<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Faculty of Agriculture</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7461</link>
<description>Undergraduate Theses on Faculty of Agriculture</description>
<pubDate>Mon, 18 May 2026 15:46:43 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-05-18T15:46:43Z</dc:date>
<item>
<title>Sifat Fisik Dan Retensi Air Tanah Berdasarkan&#13;
Umur Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.).</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173069</link>
<description>Sifat Fisik Dan Retensi Air Tanah Berdasarkan&#13;
Umur Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.).
ADINDA, DWI PERMATA
Perkebunan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan sektor strategis yang berkontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia, namun keberlanjutan produksinya sangat ditentukan oleh kualitas tanah sebagai media tumbuh. Aktivitas pengelolaan kebun yang berlangsung dalam jangka panjang, seperti pemupukan, pemanenan, dan pemeliharaan piringan, berpotensi memengaruhi sifat fisik tanah seperti distribusi pori, serta kemampuan tanah dalam menyimpan dan menyediakan air bagi tanaman. Perubahan kondisi tersebut dapat terjadi seiring bertambahnya umur tanaman dan perbedaan zona pengelolaan di dalam kebun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur tanaman kelapa sawit terhadap sifat fisik dan retensi air tanah pada zona gawangan hidup dan piringan. Penelitian dilakukan pada tanaman berumur 7 dan 11 tahun di PT. AMP Plantation Unit 1, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dengan tiga ulangan pada tanah Ultisol Palembayan. Parameter yang diamati meliputi bobot isi, porositas, retensi air (KAKL dan TLP), infiltrasi, dan C-organik tanah. Data yang diperoleh dari seluruh parameter tersebut kemudian dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA, dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5% untuk melihat perbedaan nyata antar perlakuan, serta analisis regresi linear sederhana untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan umur tanaman kelapa sawit berpengaruh nyata terhadap sifat fisik dan retensi air tanah di zona gawangan hidup dan piringan pada parameter bobot isi, porositas, dan KAKL. Pada tanaman berumur 11 tahun, nilai bobot isi cenderung lebih tinggi, sedangkan porositas dan KAKL lebih rendah dibandingkan dengan tanaman berumur 7 tahun. Perbedaan tersebut mengindikasikan adanya kecenderungan penurunan kemampuan tanah dalam menahan air seiring dengan meningkatnya umur tanaman. Pori air tersedia menunjukkan hubungan positif yang sangat kuat dengan kadar air kapasitas lapang dan C-organik, serta hubungan negatif yang kuat dengan bobot isi. Intensitas pengelolaan yang lebih tinggi dan vegetasi penutup bawah seperti rerumputan yang lebih jarang pada tanaman tua menyebabkan kualitas fisik tanah cenderung menurun.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173069</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Jenis Lampu dan Aplikasi Biostimulan  terhadap Pertumbuhan Head Lettuce (Lactuca  sativa) pada Indoor Vertical Farming System</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173056</link>
<description>Pengaruh Jenis Lampu dan Aplikasi Biostimulan  terhadap Pertumbuhan Head Lettuce (Lactuca  sativa) pada Indoor Vertical Farming System
CHINDANA, ZULFA FAJAR DIAN
Selada (Lactuca sativa) merupakan tanaman sayuran daun semusim yang kaya antioksidan dan umumnya dikonsumsi dalam keadaan segar dan mentah. Data tahun 2020 hingga 2022 menunjukkan produksi tanaman selada mengalami penurunan. Indoor vertical farming adalah teknik budidaya dapat mengatasi keterbatasan lahan, menciptakan lingkungan yang terkontrol, dan meningkatkan produktivitas lahan khususnya di wilayah perkotaan. Penggunaan jenis lampu dan biostimulan diduga dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman selada sehingga perlu dikaji. Penelitian dilakukan pada bulan September hingga Oktober 2024 di Kebun Percobaan Leuwikopo IPB University. Penelitian menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dua faktor dengan 6 kombinasi perlakuan (L1B0 = lampu fluorescent dan tanpa biostimulan; L2B0 = lampu LED merah biru dan tanpa biostimulan; L3B0 = lampu LED putih dan tanpa biostimulan; L1B1 = lampu fluorescent dan biostimulan; L2B1 = lampu LED merah biru dan biostimulan; L3B1 = lampu LED putih dan biostimulan). Perlakuan kombinasi LED merah biru menghasilkan tanaman selada dengan produktivitas 2,38 Kg.m-2, 44,96% lebih tinggi dibandingkan perlakuan lampu fluorescent dengan produktivitas 1,64 Kg.m-2, dan 93,09% lebih tinggi dibandingkan perlakuan lampu LED putih dengan produktivitas 1,23 Kg.m-2. Perlakuan biostimulan menghasilkan tanaman selada dengan produktivitas 1,38 Kg.m-2, 35,02% lebih rendah dibandingkan perlakuan tanpa biostimulan dengan produktivitas 2,12 Kg.m-2.; Lettuce (Lactuca sativa) is an annual leafy vegetable crop rich in antioxidants and is commonly consumed fresh and raw. Data from 2020 to 2022 shows a decline in lettuce production. Indoor vertical farming is a cultivation technique that can address land limitations, create a controlled environment, and improve land productivity, especially in urban areas. The use of light types and biostimulants is suspected to affect the growth and productivity of lettuce, thus requiring further study. The research was conducted from August to October 2024 at the Leuwikopo Experimental Field, IPB University. The study used a two-factor Randomized Complete Block Design (RCBD) with 6 treatment combinations (L1B0 = fluorescent light and no biostimulant; L2B0 = red-blue LED light and no biostimulant; L3B0 = white LED light and no biostimulant; L1B1 = fluorescent light and biostimulant; L2B1 = red-blue LED light and biostimulant; L3B1 = white LED light and biostimulant). The combination treatment of red and blue LEDs produced lettuce plants with a productivity of 2.38 Kg.m-2, 44.96% higher than the fluorescent lamp treatment with a productivity of 1.64 Kg.m-2, and 93.09% higher than the white LED lamp treatment with a productivity of 1.23 Kg.m-2. The biostimulant treatment produced lettuce plants with a productivity of 1.38 Kg.m-2, 35.02% lower than the treatment without biostimulant with a productivity of 2.12 Kg.m-2
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173056</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Sistem Agri-Photovoltaic terhadap  Sifat Kimia Tanah, Serapan Hara, Pertumbuhan, dan Hasil Kedelai (Glycine max (L.))</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173040</link>
<description>Pengaruh Sistem Agri-Photovoltaic terhadap  Sifat Kimia Tanah, Serapan Hara, Pertumbuhan, dan Hasil Kedelai (Glycine max (L.))
RAHAYU, ELSA KALAM
Sistem Agri-Photovoltaic (APV) menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi dan pangan suatu negara dengan mengintegrasikan antara pertanian dengan panel surya untuk memproduksi energi sehingga penggunaan lahan menjadi lebih optimal. Sistem ini dapat dipertimbangkan sebagai salah satu strategi peningkatan produksi kedelai yang merupakan komoditas pangan &#13;
strategis nasional. Agri-Photovoltaic Research Station (APRS) Kebun Pendidikan Cikabayan merupakan unit agri-photovoltaic pertama di Indonesia yang dirancang sebagai solusi integratif dalam mendukung produksi energi terbarukan sekaligus mempertahankan produktivitas lahan pertanian di Indonesia. Namun, keberadaan panel surya menciptakan efek naungan yang berpotensi mempengaruhi kapasitas tanaman dalam menyerap hara dan menghasilkan biji. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan sifat kimia tanah dan membandingkan respon pertumbuhan dan produktivitas kedelai yang tumbuh di bawah naungan panel surya dan di luar naungan panel surya. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan nyata pada nilai pH, C-organik, N-total, dan Mg-dd antara di bawah naungan panel surya (PS) dengan di luar naungan panel surya (LPS), sedangkan parameter P-tersedia, KTK (Kapasitas Tukar Kation), K-dd, Ca-dd, dan Na-dd tidak menunjukkan perbedaan nyata. Perbedaan tersebut berkaitan dengan perubahan kondisi iklim mikro di bawah naungan panel surya. Kondisi tersebut kemudian berpengaruh nyata meningkatkan serapan hara N, P, dan K oleh tanaman kedelai. Selain itu, perlakuan PS juga meningkatkan parameter pertumbuhan dan panen tanaman kedelai, terutama produktivitas, tetapi menurunkan nilai indeks panen (Harvest Index) akibat tingginya total akumulasi biomassa vegetatif. Temuan ini menunjukkan bahwa sistem APV potensial dalam meningkatkan produktivitas lahan dengan menciptakan kondisi lingkungan yang lebih optimal.; Agri-Photovoltaic System (APV) offers an alternative approach to simultaneously address energy and food demands by integrating agricultural production with photovoltaic panels, thereby improving land-use efficiency. The system can be considered a strategy to enhance soybean production, a nationally strategic food commodity in Indonesia. Agri-Photovoltaic Research Station (APRS) at Cikabayan Teaching Farm is the first agri-photovoltaic unit in Indonesia, designed as an integrated solution to support renewable energy production while maintaining agricultural land productivity in Indonesia. However, the presence of solar panels creates shading effects that may influence soil nutrient availability, crop nutrient uptake, and crop productivity. This research aimed to evaluate differences in soil chemical properties and to compare the growth response and productivity of soybean cultivated under solar panel shading and open-field condition. The result showed significant differences in soil pH, soil organic carbon, total nitrogen, and exchangeable magnesium under the solar panel shading (PS) compared to area without solar panel shading (WPS), while available phosphorus, cation exchange capacity (CEC), and exchangeable potassium, calcium, and sodium did not differ significantly. These differences were associated with the changes in microclimate conditions created under the solar panel shading. These conditions subsequently resulted in a significant increase in nitrogen (N), phosphorus (P), and potassium (K) uptake by soybean plants. In addition, solar panel shading treatment enhanced soybean growth and yield components, particulary productivity, but reduced the harvest index (HI) due to greater accumulation of vegetative biomass. Overall, the results suggest that APV represents a promising approach for improving land productivity through the creation of favorable microenvironmental conditions for crop growth.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173040</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Preferensi Tikus Pohon (Rattus tiomanicus Mill.) Terhadap Rodentisida Organik Berbasis Selulosa dan Efikasinya</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173039</link>
<description>Preferensi Tikus Pohon (Rattus tiomanicus Mill.) Terhadap Rodentisida Organik Berbasis Selulosa dan Efikasinya
NOORSIAM, SHAFA LAYLA
Tikus pohon (Rattus tiomanicus) merupakan hama perkebunan yang menyebabkan kerugian ekonomi, sehingga pengendaliannya masih bergantung pada rodentisida sintetik. Rodentisida organik berbasis selulosa berpotensi menjadi alternatif yang lebih aman dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan menguji preferensi makan tikus pohon terhadap umpan berbasis selulosa serta menilai efikasinya dalam menyebabkan kematian tikus. Penelitian dilakukan melalui uji pilihan (choice test) dan uji tanpa pilihan (no-choice test). Parameter yang diamati meliputi konsumsi umpan, perubahan bobot tubuh, dan persentase kematian tikus selama 14 hari pengamatan. Hasil menunjukkan bahwa konsumsi rodentisida berbasis selulosa jauh lebih rendah dibandingkan umpan alami dan rodentisida kimia sintetis. Pada uji tanpa pilihan, rodentisida selulosa tetap dikonsumsi tetapi hanya menyebabkan tingkat kematian yang rendah (25%). Rendahnya konsumsi dan mortalitas menunjukkan bahwa daya tarik dan efektivitas rodentisida selulosa masih terbatas. Hal ini mengindikasikan bahwa formulasi dan atraktan perlu ditingkatkan agar rodentisida selulosa dapat berfungsi optimal dalam pengendalian tikus pohon yang ramah lingkungan.; The Malaysian field rat (Rattus tiomanicus) is a major plantation pest that causes economic losses, and its control still relies on synthetic rodenticides. Cellulose-based organic rodenticides have the potential to be a safer and more environmentally friendly alternative. This study aimed to evaluate Malaysian field rat feeding preference for cellulose-based bait and assess its efficacy in causing mortality. The study employed a choice test, and a no-choice test. The observed parameters included bait consumption, changes in body weight, and mortality rate over a 14-day observation period. The results showed that the consumption of cellulose-based rodenticide was much lower than that of natural baits and synthetic chemical rodenticides. In the no-choice test, the cellulose rodenticide was still consumed, but only resulted in low mortality (25%). The low consumption and mortality rates indicate that the attractiveness and effectiveness of the cellulose-based rodenticide remain limited. This suggests that improvements in formulation and the addition of attractants are needed for cellulose rodenticides to function optimally in environmentally friendly rat control.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173039</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
