<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - School of Veterinary Medicine and Biomedical Science</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7465</link>
<description>Undergraduate Theses on Veterinary Medicine and Biomedical Science</description>
<pubDate>Tue, 01 Sep 2026 11:11:31 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-09-01T11:11:31Z</dc:date>
<item>
<title>Gambaran Kondisi Penjualan dan Jumlah Escherichia coli pada Daging Babi di Pasar Tradisional Manokwari, Papua Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179866</link>
<description>Gambaran Kondisi Penjualan dan Jumlah Escherichia coli pada Daging Babi di Pasar Tradisional Manokwari, Papua Barat
Fatem, Veterizana Angeline
Manokwari merupakan salah satu wilayah di Papua Barat dengan aktivitas&#13;
perdagangan daging babi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi&#13;
kondisi penjualan dan menentukan jumlah cemaran E. coli pada daging babi di&#13;
Pasar Tradisional Manokwari. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan&#13;
pemeriksaan 30 sampel daging babi dari 10 penjual yang dipilih secara acak&#13;
sederhana. Jumlah E. coli ditentukan menggunakan metode Most Probable&#13;
Number. Hasil observasi menunjukkan bahwa seluruh lapak merupakan lapak&#13;
menetap yang berdekatan dengan selokan (100%), dan seluruh penjual tidak&#13;
mencuci tangan serta tidak menggunakan alat pelindung diri. Rata–rata jumlah E.&#13;
coli sebesar 24,83±15,68 MPN/g. Sebanyak 28 dari 30 sampel (93,33%) memiliki&#13;
jumlah E. coli yang melebihi batas maksimum yang digunakan sebagai acuan&#13;
berdasarkan SNI 7388:2009 tentang Batas Maksimum Cemaran Mikroba dalam&#13;
Pangan, yaitu &lt;3 MPN/g. Simpulan penelitian menunjukkan bahwa sebagian&#13;
besar sampel daging babi yang dijual di Pasar Tradisional Manokwari belum&#13;
memenuhi batas maksimum cemaran mikroba.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179866</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>EVALUASI GAMBARAN GLUKOSA DARAH PADA KONDISI SYOK SEPTIK DENGAN TERAPI RESUSITASI CAIRAN PADA BABI (Sus scrofa domestica)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179839</link>
<description>EVALUASI GAMBARAN GLUKOSA DARAH PADA KONDISI SYOK SEPTIK DENGAN TERAPI RESUSITASI CAIRAN PADA BABI (Sus scrofa domestica)
MANURUNG, EFLANDI PERMANA
Syok septik merupakan kondisi klinis yang ditandai oleh gangguan sirkulasi, disfungsi organ, dan perubahan metabolisme akibat respons inflamasi sistemik, termasuk perubahan kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi perubahan kadar glukosa darah pada babi (Sus scrofa domestica) yang mengalami syok septik. Penelitian menggunakan tiga ekor babi jantan berumur 16–20 minggu dengan bobot badan 40–50 kg. Syok septik diinduksi menggunakan infus lipopolisakarida (Escherichia coli O111:B4), kemudian diberikan terapi resusitasi cairan Ringer Laktat. Kadar glukosa darah diukur menggunakan EasyTouch® GCU, sedangkan mean arterial pressure (MAP) digunakan sebagai indikator hemodinamik pada tiga waktu pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh babi mengalami penurunan MAP saat syok septik dan peningkatan setelah terapi resusitasi cairan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan kadar glukosa darah selama syok septik bersifat dinamis dan bervariasi antar individu, sehingga perbaikan hemodinamik setelah resusitasi cairan tidak selalu diikuti oleh respons metabolisme glukosa yang seragam.; Septic shock is a clinical condition characterized by circulatory disturbances, organ dysfunction, and metabolic alterations resulting from a systemic inflammatory response, including changes in blood glucose levels. This study aimed to evaluate changes in blood glucose levels in pigs (Sus scrofa domestica) experiencing septic shock. The study used three male pigs aged 16–20 weeks with body weights of 40–50 kg. Septic shock was induced by infusion of lipopolysaccharide (Escherichia coli O111:B4), followed by fluid resuscitation therapy using Ringer’s lactate solution. Blood glucose levels were measured using the EasyTouch® GCU, while mean arterial pressure (MAP) was used as a hemodynamic indicator at three observation time points. The results showed that all pigs experienced a decrease in MAP during septic shock and an increase after fluid resuscitation therapy. Blood glucose levels during septic shock showed dynamic and variable responses among individuals. Therefore, improvement in hemodynamic status following fluid resuscitation was not always accompanied by a uniform metabolic glucose response.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179839</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Ekstrak Daun Taxus sumatrana terhadap Biomarker Metabolisme Energi  pada Mencit ddY Jantan Hiperglikemik</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179804</link>
<description>Pengaruh Ekstrak Daun Taxus sumatrana terhadap Biomarker Metabolisme Energi  pada Mencit ddY Jantan Hiperglikemik
Nisa, Fizar Noor Syahiddatun
Hiperglikemia  merupakan  kondisi  yang  berdampak  luas  pada  kesehatan manusia dan hewan, dengan prevalensi global mencapai 634,8 juta jiwa pada tahun 2024. Pengobatan berbasis herbal terus dikembangkan sebagai alternatif, salah satunya melalui pemanfaatan daun Taxus sumatrana yang mengandung senyawa flavonoid aktif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh ekstrak daun T. sumatrana  terhadap  biomarker  metabolisme  energi  mencit  ddY  jantan hiperglikemik. Mencit dibagi dalam 5 kelompok: K1 (5 mg/kg BB), K2 (300 mg/kg BB), K3 (1000 mg/kg BB), K4 (kontrol hiperglikemik), dan K5 (kontrol normal). Hiperglikemia diinduksi menggunakan streptozotocin (STZ) 55 mg/kg BB secara intraperitoneal. Ekstrak diberikan secara oral setiap hari selama 5 minggu. Kadar insulin  dan  AMPK  berbeda  nyata  antarkelompok  (p&lt;0,05).  Kelompok  K1 menunjukkan kadar insulin 167,33±9,25 mIU/mL, tidak berbeda nyata dengan K3 dan  K4,  namun  nyata  lebih  tinggi  dibandingkan  K2  (117,80±13,08  mIU/mL) maupun K5 (80,50±15,93 mIU/mL). Kadar AMPK tertinggi ditunjukkan oleh K2 (28,77±2,97  ng/mL)  dan  K4  (27,14±0,47  ng/mL),  sedangkan  K3  (4,48±1,47 ng/mL) dan K5 (8,08±2,89 ng/mL) menunjukkan kadar AMPK terendah, sehingga aktivasi AMPK tidak mengikuti pola dosis-respons linear. Kelompok K1 tetap menunjukkan dinamika berat badan yang relatif stabil (37,72±5,43 gram) serta kadar glukosa darah yang cenderung tidak meningkat (301,27±196,21 mg/dL) dibandingkan kelompok hiperglikemik lainnya.; Hyperglycemia is a condition with widespread impacts on human and animal health, reaching a global prevalence of 634.8 million in 2024. Herbal treatments continue to be developed as alternatives, including the use of Taxus sumatrana leaves containing active flavonoid compounds. This study evaluated the effect of T. sumatrana leaf extract on energy metabolism biomarkers in hyperglycemic male ddY mice. Mice were divided into five groups: K1 (5 mg/kg BW), K2 (300 mg/kg BW), K3 (1000 mg/kg BW), K4 (hyperglycemic control), and K5 (normal control). Hyperglycemia was induced using streptozotocin 55 mg/kg BW intraperitoneally. Extract  was administered  orally  daily  for  5  weeks.  Insulin and  AMPK  levels differed significantly between groups (p&lt;0.05). Group K1 showed insulin levels of 167.33±9.25 mIU/mL, not significantly different from K3 and K4, but significantly higher than K2 (117.80±13.08 mIU/mL) and K5 (80.50±15.93 mIU/mL). The  highest AMPK levels were shown by K2 (28.77±2.97 ng/mL) and K4 (27.14±0.47 ng/mL), while K3 (4.48±1.47 ng/mL) and K5 (8.08±2.89 ng/mL) were lowest, indicating  non-linear  dose-response  AMPK  activation.  Group  K1  maintained relatively stable body weight of 37.72±5.43 g and non-increasing blood glucose levels of 301.27±196.21 mg/dL compared to other hyperglycemic groups.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179804</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Keanekaragaman Jenis dan Prevalensi Infestasi Ektoparasit pada Kucing Terlantar di Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179291</link>
<description>Keanekaragaman Jenis dan Prevalensi Infestasi Ektoparasit pada Kucing Terlantar di Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor.
Dewi, Reisha Karina
Kucing merupakan satu di antara hewan peliharaan yang berpotensi menjadi sumber&#13;
penyakit zoonosis, melalui infestasi ektoparasit. Risiko infestasi ektoparasit relatif lebih&#13;
tinggi pada kucing terlantar karena umumnya tidak mendapatkan pemeliharaan kesehatan&#13;
yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman jenis&#13;
ektoparasit, menentukan prevalensi infestasi, dan mengukur derajat infestasi ektoparasit&#13;
pada kucing terlantar di Kecamatan Cibinong. Sebanyak 100 ekor kucing terlantar yang&#13;
menunjukkan gejala infestasi ektoparasit dari lima kelurahan di Kecamatan Cibinong&#13;
diperiksa menggunakan metode penyisiran (flea comb), pemeriksaan helaian rambut&#13;
(trichogram), kerokan kulit dengan scalpel dan ulas telinga menggunakan cotton bud. Hasil&#13;
penelitian menunjukkan bahwa ditemukan empat jenis ektoparasit, yaitu Ctenocephalides&#13;
felis, Felicola subrostratus, Otodectes cynotis, dan Sarcoptes scabiei dengan prevalensi&#13;
didominasi oleh C. felis yaitu pada 93 ekor kucing sampel, diikuti F. subrostratus.&#13;
Sementara itu, infestasi O. cynotis dan S. scabiei selalu diikuti dengan infestasi pinjal dan&#13;
kutu sebagai infestasi campuran (69%). Derajat infestasi setiap spesies yang ditemukan&#13;
untuk C. felis dan F. subrostratus termasuk dalam kategori berat, sedangkan infestasi oleh&#13;
O. cynotis dan S. scabiei umumnya termasuk dalam kategori ringan. Hasil penelitian ini&#13;
menunjukkan bahwa infestasi ektoparasit merupakan permasalahan kesehatan hewan yang&#13;
penting sehingga diperlukan upaya pengendalian ektoparasit untuk meminimalkan risiko&#13;
penularan dan potensi zoonosis yang ditimbulkannya.; Cats are companion animals that may serve as a source of zoonotic diseases,&#13;
including ectoparasite infestations. The risk of ectoparasite infestation is relatively higher&#13;
in stray cats due to inadequate health care. This study aimed to identify ectoparasite species&#13;
diversity, determine infestation prevalence, and assess infestation intensity in stray cats in&#13;
Cibinong District. A total of 100 stray cats showing clinical signs of ectoparasite infestation&#13;
from five urban villages in Cibinong District were examined using flea combing,&#13;
trichogram, skin scraping with a scalpel, and ear swab techniques using cotton buds. Four&#13;
ectoparasite species were identified: Ctenocephalides felis, Felicola subrostratus,&#13;
Otodectes cynotis, and Sarcoptes scabiei. C. felis had the highest prevalence, found in 93&#13;
cats, followed by F. subrostratus. Infestations by O. cynotis and S. scabiei were always&#13;
accompanied by flea and louse infestations, resulting in mixed infestations (69%). The&#13;
infestation intensity was categorized as severe for C. felis and F. subrostratus, while O.&#13;
cynotis and S. scabiei were generally categorized as mild. These findings indicate that&#13;
ectoparasite infestation remains an important animal health concern, requiring integrated&#13;
control strategies to minimize transmission and zoonotic potential.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179291</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
