<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Faculty of Fisheries and Marine Science</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7467</link>
<description/>
<pubDate>Wed, 15 Apr 2026 17:12:36 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-15T17:12:36Z</dc:date>
<item>
<title>Strategi Pengembangan Perikanan Bouke Ami di PPN Kejawanan Studi terhadap Pendapatan Nelayan dan Dampak Sosial Ekonomi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172942</link>
<description>Strategi Pengembangan Perikanan Bouke Ami di PPN Kejawanan Studi terhadap Pendapatan Nelayan dan Dampak Sosial Ekonomi
Hartono, Agus
Strategi pengembangan perikanan Bouke Ami yang meliputi peningkatan teknologi penangkapan ikan, peningkatan infrastruktur pelabuhan, dan penguatan sistem distribusi dan pemasaran tangkapan secara terorganisir, mampu meningkatkan pendapatan nelayan dan memperbaiki kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir di sekitar PPN Kejawanan. Hasil penelitian dapat menjadi acuan bagi nelayan, pengelola pelabuhan, pemerintah daerah, dan lembaga pengawas untuk mengembangkan kebijakan dan strategi yang efektif untuk meningkatkan pendapatan nelayan. Proses analisis meliputi identifikasi pendapatan dan perumusan strategi pengembangan perikanan Bouke ami untuk meningkatkan pendapatan perikanan dan memperbaiki kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar. Analisis SWOT digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan dan peluang bisnis perikanan yaitu mengoptimalkan pengetahuan dan keterampilan nelayan serta ketersediaan armada dan alat tangkap untuk meningkatkan volume dan kualitas, serta memanfaatkan tangkapan cumi-cumi dan pendapatan yang tinggi dari usaha perikanan (skor 0,33). Hasil penelitian dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang kondisi sosial ekonomi dan mendukung pembangunan perikanan yang berkelanjutan; The Bouke Ami fisheries development strategy, which includes improving fishing technology, improving port infrastructure, and strengthening the distribution and marketing system of catches in an organized manner, is able to increase fishermen's income and improve the socio-economic conditions of coastal communities around the Kejawanan VAT. The results of the research can be a reference for fishermen, port managers, local governments, and supervisory institutions to develop effective policies and strategies to increase fishers' income. The analysis process includes income identification and formulation of a strategy for the development of the Bouke ami fishery to increase Fisheries' Income and Improve the Socio-Economic Conditions of the surrounding Community. The SWOT analysis is used to identify the strengths and opportunities of the fishing business, namely optimizing the fishermen''s experience and the availability of fleets and fishing gear to increase volume and quality, as well as taking advantage of the squid catch and high revenues from fishing businesses (score 0.33). The research results can provide a deeper understanding of the socioeconomic conditions and support sustainable fishery development.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172942</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Kehilangan Alat Tangkap dan Dampaknya terhadap Pendapatan Nelayan Bubu dan Jaring Insang di Teluk Jakarta</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172940</link>
<description>Kehilangan Alat Tangkap dan Dampaknya terhadap Pendapatan Nelayan Bubu dan Jaring Insang di Teluk Jakarta
Ibrahim, Muhammad Bayu
Bubu dan jaring insang merupakan jenis alat tangkap pasif yang berpotensi tinggi mengalami kehilangan. Hilangnya alat tangkap berdampak pada ekonomi nelayan karena nelayan harus mengganti alat tangkap. Kehilangan alat tangkap juga berpotensi mengurangi hasil tangkapan sehingga terjadi penurunan pendapatan. Penelitian ini bertujuan mengestimasi jumlah kehilangan bubu dan jaring insang, menganalisis kelayakan usaha unit perikanan bubu dan jaring insang, mengetahui penyebab dan dampak kehilangan alat tangkap tersebut terhadap pendapatan nelayan. Penelitian menggunakan metode survei lapangan terhadap populasi nelayan bubu dan jaring insang di Kali Adem, Muara Angke. Penelitian menghasilkan estimasi jumlah kehilangan alat tangkap sebanyak 1.588 unit bubu dan 285 piece jaring insang per bulan, atau 19.056 bubu dan 3.420 piece jaring insang per tahun. Penyebab kehilangan meliputi pencurian, terseret propeller kapal lain, konflik dengan alat tangkap lain, terbawa arus, kesalahan operasional, tersangkut terumbu karang, dan hilangnya pelampung tanda. Rata-rata biaya kehilangan bubu diestimasi mencapai Rp1.639.250 per bulan pernelayan pemilik bubu atau Rp19.774.750 per tahun. Sementara itu, rata-rata biaya kehilangan jaring insang diestimasikan senilai Rp2.454.540 per bulan per armada penangkapan jaring insang dan Rp29.945.388 per tahun. Usaha perikanan bubu dapat dikatakan layak dengan keuntungan per tahun sebesar Rp92.372.00 dan pengembalian investasi dalam waktu 1,9 tahun (23 bulan). Usaha perikanan jaring insang juga dapat dikatakan layak dengan keuntungan per tahun Rp90.278.000 dan pengembalian investasi dalam waktu 1,5 tahun (18 bulan). Penurunan pendapatan bulanan nelayan bubu diestimasi sebesar 12,7% pada musim puncak, 9,5% pada musim paceklik, dan 9,4% pada musim peralihan. Penurunan pendapatan bulanan nelayan jaring insang diestimasikan sebesar 8,9% pada musim puncak dan peralihan serta 8,8% pada musim paceklik.; Traps and gillnets as passive fishing gears have a high potential for loss during fishing operations, particularly in areas with intense fishing activity such as Jakarta Bay. The economic impact includes the need to replace lost gear and a decline in fishers' income. This study aims to estimate the number of traps and gillnets loss, analyze the feasibility of trap and gillnet fishing businesses, identify the causes and impact of fishing gear loss to the fishers’ income. The study found that estimated loss of traps and gillnets were 1.588 traps and 285 gillnets per month, respectively which equivalent to 19.056 traps and 3.420 gillnets per year. Identified causes of the gear loss include theft, being dragged by fishing boat propellers, conflict with other fishing gear, ocean currents, operational errors, entanglement with coral reefs, and the loss of marker buoys. The average financial loss from lost traps was estimated at Rp1.639.250 per month or Rp 19.774.750 per year, while the loss from gillnets was estimated at Rp2.454.540 per month or Rp29.945.388 per year. Trap fishing businesses can be considered feasible, with an annual profit of Rp92.372.000 and a payback period of 1.9 years (23 months). Similarly, gillnet fishing businesses were also considered feasible, with an annual profit of Rp90,278,000 and a payback period of 1.5 years (18 months). The estimated monthly income reduction for the trap fishers was 12.7% during peak season, 9.5% during the off-season, and 9.4% during the transitional season. For the gillnet fishers, the estimated income reduction was 8.9% during peak and transitional seasons, and 8.8% during the off-season.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172940</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Strategi Peningkatan Kepatuhan Nelayan Bagan terhadap Kesesuaian Pemanfaatan Ruang Laut di Desa Sumberjaya, Pandeglang, Banten</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172939</link>
<description>Strategi Peningkatan Kepatuhan Nelayan Bagan terhadap Kesesuaian Pemanfaatan Ruang Laut di Desa Sumberjaya, Pandeglang, Banten
BAYUKUSUMA, FARID
Pemanfaatan ruang laut oleh nelayan bagan sebagai alat tangkap menetap menghadapi tantangan hukum seiring diberlakukannya rezim penataan ruang laut dan kewajiban Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL). Penelitian ini bertujuan untuk (1) memetakan regulasi yang mengatur nelayan bagan yang bersifat menetap; (2) mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap nelayan bagan terhadap pemanfaatan ruang laut; dan (3) merumuskan strategi untuk meningkatkan pemahaman nelayan bagan terhadap pemanfaatan ruang laut. Penelitian dilakukan di Desa Sumberjaya, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, menggunakan pendekatan analisis isi, yuridis komparatif, yuridis empiris melalui studi peraturan perundang-undangan, observasi lapangan, dan wawancara terhadap 30 nelayan bagan dengan metode snowball sampling. Hasil pemetaan hukum menunjukkan bahwa nelayan bagan secara normatif diklasifikasikan sebagai pemanfaat ruang laut yang tunduk pada kewajiban KKPRL berdasarkan rezim penataan ruang laut, meskipun regulasi tersebut belum sepenuhnya mempertimbangkan karakteristik nelayan kecil. Analisis implikasi regulasi menunjukkan adanya potensi kerentanan hukum berupa sanksi administratif dan pembatasan ruang tangkap. Tingkat pengetahuan nelayan terhadap regulasi dan prosedur KKPRL tergolong rendah, disertai sikap kritis dan defensif terhadap kewajiban perizinan. Penelitian ini merekomendasikan penyederhanaan prosedur, pengaturan masa transisi, serta pendampingan dan sosialisasi berbasis komunitas untuk menjamin kepastian hukum dan keberlanjutan mata pencaharian nelayan.; The utilization of marine space by stationary lift net (bagan) fishers faces increasing legal challenges following the implementation of the marine spatial planning regime and the requirement for Marine Spatial Utilization Conformity (Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut / KKPRL). This study aims to (1) map the regulations governing stationary lift net fishers; (2) examine the level of knowledge and attitudes of lift net fishers toward marine space utilization; and (3) formulate strategies to improve fishers’ understanding of marine space utilization. The research was conducted in Sumberjaya Village, Pandeglang Regency, Banten Province, using a combination of content analysis, comparative juridical analysis, and empirical legal approaches through a review of laws and regulations, field observations, and interviews with 30 lift net fishers selected using snowball sampling. The legal mapping results indicate that lift net fishers are normatively classified as marine space users subject to KKPRL obligations under the marine spatial planning regime, although the existing regulatory framework does not fully accommodate the characteristics of small-scale fishers. The regulatory impact analysis reveals potential legal vulnerabilities, including administrative sanctions and restrictions on fishing grounds. Fishers’ levels of knowledge regarding KKPRL regulations and procedures remain low, accompanied by critical and defensive attitudes toward licensing obligations. This study recommends procedural simplification, the establishment of transitional arrangements, and community-based assistance and outreach to ensure legal certainty while safeguarding the sustainability of fishers’ livelihoods.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172939</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Arsitektur Hierarkis Prosoma Belangkas sebagai Blueprint Biomimetik untuk Desain Material Foam/Aerogel</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172826</link>
<description>Arsitektur Hierarkis Prosoma Belangkas sebagai Blueprint Biomimetik untuk Desain Material Foam/Aerogel
Ghifari, Ahmad Faiz Al
Pengembangan material berpori ringan seperti biofoam dan aerogel memerlukan struktur dengan rasio kekuatan terhadap berat tinggi, stabilitas termal baik, serta arsitektur pori yang efisien. Pendekatan biomimetik memanfaatkan sistem struktural organisme laut sebagai inspirasi desain material maju. Eksoskeleton belangkas memiliki komposit berbasis kitin dengan arsitektur berlapis dan porositas alami yang berpotensi menjadi model biomaterial berpori. Penelitian bertujuan melakukan penentuan karakteristik arsitektur hierarkis prosoma belangkas Tachypleus gigas dan Tachypleus tridentatus serta mengevaluasi hubungan struktur dan sifat material sebagai dasar desain biomimetik. Karakteristik meliputi analisis makroskopis dan mikroskopis, FTIR, XRD, analisis proksimat, TGA, mekanik tarik, dan karakteristik akustik. Hasil menunjukkan bahwa T. gigas memiliki struktur lebih berpori dengan densitas lebih rendah, stabilitas termal dan kemampuan serap suara lebih tinggi, sedangkan T. tridentatus menunjukkan struktur lebih kompak dengan kuat tarik lebih tinggi namun regangan lebih rendah. Arsitektur hierarkis prosoma belangkas berpotensi menjadi blueprint biomimetik untuk desain biofoam atau aerogel berkelanjutan berkinerja tinggi.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172826</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
