<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>MF - Human Ecology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/79</link>
<description/>
<pubDate>Tue, 01 Sep 2026 19:17:34 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-09-01T19:17:34Z</dc:date>
<item>
<title>Proses Adopsi Irigasi Springkler pada Petani Bawang Merah di Kecamatan Sape Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179753</link>
<description>Proses Adopsi Irigasi Springkler pada Petani Bawang Merah di Kecamatan Sape Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat
Fatmawati
Kebutuhan bahan pokok masyarakat Indonesia terus meningkat setiap tahun. Tingginya permintaan kebutuhan bahan pokok bagi masyarakat menegaskan pentingnya penambahan akan kebutuhan bahan pokok tersebut. Bawang merah menjadi salah satu kebutuhan bahan pokok dengan jumlah permintaan yang tinggi. Peningkatan kebutuhan tersebut belum sepenuhnya diimbangi oleh peningkatan produksi bawang merah, sehingga diperlukan upaya pengembangan budidaya bawang merah untuk meningkatkan produktivitas dan memenuhi kebutuhan pasar. Pengembangan budidaya bawang merah terus didorong melalui berbagai upaya pengenalan inovasi teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas usahatani bawang merah. Kondisi ini menunjukkan adanya tantangan dalam pemenuhan kebutuhan bawang merah secara berkelanjutan, sehingga peningkatan produksi bawang merah melalui penerapan inovasi teknologi menjadi salah satu cara yang tepat untuk mendorong peningkatan produksi. Teknologi yang dapat digunakan untuk mendorong pengembangan budidaya bawang merah adalah teknologi irigasi sprinkler. &#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif. Data dikumpulkan melalui survei, wawancara mendalam, dan observasi pada 113 orang petani di Desa Sangia Kecamatan Sape Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang telah diperkanalkan terhadap teknologi irigasi springkler secara sensus sedangkan informan dipilih secara purposive.&#13;
Analisis data dilakukan menggunakan program SPSS 25 untuk menguji pengaruh karakteristik petani, dukungan penyuluhan, dukungan kelompok, dukungan lingkungan, serta karakteristik inovasi terhadap tingkat pengetahuan, tingkat persuasi, dan keputusan petani terhadap teknologi irigasi sprinkler pada budidaya bawang merah. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik responden, sedangkan uji validitas dan reliabilitas dilakukan untuk memastikan kualitas instrumen penelitian. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil individu responden cukup beragam. Mayoritas responden berusia di atas 42 tahun, dan memiliki tingkat pendidikan terakhir SD dengan jumlah tanggungan keluarga yang dimiliki 3-4 orang dalam rumah tangganya, memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun, memiliki penguasaan lahan yang tergolong lahan kecil dan jumlah pendapatan Rp.90.juta – Rp.152 juta pertahun. &#13;
Selanjutnya, dukungan penyuluhan yang meliputi kesesuaian materi penyuluhan, intenstas penyuluhan, metode penyuluhan, dan metode penyuluhan tergolong masih rendah, hanya aspek materi penyuluhan yang tergolong cukup tinggi. Dukungan kelompok, yang meliputi penyedia informasi dan penggarak anggota kelompok, tergolong tinggi. Dukungan lingkungan yang meliputi ketersediaan sumber daya alam khususnya air, dukungan sarana prasarana produksi dan dukungan akses pasar tergolong tinggi. Karakteristik inovasi yang meliputi keuntungan relatif, kesesuaian inovasi, kerumitan inovasi, kemungkinan dicoba dan kemudahan diamati juga tergolong tinggi. Tahapan proses adopsi teknologi irigasi sprinkler, pada tahap pengetahuan dan persuasi, seluruh responden telah mengetahui adanya teknologi irigasi sprinkler dan memberikan persepsi positif terhadap teknologi tersebut. Sementara pada tahap keputusan, dari seluruh responden yang berjumlah 113 orang tersebut, hanya 20 orang yang memutuskan untuk menerima teknologi irigasi sprinkler, sedangkan 93 orang lainnya memutuskan untuk tidak menerima inovasi tersebut. 20 orang yang memutuskan menerima inovasi teknologi irigasi springkler, kemudian mengimplementasikan teknologi tersebut pada lahan pertaniannya dan setelah dikonfirmasi kembali, 20 orang tersebut akan terus melanjutkan dalam menggunakan teknologi irigasi springkler pada kegiatan budidaya bawang merah di lahan pertaniannya. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan dan keputusan adopsi petani, karena seluruh responden telah mencapai tahap pengetahuan dan membentuk persepsi positif terhadap inovasi tersebut. Hambatan yang besar terjadi pada tahap keputusan, dimana hanya 20 petani yang memutuskan untuk menerima inovasi. Artinya, tantangan utama adopsi irigasi springkler bukan lagi pada tahap pengenalan inovasi, tetapi pada bagaimana meyakinkan petani untuk mengambil keputusan mengadopsi teknologi irigasi springkler tersebut.&#13;
Hasil analisis regresi menunjukkan faktor-faktor yang memengaruhi tahap pengetahuan terhadap teknologi irigasi sprinkler, yaitu materi penyuluhan, intensitas penyuluhan, metode penyuluhan, penyedia informasi, menggerakkan anggota kelompok, dukungan sumber daya alam, dukungan akses pasar, kerumitan inovasi, dan kemudahan diamati. Pada tahap persuasi faktor-faktor yang mempengaruhi persuasi petani terhadap teknologi irigasi sprinkler yaitu, luas lahan, materi penyuluhan, intesitas penyuluhan, kerumitan inovasi dan kemudahan diamati.Pada tahap keputusan, faktor-faktor yang mempengaruhi kesesuaian materi penyuluhan, intensitas penyuluhan, metode penyuluhan,penyedia informasi, menggerakkan anggota kelompok, dukungan sumber daya alam, dukungan akses pasar, kerumitan inovasi, dan kemudahan diamati inovasi tersebut.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179753</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Tradisi Jeulame, Religiositas dan Konformitas Teman Sebaya terhadap Keputusan Menikah pada Laki-laki Aceh Perantauan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179416</link>
<description>Pengaruh Tradisi Jeulame, Religiositas dan Konformitas Teman Sebaya terhadap Keputusan Menikah pada Laki-laki Aceh Perantauan
Fitra, Fajar Al
Keputusan menikah pada laki-laki Aceh perantauan terbentuk melalui pertimbangan budaya, agama, sosial, ekonomi, dan kesiapan personal. Penurunan jumlah pernikahan di Aceh serta tingginya proporsi penduduk yang belum menikah menunjukkan perubahan dalam proses pembentukan keluarga. Dalam konteks budaya Aceh, tradisi jeulame memuat nilai penghormatan kepada perempuan, kesungguhan, dan tanggung jawab laki-laki, tetapi tuntutan materialnya dapat dipersepsikan sebagai beban ekonomi. Kehidupan di perantauan juga mempertemukan laki-laki Aceh dengan lingkungan sosial dan budaya baru. Kondisi tersebut membuka pilihan untuk menikah secara endogami dengan perempuan Aceh, menikah secara eksogami dengan perempuan di luar Aceh, atau menunda pernikahan. Berdasarkan teori determinasi, teori kognitif sosial, dan teori ekologi Bronfenbrenner, keputusan menikah dipahami sebagai hasil interaksi antara faktor personal dan lingkungan.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi karakteristik individu dan keluarga, pemaknaan tradisi jeulame, religiositas, konformitas teman sebaya, kesiapan menikah, dan keputusan menikah laki-laki Aceh perantauan; (2) menganalisis hubungan karakteristik individu dan keluarga dengan seluruh variabel tersebut; dan (3) menganalisis pengaruh pemaknaan tradisi jeulame, religiositas, dan konformitas teman sebaya terhadap kesiapan serta keputusan menikah laki-laki Aceh perantauan.&#13;
Penelitian menggunakan desain cross-sectional study dengan pendekatan kuantitatif. Penarikan contoh dilakukan melalui non-probability sampling dengan teknik purposive sampling. Penelitian melibatkan 201 laki-laki asal Aceh yang berusia minimal 25 tahun, belum menikah, dan telah merantau sekurang-kurangnya satu tahun. Pengumpulan data berlangsung pada Mei hingga Juli 2026 melalui kuesioner self-administered secara daring menggunakan Google Form. Data dianalisis secara deskriptif, dilanjutkan dengan uji korelasi bivariat, regresi linear berganda untuk kesiapan menikah, regresi logistik multinomial untuk keputusan menikah, dan uji bootstrapping. Pengolahan dan analisis data menggunakan Microsoft Excel, Statistical Package for the Social Sciences (SPSS), Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada usia dewasa awal, bekerja sebagai karyawan swasta, berdomisili di dalam negeri, telah merantau lebih dari lima tahun, dan merantau untuk menempuh pendidikan. Kelompok pendapatan terbanyak berada di atas Rp5.000.000 per bulan. Pemaknaan tradisi jeulame tergolong sedang. Responden lebih memaknai jeulame sebagai simbol perjuangan, kesungguhan, tanggung jawab, dan komitmen laki-laki daripada sebagai sarana penguatan status sosial. Tingkat religiositas tergolong tinggi, sedangkan konformitas teman sebaya tergolong rendah. Kesiapan menikah berada pada kategori sedang. Kesiapan interpersonal menjadi dimensi tertinggi, sedangkan kesiapan keuangan menjadi dimensi terendah. Keputusan menikah didominasi oleh endogami sebesar 59,2 persen, diikuti eksogami sebesar 31,8 persen, serta tidak menikah atau menunda pernikahan sebesar 9,0 persen.&#13;
Hasil analisis korelasi bivariat menunjukkan bahwa karakteristik individu dan keluarga menunjukkan pola korelasi yang selektif dengan variabel penelitian. Pemaknaan tradisi jeulame berkorelasi dengan pendapatan ayah. Kesiapan menikah berkorelasi dengan status pernikahan orang tua dan domisili. Sementara itu, keputusan menikah pendidikan terakhir ibu.&#13;
Hasil regresi linear berganda menunjukkan bahwa pemaknaan tradisi jeulame, religiositas, dan konformitas teman sebaya secara simultan berpengaruh terhadap kesiapan menikah serta menjelaskan 23,1 persen variasinya. Secara parsial, religiositas berpengaruh positif terhadap kesiapan menikah, sedangkan konformitas teman sebaya berpengaruh negatif. Pemaknaan tradisi jeulame tidak berpengaruh signifikan terhadap kesiapan menikah. Hasil regresi logistik multinomial menunjukkan bahwa pemaknaan tradisi jeulame dan kesiapan menikah berpengaruh langsung terhadap keputusan menikah, sedangkan religiositas dan konformitas teman sebaya tidak berpengaruh langsung. Setiap peningkatan pemaknaan tradisi jeulame menurunkan peluang memilih eksogami dibandingkan endogami sebesar 4,1 persen. Setiap peningkatan kesiapan menikah menurunkan peluang memilih tidak menikah dibandingkan endogami sebesar 5,0 persen. Model menjelaskan 24,8 persen variasi keputusan menikah. Kesiapan menikah dapat dinyatakan sebagai mediator antara religiositas dan keputusan menikah setelah pengujian bootstrapping.&#13;
Hasil penelitian menegaskan dua jalur utama dalam keputusan menikah laki-laki Aceh perantauan. Jalur budaya melalui pemaknaan tradisi jeulame berperan dalam pilihan endogami atau eksogami. Jalur personal melalui kesiapan menikah berperan dalam pilihan menikah atau tidak menikah. Laki-laki Aceh perantauan perlu meningkatkan kesiapan psikologis, religius, sosial, dan keuangan secara seimbang. Keluarga, tokoh adat, dan tokoh agama perlu membangun pemahaman bahwa jeulame merupakan simbol penghormatan dan tanggung jawab, bukan semata-mata beban ekonomi. Pemerintah Aceh, Majelis Adat Aceh, Kementerian Agama, dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional dapat mengintegrasikan edukasi budaya, penguatan religiositas, kesiapan psikologis, literasi keuangan, dan pengelolaan pengaruh sosial ke dalam program bimbingan perkawinan. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain longitudinal, metode kualitatif dan Forum Group Discussion (FGD) untuk mendapat pemahaman komprehensif terhadap pemaknaan jeulame, melibatkan kelompok responden yang dapat diketahui populasinya, menambahkan faktor ekonomi dan psikologis lain.&#13;
Kata kunci: Keputusan menikah, konformitas teman sebaya, laki-laki Aceh perantauan, religiositas, tradisi jeulame.; Marriage decisions among Acehnese male migrants involve cultural, religious, social, economic, and personal readiness considerations. The declining number of marriages in Aceh and the high proportion of unmarried individuals indicate changes in the family formation process. Within the Acehnese cultural context, the jeulame tradition represents respect for women, determination, and male responsibility. However, its material requirements may be perceived as an economic burden. Living away from Aceh also exposes Acehnese men to new social and cultural environments. This situation provides them with the options of entering an endogamous marriage with an Acehnese woman, entering an exogamous marriage with a woman from outside Aceh, or postponing marriage. Based on determinism theory, social cognitive theory, and Bronfenbrenner’s ecological theory, marriage decisions are understood as the result of interactions between personal and environmental factors. &#13;
This study aimed to: (1) identify individual and family characteristics, perceptions of the jeulame tradition, religiosity, peer conformity, marriage readiness, and marriage decisions among Acehnese male migrants; (2) analyze the relationships between individual and family characteristics and all of these variables; and (3) analyze the effects of perceptions of the jeulame tradition, religiosity, and peer conformity on marriage readiness and marriage decisions among Acehnese male migrants.&#13;
This study employed a quantitative cross-sectional design. The sample was selected using non-probability sampling with a purposive sampling technique. The study involved 201 unmarried Acehnese men aged at least 25 years who had lived away from Aceh for at least one year. Data were collected from May to July 2026 through a self-administered online questionnaire using Google Forms. The data were analyzed using descriptive analysis, Bivariate correlation test, multiple linear regression for marriage readiness, multinomial logistic regression for marriage decisions and bootstrapping for mediator indirect effect. Microsoft Excel, Statistical Package for the Social Sciences (SPSS), Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS) were used for data processing and analysis. &#13;
The results showed that most respondents were in early adulthood, worked as private-sector employees, lived within Indonesia, had lived away from Aceh for more than five years, and had migrated primarily to pursue education. The largest income group earned more than IDR 5,000,000 per month. Respondents’ perceptions of the jeulame tradition were categorized moderate. They interpreted jeulame more as a symbol of struggle, determination, responsibility, and male commitment than as a means of strengthening social status. Religiosity was categorized as high, whereas peer conformity was low. Marriage readiness was categorized as moderate. Interpersonal readiness was the highest dimension, while financial readiness was the lowest. Marriage decisions were dominated by endogamy at 59.2 percent, followed by exogamy at 31.8 percent and remaining unmarried or postponing marriage at 9.0 percent. &#13;
The results of the bivariate correlation analysis indicate that individual and family characteristics show a selective correlation pattern with the research variables. The interpretation of the jeulame tradition correlates with the father's income. Readiness of marriage correlates with the parents' marital status and domicile. Meanwhile, the decision to marry correlates with the mother's highest education.&#13;
The multiple linear regression results showed that perceptions of the jeulame tradition, religiosity, and peer conformity simultaneously affected marriage readiness and explained 23.1 percent of its variance. Partially, religiosity had a positive effect on marriage readiness, whereas peer conformity had a negative effect. Perceptions of the jeulame tradition did not significantly affect marriage readiness. The multinomial logistic regression results showed that perceptions of the jeulame tradition and marriage readiness directly affected marriage decisions, whereas religiosity and peer conformity had no direct effects. Each one-unit increase in perceptions of the jeulame tradition reduced the odds of choosing exogamy rather than endogamy by 4.1 percent. Each one-unit increase in marriage readiness reduced the odds of remaining unmarried rather than choosing endogamy by 5.0 percent. The model explained 24.8 percent of the variance in marriage decisions and achieved an overall classification accuracy of 62.7 percent. Marriage readiness can be identified as a mediator between religiosity and marriage decisions based on the bootstrapping analysis.&#13;
The findings identify two main pathways underlying marriage decisions among Acehnese male migrants. The cultural pathway, represented by perceptions of the jeulame tradition, influences the choice between endogamy and exogamy. The personal pathway, represented by marriage readiness, influences the choice between marrying and avoid to marriage. Acehnese male migrants need to develop balanced psychological, religious, social, and financial readiness. Families, traditional leaders, and religious leaders should promote an understanding of jeulame as a symbol of respect and responsibility rather than merely an economic burden. The Aceh Government, Aceh Customary Council, Ministry of Religious Affairs, and National Population and Family Planning Agency may integrate cultural education, religiosity, psychological readiness, family financial literacy, and the management of social influences into premarital guidance programs. Future research is recommended to employ longitudinal designs and qualitative methods, including Focus Group Discussions (FGDs), to obtain a more comprehensive understanding of the meaning attached to jeulame, involve respondent groups with identifiable populations, and incorporate additional economic and psychological factors.&#13;
Keywords: Acehnese male migrants, jeulame tradition, marriage decisions, peer conformity, religiosity.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179416</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Belenggu Struktur dan Agensi Gen Z dalam Transformasi Usaha Keluarga Menuju Ruang Digital Di Kota Bukittinggi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179340</link>
<description>Belenggu Struktur dan Agensi Gen Z dalam Transformasi Usaha Keluarga Menuju Ruang Digital Di Kota Bukittinggi
FAJRAH, HANI
Transformasi digital telah menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing Usaha Mikro dan Kecil (UMK). Namun, tidak seluruh pelaku usaha memiliki tingkat kesiapan yang sama dalam mengadopsi teknologi digital sehingga memunculkan fenomena digital divide. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesenjangan kesiapan digital  di kalangan pelaku UMK Di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, mengidentifikasi manfaat kesiapan digital  terhadap kesuksesan usaha, serta merumuskan strategi penguatan kesiapan digital  yang sesuai dengan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan 35 informan dan  survei menggunakan kuesioner terhadap 74 responden pelaku UMK keluarga yang bergerak di bidang tekstil, produk songket, sulaman dan bordiran. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gen Z tidak mampu membangun kesiapan digital  karena belenggu struktur budaya. Temuan ini menunjukkan bahwa perbedaan rules dan resources struktur lama (usaha keluarga dalam pola tradisional)  dan struktur baru (ruang digital) memiliki karakteristik yang berbeda. &#13;
Karakteristik sosial budaya masyarakat Minangkabau seperti pola usaha keluarga, hubungan kekerabatan, kepercayaan, pengalaman transaksi, dan nilai-nilai adat membentuk cara pelaku usaha memandang penggunaan teknologi digital sehingga proses adopsinya berlangsung secara bertahap. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesiapan digital  merupakan hasil interaksi antara faktor teknologi, sumber daya manusia, dan struktur sosial budaya yang berkembang dalam masyarakat Minang.&#13;
Ruang digital memiliki rules dan resources yang berbeda dengan cara tradisional, ruang digital membutuhkan standar operasional pemasaran digital mempunyai aturan sendiri dalam penggunaan marketplace yang mengharuskan pelaku usaha harus mampu memahami kebijakan platform, mampu memahami carakerja algoritma (konsistensi postingan, interaksi, penggunaan video pendek) serta aturan lainnya seperti etika komunikasi digital, sistem pembayaran, keamanan dan lainnya. Sedangkan yang menjadi resources ruang diigital adalah kepemilikan perangkat, akses internet, platform digital, modal untuk mampu mengakses digital marketing seperti dana untuk iklan berbayar, promosi, pembuatan konten, dan pengembangan toko online, serta kebutuhan sumberdaya lainnya.&#13;
Strategi mentransformasi Gen Z ke ruang digital dapat ditempuh dengan dua cara: pertama penyadaran pada pelaku usaha Gen Z untuk keluar dari pengaruh keluarga besar dan segera masuk ke ruang digital untuk mencapai peluang profit bisnis yang lebih besar. Penyadaran adalah pendekatan dari sisi individu pelaku usaha Gen Z . Kedua membangun institusi baru untuk meruntuhkan pengaruh norma-norma bisnis keluarga besar Gen Z yang tradisional. Hal ini bisa dilakukan oleh otoritas pemerintah yang memaksa untuk membuat transaksi bisnis berada diruang cyber. Pelopornya harus pemerintah setempat.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179340</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Gaya Pengasuhan Ayah Penolakan, Gejala Adiksi Media Sosial, Konformitas Teman Sebaya, dan Kontrol Diri terhadap Perilaku Merokok Remaja</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179321</link>
<description>Pengaruh Gaya Pengasuhan Ayah Penolakan, Gejala Adiksi Media Sosial, Konformitas Teman Sebaya, dan Kontrol Diri terhadap Perilaku Merokok Remaja
Haliza, Fadhila Dinda
Merokok merupakan salah satu perilaku berisiko yang masih lazim ditemukan pada remaja Indonesia, baik dalam bentuk rokok konvensional maupun rokok elektrik, dengan berbagai varian rasa dan desain yang turut mendorong minat remaja untuk mencobanya meskipun tetap membawa risiko kesehatan. Perilaku merokok remaja tidak berdiri sendiri, melainkan dibentuk oleh interaksi faktor keluarga, digital, sosial, dan individual. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh gaya pengasuhan ayah penolakan, gejala adiksi media sosial, konformitas teman sebaya, dan kontrol diri terhadap perilaku merokok remaja. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif, melibatkan 116 remaja perokok usia 15–19 tahun dari tiga SMK di Kota dan Kabupaten Bekasi yang dipilih menggunakan purposive sampling, dengan mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki dan duduk di kelas X. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis secara deskriptif, korelasi Pearson, dan Structural Equation Modeling (SEM). Hasil menunjukkan bahwa gaya pengasuhan ayah penolakan berpengaruh negatif signifikan terhadap kontrol diri dan positif signifikan terhadap gejala adiksi media sosial. Gejala adiksi media sosial berpengaruh negatif signifikan terhadap kontrol diri, positif signifikan terhadap konformitas teman sebaya, serta berpengaruh tidak langsung signifikan terhadap perilaku merokok melalui konformitas teman sebaya. Konformitas teman sebaya berpengaruh positif signifikan terhadap perilaku merokok dan menjadi prediktor langsung terkuat dalam model penelitian, sedangkan kontrol diri tidak berpengaruh signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa konformitas teman sebaya berperan lebih dominan dalam membentuk perilaku merokok remaja dibandingkan kontrol diri, sementara gaya pengasuhan ayah penolakan dan gejala adiksi media sosial bekerja secara tidak langsung melalui jalur psikososial remaja. Oleh karena itu, strategi pencegahan perilaku merokok remaja perlu berfokus pada penguatan keterampilan menolak tekanan kelompok teman sebaya, di samping perbaikan pola pengasuhan ayah yang lebih hangat dan konsisten serta pendampingan penggunaan media sosial remaja.; Smoking remains one of the prevalent risk behaviors among Indonesian adolescents, encompassing both conventional and electronic cigarettes, whose diverse flavors and appealing designs further increase adolescents' interest in trying them despite the ongoing health risks they pose. Adolescent smoking behavior does not occur in isolation but is shaped by the interaction of family, digital, social, and individual factors. This study aimed to analyze the effects of father's rejecting parenting style, social media addiction symptoms, peer conformity, and self-control on adolescent smoking behavior. A quantitative cross-sectional design was employed, involving 116 adolescent smokers aged 15–19 years from three vocational high schools in Bekasi City and Bekasi Regency, selected through purposive sampling, with the majority of respondents being male and in the 10th grade. Data were collected using structured questionnaires and analyzed using descriptive statistics, Pearson correlation, and Structural Equation Modeling (SEM). The results showed that father's rejecting parenting style had a significant negative effect on self-control and a significant positive effect on social media addiction symptoms. Social media addiction symptoms had a significant negative effect on self-control, a significant positive effect on peer conformity, and a significant indirect effect on smoking behavior through peer conformity. Peer conformity had a significant positive effect on smoking behavior and was the strongest direct predictor in the research model, while self-control had no significant effect. These findings indicate that peer conformity plays a more dominant role in shaping adolescent smoking behavior than self-control, while father's rejecting parenting style and social media addiction symptoms operate indirectly through adolescents' psychosocial pathways. Therefore, smoking prevention strategies should focus on strengthening peer-refusal skills, alongside promoting warmer and more consistent father's parenting practices and guidance on adolescents' social media use.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179321</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
