<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Faculty of Forestry and Environment</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7469</link>
<description>Undergraduate Theses on Faculty of Forestry and Environment</description>
<pubDate>Wed, 01 Jul 2026 12:00:13 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-07-01T12:00:13Z</dc:date>
<item>
<title>Pengaruh Pemberian Daun Lamtoro (Leucaena leucocephala)  terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelor (Moringa oleifera)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173891</link>
<description>Pengaruh Pemberian Daun Lamtoro (Leucaena leucocephala)  terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelor (Moringa oleifera)
Derima, Sri
Kelor (Moringa oleifera) adalah tanaman multiguna dengan komoditas &#13;
ekspor bernilai tinggi. Strategi budidaya diperlukan untuk memperoleh &#13;
produktivitas optimal, seperti sistem agroforestri dan penambahan bahan organik. &#13;
Lamtoro (Leucaena leucocephala) adalah salah satu tanaman yang dapat diterapkan &#13;
di sistem agroforestri karena daunnya memiliki unsur hara makro yang dapat &#13;
mendukung pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh &#13;
pemberian daun lamtoro dan mengetahui perlakuan yang paling baik bagi &#13;
pertumbuhan tanaman kelor. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap &#13;
dengan 5 perlakuan yaitu kontrol, daun lamtoro segar ditaburkan, daun lamtoro &#13;
segar dibenamkan, kompos daun lamtoro ditaburkan, dan kompos daun lamtoro &#13;
dibenamkan. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian daun lamtoro &#13;
berpengaruh nyata terhadap semua parameter pertumbuhan yang diamati meliputi &#13;
tinggi, diameter, jumlah helai daun, dan biomassa. Perlakuan daun lamtoro segar &#13;
dan kompos daun lamtoro yang ditaburkan memberikan pengaruh yang paling baik &#13;
bagi pertumbuhan tanaman kelor.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173891</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pemanfaatan Batang Rasau sebagai Bahan Baku Molded Pulp Packaging melalui metode NSSC dan SCWE</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173879</link>
<description>Pemanfaatan Batang Rasau sebagai Bahan Baku Molded Pulp Packaging melalui metode NSSC dan SCWE
SABATIAN, MUHAMAD THORIQ FAUZAN
Batang rasau merupakan tumbuhan rawa gambut yang tumbuh melimpah namun belum banyak dimanfaatkan, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku kemasan biodegradable. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesesuaian serat batang rasau serta pengaruh metode pulping NSSC (Neutral Sulfite Semi-Chemical) dan SCWE (Subcritical Water Extraction) terhadap kualitas pulp sebagai bahan baku molded pulp packaging. Tahapan penelitian meliputi proses pulping, analisis komposisi kimia dan morfologi serat, refining hingga 32 °SR, pembentukan molded pulp, serta pengujian sifat fisik. Hasil menunjukkan bahwa NSSC menghasilkan kadar a-selulosa tertinggi (55,49%), hemiselulosa tertinggi (17,98%), dan lignin terendah (12,57%), sedangkan SCWE menghasilkan rendemen tertinggi (78,48%) dengan kadar lignin lebih tinggi (35,71%). Nilai tensile index NSSC (10,50 Nm/g) lebih tinggi dibandingkan SCWE (8,13 Nm/g). Secara keseluruhan, perlakuan NSSC menunjukkan potensi yang lebih baik sebagai bahan baku molded pulp packaging berbasis serat batang rasau.; Rasau stem is a peat swamp plant that grows abundantly yet remains underutilized, making it a promising candidate as a biodegradable packaging feedstock. This study aimed to analyze the suitability of pandan rasau stem fibers and evaluate the effect of NSSC (Neutral Sulfite Semi-Chemical) and SCWE (Subcritical Water Extraction) pulping methods on pulp quality for molded pulp packaging applications. The research stages included pulping, chemical composition and fiber morphology analyses, refining to 32 °SR, molded pulp formation, and physical property testing. The results showed that NSSC produced the highest alpha-cellulose content (55.49%), the highest hemicellulose content (17.98%), and the lowest lignin content (12.57%), whereas SCWE yielded the highest pulp yield (78.48%) with a higher lignin content (35.71%). The tensile index of NSSC pulp (10.50 Nm/g) was higher than that of SCWE pulp (8.13 Nm/g). Overall, the NSSC treatment demonstrated greater potential as a raw material for molded pulp packaging based on rasau stem fibers.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173879</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Potensi Daun Rasau sebagai Bahan Baku Non-Kayu untuk Molded pulp packaging: Analisis Metode NSSC dan SCWE</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173878</link>
<description>Potensi Daun Rasau sebagai Bahan Baku Non-Kayu untuk Molded pulp packaging: Analisis Metode NSSC dan SCWE
HARYAPUTRA, SEPTIAN AHMAD KUKUH
Daun rasau (Pandanus helicopus) merupakan tumbuhan liar endemik yang sering mengganggu aliran sungai, tetapi memiliki kandungan serat yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku molded pulp packaging. Neutral Sulfite Semi Chemical (NSSC) dan Subcritical Water Extraction (SCWE) digunakan sebagai alternatif pulping ramah lingkungan untuk mengetahui karakteristik pulp yang dihasilkan serta pengaruhnya terhadap pembuatan molded pulp. Analisis komponen kimia dilakukan sebelum dan sesudah proses pulping. Pulp yang diperoleh selanjutnya mengalami proses refining dan dianalisis dimensi seratnya untuk mengevaluasi perubahan karakteristik serat akibat perlakuan. Molded pulp kemudian dibentuk menggunakan alat vakum skala laboratorium dan diuji sifat fisik, hidrofobisitas, serta mekanisnya. NSSC menghasilkan delignifikasi yang lebih efektif dengan kandungan lignin 8,11%, tensile index 19,30 Nm/g, dan warna kemasan yang lebih terang, meskipun rendemennya lebih rendah (52,00%). Sebaliknya, SCWE menghasilkan rendemen yang lebih tinggi (77,63%) serta hidrofobisitas yang lebih baik, tetapi memiliki kandungan lignin yang lebih tinggi (42,36%) dan tensile index yang lebih rendah (2,01 Nm/g). NSSC lebih sesuai untuk aplikasi yang memerlukan kekuatan mekanik, sedangkan SCWE berpotensi untuk kemasan tahan air dengan proses yang lebih ramah lingkungan.; Rasau leaves (Pandanus helicopus) are an endemic wild plant that often obstructs river flow but contain high fiber content, making them a potential raw material for molded pulp packaging. Neutral Sulfite Semi-Chemical (NSSC) and Subcritical Water Extraction (SCWE) were used as environmentally friendly pulping methods to investigate pulp characteristics and their effects on molded pulp production. Chemical composition was analyzed before and after pulping. The resulting pulp was refined, and its fiber dimensions were measured to evaluate changes in fiber characteristics. Molded pulp products were then formed using a laboratory-scale vacuum molding system and evaluated for their physical, hydrophobic, and mechanical properties. NSSC achieved more effective delignification, resulting in a lignin content of 8.11%, a tensile index of 19.30 Nm/g, and a lighter product color, although its yield was lower (52.00%). In contrast, SCWE produced a higher yield (77.63%) and better hydrophobicity but retained higher lignin content (42.36%) and exhibited a lower tensile index (2.01 Nm/g). NSSC was more suitable for applications requiring high mechanical strength, whereas SCWE showed potential for water-resistant packaging with a more environmentally friendly process.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173878</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Waktu Kerja, Produktivitas, dan Biaya Pengangkutan Kayu di Hutan Rakyat di Kabupaten Wonosobo</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173872</link>
<description>Waktu Kerja, Produktivitas, dan Biaya Pengangkutan Kayu di Hutan Rakyat di Kabupaten Wonosobo
Pauzi, Irpan
Pengangkutan kayu merupakan salah satu tahapan penting dalam pemanenan hutan yang membutuhkan biaya operasional yang besar. Penelitian ini bertujuan menganalisis waktu kerja, produktivitas, dan biaya pengangkutan kayu di hutan rakyat. Sistem pengangkutan terdiri atas dua tahapan, yaitu pengangkutan kayu jarak dekat (langsir) menggunakan pick up dan pengangkutan jarak jauh (hauling) menggunakan truk. Unit contoh dalam penelitian ini adalah siklus kerja pengangkutan kayu. Jumlah total siklus yang diamati sebanyak 31 siklus, yang terdiri atas 26 siklus langsir dan 5 siklus hauling. Data waktu kerja diukur menggunakan metode null-stop. Produktivitas kerja dihitung berdasarkan produksi pengangkutan kayu per satuan waktu efektif, sedangkan biaya diperoleh melalui wawancara dan pencatatan biaya operasional kendaraan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu kerja rata-rata pengangkutan langsir sebesar 0,54 jam/siklus dengan produktivitas 4,80 m³/jam, sedangkan hauling sebesar 2,66 jam/siklus dengan produktivitas 2,64 m³/jam. Biaya total pengangkutan kayu sebesar Rp72.326/m³, yang terdiri atas biaya langsir kayu sebesar Rp35.362/m³ dan hauling Rp36.964/m³.; Timber transportation is an important stage in forest harvesting that requires considerable operational costs. This study analyzed the working time, productivity, and cost of timber transportation in private forests. The transportation system consisted of short-distance transportation (langsir) using pick up and long-distance transportation (hauling) using trucks. The unit of observation was the timber transportation work cycle. A total of 31 cycles were observed, comprising 26 langsir cycles and 5 hauling cycles. Working time was measured using the null-stop method. Productivity was calculated based on timber volume transported per effective working time, while costs were obtained through interviews and vehicle operational cost records. The results showed that the average working time for langsir was 0.54 hours/cycle with a productivity of 4.80 m³/hour, while hauling required 2.66 hours/cycle with a productivity of 2.64 m³/hour. The total transportation cost was Rp72,326/m³, consisting of Rp35,362/m³ for langsir and Rp36,964/m³ for hauling.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173872</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
