<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Faculty of Forestry and Environment</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7469</link>
<description>Undergraduate Theses on Faculty of Forestry and Environment</description>
<pubDate>Sun, 07 Jun 2026 16:56:23 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-06-07T16:56:23Z</dc:date>
<item>
<title>Pendugaan Potensi Getah Pinus (Pinus merkusii) Menggunakan Citra Sentinel-2 di BKPH Manglayang Timur, KPH Sumedang</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173242</link>
<description>Pendugaan Potensi Getah Pinus (Pinus merkusii) Menggunakan Citra Sentinel-2 di BKPH Manglayang Timur, KPH Sumedang
ADIYAT, EZI AL
Pendugaan potensi getah pinus merupakan bagian penting dalam perencanaan pengelolaan hutan pinus. Penginderaan jarak jauh menjadi metode yang memiliki keunggulan dalam efisiensi waktu dan efektivitas biaya. Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Manglayang Timur merupakan salah satu unit pengelolaan hutan yang memproduksi getah pinus melalui pola agroforestry dengan kopi di kawasan gunung Manglayang. Tujuan penelitian ini adalah membuat model peta distribusi spasial tegakan pinus dan melakukan pendugaan potensi getah pinus di BKPH Manglayang Timur menggunakan citra Sentinel-2 tahun 2024. Analisis tutupan lahan yang digunakan menggunakan klasifikasi terbimbing dengan hasil 7 tutupan lahan serta dilakukan ground check. Indeks vegetasi yang digunakan antara lain Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Green Normalized Difference Vegetation Index (GNDVI), Green Leaf Index (GLI), dan Atmospherically Resistant Vegetation Index (ARVI). Total luas tegakan pinus berdasarkan hasil klasifikasi seluas 1114,17 ha atau 60,48% yang teridentifikasi berdasarkan data Perhutani tahun 2022. Potensi produksi getah pinus di BKPH Manglayang Timur paling tinggi yaitu 936,28 ton/tahun atau 0,86 ton/ha/tahun berdasarkan hasil indeks GNDVI. Potensi getah paling rendah yaitu 649,25 ton/tahun atau 0,59 ton/ha/tahun yang didapatkan dari analisis GLI.; Potential estimation of pine resin is a crucial component in pine forest management planning. Remote sensing has become a method with advantages in terms of time efficiency and cost effectiveness. The Forest Management Unit (BKPH) Manglayang Timur is one of the forest management units that produces pine resin through an agroforestry system with coffee cultivation in the Mount Manglayang region. This study aimed to develop a spatial distribution model of pine stands and to estimate the potential pine resin production in BKPH Manglayang Timur using Sentinel-2 imagery acquired in 2024. Land cover analysis was conducted using supervised classification, resulting in seven land cover classes, which were validated through ground checking. The vegetation indices applied in this study included NDVI, GNDVI, GLI, and ARVI. The total area of pine stands identified from the classification was 1114.17 ha, representing approximately 60.48 % of the area reported by Perhutani in 2022. The estimated pine resin production potential in BKPH Manglayang Timur was 936.28 tons/year or 0.86 tons/ha/year based on GNDVI. The lowest pine resin potential is 649.25 tons/year or 0.59 tons/ha/year based on GLI.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173242</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Simpanan Karbon pada Tegakan Rubroshorea selanica Berdasarkan Sumber Bibit di Hutan Penelitian Gunung Dahu, Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173241</link>
<description>Simpanan Karbon pada Tegakan Rubroshorea selanica Berdasarkan Sumber Bibit di Hutan Penelitian Gunung Dahu, Bogor
BANESTIA, MAHARANI PUTRI
Pemanasan global akibat peningkatan emisi gas rumah kaca mendorong&#13;
perlunya upaya mitigasi melalui pengelolaan hutan sebagai penyerap karbon.&#13;
Penelitian ini bertujuan menganalisis biomassa dan simpanan karbon pada tegakan&#13;
Rubroshorea selanica berdasarkan perbedaan sumber bibit di Hutan Penelitian&#13;
Gunung Dahu, Bogor. Penelitian menggunakan metode purposive sampling pada&#13;
plot berjarak tanam 2×2 m. Pendugaan biomassa dilakukan secara non-destruktif&#13;
menggunakan persamaan alometrik, sedangkan tumbuhan bawah dan serasah&#13;
dianalisis secara destruktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomassa dan&#13;
simpanan karbon pada kedua sumber bibit tergolong tinggi dan didominasi oleh&#13;
komponen aboveground. Tegakan dari stek memiliki nilai simpanan karbon&#13;
(112,13 tonC/ha) lebih tinggi dibandingkan seed (82,52 tonC/ha) namun&#13;
perbedaannya tidak signifikan secara statistik. Analisis menunjukkan kerapatan&#13;
tajuk berpengaruh positif dan signifikan. Faktor kelerengan menunjukkan&#13;
hubungan negatif yang sangat lemah dan tidak signifikan. Dengan demikian,&#13;
simpanan karbon pada tegakan Rubroshorea selanica (D.C) lebih dipengaruhi oleh&#13;
struktur tegakan seperti diameter dan kerapatan dibandingkan sumber bibit,&#13;
sehingga Hutan Penelitian Gunung Dahu memiliki potensi tinggi sebagai simpanan&#13;
karbon dalam mitigasi perubahan iklim.; Global warming caused by increasing greenhouse gas emissions necessitates&#13;
mitigation efforts through forest management as a carbon sink. This study aims to&#13;
analyze biomass and carbon stocks of Rubroshorea selanica stands based on&#13;
different planting materials in the Gunung Dahu Research Forest, Bogor. The&#13;
research was conducted using purposive sampling on plots with 2×2 m spacing.&#13;
Biomass was estimated using non-destructive allometric equations, while&#13;
understory vegetation and litter were measured destructively. The results show that&#13;
biomass and carbon stocks from both planting sources are high and dominated by&#13;
aboveground components. Stands from cuttings have higher carbon stock (112,13&#13;
tonC/ha) than seeds (82,52 tonC/ha), although the difference is not statistically&#13;
significant. Analysis indicates that canopy density shows a positive and significant.&#13;
Slope shows a very weak and non-significant negative relationship. Therefore,&#13;
carbon storage in Rubroshorea selanica (D.C) stands is more influenced by stand&#13;
structure such as diameter and density rather than planting source, highlighting&#13;
the high potential of stock carbon the Gunung Dahu Research Forest for climate&#13;
change mitigation.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173241</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pertumbuhan dan Regenerasi Alami Shorea Platyclados di Hutan Penelitian Gunung Dahu, Leuwiliang, Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173237</link>
<description>Pertumbuhan dan Regenerasi Alami Shorea Platyclados di Hutan Penelitian Gunung Dahu, Leuwiliang, Bogor
AZZAHRA, FATIMAH
Indonesia memiliki hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia yang didominasi oleh famili Dipterocarpaceae, termasuk meranti (Shorea sp.) yang bernilai ekonomi tinggi. Shorea platyclados merupakan jenis dipterokarpa yang berperan penting dalam revegetasi hutan bekas tebangan di Indonesia sehingga keberadaannya menjadi penting dalam upaya rehabilitasi dan pengelolaan hutan produksi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pertumbuhan dan potensi regenerasi alami S. platyclados di Hutan Penelitian Gunung Dahu. Penelitian dilakukan di Hutan Penelitian Gunung Dahu pada empat blok penelitian S. platyclados yaitu Blok 4, 15, 20 dan 21e. Parameter yang diamati meliputi diameter (DBH), tinggi total pohon, jumlah individu S. platyclados, kelerengan, elevasi dan tutupan tajuk.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa S. platyclados memiliki performa pertumbuhan diameter dan tinggi yang baik. Diameter ratarata S. platyclados berkisar antara 39,40–45,16 cm (MAI 1,52–1,74 cm/tahun). Rata-rata tinggi tegakan berkisar antara 18,49–22,34 m (MAI 0,68–0,86 m/tahun). Potensi regenerasi alami S. platyclados tergolong baik, ditunjukkan oleh total tingkat semai sebanyak 206 individu dengan rata-rata kerapatan 123.214 ind/ha.; Indonesia has the third largest tropical rainforest in the world, dominated by Dipterocarpaceae family, including meranti (Shorea spp.), which has high economic value. Shorea platyclados plays an important role in the revegetation of logged-over forests in Indonesia, making it essential for forest rehabilitation and production forest management. This study aimed to analyze the growth performance and natural regeneration potential of S. platyclados in Gunung Dahu Research Forest. The study was conducted in four blocks (Blocks 4, 15, 20, and 21e), observing diameter at breast height (DBH), total tree height, number of individuals, slope, elevation, and canopy cover. The results showed that S. platyclados demonstrated good diameter and height growth performance. The average diameter ranged from 39,40–45,16 cm (MAI 1,52–1,74 cm/year), and the average stand height ranged from 18,49–22,34 m (MAI 0,68–0,86 m/year). The natural regeneration potential of S. platyclados was categorized as good, indicated by 206 seedlings with an average density of 123.214 individuals/ha.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173237</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Sifat Fisis dan Mekanis Bambu Tamiang Hasil Perendaman menggunakan Asam Sitrat dan Asam Tartarat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173236</link>
<description>Sifat Fisis dan Mekanis Bambu Tamiang Hasil Perendaman menggunakan Asam Sitrat dan Asam Tartarat
Dewi, Dwiratih Ratna
Bambu tamiang (Schizostachyum sp.) berpotensi sebagai bahan baku sedotan ramah lingkungan, namun tingkat kecerahan warna serta perubahan sifat fisis dan mekanisnya masih menjadi kendala. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh jenis asam organik, yaitu asam sitrat 10% (C1) dan 20% (C2), serta asam tartarat 10% (T1) dan 20% (T2), dengan metode perendaman panas-dingin selama 3 jam (P3) dan 5 jam (P5), perendaman dingin selama 3 jam (D3) dan 5 jam (D5) terhadap kecerahan warna, sifat fisis, dan mekanis bambu tamiang. Sebanyak 96 sampel diuji meliputi kecerahan dan perubahan warna, weigh loss (WL), retensi, daya serap air (DSA), efisiensi anti pengembangan (ASE), modulus elastisitas (MOE), modulus patah (MOR), dan kuat tekan. Hasil menunjukkan bahwa perendaman asam sitrat 10% selama 3 jam menghasilkan kecerahan tertinggi (54,37) dan perubahan warna tertinggi (24,33). Perlakuan P3T2 menghasilkan retensi tertinggi (13,07 kg/m³) dan WL terendah (1,21%), serta D5T2 dengan ASE tertinggi (63,53%) dan DSA terendah (43,46%). Nilai MOE dan MOR terbaik masing-masing diperoleh pada perlakuan P3T2 sebesar 2618,73 MPa dan P3T1 sebesar 45,82 MPa. Nilai kuat tekan tertinggi diperoleh pada perlakuan D3C1 (51,26 MPa).; Tamiang bamboo (Schizostachyum sp.) has potential as an environmentally friendly raw material for drinking straws; however, its low brightness level and changes in physical and mechanical properties remain major challenges. This study aims to analyze the effects of organic acid types, including 10% citric acid (C1), 20% citric acid (C2), 10% tartaric acid (T1), and 20% tartaric acid (T2), combined with hot–cold soaking for 3 h (P3) and 5 h (P5), and cold soaking for 3 h (D3) and 5 h (D5), on the color brightness, physical, and mechanical properties of tamiang bamboo. A total of 96 samples were tested for brightness and color change, weight loss (WL), retention, water absorption (WA), anti-swelling efficiency (ASE), modulus of elasticity (MOE), modulus of rupture (MOR), and compressive strength. The results showed that soaking in 10% citric acid for 3 h produced the highest brightness (54,37) and color change (24,33). Treatment P3T2 resulted in the highest retention (13,07 kg/m³) and the lowest WL (1,21%), while treatment D5T2 showed the highest ASE (63,53%) and the lowest WA (43,46%). The highest MOE and MOR values were obtained under treatments P3T2 (2618,73 MPa) and P3T1 (45,82 MPa), respectively. The highest compressive strength was obtained under treatment D3C1 (51,26 MPa).
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173236</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
