<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Faculty of Fisheries and Marine Science</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7467</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 20 Jun 2026 12:15:39 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-06-20T12:15:39Z</dc:date>
<item>
<title>ANALISIS CO-MANAGEMENT PENGELOLAAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI PULAU TIDUNG, KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173554</link>
<description>ANALISIS CO-MANAGEMENT PENGELOLAAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI PULAU TIDUNG, KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA
Gala, Julian De
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki ekosistem terumbu karang &#13;
yang penting secara ekologis dan ekonomis, termasuk di Pulau Tidung, Kepulauan &#13;
Seribu. Namun, lemahnya koordinasi antar pemangku kepentingan menyebabkan &#13;
pengelolaan belum optimal, serta tekanan dari aktivitas wisata, pemanfaatan &#13;
berlebih. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis co-management dalam &#13;
pengelolaan ekosistem terumbu karang pulau Tidung, Kepulauan Seribu, yang &#13;
nantinya dapat mengidentifikasi rekomendasi pengelolaan berbasis co&#13;
management. Metode penelitian yang digunakan adalah mixed method melalui &#13;
pengumpulan data ekologi menggunakan Underwater Photo Transect (UPT), serta &#13;
wawancara dan kuesioner kepada pemangku kepentingan dengan teknik purposive &#13;
sampling dan accidental sampling untuk penentuan responden masyarakat. Analisis &#13;
meliputi kondisi tutupan karang, kelimpahan ikan, persepsi masyarakat, serta &#13;
pemetaan stakeholder, dan evaluasi komponen manajemen (POAC). Hasil &#13;
penelitian menunjukkan bahwa walaupun terjadi penggunaan sumberdaya dan &#13;
kepadatan pengunjung yang berlebih kondisi terumbu karang tergolong baik &#13;
dengan tutupan karang hidup sebesar 65,61% dan 51,46% yang tergolong kategori &#13;
baik. Secara persepsi, tingkat pemahaman masyarakat terhadap co-management &#13;
tergolong tinggi (77%) dengan partisipasi yang cukup aktif. Kesimpulan penelitian &#13;
menunjukkan bahwa pengelolaan terumbu karang di Pulau Tidung berada pada tipe &#13;
(entry-level) cooperative co-management. Kondisi ini menunjukkan bahwa &#13;
pengelolaan masih berada pada tahap transisi menuju cooperative co-management. &#13;
Oleh karena itu, pengelola perlu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat &#13;
melalui edukasi dan pelatihan. Pemerintah dan stakeholder juga perlu memperkuat &#13;
koordinasi, pendanaan, serta pendampingan. Selain itu, masyarakat perlu &#13;
mengoptimalkan pengawasan berbasis komunitas untuk menjaga keberlanjutan &#13;
ekosistem terumbu karang di Pulau Tidung.; Indonesia, as an archipelagic country, possesses coral reef ecosystems that &#13;
are ecologically and economically important, including those in Tidung Island, &#13;
Seribu Islands. However, weak coordination among stakeholders has limited the &#13;
effectiveness of coral reef management, while increasing pressure from tourism &#13;
activities and overutilization continues to threaten ecosystem sustainability. This &#13;
study aimed to analyze the implementation of co-management in the coral reef &#13;
ecosystem of Tidung Island, Seribu Islands, and to identify recommendations for &#13;
improving management through a co-management approach. A mixed-methods &#13;
approach was employed, combining ecological data collection using the &#13;
Underwater Photo Transect (UPT) method with stakeholder interviews and &#13;
questionnaires. Respondents were selected using purposive sampling for &#13;
stakeholders and accidental sampling for community members. The analysis &#13;
included coral cover condition, fish abundance, community perceptions, &#13;
stakeholder mapping, and evaluation of management functions based on the &#13;
Planning, Organizing, Actuating, and Controlling (POAC) framework. The results &#13;
showed that despite pressures from resource overuse and high visitor density, the &#13;
coral reef ecosystem remained in good condition, with live coral cover of 65.61% &#13;
and 51.46%, both classified as good. Community understanding of co-management &#13;
was relatively high (77%), accompanied by active participation in management &#13;
activities. The study concludes that coral reef management in Tidung Island is &#13;
currently at the entry-level cooperative co-management stage, indicating a &#13;
transition toward a more cooperative management system. Therefore, management &#13;
efforts should focus on strengthening community capacity and participation through &#13;
education and training. Government agencies and other stakeholders should also &#13;
enhance coordination, funding support, and facilitation. In addition, community&#13;
based monitoring and surveillance should be optimized to ensure the long-term &#13;
sustainability of the coral reef ecosystem in Tidung Island.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173554</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Strategi Peningkatan Pemanfaatan Wisata Pantai Bintang Pulau Pari Kepulauan Seribu DKI Jakarta</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173552</link>
<description>Strategi Peningkatan Pemanfaatan Wisata Pantai Bintang Pulau Pari Kepulauan Seribu DKI Jakarta
ALFATH, NUR HIFZHUL MAWALIA
Pantai Bintang merupakan salah satu destinasi wisata pantai di Pulau Pari,&#13;
Kepulauan Seribu, yang memiliki potensi sumber daya pesisir untuk kegiatan&#13;
rekreasi dan wisata bahari. Namun, pemanfaatan kawasan wisata belum optimal,&#13;
ditandai oleh keterbatasan area pemanfaatan, fasilitas wisata yang belum memadai,&#13;
serta belum diterapkannya pengelolaan berbasis daya dukung lingkungan.&#13;
Penelitian ini bertujuan mengkaji pemanfaatan wisata Pantai Bintang sebagai dasar&#13;
penyusunan strategi pengelolaan wisata yang berkelanjutan. Metode yang&#13;
digunakan meliputi analisis Indeks Kesesuaian Wisata (IKW), daya dukung&#13;
kawasan, Willingness to Pay (WTP), regresi logistik biner, serta analisis SWOT dan&#13;
QSPM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pantai Bintang memiliki area wisata&#13;
yang sesuai sepanjang 210 m, sedangkan area yang saat ini dimanfaatkan hanya&#13;
mencapai 120 m. Nilai daya dukung kawasan sebesar 16 orang per hari&#13;
menunjukkan perlunya pengaturan jumlah kunjungan sesuai kapasitas lingkungan.&#13;
Nilai WTP wisatawan berkisar antara Rp5.000 hingga Rp15.000 dengan rata-rata&#13;
sebesar Rp11.250. Hasil regresi logistik biner menunjukkan bahwa pendapatan&#13;
berpengaruh signifikan terhadap keputusan WTP wisatawan. Analisis SWOT dan&#13;
QSPM menghasilkan strategi prioritas berupa peningkatan kualitas sumber daya&#13;
pesisir, penguatan infrastruktur dan sistem pengelolaan berbasis daya dukung, serta&#13;
pengembangan ekowisata berbasis partisipasi masyarakat. Pengelolaan Pantai&#13;
Bintang perlu dilakukan secara terintegrasi dengan mempertimbangkan aspek&#13;
ekologi, sosial, dan ekonomi guna mendukung keberlanjutan kawasan wisata.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173552</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>POTENSI KESESUAIAN EKOSISTEM MANGROVE SEBAGAI PENDUKUNG EKOWISATA BAHARI DI PULAU PARI, KEPULAUAN SERIBU</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173492</link>
<description>POTENSI KESESUAIAN EKOSISTEM MANGROVE SEBAGAI PENDUKUNG EKOWISATA BAHARI DI PULAU PARI, KEPULAUAN SERIBU
ANGGRAENI, SUSI
Pulau Pari memiliki ekosistem mangrove yang berperan penting secara&#13;
ekologis dan ekonomis, namun pemanfaatannya sebagai ekowisata belum didukung&#13;
kajian kesesuaian dan daya dukung yang memadai. Penelitian ini bertujuan&#13;
menganalisis kesesuaian wilayah, daya dukung kawasan, nilai ekonomi, serta&#13;
merumuskan strategi pengelolaan ekowisata mangrove. Metode yang digunakan&#13;
meliputi Indeks Kesesuaian Wisata (IKW), daya dukung kawasan (DDK),&#13;
Contingent Valuation Method (CVM), dan analisis SWOT dengan pengumpulan&#13;
data melalui observasi lapangan di 14 titik pada 5 wilayah serta survei terhadap&#13;
wisatawan dan pemangku kepentingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa&#13;
ekosistem mangrove di Pulau Pari berada pada kategori tidak sesuai untuk&#13;
pengembangan ekowisata akibat rendahnya kerapatan, ketebalan, dan&#13;
keanekaragaman mangrove. Daya dukung kawasan belum dapat dihitung secara&#13;
aktual, namun estimasi potensi setelah rehabilitasi mencapai 273 orang per hari atau&#13;
71.100 orang per tahun. Nilai ekonomi berdasarkan kesediaan membayar&#13;
wisatawan sebesar Rp980.390.000 dan berpotensi meningkat hingga&#13;
Rp3.661.192.853 dengan penetapan tarif optimal. Implikasi penelitian menegaskan&#13;
perlunya rehabilitasi ekosistem, pengembangan ekowisata berbasis konservasi, dan&#13;
peningkatan kapasitas sumber daya manusia secara terpadu.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173492</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Identifikasi Potensi Pelanggaran Open-Close Area dengan Pemanfaatan VIIRS Boat Detection di Laut Banda</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173479</link>
<description>Identifikasi Potensi Pelanggaran Open-Close Area dengan Pemanfaatan VIIRS Boat Detection di Laut Banda
Sitanggang, Geofanny
The high biological resource potential of the Banda Sea as a spawning ground of yellowfin tuna (Thunnus albacares) in FMA 714 heightens the risk of illegal nighttime fishing within the open-close area. This study aimed to map &#13;
the distribution of light fishing vessels, identify potential violations in the open close area, and recommend surveillance follow-up actions. This study utilized VIIRS Boat Detection data from the Earth Observation Group throughout 2025. &#13;
Spatial analysis and descriptive analysis were applied to the data. The results revealed fishing vessel activity across the entire WPPNRI 714 Banda Sea waters throughout 2025. Fishing vessel activity was predominantly concentrated in the &#13;
central and southern Banda Sea, which constitutes the primary habitat of &#13;
yellowfin tuna. Vessel detections indicating potential violations of the open-close area were identified during the closure period, with the highest number of violations recorded in November, reaching 69, 85, and 58 detections in October, November, and December respectively. Recommended follow-up actions for fishing vessel surveillance in the Banda Sea open-close area include socialization on zoning regulations, formal warnings for large vessels detected within the openclose area, increased patrol intensity, and the utilization of VIIRS Boat Detection satellite imagery as an early detection system for potential violations.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173479</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
