<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Faculty of Agricultural Technology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7464</link>
<description>Undergraduate Theses on Faculty of Agricultural Technology</description>
<pubDate>Tue, 26 May 2026 17:47:32 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-05-26T17:47:32Z</dc:date>
<item>
<title>Evaluasi Waste Kemasan Fleksibel dan Proses Pembentukan Sachet Di Mesin Vertical Form-Fill-Seal (VFFS) 5 Lane PT XYZ</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173160</link>
<description>Evaluasi Waste Kemasan Fleksibel dan Proses Pembentukan Sachet Di Mesin Vertical Form-Fill-Seal (VFFS) 5 Lane PT XYZ
Winada, Gabriella Callista
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab terbentuknya waste pada proses pengemasan menggunakan mesin vertical form-fill-seal (VFFS) 5 lane serta menentukan kondisi optimum untuk menurunkan waste pada tahap pergantian rol film. Proses penyambungan film diidentifikasi sebagai tahapan kritis dengan kontribusi waste terbesar melalui analisis diagram Pareto. Analisis penyebab dilakukan menggunakan diagram sebab–akibat (Ishikawa) dan pendekatan 5 Whys, yang kemudian dilanjutkan dengan pengujian eksperimental pada dua mesin dengan karakteristik berbeda.&#13;
Pengembangan dan pengujian kondisi perbaikan dilakukan dengan mengevaluasi pengaruh alignment dan kesesuaian sambungan terhadap frame sachet. Alignment mengacu pada keselarasan posisi film saat penyambungan, sedangkan frame mengacu pada kesesuaian posisi sambungan terhadap satu siklus cetak (eyemark). Pada Mesin A, kedua faktor dianalisis menggunakan two-way ANOVA, sedangkan pada Mesin B analisis difokuskan pada faktor frame karena kondisi alignment relatif telah terkendali. Hasil menunjukkan bahwa alignment berpengaruh signifikan pada Mesin A (p &lt; 0,05), sedangkan pada Mesin B, faktor frame menjadi dominan akibat karakteristik lintasan film yang tidak setara.&#13;
Penerapan kondisi perbaikan terbaik, yaitu alignment yang baik dan sambungan dalam satu frame, menurunkan rata-rata waste secara signifikan dari 5,1 ± 0,7 m menjadi 3,3 ± 0,5 m pada Mesin A dan 5,8 ± 1,4 m menjadi 3,0 ± 0,6 m pada Mesin B. Evaluasi menggunakan grafik kendali I–MR dan uji T berpasangan menunjukkan proses yang stabil dan efektif. Hasil ini menunjukkan bahwa perbaikan proses penyambungan film pada mesin VFFS 5 lane dapat diterapkan secara umum melalui pengendalian alignment dan kesesuaian frame, dengan penyesuaian terhadap karakteristik mesin.; This study aims to identify the causes of packaging waste in the vertical form-fill-seal (VFFS) 5 lane process and to determine optimum conditions for reducing waste during film roll changeover. The film splicing process was identified as the most critical stage contributing to the highest waste using Pareto analysis. Root cause analysis was conducted using the Ishikawa diagram and 5 Whys, followed by experimental testing on two machines with different characteristics.&#13;
Improvement conditions were developed and tested by evaluating the effects of alignment and splice position relative to the sachet frame. Alignment refers to the positional consistency between the old and new film during splicing, while frame refers to the alignment of the splice within a single printing cycle (eyemark). In Machine A, both factors were analyzed using two-way ANOVA, whereas in Machine B, the analysis focused on the frame factor since alignment was relatively well-controlled. The results showed that alignment significantly affected waste formation in Machine A (p &lt; 0.05), while in Machine B, the frame factor was more dominant due to uneven film path characteristics.&#13;
The best-performing condition, namely proper alignment and splicing within a single frame, significantly reduced average waste from 5.1 ± 0.7 m to 3.3 ± 0.5 m in Machine A and from 5.8 ± 1.4 m to 3.0 ± 0.6 m in Machine B. Evaluation using I-MR control charts and paired T-test confirmed that the improved process was stable and effective. These findings indicate that film splicing improvement in VFFS can be applied by controlling alignment and frame positioning, with adjustments based on machine characteristics.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173160</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Penentuan Suhu dan Lama Penyimpanan Recovery Milk untuk Efisiensi Sistem Pendinginan Ice Water PT XYZ</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173139</link>
<description>Penentuan Suhu dan Lama Penyimpanan Recovery Milk untuk Efisiensi Sistem Pendinginan Ice Water PT XYZ
Aprianti, Elsi
Recovery milk merupakan produk susu hasil pengalihan dari proses fill to drain dan divert to drain pada unit UHT yang masih memiliki nilai gizi dan dapat dimanfaatkan kembali setelah penyimpanan sementara. Namun, belum diketahui batas waktu dan suhu penyimpanan optimal yang mampu menjaga mutu serta efisiensi energi pendinginan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu dan lama penyimpanan optimal recovery milk serta menganalisis pengaruhnya terhadap mutu fisik-kimia (pH, total solid, protein, dan lemak) dan mikrobiologi (TPC, spora mesofilik, spora termofilik, dan bakteri psikrotrofik), serta mengevaluasi konsumsi energi sistem pendinginan berbasis ice water. Penelitian menggunakan rancangan faktorial dua faktor, yaitu suhu penyimpanan (5°C, 8°C, dan 10°C) dan lama penyimpanan (0, 24, 48, 72, dan 96 jam). Data dianalisis dengan ANOVA dan uji lanjut DMRT (a = 0,05), sedangkan konsumsi energi dihitung menggunakan neraca panas. Hasil menunjukkan bahwa penyimpanan pada suhu 10°C mampu mempertahankan mutu recovery milk selama 5 hari dengan penghematan energi sebesar 16% (energi yang digunakan sebesar 52 kWh) dibandingkan suhu 5°C. Penelitian ini menjadi dasar strategi efisiensi energi tanpa menurunkan mutu dan keamanan produk di PT XYZ.; Recovery milk is a milk product diverted from the fill-to-drain and divert-to-drain processes in a UHT unit that still has nutritional value and can be reused after temporary storage. However, the optimal storage time and temperature limits that can maintain quality and energy efficiency of cooling are unknown. This study aimed to determine the optimal temperature and storage duration of recovery milk, to analyze their effects on physical-chemical (pH, total solids, protein, and fat) and microbiological (TPC, mesophilic spore, thermophilic spore, and psychrotrophic bacteria), as well as to evaluate the energy consumption of an ice water-based cooling system. The study used a factorial design with two factor, namely storage temperature (5°C, 8°C, and 10°C) and storage duration (0, 24, 48, 72, and 96 hours). Data were analyzed using ANOVA and DMRT (a = 0.05), while energy consumption was calculated using a energy balance. The results showed that storage at 10°C was able to maintain the quality of recovery milk for 5 days with energy savings of 16% (energy used was 52 kWh) compared to a temperature of 5°C. This research serves as the basis for an energy efficiency strategy without reducing product quality and safety at PT XYZ.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173139</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analysis and Control of Packaging Waste During the Production of "Seblak Authentic" At CV Kylafood Indonesia Using PDCA (Plan-Do-Check-Action)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173083</link>
<description>Analysis and Control of Packaging Waste During the Production of "Seblak Authentic" At CV Kylafood Indonesia Using PDCA (Plan-Do-Check-Action)
ATHAYA, TAQIYYA FERIZA
Seblak merupakan pangan tradisional dari Kota Bandung yang telah berevolusi menjadi makanan instan yang populer, salah satunya diproduksi oleh Kylafood Indonesia. Namun, produksi “Seblak Autentik” menghadapi pemborosan (waste) kemasan akibat kegagalan pada proses pengemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tahapan proses produksi “Seblak Autentik”, menganalisis faktor penyebab pemborosan, menentukan akar permasalahan menggunakan siklus PDCA dan Seven Tools, menyusun strategi perbaikan, serta mengevaluasi efektivitas implementasi rencana perbaikan dalam mengurangi waste pengemasan. Penelitian ini menerapkan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Action) didukung dengan alat bantu Check sheets, Pareto charts, dan Fishbone Diagram untuk menganalisis dan mengurangi pemborosan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembuatan “Seblak Autentik” terdiri atas tahapan pemilahan bahan baku, pembuatan bumbu (bumbu kencur, bumbu sambal, dan bumbu kering), pengemasan bumbu, sterilisasi pada bumbu kencur dan bumbu sambal, pengemasan isi seblak (kerupuk, bumbu kencur, bumbu sambal, dan bumbu kering), serta pengemasan akhir. Pemborosan kemasan teridentifikasi pada tahap pengemasan isi seblak akibat kegagalan proses yang memerlukan pengulangan secara manual, sehingga kemasan tidak dapat digunakan kembali dan harus dibuang. Terdapat lima akar permasalahan penyebab pemborosan, yaitu; ketidaksesuaian berat, gencet kerupuk, kempes, mesin, dan kebocoran bumbu. Implementasi dari rencana perbaikan menurunkan persentase pemborosan dari 23,03% (884 dari 3.838 kemasan) menjadi 8,54% (329 dari 3.851 kemasan). Ketidaksesuaian berat berkontribusi lebih dari 80% terhadap total kegagalan. Pengurangan pemborosan kemasan meningkatkan efisiensi system produksi “Seblak Autentik” CV Kylafood Indonesia.; Seblak is a traditional food originating from Bandung that has evolved into a popular instant product, one of which is produced by Kylafood Indonesia. However, the production of “Seblak Authentic” faces packaging waste due to failures in the packaging process. This study aims to identify the production process of “Seblak Authentic”, analyze the factors causing waste, determine the root causes using the PDCA cycle and the Seven Tools, develop improvement strategies, and evaluate the effectiveness of the implemented improvements in reducing packaging waste. This study applies the PDCA (Plan-Do-Check-Action) cycle supported by quality control tools, including Check Sheets, Pareto Charts, and Fishbone Diagrams, to analyze and reduce waste. The results show that the production process consists of raw material sorting, seasoning preparation (kencur seasoning, sambal seasoning, and dry seasoning), seasonings packaging, sterilization of kencur seasoning and sambal seasoning, filling of seblak components (kerupuk, kencur seasoning, sambal seasoning, and dry seasoning), and final packaging. Packaging waste was identified at the seblak component filling stage due to process failures requiring manual rework, causing the packaging to be unusable and discarded. There are five root causes of waste, namely; weight inconsistency, crushed kerupuk, leakage, machine, and  damaged seasoning. The implementation of improvement strategies reduced the waste percentage from 23.03% (884 out of 3,838 packages) to 8.54% (329 out of 3,851 packages). Weight inconsistency contributed to more than 80% of total failures. The reduction of packaging waste improved the efficiency of the “Seblak Authentic” production system at CV Kylafood Indonesia.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173083</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Karakteristik Fisikokimia dan Sensori Bakso Substitusi Daging Sapi dengan Daging Kerbau</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173009</link>
<description>Karakteristik Fisikokimia dan Sensori Bakso Substitusi Daging Sapi dengan Daging Kerbau
Khadijah, Diva
Bakso merupakan produk olahan daging yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia dan umumnya berbahan baku daging sapi. Daging kerbau berpotensi sebagai bahan baku alternatif karena memiliki kandungan protein lebih tinggi dan kadar lemak lebih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi sifat fisik, kimia, dan sensori bakso dengan perbedaan rasio daging sapi (DS) dan daging kerbau (DK) serta menentukan rasio substitusi yang menghasilkan mutu bakso terbaik. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) lima perlakuan dengan rasio DS:DK, yaitu 100:0, 80:20, 50:50, 20:80, dan 0:100. Parameter yang dianalisis meliputi pH, warna, tekstur (TPA), komposisi proksimat, serta uji sensori rating dan ranking hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan proporsi daging kerbau meningkatkan nilai pH bakso pada kisaran 6,45-6,71 dan kadar air hingga 68,13%. Komposisi proksimat menunjukkan kecenderungan peningkatan kadar protein (11,17-13,53%) dan penurunan kadar lemak (5,87-9,67%) pada formulasi dengan proporsi daging kerbau lebih tinggi. Warna bakso cenderung lebih gelap, namun masih berada dalam rentang yang dapat diterima konsumen. Parameter tekstur tidak berbeda nyata antar perlakuan yang menunjukkan stabilitas gel protein. Berdasarkan karakterisitik sensori, bakso dengan rasio DS:DK (0:100) menunjukkan nilai keseluruhan dan preferensi tertinggi. Dapat disimpulkan bahwa daging kerbau dapat digunakan dalam pembuatan bakso dengan mutu fisikokimia yang baik, nilai gizi yang lebih tinggi, dan penerimaan sensori yang disukai panelis.; Meatballs are a widely consumed processed meat product in Indonesia and are generally made from beef. Buffalo meat has potential as an alternative raw material due to its higher protein content and lower fat content. This study aimed to characterize the physical, chemical, and sensory properties of meatballs produced with different ratios of beef (DS) and buffalo meat (DK) and to determine the optimal formulation. The study employed a Completely Randomized Design (CRD) with five treatments of DS:DK ratios, namely 100:0, 80:20, 50:50, 20:80, and 0:100. The parameters analyzed included pH, color, texture (TPA), proximate composition, as well as sensory rating and ranking hedonic tests. The results showed that increasing the proportion of buffalo meat increased the pH of meatballs within the range of 6.45–6.71 and increased moisture content up to 68.13%. Proximate analysis indicated a tendency toward higher protein content (11.17–13.53%) and lower fat content (5.87–9.67%) in formulations with higher proportions of buffalo meat. The meatballs became darker in color, however, the color values remained within an acceptable range for consumers. Textural parameters did not differ significantly among treatments, indicating stable protein gel formation. Sensory evaluation showed that a DS:DK (0:100) ratio achieved the highest overall acceptability and preference scores. It can be concluded that the use of buffalo meat has the potential to produce meatballs with good physicochemical quality, higher nutritional value, and favorable sensory acceptance.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173009</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
