<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Business</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78160</link>
<description>Undergraduated Theses on Business</description>
<pubDate>Thu, 29 Oct 2026 22:16:52 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-10-29T22:16:52Z</dc:date>
<item>
<title>HUBUNGAN RISIKO GEOPOLITIK TERHADAP KONSUMSI DAN INVESTASI ENERGI TERBARUKAN: ANALISIS DATA PANEL DENGAN PERBANDINGAN KLASIFIKASI NEGARA MAJU DAN BERKEMBANG</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180168</link>
<description>HUBUNGAN RISIKO GEOPOLITIK TERHADAP KONSUMSI DAN INVESTASI ENERGI TERBARUKAN: ANALISIS DATA PANEL DENGAN PERBANDINGAN KLASIFIKASI NEGARA MAJU DAN BERKEMBANG
HIBATULLAH, TEUKU AIDIL FITRAH
TEUKU AIDIL FITRAH HIBATULLAH. Hubungan Risiko Geopolitik&#13;
Terhadap Konsumsi Dan Investasi Energi Terbarukan: Analisis Data Panel Dengan&#13;
Perbandingan Klasifikasi Negara Maju Dan Berkembang. Dibimbing oleh NOER&#13;
AZAM ACHSANI.&#13;
Risiko geopolitik dapat memengaruhi ketidakpastian ekonomi dan keputusan&#13;
terkait energi, sementara transisi energi memerlukan peningkatan konsumsi dan&#13;
investasi energi terbarukan. Penelitian ini menganalisis hubungan risiko geopolitik&#13;
dengan konsumsi energi terbarukan (REC) dan investasi energi terbarukan (REI),&#13;
serta membandingkan pola hubungan REC antara negara maju dan berkembang.&#13;
Data mencakup 38 negara untuk model REC periode 2008–2021 dan 40 negara&#13;
berkembang untuk model REI periode 2008–2023. Analisis menggunakan regresi&#13;
data panel dengan pemilihan model CEM, FEM, dan REM serta standard error yang&#13;
dikelompokkan berdasarkan negara. Hasil menunjukkan bahwa GPR country-&#13;
specific berhubungan positif dan signifikan dengan REC, sedangkan GPR Global&#13;
berhubungan positif dan signifikan dengan REI pada seluruh spesifikasi FDI. Hasil&#13;
split-sample FEM menunjukkan indikasi perbedaan pola hubungan GPR terhadap&#13;
REC antara negara maju dan berkembang. Temuan menunjukkan adanya hubungan&#13;
empiris antara risiko geopolitik dan energi terbarukan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180168</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Factors Influencing Consumers' Willingness to Pay for Informal Parking Services in Jakarta and Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180088</link>
<description>Factors Influencing Consumers' Willingness to Pay for Informal Parking Services in Jakarta and Bogor
Santoso, Dean Steven
Informal parking remains widespread in Jakarta and Bogor despite operating outside formal licensing systems. This study examines how perceived convenience, perceived safety, social norms, perceived legitimacy, and perceived inefficiency of formal parking services shape consumers' willingness to pay, and identifies which factor matters most. Using a quantitative explanatory survey with purposive sampling, 155 valid responses were collected and analyzed through descriptive statistics and Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS). Only perceived legitimacy and perceived safety showed significant positive effects on willingness to pay; the other three factors were not significant. Perceived legitimacy emerged as the dominant factor (path coefficient 0.543), with the model explaining 57.8 percent of the variance. Consumers appear willing to pay less because informal parking is convenient or socially common, and more because the situation feels acceptable and their vehicle feels reasonably supervised. These findings support improvements in parking safety, service clarity, accessibility, and formal parking provision.; Parkir informal masih banyak digunakan di Jakarta dan Bogor meski beroperasi tanpa izin resmi. Penelitian ini menelaah bagaimana kenyamanan, keamanan, norma sosial, legitimasi, dan inefisiensi layanan parkir formal yang dipersepsikan memengaruhi kesediaan konsumen membayar, sekaligus mengidentifikasi faktor paling berpengaruh. Melalui survei eksplanatori kuantitatif dengan purposive sampling, terkumpul 155 respons valid, dianalisis dengan statistik deskriptif dan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS). Hanya legitimasi dan keamanan yang dipersepsikan yang berpengaruh positif dan signifikan; tiga faktor lainnya tidak signifikan. Legitimasi yang dipersepsikan menjadi faktor paling dominan (koefisien jalur 0,543), dengan model menjelaskan 57,8 persen variasi. Konsumen cenderung bersedia membayar bukan karena kenyamanan atau kelaziman sosial, melainkan karena situasi terasa dapat diterima dan kendaraan terasa cukup terjaga. Temuan ini mendukung perbaikan keamanan, kejelasan layanan, aksesibilitas, dan penyediaan parkir formal.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180088</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Continuous  Intention Penggunaan Transaksi Nontunai Pada  Konsumen Umkm Di Jabodetabek</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179947</link>
<description>Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Continuous  Intention Penggunaan Transaksi Nontunai Pada  Konsumen Umkm Di Jabodetabek
Al Fu'ady, Fabrizan Muhammad
Penggunaan transaksi nontunai pada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus meningkat, tetapi tingkat penggunaan belum sepenuhnya &#13;
menjelaskan keberlanjutannya. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik dan pola penggunaan serta hubungan Perceived Ease of Use, Perceived Usefulness, Attitude Toward Using, dan Continuous Intention pada konsumen UMKM di Jabodetabek. Penelitian kuantitatif ini menggunakan purposive sampling terhadap 100 responden. Data dianalisis dengan analisis deskriptif, tabulasi silang Fisher Freeman-Halton Exact Test, dan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS). Hasil menunjukkan bahwa usia, pekerjaan, dan rata-rata pengeluaran berhubungan signifikan dengan frekuensi penggunaan, sedangkan domisili tidak signifikan. SEM-PLS menunjukkan Attitude Toward Using sebagai prediktor langsung terkuat Continuous Intention. Perceived Usefulness berpengaruh tidak langsung melalui Attitude Toward Using, sedangkan Perceived Ease of Use berpengaruh tidak langsung melalui Perceived Usefulness dan Attitude Toward Using. Temuan ini menegaskan pentingnya pembentukan sikap positif dalam mendukung keberlanjutan penggunaan transaksi nontunai.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179947</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Studi Komparasi User Experience dan Impulse Buying pada Pengguna Shopee dan TikTok Shop di Kalangan Generasi Z</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179946</link>
<description>Studi Komparasi User Experience dan Impulse Buying pada Pengguna Shopee dan TikTok Shop di Kalangan Generasi Z
Maharaja, Jessie Rachel Yulianne
Pertumbuhan e-commerce dan pergeseran ke social commerce mendorong pembelian impulsif di kalangan Generasi Z, namun perbandingan pengaruh user experience antar platform masih terbatas. Penelitian ini menganalisis pengaruh&#13;
user experience (UX) terhadap impulse buying, serta membandingkan tingkat UX dan impulse buying pengguna Shopee dan TikTok Shop pada Generasi Z Jabodetabek. Data dikumpulkan dari 248 responden melalui kuesioner Likert dengan purposive sampling, dianalisis menggunakan regresi linear sederhana dan paired sample t-test. UX berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulse buying pada kedua platform (R² 91,7% Shopee; 91,8% TikTok Shop). Tingkat UX kedua platform berbeda statistik namun ekuivalen praktis, dengan perbedaan hanya pada dimensi personalization (Cohen's d = -0,250). Impulse buying kedua platform tidak berbeda signifikan. Kesetaraan ini dicapai melalui jalur stimulus berbeda, yaitu impuls fungsional pada Shopee dan impuls emosional pada TikTok Shop, sehingga UX terbukti mendorong impulse buying lintas model bisnis melalui mekanisme yang tidak identik.; The growth of e-commerce and the shift toward social commerce have driven impulsive buying among Generation Z, but comparisons of the effect of user experience across platforms remain limited. This study analyzes the effect of&#13;
user experience (UX) on impulse buying and compares the levels of UX and impulse buying of Shopee and TikTok Shop users among Generation Z in Jabodetabek. Data were collected from 248 respondents through a Likert-scale questionnaire using purposive sampling, analyzed using simple linear regression and a paired sample t-test. UX has a positive and significant effect on impulse buying on both platforms (R² 91.7% Shopee; 91.8% TikTok Shop). The UX levels&#13;
of both platforms differ statistically but are practically equivalent, with the difference only in the personalization dimension (Cohen's d = -0,250). Impulse buying of both platforms is not significantly different. This equivalence is achieved through different stimulus pathways, namely functional impulses on Shopee and emotional impulses on TikTok Shop, so that UX proves to drive impulse buying across business models through non-identical mechanisms.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179946</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
