<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Faculty of Agriculture</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7461</link>
<description>Undergraduate Theses on Faculty of Agriculture</description>
<pubDate>Wed, 01 Jul 2026 11:58:27 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-07-01T11:58:27Z</dc:date>
<item>
<title>Aplikasi Bakteri Penghasil Fitase Terenkapsulasi untuk Tanaman Jagung pada Kondisi Cekaman Kekeringan dan Defisiensi Fosfor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173886</link>
<description>Aplikasi Bakteri Penghasil Fitase Terenkapsulasi untuk Tanaman Jagung pada Kondisi Cekaman Kekeringan dan Defisiensi Fosfor
RAMADHAN, ARDIAN
Produktivitas tanaman jagung sering mengalami penurunan akibat cekaman kekeringan dan rendahnya ketersediaan fosfor di dalam tanah, sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan kemampuan adaptasi tanaman terhadap kondisi tersebut. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan yaitu melalui aplikasi bakteri osmoadaptif penghasil fitase terenkapsulasi yang berperan dalam membantu pelarutan fosfor dan meningkatkan toleransi tanaman terhadap cekaman abiotik. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh aplikasi bakteri penghasil fitase terenkapsulasi terhadap pertumbuhan, fisiologi, dan hasil tanaman jagung pada kondisi cekaman kekeringan dan defisiensi fosfor. Penelitian dilaksanakan di greenhouse BRIN KST BJ Habibie Serpong menggunakan rancangan RKLT dengan perlakuan faktor tunggal, kombinasi perlakuan aplikasi bakteri (tanpa bakteri dan dengan bakteri), dosis pemupukan fosfor (100% dan 50% dari dosis), serta tingkat penyiraman (100% dan 50% KL) dengan tiga ulangan. Peubah yang diamati meliputi pertumbuhan vegetatif, hasil panen, serta peubah fisiologi tanaman seperti Relative Water Content (RWC), Membrane Stability Index (MSI), Electrolyte Leakage (EL), kandungan prolin, dan klorofil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh perlakuan tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap semua peubah yang diamati.; Maize crop productivity is often reduced due to drought stress and low phosphorus availability in the soil; therefore, efforts are needed to enhance the plants’ ability to adapt to these conditions. One approach that can be adopted is the application of encapsulated phytase-producing osmoadaptive bacteria, which help to solubilise phosphorus and improve the plants’ tolerance to abiotic stress. This study aims to analyse the effect of applying encapsulated phytase-producing bacteria on the growth, physiology and yield of maize plants under conditions of drought stress and phosphorus deficiency. The study was conducted in the BRIN KST BJ Habibie Serpong greenhouse using a completely randomised block design (RKLT) with single-factor treatments, combining bacterial application (with and without bacteria), phosphorus fertiliser rates (100% and 50% of the recommended dose), and irrigation levels (100% and 50% of the recommended amount), with three replicates. The variables observed included vegetative growth, crop yield, and plant physiological parameters such as Relative Water Content (RWC), Membrane Stability Index (MSI), Electrolyte Leakage (EL), proline content, and chlorophyll. The results of the study showed that none of the treatments had a significant effect on any of the variables observed.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173886</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Evaluasi Kemunduran Mutu Benih Padi (Oryza sativa L.) Akibat Perlakuan Alat Simulasi Transportasi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173883</link>
<description>Evaluasi Kemunduran Mutu Benih Padi (Oryza sativa L.) Akibat Perlakuan Alat Simulasi Transportasi
MUKTAVI, YUJLY
Penggunaan benih padi bermutu sangat penting untuk meningkatkan produktivitas. Benih rentan mengalami kemunduran mutu selama periode transportasi dan dapat menurunkan viabilitas sebelum masa tanam. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh durasi guncangan terhadap kemunduran mutu benih padi dengan berbagai taraf suhu dan RH, dan membuat pola kemunduran benih pada alat simulasi transportasi. Percobaan dilakukan pada kondisi suhu 24-31 °C / RH 37-82% (kondisi A) dan suhu 27-35 °C / RH 46-84% (kondisi B), dengan durasi guncangan 0-12 jam. Pola kemunduran mutu disusun menggunakan persamaan polinomial. Peubah yang diamati meliputi kadar air (KA) viabilitas potensial (VP), vigor kekuatan tumbuh (VKT), dan vigor daya simpan (VDS). Hasil penelitian menunjukkan VKT menurun seiring bertambahnya durasi guncangan, dan VDS menurun seiring meningkatnya suhu dan RH. Kemunduran mutu benih padi pada peubah VKT dapat dibuat pola persamaan polinomoal (R2 &gt; 70%) sehingga dapat digunakan untuk pendugaan vigor benih. Varietas IPB 9G dan Inpara 11 Siam menunjukkan respon yang lebih tahan berdasarkan perlakuan durasi guncangan.; The use of high-quality rice seeds is very important for increasing productivity. Seeds are susceptible to deterioration during transportation and may lose viability before planting. This study aimed to determine the effect of vibration duration on the deterioration of rice seeds at various temperature and relative humidity levels, and to model seed deterioration pattern based on a transportation simulator. Experiments were conducted under conditions of 24–31 °C / 37–82% RH (Condition A) and 27–35 °C / 46–84% RH (Condition B), with vibration durations ranging from 0 to 12 hours. The deterioration patterns were modeled using polynomial equations. The observed variables included moisture content (MC), potential viability (VP), germination vigor (VKT), and storage vigor (VDS). The results showed that VKT decreased as the duration of vibration increased, and VDS decreased as temperature and RH increased. The deterioration of rice seed as measured by VKT can be modeled using a polynomial equation (R² &gt; 70%), which can be used to estimate seed vigor. The IPB 9G and Inpara 11 Siam varieties showed a more resistant response based on the vibration duration treatments.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173883</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>PENGARUH SPEKTRUM CAHAYA TERHADAP PERTUMBUHAN, HASIL, DAN KUALITAS DUA KULTIVAR CABAI MERAH (Capsicum annuum L.) DI RUMAH KACA</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173863</link>
<description>PENGARUH SPEKTRUM CAHAYA TERHADAP PERTUMBUHAN, HASIL, DAN KUALITAS DUA KULTIVAR CABAI MERAH (Capsicum annuum L.) DI RUMAH KACA
DEWI, ALYA KUSUMA
Cahaya merupakan salah satu faktor lingkungan yang memengaruhi proses fisiologis tanaman, termasuk fotosintesis, respirasi, dan sintesis senyawa bioaktif. Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang memerlukan kondisi lingkungan optimal, termasuk pencahayaan yang tepat guna mendukung pertumbuhan dan hasil maksimal. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi mengenai pengaruh spektrum cahaya terhadap pertumbuhan, hasil, dan kualitas dua kultivar cabai merah. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak, dengan dua faktor yaitu spektrum cahaya (tanpa lampu (indoor), putih, ungu, ungu putih dan cahaya matahari (outdoor)) serta varietas (Tangguh F1 dan Arisa IPB). Parameter yang diamati meliputi aspek agronomi, hasil panen, serta kualitas biokimia tanaman. Penelitian ini menunjukkan perlakuan lampu ungu putih memberikan hasil terbaik pada bobot buah per tanaman sebesar 105,19 g, lampu putih mempercepat umur berbunga (5,30 MST). Perlakuan cahaya matahari (outdoor) menghasilkan kandungan capsaicin tertinggi (26,19 mg g-1) disertai aktivitas antioksidan tertinggi (24,28%). Varietas Arisa IPB menunjukkan kualitas lebih baik terutama pada kandungan kalium, fosfor, dan aktivitas antioksidan. Pengaturan spektrum cahaya dan pemilihan varietas yang tepat dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas cabai merah secara optimal.; Light is one of the environmental factors influencing plant physiological processes, including photosynthesis, respiration, and the synthesis of bioactive compounds. Red chili (Capsicum annuum L.) is a horticultural commodity with high economic value that requires optimal environmental conditions, including appropriate lighting, to support maximum growth and yield. This study aimed to investigate the effects of light spectrum on the growth, yield, and quality of two red chili cultivars. The experiment was conducted in a greenhouse using a Randomized Complete Block Design with two factors: light spectrum (no lamp/indoor, white,&#13;
purple, purple-white, and sunlight/outdoor) and cultivar (Tangguh F1 and Arisa IPB). Observed variables included agronomic traits, yield components, and biochemical quality. Results showed that purple-white light treatment produced the highest fruit weight per plant (105.19 g), while white light accelerated flowering time (5.30 weeks after planting). The sunlight (outdoor) treatment resulted in the highest capsaicin content (26,19 mg g-1) accompanied by the highest antioxidant activity (24.28%). The Arisa IPB variety exhibited a better quality, particularly in potassium and phosphorus content, as well as antioxidant activity. Proper adjustment of light spectrum and cultivar selection can enhance the productivity and quality of red chili peppers optimally.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173863</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Jenis Amelioran dan Residunya terhadap Produksi Pakcoy dengan Fertigasi melalui Irigasi Tetes</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173823</link>
<description>Pengaruh Jenis Amelioran dan Residunya terhadap Produksi Pakcoy dengan Fertigasi melalui Irigasi Tetes
kamilah, zahrah
Penurunan produksi pakcoy di Indonesia dapat dipengaruhi oleh kesuburan &#13;
tanah yang kurang diperhatikan, diperlukan upaya peningkatan produksi melalui &#13;
pengelolaan kesuburan tanah dan teknik budi daya yang tepat. Penelitian bertujuan &#13;
menganalisis pengaruh jenis amelioran dan residunya serta mengevaluasi amelioran &#13;
yang paling efektif terhadap pertumbuhan, hasil, Nutrient Use Efficiency, dan Water &#13;
Use Efficiency pada pakcoy dengan fertigasi melalui irigasi tetes. Penelitian &#13;
menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak faktor tunggal dengan tujuh &#13;
perlakuan amelioran yaitu kontrol, dolomit, pupuk kandang, pupuk hayati, &#13;
dolomit+pupuk &#13;
kandang, &#13;
dolomit+pupuk &#13;
hayati, &#13;
dan &#13;
dolomit+pupuk &#13;
kandang+pupuk hayati pada tanah Inceptisol dengan pH netral, P dan K tersedia &#13;
tinggi, dan C-Organik rendah, didapatkan dosis rekomendasi FERADS dolomit &#13;
1800 kg ha-1, pupuk kandang 48.272 kg ha-1, pupuk hayati 300 L ha-1. Hasil &#13;
menunjukkan amelioran tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan jumlah &#13;
daun pada kedua musim tanam serta luas daun penanaman kedua, tetapi &#13;
berpengaruh terhadap luas daun penanaman pertama, bobot akar, bobot hasil, NUE, &#13;
dan WUE. Pupuk hayati tunggal merupakan perlakuan terbaik dalam meningkatkan &#13;
hasil, NUE, dan WUE pada kedua musim tanam. Pupuk hayati kombinasi tidak &#13;
berbeda dengan pupuk hayati tunggal pada penanaman pertama, tetapi &#13;
dolomit+pupuk hayati menghasilkan nilai rendah berbeda nyata pada penanaman &#13;
kedua. Residu amelioran masih berpengaruh pada penanaman kedua, meskipun &#13;
efektivitasnya menurun.; Declining pakcoy production in Indonesia is associated with inadequate soil &#13;
fertility management, highlighting importance of proper soil improvement and &#13;
cultivation practices. This study aimed to analyze the effects of different &#13;
ameliorants and their residual effects, as well as to identify the most effective &#13;
ameliorant for enhancing growth, yield, Nutrient Use Efficiency, and Water Use &#13;
Efficiency of pakcoy under drip fertigation. Experiment used randomized complete &#13;
block design with single factor consisting of seven treatments: control, dolomite, &#13;
manure, &#13;
biofertilizer, &#13;
dolomite+manure, &#13;
dolomite+biofertilizer, &#13;
and &#13;
dolomite+manure+biofertilizer on an Inceptisol soil characterized by neutral pH, &#13;
high available phosphorus and potassium, and low organic carbon content. &#13;
Recommended application rates based on FERADS were 1,800 kg ha?¹ dolomite, &#13;
48,272 kg ha?¹ manure, and 300 L ha?¹ biofertilizer. The results showed that &#13;
ameliorants did not significantly affect plant height, leaf number in both growing &#13;
seasons, or leaf area in the second season. However, significant effects were &#13;
observed on leaf area in the first season, root weight, yield, NUE, and WUE. &#13;
Biofertilizer alone was the most effective treatment for improving yield, NUE, and &#13;
WUE in both growing seasons. Residual ameliorant effects were still evident in the &#13;
second season, although their effectiveness declined.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173823</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
