<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Faculty of Agricultural Technology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7464</link>
<description>Undergraduate Theses on Faculty of Agricultural Technology</description>
<pubDate>Sat, 22 Aug 2026 05:56:15 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-22T05:56:15Z</dc:date>
<item>
<title>Perancangan dan Perbandingan Metode Pengeringan Kulit Pisang Kepok (Musa paradisiaca L) Terhadap Mutu Tepung Kulit Pisang Kepok</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179817</link>
<description>Perancangan dan Perbandingan Metode Pengeringan Kulit Pisang Kepok (Musa paradisiaca L) Terhadap Mutu Tepung Kulit Pisang Kepok
FARIZI, NAUFAL AL
Pengolahan keripik pisang menghasilkan limbah kulit pisang kepok dalam jumlah besar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Kandungan air yang tinggi menyebabkan kulit pisang mudah mengalami pencokelatan, pembusukan, dan penurunan mutu. Penelitian ini bertujuan membandingkan metode pengeringan kulit pisang kepok terhadap mutu tepung serta menentukan metode terbaik menggunakan pendekatan Block Flow Diagram (BFD). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap satu faktor dengan lima perlakuan, yaitu oven listrik 50°C, oven listrik 60°C, tray dryer gas LPG 50°C, tray dryer gas LPG 60°C, dan greenhouse, masing-masing tiga ulangan. Parameter meliputi kadar air, rendemen, warna, laju dan waktu pengeringan, energi, emisi CO2, serta biaya. Hasil menunjukkan tray dryer LPG 60°C (P4) memiliki waktu pengeringan tercepat (6 jam), laju pengeringan tertinggi (38,06 kg/jam), dan warna paling cerah (L* 50,86). Oven listrik 60°C (P2) menghasilkan kadar air terendah (8,36%) dan biaya terendah. Greenhouse (P5) menghasilkan emisi terendah (0,92 kg CO2) serta memanfaatkan energi matahari. Berdasarkan aspek teknis, energi, lingkungan, dan kemudahan operasional, greenhouse ditetapkan sebagai metode terbaik secara keseluruhan dan berpotensi diterapkan pada skala industri kecil dan menengah.; The processing of banana chips generates a large amount of Kepok banana peel waste that has not been optimally utilized. Its high moisture content makes banana peels susceptible to browning, spoilage, and quality deterioration. This study aimed to compare drying methods for Kepok banana peels in terms of flour quality and determine the best drying method using a Block Flow Diagram (BFD) approach. The study employed a one-factor Completely Randomized Design with five treatments: electric oven at 50°C, electric oven at 60°C, LPG-fired tray dryer at 50°C, LPG-fired tray dryer at 60°C, and greenhouse, with three replications each. The parameters included moisture content, yield, color, drying rate and time, energy consumption, CO2 emissions, and cost. The results showed that the LPG-fired tray dryer at 60°C (P4) had the shortest drying time (6 hours), the highest drying rate (38.06 kg/h), and the brightest flour color (L* 50.86). The electric oven at 60°C (P2) produced the lowest moisture content (8.36%) and the lowest cost. The greenhouse (P5) produced the lowest emissions (0.92 kg CO2) and utilized solar energy. Based on technical, energy, environmental, and operational aspects, the greenhouse was determined to be the best overall drying method and has potential for application at small- and medium-scale industries.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179817</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Kualitas Air Limpasan Green Roof Bervegetasi Kacang Hias Melalui Metode Filtrasi dan Ultrafine Bubble Menggunakan Media Active Sand dan Multimedia Filter</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179814</link>
<description>Analisis Kualitas Air Limpasan Green Roof Bervegetasi Kacang Hias Melalui Metode Filtrasi dan Ultrafine Bubble Menggunakan Media Active Sand dan Multimedia Filter
Fenetiruma, Mariana Imelda
Konversi lahan terbuka menjadi kawasan terbangun mengurangi zona resapan air,&#13;
dengan atap gedung menyumbang 40–50% area kedap air. Green roof mampu&#13;
menahan hingga 60% limpasan hujan, namun kualitas airnya sering belum&#13;
memenuhi baku mutu akibat terlarutnya logam berat dan nutrien organik dari&#13;
substrat. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas sistem multimedia filter (F1) dan&#13;
kombinasinya dengan active sand (F2), dalam meningkatkan kualitas air limpasan&#13;
green roof bervegetasi kacang hias (Arachis pintoi). Sampel 60 liter per perlakuan&#13;
diaerasi 45 menit lalu difiltrasi, dengan parameter suhu, kekeruhan, TDS, pH, DO,&#13;
amonia, nitrit, sulfat, dan COD mengacu Permenkes RI No. 2/2023 dan PP RI No.&#13;
22/2021. Hasil menunjukkan F2 memberi kinerja terbaik: penurunan kekeruhan&#13;
73,14% dan peningkatan DO 25,86% terhadap kontrol. Parameter memenuhi baku&#13;
mutu, kekeruhan dan nitrit masih melampaui batas. F2 menghasilkan status mutu&#13;
terbaik dengan Indeks Pencemaran 3,45 dan 1,10 (kategori Cemar Ringan),&#13;
mempertegas potensi air alternatif non-konsumsi.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179814</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Mapping of Essential Oil Enriched Edible Coating Utilization in Food Matrices: A Systematic Review</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179806</link>
<description>Mapping of Essential Oil Enriched Edible Coating Utilization in Food Matrices: A Systematic Review
Ramadhan, Hazim Rizqy
HAZIM RIZQY RAMADHAN. Efficacy of Essential Oil-Enriched Biopolymer Coating in Reducing Pathogenic and Spoilage Microbes: A Systematic Review. Supervised by HARSI DEWANTARI KUSUMANINGRUM.&#13;
Active food packaging is transitioning to functional biopolymer coatings enriched with essential oils to extend shelf life and ensure food safety. This systematic review evaluates the comparative antimicrobial efficacy of these coatings, analyzes carrier formulations, and maps subcellular inactivation pathways across 85 primary empirical studies. Analysis reveals that monolithic cationic chitosan matrices operate in a highly efficient, low-payload synergy zone (0.2%–0.9% v/v) to suppress pathogens and spoilage organisms. Conversely, chemically inert starch or pectin matrices require a high active payload (20.0%–25.05% based on polymer dry weight [w/w]) to compensate for the loss of volatile active compounds during film drying. Subcellularly, this review successfully maps three primary inactivation pathways: hydrophobic membrane disruption, down-regulation of quorum sensing genes, and efflux pump inhibition. These findings provide a functional design framework for active biopolymer coatings to minimize commodity-specific microbiological risks in perishable foods.&#13;
Keywords: active packaging, biopolymer coatings, food spoilage, foodborne pathogens, systematic review; HAZIM RIZQY RAMADHAN. Efikasi Pelapis Biopolimer yang Diperkaya Minyak Atsiri dalam Menekan Mikroba Patogen dan Pembusuk: Sebuah Tinjauan Sistematis. Dibimbing oleh HARSI DEWANTARI KUSUMANINGRUM.&#13;
Pelapis pangan aktif sedang beralih ke biopolimer fungsional yang diperkaya minyak atsiri untuk memperpanjang masa simpan dan menjamin keamanan pangan. Tinjauan sistematis ini mengevaluasi efikasi antimikroba komparatif pelapis tersebut, menganalisis formulasi pembawa, dan memetakan jalur inaktivasi subseluler berdasarkan 85 studi empiris utama. Analisis menunjukkan bahwa matriks kitosan kationik monolitik beroperasi pada zona sinergi muatan aktif rendah yang sangat efisien (0,2%–0,9% v/v) untuk menekan patogen dan pembusuk. Sebaliknya, matriks pati atau pektin yang inert secara kimiawi memerlukan muatan aktif yang tinggi (20,0%–25,05% berbasis berat kering polimer [w/w]) untuk mengompensasi kehilangan senyawa aktif volatil selama pengeringan film. Secara subseluler, tinjauan ini berhasil memetakan tiga jalur inaktivasi utama: gangguan membran hidrofobik, penurunan regulasi gen quorum sensing, dan inhibisi pompa efluks. Temuan ini memberikan panduan desain fungsional pelapis biopolimer aktif untuk meminimalkan risiko mikrobiologis spesifik pada komoditas pangan perishable.&#13;
Kata kunci: keamanan pangan, pelapis aktif, pelapis biopolimer, pembusukan pangan, tinjauan sistematis
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179806</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>EEfektivitas Fitoremediasi sebagai Pengolahan Lanjutan Tanah Tercemar Minyak Bumi Menggunakan Paspalum notatum dan Bio-Oil Spill Dispersant</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179801</link>
<description>EEfektivitas Fitoremediasi sebagai Pengolahan Lanjutan Tanah Tercemar Minyak Bumi Menggunakan Paspalum notatum dan Bio-Oil Spill Dispersant
Masrani, Grace Natalia
Pencemaran tanah akibat minyak bumi dapat menurunkan kualitas tanah dan menghambat aktivitas biologis sehingga diperlukan metode pengolahan lanjutan yang efektif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas fitoremediasi menggunakan Paspalum notatum dengan aplikasi Bio-Oil Spill Dispersant (Bio-OSD) sebagai post-treatment dalam menurunkan kadar Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) pada tanah tercemar minyak bumi. Penelitian dilakukan melalui dua iterasi menggunakan tanah dengan konsentrasi TPH awal sebesar 0,1% dan 0,5%. Parameter yang diamati meliputi kadar TPH, pertumbuhan tanaman, pH, suhu, kadar air tanah, dan respons anatomi batang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi Bio-OSD berpengaruh signifikan terhadap penurunan kadar TPH, sedangkan posisi pengambilan sampel dekat perakaran menunjukkan kadar TPH yang lebih rendah dibandingkan daerah yang lebih jauh dari akar. Kombinasi Paspalum notatum dan Bio-OSD menghasilkan persentase degradasi TPH tertinggi pada kedua konsentrasi TPH awal. Modifikasi sistem melalui penambahan pupuk kandang kambing dan peningkatan jumlah Paspalum notatum pada Iterasi 2 menunjukkan kecenderungan peningkatan degradasi TPH pada sebagian besar perlakuan, meskipun tidak konsisten pada seluruh perlakuan. Paspalum notatum tetap mampu tumbuh pada media tercemar meskipun menunjukkan respons cekaman pada beberapa perlakuan. Sistem ini berpotensi diterapkan sebagai pengolahan lanjutan tanah tercemar minyak bumi.; Oil contamination in soil can reduce soil quality and biological activity, necessitating an effective post-treatment approach. This study aimed to evaluate the effectiveness of phytoremediation using Paspalum notatum with the application of Bio-Oil Spill Dispersant (Bio-OSD) as a post-treatment for reducing Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) concentrations in oil-contaminated soil. The study was conducted through two iterations using soil with initial TPH concentrations of 0.1% and 0.5%. The observed parameters included TPH concentration, plant growth, soil pH, temperature, soil moisture content, and stem anatomical responses. The results showed that Bio-OSD application significantly affected TPH reduction, while samples collected near the root zone had lower TPH concentrations than those collected farther from the roots. The combination of Paspalum notatum and Bio-OSD resulted in the highest TPH degradation percentages at both initial TPH concentrations. Modification of the system through the addition of goat manure and an increased number of Paspalum notatum plants in Iteration 2 showed a tendency toward greater TPH degradation in most treatments, although the increase was not consistent across all treatments. Paspalum notatum remained capable of growing in contaminated soil, although stress responses were observed under several treatments. The system has potential for application as a post-treatment technology for oil-contaminated soil.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179801</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
