<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Faculty of Mathematics and Natural Sciences</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7470</link>
<description>Undergraduate Theses on Faculty of Mathematics and Natural Sciences</description>
<pubDate>Mon, 15 Jun 2026 17:56:56 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-06-15T17:56:56Z</dc:date>
<item>
<title>Analisis Spasial Koefisien Limpasan Terdistribusi Menggunakan Metode Cook Berbasis Grid di Wilayah DAS Ciliwung Hulu</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173426</link>
<description>Analisis Spasial Koefisien Limpasan Terdistribusi Menggunakan Metode Cook Berbasis Grid di Wilayah DAS Ciliwung Hulu
SETIADHI, DWI
DAS Ciliwung Hulu memiliki peran penting dalam sistem hidrologi wilayah, tetapi rentan terhadap peningkatan limpasan permukaan akibat dinamika kondisi fisik dan perubahan penggunaan lahan. Penelitian ini bertujuan mengestimasi distribusi spasial koefisien limpasan dan potensi debit limpasan permukaan menggunakan metode Cook terdistribusi berbasis grid. Analisis dilakukan dengan mengintegrasikan parameter topografi, infiltrasi tanah, tutupan lahan, simpanan permukaan, serta intensitas hujan yang dihitung menggunakan rumus Mononobe berdasarkan waktu konsentrasi DAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DAS Ciliwung Hulu didominasi oleh kelas koefisien limpasan tinggi dengan nilai 0,50–0,75 seluas 12.163,68 Ha atau 80,01% dari total luas DAS, sedangkan kelas ekstrem dengan nilai lebih dari 0,75 mencakup area seluas 2.817,63 Ha atau 18,54%. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh dominasi topografi berbukit hingga curam sebesar 72,84%, infiltrasi tanah lambat akibat tekstur lempung sebesar 90,44%, serta penggunaan lahan non-hutan yang mencapai 56,15% dari total wilayah. Intensitas hujan di wilayah penelitian berkisar antara 9,65–17,53 mm/jam dengan kategori hujan lebat dan konsentrasi tertinggi berada di bagian barat laut DAS. Kondisi tersebut menghasilkan potensi debit limpasan permukaan sebesar 0,001 hingga 0,00395 m³/detik per unit grid berukuran 30 × 30 meter, dengan sebaran debit tertinggi terkonsentrasi di wilayah barat laut hingga tengah DAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan metode Cook terdistribusi mampu menggambarkan variasi spasial respon hidrologi DAS secara rinci dan dapat digunakan sebagai dasar dalam penentuan prioritas pengelolaan DAS serta konservasi air untuk mengurangi risiko banjir di wilayah hilir; The Upper Ciliwung Watershed plays an important role in the regional hydrological system but is vulnerable to increasing surface runoff due to physical landscape dynamics and land use changes. This study aimed to estimate the spatial distribution of runoff coefficients and potential surface runoff discharge using a distributed grid-based Cook method. The analysis was conducted by integrating topographic parameters, soil infiltration, land cover, surface storage, and rainfall intensity calculated using the Mononobe equation based on watershed concentration time. The results showed that the Upper Ciliwung Watershed was dominated by a high runoff coefficient class ranging from 0.50–0.75, covering 12,163.68 Ha or 80.01% of the total watershed area, while the extreme class with values greater than 0.75 covered 2,817.63 Ha or 18.54%. These conditions were influenced by the dominance of hilly to steep topography reaching 72.84%, slow soil infiltration caused by clay-textured soils covering 90.44% of the area, and non-forest land use accounting for 56.15% of the total watershed area. Rainfall intensity in the study area ranged from 9.65–17.53 mm/hour and was classified as heavy rainfall, with the highest intensity concentrated in the northwestern part of the watershed. These conditions produced potential surface runoff discharge ranging from 0.001 to 0.00395 m³/second per 30 × 30 meter grid cell, with the highest runoff concentration located in the northwestern to central areas of the watershed. The results indicate that the distributed Cook method is capable of describing spatial variations in watershed hydrological responses in detail and can be used as a scientific basis for watershed management prioritization and water conservation efforts to reduce flood risk in downstream areas
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173426</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Keanekaragaman Belalang pada Tipe Penggunaan Lahan Berbeda di Kampus IPB University Darmaga, Bogor, Jawa Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173424</link>
<description>Keanekaragaman Belalang pada Tipe Penggunaan Lahan Berbeda di Kampus IPB University Darmaga, Bogor, Jawa Barat
MUZHAFFAR, ALZAVA SULTHON
Belalang merupakan serangga herbivora yang kadang bersifat hama bagi tanaman pertanian. Penelitian ini bertujuan mengetahui keanekaragaman belalang pada tipe penggunaan lahan yang berbeda di Kampus IPB Darmaga, yaitu Perkebunan Kelapa Sawit, Taman Hutan Kampus, dan Teaching Farm SADIFA. Penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive sampling dan pengambilan sampel belalang menggunakan sweep net. Hasil penelitian dikoleksi total 690 individu yang terbagi dalam 9 famili belalang. Nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener pada ketiga habitat berada pada kategori sedang (1 = H’ = 3). Perkebunan Kelapa Sawit memiliki keanekaragaman tertinggi (H’ = 1,34), diikuti Taman Hutan Kampus (H’ = 1,14) dan Teaching Farm SADIFA (H’ = 1,12). Famili Acrididae mendominasi di seluruh lokasi (399 individu). Analisis similaritas tertinggi ditemukan antara Perkebunan Kelapa Sawit dan Taman Hutan Kampus (0,84), sedangkan terendah antara Perkebunan Kelapa Sawit dan Teaching Farm SADIFA (0,69). Analisis korelasi Spearman dan PCA menunjukkan bahwa intensitas cahaya berkorelasi negatif terhadap jumlah individu (rs = -0,299; ? = 0,028), sementara kecepatan angin menunjukkan korelasi positif dengan jumlah individu belalang (rs = 0,279; ? = 0,041). Namun, suhu (rs = 0,129; ? = 0,36) dan kelembapan udara (rs = 0,158; ? = 0,252) tidak mempengaruhi kelimpahan belalang secara signifikan di lokasi penelitian.; Grasshoppers are herbivorous insects that sometimes act as pests for agricultural crops. This study aims to determine the diversity of grasshoppers in different types of land use on the IPB Darmaga Campus, namely the Oil Palm Plantation, Campus Forest Park, and Teaching Farm SADIFA. The research location was determined using a purposive sampling method and grasshopper samples were collected using a sweep net. The results of the study collected a total of 690 individuals divided into 9 grasshopper families. The Shannon-Wiener diversity index value in the three habitats was in the moderate category (1 = H’ = 3). The Oil Palm Plantation had the highest diversity (H’ = 1.34), followed by the Campus Forest Park (H’ = 1.14) and Teaching Farm SADIFA (H’ = 1.12). The Acrididae family dominated in all locations (399 individuals). The highest similarity analysis was found between the Oil Palm Plantation and the Campus Forest Park (0.84), while the lowest was between the Oil Palm Plantation and the Teaching Farm SADIFA (0.69). Spearman correlation analysis and PCA showed that light intensity was negatively correlated with the number of individuals (rs = -0.299; ? = 0.028), while wind speed showed a positive correlation with the number of grasshopper individuals (rs = 0.279; ? = 0.041). However, temperature (rs = 0.129; ? = 0.36) and air humidity (rs = 0.158; ? = 0.252) did not significantly affect grasshopper abundance at the study site.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173424</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Proyeksi Produktivitas Kelapa Sawit di Sumatra Utara Menggunakan Skenario Perubahan Iklim CMIP6</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173423</link>
<description>Proyeksi Produktivitas Kelapa Sawit di Sumatra Utara Menggunakan Skenario Perubahan Iklim CMIP6
Sitanggang, Rianta Faustina
Produktivitas kelapa sawit di Sumatra Utara semakin terancam oleh perubahan iklim, namun proyeksi kuantitatif yang menghubungkan variabel iklim dengan produktivitas kelapa sawit di masa depan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variabel iklim terhadap produktivitas kelapa sawit dan memproyeksikan perubahannya pada skenario emisi SSP2–4.5 dan SSP5–8.5 menggunakan keluaran model iklim MIROC6 yang dikoreksi dengan metode Delta, dan regresi linear berganda dengan lag dua tahun. Model persamaan suhu udara, radiasi matahari, dan neraca air terbukti memengaruhi produktivitas secara signifikan (Adjusted R² = 0,539, p = 0,0001). Rata-rata produktivitas diproyeksikan meningkat dari 3,416 ton/ha (historis) menjadi 3,745 ton/ha pada SSP2–4.5 dan 3,858 ton/ha pada SSP5–8.5 (2025–2054). Proyeksi yang diperpanjang hingga 2100 dengan ambang batas biologis suhu 28°C menunjukkan tren produktivitas berbalik menurun setelah tahun 2079, dengan rata-rata sebesar 3,06 ton/ha (2079–2100), lebih rendah dari rata-rata proyeksi periode 2025–2054, seiring dengan suhu yang diproyeksikan mencapai 28,53°C pada tahun 2100. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun pemanasan jangka pendek berdampak positif, akumulasi tahun-tahun dengan stres panas dalam jangka panjang meningkatkan risiko keberlanjutan perkebunan kelapa sawit, sehingga diperlukan strategi adaptasi Pertanian Cerdas Iklim yang mencakup penggunaan varietas adaptif, pengelolaan air, kesesuaian lahan, dan praktik perkebunan yang berkelanjutan.; Oil palm productivity in North Sumatra is increasingly threatened by climate change, yet quantitative projections linking climate variables to future oil palm productivity remain limited. This study analyzes the influence of climate variables on oil palm productivity and projects future changes under SSP2–4.5 and SSP5–8.5 emission scenarios using MIROC6 climate model outputs corrected via the Delta method and multiple linear regression with a 2-year time lag. Results demonstrate that temperature, solar radiation, and water balance model significantly influence productivity (Adjusted R² = 0.539, p = 0.0001). Average productivity is projected to increase from 3.416 ton/ha (historical) to 3.745 ton/ha under SSP2–4.5 and 3.858 ton/ha under SSP5–8.5 (2025–2054). Extended projections to 2100 with a biological threshold of 28°C reveal a productivity reversal after 2079, with average declining to 3.06 ton/ha (2079–2100), as temperature is projected to reach 28.53°C by 2100. These findings indicate that while short-term warming initially benefits productivity, long-term accumulation of heat stress years poses a significant sustainability risk. Consequently, adaptation strategies such as Climate Smart Agriculture, including climate-adapted varieties, enhanced water management, land suitability assessments, and sustainable plantation practices are essential for maintaining oil palm productivity in North Sumatra.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173423</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>FORMULASI NANOFIBER SELULOSA BATANG   TEMBAKAU (Nicotiana tabacum L.) SEBAGAI   ABSORBEN POPOK BAYI</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173422</link>
<description>FORMULASI NANOFIBER SELULOSA BATANG   TEMBAKAU (Nicotiana tabacum L.) SEBAGAI   ABSORBEN POPOK BAYI
SHYANTI, PRINSELA LOVENA
Batang tembakau memiliki selulosa yang dapat dimanfaatkan sebagai absorben pada popok disposable. Riset ini bertujuan mengkarakterisasi nanoselulosa, mengoptimasi formulasi hidrogel NFS menggunakan PEG, serta mengevaluasi sifat-sifat fisik hidrogel NFS-PEG. Prosedur riset dimulai dengan sintesis nanofiber selulosa (NFS). Karakteristik NFS dilakukan pada uji X-Ray Diffraction, Fourier Transform Infrared Spectroscopy, dan Scanning Electron Microscopy. NFS dikopolimer dengan PEG dan hidrogel diuji stabilitas, biodegradabilitas, rasio swelling, dan analisis data. NFS memiliki indeks kristalinitas sebesar 72,06%, morfologi berbentuk batang dengan diameter serat 403 nm, gugus hidroksil pada selulosa batang tembakau terdeteksi pada bilangan gelombang 3354-3487 cm-1. Hasil uji stabilitas hidrogel menunjukkan bahwa F1 memiliki karakteristik yang paling stabil setelah penyimpanan variasi suhu yang berbeda. Hidrogel F1 memiliki rasio swelling sebesar 782,33% (b/b) dengan persentase biodegradasi 78,38% (b/b). Hidrogel Formula 1 (NFS 0,5%) memiliki daya serap baik pada uji swelling dan persentase biodegradasi tertinggi.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173422</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
