<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>MF - Professional Master</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/81</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 29 Aug 2026 17:34:48 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-29T17:34:48Z</dc:date>
<item>
<title>Kajian Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) pada Kelompok Tani di Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179582</link>
<description>Kajian Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) pada Kelompok Tani di Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur
Maulani, Yulia
RINGKASAN &#13;
YULIA MAULANI. Kajian Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) pada Kelompok Tani di Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur. Dibimbing oleh MA’MUN SARMA dan NORA HERDIANA PANDJAITAN&#13;
Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) adalah upaya pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan rumah tangga dengan memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman. Program ini mendorong kelompok tani membudidayakan komoditas pangan untuk dikonsumsi maupun dipasarkan. Keberlanjutannya dipengaruhi oleh kondisi internal kelompok tani serta faktor eksternal.&#13;
Penelitian ini bertujuan: (1) Mengkaji hasil pelaksanaan Program P2L pada kelompok tani di Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur, (2) Menganalisis faktor penghambat dan pendukung dalam keberhasilan kelompok tani yang telah mendapatkan Program Pangan Lestari (P2L), (3) Merumuskan alternatif dan menentukan prioritas strategi sebagai rekomendasi untuk mendukung keberlanjutan program pemanfaatan pekarangan di Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur.&#13;
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung data kualitatif. Data primer diperoleh melalui observasi, wawancara, dan kuesioner kepada anggota kelompok tani penerima P2L, penyuluh pertanian, Kepala Bidang Hortikultura pada dinas terkait di Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur, serta staf Kementerian Pertanian. Penelitian melibatkan 20 kelompok tani, masing-masing 10 kelompok di Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur. &#13;
Hasil kuesioner pada kelompok tani dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan hasil pelaksanaan program dan manfaat program. Faktor internal dan eksternal dianalisis menggunakan matriks internal factor evaluation (IFE) dan external factor evaluation (EFE), kemudian dipetakan pada matriks internal-eksternal (IE). Hasilnya kemudian dianalisis lebih lanjut dengan analisis strengths, weaknesses, opportunities and threats (SWOT) untuk merumuskan alternatif strategi, serta quantitative strategic planning matrix (QSPM) untuk menetapkan prioritas strategi pengembangan program pemanfaatan pekarangan.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program P2L mendukung pemanfaatan pekarangan, ketersediaan pangan rumah tangga, serta kegiatan sosial dan lingkungan kelompok tani. Di Kota Bogor, capaian aspek ekonomi sebesar 73,60% dengan kategori baik, sosial dan lingkungan sebesar 84,53% dengan kategori sangat baik, serta ketahanan pangan sebesar 76,53% dengan kategori baik. Di Kabupaten Cianjur, capaian aspek ekonomi sebesar 69,07%, sosial dan lingkungan sebesar 77,47%, dan ketahanan pangan sebesar 78,80%, yang seluruhnya berada pada kategori baik. &#13;
Manfaat ekonomi dirasakan melalui penghematan pengeluaran pangan di Kabupaten Cianjur dan pemanfaatan hasil panen di Kota Bogor. Manfaat sosial-lingkungan tampak melalui kerja sama kelompok, sementara manfaat ketahanan pangan terlihat dari peningkatan akses pangan rumah tangga di kedua wilayah.&#13;
Keberhasilan pelaksanaan program didukung oleh partisipasi anggota, potensi dan kondisi lahan, ketersediaan sarana produksi, dukungan pemerintah dan penyuluh, serta peluang pemanfaatan teknologi dan kerja sama dengan berbagai pihak. Hambatan berkaitan dengan kapasitas internal kelompok, yang mencakup kelembagaan, keterampilan teknis, adopsi teknologi, pemasaran, dan regenerasi anggota, serta faktor eksternal berupa perubahan iklim dan alih fungsi lahan.&#13;
Analisis faktor internal menunjukkan bahwa optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan menjadi kekuatan utama dengan skor tertimbang 0,465, diikuti partisipasi aktif kelompok tani sebesar 0,419. Kelemahan utama terdapat pada kelembagaan kelompok yang belum optimal dengan skor 0,231 dan keterampilan teknis yang masih terbatas sebesar 0,213. Analisis faktor eksternal menunjukan dukungan program pemerintah terhadap ketahanan pangan menjadi peluang utama dengan skor 0,430, sedangkan alih fungsi lahan pertanian dan pekarangan menjadi ancaman utama dengan skor 0,446, diikuti keterbatasan keberlanjutan pelatihan dan pendampingan dengan skor 0,316. &#13;
Hasil analisis menghasilkan skor IFE sebesar 2,52 dan EFE sebesar 2,74, sehingga menempatkan kelompok penerima P2L pada Sel V Matriks IE, yaitu posisi hold and maintain. Posisi ini menunjukkan bahwa kondisi internal dan eksternal program berada pada tingkat sedang dan menjadi dasar penyusunan rekomendasi untuk mempertahankan serta memperkuat kegiatan yang telah berjalan. Analisis SWOT menghasilkan lima alternatif strategi, yaitu (1) optimalisasi pekarangan melalui urban farming, (2) pemanfaatan dukungan pemerintah/ stakeholder dan teknologi pertanian untuk meningkatkan produksi pangan, (3) peningkatan pelatihan dan pendampingan kelompok, (4) pengembangan budidaya yang adaptif terhadap perubahan iklim dan alih fungsi lahan serta (5) penguatan kelembagaan dan regenerasi petani muda. Strategi tersebut kemudian diprioritaskan melalui QSPM.&#13;
Hasil QSPM menunjukkan bahwa prioritas strategi utama untuk program P2L adalah pemanfaatan dukungan pemerintah/stakeholder dan teknologi pertanian untuk meningkatkan produksi pangan, dengan sum total attractiveness score (STAS) sebesar 6,213. Prioritas berikutnya adalah peningkatan pelatihan dan pendampingan kelompok tani dengan STAS 5,738, penguatan kelembagaan dan regenerasi dengan STAS 5,677, optimalisasi pemanfaatan lahan dan urban farming dengan STAS 5,663, serta pengembangan budidaya adaptif terhadap perubahan iklim dan alih fungsi lahan dengan STAS 5,499. Pelaksanaannya memerlukan sinergi antara kelompok tani, penyuluh, pemerintah daerah, Kementerian Pertanian, dan pemangku kepentingan lainnya.; SUMMARY&#13;
YULIA MAULANI. A Study on the Sustainable Food Yard Program among Farmer Groups in Bogor City and Cianjur Regency. Supervised by MA’MUN SARMA and NORA HERDIANA PANDJAITAN.&#13;
The Sustainable Food Yard Program (Pekarangan Pangan Lestari/P2L) is a government initiative aimed at strengthening household food security by utilizing home yards as sources of diverse, nutritious, balanced, and safe food. The program encourages farmer groups to cultivate food commodities for household consumption and commercial purposes. Its sustainability is influenced by the internal capacity of farmer groups as well as external factors.&#13;
This study aimed to: (1) asses the implementation outcomes of the Sustainable Food Yard Program (P2L) among farmer groups in Bogor City and Cianjur Regency, (2) analyze the supporting and inhibiting factors affecting the success of farmer groups that have received assistance under the Sustainable Food Yard Program (P2L) and (3) formulate alternative strategies and determine strategic priorities as recommendations to support the sustainability of food yard utilization programs in Bogor City and Cianjur Regency.&#13;
This research employed a quantitative approach supported by qualitative data. Primary data were collected through observations, interviews, and questionnaires administered to members of P2L recipient farmer groups, agricultural extension officers, heads of horticulture divisions at the relevant government agencies in Bogor City and Cianjur Regency, and staff members of the Ministry of Agriculture. The study involved 20 farmer groups, comprising 10 groups in Bogor City and 10 groups in Cianjur Regency. &#13;
Results of the questionnaire administered to farmer group respondents were analyzed descriptively to characterize program implementation and benefits. Internal and external factors were evaluated using the internal factor evaluation (IFE) dan external factor evaluation (EFE) and then mapped in the internal–external (IE) matrix. The result were further analyzed using strengths, weaknesses, opportunities and threats (SWOT) analysis to formulate alternative strategies, and the quantitative strategic planning matrix (QSPM) to establish priorities strategies for program development strategies.&#13;
The findings indicate that the Sustainable Food Yard Program contributes to the utilization of household yards, household food availability, and the social and environmental activities of farmer groups. In Bogor City, the economic aspect achieved 73.60% and categorized as good, the social and environmental aspect achieved 84.53% and categorized as very good, while the food security aspect achieved 76.53% and categorized as good. In Cianjur Regency, the economic aspect achieved 69.07% and categorized as good, the social and environmental aspect achieved 77.47% and categorized as good, while the food security aspect achieved 78.80% and categorized as good.&#13;
Economic benefits were reflected in reduced household food expenditure in Cianjur Regency and the utilization of harvested produce in Bogor City. Social and environmental benefits were demonstrated through strengthened group cooperation, while food security benefits were evident in improved household access to food in both regions.&#13;
The success of the program was supported by member participation, land potential and conditions, the availability of production inputs, support from the government and agricultural extension workers, as well as opportunities for technology utilization and collaboration with various stakeholders.  The main constraints were related to the internal capacity of farmer groups, including institutional capacity, technical skills, technology adoption, marketing, and member regeneration, as well as external factors such as climate change and land-use change.&#13;
The internal factor analysis showed that optimizing the use of home-yard land was the main strength, with a weighted score of 0,465, followed by active participation of farmer groups with a score of 0,419. The main weaknesses were suboptimal group institutional capacity, with a weighted score of 0,231, and limited technical skills, with a score of 0,213. The external factor analysis showed that government program support for food security was the main opportunity, with a weighted score of 0,430, while the conversion of agricultural and home-yard land was the main threat, with a score of 0,446, followed by limited continuity of training and assistance with a score of 0,316.&#13;
The analysis resulted in an IFE score of 2,52 and an EFE score of 2,74, placing the P2L recipient farmer groups in Cell V of the IE Matrix, corresponding to the hold and maintain position. This position indicates moderate internal and external conditions and provides the basis for recommendations to maintain and strengthen ongoing activities. The SWOT analysis generated five alternative strategies (1) optimizing household yards through urban farming, (2) utilizing government support, stakeholder involvement, and agricultural technology to increase food production, (3) strengthening training and assistance for farmer groups, (4) developing cultivation practices that are, adaptive to climate change and land-use change and (5) strengthening institutional capacity and the regeneration of young farmers. These alternatives were subsequently prioritized using QSPM.&#13;
The QSPM results showed that main strategic priorities for P2L program was the utilization of government / stakeholder support, and agricultural technology to increase food production as the highest-priority development strategy, with a sum total attractiveness score (STAS) of 6,213. The subsequent priorities were improving training and assistance for farmer groups with a STAS of 5,738, strengthening institutional capacity and regeneration with a STAS of 5,677, optimizing land use and urban farming with a STAS of 5,663, and developing adaptive cultivation practices in response to climate change and land-use change with a STAS of 5,499. Implementing this recommendation would require synergy among farmer groups, agricultural extension workers, local governments, the Ministry of Agriculture, and other relevant stakeholders.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179582</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Perspektif Penilai Internal terhadap Sistem Aplikasi Penilaian Agunan (SIFO) pada PT Bank Syariah Indonesia (Persero), Tbk.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179516</link>
<description>Perspektif Penilai Internal terhadap Sistem Aplikasi Penilaian Agunan (SIFO) pada PT Bank Syariah Indonesia (Persero), Tbk.
WIWAHA, DERRY ANDHIKA
DERRY ANDHIKA WIWAHA. “Perspektif Penilai Internal terhadap Sistem Aplikasi Penilaian Agunan (SIFO) pada PT Bank Syariah Indonesia (Persero), Tbk.”. Dibimbing oleh TJAHJA MUHANDRI dan EKO RUDDY CAHYADI.&#13;
Pandemi Covid-19 menjadi salah satu faktor yang mempercepat transformasi digital di industri perbankan. Perubahan kondisi sosial dan ekonomi selama pandemi mendorong masyarakat untuk beradaptasi dari aktivitas yang sebelumnya banyak dilakukan melalui interaksi langsung menjadi pemanfaatan platform digital dalam berbagai kegiatan. Perubahan tersebut tidak hanya memengaruhi pola aktivitas ekonomi, tetapi juga memperkuat perilaku digital (digital behaviour) masyarakat, termasuk dalam penggunaan layanan dan transaksi keuangan.&#13;
Teknologi informasi (TI) memiliki peran yang semakin penting dalam mendukung kegiatan bisnis perbankan, terutama melalui penyediaan infrastruktur dan sistem yang mampu menunjang pengembangan layanan sesuai dengan kebutuhan pasar. Ketersediaan teknologi yang andal menjadi salah satu faktor pendukung bagi Bank Syariah Indonesia (BSI) dalam mewujudkan visinya sebagai salah satu bank syariah terkemuka di tingkat global. Berdasarkan Laporan Tahunan BSI Tahun 2025, proses integrasi sistem pasca-merger bank syariah BUMN telah berhasil diselesaikan sehingga seluruh operasional dapat dijalankan dalam satu sistem yang terpadu (single system). Setelah proses integrasi tersebut, BSI berfokus pada penguatan stabilitas sistem serta pengembangan fondasi digital untuk mendukung kebutuhan bisnis yang terus berkembang. Berbagai upaya transformasi dilakukan melalui pemanfaatan teknologi yang lebih modern, penyederhanaan proses kerja, serta pengembangan layanan digital yang mampu merespons kebutuhan pasar secara lebih cepat.&#13;
Dalam mendukung strategi bisnis pada segmen pembiayaan, BSI juga melakukan berbagai penguatan pada aspek teknologi informasi, antara lain melalui penyempurnaan core banking system, peningkatan keamanan sistem informasi, penguatan organisasi teknologi informasi, serta penerapan operational excellence. Selain itu, perusahaan terus mengembangkan berbagai aplikasi pendukung yang berfungsi untuk menunjang kegiatan operasional dan layanan bisnis. Salah satu aplikasi yang digunakan adalah Sistem Informasi Operasional Pembiayaan (SIFO), yaitu sistem yang dikembangkan untuk mendukung proses administrasi pembiayaan secara terintegrasi. SIFO digunakan dalam berbagai aktivitas operasional, mulai dari penilaian agunan, pemeriksaan dokumen pembiayaan, penyusunan laporan, proses underwriting, hingga pemantauan dokumen pembiayaan.&#13;
Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2024 sampai Desember 2024. Penelitian ini dilakukan di unit Collateral Valuation Financing Operation Group PT Bank Syariah Indonesia (Persero), Tbk. Metode penelitian menggunakan data kuantitatif, sedangkan teknik pengolahan menggunakan SEM-PLS untuk&#13;
v&#13;
menganalisis pengaruh langsung antar tiap variabel terhadap perspektif penilai internal. Dalam penelitian ini, analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis gambaran karakteristik responden.&#13;
Berdasarkan penelitian mengenai perspektif penilai internal terhadap sistem aplikasi penilaian agunan (SIFO) di BSI dapat disimpulkan bahwa perspektif penilai internal terhadap sistem aplikasi penilaian agunan (SIFO) tergolong baik. Sedangkan hasil analisis deskriptif, kualitas sistem, kualitas informasi, dan kualitas pelayanan pelanggan memperoleh penilaian yang baik dari responden. Namun, hasil pengujian SEM-PLS menunjukkan bahwa hanya kualitas sistem dan kualitas informasi yang berpengaruh signifikan terhadap perspektif penilai internal, sedangkan kualitas pelayanan pelanggan tidak berpengaruh signifikan. Penelitian ini mengindikasikan bahwa penilai internal keandalan sistem dan kualitas informasi dalam mendukung proses penilaian agunan pada pembiayaan SME dan pengembangan UMKM. mengandalkan&#13;
Penilai internal mempersepsikan bahwa penggunaan sistem aplikasi penilaian agunan (SIFO) mendukung pengembangan kompetensi dan keahlian dalam proses penilaian agunan. Dukungan tersebut tercermin dari kemudahan dalam memperoleh informasi, melakukan analisis, dan melaksanakan proses penilaian agunan secara lebih terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas sistem dan kualitas informasi merupakan faktor yang berpengaruh signifikan terhadap perspektif penilai internal, sedangkan kualitas pelayanan pelanggan tidak berpengaruh signifikan. Oleh karena itu, pengembangan sistem aplikasi penilaian agunan (SIFO) ke depannya perlu difokuskan pada penguatan kualitas sistem dan kualitas informasi melalui peningkatan integrasi, penyempurnaan fitur, dan penyediaan informasi yang lebih akurat serta tepat waktu untuk mendukung proses penilaian agunan pembiayaan SME.; to BSI’s 2025 Annual Report, the post-merger system integration process of the state-owned Islamic banks has been successfully completed, enabling all operations to be conducted within a unified system. Following this integration, BSI focused on strengthening system stability and developing a digital foundation to support evolving business needs. Various transformation initiatives have been implemented through the adoption of modern technologies, business process simplification, and the development of digital services capable of responding to market demands more efficiently.&#13;
To support its financing business strategy, BSI has also strengthened various aspects of information technology, including enhancements to its core banking system, improvements in information security, reinforcement of its information technology organization, and the implementation of operational excellence initiatives. In addition, the bank continues to develop supporting applications that facilitate operational and business activities. One of the applications utilized is the Financing Operational Information System (SIFO), an integrated system designed to support financing administration processes. SIFO is used in various operational activities, including collateral appraisal, financing document verification, report preparation, underwriting processes, and financing document monitoring.&#13;
This study was conducted from July 2024 to December 2024 at the Collateral Valuation Financing Operation Group of PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. A quantitative research approach was employed, while Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS) was used to analyze the direct effects among variables on internal appraisers’ perspectives. In addition, descriptive analysis was utilized to examine the characteristics of the respondents.&#13;
Based on the study regarding internal appraisers' perspectives on the collateral appraisal application system (SIFO) at BSI, it can be concluded that the overall perception of internal appraisers toward the system is favorable. The descriptive analysis indicates that the dimensions of system quality, information&#13;
vii&#13;
quality, and service quality were all rated positively by respondents. However, the SEM-PLS analysis reveals that only system quality and information quality have a significant influence on internal appraisers' perceptions, while service quality does not have a significant effect. These findings suggest that internal appraisers rely more heavily on the reliability of the system and the quality of information provided by SIFO in supporting the collateral appraisal process. In the context of SME financing, the availability of accurate, complete, and relevant information, along with a reliable system, plays a critical role in supporting effective collateral analysis and enhancing the quality of financing decisions.&#13;
Internal appraisers perceive that the use of the Collateral Appraisal System Application (SIFO) supports the development of competencies and expertise required in collateral appraisal activities. This support is reflected in the ease of accessing information, conducting analyses, and performing appraisal processes in a more structured manner. The results further indicate that system quality and information quality are significant factors influencing internal appraisers’ perspectives, whereas service quality is not significant. Therefore, future development of the Collateral Appraisal System Application (SIFO) should focus on strengthening system quality and information quality through enhanced system integration, feature improvements, and the provision of more accurate and timely information to support collateral appraisal processes in SME financing.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179516</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Strategi Peningkatan Penyaluran Pembiayaan Syariah Rumah Subsidi Kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah Di Wilayah Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179515</link>
<description>Strategi Peningkatan Penyaluran Pembiayaan Syariah Rumah Subsidi Kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah Di Wilayah Bogor
Mutolib, Abdul
RINGKASAN&#13;
ABDUL MUTOLIB. Strategi Peningkatan Penyaluran Pembiayaan Syariah Rumah Subsidi kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah di Wilayah Bogor. Dibimbing oleh MUHAMAD FINDI ALEXANDI dan BUDI SUHARJO.&#13;
Kepemilikan rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar masyarakat. Namun, keterbatasan pendapatan menyebabkan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) menghadapi hambatan dalam memperoleh rumah yang layak dan terjangkau. Untuk memperluas akses kepemilikan rumah bagi MBR, pemerintah menyediakan program pembiayaan rumah subsidi melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi. Salah satu bank pelaksana program tersebut adalah Bank Syariah Indonesia (BSI). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis kondisi penyaluran pembiayaan kepemilikan rumah subsidi di wilayah Bogor; (2) menganalisis faktor internal dan eksternal yang berkaitan dengan penyaluran pembiayaan kepemilikan rumah subsidi di wilayah Bogor; dan (3) menganalisis alternatif strategi peningkatan penyaluran pembiayaan kepemilikan rumah subsidi di wilayah Bogor.&#13;
Penelitian menggunakan data primer yang diperoleh melalui kuesioner dan wawancara serta data sekunder yang berasal dari dokumen perusahaan, regulasi, dan literatur terkait. Responden penelitian terdiri atas 258 nasabah BSI penerima pembiayaan rumah subsidi dan 9 (sembilan) pakar. Analisis data dilakukan menggunakan analisis deskriptif, matriks Internal Factor Evaluation (IFE), matriks External Factor Evaluation (EFE), analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats (SWOT), serta Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi strategi BSI Area Bogor berada pada kategori pertumbuhan dan pengembangan. Strategi prioritas yang diperoleh adalah penguatan analisis kelayakan pembiayaan untuk menjaga kualitas pembiayaan dan meminimalkan risiko pembiayaan bermasalah. Selain itu, mempertahankan keunggulan akad syariah dan mengoptimalkan pemasaran digital merupakan strategi penting untuk meningkatkan daya saing dan mendukung peningkatan penyaluran pembiayaan rumah subsidi.&#13;
&#13;
Kata kunci: analisis SWOT, Bank Syariah Indonesia, KPR subsidi, masyarakat berpenghasilan rendah, QSPM; SUMMARY&#13;
&#13;
&#13;
ABDUL MUTOLIB. Strategies to Increase the Distribution of Sharia Financing for Subsidized Housing to Low-Income Communities in the Bogor Region. Supervised by MUHAMAD FINDI ALEXANDI and BUDI SUHARJO.&#13;
Home ownership is one of the basic needs of society. However, income limitations make it difficult for low-income communities to obtain adequate and affordable housing. To expand access to home ownership for low-income communities, the government provides a subsidized housing financing program through subsidized home ownership loans. Bank Syariah Indonesia (BSI) is one of the participating banks in this program. This study aims to: (1) analyze the condition of subsidized home ownership financing distribution in the Bogor region; (2) analyze internal and external factors related to the distribution of subsidized home ownership financing in the Bogor region; and (3) analyze alternative strategies for increasing the distribution of subsidized home ownership financing in the Bogor region. The study uses primary data collected through questionnaires and interviews and secondary data obtained from company documents, regulations, and relevant literature. The respondents consisted of 258 BSI customers who received subsidized housing financing and 9 (nine) experts. Data were analyzed using descriptive analysis, the Internal Factor Evaluation (IFE) matrix, the External Factor Evaluation (EFE) matrix, Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats (SWOT) analysis, and the Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). The results indicate that BSI Area Bogor is positioned in the growth and development category. The priority strategy is to strengthen financing feasibility analysis in order to maintain financing quality and minimize the risk of non-performing financing. In addition, maintaining the advantages of sharia contracts and optimizing digital marketing are important strategies to enhance competitiveness and support increased distribution of subsidized housing financing.&#13;
Keywords: Bank Syariah Indonesia, low-income communities, QSPM, subsidized housing financing, SWOT analysis
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179515</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Strategi Peningkatan Daya Saing Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) (Studi Kasus Di Kabupaten Bogor)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179461</link>
<description>Strategi Peningkatan Daya Saing Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) (Studi Kasus Di Kabupaten Bogor)
Ramadhan, Rachmat
BUMDes memiliki peran strategis sebagai penggerak perekonomian desa, namun banyak BUMDes di Kabupaten Bogor belum berjalan optimal. Dari 416 BUMDes, hanya 237 (56,97%) yang aktif dan memiliki kontribusi pada Pendapatan Asli Desa (PADes). Hal tersebut pun mengalami penurunan pada periode tahun 2023-2024. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal, menganalisis manajemen serta pemasaran produk serta merumuskan strategi dalam memperkuat daya saing.&#13;
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada 35 pengelola BUMDes di Kabupaten Bogor. Hasil uji validitas menunjukkan 20 item pernyataan yang diujikan, 19 item dinyatakan valid. Namun, satu item yaitu P18 tidak valid, Oleh karena itu, item P18 dikeluarkan dari analisis selanjutnya. Hasil uji reliabilitas menghasilkan Cronbach's Alpha 0,871. Analisis data dilakukan dengan matriks IE, SWOT, dan QSPM.&#13;
Kelemahan internal utama BUMDes adalah terbatasnya penguasaan teknologi digital, belum adanya sistem pencatatan keuangan yang rapi, dan rendahnya inovasi produk. Kondisi ini diperparah oleh minimnya kapasitas SDM pengelola, yang mayoritas berpendidikan SMA (54,29%) dan masa kepengurusan kurang dari satu tahun (54,29%), sehingga diperlukan penguatan kapasitas SDM yang berkelanjutan. Meskipun demikian, BUMDes masih memiliki peluang untuk berkembang melalui program pelatihan pemerintah, dukungan masyarakat terhadap produk lokal, dan pemanfaatan teknologi digital untuk promosi. Di sisi lain, BUMDes juga menghadapi ancaman dari pesaing di luar desa, perubahan tren konsumen yang cepat, serta ketidakstabilan akibat perubahan aturan dan struktur pemerintahan desa.&#13;
Dari sisi manajemen, BUMDes di Kabupaten Bogor memiliki kekuatan pada dukungan Pemerintah Desa dan lokasi usaha yang strategis. Namun, kelemahan utama masih ditemukan pada sistem pencatatan keuangan yang belum tertata dengan baik serta kemampuan mengelola sumber daya yang masih terbatas. Sementara itu, dari sisi pemasaran, BUMDes unggul dalam kesesuaian produk dengan potensi lokal dan kemampuan menjalin kerja sama dengan masyarakat, tetapi masih menghadapi kendala pada kurangnya penguasaan teknologi digital dan rendahnya inovasi produk. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi faktor kunci untuk mengatasi kelemahan manajemen dan pemasaran, sehingga BUMDes dapat meningkatkan daya saingnya di tengah persaingan usaha yang semakin kompetitif. Dengan demikian, perumusan strategi menjadi penting untuk menjembatani kesenjangan antara potensi dan kinerja aktual BUMDes.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan BUMDes memiliki posisi internal kuat (IFE 3,26) dan posisi eksternal kuat (EFE 3,47), sehingga berada pada Sel I Matriks IE yang merekomendasikan strategi grow and build. Berdasarkan analisis SWOT diperoleh alternatif strategi untuk meningkatkan daya saing BUMDes. Dari 11 alternatif strategi yang dirumuskan, dengan analisis QSPM diperoleh prioritas utama adalah human resource development melalui pelatihan dari pemerintah untuk meningkatkan kapasitas sistem keuangan, teknologi digital, dan pengembangan SDM (STAS 5,69), diikuti membuka gerai sendiri (STAS 5,58), serta kerja sama dengan BUMDes lain (STAS 5,48). Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan dari pemerintah merupakan strategi prioritas untuk mengatasi kelemahan internal BUMDes.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179461</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
