<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>MT - Agriculture Technology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/76</link>
<description/>
<pubDate>Thu, 09 Apr 2026 22:19:02 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-09T22:19:02Z</dc:date>
<item>
<title>Implementasi Sistem Sertifikasi Halal di Indonesia: Studi Kasus di Industri Perisa</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172856</link>
<description>Implementasi Sistem Sertifikasi Halal di Indonesia: Studi Kasus di Industri Perisa
Sari, Nurul Kurnia
Penerapan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk&#13;
Halal telah mengubah sistem sertifikasi halal di Indonesia dari yang sebelumnya&#13;
bersifat sukarela menjadi wajib (mandatory), sehingga berdampak pada&#13;
implementasi sistem jaminan produksi halal di industri. Kebijakan ini memiliki&#13;
implikasi penting bagi industri perisa, karena perisa dikategorikan sebagai bahan&#13;
tambahan pangan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan, namun dalam&#13;
kerangka sertifikasi halal diperlakukan sebagai produk kimia yang wajib memiliki&#13;
sertifikat halal mulai Oktober 2026. Produk perisa memiliki karakteristik khusus,&#13;
antara lain formulasi yang kompleks dengan berbagai komponen serta&#13;
ketergantungan yang tinggi pada bahan baku impor, sehingga proses verifikasi&#13;
kehalalan menjadi lebih menantang dalam konteks rantai pasok global.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengkaji standar dan regulasi halal yang&#13;
berlaku bagi produk pangan dan perisa, (2) menganalisis perbandingan persyaratan&#13;
teknis antara sistem sertifikasi halal yang sebelumnya bersifat sukarela dengan&#13;
kerangka kewajiban sertifikasi halal di Indonesia, serta (3)  mengidentifikasi&#13;
tantangan yang dihadapi para pemangku kepentingan, khususnya industri perisa&#13;
dan lembaga pemeriksa halal, dalam implementasi regulasi tersebut.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172856</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Strategi Adopsi Teknologi Blockchain Untuk Peningkatan Ketertelusuran Rantai Pasok Manggis</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172773</link>
<description>Strategi Adopsi Teknologi Blockchain Untuk Peningkatan Ketertelusuran Rantai Pasok Manggis
Habiba, Balqis Iklil
Manggis adalah salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia, namun &#13;
rendahnya penyerapan pasar ekspor yang hanya mencapai 15% dari total produksi &#13;
dikarenakan oleh masalah kualitas fisik dan lemahnya sistem pelacakan digital. &#13;
Teknologi blockchain muncul sebagai solusi untuk memastikan transparansi dari &#13;
hulu ke hilir, namun ada kesenjangan signifikan antara visi digitalisasi dan kesiapan &#13;
operasional serta pemahaman digital para pelaku di lapangan. Penelitian ini &#13;
bertujuan untuk mengenali faktor-faktor pendorong dan penghalang, mengevaluasi &#13;
tingkat kesiapan para aktor, serta merancang strategi adopsi blockchain yang efisien. &#13;
Penelitian dilakukan di Kecamatan Leuwiliang dan Leuwisadeng, Jawa Barat. &#13;
Informasi diperoleh melalui wawancara, Focus Group Discussion (FGD), serta data &#13;
yang dianalisis dengan metode Technology Readiness Index (TRI), Unified Theory &#13;
of Acceptance and Use of Technology  (UTAUT), dan Anayltic Network Process &#13;
(ANP). Temuan penelitian menyebutkan bahwa hambatan paling banyak &#13;
ditemukan adalah adanya keterbatasan sumber daya sedangkan manfaat yang paling &#13;
dirasakan adalah transparansi data. Hasil penilaian kesiapan menunjukkan bahwa &#13;
tingkat kesiapan aktor berada pada level sedang (3,32). Hasil model UTAUT &#13;
menunjukkan nilai koefisien regresi sebesar 0,789, dengan variabel social influence &#13;
(pengaruh sosial) sebagai pendorong yang paling signifikan, hal ini menunjukkan &#13;
fenomena sosial yang unik di lapangan: petani dan pedagang tetap memiliki &#13;
keinginan adopsi yang tinggi meskipun menghadapi tingkat ketidaknyamanan &#13;
(0,85) dan ketidakamanan (0,76) terhadap teknologi. Minat ini muncul bukan &#13;
disebabkan oleh keterampilan teknis mandiri, melainkan karena adanya &#13;
kepercayaan sosial terhadap saran penyuluh dan ketua kelompok tani. Situasi ini &#13;
diperkuat oleh tidak signifikannya variabel effort expectancy yang menunjukkan &#13;
bahwa aktor telah menyadari kompleksitas blockchain namun tidak memandangnya &#13;
sebagai halangan utama selama ada jaminan dukungan dari komunitas. Berdasarkan &#13;
analisis tersebut, penyusunan strategi menggunakan metode ANP menempatkan &#13;
peningkatan kapasitas organisasi dan sumber daya sebagai prioritas utama dengan &#13;
bobot 0,24. &#13;
Kata kunci: Adopsi Blockchain, ANP, Technology Readiness Index, UTAUT; Mangosteen is one of Indonesia's main export commodities, but has low &#13;
export market absorption, which only reaches 15% of total production, due to &#13;
physical quality issues and a weak digital tracking system. Blockchain technology &#13;
has emerged as a solution to ensure transparency from upstream to downstream, &#13;
but there is a significant gap between the vision of digitalization and the operational &#13;
readiness and digital understanding of actors in the field. This study aims to identify &#13;
the driving and inhibiting factors of blockchain technology adoption for enhancing &#13;
mangosteen supply chain traceability, evaluate the readiness level of the actors, &#13;
and design an efficient blockchain adoption strategy. The research was conducted &#13;
in Leuwiliang and Leuwisadeng subdistricts, West Java. Information was obtained &#13;
through interviews, Focus Group Discussions (FGD), and primary data analyzed &#13;
using the Technology Readiness Index (TRI), Unified Theory of Acceptance and &#13;
Use of Technology (UTAUT), and Analytic Network Process (ANP) methods. The &#13;
research findings indicate that the actors' readiness level is moderate (3.32). The &#13;
UTAUT model shows a regression coefficient value of 0.789, with the social &#13;
influence variable as the most significant driver. This indicates a unique social &#13;
phenomenon in the field: farmers and traders still have a high desire for adoption &#13;
despite facing levels of discomfort (0.85) and insecurity (0.76) towards the &#13;
technology. This interest arises not because of independent technical skills, but &#13;
because of social trust in the advice of extension workers and farmer group leaders. &#13;
This situation is reinforced by the insignificance of the effort expectancy variable, &#13;
which shows that actors are aware of the complexity of blockchain but do not view &#13;
it as a major obstacle as long as there is guaranteed support from the community. &#13;
Based on this analysis, the strategy formulation using the ANP method prioritizes &#13;
organizational capacity and resource enhancement with a weight of 0.24. &#13;
Keywords: Analytic Network Process, Blockchain Adoption, Technology Readiness &#13;
Index, UTAUT
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172773</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Profil Resistansi Tetrasiklin dan Karakteristik Genom Isolat Pseudomonas sp. Asal Air Irigasi Pertanian</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172596</link>
<description>Profil Resistansi Tetrasiklin dan Karakteristik Genom Isolat Pseudomonas sp. Asal Air Irigasi Pertanian
Syarifah, Nailus
Pseudomonas sp. merupakan salah satu bakteri yang dapat ditemukan di air. Air irigasi pertanian menjadi salah satu sumber kontaminan mikroorganisme yang berpeluang memiliki sifat resistansi antibiotik, salah satunya adalah tetrasiklin. Paparan tetrasiklin yang berlebihan dapat menyebabkan bakteri menjadi resistan. Deteksi keberadaan mikroorganisme serta gen-gen terkait penting dilakukan untuk menduga potensi, salah satu caranya dengan analisis Whole Genome Sequencing (WGS). Penelitian ini bertujuan untuk melihat profil resistansi tetrasiklin isolat bakteri asal air irigasi pertanian dan mengarakterisasi genomik dari isolat Pseudomonas sp.  &#13;
Penelitian ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian 1 uji resistansi isolat bakteri (n=19) terhadap tetrasiklin menggunakan metode disc diffusion test (Kirby-Bauer), dan uji konfirmasi isolat bakteri tersebut menggunakan real-time PCR. Bagian kedua yaitu karakterisasi genomik dengan Whole Genome Sequencing (WGS) menggunakan GeneMind, GenoLab M, dan analisis data sekuens menggunakan tools bioinformatika yaitu Galaxy, Proksee, TYGS, RAST, CARD dan BAGEL4. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 4 dari 19 isolat (21,05%) resistan tetrasiklin, 1 dari 19 isolat (5,26%) intermediet dan 14 dari 19 isolat sensitif (73,68%) tetrasiklin. Semua isolat tidak memiliki gen invA yang berarti bukan kelompok patogen enterik Salmonella. Hasil bagian 2 menunjukkan bahwa isolat H.1.2 teridentifikasi sebagai Pseudomonas peradeniyensis berdasarkan %ANI, dDDH, pohon filogenetik dan %GC. Isolat H.1.2 memiliki 45 gen yang berasosiasi dengan virulensi dan 4 gen stres berdasarkan ABRicate dan AMRFinderPlus. Isolat tersebut memiliki gen mexE (abriTAMR), dan yajC (CARD) dengan mekanisme adaptasi yang umum, serta tidak menunjukkan resistansi antibiotik. Isolat H.1.2 memiliki gen bacteriocin-like yaitu gen colicin dan pyocin berdasarkan BAGEL4. Selain itu, tidak ada plasmid yang terdeteksi pada isolat H.1.2 berdasarkan PlasmidFinder.; Pseudomonas sp. is a bacterial group commonly found in water. Agricultural irrigation water represents a potential source of microbial contamination, including microorganisms that may harbor antibiotic resistance properties, particularly against tetracycline. Excessive exposure to tetracycline can promote the development of bacterial resistance. Therefore, the detection of microorganisms and resistance-related genes is essential for assessing potential risks, one of which can be achieved through Whole Genome Sequencing (WGS) analysis. This study aimed to determine the tetracycline resistance profile of bacterial isolates obtained from irrigation water and to characterize the genomic features of Pseudomonas sp.&#13;
isolates. &#13;
This study consisted of two parts. The first part involved tetracycline resistance testing of bacterial isolates (n=19) using the disc diffusion method (Kirby-Bauer), followed by confirmation of the isolates using real-time PCR. The second part focused on genomic characterization through Whole Genome Sequencing (WGS) using the GeneMind, GenoLab M platform, with sequence data analyzed using bioinformatics tools including Galaxy, Proksee, TYGS, RAST, CARD, and BAGEL4. &#13;
The results showed that 4 out of 19 isolates (21,05%) were resistant to tetracycline, 1 isolate (5,26%) exhibited intermediate resistance, and 14 isolates (73,68%) were sensitive to tetracycline. None of the isolates harbored the invA gene, indicating the absence of Salmonella enteric pathogens strains. Genomic analysis revealed that isolate H.1.2 was identified as Pseudomonas peradeniyensis based on %ANI, digital DNA-DNA hybridization (dDDH), phylogenetic tree, and %GC content. Isolate H.1.2 harbored 45 virulence-associated genes and four stress-related genes based on ABRicate and AMRFinderPlus analyses. This isolate contained the mexE (abriTAMR) and yajC (CARD) genes, which are associated with general adaptive mechanisms, but did not exhibit antibiotic resistance phenotypes. Additionally, isolate H.1.2 possessed bacteriocin-like genes, including colicin and pyocin, as identified by BAGEL4. No plasmids were detected in isolate H.1.2 based on PlasmidFinder.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172596</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Optimasi Formula Minuman Multigrain Berbasis  Serealia-Kacang-Kacangan dan Karakterisasi Sifat  Fisikokimia serta Fungsional</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172583</link>
<description>Optimasi Formula Minuman Multigrain Berbasis  Serealia-Kacang-Kacangan dan Karakterisasi Sifat  Fisikokimia serta Fungsional
Mulyaningtias, Irena Dwi
Masyarakat cenderung mengonsumsi minuman berpemanis dalam kemasan &#13;
(MBDK) selain air mineral/air minum dalam kemasan (AMDK). MBDK mencakup &#13;
semua minuman dalam kemasan yang berpemanis (baik berpemanis gula maupun &#13;
yang mengandung bahan tambahan pemanis lainnya), baik dalam bentuk bubuk, &#13;
konsentrat, atau cair. Salah satunya jenis minuman MBDK adalah kategori RTD &#13;
(Ready to Drink). Minuman kemasan jenis RTD ini biasanya berkalori tinggi dan &#13;
tinggi gula. Karena kandungan gula dan kalori yang tinggi, konsumsi minuman &#13;
berpemanis dalam kemasan secara berlebihan dikaitkan dengan risiko obesitas, &#13;
diabetes dan penyakit kardiovaskular lainnya. Peningkatan kejadian diabetes &#13;
tersebut tidak terlepas dari preferensi konsumen Indonesia yang menyukai &#13;
minuman manis yang ditambah gula. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk &#13;
mengontrol masalah tersebut melalui pemilihan minuman fungsional berbahan &#13;
nabati dengan bahan baku multigrain serta merupakan jenis minuman RTD yaitu &#13;
minuman multigrain.  &#13;
Minuman multigrain juga digunakan sebagai alternatif untuk konsumen &#13;
intoleransi laktosa, alergi susu sapi dan hiperkolesterolemia termasuk bagi &#13;
konsumen vegetarian. Minuman multigrain umumnya memiliki indeks glikemik &#13;
yang rendah karena bahan-bahan multigrain seperti serealia dan kacang-kacangan &#13;
memiliki indeks glikemik rendah. Bahan – bahan yang digunakan adalah sorgum &#13;
dengan IG 32, kacang merah dengan IG 26, kacang hijau dengan IG 28,87, beras &#13;
hitam dengan IG 47,21, dan jagung manis dengan IG 36.  Produk minuman &#13;
multigrain dikembangkan untuk memberikan manfaat kesehatan dengan kualitas &#13;
fisik dan gizi yang baik, namun tantangan utamanya adalah menentukan formula &#13;
yang memiliki stabilitas fisik terbaik. Kestabilan fisik sangat penting karena &#13;
partikel padat mudah mengendap. Destabilisasi minuman terjadi ketika suspensi &#13;
padat berada dibawah sistem cairan. Potensi ini dapat terlihat dari karakteristik &#13;
fisik, salah satunya ukuran partikel. Ukuran partikel kecil secara kinetik lebih stabil &#13;
dibandingkan dengan ukuran partikel besar cenderung mengalami destabilisasi.  &#13;
Penelitian ini terdiri dari 4 tahap, yaitu: tahap 1 tahapan persiapan &#13;
pembuatan formula minuman multigrain dan penetapan batas atas batas bawah &#13;
serta karakterisasi bahan baku. Pada tahap 2 merupakan penentuan optimasi &#13;
formula berdasarkan metode mixture design tipe d-optimal. Dalam tahap ini &#13;
dilakukan pengujian sifat fisik produk dan pengolahan data menggunakan aplikasi &#13;
DX-13 untuk mendapatkan formula optimum dan diverifikasi sebanyak 5 kali &#13;
pengulangan. Selanjutnya tahap 3 dilakukan evaluasi sifat fisik terhadap formula &#13;
optimum selama penyimpanan 10 hari. Tahap terakhir dilakukan karakterisasi sifat &#13;
kimia dan fungsional pada minuman terpilih serta analisis sensori dengan uji rating &#13;
hedonik membandingkan sampel formula optimum dengan produk komersial &#13;
sejenis sehingga diperoleh informasi nilai gizi dari formula optimum.   &#13;
Lima bahan utama yaitu jagung manis (10-20%), kacang merah (20-30%), &#13;
kacang hijau (15-25%), beras hitam (10-20%), dan sorgum (15-25%) ditetapkan &#13;
sebagai variabel campuran berdasarkan hasil analisis penetapan batas atas dan batas bawah ditahap awal. Kombinasi bahan ini menghasilkan 25 formulasi yang &#13;
dievaluasi melalui parameter viskositas, turbiditas, stabilitas suspensi, dan total &#13;
padatan. Formula optimum ditentukan melalui nilai desirability &gt; 0.75 dan &#13;
diverifikasi dengan membandingkan nilai prediksi dan nilai aktual menggunakan &#13;
CI dan PI pada taraf 95%. Optimasi produk minuman multigrain ini menghasilkan &#13;
formula optimum dengan komposisi 19,75% jagung manis, 20% kacang merah, &#13;
25% kacang hijau, 10,25% beras hitam dan 25% sorgum yang memiliki desirability &#13;
0,816 &gt; 0,75 dengan nilai viskositas 63,4 mPa.s, turbiditas 115,4 ntu, stabilitas &#13;
suspensi 0,86%, dan total padatan 9,11%.  &#13;
Formula optimum produk minuman multigrain memiliki kestabilan fisik &#13;
selama penyimpanan dengan ukuran partikel lebih kecil dan homogen karena &#13;
penambahan penstabil xanthan gum 0,06% dan ukuran ayakan 115 mesh. Hasil uji &#13;
sensori menunjukkan bahwa produk minuman multigrain memiliki tingkat &#13;
penerimaan yang “cukup disukai” oleh panelis karena cita rasa khas serealia dan &#13;
kacang-kacangan yang kuat menjadi faktor utama yang memengaruhi preferensi. &#13;
Berdasarkan karakteristik proksimat formula optimum minuman multigrain &#13;
menghasilkan kadar air 90,46% dalam basis basah dan dalam basis kering &#13;
menghasilkan kadar abu 1,88%, kadar protein 23,35%, kadar lemak 6,78%, kadar &#13;
karbohidrat 67,98%. Karakteristik fungsional formula optimum minuman &#13;
multigrain mengandung total serat pangan 1,30%, aktivitas antioksidan &#13;
25%inhibisi, kadar total fenolik 29,9 mg GAE/100g, dan total gula 0%. Hasil &#13;
pengujian fisik berupa warna memberikan hasil formula optimum minuman &#13;
multigrain memiliki tampilan lebih gelap dibandingkan produk komersial. Takaran &#13;
saji sebesar 200 ml formula optimal produk mengandung gula total sebesar 0 g per &#13;
200 ml, di bawah aturan total gula 0,5 g per 100 ml dalam bentuk cair dan &#13;
kandungan serat pangan pada minuman multigrain sebesar 2,60 g per 200 ml &#13;
memberikan kontribusi 10,40% sehingga formula optimum minuman multigrain &#13;
sebagai minuman dengan klaim “less sugar” dan serat pangan lebih tinggi &#13;
dibandingkan minuman berpemanis pada umumnya serta mendukung pembatasan &#13;
konsumsi gula harian.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172583</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
