<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>MT - Economic and Management</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 09 May 2026 07:40:36 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-05-09T07:40:36Z</dc:date>
<item>
<title>Pengaruh Orientasi Kewirausahaan Hijau, Modal Manusia, dan Modal Sosial terhadap Inovasi Hijau dan Kinerja Usahatani Padi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173042</link>
<description>Pengaruh Orientasi Kewirausahaan Hijau, Modal Manusia, dan Modal Sosial terhadap Inovasi Hijau dan Kinerja Usahatani Padi
Putri, Ananda
Padi merupakan komoditas pangan utama di Indonesia yang memegang peranan penting dalam memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Namun, upaya peningkatan produksi padi selama ini cenderung mengandalkan praktik pertanian konvensional yang berdampak negatif terhadap lingkungan. Inovasi hijau hadir sebagai pendekatan berkelanjutan yang mampu meningkatkan produktivitas tanpa merusak ekosistem. Meskipun demikian, tingkat penerapan inovasi hijau di kalangan petani padi masih rendah dan bervariasi, dipengaruhi oleh beragam faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang memengaruhi penerapan inovasi hijau serta dampaknya terhadap kinerja usahatani padi. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis pengaruh orientasi kewirausahaan hijau, modal manusia, dan modal sosial terhadap penerapan inovasi hijau pada petani padi, serta 2) menganalisis pengaruh orientasi kewirausahaan hijau, modal manusia, modal sosial, dan inovasi hijau terhadap kinerja usahatani padi. Penelitian dilakukan di Kabupaten Bandung dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data primer dari petani padi. Metode analisis yang digunakan meliputi Principal Component Analysis (PCA) untuk mereduksi variabel, Multivariate Probit (MVP) untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi penerapan inovasi hijau (benih bersertifikat, irigasi, pupuk organik, biopestisida), serta regresi berganda untuk menguji pengaruh inovasi hijau terhadap kinerja usahatani padi.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh orientasi kewirausahaan hijau terhadap penerapan inovasi hijau terkonfirmasi secara parsial, yaitu dimensi Inovatif dan Proaktif serta Pengambilan Risiko mendorong penerapan inovasi tertentu. Modal manusia tidak berpengaruh signifikan terhadap penerapan keempat inovasi hijau. Pengaruh modal sosial terkonfirmasi secara parsial; dimensi Pembelajaran Kolektif dan Relasi dengan Otoritas mendorong penerapan inovasi, sementara Dukungan Sosial berlebihan dan Interaksi Internal justru menghambat. Selanjutnya, pengaruh orientasi kewirausahaan hijau terhadap kinerja usaha juga terkonfirmasi secara parsial; dimensi Inovatif dan Proaktif meningkatkan keuntungan usahatani. Modal manusia tidak berpengaruh signifikan terhadap profit, sementara modal sosial berpengaruh positif melalui Pembelajaran Kolektif dan Relasi dengan Otoritas. Pengaruh inovasi hijau terhadap kinerja usaha terkonfirmasi parsial; penggunaan benih bersertifikat meningkatkan keuntungan, sementara pupuk organik dalam jangka pendek menurunkan profit. Penelitian ini menunjukkan pentingnya mendorong penguatan orientasi kewirausahaan hijau dan modal sosial sebagai strategi untuk mempercepat penerapan inovasi hijau dan meningkatkan kinerja usahatani padi. Selain itu, diperlukan strategi transisi yang cermat dalam implementasi inovasi hijau agar manfaat ekonominya dapat optimal.; Rice is the staple food commodity in Indonesia and plays a crucial role in meeting the population’s consumption needs. However, efforts to increase rice production have so far relied heavily on conventional agricultural practices that negatively impact the environment. Green innovation has emerged as a sustainable approach that can enhance productivity without damaging the ecosystem. Nevertheless, the level of green innovation adoption among rice farmers remains low and varies significantly, influenced by various social, economic, and environmental factors. Therefore, a deeper understanding is needed regarding the factors that affect the adoption of green innovations and their impact on the performance of rice farming enterprises. This study aims to: 1) analyze the influence of green entrepreneurial orientation, human capital, and social capital on the adoption of green innovations among rice farmers; and 2) analyze the influence of green entrepreneurial orientation, human capital, social capital, and green innovations on the performance of rice farming enterprises. The research was conducted in Bandung Regency using a quantitative approach with primary data collected from rice farmers. The analytical methods employed include Principal Component Analysis (PCA) to reduce variables, Multivariate Probit (MVP) to analyze the factors influencing the adoption of green innovations (certified seeds, irrigation, organic fertilizers, biopesticides), and multiple regression analysis to examine the influence of green innovations on farming performance (profitability).&#13;
The results show that the influence of green entrepreneurial orientation on the adoption of green innovations is partially confirmed; the Innovative and Proactive dimension and Risk-taking dimension promote the adoption of specific innovations. Human capital does not significantly influence the adoption of the four green innovations. The influence of social capital is also partially confirmed; Collective Learning and Relations with Authorities encourage innovation adoption, while excessive Social Support and Internal Interaction hinder it. Furthermore, the influence of green entrepreneurial orientation on enterprise performance is partially confirmed; the Innovative and Proactive dimension positively affects profitability. Human capital does not significantly influence profit, while social capital positively affects it through Collective Learning and Relations with Authorities. The influence of green innovations on enterprise performance is also partially confirmed; the use of certified seeds increases profitability, whereas the short-term use of organic fertilizers reduces profit. This study highlights the importance of strengthening green entrepreneurial orientation and productive social capital as key strategies to accelerate the adoption of green innovations and improve the performance of rice farming enterprises. Additionally, a well-planned transition strategy is required to optimize the economic benefits of implementing green innovations. The findings also provide implications for the development of policies and support programs for green innovations in Indonesia’s rice farming sector.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173042</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Preferensi Konsumen Pada Atribut Asuransi Kendaraan Bermotor Dan Implikasi Terhadap Strategi Pemasaran Asuransi Jasindo</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173014</link>
<description>Preferensi Konsumen Pada Atribut Asuransi Kendaraan Bermotor Dan Implikasi Terhadap Strategi Pemasaran Asuransi Jasindo
Girsang, Gio Adamartata
Industri asuransi kendaraan bermotor di Indonesia saat ini berada dalam fase persaingan yang sangat ketat (hyper competition), di mana pertumbuhan volume kendaraan tahunan tidak secara otomatis berkorelasi linear dengan pertumbuhan pangsa pasar perusahaan. Asuransi Jasindo, sebagai salah satu entitas BUMN terkemuka di bawah holding IFG, menghadapi tantangan strategis berupa stagnasi pangsa pasar yang signifikan pada lini bisnis ritel ini. Pada tahun 2023, kontribusi premi perusahaan di pasar nasional hanya mencapai 0,67 persen, sebuah angka yang mengindikasikan adanya kesenjangan fundamental antara kapasitas institusional perusahaan dengan penetrasi pasar riil. Penelitian ini disusun untuk membedah struktur preferensi konsumen guna mengidentifikasi atribut produk yang memiliki daya dorong keputusan (decision drivers) paling kuat, memetakan heterogenitas pasar melalui segmentasi berbasis manfaat (benefit segmentation), serta merumuskan kerangka strategi pemasaran yang mampu mengakselerasi daya saing Asuransi Jasindo secara berkelanjutan.&#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode choice based conjoint (CBC) analysis yang berlandaskan pada random utility theory. Berbeda dengan metode survei tradisional yang cenderung menghasilkan jawaban normatif, CBC memaksa responden melakukan pertukaran nilai (trade off) yang menyerupai simulasi belanja nyata di pasar. Enam atribut kunci dievaluasi secara simultan adalah skema harga, brand, coverage (luas pertanggungan), layanan klaim, layanan tambahan, dan akses layanan. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner daring dari 300 responden pemilik kendaraan roda empat di wilayah Jabodetabek yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Analisis statistik dilakukan dengan estimasi hierarchical bayes (HB) untuk mengekstraksi nilai utilitas Part worth tingkat individu yang memiliki presisi tinggi, serta latent class analysis (LCA) untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok konsumen tersembunyi berdasarkan kesamaan pola preferensi mereka.&#13;
Hasil penelitian mengungkapkan temuan kritis bahwa pada tingkat pasar agregat, layanan klaim mendominasi seluruh pertimbangan konsumen dengan bobot kepentingan relatif sebesar 38,19 persen. Atribut ini diikuti oleh layanan tambahan sebesar 18,39 persen dan skema harga sebesar 16,28 persen. Temuan ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma perilaku konsumen yang fundamental. Nasabah asuransi kendaraan kini lebih bersifat solution driven daripada sekadar price driven. Dalam persepsi nasabah, asuransi bukan lagi sekadar produk perlindungan finansial yang pasif, melainkan instrumen vital untuk memitigasi risiko gangguan produktivitas harian akibat hilangnya akses mobilitas. Oleh karena itu, kepastian kualitas layanan pada saat moment of truth (kejadian klaim) seperti jaminan kecepatan administrasi surat perintah kerja (SPK) satu hari dan kualitas teknis di bengkel authorized dianggap jauh lebih berharga daripada penghematan biaya melalui selisih premi. Sebaliknya, atribut tradisional seperti brand sebesar 7,70 persen dan coverage sebesar 7,02 persen justru menempati posisi terendah dalam hierarki keputusan. Fenomena ini menandakan bahwa kedua faktor tersebut telah bergeser menjadi hygiene factors atau ekspektasi dasar. Konsumen modern cenderung mengasumsikan bahwa setiap perusahaan asuransi berskala besar secara otomatis telah memiliki reputasi merek yang cukup baik dan luas jaminan yang seragam, sehingga faktor-faktor tersebut tidak lagi berfungsi sebagai pembeda utama yang mampu memicu perpindahan merek dalam keputusan akhir pembelian.&#13;
Melalui latent class analysis, pasar teridentifikasi terbagi secara tajam menjadi tiga segmen orientasi manfaat. Segmen mayoritas sebesar 63,9 persen, yaitu the functional efficiency seekers, menempatkan prioritas mutlak pada kepastian operasional, terutama pada kecepatan proses penerbitan SPK dan akses ke jaringan bengkel resmi (ATPM). Segmen kedua sebesar 24,4 persen, yaitu the value conscious brand loyals, masih menghargai reputasi merek BUMN namun tetap sangat peka terhadap proposisi nilai ekonomi yang kompetitif. Segmen ketiga sebesar 11,7 persen, yaitu the tech savvy seamless seekers, sangat memprioritaskan pengalaman digital tanpa hambatan sejak interaksi pertama. Hasil simulasi pasar menunjukkan potensi transformatif yang luar biasa jika Asuransi Jasindo mampu mengoptimalkan atributnya melalui skenario Jasindo Best (integrasi fitur klaim 1 hari, bengkel ATPM, dan fasilitas mobil pengganti), maka hal tersebut diprediksi akan meningkatkan potensi pangsa pasar perusahaan secara signifikan. Hal ini mengungkap adanya silent brand paradox, di mana kekuatan merek Jasindo sebenarnya sangat besar namun belum teraktivasi secara optimal di pasar ritel.&#13;
Penelitian ini merekomendasikan strategi targeted growth dengan fokus primer pada penguasaan Segmen 3 sebagai target pasar sasaran. Strategi ini diposisikan melalui positioning statement strategis "Jasindo Oto: Solusi Klaim Tercepat untuk Mobilitas Tanpa Jeda". Implikasi manajerial yang diusulkan meliputi transformasi radikal pada seluruh lini bauran pemasaran 7P, termasuk standardisasi fast track claim untuk perbaikan ringan, pemberian wewenang penerbitan SPK instan di lokasi kejadian kepada petugas penanganan klaim guna memangkas birokrasi, penerapan strategi premium loading untuk membiayai layanan nilai tambah, serta penguatan kemitraan strategis dengan diler ATPM dan perusahaan leasing untuk menutup availability gap di titik-titik krusial keputusan pembelian kendaraan.&#13;
&#13;
Kata kunci: analisis konjoin, asuransi kendaraan bermotor, hierarchical bayes, latent class analysis, strategi pemasaran.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173014</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Akses Kredit Terhadap Efisiensi dan Pendapatan Usahatani Padi di Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172850</link>
<description>Akses Kredit Terhadap Efisiensi dan Pendapatan Usahatani Padi di Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten
Kartika, Sri Ajeng
Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat menyebabkan meningkatnya permintaan pangan, sehingga komoditas padi (Oryza sativa L.) memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Meskipun produktivitas padi di Indonesia cenderung meningkat, luas panen dan volume produksi menunjukkan tren penurunan. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi tidak hanya bergantung pada perluasan lahan, tetapi juga pada efisiensi penggunaan input produksi. Namun, petani masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan modal, tingginya harga input, serta akses teknologi yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh skala usaha terhadap efisiensi produksi usahatani padi serta mengkaji dampak akses kredit terhadap efisiensi teknis dan pendapatan petani di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Penelitian dilakukan di Kecamatan Panimbang pada Agustus–September 2025 menggunakan data cross-section satu musim tanam (MT I November 2024–April 2025) dengan sampel 130 petani yang dipilih melalui teknik multistage random sampling, terdiri atas 65 petani kredit dan 65 petani nonkredit. Analisis dilakukan menggunakan Stochastic Frontier Analysis (SFA) dengan fungsi produksi Cobb-Douglas untuk mengestimasi efisiensi teknis, regresi Tobit untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi efisiensi, serta Propensity Score Matching (PSM) untuk menganalisis dampak kausal akses kredit terhadap efisiensi teknis dan pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani padi berada pada kondisi Increasing Returns to Scale (IRTS), yang menunjukkan bahwa peningkatan input secara proporsional akan meningkatkan output dalam proporsi yang lebih besar. Rata-rata efisiensi teknis petani kredit (0,977) lebih tinggi dibandingkan petani nonkredit (0,952). Akses kredit dan keanggotaan kelompok tani berpengaruh positif dan signifikan terhadap efisiensi teknis pada taraf nyata 1%, sedangkan usia berpengaruh signifikan pada taraf 5%. Selain itu, jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, dan status kepemilikan lahan berpengaruh signifikan pada taraf 10%. Dari sisi ekonomi, pendapatan petani kredit mencapai Rp10,23 juta per musim tanam pada luas lahan rata-rata 0,94 ha, lebih tinggi dibandingkan petani nonkredit sebesar Rp5,86 juta pada luas lahan 0,83 ha. Hasil estimasi PSM menunjukkan bahwa akses kredit memberikan dampak positif dan signifikan terhadap efisiensi teknis dan pendapatan petani, dengan peningkatan efisiensi teknis berkisar antara 0,0025–0,0312 dan peningkatan pendapatan antara Rp2.041.958–Rp2.818.706 per musim tanam. Temuan ini menunjukkan bahwa akses kredit berperan dalam meningkatkan efisiensi produksi dan pendapatan petani, sehingga perluasan akses pembiayaan, penguatan kelembagaan petani, serta peningkatan sinergi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan penyuluhan pertanian diperlukan untuk mendukung keberlanjutan usahatani padi.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172850</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Strategi Pengembangan UMKM Sektor Makanan dan Minuman pada Pasar Modern di Kabupaten Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172744</link>
<description>Strategi Pengembangan UMKM Sektor Makanan dan Minuman pada Pasar Modern di Kabupaten Bogor
Junaedi, Edi
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di Kabupaten Bogor, UMKM sektor makanan dan minuman merupakan salah satu subsektor yang berkontribusi penting terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), terutama melalui peningkatan konsumsi rumah tangga. Namun, pengembangan UMKM sektor ini masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan kapasitas manajerial, rendahnya pemanfaatan teknologi digital, kualitas kemasan yang belum memenuhi standar pasar modern, serta belum optimalnya pemenuhan aspek legalitas usaha. Kondisi tersebut menjadi hambatan utama bagi UMKM sektor makanan dan minuman dalam memasuki pasar modern dan membangun kemitraan usaha yang berkelanjutan dengan ritel modern.&#13;
Penelitian ini memiliki tujuan untuk: 1) Mengidentifikasi kondisi UMKM sektor makanan dan minuman pada pasar modern di Kabupaten Bogor, 2) Menganalisis faktor-faktor apa saja yang menghambat UMKM sektor makanan dan minuman untuk menebus ke pasar modern di Kabupaten Bogor, dan 3) Merumuskan strategi pengembangan UMKM sektor makanan dan minuman pada pasar modern di Kabupaten Bogor. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dan penyebaran kuesioner kepada narasumber ahli serta pelaku UMKM sektor makanan dan minuman, yang dipilih dengan metode purposive sampling. Data sekunder didapatkan dari informasi yang dipublikasikan oleh instansi terkait, serta kajian pustaka dan dokumen yang relevan. Untuk menganalisis data, menggunakan metode analisis deskriptif, matriks IFE, EFE dan IE, Analisis SWOT, serta Analisis QSPM.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa UMKM sektor makanan dan minuman di Kabupaten Bogor berada pada kuadran V (hold and maintain) dalam matriks IE, dengan skor faktor internal sebesar 2,91 dan skor faktor eksternal sebesar 2,97. Posisi ini mengindikasikan bahwa peluang eksternal relatif mendukung, namun kapasitas internal UMKM sektor makanan dan minuman masih perlu diperkuat agar mampu memanfaatkan peluang pasar modern secara optimal. 12 alternatif strategi SWOT yang menjadi 3 strategi utama, yaitu: 1) Strategi pengembangan produk melalui peningkatan kualitas, inovasi, dan daya saing produk, 2) Strategi pengembangan pasar, dengan memperluas jangkauan pemasaran melalui kemitraan dengan pasar modern, dan 3) Strategi penetrasi pasar, dengan memperkuat posisi produk pada pasar yang telah ada melalui promosi yang lebih intensif. Strategi terbaik berdasarkan analisis QSPM adalah peningkatan kualitas kemasan dan pemenuhan legalitas produk melalui program pendampingan, dengan nilai TAS tertinggi sebesar 6,98. Strategi tersebut, paling efektif dalam meningkatkan daya saing UMKM sektor makanan dan minuman sehingga mampu memasuki dan bertahan secara berkelanjutan di pasar modern.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172744</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
