<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>MF - Animal Science</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/74</link>
<description/>
<pubDate>Mon, 13 Jul 2026 02:43:49 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-07-13T02:43:49Z</dc:date>
<item>
<title>Pengaruh Konsentrat Flushing Akhir Kebuntingan dengan Sumber Asam Lemak Berbeda terhadap Performa Induk dan Anak Domba</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173463</link>
<description>Pengaruh Konsentrat Flushing Akhir Kebuntingan dengan Sumber Asam Lemak Berbeda terhadap Performa Induk dan Anak Domba
Shofiah, Maya
Kecukupan nutrien induk domba pada periode akhir kebuntingan dan awal laktasi berperan penting dalam mendukung performa reproduksi induk serta pertumbuhan anak domba. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh konsentrat flushing akhir kebuntingan dengan sumber asam lemak berbeda terhadap performa reproduksi, status metabolik induk, kualitas kolostrum, tingkah laku neonatal, serta performa anak domba yang dihasilkan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 15 ekor induk domba, umur kebuntingan empat bulan dengan bobot badan 35,70 ± 5,32 kg. Induk domba dialokasikan ke dalam tiga perlakuan, yaitu R1 = minyak sawit (asam palmitat; SFA), R2 = minyak ikan lemuru (EPA dan DHA; UFA hewani), dan R3 = minyak kedelai (asam linoleat dan a-linolenat; UFA nabati). Konsentrat flushing disusun isoenergi dan isoprotein, dengan total omega-3 sebanding pada R2 dan R3, dengan periode pemberian 2-3 minggu pada akhir kebuntingan dan 2 minggu awal laktasi. Hasil penelitian menunjukkan konsumsi lemak kasar dan serat kasar induk domba selama periode flushing berbeda nyata (P&lt;0,05) dengan rataan konsumsi lemak kasar sebesar 47,60; 21,30 dan 48,80 g ekor?¹ hari?¹, serta konsumsi serat kasar sebesar 101,45; 89,68 dan 110,53 g ekor?¹ hari?¹ untuk perlakuan R1, R2, dan R3. Bobot badan induk domba tidak dipengaruhi oleh perlakuan (P&gt;0,05) dan mengalami penurunan pasca partus 16,72-19,08%. Performa reproduksi, meliputi litter size, bobot lahir, dan litter birth weight, tidak dipengaruhi perlakuan flushing (P&gt;0,05), meskipun terdapat kecenderungan proporsi anak jantan lebih tinggi pada perlakuan minyak ikan lemuru. Kualitas kolostrum dipengaruhi oleh perlakuan (P&lt;0,05), dengan volume ambing tertinggi pada R1 dan konsentrasi imunoglobulin G (IgG) tertinggi pada R2. Profil hematologi dan konsentrasi glukosa plasma induk domba tidak dipengaruhi oleh perlakuan (P&gt;0,05) dan berada dalam rentang normal, sedangkan konsentrasi kolesterol dan trigliserida berbeda nyata pada 14 hari postpartum (P&lt;0,05), sebagai respons adaptasi metabolik induk pada awal laktasi. Perlakuan pada induk domba berpengaruh nyata terhadap tingkah laku neonatal anak domba (P&lt;0,05), ditunjukkan waktu berdiri dan menyusu pertama yang lebih cepat pada perlakuan R2 dan R3. Bobot badan dan ukuran morfometrik anak domba tidak dipengaruhi oleh perlakuan flushing induk (P&gt;0,05) dengan rataan PBBH berkisar 214–253 g ekor?¹ hari?¹. Profil hematologi dan metabolit darah anak domba tidak berbeda nyata antarperlakuan (P&gt;0,05) dan berada dalam rentang fisiologis normal. Disimpulkan bahwa penggunaan sumber asam lemak tak jenuh dalam konsentrat flushing berpotensi meningkatkan kualitas kolostrum dan respon neonatal anak domba, namun belum memberikan pengaruh nyata terhadap performa reproduksi induk, status metabolik dan pertumbuhan awal anak domba.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173463</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>EVALUASI PEMBERIAN PROBIOTIK LACTOCOCCUS  LACTIS DAN BACILLUS LICHENIFORMIS DALAM  PAKAN TERHADAP PERFORMA, ENERGI  METABOLIS DAN KESEHATAN SALURAN  PENCERNAAN AYAM BROILER</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173331</link>
<description>EVALUASI PEMBERIAN PROBIOTIK LACTOCOCCUS  LACTIS DAN BACILLUS LICHENIFORMIS DALAM  PAKAN TERHADAP PERFORMA, ENERGI  METABOLIS DAN KESEHATAN SALURAN  PENCERNAAN AYAM BROILER
Sudrajat, Almira Nurrika
Penggunaan probiotik pada industri perunggasan menjadi semakin penting &#13;
sebagai alternatif pengganti antibiotic growth promoter (AGP) yang &#13;
penggunaannya telah dibatasi karena berpotensi menimbulkan resistensi antibiotik &#13;
dan residu pada produk ternak. Probiotik diketahui mampu meningkatkan &#13;
keseimbangan mikroflora saluran pencernaan, memperbaiki kesehatan usus, serta &#13;
meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrien yang pada akhirnya dapat &#13;
meningkatkan performa produksi ayam broiler. Penelitian ini bertujuan untuk &#13;
mengevaluasi pengaruh suplementasi probiotik kombinasi Lactococcus lactis dan &#13;
Bacillus licheniformis dalam ransum terhadap performa pertumbuhan, energi &#13;
metabolis, morfologi usus, mikroflora ileum, kualitas daging, serta nilai ekonomi &#13;
produksi ayam broiler. Sebanyak 300 ekor DOC broiler strain Cobb dipelihara &#13;
selama 35 hari dan dibagi ke dalam tiga perlakuan: kontrol (P1), kombinasi &#13;
probiotik 105 CFU g?¹ (P2), dan kombinasi probiotik 106 CFU g?¹ (P3), dengan lima &#13;
ulangan dan masing-masing 20 ekor. Data diolah dengan uji ANOVA (Analysis of &#13;
Variance) dan perbedaan nyata dilakukan uji lanjut Duncan. Parameter yang &#13;
diamati meliputi konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, feed conversion ratio &#13;
(FCR), energi metabolis, morfologi usus, mikroflora ileum, kandungan lemak dan &#13;
kolesterol daging, serta analisis IOFCC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa &#13;
suplementasi probiotik pada dosis 106 CFU g?¹ (P3) nyata (P&lt;0,05) meningkatkan &#13;
(efisiensi ransum, energi metabolis, nilai IOFCC) secara signifikan dibanding &#13;
perlakuan lain Peningkatan efisiensi penggunaan pakan pada perlakuan probiotik &#13;
berkaitan dengan kemampuan mikroorganisme probiotik dalam meningkatkan &#13;
proses pencernaan nutrien di saluran pencernaan. Bacillus licheniformis diketahui &#13;
mampu menghasilkan berbagai enzim pencernaan seperti protease, amilase, dan &#13;
lipase yang membantu memecah nutrien kompleks menjadi bentuk yang lebih &#13;
sederhana sehingga lebih mudah diserap oleh usus. Sementara itu, Lactococcus &#13;
lactis menghasilkan asam laktat dan bakteriosin yang dapat menekan pertumbuhan &#13;
bakteri patogen serta menjaga keseimbangan mikroflora usus. Kombinasi kedua &#13;
bakteri tersebut memberikan efek sinergis dalam meningkatkan efisiensi &#13;
metabolisme nutrien dan kesehatan saluran pencernaan. Pada morfologi usus, dosis &#13;
(P2) menghasilkan tinggi vili tertinggi (1175,39 µm), sedangkan dosis (P3) &#13;
menunjukkan peningkatan jumlah bakteri asam laktat (BAL) dan penurunan &#13;
populasi E. coli patogen, meskipun pada dosis berlebihan justru meningkatkan &#13;
kolesterol daging. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa &#13;
suplementasi probiotik kombinasi Lactococcus lactis dan Bacillus licheniformis &#13;
dalam ransum mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan, meningkatkan &#13;
energi metabolis, memperbaiki struktur morfologi usus, menyeimbangkan &#13;
mikroflora saluran pencernaan, serta meningkatkan nilai ekonomi produksi ayam &#13;
broiler. Dosis probiotik 106 CFU g?¹ pakan memberikan hasil terbaik pada sebagian &#13;
besar parameter yang diamati sehingga berpotensi digunakan sebagai alternatif &#13;
pengganti AGP yang lebih aman dan berkelanjutan dalam sistem produksi ayam &#13;
broiler.; The use of probiotics in the poultry industry is becoming increasingly &#13;
important as an alternative to antibiotic growth promoters (AGPs), whose use has &#13;
been restricted due to the potential for antibiotic resistance and residues in livestock &#13;
products. Probiotics are known to improve the balance of gut microbiota, enhance &#13;
gut health, and increase nutrient utilization efficiency, ultimately improving broiler &#13;
chicken production performance. This study aims to evaluate the effect of &#13;
supplementing a combination of Lactococcus lactis and Bacillus licheniformis &#13;
probiotics in feed on growth performance, metabolic energy, intestinal morphology, &#13;
ileal microflora, meat quality, and the economic value of broiler chicken &#13;
production. A total of 300 Cobb strain broiler DOCs were raised for 35 days and &#13;
divided into three treatments: control (P1), combination of 105 CFU g?¹ probiotics &#13;
(P2), and combination of 106 CFU g?¹ probiotics (P3), with five replicates and 20 &#13;
birds each. The data were analyzed using ANOVA (Analysis of Variance) and &#13;
significant differences were tested using Duncan's multiple range test. The &#13;
parameters observed included feed intake, weight gain, feed conversion ratio &#13;
(FCR), metabolizable energy, intestinal morphology, ileal microflora, meat fat and &#13;
cholesterol content, and IOFCC analysis. The results showed that probiotic &#13;
supplementation at a dose of 106 CFU g?¹ (P3) significantly (P&lt;0.05) increased &#13;
(feed efficiency, metabolizable energy, IOFCC value) significantly compared to &#13;
other treatments The increase in feed efficiency in the probiotic treatment is related &#13;
to the ability of probiotic microorganisms to improve the digestion of nutrients in &#13;
the digestive tract. Bacillus licheniformis is known to be capable of producing &#13;
various digestive enzymes such as protease, amylase, and lipase, which help break &#13;
down complex nutrients into simpler forms that are more easily absorbed by the &#13;
intestines. Meanwhile, Lactococcus lactis produces lactic acid and bacteriocin, &#13;
which can suppress the growth of pathogenic bacteria and maintain the balance of &#13;
intestinal microflora. The combination of these two bacteria has a synergistic effect &#13;
in improving nutrient metabolism efficiency and digestive tract health. In terms of &#13;
intestinal morphology, dose (P2) produced the highest villi height (1175.39 µm), &#13;
while dose (P3) showed an increase in the number of lactic acid bacteria (LAB) and &#13;
a decrease in the population of pathogenic E. coli, although excessive doses actually &#13;
increased meat cholesterol. Overall, the results of this study indicate that &#13;
supplementation of Lactococcus lactis and Bacillus licheniformis probiotics in feed &#13;
can improve feed utilization efficiency, increase metabolic energy, improve &#13;
intestinal morphology, balance the gastrointestinal microflora, and increase the &#13;
economic value of broiler chicken production. A probiotic dose of 106 CFU g?¹ feed &#13;
provided the best results for most of the parameters studied so that it has the &#13;
potential to be used as a safer and more sustainable alternative to AGP in broiler &#13;
chicken production systems.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173331</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Identifikasi keragaman Gen DQA dan Asosiasinya dengan Sifat Pertumbuhan dan Reproduksi padda Domba</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173230</link>
<description>Identifikasi keragaman Gen DQA dan Asosiasinya dengan Sifat Pertumbuhan dan Reproduksi padda Domba
Wahyuni, Raziah Sri
Gen DQA merupakan bagian dari Major Histocompatibility Complex  (MHC) Class &#13;
II yang berperan dalam sistem imun dan dilaporkan berkaitan dengan sifat &#13;
pertumbuhan dan reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis &#13;
polimorfisme gen DQA dan hubungannya dengan sifat pertumbuhan dan &#13;
reproduksi pada domba. Sebanyak 500 domba digunakan untuk mengidentifikasi &#13;
polimorfisme gen DQA yang terdiri dari 300 anak domba hasil persilangan Garut &#13;
× Garut (GG), Dorper × Garut (DG), Batur × Garut (BG), dan Suffolk × Garut (SG) &#13;
untuk sifat pertumbuhan dan 200 domba betina Garut untuk sifat reproduksi. &#13;
Analisis deskriptif dilakukan untuk memberikan gambaran karakteristik data sifat &#13;
produksi dan reproduksi pada populasi domba. Identifikasi polimorfisme gen DQA &#13;
(g.255889636 C&gt;G ) dilakukan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction&#13;
Restriction Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP) dengan enzim restriksi &#13;
Eco53k1. Analisis asosiasi gen DQA dengan sifat pertumbuhan dan reproduksi &#13;
menggunakan General Linear Model (GLM). Hasil analisis deskriptif &#13;
menunjukkan bahwa rata-rata bobot lahir dan bobot sapih domba Indonesia masing&#13;
masing sebesar 2,6±0,04 kg dan 13,06 ± 0,21 kg. Persilangan GG menunjukkan &#13;
performa pertumbuhan tertinggi baik pada bobot lahir maupun bobot sapih &#13;
dibandingkan DG, BG, dan SG.  Rata-rata litter size adalah 1,87 ± 0,06 ekor, &#13;
menunjukkan tingkat kelahiran kembar yang tinggi pada populasi yang diamati. &#13;
Mortalitas anak domba tercatat sebesar 31,5 ± 2,9 %, sedangkan pregnancy rate &#13;
mencapai 87 ± 1,58 %, mencerminkan efisiensi reproduksi yang relatif baik pada &#13;
populasi domba yang diamati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen DQA &#13;
bersifat polimorfik yang ditandai dengan adanya tiga macam genotipe yaitu &#13;
genotipe CC (n = 328 ; 66 %), genotipe CG (n = 120 ; 24 %), dan genotipe GG (n &#13;
= 52 ; 10 %).  Keragaman genotipe gen DQA tidak berada dalam kesetimbangan &#13;
Hardy-Weinberg. Hasil analisis menunjukkan bahwa gen DQA (g.255889636 &#13;
C&gt;G) secara nyata berasosiasi (P&lt;0,05) terhadap bobot lahir (P&lt;0,05), dimana &#13;
domba dengan genotipe CG memiliki bobot badan yang lebih tinggi dibandingkan &#13;
genotipe CC dan GG untuk sifat pertumbuhan. Tetapi tidak ditemukan efek &#13;
signifikan terhadap bobot sapih, pregnancy rate, litter size, dan mortalitas (P&gt;0,05) &#13;
pada populasi domba yang diamati. Penelitian ini memberikan wawasan baru &#13;
mengenai peran gen DQA dalam sifat-sifat pertumbuhan, khususnya berat lahir, &#13;
serta potensinya sebagai penanda genetik untuk seleksi domba yang tumbuh cepat.; The DQA gene is part of the Major Histocompatibility Complex (MHC) class II &#13;
and plays a role in the immune system and it has been reported to be associated with &#13;
growth and reproductive traits. This study aims to analyze DQA gene &#13;
polymorphisms and their association with growth and reproductive traits in sheep. &#13;
A total of 500 sheep were used to identify DQA gene polymorphisms, comprising &#13;
300 lambs from Garut×Garut (GG), Dorper×Garut (DG), Batur×Garut (BG), and &#13;
Suffolk×Garut (SG) crosses for growth traits and 200 Garut ewes for reproductive &#13;
traits. Descriptive analysis was conducted to provide an overview of the &#13;
characteristics of production and reproductive trait data in the sheep population. &#13;
Identification of DQA gene polymorphisms (g.255889636 C&gt;G) was performed &#13;
using the polymerase chain reaction-restriction fragment length polymorphism &#13;
(PCR-RFLP) method with the Eco53k1 restriction enzyme. Analysis of the &#13;
association between the DQA gene and growth and reproductive traits used the &#13;
General Linear Model (GLM). The results of the descriptive analysis show that the &#13;
average birth weight and weaning weight of Indonesian sheep were 2.6 ± 0.04 kg &#13;
and 13.06 ± 0.21 kg, respectively. The GG crossbreed exhibited the highest growth &#13;
performance in terms of both birth weight and weaning weight compared to the DG, &#13;
BG, and SG crossbreeds. The average litter size was 1.87 ± 0.06 lambs, indicating &#13;
a high rate of twin births in this population. The lamb mortality rate was recorded &#13;
at 31.5±2.9%, while the pregnancy rate reached 87±1.58%, reflecting relatively &#13;
good reproductive efficiency in the observed sheep population. The results of the &#13;
study indicate that the DQA gene is polymorphic, characterized by the presence of &#13;
three genotypes: the CC genotype (n=328; 66%), the CG genotype (n=120; 24%), &#13;
and the GG genotype (n=52; 10%). The genotype diversity of the DQA gene is not &#13;
in Hardy-Weinberg equilibrium. Analysis results indicate that the DQA gene &#13;
(g.255889636 C&gt;G) is significantly associated (P&lt;0.05) with birth weight (P&lt;0.05), &#13;
where sheep with the CG genotype have higher body weight compared to the CC &#13;
and GG genotypes regarding growth traits. However, no significant effects were &#13;
found on weaning weight, pregnancy rate, litter size, and mortality (P &gt; 0.05) in the &#13;
observed sheep population. This study provides new insights into the role of the &#13;
DQA gene in growth traits, particularly birth weight, as well as its potential as a &#13;
genetic marker for the selection of fast-growing sheep.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173230</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Karakteristik Morfologi dan Produksi Nutrien Enam Varietas Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) sebagai Hijauan Pakan di Wilayah Tropis</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173215</link>
<description>Karakteristik Morfologi dan Produksi Nutrien Enam Varietas Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) sebagai Hijauan Pakan di Wilayah Tropis
Fauzan, Abdul Zumar
Rendahnya produktivitas dan kualitas hijauan pakan menjadi kendala utama dalam sektor peternakan, terutama pada daerah tropis yang memiliki karakteristik agroklimat yang beragam. Hijauan potensial dalam menjaga produktivitas ternak ruminansia secara berkelanjutan yaitu Pennisetum purpereum atau dikenal dengan ‘Rumput Gajah’. Rumput gajah memiliki tantangan karena struktur rumpunnya kompleks, jumlah anakan yang banyak, dan terus bertambah. Hal ini berbeda dengan tanaman seperti jagung atau sorgum yang secara anakan lebih sederhana dan mudah diatur oleh mesin. Penelitian varietas rumput gajah yang berbeda perlu diarahkan untuk menemukan varietas mana yang paling efisien secara keseluruhan yaitu; biomassa tinggi, produksi nutrien tinggi, mudah dikelola, dan mendukung mekanisasi pemanfaatan batang untuk bioenergi. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan membandingkan karakteristik morfologi serta kualitas enam varietas rumput gajah sebagai hijauan pakan di wilayah tropis, dan dasar informasi pengembangan rumput rumput gajah unggul di Indonesia. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan parameter meliputi variabel morfologi, produktivitas, produksi biomassa, kualitas nutrien, dan produksi nutrien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Pakchong-2 memiliki perbedaan signifikan (P&lt;0.05) pada panjang tanaman, diameter batang, panjang daun, lebar daun, produksi biomassa, dan produksi nutrien. Pakchong-1 memiliki jumlah helai daun yang lebih banyak, Gama Umami memili warna daun lebih hijau dan jumlah anakan yang lebih banyak dan Biograss memiliki panjang batang yang lebih tinggi. Dari segi produksi nutrien, varietas Pakchong-2 memiliki perbedaan nyata (p&lt;0,05) dari varietas lain. Simpulan bahwa varietas Pakchong-2 potensial dikembangkan sebagai hijauan pakan unggul berbasis biomassa dan produksi nutrien tinggi pada kondisi media tanam terbatas.&#13;
&#13;
Kata Kunci: Hijauan, Morfologi, Pakchong, Pennisetum purpureum, Produksi; Low productivity and poor forage quality are major challenges in the livestock sector, particularly in tropical regions with diverse agroclimatic conditions. A promising forage for sustaining the productivity of ruminant livestock is Pennisetum purpureum, commonly known as “elephant grass.” Elephant grass poses challenges due to its complex clump structure, numerous tillers, and continuous growth. This differs from crops like corn or sorghum, which have simpler tillering patterns and are easier to manage with machinery. Research on different Elephant Grass varieties should focus on identifying which variety is most efficient overall—that is, high in biomass, high in nutrient production, easy to manage, and supportive of mechanized utilization of the stems for bioenergy. This study aims to analyze and compare the morphological characteristics and quality of six elephant grass varieties as forage in tropical regions, and to provide a basis for the development of superior elephant grass varieties in Indonesia. The study employed a completely randomized design with parameters including morphological variables, productivity, biomass production, nutrient quality, and nutrient yield. The results showed that the Pakchong-2 variety exhibited significant differences (P&lt;0.05) in plant height, stem diameter, leaf length, leaf width, biomass production, and nutrient production. Pakchong-1 had a higher number of leaves, Gama Umami had greener leaves and a higher number of tillers, and Biograss had a taller stem. In terms of nutrient production, the Pakchong-2 variety showed a significant difference (p&lt;0.05) compared to the other varieties. It is concluded that the Pakchong-2 variety has potential for development as a superior forage crop based on high biomass and nutrient production under limited growing media conditions.&#13;
&#13;
Keywords: Forage, Morphology, Pakchong, Pennisetum purpureum, Production
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173215</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
