<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>DF - Agriculture Technology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83</link>
<description/>
<pubDate>Tue, 22 Sep 2026 18:55:46 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-09-22T18:55:46Z</dc:date>
<item>
<title>Desain Model Peningkatan Kinerja Rantai Pasok Berkelanjutan Agroindustri Tuna dengan Pendekatan Soft System Dynamics Methodology (Studi Kasus di PT XYZ)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179858</link>
<description>Desain Model Peningkatan Kinerja Rantai Pasok Berkelanjutan Agroindustri Tuna dengan Pendekatan Soft System Dynamics Methodology (Studi Kasus di PT XYZ)
Wibowo, Raden Bagus Tri Joko
PT XYZ merupakan salah satu industri perikanan tuna skala menengah yang berlokasi di Bali. Nilai tambah yang dihasilkan dari proses penanganan tuna PT XYZ masih tergolong rendah karena proses utama penanganan tunanya adalah pembekuan. Pasar utama dari PT XYZ masih sangat terbatas karena PT XYZ berposisi sebagai pemasok bagi industri perikanan lain yang mengolah tuna dengan nilai tambah yang lebih tinggi. PT XYZ mendapatkan pasokan tuna dari hasil tangkapan kapal berjenis handline. Fasilitas penanganan tuna pada kapal jenis handline belum memadai untuk mempertahankan tuna pada kualitas yang terbaik. Hal ini menunjukkan bahwa rantai pasok PT XYZ memiliki potensi perbaikan yang sangat banyak. Perbaikan rantai pasok PT XYZ perlu dilakukan agar kinerja rantai pasoknya meningkat dan mampu bersaing dengan industri perikanan lain yang lebih unggul di Bali.&#13;
PT XYZ menghadapi permasalahan yang kompleks dan ambigu, namun juga memerlukan perbaikan yang terukur dan mudah dievaluasi. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan pendekatan soft system dynamics methodology untuk mengkaji permasalahan dan potensi perbaikan dari rantai pasok PT XYZ. Aspek permasalahan utama yang dikaji adalah kinerja, susut, dan risiko rantai pasok. Penelitian studi kasus rantai pasok di PT XYZ ini menggunakan data primer dan data sekunder. Penelitian dilaksanakan sejak April 2024 hingga April 2026. Data dikumpulkan dengan wawancara, observasi, kajian literatur, dan pendapat pakar.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis situasional rantai pasok agroindustri tuna frozen, 2) mengevaluasi kinerja keberlanjutan sistem rantai pasok agroindustri tuna frozen dilihat pada aspek resilience, ekonomi, sosial, maupun lingkungan, 3) menganalisis susut dan faktor penyebab susut pada rantai nilai agroindustri tuna frozen, 4) menganalisis risiko rantai pasok agroindustri  tuna frozen dan 5) merancang bangun model peningkatan kinerja rantai pasok yang berkelanjutan pada agroindustri  tuna frozen PT XYZ.&#13;
Tahapan penelitian meliputi: 1) menganalisis situasional rantai pasok dengan pendekatan Vorst, 2) melakukan pembobotan indikator kinerja rantai pasok menggunakan analytical hierarchy process (AHP), 3) mengukur kinerja rantai pasok menggunakan supply chain operation reference digital standard (SCOR DS) dan pemilihan strategi peningkatan kinerja dengan menggunakan fuzzy AHP, 4) menganalisis risiko dan sumber risiko dengan menggunakan house of risk, 5) menyusun causal loop diagram (CLD) dan stock flow diagram (SFD) yang menggambarkan dinamika variabel utama peningkatan kinerja.&#13;
	Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Situasi industri tuna, khususnya di Bali, sangat memengaruhi pengelolaan rantai pasok tuna PT XYZ. Volume produksi PT XYZ sangat kecil dibandingkan dengan total volume tangkapan tuna di Pelabuhan Benoa. PT XYZ memiliki sumber daya aset pengolahan tuna yang cukup dan sistem manajemen yang lengkap, namun tidak beroperasi dengan baik. PT XYZ mengalami kendala di dua sisi, yaitu sisi pasokan dan sisi penjualan. PT XYZ kehilangan pembeli besar di sisi penjualan dan kehilangan pemasok besar di sisi pasokan. Hal tersebut menyebabkan PT XYZ tidak mampu bersaing dengan baik dengan industri perikanan di Bali; 2) kinerja keberlanjutan rantai pasok agroindustri tuna berada pada tingkat moderat. Rantai pasok agroindustri tuna yang dikaji memiliki 2 aktor utama, yaitu agroindustri tuna dan nelayan tuna. Tingkat kinerja keberlanjutan rantai pasok aktor agroindustri senilai 69,9%. Tingkat kinerja keberlanjutan rantai pasok aktor nelayan senilai 74%. Kedua nilai tingkat kinerja tersebut masuk ke dalam kategori moderat. Tingkat kinerja tersebut disebabkan oleh adanya banyak sumber risiko yang menghambat pencapaian kinerja. Alternatif peningkatan kinerja bersama adalah peningkatan kompetensi pengolahan tuna melalui pelatihan dan sosialisasi, kemitraan agroindustri dengan nelayan dan/atau UMKM (berbagi pemanfaatan by-product), peningkatan implementasi jaminan keamanan pangan (CPIB) pada aktor nelayan, peningkatan fasilitas bongkar muat tuna di lokasi pendaratan dan peningkatan implementasi jaminan keamanan pangan (HACCP) pada aktor agroindustri; 3) hasil tangkapan aktor nelayan yang menangkap dengan kapal jenis handline berada pada tingkat mutu 25% masuk kategori lokal dengan susut mutu pada pemeriksaan mutu pada agroindustri senilai 3% yang diakibatkan adanya yake dan asuki; 4) aktor agroindustri dan nelayan masing-masing memiliki risiko dan sumber risiko yang kompleks. Tindakan pencegahan sumber risiko yang paling prioritas pada aktor agroindustri adalah peningkatan kualitas manajemen internal untuk meningkatkan efektivitas proses bisnis (PA3), sedangkan tindakan pencegahan sumber risiko pada aktor nelayan adalah pengendalian dan penurunan susut tuna (PA1); dan 5) perancangan model sistem dinamik peningkatan kinerja rantai pasok menghasilkan empat submodel, yaitu submodel kualitas, submodel nilai tambah, submodel aset, submodel fleksibilitas pasar. Peningkatan kinerja difokuskan pada variabel downgrade, nilai tambah dan by-product, return on fixed assets, dan fleksibilitas pasar. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kontinuitas pasokan bahan baku tuna dan pengolahan tuna menjadi faktor penentu perbaikan kinerja pada keempat variabel tersebut. Namun demikian, kontinuitas pasokan bahan baku tuna akan berpotensi membebani biaya produksi jika harga dan volume penjualan produk pengolahan tuna tidak kompetitif di pasaran.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179858</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN PENINGKATAN KINERJA KEBERLANJUTAN RANTAI PASOK BERAS DENGAN PENDEKATAN SOFT SYSTEM DYNAMIC METHODOLOGY</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179857</link>
<description>SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN PENINGKATAN KINERJA KEBERLANJUTAN RANTAI PASOK BERAS DENGAN PENDEKATAN SOFT SYSTEM DYNAMIC METHODOLOGY
Maghfiroh, Nurul
Peningkatan produksi padi yang berkelanjutan memerlukan peningkatan&#13;
produktivitas untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya serta&#13;
efektivitas rantai pasok guna menjamin ketersediaan pangan secara berkelanjutan.&#13;
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui adopsi Varietas Unggul Baru (VUB) dan&#13;
teknologi budidaya, namun masih menghadapi kendala rendahnya adopsi petani&#13;
akibat keterbatasan diseminasi dan lambatnya difusi inovasi sehingga memerlukan&#13;
dukungan pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis situasi&#13;
keberlanjutan rantai pasok beras, 2) merancang model peningkatan produksi padi&#13;
berkelanjutan melalui adopsi inovasi benih unggul 3) menganalisis peningkatan&#13;
kinerja rantai pasok beras, 4) menganalisis peningkatan keberlanjutan rantai pasok&#13;
beras dan 5) membangun prototipe sistem penunjang keputusan peningkatan kinerja&#13;
keberlanjutan rantai pasok beras.&#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan Soft System Dynamic Methodology&#13;
(SSDM) yang mengintegrasikan Soft System Methodology (SSM) dan System&#13;
Dynamics (SD). Analisis dilakukan menggunakan MACTOR untuk memetakan&#13;
hubungan antaraktor, SCOR DS untuk mengukur kinerja rantai pasok, System&#13;
Dynamics untuk memodelkan adopsi VUB dan peningkatan produksi padi, serta&#13;
Multiaspect Sustainability Analysis (MSA) untuk menilai keberlanjutan kinerja&#13;
aktor. Selanjutnya, System Development Life Cycle (SDLC) digunakan untuk&#13;
mengembangkan prototipe sistem pendukung keputusan berdasarkan hasil analisis&#13;
dan pemodelan.&#13;
Penelitian ini telah mengembangkan Sistem Penunjang Keputusan (SPK)&#13;
peningkatan kinerja keberlanjutan rantai pasok beras dengan pendekatan yang&#13;
mengintegrasikan analisis situasi keberlanjutan rantai pasok, model peningkatan&#13;
produksi padi melalui adopsi varietas unggul baru, pengukuran kinerja dan&#13;
penilaian keberlanjutan rantai pasok. Sistem ini mampu mensimulasikan berbagai&#13;
skenario kebijakan serta memberikan rekomendasi alternatif kebijakan optimum&#13;
untuk meningkatkan kinerja dan keberlanjutan rantai pasok beras.&#13;
Pencapaian tujuan pertama menunjukkan bahwa analisis situasi keberlanjutan&#13;
berhasil mengidentifikasi aktor-aktor kunci dan hubungan pengaruh dalam rantai&#13;
pasok beras. Hasil analisis MACTOR menunjukkan bahwa aktor pemerintah,&#13;
terutama Kementerian Pertanian, BRMP Padi, dan BRMP Jawa Barat, memiliki&#13;
pengaruh terbesar dalam mendorong adopsi varietas unggul baru melalui kebijakan,&#13;
diseminasi, dan penyediaan benih. Analisis Matrix of Actor Objectives (2MAO)&#13;
menunjukkan seluruh aktor memiliki tujuan yang sama, yaitu meningkatkan&#13;
produktivitas melalui adopsi VUB untuk mendukung produksi padi berkelanjutan.&#13;
Kinerja rantai pasok eksisting menunjukkan keterbatasan produksi petani sehingga&#13;
penggilingan padi masih bergantung pada pasokan gabah dari luar wilayah, dengan&#13;
produksi gabah Subang hanya mampu memenuhi sekitar 17,89% kebutuhan bahan&#13;
baku penggilingan padi. Dengan demikian pemerintah berperan sebagai pengambil keputusan strategis dalam menetapkan arah kebijakan peningkatan produktivitas&#13;
melalui adopsi VUB.&#13;
Pencapaian tujuan kedua menghasilkan model sistem dinamik yang mampu&#13;
menggambarkan hubungan sebab akibat antara kapasitas diseminasi VUB, proses&#13;
adopsi inovasi, penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), peningkatan&#13;
produktivitas, hingga peningkatan produksi padi. Hasil simulasi menunjukkan&#13;
bahwa skenario 4 menghasilkan percepatan adopsi VUB, ditandai dengan Inpari 49&#13;
memasuki fase early adopter pada tahun 2028 dan penurunan penggunaan Inpari&#13;
32 terjadi lebih awal dibandingkan kondisi baseline. Percepatan adopsi tersebut&#13;
meningkatkan produksi padi hingga 24,13%, dari sekitar 1,16 juta ton pada tahun&#13;
2023 menjadi 1,44 juta ton pada tahun 2045. Peningkatan produksi ini juga&#13;
berdampak positif terhadap kinerja aktor rantai pasok. Model ini menjadi mesin&#13;
simulasi SPK.&#13;
Pencapaian tujuan ketiga menunjukkan peningkatan produksi padi&#13;
berdampak positif terhadap kinerja seluruh aktor rantai pasok. Secara keseluruhan,&#13;
kombinasi peningkatan diseminasi VUB dan penerapan PTT memberikan dampak&#13;
positif terhadap kinerja seluruh aktor rantai pasok beras. Skenario 4 menghasilkan&#13;
kinerja terbaik karena mampu mempercepat adopsi VUB, meningkatkan produksi,&#13;
serta memperbaiki kinerja pada dimensi resiliensi, ekonomi, lingkungan, dan sosial.&#13;
Pencapaian tujuan keempat menunjukan bahwa peningkatan diseminasi VUB&#13;
dan penerapan PTT mempercepat transformasi keberlanjutan aktor rantai pasok&#13;
beras. Skenario 4 memberikan hasil terbaik, dengan produsen benih dan petani&#13;
mencapai kategori sustainable lebih cepat dibandingkan kondisi baseline.&#13;
Peningkatan keberlanjutan tersebut didorong oleh penguatan dimensi sosial melalui&#13;
diseminasi dan pelatihan, peningkatan produktivitas, efisiensi penggunaan sumber&#13;
daya, serta kemampuan memenuhi permintaan.&#13;
Pada penggilingan padi, peningkatan pasokan gabah dan penggunaan VUB&#13;
mampu memperbaiki dimensi resiliensi, ekonomi, dan lingkungan, tetapi nilai&#13;
keberlanjutannya hanya meningkat dari moderately sustainable menjadi fairly&#13;
sustainable karena sebagian indikator telah mencapai batas kapasitas dalam struktur&#13;
model. Sementara itu, pedagang besar memiliki tingkat keberlanjutan awal yang&#13;
relatif lebih tinggi dan telah mencapai kategori Sustainable sejak tahun 2024 pada&#13;
seluruh skenario intervensi. Secara keseluruhan, hasil penilaian menunjukkan&#13;
bahwa peningkatan adopsi VUB dan penerapan PTT menghasilkan efek berantai&#13;
terhadap keberlanjutan aktor dari hulu hingga hilir. Skenario 4 menunjukkan hasil&#13;
terbaik dalam mempercepat pencapaian keberlanjutan,&#13;
Pencapaian tujuan kelima menghasilkan prototipe yang mengintegrasikan&#13;
analisis peran aktor, simulasi adopsi VUB dan peningkatan produksi padi pada&#13;
berbagai skenario intervensi, pengukuran kinerja serta penilaian keberlanjutan aktor&#13;
rantai pasok berdasarkan dimensi resiliensi, ekonomi, lingkungan, dan sosial.&#13;
Prototipe diharapkan dapat membantu pengambil keputusan dalam merumuskan&#13;
intervensi peningkatan adopsi VUB dan produksi padi serta mengevaluasi&#13;
dampaknya terhadap peningkatan kinerja dan keberlanjutan aktor rantai pasok beras&#13;
secara lebih terintegrasi.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179857</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Stabilitas Termal, Kinetika Degradasi, dan Transformasi Struktural Antosianin Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) Terimpregnasi dalam Matriks Kertas pada Suhu Tinggi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179266</link>
<description>Stabilitas Termal, Kinetika Degradasi, dan Transformasi Struktural Antosianin Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) Terimpregnasi dalam Matriks Kertas pada Suhu Tinggi
Margareta, Mika
Antosianin merupakan kelompok pigmen alami yang berpotensi sebagai pewarna pangan, namun pemanfaatannya pada produk pangan yang mengalami proses termal intensif masih terbatas karena mudah mengalami degradasi selama pemanasan. Bunga telang (Clitoria ternatea L.) merupakan salah satu sumber antosianin yang mengandung ternatin, yaitu antosianin terpoliasilasi yang memiliki stabilitas lebih tinggi dibandingkan sebagian besar antosianin dari sumber lain. Keberadaan beberapa gugus asil aromatik pada struktur ternatin memungkinkan terbentuknya kopigmentasi intramolekul yang berperan dalam mempertahankan kestabilan kromofor. Karakteristik tersebut menjadikan antosianin bunga telang menarik untuk dikaji sebagai dasar pengembangan pewarna alami yang lebih tahan terhadap proses termal maupun indikator termal kolorimetri untuk memantau riwayat panas selama pengolahan pangan.&#13;
Penelitian ini bertujuan mengkaji stabilitas termal, kinetika degradasi, dan transformasi struktural ternatin dalam matriks kertas terimpregnasi antosianin (Anthocyanin Impregnated Paper; AIP), serta mengevaluasi karakteristik kinetikanya sebagai dasar ilmiah pengembangan pewarna alami tahan panas dan indikator termal kolorimetri. AIP dibuat menggunakan kertas Whatman No. 42 yang diimpregnasi dengan ekstrak antosianin bunga telang. Penelitian dilakukan dalam tiga tahapan yang meliputi pengaruh pH terhadap stabilitas termal pada suhu 80–98 °C, karakterisasi degradasi termal pada suhu sterilisasi 105–121 °C, serta evaluasi pengaruh penambahan glukosa dan asam askorbat terhadap karakteristik kinetika dan respons warna AIP.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH memengaruhi stabilitas termal dan respons warna antosianin dalam matriks AIP. AIP pada pH 5 memiliki stabilitas termal tertinggi dengan nilai konstanta laju degradasi (k) paling rendah, sedangkan AIP pada pH 8 menunjukkan laju degradasi tertinggi. Pada suhu 80 °C, nilai k AIP pH 8 sekitar 7,8 kali lebih besar dibandingkan AIP pH 5. Meskipun demikian, AIP pH 8 menghasilkan perubahan warna yang paling kontras, berlangsung secara monoton, dan dapat dibedakan dengan jelas antar suhu. Karakteristik tersebut berkaitan dengan dominasi spesies basa kuinonoidal anionik (A?) yang memiliki perlindungan kopigmentasi intramolekul lebih lemah sehingga lebih rentan terhadap degradasi termal. Oleh karena itu, AIP pH 8 dipilih sebagai sistem model untuk mengevaluasi karakteristik degradasi termal pada suhu sterilisasi.&#13;
Pada suhu sterilisasi, AIP pH 8 mengalami perubahan warna progresif dari biru menjadi kuning yang disertai transformasi struktural antosianin. Berdasarkan bukti tidak langsung yang diperoleh, transformasi tersebut diduga meliputi deasilasi yang mengurangi perlindungan kopigmentasi intramolekul, diikuti degradasi ireversibel spesies A? serta pembentukan senyawa fenolik berberat molekul lebih rendah. Seluruh parameter degradasi mengikuti model kinetika orde pertama dengan nilai energi aktivasi teramati (apparent Ea) sebesar 251,09–337,88 kJ·mol?¹. Nilai Ea tersebut menunjukkan bahwa respons kinetika degradasi terhadap kenaikan suhu pada rentang sterilisasi lebih sensitif dibandingkan pada rentang pra-sterilisasi. Nilai z berdasarkan parameter b diperoleh sebesar 8,80 °C, masih lebih rendah dibandingkan nilai acuan sterilisasi (z = 10 °C), sehingga respons warna pada kombinasi suhu–waktu yang menghasilkan nilai F0 yang sama belum sepenuhnya ekuivalen. Meskipun demikian, retensi total antosianin sebesar 50–67% setelah proses sterilisasi menunjukkan bahwa ternatin memiliki ketahanan termal yang relatif tinggi dibandingkan sebagian besar antosianin dari sumber lain.&#13;
Analisis HPLC terhadap fraksi individual ternatin menunjukkan bahwa setiap fraksi memiliki karakteristik degradasi yang berbeda. Fraksi D2 menunjukkan stabilitas termal tertinggi, diikuti oleh D1 dan B1. Hasil tersebut menunjukkan bahwa stabilitas termal ternatin tidak hanya ditentukan oleh jumlah gugus asil aromatik, tetapi juga dipengaruhi oleh konfigurasi molekul secara keseluruhan, termasuk panjang dan karakteristik rantai glikosidik serta efektivitas kopigmentasi intramolekul. Temuan ini memperluas pemahaman mengenai hubungan antara struktur molekul dan stabilitas termal antosianin terpoliasilasi.&#13;
Modifikasi formulasi menggunakan glukosa dan asam askorbat menunjukkan bahwa karakteristik kinetika AIP masih dapat diarahkan menuju nilai yang lebih sesuai untuk indikator termal kolorimetri. Penambahan glukosa memperbesar magnitudo perubahan warna melalui pembentukan kromofor kuning akibat reaksi pencoklatan termal tanpa mengubah sensitivitas suhu secara bermakna. Sebaliknya, penambahan asam askorbat memberikan pengaruh kondisional terhadap degradasi antosianin melalui jalur oksidatif yang bergantung pada ketersediaan oksigen dan tidak terdeteksi ketika glukosa hadir. Parameter b menunjukkan respons paling konsisten terhadap akumulasi panas. Modifikasi formulasi menghasilkan nilai z pada rentang 8,70–9,99 °C, dengan beberapa kombinasi telah mendekati nilai acuan sterilisasi, meskipun kesetaraan respons warna pada nilai F0 yang sama belum sepenuhnya tercapai.&#13;
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa stabilitas termal antosianin bunga telang merupakan hasil interaksi antara struktur molekul ternatin yang terpoliasilasi, transformasi struktural selama pemanasan, dan karakteristik kinetika degradasinya. Kajian ini memberikan pemahaman baru mengenai hubungan struktur–stabilitas pada ternatin selama proses termal serta menunjukkan bahwa karakteristik kinetika sistem dapat diarahkan melalui modifikasi formulasi menuju nilai z yang semakin mendekati kebutuhan indikator termal kolorimetri. Retensi total antosianin sebesar 50–67% pada suhu sterilisasi mendukung pemanfaatan ternatin sebagai pewarna alami untuk produk pangan yang diproses pada suhu tinggi. Dengan demikian, penelitian ini menyediakan dasar ilmiah bagi pengembangan antosianin bunga telang sebagai pewarna alami tahan panas maupun sebagai indikator termal kolorimetri pada proses pengolahan pangan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179266</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Potensi Hidrolisat Protein Belalang Sawah (Oxya chinensis) sebagai Produk Hipoalergenik dan Agen Antiinflamasi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179055</link>
<description>Potensi Hidrolisat Protein Belalang Sawah (Oxya chinensis) sebagai Produk Hipoalergenik dan Agen Antiinflamasi
Kusumah, Slamet Hadi
Belalang sawah (Oxya chinensis) merupakan salah satu sumber protein alternatif yang prospektif dikembangkan sebagai pangan masa depan karena kandungan proteinnya tinggi, profil asam aminonya lengkap, dan ketersediaannya melimpah di berbagai wilayah Indonesia. Namun demikian, pemanfaatannya masih terkendala oleh dua masalah utama, yaitu (i) neofobia terhadap bentuk serangga utuh, dan (ii) adanya risiko alergi akibat kandungan protein alergen. Pengolahan belalang melalui hidrolisis enzimatis dapat menjadi solusi kedua kendala tersebut, yaitu dengan mengolahnya menjadi hidrolisat protein yang berpotensi sebagai pangan olahan intermediat yang bersifat hipoalergenik dan sekaligus memiliki potensi biofungsional.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) memperoleh metode isolasi dan hidrolisis protein belalang yang paling efektif melalui systematic literature review (SLR); (2) mengevaluasi proses isolasi protein serta menganalisis karakteristik kimia belalang mentah, tepung, dan isolat protein belalang sawah; (3) menganalisis pengaruh hidrolisis enzimatis terhadap alergenisitas protein menggunakan serum penderita alergi serta mengidentifikasi protein/peptida alergeniknya; dan (4) mengevaluasi aktivitas antiinflamasi hidrolisat protein belalang secara in vitro serta mengidentifikasi senyawa peptida bioaktifnya.&#13;
Penelitian ini dilaksanakan dalam empat tahap. Tahap pertama berupa systematic literature review (SLR) untuk menetapkan metode isolasi dan kondisi hidrolisis protein serangga yang paling efektif. Tahap kedua adalah isolasi protein dengan variasi pH pengendapan untuk menentukan titik isoelektrik serta karakterisasi kimia belalang mentah, tepung belalang, dan isolat protein belalang. Tahap ketiga yaitu proses hidrolisis enzimatis dengan enzim alkalase 1-5% E/S, kemudian dilakukan analisis alergenisitasnya melalui uji ELISA dengan kit krustasea, elektroforesis dengan SDS-PAGE, dan immunoblotting menggunakan serum penderita alergi mengonsumsi belalang, serta mengidentifikasi peptida alergenik dengan kromatografi cair-spektrometri massa resolusi tinggi (LC-HRMS). Tahap keempat mengevaluasi aktivitas antiinflamasi hidrolisat protein belalang sawah secara in vitro pada sel makrofag RAW 264.7 yang diinduksi lipopolisakarida (LPS), didahului fraksinasi peptida dengan membran ultrafiltrasi dan diakhiri identifikasi peptida bioaktif menggunakan LC-HRMS.&#13;
Berdasarkan hasil SLR, isolasi protein serangga paling efektif dilakukan melalui ekstraksi pada kondisi basa yang dilanjutkan dengan presipitasi pada titik isoelektrik, serta didukung proses penghilangan lemak untuk meningkatkan kemurnian protein. Proses hidrolisis paling efektif menggunakan enzim alkalase yang mampu menghasilkan derajat hidrolisis tinggi, sedangkan ultrafiltrasi ditetapkan sebagai metode fraksinasi peptida. Kajian tersebut juga menunjukkan bahwa hidrolisat protein serangga berpotensi memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi. Temuan ini menjadi dasar metodologis bagi pelaksanaan tahap penelitian selanjutnya.&#13;
Hasil isolasi protein menunjukkan bahwa isolat protein belalang sawah yang diekstraksi pada pH 10,5 dengan suhu 40°C selama 60 menit memiliki kadar protein 92,78% basis kering (bk), meningkat dari 69,66% bk pada tepung belalang atau setara dengan peningkatan relatif sekitar 33%. Kondisi ekstraksi pada suhu 40°C menghasilkan rendemen yang lebih tinggi dibandingkan ekstraksi pada suhu kamar. Titik isoelektrik protein belalang sawah berada pada pH 4,0. Proses isolasi juga memperkaya profil asam amino, terutama kelompok asam amino hidrofobik, rantai cabang, dan bermuatan yang berperan penting dalam nilai gizi dan bioaktivitas. &#13;
Proses hidrolisis enzimatis pada isolat protein belalang sawah menggunakan alkalase pada konsentrasi 1–5% E/S menghasilkan derajat hidrolisis 69,83–74,48% yang meningkat seiring naiknya konsentrasi enzim. Hidrolisis enzimatis dengan rasio enzim alkalase 1-5% E/S terbukti efektif menurunkan alergenisitas sebesar 98,33-99,19% dari sampel isolat protein. Profil elektroforesis menunjukkan hilangnya pita protein berukuran sedang hingga besar pada hidrolisat, termasuk degradasi pita pada kisaran bobot molekul tropomiosin. Hasil analisis immunoblotting menunjukkan bahwa serum penderita alergi reaktif terhadap belalang mentah dan tepung belalang, tetapi kehilangan reaktivitas sepenuhnya terhadap seluruh sampel hidrolisat. Temuan ini menegaskan bahwa hidrolisis enzimatis merupakan langkah kunci untuk menghasilkan produk yang hipoalergenik. Analisis LC-HRMS dan bioinformatika telah mengidentifikasi empat kandidat peptida alergenik dari protein belalang sawah berbobot molekul 14-17 kDa.&#13;
Hidrolisat protein belalang sawah juga menunjukkan potensi sebagai agen antiinflamasi. Fraksinasi menghasilkan tiga fraksi berdasarkan ukuran molekul, dan rentang konsentrasi 12,5–50 µg/mL terbukti aman terhadap sel. Ketiga fraksi menurunkan produksi oksida nitrat secara bergantung dosis. Pada model pra-inkubasi dengan fraksi berukuran kecil (&lt; 3 kDa) menunjukkan penghambatan oksida nitrat (NO) tertinggi yaitu 70,52% yang merepresentasikan skenario konsumsi preventif. Pada model ko-inkubasi menunjukkan penghambatan NO tertinggi sebesar 40,96% pada fraksi 3-10 kDa. Analisis LC-HRMS terhadap fraksi tersebut mengidentifikasi empat kandidat sekuens peptida yang diprediksi bersifat antiinflamasi.&#13;
Kebaruan yang dihasilkan dari penelitian ini adalah: (1) diperolehnya  hidrolisat protein belalang sawah yang berpotensi dikembangkan sebagai pangan hipoalergenik yang dibuktikan dengan adanya penurunan imunoreaktivitas, (2) teridentifikasi empat kandidat peptida yang berasal dari protein alergen belalang sawah; (3) hidrolisat protein belalang sawah memiliki aktivitas antiinflamasi in vitro yang dibuktikan dengan adanya kemampuan penghambatan oksida nitrat (NO) pada sel makrofag RAW 264.7 dengan model ko-inkubasi dan pra-inkubasi; dan (4) teridentifikasi empat kandidat peptida bioaktif antiinflamasi pada hidrolisat protein belalang sawah. Hasil ini menunjukkan bahwa hidrolisis enzimatis berperan ganda, yaitu menurunkan pengenalan epitop oleh IgE sekaligus melepaskan peptida bioaktif dari struktur protein induknya. Secara praktis, hidrolisat protein belalang sawah berpotensi dikembangkan sebagai bahan pangan hipoalergenik dan agen antiinflamasi, sehingga mendukung pemanfaatan belalang sebagai sumber protein alternatif yang berkelanjutan.; The rice field grasshopper (Oxya chinensis) is a promising alternative protein source for future food production due to its high protein content, complete amino acid profile, and abundant availability across various regions of Indonesia. However, their utilization is still hampered by two main issues: (i) neophobia toward whole insects, and (ii) the risk of allergies due to the presence of allergenic proteins. Processing grasshoppers through enzymatic hydrolysis can address both of these challenges by converting them into protein hydrolysates that have the potential to serve as hypoallergenic intermediate food products with biofunctional properties.&#13;
This study aimed to identify the most effective methods for grasshopper protein isolation and enzymatic hydrolysis through a systematic literature review (SLR); to evaluate the protein isolation process and analyze the chemical characteristics of raw grasshoppers, grasshopper flour, and protein isolate from the rice grasshopper; to investigate the effect of enzymatic hydrolysis on protein immunoreactivity using sera from allergic patients and to identify the allergenic proteins/peptides; and to evaluate the in vitro anti-inflammatory activity of grasshopper protein hydrolysates and identify their bioactive peptide compounds.&#13;
The study was conducted in four stages. The first stage involved a systematic literature review (SLR) to determine the most effective methods for isolating and hydrolyzing insect proteins. The second stage involved protein isolation using varying precipitation pH levels to determine the isoelectric point, as well as the chemical characterization of raw grasshoppers, grasshopper meal, and grasshopper protein isolates. The third stage involved enzymatic hydrolysis using 1–5% E/S alkalase, followed by analysis of allergenicity via ELISA using a crustacean test kit, SDS-PAGE electrophoresis, and immunoblotting using serum from patients allergic to grasshoppers, as well as the identification of allergenic peptides using LC-HRMS. The fourth stage evaluates the in vitro anti-inflammatory activity of the hydrolysate on lipopolysaccharide-induced RAW 264.7 macrophages, preceded by peptide fractionation using an ultrafiltration membrane and followed by the identification of bioactive peptides using LC-HRMS.&#13;
Based on the SLR results, insect protein isolation was most effectively performed through extraction under alkaline conditions followed by precipitation at the isoelectric point, supported by a defatting process to enhance protein purity. The hydrolysis process was most effective using alkalase enzyme, which is capable of producing a high degree of hydrolysis, whereas ultrafiltration was established as the peptide fractionation method. The review also indicated that insect protein hydrolysates potentially possess antioxidant and anti-inflammatory activities. These findings served as the methodological basis for the implementation of the subsequent research stages.&#13;
The protein isolation results showed that the rice field grasshopper protein isolate, extracted at pH 10.5 and 40°C for 60 minutes, had a protein content of 92.78% (db), up from 69.66% db in grasshopper flour—equivalent to a relative increase of approximately 33%. Extraction at 40°C yielded a higher protein yield compared to extraction at room temperature. The isoelectric point of the rice-field grasshopper protein was at pH 4.0. The isolation process also enriched the amino acid profile, particularly the hydrophobic, branched-chain, and charged amino acid groups that play important roles in nutritional value and bioactivity. &#13;
Enzymatic hydrolysis of rice field grasshopper protein isolates using alkalase at concentrations of 1–5% (w/v) resulted in a degree of hydrolysis of 69.83–74.48%, which increased as the enzyme concentration rose. Enzymatic hydrolysis with an alcalase enzyme ratio of 1-5% E/S has been proven to be effective in reducing allergenicity by 98.33-99.19% of protein isolate samples. The electrophoresis profile showed the disappearance of medium- to large-sized protein bands in the hydrolysate, including degradation of the band within the molecular-weight range of tropomyosin. Immunoblotting analysis showed that the sera of allergy sufferers reacted with raw grasshopper and grasshopper flour but completely lost their reactivity toward all hydrolysate samples. These findings confirm that enzymatic hydrolysis, and not merely flouring, is the key step in producing a hypoallergenic grasshopper-based product. LC-HRMS analysis combined with bioinformatics identified four candidate allergenic peptides in the rice-field grasshopper.&#13;
Hydrolysates of rice field grasshopper protein also show potential as anti-inflammatory agents. Fractionation yielded three fractions based on molecular weight, and a concentration range of 12.5–50 µg/mL was found to be safe for cells. All three fractions reduced nitric oxide production in a dose-dependent manner. In the pre-incubation model with the small-molecule-weight fraction (&lt; 3 kDa), the highest inhibition of nitric oxide (NO) was observed at 70.52%, representing a preventive consumption scenario. In the co-incubation model, the highest NO inhibition of 40.96% was observed in the 3–10 kDa fraction. LC-HRMS analysis of this fraction identified four candidate peptide sequences predicted to have anti-inflammatory properties.&#13;
The novel findings of this study are: (1) the production of a rice field grasshopper protein hydrolysate with potential for development as a hypoallergenic food, as evidenced by a reduction in immunoreactivity; (2) the identification of four peptide candidates derived from rice field grasshopper allergenic proteins; (3) the rice field grasshopper protein hydrolysate exhibits in vitro anti-inflammatory activity, as evidenced by its ability to inhibit nitric oxide (NO) in RAW 264.7 macrophages using co-incubation and pre-incubation models; and (4) the identification of four candidate bioactive anti-inflammatory peptides in the rice field grasshopper protein hydrolysate. These results indicate that enzymatic hydrolysis plays a dual role: it reduces epitope recognition by IgE while simultaneously releasing bioactive peptides from the parent protein structure. In practical terms, rice field grasshopper protein hydrolysate has the potential to be developed as a hypoallergenic food ingredient and an anti-inflammatory agent, thereby supporting the use of grasshoppers as a sustainable alternative protein source.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179055</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
