<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Faculty of Agricultural Technology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7464</link>
<description>Undergraduate Theses on Faculty of Agricultural Technology</description>
<pubDate>Wed, 15 Apr 2026 10:21:47 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-15T10:21:47Z</dc:date>
<item>
<title>Pengaruh Suhu dan Waktu&#13;
Penyimpanan terhadap Total Karotenoid pada Minuman Ready To Drink (RTD)&#13;
Spirulina</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172860</link>
<description>Pengaruh Suhu dan Waktu&#13;
Penyimpanan terhadap Total Karotenoid pada Minuman Ready To Drink (RTD)&#13;
Spirulina
Ramadhani , Muhammad Fathan
Spirulina adalah mikroalga yang kaya akan nutrisi dan senyawa fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh suhu dan lama penyimpanan terhadap stabilitas total karotenoid dalam minuman fungsional berbasis spirulina menggunakan metode ASLT model Arrhenius. Produk diproses menggunakan teknologi pasteurisasi dan hot filling (85oC) serta dikemas dalam botol kaca amber untuk menjaga stabilitas awal. Produksi dan analisis dilakukan di Laboratorium Fakultas Teknik dan Teknologi IPB selama tiga bulan dengan suhu penyimpanan 35oC, 45oC, dan 55oC . Hasil penelitian menunjukkan total karotenoid minuman RTD berbasis spirulina adalah 17,885 ± 0,139 mg/100g BK pada hari ke-nol. Akan tetapi, dikarenakan adanya fluktuasi kadar total karotenoid yang tidak konsisten selama penyimpanan nilai koefisien determinasi (R2) yang diperoleh pada penelitian ini  pada suhu 35oC adalah 0,071, pada suhu 45oC adalah 0,337, dan pada suhu 55oC adalah 0,408. Hasil tersebut masih berada di bawah kriteria minimum R2 = 0,70. Oleh karena itu, parameter total karotenoid tidak dapat digunakan untuk menduga umur simpan minuman RTD berbasis spirulina dengan metode ASLT model Arrhenius dalam kondisi penelitian ini.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172860</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Evaluasi Kinerja Burner Oli Bekas untuk Alternatif&#13;
Kompor Rumah Tangga</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172843</link>
<description>Evaluasi Kinerja Burner Oli Bekas untuk Alternatif&#13;
Kompor Rumah Tangga
Ansor, Hasbiallah
Kebutuhan energi yang meningkat akibat pertumbuhan populasi menyebabkan permintaan energi yang lebih tinggi dan penggunaan energi fosil yang berdampak pada penurunan sumber daya alam serta peningkatan emisi gas rumah kaca. Di sisi lain, limbah oli bekas memiliki potensi sebagai bahan bakar alternatif karena ketersediaannya yang mencapai 520 juta liter per tahun. Penggunaan kompor elpiji terkendala oleh risiko kelangkaan dan biaya tinggi, terutama di daerah terpencil. Pemanfaatan oli bekas dapat mengatasi kelangkaan bahan bakar, menurunkan biaya, meningkatkan efisiensi energi, serta mengurangi pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja burner berbahan bakar oli bekas sebagai alternatif kompor rumah tangga yang mampu menghasilkan nyala api biru, tidak berjelaga, dan tidak berbau. Metode penelitian meliputi perancangan konsep, pembuatan prototipe, dan pengujian kinerja menggunakan water boiling test (WBT) yang dibandingkan dengan kompor gas elpiji. Prototipe yang dibangun memiliki rangka berukuran 330 mm x 230 mm x 160 mm dengan tangki berkapasitas 800 ml yang memanfaatkan sistem gravitasi dan didukung Blower Fan 12 V untuk suplai udara. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kecepatan aliran udara berkorelasi positif secara signifikan terhadap suhu api (R² = 0,8927). Pada kecepatan udara maksimal 14,2 m/s, suhu api mencapai 616,0 °C dengan efisiensi termal tertinggi sebesar 66,4%. Meskipun waktu pencapaian titik didih stabil pada kompor oli bekas (30 menit) lebih lambat 5 menit dibandingkan kompor elpiji (25 menit), alat ini menunjukkan efisiensi massa yang unggul untuk penggunaan berkelanjutan di atas 30 menit dengan laju konsumsi stabil sebesar 0,7332 gram/menit. Total konsumsi bahan bakar selama 60 menit tercatat sebesar 425,04 gram, lebih rendah dibandingkan elpiji yang mengonsumsi 461,212 gram. Analisis ekonomi menunjukkan bahwa meskipun biaya investasi awal kompor oli bekas (Rp410.000) lebih tinggi daripada kompor elpiji (Rp300.000), biaya operasional bahan bakarnya jauh lebih kompetitif yakni Rp1.870/jam dibandingkan elpiji sebesar Rp3.841/jam. Total biaya tahunan (Total Cost) kompor oli bekas adalah Rp783.551, yang memberikan penghematan sebesar Rp679.711 per tahun dibandingkan kompor elpiji. Dengan demikian, burner oli bekas ini sangat layak diimplementasikan sebagai solusi energi alternatif yang ekonomis serta mampu mengurangi pencemaran limbah lingkungan.; The increasing energy needs due to population growth have led to higher energy demand and the use of fossil fuels, which have resulted in the depletion of natural resources and increased greenhouse gas emissions. On the other hand, used oil waste has the potential as an alternative fuel because its availability reaches 520 million liters per year. The use of elpiji stoves is hampered by the risk of scarcity and high costs, especially in remote areas. Utilization of used oil can overcome fuel scarcity, reduce costs, increase energy efficiency, and reduce environmental pollution. This study aims to produce the performance of a used oil-fueled burner as an alternative to household stoves that can produce a blue flame, no soot, and no odor. The research method includes concept design, prototype creation, and performance testing using the water boiling test (WBT) compared to elpiji gas stoves. The prototype built has a frame measuring 330 mm x 230 mm x 160 mm with an 800 ml capacity tank that utilizes a gravity system and is supported by a 12 V Blower Fan to supply air. The test results showed that the freezing airflow velocity had a significant positive effect on the flame temperature (R² = 0.8927). At a maximum air velocity of 14.2 m/s, the flame temperature reached 616.0°C with the highest thermal efficiency of 66.4%. Although the time to reach the stable boiling point of the used oil stove (30 minutes) was 5 minutes slower than the elpiji stove (25 minutes), this device showed superior mass efficiency for continuous use above 30 minutes with a stable consumption rate of 0.7332 grams/minute. The total fuel consumption for 60 minutes was recorded at 425.04 grams, lower than elpiji which consumed 461.212 grams. The economic analysis showed that although the initial investment cost of the used oil stove (Rp410,000) was higher than the elpiji stove (Rp300,000), its fuel operational cost was much more competitive at Rp1,870/hour compared to elpiji at Rp3,841/hour. The total annual cost of the used oil stove is Rp783,551, resulting in a savings of Rp679,711 per year compared to an elpiji stove. Therefore, this used oil burner is highly feasible as an economical alternative energy solution that can reduce environmental waste.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172843</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Efisiensi Termal Kolektor Surya yang  Diintegrasikan pada Sistem Photovoltaic-Thermal (PV/T)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172769</link>
<description>Analisis Efisiensi Termal Kolektor Surya yang  Diintegrasikan pada Sistem Photovoltaic-Thermal (PV/T)
Damarjati, Hafiz
Energi surya merupakan sumber energi terbarukan yang melimpah dan ramah lingkungan sehingga berpotensi besar untuk mendukung proses pengeringan hasil pertanian. Salah satu teknologi yang dapat meningkatkan pemanfaatannya adalah sistem photovoltaic-thermal (PV/T), yang dirancang untuk menghasilkan listrik sekaligus memanfaatkan energi panas sisa guna memanaskan udara pengering. Penelitian ini bertujuan menganalisis efisiensi termal kolektor surya dan sistem PV/T pada variasi laju aliran udara serta membandingkan hasil perhitungan efisiensi termal menggunakan metode daya sesaat dan energi kumulatif. Pengujian dilaksanakan di Laboratorium Energi Terbarukan IPB University pada Juni–Agustus 2025 dengan mengukur intensitas radiasi matahari, suhu, dan laju aliran udara secara kontinu. Data hasil pengukuran diolah menggunakan metode integrasi numerik Simpson 1/3 untuk memperoleh nilai efisiensi termal yang lebih representatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolektor surya memiliki kestabilan efisiensi termal yang lebih baik, sedangkan sistem PV/T lebih sensitif terhadap kondisi operasi namun mampu memberikan keuntungan ganda berupa energi panas dan listrik untuk mengoperasikan blower. Analisis metode menunjukkan bahwa pendekatan energi lebih sesuai digunakan karena mampu mereduksi pengaruh fluktuasi radiasi dan inersia termal. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi sistem PV/T berpotensi besar untuk mendukung pengeringan hasil pertanian yang efisien, mandiri, dan berkelanjutan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172769</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Formulasi Beras Analog Berbahan Dasar Tepung Biji Buah Menggunakan Metode Linear Goal Programming</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172750</link>
<description>Formulasi Beras Analog Berbahan Dasar Tepung Biji Buah Menggunakan Metode Linear Goal Programming
Fadhilah, Isti Ayu
Upaya diversifikasi pangan perlu dilakukan untuk mengatasi kekurangan pemenuhan kebutuhan beras di Indonesia. Limbah tepung biji buah memiliki kandungan gizi yang baik bagi tubuh sehingga berpotensi dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan beras analog. Tujuan penelitian ini adalah menentukan formulasi optimal beras analog berbasis tepung biji alpukat, tepung  biji durian, dan tepung biji nangka menggunakan linear goal programming,  menganalisis kandungan gizi dan sifat fisik beras analog yang dihasilkan dan membandingkannya dengan target kandungan gizi pada linear goal programming. Beras analog ini diformulasikan agar mendekati kandungan gizi beras merah. Penelitian ini diawali dengan pengujian kandungan gizi pada bahan baku, menyusun fungsi tujuan dan fungsi kendala, serta melakukan formulasi menggunakan software POMQM sampai mendapatkan formula yang optimal. Tahap berikutnya adalah pembuatan beras analog menggunakan formula optimal yang telah didapat, kemudian dilakukan pengujian kandungan gizi, densitas kamba, daya serap air, dan waktu pemasakan pada beras analog tersebut. Hasil penelitian menunjukkan formula optimal beras analog adalah tepung biji alpukat 0 g, tepung biji durian 8,99 g, tepung biji nangka 29,59 g, tepung jagung 36,42 g, dan pati sagu 25 g. Beras analog tersebut memiliki kandungan protein 7,79 %, serat kasar 1,46 %, amilosa 22,32%, amilopektin 56,55%, dan kadar air 4,55%. Karakteristik fisik yang dimiliki beras analog yaitu tekstur pera, butiran rapuh, memiliki aroma khas dan rasa agak pahit, densitas kamba 0,6095 g/ml, daya serap air 253,33%, dan waktu pemasakan 4 menit 59 detik.; Strategies to diversify food sources need to be implemented to address the shortage of rice supply in Indonesia. Fruit seed flour waste has good nutritional content for the human body, so it has the potential to be used as a raw material for making analog rice. This study aimed to determine the optimal formulation of analog rice utilizing avocado seed flour, durian seed flour, and jackfruit seed flour through linear goal programming, to analyze the nutritional and physical characteristics of the resulting analog rice, and to compare these results with the target values specified in the goal programming model. The formulation was designed to approximate the nutritional characteristics of red rice. This research begins with nutritional analyses of the raw materials, then the development of objective and constraint functions, and then optimization using POMQM software. The next step was the production of analog rice using the optimal formula that had been obtained, and then testing the nutritional content, bulk density, water absorption, and cooking time of the analog rice. The results showed that the optimal formula for analog rice was 0 g avocado seed flour, 8,99 g durian seed flour, 29,59 g jackfruit seed flour, 36,42 g corn flour, and 25 g sago starch. The analog rice contained 7,79% protein, 1,46% crude fiber, 22,32% amylose, 56,55% amylopectin, and 4,55% moisture. The physical characteristics of the analog rice were a non-sticky texture, brittle granules, a distinctive aroma, and a slightly bitter taste, with a bulk density of 0,6095 g/ml, water absorption capacity of 253,33%, and a cooking time of 4 minutes 59 seconds.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172750</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
