<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>PKM - Penelitian</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7482</link>
<description/>
<pubDate>Thu, 09 Apr 2026 09:55:53 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-09T09:55:53Z</dc:date>
<item>
<title>Pengembangan Tepung Kecipir Berbasis Nanoenkapsulasi Untuk Meningkatkan Bioavailabilitas Nutrisi Sebagai Solusi Dalam Meningkatkan Ketersediaan Bahan Baku Sumber Protein Nabati</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162497</link>
<description>Pengembangan Tepung Kecipir Berbasis Nanoenkapsulasi Untuk Meningkatkan Bioavailabilitas Nutrisi Sebagai Solusi Dalam Meningkatkan Ketersediaan Bahan Baku Sumber Protein Nabati; Proposal Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM RE)
Fajri, Aulia Irhamni; Nurbaiti, Putri; Azzahra N, Kayla; Awaliyah, Meylani; Rachmat, Salsabila Luqyana
Berbagai masalah terkait kesehatan dan pemenuhan gizi tubuh menjadi&#13;
sorotan utama saat ini, termasuk program makan bergizi gratis (MBG) sebagai salah&#13;
satu respons pemerintah terhadap isu tersebut. Seiring dengan itu, tren makanan&#13;
bertepung masih digemari sebagian masyarakat, di mana substitusi tepung terigu&#13;
dengan berbagai sumber pangan nabati atau kombinasi lainnya terus diupayakan&#13;
untuk meningkatkan kandungan nutrisi produk akhir.&#13;
Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) merupakan tanaman multifungsi&#13;
yang berpotensi sebagai sumber nutrisi karena kandungan protein, karbohidrat,&#13;
vitamin, dan mineralnya yang melimpah (Pujiastuti et al. 2024). Namun demikian,&#13;
kecipir yang dijuluki “Poor man’s food” ini masih jarang dimanfaatkan secara&#13;
maksimal. Stigma tersebut muncul karena semua bagian kecipir dapat dikonsumsi,&#13;
baik dalam keadaan mentah maupun matang (Bassal et al. 2020). Kandungan gizi&#13;
pada kecipir bahkan sebanding dengan gizi kacang kedelai (Bepary et al. 2023).&#13;
Selain itu, tanaman asal negara tropis ini dapat tumbuh pada berbagai ketinggian&#13;
(0-2000 m) dan kondisi tanah yang bervariasi (Mohanty et al. (2013) dalam Bassal&#13;
et al. (2020)), sehingga memiliki potensi untuk dibudidayakan di Indonesia.  ...
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162497</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Penurunan kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus melalui pengembangan obat herbal dengan teknik ekstraksi daun kenitu</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/74371</link>
<description>Penurunan kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus melalui pengembangan obat herbal dengan teknik ekstraksi daun kenitu
Amarilis, Kartika; Sutiarno, Wahyu; Y, Angger Agung D; Annisa, Gita Septi; Wahid, Azizul Al
Penyakit diabetes melitus adalah suatu penyakit yang kronis, dengan tanda yang khas yaitu meningkatnya kadar glukosa dalam darah dan dapat ditemukan dalam urin. Penyakit ini disebabkan karena tubuh tidak mampu menggunakan insulin. Secara epidemiologi, diperkirakan bahwa pada tahun 2030 prevalensi diabetes melitus di Indonesia mencapai 21,3 juta orang. Hal tersebut menunjukan kebutuhan akan solusi penyembuhan sangat diperlukan. Saat ini penyembuhan untuk penderita penyakit diabetes melitus masih menggunakan obat kimia yang dapat mempunyai efek samping. penelitian menggunakan pengobatan secara herbal yang bisa diterapkan di masyarakat dengan mudah dan tanpa efek samping. Salah satu salah satu herbal yang akan digunakan adalah daun kenitu. Kenitu merupakan pohon yang buah dan daunnya banyak tumbuh di daerah Jawa Timur. Hampir dari semua bagian tumbuhan ini dapat dimanfaatkan. Koffi et al. (2009) mengatakan bahwa daun kenitu mampu mengurangi kadar glukosa darah pada tingkat konsentrasi tertentu. Studi ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh air rebusan daun kenitu terhadap penurunan kadar gula darah yang terjadi pada tikus normal agar konsentrasi yang diberikan dapat dijadikan salah satu obat alternatif pada penderita diabetes mellitus. Studi ini berjudul “Penurunan Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Melalui Pengembangan Obat Herbal Dengan Teknik Ekstraksi Daun Kenitu” yang akan dilaksanakan selama empat bulan di Laboratorium Program Diploma IPB dengan menggunakan hewan percobaan tikus sebanyak 20 ekor yang terbagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok tikus pertama yang tidak mendapatkan perlakukan untuk dijadikan sebagai perbandingan normal, dan kelompok tikus kedua merupakan tikus normal yang diberi perlakuan air rebusan daun kenitu dengan konsentrasi 10 g/L, 20 g/L, dan 30 g/L. Pemberian daun kenitu dan sample darah dilakukan 2 hari sekali sebanyak tujuh kali pencekokan selama dua minggu. Sample darah diambil dari ekor tikus. Hasil yag didapatkan adalah terjadinya penurunan kadar gula darah pada pencekokan pada hari pertama hingga pencekokan hari ke-tiga dan terjadinya kenaikan kadar gula darah pada pencekokan hari ke-empat hingga pencekokkan hari ke-tujuh. Konsentrasi terefektif untuk menurunkan kadar gula darah pada tikus terdapat pada konsentrasi 20%.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2014 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/74371</guid>
<dc:date>2014-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>“Canned egg white” pangan darurat tinggi protein dengan fortifikasi vitamin c untuk meningkatkan imunitas pengungsi akibat bencana alam</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/74370</link>
<description>“Canned egg white” pangan darurat tinggi protein dengan fortifikasi vitamin c untuk meningkatkan imunitas pengungsi akibat bencana alam
Saputro, Andi Hakim Jodi; Adrian, Mohd Lutfi; Yasa, I Putu Agus Mahendra; Fikri, Al Mukhlas
Indonesia merupakan negara yang sering mengalami bencana alam. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, kejadian bencana alam di Indonesia dari tahun 2010 hingga 2012 masih cukup tinggi. Korban bencana alam berisiko untuk mengalami gangguan kesehatan yang buruk sebagai akibat dari kondisi sanitasi yang tidak baik, adanya penyakit seperti campak, kegagalan fungsi organ, dan infeksi akibat kurang gizi. Imunitas pengungsi berkaitan erat dengan zat gizi yang dikonsumsinya. Zat gizi yang berperan penting dalam imunitas yaitu protein, asam lemak dan beberapa vitamin serta mineral termasuk di dalamnya adalah vitamin C. Telur merupakan makanan dengan komposisi zat gizi cukup lengkap. Putih telur mengandung tinggi protein namun kandungan vitamin C dalam putih telur sangat rendah. Putih telur dengan fortifikasi vitamin C diharapkan dapat meningkatkan imunitas pengungsi bencana alam. Tujuan penelitian ini yaitu menghasilkan “Canned Egg White” berbahan dasar putih telur yang difortifikasi vitamin C, mendapatkan formulasi terbaik melalui uji organoleptik, mengkaji kandungan protein, vitamin C, komposisi asam amino pada produk terpilih, dan mengkaji kadar enzim SOD pada tikus untuk melihat efektivitas produk. Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Februari sampai bulan Mei 2014. Penelitian ini terdiri dari empat tahap. Tahap pertama yaitu pembuatan produk dengan tiga formulasi dengan pemberian vitamin C (F1 200, F2 500 dan F3 700 mg) Berdasarkan uji ANOVA, formula terpilih adalah F1 dengan penambahan vitamin C yaitu 200 mg. Analisis kandungan protein dilakukan dengan metode Kjeldhal sedangkan kandungan vitamin C dianalisis dengan metode titrimetri dan komposisi asam amino diketahui dengan metode kromatografi. Tahap keempat berupa pengujian terhadap tikus untuk mengkaji efektivitas produk terhadap peningkatan imunitas melalui analisis enzim SOD. Metode yang digunakan yaitu activity assay. Analisis tersebut dilakukan di laboratorium tikus percobaan, IPB.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2014 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/74370</guid>
<dc:date>2014-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis perbandingan karakteristik tempe kedelai dengan tempe kupu-kupu berbahan dasar limbah bauhinia purpurea sebagai solusi dalam mengatasi kelangkaan kedelai</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/74361</link>
<description>Analisis perbandingan karakteristik tempe kedelai dengan tempe kupu-kupu berbahan dasar limbah bauhinia purpurea sebagai solusi dalam mengatasi kelangkaan kedelai
Nurhusna, Aisyah; Putri, Fidelia Danasworo; Jaya, Efan Fatra; Pangestika, Astri Restu; Vitriandhani, Erika
Polong Bauhinia purpurea merupakan alternatif bahan dasar pembuatan tempe dan tuhu. Biasanya, tempe dan tahu dibuat dari kedelai yang di fermentasi menggunakan rhizopus. Maraknya pemberitaan sulitnya mendapatkan kedelai saat ini, membuat kami termotivasi untuk mencari alternatif lain untuk bahan dasar pembuatan tempe yang memiliki kandungan gizi yang tinggi atau lebih baik dari pada kedelai yaitu polong Bauhinia purpurea . Polong tersebut sangat berpotensi untuk dijadikan tempe sebagai alternatif dalam mengatasi kusilitan mendapatkan kedelai. Bauhinia purpurea merupakan satu suku dengan kedelai yaitu suku polong-polongan, seperti yang kita ketahui polong-polongan memiliki kandungan protein nabati yang tinggi. Metode yang digunakan dalam pembuatan tempe dari polong Bauhinia purpurea melakukan metode tradisional yaitu dengan bantuan rhizopus kemudian di fermentasi. Tempe dari polong Bauhinia purpurea akan dilakukan perbandingan dengan tempe dari kedelai dari segi kendungan gizi, toksisitas, penampakan secara fisik, dan organoleptik sehingga layak untuk dikonsumsi. Tempe kupu-kupu juga akan dianalisis melalui perbandingn karakteristik pohon dan polong bunga kupu-kupu serta pohon dan polong kedelai untuk mengetahui efektifitas substitusi tempe kedelai dengan tempe kupu-kupu. Setelah uji coba berhasil dan kandungan gizi terbukti tinggi dibandingkan dengan kedelai, kami akan mempublikasikan kepada masyarakat tentang potensi polong Bauhinia purpurea yang merupakan sumber protein nabati sebagai pengganti kedelai yang sulit didapatkan saat ini.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2014 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/74361</guid>
<dc:date>2014-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
