2028 and a low effective population size (592 individuals). Phenotypic characterization indicated a short-compact type with potential for meat production, with hip width and chest girth serving as distinguishing features based on principal component analysis (PCA). Analysis of genetic diversity in the ND1 gene showed very low diversity (Hd: 0.128; p: 0.0002), with 93.33% concentrated in a dominant haplotype, indicating a severe bottleneck and high inbreeding (Fu's: -2.146). Rare haplotypes (H1, H3, and H4) specific to Merangin and Tanjung Jabung Barat were found, serving as reservoirs of genetic diversity. Phylogenetic analysis of the mtDNA D-loop revealed a clear separation between highland buffaloes (Kerinci) and lowland buffaloes (Batanghari and Tebo), indicating specific genetic adaptation to their environment. In conclusion, the Jambi buffalo has a complex genetic structure with two distinct ecological groups, rare ND1 haplotypes in Merangin and Tanjung Jabung Barat, and the D-loop region serves as a distinguishing marker between populations. The Jambi buffalo is worthy of preservation as a genetic livestock resource through a measurable conservation program that considers ecological differentiation and genetic markers (ND1 and D-loop) for identification and preservation.&#13;
Keywords: conservation strategy, mitochondrial genome, ND1 diversity, phenotypic diversity, population structure
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172459</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Modifikasi Ukuran Partikel Bungkil Inti Sawitdansuplementasi Enzim ß-Mannanase Dalam Pakan Untuk Meningkatkan Kecernaan Nutrien Dan Performa Ayam Broiler</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171448</link>
<description>Modifikasi Ukuran Partikel Bungkil Inti Sawitdansuplementasi Enzim ß-Mannanase Dalam Pakan Untuk Meningkatkan Kecernaan Nutrien Dan Performa Ayam Broiler
Setiana, Ina
Pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi peternakan, sehingga ketersediaan bahan baku yang berkualitas dan terjangkau menjadi faktor kunci dalam menentukan efisiensi dan keberlanjutan usaha ternak. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan pakan dan terbatasnya ketersediaan bahan baku konvensional yang kerap bersaing dengan kebutuhan pangan manusia, harga bahan baku seperti jagung dan bungkil kedelai pun melonjak tajam. Hal ini mendorong pencarian bahan baku alternatif yang tidak hanya ekonomis, tetapi juga tersedia secara lokal dan dalam jumlah mencukupi. &#13;
Salah satu solusi potensial yang banyak dikaji adalah pemanfaatan bungkil inti sawit (BIS), yaitu produk samping dari industri minyak kelapa sawit, sebagai bahan baku pakan unggas. BIS memiliki keunggulan berupa harga yang relatif lebih murah dibandingkan bungkil kedelai dan jagung, serta mengandung protein dan energi yang dapat dimanfaatkan dalam formulasi pakan broiler. Potensi ini menjadikan BIS sebagai alternatif strategis dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor dan menekan biaya produksi pakan. Selain itu, pemanfaatan BIS juga mendukung prinsip keberlanjutan melalui optimalisasi limbah industri sawit yang berlimpah di Indonesia. Dengan demikian, integrasi BIS ke dalam pakan unggas tidak hanya menjawab tantangan ekonomi dalam industri peternakan, tetapi juga mendukung efisiensi sumber daya dan pengelolaan limbah secara berkelanjutan.Pemanfaatan BIS dalam pakan ayam broiler juga masih belum optimal. Oleh karena itu, diperlukan kajian mengenai modifikasi ukuran partikel dan tingkat penggunaannya dalam pakan ayam broiler untuk memperoleh kombinasi ideal. Partikel yang terlalu kasar dapat menurunkan efisiensi kerja enzim karena permukaan kontak yang terbatas, sedangkan partikel yang terlalu halus dapat mempercepat transit pakan dalam saluran pencernaan sehingga mengurangi waktu retensi dan penyerapan nutrien.&#13;
Pada penelitian pertama menunjukkan hasil perlakuan BIS ukuran partikel 2,5 mm dengan suplementasi enzim ß-mannanase menunjukkan nilaienergi metabolis semu (AME) dan energi metabolis semuterkoreksi nitrogen (AMEn)  tertinggi secara signifikan, yaitu masing-masing sebesar 2.572 kkal kg-1 dan 2.563 kkal kg-1, sedangkan nilai terendah diperoleh pada perlakuan BIS 4 mm yang tanpa ?-mannanase, dengan nilai AME sebesar 2.226 kkal kg-1 dan AMEn sebesar 2.185 kkal kg-1. Hasil rata-rata penggunaan ukuran partikel BIS berukuran 2,5 mm memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan nilai AME 2.538 kkal kg-1 dan AMEn 2.507 kkal kg-1. BIS dengan ukuran 1 mm menghasilkan nilai AME 2.463 kkal kg-1 dan AMEn 2.434 kkal kg-1 yang tidak berbeda nyata dengan BIS ukuran 2,5 mm sedangkan BIS ukuran 4 mm menghasilkan nilai AME 2.322 kkal kg-1 dan AMEn 2.298 kkal kg-1 berbeda nyata (P&lt;0,05). Suplementasi enzim secara nyata (P&lt;0,05) meningkatkan nilai AME rata-rata 2.488 kkal kg-1 dan AMEn 2.394 kkal kg-1. &#13;
Tahap kedua dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh level penggunaan BIS dan suplementasi enzim ?-mannanase terhadap performa ayam broiler. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial 3×2 dengan tiga level penggunaan BIS (5%, 10%, dan 15%) dan dua level enzim (tanpa dan dengan penambahan). Parameter yang diamati meliputi konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, dan konversi pakan selama periode pemeliharaan (starter hingga finisher). Hasil menunjukkan bahwa terdapat interaksi nyata (P&lt;0,05) antara level BIS dan penambahan enzim terhadap konversi pakan, namun tidak terhadap konsumsi dan pertambahan bobot badan. Penggunaan BIS hingga 10% dengan penambahan enzim menghasilkan efisiensi pakan terbaik, sehingga menunjukkan potensi BIS sebagai bahan alternatif dengan dukungan enzimatik.&#13;
Tahap ketiga bertujuan untuk mengevaluasi secara in vivoukuran partikel dan level BIS dalam pakan ayam broiler guna memperoleh performa optimal. BIS yang digunakan dibagi menjadi dua ukuran partikel (2,5 mm dan 1 mm) dengan tiga level penggunaan (5%, 10%, dan 15%). Penelitian in vivo menggunakan 1.440 ekor ayam broiler ROSS 308 umur 0–35 hari, dengan rancangan acak lengkap pola faktorial 2×3. Enam perlakuan yang diuji adalah: (P1) 2,5 mm–5% BIS, (P2) 1 mm–5% BIS, (P3) 2,5 mm–10% BIS, (P4) 1 mm–10% BIS, (P5) 2,5 mm–15% BIS, dan (P6) 1 mm–15% BIS. Parameter yang diamati meliputi berat badan (BB), konsumsi pakan (FI), rasio konversi pakan (FCR), dan european efficiency factor (EEF). Hasil menunjukkan bahwa peningkatan level BIS menurunkan indeks daya tahan pelet. Penurunan ukuran partikel dapat secara signifikan meningkatkan efisisensi pakan.&#13;
Tahap keempat bertujuan mengevaluasi efektivitas level penggunaan BIS dan dosis suplementasi enzim ?-mannanase dalam meningkatkan performa ayam broiler. Penelitian ini terdiri dari dua sub-tahapan: pengukuran nilai AME dan AMEn, serta uji performa selama 32 hari. Penelitian ini terdiri atas 9 perlakuan dengan rancangan acak lengkap pola faktorial desain 3×3 yaitu 3 level BIS dan 3 level dosis enzim. Suplementasi enzim dengan 2 dosis menunjukkan nilai AME dan AMEn yang paling tinggi. Hasil ini sejalan dengan pengamatan performa ayam yang menunjukkan hasil efisiensi pakan yang lebih baik ketika ada peningkatan dosis enzim dalam pakan.&#13;
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa suplementasi enzim ?-mannanase meningkatkan nilai AME dan AMEn BIS secara signifikan. Penggunaan enzim ?-mannanase juga berkontribusi pada peningkatan bobot badan dan efisiensi performa ayam broiler. Penggunaan BIS dalam persentase   besar sampai 10% dalam formula pakan yang diproduksi dengan industri skala besar perlu dipertimbangkan dengan tetap memperhitungkan kualitas pelet  yang dihasilkan  .
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171448</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
