<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>MF - Multidiciplinary Program</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/80</link>
<description/>
<pubDate>Mon, 13 Jul 2026 01:24:00 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-07-13T01:24:00Z</dc:date>
<item>
<title>Ekspresi, Puifikasi, dan Karakterisasi Enzim Trehalose Synthase dari Arthrobacter alpinus (AaTreS) untuk Produksi Trehalosa</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174423</link>
<description>Ekspresi, Puifikasi, dan Karakterisasi Enzim Trehalose Synthase dari Arthrobacter alpinus (AaTreS) untuk Produksi Trehalosa
Azam, Rahmah Muthmainnah
Trehalosa merupakan disakarida non-reduksi yang banyak dimanfaatkan dalam industri pangan, farmasi, dan kosmetik karena memiliki stabilitas termal dan kimia yang tinggi serta kemampuan melindungi biomolekul. Produksi trehalosa secara enzimatik melalui jalur trehalose synthase (TreS) menjadi alternatif yang menjanjikan karena prosesnya lebih spesifik, sederhana, dan berlangsung pada kondisi reaksi yang relatif ringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengekspresikan, memurnikan, serta mengarakterisasi enzim TreS dari Arthrobacter alpinus (AaTreS) secara biokimia dan kinetika guna mengevaluasi potensinya sebagai biokatalis dalam produksi trehalosa. Gen treS dari A. alpinus diekspresikan secara heterolog dalam Escherichia coli BL21 StarTM (DE3), kemudian enzim rekombinan yang dihasilkan dimurnikan menggunakan kromatografi afinitas logam terimobilisasi. Hasil optimasi ekspresi menunjukkan bahwa kondisi induksi pada suhu rendah menghasilkan enzim AaTreS dalam fraksi larut dengan tingkat ekspresi yang lebih baik. Enzim hasil purifikasi terdeteksi sebagai protein berukuran sekitar 67 kDa berdasarkan analisis SDS-PAGE dan Western blot. Karakterisasi biokimia menunjukkan bahwa AaTreS memiliki aktivitas optimum pada suhu 30 °C dan pH 6,5. Enzim ini juga &#13;
menunjukkan stabilitas yang lebih baik pada suhu 20 °C dengan waktu paruh sekitar 11 jam dibandingkan dengan suhu 30 °C. Pengujian pengaruh ion logam menunjukkan bahwa AaTreS tidak memerlukan ion logam sebagai kofaktor utama, dengan aktivitas relatif yang tetap tinggi pada perlakuan EDTA dan sedikit peningkatan aktivitas pada perlakuan Ca2+ Analisis kinetika menunjukkan bahwa aktivitas AaTreS terhadap maltosa mengikuti model Michaelis – Menten dengan nilai afinitas sedang terhadap substrat. Uji biokonversi berbasis waktu menunjukkan bahwa AaTreS mampu mengkatalisis konversi maltosa menjadi trehalosa, dengan efisiensi konversi yang lebih tinggi pada konsentrasi substrat rendah. Profil biokonversi yang diperoleh mencerminkan karakter reaksi TreS yang reversibel dan sejalan dengan karakteristik kinetika enzim. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa TreS dari A. alpinus memiliki karakteristik ekspresi, aktivitas, dan stabilitas yang mendukung potensinya sebagai biokatalis dalam produksi trehalosa pada kondisi reaksi ringan dan hemat energi.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174423</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>APLIKASI MIKORIZA DAN  LIMBAH PADAT KELAPA SAWIT SERTA PENGURANGAN DOSIS PUPUK NPK PADA KELAPA SAWIT</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174054</link>
<description>APLIKASI MIKORIZA DAN  LIMBAH PADAT KELAPA SAWIT SERTA PENGURANGAN DOSIS PUPUK NPK PADA KELAPA SAWIT
Ariadi, Dwi Diar
Budidaya kelapa sawit dilakukan secara monokultur dan menggunakan bahan kimia pupuk maupun herbisida secara terus menerus yang berdampak pada kesehatan tanah. Salah satu upaya mengurangi pupuk kimia adalah penggunaan pupuk hayati seperti fungi mikoriza arbuskular (FMA) dan pupuk organik yang berasal dari limbah padat kelapa sawit seperti tandan kosong, kompos mapun biochar.  &#13;
Penelitian ini bertujuan mengetahui (i) pengaruh kombinasi dosis mikoriza, berbagai limbah padat kelapa sawit dan pengurangan dosis pupuk NPK terhadap perbaikan sifat biologi, kimia, fisika tanah, tinggi tanaman, kandungan hara daun dan klorofil daun kelapa sawit, (ii) pengaruh aplikasi Mikoriza dengan berbagai limbah padat kelapa sawit terhadap efisiensi pemupukan, (iii) jenis spora FMA tanah perlakuan, spora FMA lokal dan spora FMA komersil. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan 3 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah dosis mikoriza yaitu 0, 250 g, dan 350 g, faktor kedua yaitu bahan organik tandan kosong kelapa sawit, kompos, biochar, dan faktor ketiga adalah dosis pupuk NPK 12:12:17 100 % dosis dan 50 % dosis rekomendasi. Parameter pengamatan biologi tanah yaitu tingkat kolonisasi akar mikoriza, jumlah spora mikoriza, serta populasi bakteri dan fungi, sedangkan pengamatan sifat kimia tanah meliputi pH, C-organik, kadar N, P, K, dan KTK tanah. Parameter fisika tanah dilakukan terhadap stabilitas agregat tanah. Pengamatan pertumbuhan tanaman meliputi tinggi tanaman, analisis hara N, P, K pada jaringan daun, dan kandungan klorofil daun. Data yang diperoleh dari penelitian dianalisis secara statistik menggunakan uji Analysis of Variance (ANOVA). Jika hasil uji F pada taraf a=5% menunjukkan adanya pengaruh signifikan, maka analisis dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.&#13;
Hasil penelitian menujukkan bahwa tidak terdapat pengaruh kombinasi faktor perlakuan terhadap kolonisasi akar, jumlah spora, total populasi mikrob, kandungan kimia tanah berupa N, P tersedia, K, C-organik, pH, KTK, tinggi tanaman, kandungan klorofil daun, kandungan hara daun, serta kemantapan agregat tanah. Pemberian dosis mikoriza 250 g berpengaruh nyata terhadap tingkat kolonisasi akar oleh FMA yaitu sebesar 16,55% dan terhadap kandungan klorofil daun sebesar 66,9 SPAD. Pemberian bahan organik kompos berpengaruh nyata terhadap jumlah spora FMA yaitu sebesar 614,16 spora/50 g tanah. Pemberian pupuk dosis 50% memberikan respon tinggi tanaman, kandungan klorofil daun, dan hara daun yang sama dengan dosis 100%. Identifikasi molekuler menunjukkan isolat FMA tanah perlakuan adalah Acaulospora koreana/Acaulospora mellea, isolat FMA lokal adalah Scuttelospora cerradensis/Dentiscutata colliculosa dan Acaulospora longula, dan isolat FMA komersil adalah Rhizophagus intraradices.; Oil palm cultivation is carried out in monoculture using chemicals fertilizer and herbicide which is carried out continuously and has an impact on soil health. One effort to reduce the chemical fertilizers is by using biological fertilizers such as arbuscular mycorrhiza fungi (AMF) and organic fertilizers derived from solid palm oil waste such as empty fruit bunches, compost and biochar. &#13;
This research aims to determine (i) the effect of combintaion mycorrhizal dose with palm oil solid wastes and reducing the dose of NPK fertilizer on improving biological, chemical, and physical soil properties, plant height, leaf nutrient content and chlorophyll of oil palm leaves, (ii) the effect of mycorrhiza application with various palm oil solid waste on fertilization efficiency, (iii) find out the type of AMF spores in the treated soil, local AMF spores and commercial AMF spores. The study used a factorial randomized block design with 3 factors and 3 replications. The first factor is the mycorrhizal dose, namely 0, 250 g and 350 g, the second factor is the organic material of empty palm fruit bunches, compost and biochar and the third factor is the NPK 12 fertilizer dose, namely 100% of the recommended dose and 50% of the recommended dose. The soil biological observation parameters were the level of mycorrhizal root colonization, the number of mycorrhizal spores, bacteria and fungi populations, while observations of the soil chemical properties include pH, organic carbon, N, P, K content, and soil CEC. The soil physical parameters were carried out on the stability of soil aggregates. Observation of plant growth includes plant height, N, P, K nutrient analysis in leaf tissue, and leaf chlorophyll content. The data obtained from the study were analyzed statistically using the Analysis of Variance (ANOVA) test. If the results of the F test at the a = 5% level indicated a significant effect, then the analysis was continued with the Honestly Significant Difference (HSD) test at the 5% level.&#13;
The results of the study showed that there was no significant effect of the combination of treatment factors on root colonization, spore count, total microbial population, soil chemical properties of N, available P, K, organic C, pH, CEC, plant height, leaf chlorophyll content, leaf nutrient content (N, P, K), and soil aggregate stability. The application of 250 g mycorrhizal had a significant effect on the level of AMF root infection, which reached 16,55 % and on leaf chlorophyll content which was 66,9 SPAD. Compost organic matter had a significant effect on the number of AMF spores, which was 614,16 spores/50 g of soil. 50% dose of fertilizer gives the same response in plant height, leaf chlorophyll content, and leaf nutrients as a 100% dose. Molecular identification revealed Acaulospora koreana/Acaulospora mellea in treated soil, Scutellospora cerradensis/Dentiscutata colliculosa, and Acaulospora longula in local inoculum, and Rhizophagus intraradices in commercial inoculum.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174054</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Strategi Pengelolaan Hutan Desa Berkelanjutan di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174029</link>
<description>Strategi Pengelolaan Hutan Desa Berkelanjutan di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Woretma, Mutmainah
Program Perhutanan Sosial bertujuan untuk menyediakan akses terhadap pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Perhutanan sosial memiliki lima skema&#13;
yaitu Hutan Desa (HD), Hutan Adat (HA), Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Tanaman Rakyat (HTR), dan Kemitraan Kehutanan (KK). Kabupaten Fakfak&#13;
memiliki 15 Hutan Desa yang telah menerima izin pengelolaan sejak tahun 2018. Namun, terdapat berbagai kendala pengelolaan. Penelitian ini dilakukan untuk&#13;
menggambarkan capaian kinerja pengelolaan Hutan Desa pada dimensi ekologi, ekonomi, dan sosial, serta menjelaskan peran stakeholders dalam mencapai kinerja pengelolaan Hutan Desa. Studi ini menggunakan analisis RapPForest dengan metode MDS (Multidimensional Scaling) untuk mengevaluasi status keberlanjutan tiga dimensi dengan menggunakan total 22 atribut. Berdasarkan hasil analisis, dimensi ekologis memiliki nilai sangat berkelanjutan (73.14), dimensi ekonomi memiliki status keberlanjutan sedang (50.01), dan dimensi sosial berada pada indeks kurang berkelanjutan (45.79). Pada dimensi ekologis, terdapat lima hutan desa dengan status sangat berkelanjutan; pada dimensi ekonomi terdapat enam hutan desa dengan status cukup berkelanjutan; pada dimensi sosial, terdapat tiga hutan desa dengan status cukup berkelanjutan. &#13;
Peran pemangku kepentingan dilakukan dengan menggunakan metode Fokus grup diskusi (FGD) dan wawancara mendalam. Data penelitian dianalisis&#13;
menggunakan metode MACTOR (Matrix of Alliance Conflict: Tactic, Objective, and Recommendation). Hasil penelitian peran stakeholders menunjukkan bahwa tingkat pengaruh dan ketergantungan antar aktor bervariasi, namun semua aktor mendukung tujuan pengelolaan kehutanan desa yang berkelanjutan. Stakeholder dibagi kedalam 4 kuadran yaitu Kuadran 1 (Aktor Dominan) memiliki pengaruh tinggi dan ketergantungan rendah: BPSKLMP, Dishut PB, NGO, dan Akademisi. Kuadran II (Aktor Kunci) memiliki pengaruh tinggi dan ketergantungan tinggi: Pemerintahan Daerah (Bappeda FF, KPHP FF, Disbun FF, Dinkop FF, Disparbud FF, DPMK FF, KA Distrik, Pendamping HD). Kuadran III (Aktor Otonom) memiliki pengaruh rendah dan ketergantungan rendah: LPHD FF. Kuadran IV&#13;
(Aktor subject) memiliki pengaruh rendah dan ketergantungan rendah: Media dan Pengusaha.  &#13;
Strategi pengelolaan hutan desa berkelanjutan mengintegrasikan hasil capaian kinerja pengelolaan Hutan Desa dan peran stakeholder. Dari hasil&#13;
penelitian tersebut menghasilkan sepuluh strategi yang dapat diintervensi dari dimensi ekologi, ekonomi, dan sosial seran peran strategi dari para pemangku&#13;
kepentingan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174029</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>RANCANG BANGUN BLUE NATURE-BASED SOLUTIONS UNTUK PENGELOLAAN PERIKANAN SKALA KECIL DENGAN PENDEKATAN SOCIAL-ECOLOGICAL SYSTEM (Studi Kasus: Perikanan Pulau Maitara, Provinsi Maluku Utara)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173256</link>
<description>RANCANG BANGUN BLUE NATURE-BASED SOLUTIONS UNTUK PENGELOLAAN PERIKANAN SKALA KECIL DENGAN PENDEKATAN SOCIAL-ECOLOGICAL SYSTEM (Studi Kasus: Perikanan Pulau Maitara, Provinsi Maluku Utara)
nuddin, Yuddit syahfitri hasan
Perikanan skala kecil merupakan tulang punggung ketahanan pangan dan ekonomi pesisir di Indonesia, termasuk di Pulau Maitara, Kota Tidore Kepulauan. Namun, perubahan iklim, degradasi ekosistem, dan lemahnya kelembagaan lokal menyebabkan menurunnya produktivitas sumber daya serta meningkatnya kerentanan sosial-ekologis pada masyarakat nelayan. Pendekatan pengelolaan yang masih bersifat sektoral dan top-down belum mampu menjawab kompleksitas hubungan antara manusia dan lingkungan pesisir. Oleh karena itu, diperlukan kerangka pengelolaan yang lebih holistik dan adaptif melalui integrasi kerangka kerja Social-Ecological Systems (SES) dan Nature-based Solutions (NbS) untuk memperkuat ketahanan dan keberlanjutan sistem perikanan skala kecil.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) memetakan komponen dan interaksi dalam sistem sosial-ekologis perikanan skala kecil di Pulau Maitara; (2) mengidentifikasi permasalahan utama berdasarkan kriteria dan kerangka NbS IUCN; serta (3) menyusun kerangka kerja integratif SES-NbS untuk pengelolaan perikanan yang berkelanjutan dan adaptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner household survey, wawancara mendalam dengan pakar untuk memperoleh penilaian pakar yang kemudian dianalisis menggunakan Analytic Network Process (ANP), serta analisis deskriptif dengan pendekatan Problem-Status-Solusi untuk menghubungkan hasil pemetaan SES dan NbS.&#13;
Permasalahan utama pengelolaan perikanan skala kecil di Pulau Maitara meliputi tekanan ekologis, ketergantungan ekonomi, penurunan pengetahuan lokal, dan lemahnya tata kelola. Dari dimensi ekologis, overfishing menjadi ancaman terbesar (bobot 0.46772), diikuti oleh kerentanan ekosistem (0.27863) dan pergeseran musim ikan (0.13343). Dimensi ekonomi didominasi oleh ketergantungan tinggi terhadap hasil tangkapan ikan (0.58619) serta keterbatasan akses pasar dan potensi ekonomi lokal yang belum optimal. Dalam dimensi sosial, penurunan akurasi pengetahuan tradisional nelayan menjadi masalah utama (0.47501), menunjukkan dampak nyata perubahan iklim terhadap keandalan pengetahuan ekologis lokal. Sedangkan dalam dimensi tata kelola, pendekatan kebijakan top-down muncul sebagai faktor paling berpengaruh (0.45325), diikuti lemahnya pengawasan, fragmentasi kelembagaan, dan keterbatasan integrasi data ilmiah-lokal.&#13;
Integrasi kerangka kerja SES dan NbS menghasilkan model pengelolaan perikanan skala kecil yang lebih holistik, dengan menekankan keterkaitan antara ekologi, sosial-ekonomi, dan tata kelola. Dari sintesis yang dilakukan, diperoleh tujuh strategi kunci: (1) partisipasi berbasis kebutuhan lokal; (2) pemetaan sosial- ekologis partisipatif; (3) restorasi habitat dan pendekatan ekosistem; (4) diversifikasi ekonomi berbasis sumber daya alam; (5) tata kelola inklusif dan berkeadilan; (6) pengelolaan adaptif berbasis data; dan (7) integrasi kelembagaan NbS ke dalam kebijakan desa. Strategi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan&#13;
 &#13;
pengelolaan perikanan di pulau kecil sangat bergantung pada penguatan kapasitas adaptif masyarakat dan institusi lokal untuk menghubungkan intervensi berbasis alam dengan kebutuhan sosial-ekonomi secara berkelanjutan.&#13;
Kerangka kerja SES-NbS yang dihasilkan berpotensi menjadi dasar konseptual bagi perencanaan pengelolaan perikanan yang lebih inklusif, adaptif, dan kontekstual di pulau-pulau kecil lainnya. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pengembangan indikator kinerja lokal untuk evaluasi NbS, penguatan kelembagaan berbasis komunitas, serta integrasi kebijakan lintas sektor antara perikanan, konservasi, dan ekonomi lokal. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat daya lenting sosial-ekologis pesisir dan mendukung implementasi pengelolaan perikanan berkelanjutan berbasis alam di tingkat komunitas.&#13;
Penelitian ini merekomendasikan perlunya penguatan ko-manajemen berbasis masyarakat, integrasi pengetahuan lokal dan ilmiah dalam proses pengambilan keputusan, serta pengembangan indikator kinerja untuk menilai efektivitas implementasi NbS di tingkat komunitas. Sinergi lintas sektor antara pemerintah daerah, lembaga konservasi, dan masyarakat pesisir diperlukan untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan sumber daya laut dan peningkatan kesejahteraan nelayan Pulau Maitara secara berkelanjutan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173256</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
