<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>MF - Multidiciplinary Program</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/80</link>
<description/>
<pubDate>Wed, 16 Sep 2026 03:56:32 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-09-16T03:56:32Z</dc:date>
<item>
<title>Isolasi, Identifikasi, Karakterisasi Bakteri Penghasil Lakase dari Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) dan Uji Reistensi pada Klorpirifos</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179931</link>
<description>Isolasi, Identifikasi, Karakterisasi Bakteri Penghasil Lakase dari Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) dan Uji Reistensi pada Klorpirifos
M., Izatu Septinaharin
Situ Gunung Putri merupakan salah satu danau perkotaan di Kabupaten Bogor, Indonesia, yang dikelilingi oleh kawasan perkotaan, pertanian, dan industri dengan beragam aktivitas antropogenik. Namun, pertumbuhan eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang berlebihan telah menurunkan nilai ekologis dan fungsional danau tersebut. Eceng gondok merupakan sumber biomassa lignoselulosa yang mengandung lignin, yang dapat berfungsi sebagai substrat bagi bakteri penghasil lakase. &#13;
	Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi bakteri penghasil lakase dari sampel akar eceng gondok dan sedimen yang diambil dari Situ Gunung Putri, mengevaluasi aktivitas lakasenya, serta menentukan ketahanannya terhadap klorpirifos. Isolasi bakteri dilakukan menggunakan sampel yang diambil dari sepuluh petak pengambilan sampel. Skrining bakteri penghasil lakase dilakukan menggunakan media yang mengandung guaiakol. Isolat terpilih diidentifikasi dan dievaluasi aktivitas enzim lakasenya. Isolat yang paling potensial, yang diberi kode EGA4.9, diidentifikasi sebagai Bacillus subtilis. Enzim tersebut kemudian dikarakterisasi pada berbagai kondisi pH, suhu, dan konsentrasi inducer CuSO4. Selain itu, isolat tersebut diuji ketahanannya terhadap klorpirifos. &#13;
	Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat EGA4.9 menunjukkan aktivitas lakase yang signifikan. Produksi lakase optimal dicapai pada pH 5, suhu 25°C, konsentrasi CuSO4 2 mM, dan masa inkubasi 96 jam. Lebih lanjut, isolat tersebut mempertahankan aktivitas lakase pada rentang nilai pH (5–8) dan suhu (25–50°C) yang luas. Galur ini juga menunjukkan ketahanan terhadap klorpirifos pada konsentrasi 100, 300, 500, 800, dan 1000 ppm. Temuan ini mengindikasikan bahwa Bacillus subtilis EGA4.9 memiliki potensi besar untuk aplikasi bioremediasi karena kemampuannya menghasilkan lakase pada berbagai kondisi lingkungan dan resistensinya terhadap konsentrasi klorpirifos yang tinggi. Oleh karena itu, bakteri ini dapat berpotensi pada remediasi klorpirifos sekaligus mendukung pemanfaatan biomassa eceng gondok dan memitigasi masalah terkait eceng gondok di Situ Gunung Putri.; Situ Gunung Putri is one of the urban lakes in Bogor Regency, Indonesia, surrounded by urban, agricultural, and industrial areas with diverse anthropogenic activities. However, the excessive growth of water hyacinth (Eichhornia crassipes) has reduced the ecological and functional value of the lake. Water hyacinth is a lignocellulosic biomass source containing lignin, which can serve as a substrate for laccase-producing bacteria. &#13;
This study aimed to isolate laccase-producing bacteria from water hyacinth root and sediment samples collected from Situ Gunung Putri, evaluate their laccase activity, and determine their resistance to chlorpyrifos. Bacterial isolation was conducted using samples collected from ten sampling plots. Screening for laccase-producing bacteria was performed using guaiacol-containing media. Selected isolates were identified and evaluated for laccase enzyme activity. The most promising isolate, designated EGA4.9, was identified as Bacillus subtilis. The enzyme was further characterized under different pH conditions, temperatures, and CuSO4 inducer concentrations. In addition, the isolate was tested for its resistance to chlorpyrifos. &#13;
The results showed that isolate EGA4.9 exhibited significant laccase activity. Optimal laccase production was achieved at pH 5, a temperature of 25°C, a CuSO4 concentration of 2 mM, and an incubation period of 96 h. Furthermore, the isolate maintained laccase activity across a broad range of pH values (5–8) and temperatures (25–50°C). The strain also demonstrated resistance to chlorpyrifos at concentrations of 100, 300, 500, 800, and 1000 ppm. These findings indicate that Bacillus subtilis EGA4.9 possesses considerable potential for bioremediation applications due to its ability to produce laccase under varying environmental conditions and tolerate high concentrations of chlorpyrifos. This bacterium may therefore potential to chlorpyrifos remediation while simultaneously supporting the utilization of water hyacinth biomass and mitigating water hyacinth-related problems in Situ Gunung Putri.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179931</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Rehabilitasi Kawasan Mangrove di Hutan Lindung Muara Sekampung, Kabupaten Lampung Timur, Sumatera</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179923</link>
<description>Rehabilitasi Kawasan Mangrove di Hutan Lindung Muara Sekampung, Kabupaten Lampung Timur, Sumatera
Hafidhin, Dimas
Ekosistem mangrove memiliki fungsi ekologis, fisik, dan sosial ekonomi yang penting dalam menjaga stabilitas wilayah pesisir. Namun, kawasan mangrove di Hutan Lindung Muara Sekampung, Kabupaten Lampung Timur, mengalami degradasi akibat sedimentasi, perubahan hidrologi, dan aktivitas antropogenik yang menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan serta kematian vegetasi mangrove. Kondisi tersebut menyebabkan berkurangnya fungsi ekosistem mangrove sebagai pelindung pantai, habitat biota, dan penyangga kehidupan masyarakat pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis luas areal yang berpotensi direhabilitasi, kondisi biofisik lingkungan, kesesuaian spesies dan desain penanaman mangrove beserta estimasi biaya rehabilitasi, serta stakeholder yang berperan dalam mendukung rehabilitasi mangrove di Hutan Lindung Muara Sekampung.&#13;
Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga Mei 2025 di Hutan Lindung Muara Sekampung (Register 15), Kecamatan Pasir Sakti, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Penentuan luas areal rehabilitasi dilakukan menggunakan analisis citra satelit berbasis Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) yang dipadukan dengan verifikasi lapangan. Analisis biofisik meliputi vegetasi, fauna yang berpotensi menjadi hama, sifat fisik dan kimia tanah, kualitas air, serta parameter oseanografi berupa pasang surut, kedalaman genangan, dan kecepatan arus. Penentuan spesies mangrove dan desain penanaman dilakukan menggunakan pendekatan species–site matching berdasarkan kesesuaian kondisi lingkungan. Analisis biaya dilakukan terhadap kegiatan persemaian, pengadaan bibit, dan penanaman awal mangrove. Analisis stakeholder dilakukan menggunakan metode Matrix of Alliances and Conflicts: Tactics, Objectives and Recommendations (MACTOR).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Hutan Lindung Muara Sekampung memiliki luas area potensial rehabilitasi sebesar 474,47 ha yang didominasi oleh kelas vegetasi sangat rendah hingga tidak bervegetasi. Berdasarkan hasil verifikasi lapangan, areal rehabilitasi yang ditetapkan dalam penelitian ini seluas ±20 ha pada kawasan berlumpur yang masih dipengaruhi pasang surut dan memiliki sisa tegakan mangrove mati, terutama dari jenis Avicennia sp. Hasil analisis vegetasi menunjukkan bahwa pada seluruh plot pengamatan tidak ditemukan vegetasi mangrove hidup, baik pada tingkat semai, pancang, maupun pohon. Kondisi kualitas air menunjukkan salinitas rendah dengan rata-rata 1,63 ppt dan pH relatif netral hingga agak basa. Tanah didominasi oleh tekstur liat dengan rata-rata kandungan liat sebesar 53,2%, salinitas tanah kategori mesohalin, serta kandungan bahan organik dan unsur hara yang relatif tinggi. Hasil pengukuran oseanografi menunjukkan tipe pasang surut harian tunggal dengan kedalaman genangan berkisar 40–98 cm dan kecepatan arus 0,18–0,53 m/s.&#13;
Hasil analisis species–site matching menunjukkan bahwa jenis mangrove yang sesuai untuk ditanam meliputi Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Avicennia marina, Avicennia alba, Sonneratia caseolaris, dan Sonneratia alba. Desain penanaman yang direncanakan terdiri atas cluster planting, line cluster planting, dan quadrat planting dengan variasi jarak tanam sesuai kondisi mikrohabitat. Total kebutuhan bibit untuk rehabilitasi seluas 20 ha mencapai 125.269 batang. Estimasi biaya rehabilitasi tahap awal melalui skenario persemaian mandiri sebesar Rp401.564.900 atau sekitar Rp20.078.245/ha, sedangkan melalui skenario pengadaan bibit sebesar Rp616.326.000 atau sekitar Rp30.816.300/ha. Setelah dinormalisasi berdasarkan kepadatan standar 5.000 batang/ha, biaya rehabilitasi menjadi Rp16.025.000/ha pada skenario persemaian mandiri dan Rp24.600.000/ha pada skenario pengadaan bibit. Kedua nilai tersebut berada di bawah standar pembiayaan pemerintah, yang menunjukkan bahwa persemaian mandiri berbasis masyarakat merupakan alternatif penyediaan bibit yang lebih ekonomis. Hasil analisis stakeholder menunjukkan bahwa terdapat 13 aktor utama yang terlibat dalam rehabilitasi mangrove. Kelompok Tani Hutan Mutiara Hijau 1 dan BPDAS Way Seputih Way Sekampung merupakan aktor dengan tingkat pengaruh tertinggi dalam sistem rehabilitasi mangrove. Sebagian besar aktor memiliki posisi yang mendukung rehabilitasi mangrove dengan tingkat konvergensi antaraktor yang tinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rehabilitasi mangrove di Hutan Lindung Muara Sekampung memiliki dukungan biofisik dan kelembagaan yang cukup baik untuk dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan.; Mangrove ecosystems play important ecological, physical, and socio-economic roles in maintaining coastal stability. However, mangrove areas in the Muara Sekampung Protected Forest, East Lampung Regency, have experienced degradation caused by sedimentation, hydrological changes, and anthropogenic activities, resulting in declining environmental quality and mangrove vegetation mortality. These conditions have reduced the ecological functions of mangroves as coastal protection, habitat for aquatic organisms, and environmental support systems for coastal communities. This study aimed to analyze the potential rehabilitation area, bio-physical environmental conditions, suitability of mangrove species and planting designs along with rehabilitation cost estimation, and stakeholders involved in supporting mangrove rehabilitation in the Muara Sekampung Protected Forest.&#13;
The study was conducted from March to May 2025 in the Muara Sekampung Protected Forest (Register 15), Pasir Sakti District, East Lampung Regency, Lampung Province. Determination of rehabilitation areas was carried out using satellite imagery analysis based on the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) combined with field verification. Bio-physical analyses included vegetation, fauna potentially acting as mangrove pests, soil physical and chemical properties, water quality, and oceanographic parameters including tides, inundation depth, and current velocity. Determination of mangrove species and planting design was conducted using a species–site matching approach based on environmental suitability. Cost analysis covered nursery activities, seedling procurement, and initial mangrove planting. Stakeholder analysis was conducted using the Matrix of Alliances and Conflicts: Tactics, Objectives and Recommendations (MACTOR) method.&#13;
The results showed that the Muara Sekampung Protected Forest has a potential rehabilitation area of 474.47 ha dominated by very low vegetation to non-vegetated classes. Based on field verification, the rehabilitation area selected in this study covered approximately 20 ha of muddy substrate still influenced by tidal inundation and containing remnants of dead mangrove stands, particularly Avicennia sp. Vegetation analysis indicated that no living mangrove vegetation was found in all observation plots at seedling, sapling, or tree levels. Water quality analysis showed low salinity with an average value of 1.63 ppt and neutral to slightly alkaline pH conditions. Soil characteristics were dominated by clay texture with an average clay content of 53.2%, mesohaline soil salinity, and relatively high organic matter and nutrient contents. Oceanographic analysis indicated a diurnal tidal type with inundation depths ranging from 40–98 cm and current velocities ranging from 0.18–0.53 m/s.&#13;
The species–site matching analysis showed that suitable mangrove species for rehabilitation included Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Avicennia marina, Avicennia alba, Sonneratia caseolaris, and Sonneratia alba. The proposed planting designs consisted of cluster planting, line cluster planting, and quadrat planting with various spacing arrangements adjusted to microhabitat conditions. The total seedling requirement for the 20 ha rehabilitation area was 125,269 seedlings. The estimated initial rehabilitation cost under the independent nursery scenario was Rp401,564,900, or approximately Rp20,078,245/ha, while the seedling procurement scenario required Rp616,326,000, or approximately Rp30,816,300/ha. After normalization based on the standard density of 5,000 seedlings/ha, the rehabilitation costs were Rp16,025,000/ha for the independent nursery scenario and Rp24,600,000/ha for the seedling procurement scenario. Both costs were lower than the government financing standard, indicating that a community-based independent nursery is a more economical alternative for seedling provision. Stakeholder analysis identified 13 main actors involved in mangrove rehabilitation. The Mutiara Hijau 1 Forest Farmer Group and the Way Seputih–Way Sekampung Watershed Management Agency were identified as the most influential actors within the mangrove rehabilitation system. Most stakeholders showed supportive positions toward mangrove rehabilitation with a high level of convergence among actors. The results indicate that mangrove rehabilitation in the Muara Sekampung Protected Forest has sufficient bio-physical and institutional support to be implemented collaboratively and sustainably.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179923</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengelolaan Pencemaran Perairan di Kawasan Permukiman Pesisir Distrik Sorong Barat dan Maladumes Kota Sorong, Papua Barat Daya</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179898</link>
<description>Pengelolaan Pencemaran Perairan di Kawasan Permukiman Pesisir Distrik Sorong Barat dan Maladumes Kota Sorong, Papua Barat Daya
Jitmau, Noviyanti Mapu
Pesisir merupakan daerah transisi pertemuan antara daratan dan lautan, perubahan wilayah pesisir ditentukan oleh aktvitas yang terjadi disekitarya. Wilayah pesisir memberikan jasa lingkungan salah satunya yaitu penunjang kebutuhan masyarakat dari parawisata dan rekreasi, wisata pancing dan budidaya kerang. Perkembangan pemukiman di wilayah pesisir ini didominasi oleh permukiman rumah panggung atau rumah yang berdiri diatas permukaan air, permukiman yang berdiri di atas air tidak didukung dengan fasilitas sanitasi yang baik sehingga semua aktivitas masyarakat langsung di buang ke perairan, baik limbah padat maupun limbah cair, hal ini tentu dapat menyebabkan pencemaran pada ekosistem pesisir dan berdampak juga kepada masyarakat yang berada di sekitar pesisir tersebut. Sejalan dengan peraturan pemerintah No.22 tahun 2021 perairan dikatakan tercemar jika melebihi baku mutu bagi peruntukkannya.&#13;
Saat ini belum ada laporan awal atau penelitian sebelumnya khususnya pada lokasi ini sehingga ini merupakan data awal terkait analisis pencemaran dan pengelolaan bagi permukiman diatas air khususnya pada lokasi ini. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Agustus hingga desember 2025 pada didua lokasi yaitu distrik sorong barat dan maladumes, pemilihan lokasi penelitian secara purposive sampling dengan kriteria yaitu rumah panggung. Pemilihan kedua lokasi untuk melihat perbedaan kepadatan penduduk terhadap pencemaran perairan, dengan hipotesis lokasi yang padat penduduk akan memiliki nilai pencemaran yang lebih tinggi dibandingkan lokasi yang tidak padat. Keterbatasan penelitian hanya pada perbandingan lokasi yang padat penduduk dan tidak padat penduduk, dengan kesamaan yaitu perumahan permukiman yang berada di atas air. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis status perairan, menganalisis beban pencemaran domestik sebelum masuk ke perairan, menganalisis persepsi dan perilaku masyarakat serta menganalisis tata kelola kolaborasi masyarakat dan pemerintah terkait program pengelolaan yang pernah dilakukan sebelumnya, dan merancang program pengelolaan pencemaran sebagai rekomendasi untuk kawasan permukiman di atas air.&#13;
Penelitian ini menggunakan analisis pencemaran untuk menilai status kualitas air pada kedua lokasi penelitian apakah dia masih berada di kategori memenuhi baku mutu atau tercemar.  Analisis beban pencemaran air laut dilakukan secara eksperimen pada aktivitas masyarakat, eksperimen ini dilakukan karena keterbatasan saluran pembuangan pada permukiman, menganalisis beban pencemaran yang sebenarnya sebelum masuk ke perairan. Analisis limbah padat dengan menghitung berat total sampah hasil aktivitas masyarakat, kemudian dipilah perjenisnya untuk mengetahui komposisi jenis sampah yang banyak digunakan oleh masyarakat pada kedua lokasi. Analisis deskriptif dilakukan pada kedua lokasi untuk menganalisis persepsi masyarakat, perilaku masyarakat, dan kolaborasi masyarakat dan pemerintah terkait pengelolaan limbah serta program yang pernah dijalankan sebelumnya. Penyusunan strategi dengan melibatkan masyarakat dan pemerintah untuk penentuan prioritas program sebagai rekomendasi pengelolaan pesisir dengan metode analiytical hierarchy process (AHP) dengan pembagian kuisoner kepada stakeholder terkait dilakukan dengan wawancara. &#13;
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kedua lokasi penelitian berada pada kategori tercemar ringan, dengan nilai pencemaran tertinggi berada lokasi yang tidak padat penduduk pada titik stasiun 6 yaitu 4,89 dengan kategori tercemar ringan dan nilai terendah pada lokasi 1 stasiun 4. Dari hasil pengamatan lokasi tidak padat memiliki nilai lebih tinggi karena berada dekat dengan sungai, dari data (BPS 2025) arah dan kecepatan angin di bulan pengambilan sampel dimana angin datang dari arah tenggara dengan kecepatan 0,3 sampai 0,9 knots ini yang membuat bahan pencemar dari sungai mulai menyebar ke segala arah. Sehingga untuk hipotesis penelitian ini belum terbukti benar dan perlu dilakukan penelitian lain dengan tidak hanya mempertimbangkan kepadatan penduduk saja melainkan mempertimbangkan faktor lain. Namun, dari hasil temuan meski tertinggi pada lokasi padat penduduk, lokasi yang tidak padat penduduk pada beberapa parameter seperti amonia dengan nilai 0,90 mg/L dan E coli dengan nilai 388,67 CFU/100 ml memiliki nilai lebih tinggi pada lokasi yang berada tepat dibawah permukiman. Hal ini menandakan bahwa ada tekanan beban pencemaran dari hasil aktivitas masyarakat pada lokasi padat penduduk. Hasil analisis persepsi serta perilaku kedua lokasi bahwa masyarakat mengetahui dampak dari limbah yang dibuang ke laut, namun secara perilaku mereka masih terus membuang, hal ini dikarenakan keterbatasan fasilitas seperti tidak adanya tempat pembuangan sementara dan instalasi pengelolaan limbah juga tidak tersedia. Masih kurang komitmen dari pemerintah terkait program pengelolaan, edukasi kepada masyarakat, dan penyediaan fasilitas. Ini sejalan dengan temuan bahwa kurangnya kesadaran masyarakat dalam membuang karena keterbatasan fasilitas dan kurangnya edukasi kepada masyarakat. Secara etnis kedua lokasi memiliki perbedaan etnis yang berbeda namun, berdasarkan hasil analisis persepsi dan perilaku masyarakat berada pada tingkatan yang sama. Sehingga, perlu di pahami bahwa alasan sebenarnya pencemaran bisa terjadi disebabkan oleh keterbatasan fasilitas yang ada, belum adanya program atau edukasi terkait pengelolaan limbah dan pelestarian lingkungan, serta pengawasan aktif dari pemerintah. Berdasarkan hasil AHP didapatkan bahwa strategi pengelolaan pesisir yaitu dengan pengendalian limbah padat dan cair, oleh karena itu, diperlukan penguatan pengelolaan limbah berbasis masyarakat melalui penyediaan fasilitas, penguatan regulasi, dan peningkatan pendidikan lingkungan guna mendukung pengelolaan pesisir yang berkelanjutan.; The coast is a transitional area where land and sea meet. Changes in coastal areas are determined by the activities occurring around them. Coastal areas provide environmental services, including supporting community needs for tourism and recreation, fishing, and shellfish cultivation. Residential development in this coastal area is dominated by stilt houses or houses built above the water's surface. These settlements are not supported by adequate sanitation facilities, so all community activities, both solid and liquid waste, are discharged directly into the water. This can pollute coastal ecosystems and impact the surrounding communities. In line with Government Regulation No. 22 of 2021, waters are considered polluted if they exceed the quality standards for their intended use.&#13;
Currently, there are no preliminary reports or previous research specifically on this location, so this provides preliminary data regarding pollution analysis and management for settlements above water, specifically in this area. This research was conducted from August to December 2025 in two locations: West Sorong and Maladumes districts. The research sites were selected using purposive sampling, with stilt houses as the criteria. The two locations were selected to examine differences in population density and water pollution, with the hypothesis that densely populated locations would have higher pollution values than less densely populated locations. The study was limited to comparing densely populated and less densely populated locations, with the commonality being that residential areas are located on water. The objectives of this study were to analyze the water status, analyze the domestic pollution load before it enters the water, analyze community perceptions and behavior, analyze collaborative governance between the community and government regarding previously implemented management programs, and design a pollution management program as a recommendation for residential areas on water.&#13;
This study used pollution analysis to assess the water quality status at both research locations to determine whether it met quality standards or was polluted. Seawater pollution load analysis was conducted experimentally on community activities. This experiment was conducted due to limited drainage in the settlements, analyzing the actual pollution load before it entered the water. Solid waste analysis involved calculating the total weight of waste generated by community activities and then sorting it by type to determine the composition of waste types commonly used by residents at both locations. Descriptive analysis was conducted at both locations to analyze community perceptions, behavior, and community-government collaboration regarding waste management and previous programs. The strategy involved community and government involvement in determining program priorities as recommendations for coastal management using the analytical hierarchy process (AHP) method. Questionnaires were distributed to relevant stakeholders through interviews.&#13;
The results of this study indicate that both study locations are classified as lightly polluted. The highest pollution score was at the less densely populated location at station 6, with a score of 4.89, categorized as lightly polluted, and the lowest score was at location 1, station 4. Observations showed that the less densely populated location had a higher score due to its proximity to the river. According to 2025 BPS data, wind direction and speed during the sampling month were from the southeast at 0.3 to 0.9 knots, which caused pollutants from the river to spread in all directions. Therefore, this research hypothesis has not been proven correct, and further research is needed, considering not only population density but also other factors. However, despite the highest levels in densely populated areas, non-densely populated areas had higher levels of ammonia, with a value of 0.90 mg/L and E. coli, with a value of 388.67 CFU/100 ml, in some parameters, such as those directly below residential areas. This indicates that there is pressure from the pollution load from community activities in densely populated areas. The results of the perception and behavior analysis at both locations indicate that the community is aware of the impact of waste dumped into the sea, but they continue to dump it behaviorally. This is due to limited facilities such as the lack of temporary disposal sites and waste management installations. There is still a lack of commitment from the government regarding management programs, public education, and the provision of facilities. This is in line with the finding that there is a lack of public awareness in disposal occurs due to limited facilities and a lack of public education. Although the two locations differ ethnically, analyses of public perception and behavior reveal that they share similar levels in these respects. Consequently, it is crucial to recognize that the pollution stems from limited existing facilities, the absence of programs or education regarding waste management and environmental conservation, and a lack of active government oversight. AHP results indicate that the coastal management strategy should focus on controlling solid and liquid waste; therefore, strengthening community-based waste management is essential through the provision of facilities, the reinforcement of regulations, and enhanced environmental education—to support sustainable coastal management.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179898</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Rekayasa Genetika Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.) kultivar IPB CP2 dengan Gen FBPase/ClRan1</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179752</link>
<description>Rekayasa Genetika Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.) kultivar IPB CP2 dengan Gen FBPase/ClRan1
Hidayat, Abdan Arjaka
Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan salah satu komoditas pangan pokok yang diproduksi terbanyak secara global dengan jumlah 390,4 juta ton di dunia pada tahun 2024. Indonesia menjadi salah satu negara yang memproduksi kentang kurang lebih 1,23 juta ton di tahun 2025. Namun, produksi umbi kentang di Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan khususnya kebutuhan industri kentang olahan. Oleh karena itu, sebagian besar kebutuhan kentang industri masih diimpor. Impor kentang industri menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, yaitu dari 71,2 ribu ton pada tahun 2022 menjadi 96,3 ribu ton per tahun 2025. Salah satu upaya dalam meningkatkan produksi kentang dalam negeri adalah menggunakan kultivar kentang unggul dengan produktivitas tinggi. Salah satu upaya untuk menghasilkan kultivar unggul adalah perbaikan genetik dengan menggunakan teknik rekayasa genetik. Kentang kultivar IPB CP2 merupakan salah satu kultivar kentang lokal yang dikembangkan oleh Pusat Bioteknologi IPB yang memiliki karakter sesuai untuk bahan baku industri kentang olahan, seperti keripik dan kentang goreng. Kultivar tersebut masih perlu ditingkatkan produktivitasnya dengan memasukkan gen Fructose-1,6-bisphosphatase dan gen Citrullus lanatus Ran 1. Gen Fructose-1,6-bisphosphatase (FBPase) merupakan gen yang berperan dalam percepatan akumulasi karbon dalam siklus Calvin yang mempengaruhi biosintesis pati dan sukrosa, sedangkan gen Citrullus lanatus Ran 1 (ClRan1) merupakan gen yang berperan dalam pembentukan mikrotubulus selama fase mitosis dan pemanjangan akar yang mempengaruhi penyerapan unsur hara secara optimal dan pembentukan umbi yang lebih cepat. Tujuan dari penelitian ini yaitu menghasilkan kentang kultivar IPB CP2 transgenik yang membawa gen FBPase/ClRan1, menganalisis karakter pertumbuhan dan produksi tanaman transgenik IPB CP2, menganalisis kandungan pati dan gula total pada umbi mikro tanaman transgenik IPB CP2, dan menganalisis ekspresi gen FBPase dan ClRan1. &#13;
Gen FBPase/ClRan1 diintegrasikan ke dalam kultivar IPB CP2 dengan transformasi genetik tanaman menggunakan Agrobacterium tumefaciens yang membawa gen FBPase/ClRan1. Bahan tanaman yang digunakan pada transformasi genetik tanaman adalah potongan batang tanpa buku tunas. Kalus dan tunas yang dihasilkan dikultivasi pada media seleksi kanamisin selama 2-4 minggu, dan dihitung persentase efisiensi transformasi dan regenerasi tanaman. Analisis integrasi gen dilakukan untuk memastikan keberadaan gen FBPase/ClRan1 di dalam genom tanaman transgenik dengan cara melakukan amplifikasi gen FBPase/ClRan1 menggunakan PCR. Untuk analisis produksi umbi, gula dan pati, klon IPB CP2 transgenik dan non-transgenik ditumbuhkan pada media induksi umbi mikro selama 8 minggu. Metode kolorimetri digunakan untuk mengukur kandungan gula total pada umbi menggunakan fenol-H2SO4, dan kandungan pati dengan menggunakan ?-amilase dan DNS. Ekspresi relatif gen FBPase dan ClRan1 dilakukan menggunakan qPCR.&#13;
Berdasarkan jumlah eksplan yang ditransformasikan hingga menghasilkan kalus yang resisten pada media seleksi kanamisin 100 mg/L, hasil penelitian ini menunjukkan efisiensi transformasi sebesar 55,1%. Sebagian kalus yang resisten mampu beregenerasi menghasilkan tunas dengan efisiensi regenerasi sebesar 43,1%. Keberhasilan transfer gen dikonfirmasi berdasarkan analisis integrasi dengan PCR menggunakan primer spesifik yang menghasilkan amplikon gen FBPase berukuran 581 pasang basa dan ClRan1 berukuran 798 pasang basa. Dari 44 tunas transgenik putatif, dihasilkan 4 klon transgenik. Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan planlet meliputi tinggi tajuk, panjang akar, jumlah akar, bobot tajuk dan akar, karakter produksi planlet meliputi jumlah umbi, bobot umbi, serta kandungan gula dan pati pada umbi. Klon transgenik menunjukkan peningkatan tinggi tajuk, namun tidak diikuti oleh peningkatan bobot segar dan bobot kering tajuk yang mengindikasikan peralihan alokasi karbon menuju pembentukan organ penyimpanan. Jumlah akar klon transgenik CP2FB2, CP2FB3, dan CP2FB4 berbeda nyata dibandingkan klon non-transgenik, dengan bobot segar dan kering akar yang meningkat signifikan pada klon CP2FB4. Jumlah umbi mikro tidak berbeda nyata antarklon, namun klon CP2FB4 menunjukkan bobot umbi tertinggi. Umbi klon CP2FB3 dan CP2FB4 memiliki kadar gula total dan pati tertinggi dibandingkan non-transgenik dan klon transgenik lainnya. Ekspresi relatif gen FBPase klon transgenik lebih tinggi pada tajuk dibandingkan non-transgenik. Sedangkan pada ekspresi relatif gen ClRan1 cenderung meningkat pada klon transgenik, baik pada tajuk maupun akar.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179752</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
