<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>MF - Agriculture Technology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/76</link>
<description/>
<pubDate>Fri, 06 Nov 2026 02:28:44 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-11-06T02:28:44Z</dc:date>
<item>
<title>Pengembangan Konsep Standar Mutu Bubuk Daun Kelor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180236</link>
<description>Pengembangan Konsep Standar Mutu Bubuk Daun Kelor
Widyaningsih, Windri
Bubuk daun kelor semakin diminati sebagai bahan pangan fungsional, namun belum tersedia standar mutu nasional yang khusus mengatur produk ini, sehingga mutu yang beredar di pasar bervariasi antarprodusen. Penelitian ini bertujuan menyusun konsep standar mutu bubuk daun kelor menggunakan kerangka Framework for Analysis, Comparison, and Testing of Standards (FACTS), yang terdiri atas empat tahap sistematis, yaitu analisis pemangku kepentingan, analisis teknis, perbandingan standar, serta pengujian dan penyempurnaan standar.&#13;
Tahap analisis pemangku kepentingan melibatkan 24 responden (7 konsumen atau 29%, 5 pelaku usaha atau 21%, 5 perwakilan pemerintah atau 21%, dan 7 pakar atau 29%) untuk menilai kepentingan pengembangan standar dan memprioritaskan parameter mutu. Seluruh responden (100%) menyatakan pengembangan standar penting hingga sangat penting (79% sangat penting, 21% penting), dan 71% responden lebih memilih bentuk standar bertingkat dibandingkan standar tunggal (29%). Lima faktor mutu yang dinilai, keamanan pangan memperoleh skor kepentingan tertinggi (4,79), diikuti atribut sensori (4,62), proksimat (4,58), mineral esensial (4,54), dan senyawa bioaktif (4,42). Skor-skor ini digunakan sebagai bobot dalam Metode Perbandingan Eksponensial (MPE) untuk memprioritaskan 15 parameter mutu, dengan cemaran mikroba dan cemaran logam berat menempati peringkat tertinggi (masing-masing bernilai 2641,75), diikuti aroma (513,07), warna (478,27), rasa (414,06), kadar air (108,38), protein (105,63), abu tidak larut asam (90,16), dan padatan terlarut dalam air (83,05). Hasil prioritisasi ini divalidasi melalui Focus Group Discussion (FGD) tahap pertama, yang menetapkan enam parameter untuk tahap analisis teknis berikutnya, yaitu warna, kadar air, protein, kadar abu tidak larut asam, serta tambahan parameter yaitu kehalusan dan kadar abu. Cemaran mikroba dan logam berat tidak disertakan karena telah diatur oleh regulasi keamanan pangan nasional, sementara aroma dan rasa dikeluarkan karena bersifat subjektif dan dinilai kurang berpengaruh terhadap kandungan gizi bubuk daun kelor.&#13;
Tahap analisis teknis dilakukan melalui karakterisasi laboratorium terhadap sampel dari lima sentra produksi (Medan, Blora, Karangasem, Kupang, dan Palu) dengan pengujian duplo, menunjukkan variasi mutu yang berbeda-beda antarparameter. Kehalusan menunjukkan variasi terluas, berkisar 48,71%–99,99% (rerata 81,64%; koefisien variasi 28,83%), begitu juga abu tidak larut asam yang berkisar 0,01%–0,11% (koefisien variasi 52,67%, tertinggi di antara seluruh parameter). Kadar protein merupakan parameter paling konsisten, berkisar 22,71%–28,03% (rerata 25,81%; koefisien variasi 7,94%), diikuti kadar air yang berkisar 7,03%–9,53% (rerata 8,14%) dan kadar abu 9,28%–13,00% (rerata 10,40%).&#13;
Tahap perbandingan standar membandingkan hasil karakterisasi tersebut dengan standar Kenya, Uni Eropa, dan Filipina, sekaligus menelaah kesesuaian metode uji yang berlaku. Hasil perbandingan ini menjadi dasar tahap pengujian dan penyempurnaan standar, yang menerapkan pendekatan Adopt–Adapt–Originate (A–A–O) dan dikonfirmasi melalui FGD tahap kedua. Abu tidak larut asam dikategorikan Adopt karena seluruh data laboratorium Indonesia (0,01%–0,11%) berada jauh di bawah ambang batas Kenya (=0,5%). Kadar air dan kehalusan dikategorikan Adapt karena acuan internasional tersedia namun bervariasi antarstandar (kadar air maksimal 8% pada standar Filipina hingga 10% pada standar Kenya dan Uni Eropa). Warna, kadar abu, dan protein dikategorikan Originate karena tidak ditemukan spesifikasi numerik pada ketiga standar acuan, sehingga ambang batasnya dirumuskan dari distribusi data laboratorium dan konsensus pemangku kepentingan, termasuk penetapan ambang protein pada nilai persentil ke-5 (P5) sebesar 23,0% sebagai kompromi terhadap ekspektasi awal pemangku kepentingan sebesar 27%, yang ternyata hanya dicapai oleh sekitar kuartil teratas sampel.&#13;
Penyempurnaan akhir menghasilkan konsep standar mutu bubuk daun kelor yang mencakup enam parameter: warna hijau hingga hijau kekuningan; kehalusan minimal 80,0% lolos ayakan 100 mesh; kadar air maksimal 10,0% (baseline) dan 8,0% (premium) dengan metode uji SNI ISO 712-1; kadar abu maksimal 13,0% dengan metode uji SNI ISO 928; kadar abu tidak larut asam maksimal 0,5% dengan metode uji SNI ISO 930; serta protein minimal 23,0% (baseline) dan 27,0% (premium) dengan metode uji SNI 9373. Struktur ambang bertingkat (baseline–premium) ini konsisten dengan preferensi 71% pemangku kepentingan terhadap standar bertingkat. Penerapan FACTS secara menyeluruh menunjukkan bahwa penyusunan standar mutu bubuk daun kelor tidak dapat hanya mereplikasi standar internasional yang ada, karena beberapa parameter (warna, kadar abu, dan protein) belum memiliki acuan numerik internasional, sehingga diperlukan perumusan mandiri berbasis bukti laboratorium dan konsensus multi-pemangku kepentingan. Konsep standar ini diharapkan menjadi masukan ilmiah bagi penyusunan standar nasional bubuk daun kelor.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180236</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Produksi Rare Sugar D-Tagatose dari Eucheuma cottonii melalui Hidrolisis Asam dan Isomerisasi Enzim L-Arabinose Isomerase</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180084</link>
<description>Produksi Rare Sugar D-Tagatose dari Eucheuma cottonii melalui Hidrolisis Asam dan Isomerisasi Enzim L-Arabinose Isomerase
Huwaida, Ratna Athifa
D-tagatose merupakan rare sugar yang berpotensi sebagai alternatif pemanis karena memiliki tingkat kemanisan tinggi, nilai kalori lebih rendah, dan indeks glikemik rendah. Eucheuma cottonii berpotensi sebagai sumber galaktosa karena karagenan sebagai polisakarida utamanya tersusun atas unit D-galaktosa. Penelitian ini bertujuan menentukan kondisi optimum hidrolisis asam Eucheuma cottonii untuk menghasilkan galaktosa serta mengkaji konversinya menjadi D-&#13;
tagatose menggunakan crude enzyme L-arabinose isomerase (LAI). Optimasi hidrolisis dilakukan menggunakan Response Surface Methodology (RSM) dengan rancangan Box-Behnken Design (BBD) menggunakan faktor waktu pre-soaking, konsentrasi H2SO4, dan rasio sampel terhadap asam. Isomerisasi galaktosa menjadi D-tagatose dioptimalkan berdasarkan waktu reaksi, suhu, dan pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karbohidrat merupakan komponen terbesar Eucheuma cottonii dengan kadar 83,540%. Screening konsentrasi H2SO4 menghasilkan kadar galaktosa tertinggi sebesar 30,22% pada 0,25 M. Kondisi optimum hidrolisis diperoleh pada waktu pre-soaking 1,669 jam, konsentrasi H2SO4 0,435 M, dan rasio sampel terhadap asam 1:31 dengan kadar galaktosa prediksi sebesar 32,77%. Validasi menghasilkan kadar galaktosa sebesar 31,82% dengan error 2,89%. Kondisi optimum isomerisasi diperoleh pada waktu reaksi 6,370 jam, suhu 40,381°C, dan pH 7,004 dengan konversi D-tagatose prediksi sebesar 29,014%. Validasi menghasilkan konversi D-tagatose sebesar 27,93% dengan error 3,74%.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Eucheuma cottonii berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber galaktosa untuk produksi D-tagatose melalui kombinasi hidrolisis asam dan isomerisasi enzimatis.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180084</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Karakterisasi Beberapa Bahan Pelapis dan Sifat Fisik Permen Karet Kunyah Hasil Hard Panning</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180019</link>
<description>Karakterisasi Beberapa Bahan Pelapis dan Sifat Fisik Permen Karet Kunyah Hasil Hard Panning
Yogiswara, Iqbal
Permen karet kunyah berpelapis diproduksi melalui proses panning menggunakan bahan pelapis seperti sukrosa, dekstrosa, dan gula alkohol. Produk hasil hard panning dicirikan oleh tekstur renyah dan memerlukan gaya yang relatif tinggi untuk mematahkan lapisan pelapisnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakter beberapa jenis bahan pelapis, mengevaluasi proses panning permen karet kunyah berpelapis, serta mengevaluasi karakter permen karet kunyah berpelapis yang dihasilkan. Bahan yang diteliti meliputi sukrosa, dekstrosa monohidrat, maltitol, dan sorbitol. Viskositas setiap larutan pelapis diukur pada berbagai konsentrasi dan selanjutnya diaplikasikan dalam proses panning. Produk yang dihasilkan dianalisis berdasarkan parameter kekerasan, kadar air, dan warna. Pada konsentrasi larutan yang sama, larutan sukrosa menunjukkan viskositas tertinggi, diikuti dekstrosa monohidrat dan maltitol, sedangkan sorbitol menunjukkan viskositas terendah. Jenis bahan pelapis berpengaruh nyata terhadap karakteristik fisik produk akhir. Pelapis sukrosa menunjukkan kadar air terendah (1,04%), yang mengindikasikan tingkat kekeringan lapisan dan potensi stabilitas penyimpanan yang lebih baik. Permen karet kunyah berpelapis sorbitol menunjukkan tingkat kekerasan tertinggi (36,56 N), yang mengindikasikan pembentukan lapisan luar yang lebih keras dan berkaitan dengan tekstur permen karet kunyah berpelapis yang diinginkan, yaitu lapisan luar yang keras dan bagian inti yang lunak. Permen karet kunyah berpelapis maltitol menunjukkan tingkat kecerahan tertinggi (L* = 88,94) dan nilai kekuningan terendah (b* = 5,18), sehingga berpotensi diaplikasikan pada produk konfeksionari bebas gula yang memerlukan penampakan putih cerah.; Coated chewing gum is produced through a panning process using coating agents such as sucrose, dextrose, and sugar alcohols. Hard-panned products are characterized by a crunchy texture and a relatively high force required to fracture the coating layer. This study aimed to evaluate the character of several coating materials, assess the panning process of coated chewing gum, and evaluate the characteristics of the resulting coated chewing gum products. Sucrose, dextrose monohydrate, maltitol, and sorbitol were investigated. The viscosity of each coating solution was measured at various concentrations and subsequently applied in the panning process. The coated products were analyzed for hardness, moisture content, and color. At the same solution concentration, the sucrose solution exhibited the highest viscosity, followed by dextrose monohydrate and maltitol, while sorbitol exhibited the lowest viscosity. The coating material significantly influenced the physical character of the final product. Sucrose coating exhibited the lowest moisture content (1.04%), indicating better coating dryness and storage stability for confectionery products requiring a low-moisture surface. Sorbitol-coated chewing gum showed the highest hardness (36.56 N), suggesting the formation of a firmer outer layer associated with the desirable hard-shell and soft-center texture of coated chewing gum. Maltitol-coated chewing gum exhibited the highest lightness (L* = 88.94) and the lowest yellowness (b* = 5.18), indicating its suitability for sugar-free confectionery products requiring a bright white appearance
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180019</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Simulasi Model Simultaneous Saccharification And Co-Fermentation (SSCF) Untuk Produksi Bioetanol Dari Rebung Bambu</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179943</link>
<description>Simulasi Model Simultaneous Saccharification And Co-Fermentation (SSCF) Untuk Produksi Bioetanol Dari Rebung Bambu
Nasution, Nurul Cinthiya
Krisis energi global akibat tingginya ketergantungan terhadap bahan bakar&#13;
fosil serta peningkatan emisi karbon mendorong perlunya pengembangan energi&#13;
terbarukan yang lebih berkelanjutan. Salah satu alternatif yang menjanjikan adalah&#13;
bioetanol generasi kedua berbasis biomassa lignoselulosa. Rebung bambu memiliki&#13;
potensi besar sebagai bahan baku karena kandungan selulosa dan hemiselulosa&#13;
yang tinggi serta kadar lignin yang sangat rendah, sehingga memungkinkan&#13;
konversi menjadi bioetanol tanpa tahap pretreatment yang kompleks. Metode&#13;
simultaneous saccharification and co-fermentation (SSCF) dipandang unggul&#13;
karena mampu mengintegrasikan proses hidrolisis dan fermentasi dalam satu&#13;
reaktor, sehingga meningkatkan efisiensi pemanfaatan glukosa dan xilosa secara&#13;
simultan melalui konsorsium mikroorganisme Trichoderma reesei, Saccharomyces&#13;
cerevisiae, dan Scheffersomyces stipitis. Namun, kajian terdahulu masih terbatas&#13;
pada pendekatan eksperimen tanpa pengembangan model matematika.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menyusun model matematika SSCF berbasis&#13;
sistem persamaan diferensial yang merepresentasikan pertumbuhan&#13;
mikroorganisme, konsumsi substrat selulosa dan hemiselulosa, pembentukan gula&#13;
(glukosa dan xilosa), serta produksi etanol. Model dibangun berdasarkan&#13;
pendekatan teoritis dengan asumsi sistem batch homogen, parameter konstan, tanpa&#13;
inhibisi produk maupun kompetisi mikroba. Data eksperimen sekunder diambil dari&#13;
Ramadhani et al. (2024) selama fermentasi 72 jam. Estimasi parameter kinetika&#13;
dilakukan melalui proses fitting, dengan fokus pada parameter dominan yaitu laju&#13;
pertumbuhan maksimum (??!"# ) dan laju produksi etanol (??!" ). Hasil simulasi&#13;
baseline menunjukkan model mampu mengikuti tren produksi etanol, namun masih&#13;
memiliki keterbatasan pada dinamika gula total yang menghasilkan nilai negatif&#13;
akibat belum dimasukkannya mekanisme pembentukan gula dari sakarifikasi.&#13;
Simulasi hybrid parameter menghasilkan prediksi etanol yang sangat mendekati&#13;
eksperimen dengan mean absolute error (MAE) sebesar 0,092 g/L, mean absolute&#13;
percentage error (MAPE) sebesar 1,71%, dan koefisien determinasi (R²) sebesar&#13;
0,9992, yang menunjukkan akurasi model yang sangat tinggi khusus pada variabel&#13;
etanol.&#13;
Meskipun model ini terbukti valid dalam merepresentasikan produksi etanol,&#13;
simulasi variasi substrat awal menunjukkan hasil yang tidak realistis secara biologis&#13;
karena mekanisme pembatas substrat belum terintegrasi dalam persamaan produksi&#13;
etanol. Hal ini menegaskan bahwa model sederhana ini lebih tepat digunakan&#13;
sebagai alat prediksi awal untuk produk utama, namun masih memerlukan&#13;
pengembangan lebih lanjut dengan memasukkan kinetika Monod, inhibisi etanol,&#13;
serta dinamika enzim sakarifikasi agar mampu menggambarkan keseluruhan proses&#13;
SSCF secara lebih komprehensif. Penelitian ini memberikan kontribusi awal serta&#13;
membuka peluang untuk penelitian selanjutnya.; The global energy crisis, driven by heavy dependence on fossil fuels and&#13;
increasing carbon emissions, highlights the urgent need for more sustainable&#13;
renewable energy development. One promising alternative is second-generation&#13;
bioethanol derived from lignocellulosic biomass. Bamboo shoots have strong&#13;
potential as a feedstock due to their high cellulose and hemicellulose content and&#13;
extremely low lignin fraction, which enables conversion into bioethanol without&#13;
complex pretreatment stages. The simultaneous saccharification and co-&#13;
fermentation (SSCF) method is considered advantageous because it integrates&#13;
hydrolysis and fermentation within a single reactor, thereby improving the&#13;
simultaneous utilization of glucose and xylose through a microbial consortium&#13;
consisting of Trichoderma reesei, Saccharomyces cerevisiae, and Scheffersomyces&#13;
stipitis. However, previous studies have remained largely experimental, with&#13;
limited development of mathematical modeling approaches.&#13;
This research aimed to develop an SSCF mathematical model based on a&#13;
system of differential equations representing microbial growth, cellulose and&#13;
hemicellulose substrate consumption, sugar formation (glucose and xylose), and&#13;
ethanol production. The model was constructed using a theoretical approach under&#13;
the assumptions of a homogeneous batch system, constant parameters, and the&#13;
absence of product inhibition or microbial competition. Secondary experimental&#13;
data were obtained from Ramadhani et al. (2024) during a 72-hour fermentation&#13;
process. Kinetic parameter estimation was performed through model fitting,&#13;
focusing on dominant parameters, namely the maximum growth rate (??!"#) and&#13;
the ethanol production rate (??!" ). Baseline simulation results showed that the model&#13;
was able to capture the general trend of ethanol production; however, limitations&#13;
were observed in total sugar dynamics, which produced negative values due to the&#13;
absence of explicit sugar formation mechanisms from saccharification. Hybrid&#13;
parameter simulations provided ethanol predictions that closely matched&#13;
experimental data, with a mean absolute error (MAE) of 0,092 g/L, a mean absolute&#13;
percentage error (MAPE) of 1,71%, and a coefficient of determination (R²) of&#13;
0,9992, indicating very high accuracy specifically for ethanol concentration.&#13;
Although the model was validated in representing ethanol production,&#13;
simulations of initial substrate variation produced biologically unrealistic outcomes&#13;
because substrate limitation mechanisms were not yet integrated into the ethanol&#13;
production equations. This confirms that the simplified model is more suitable as&#13;
an initial predictive tool for the main product, but further development is required&#13;
by incorporating Monod kinetics, ethanol inhibition, and explicit saccharification&#13;
enzyme dynamics in order to comprehensively represent the entire SSCF process.&#13;
Overall, this study provides an initial contribution and opens opportunities for&#13;
future research and model refinement.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179943</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
