<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>MT - Fisheries</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73</link>
<description/>
<pubDate>Thu, 16 Apr 2026 02:22:36 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-16T02:22:36Z</dc:date>
<item>
<title>Strategi Pengelolaan Perikanan Tembang Putih (Escualosa thoracata) di Perairan Pesisir Kabupaten Cirebon.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172928</link>
<description>Strategi Pengelolaan Perikanan Tembang Putih (Escualosa thoracata) di Perairan Pesisir Kabupaten Cirebon.
Supriyadi
Ikan tembang putih (Escualosa thoracata) merupakan salah satu jenis ikan pelagis kecil yang berperan penting dalam mendukung perikanan pesisir di perairan utara Pulau Jawa. Namun, informasinya masih sangat sedikit. Mengingat nilai ekologis dan ekonominya yang tinggi, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis stok perikanan tembang putih (E.  thoracata) menggunakan Spawning Potential Ratio (SPR), menganalisis sosial dan kelembagaan perikanan tembang putih, dan merumuskan strategi pengelolaan perikanan ikan tembang putih (E. thoracata) di Kabupaten Cirebon. Strategi tersebut disusun dengan mengintegrasikan tiga indikator spesifik, yaitu kondisi terkini perikanan yang mencakup parameter biologis, karakteristik daerah penangkapan, dan aspek sosial dan kelembagaan perikanan. &#13;
Pengumpulan data dilakukan pada periode Desember 2024 hingga Agustus 2025 di beberapa lokasi, mulai dari Estuari Bungko Lor hingga Estuari Cisanggarung. Data diperoleh dari lokasi penangkapan ikan, desa-desa nelayan di sekitarnya, serta lembaga pengelola terkait, yang melibatkan masyarakat nelayan dan para pemangku kepentingan. Penelitian ini menggunakan metode analisis yang berbeda untuk setiap indikator. Status biologis dianalisis menggunakan pendekatan Spawning Potential Ratio (SPR). Aspek sosial dan kelembagaan dinilai menggunakan analisis skala Likert, dan analisis strategi dilakukan secara deskriptif. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai SPR sebesar 19%, berada di bawah ambang batas minimum yang direkomendasikan sebesar 20% untuk menjaga keberlanjutan rekrutmen.  Kondisi ini mengindikasikan bahwa stok ikan tembang putih di perairan Cirebon berada dalam tekanan dan berpotensi mengalami penurunan kapasitas reproduksi. Hasil analisis spasial dan temporal menunjukkan bahwa aktivitas penangkapan yang lebih berkelanjutan dibanding yang lain ditemukan di sekitar estuari Bungko Lor dan Cisanggarung pada bulan Mei dan Agustus, khususnya pada kedalaman 6–7 meter. Dari aspek sosial, nelayan ikan tembang putih memperoleh skor 62,4 (kategori tinggi), sedangkan kinerja kelembagaan pengelolaan perikanan memperoleh skor 57,9 (kategori sedang), menunjukkan masih adanya celah dalam tata kelola. &#13;
Rekomendasi strategi pengelolaan, antara lain dengan penerapan zonasi pemanfaatan dan konservasi di kawasan estuari untuk melindungi habitat penting, penguatan kegiatan penyuluhan dan pelatihan bagi nelayan guna mendorong praktik penangkapan yang berkelanjutan, serta peningkatan sistem pencatatan dan pengelolaan data perikanan skala kecil guna mendukung proses pemantauan dan pengambilan keputusan. Implementasi strategi ini diharapkan mampu menyeimbangkan aspek keberlanjutan ekologi, kelayakan ekonomi, dan dimensi  sosial, sehingga mendukung terciptanya pengelolaan perikanan tembang putih yang berkelanjutan di Kabupaten Cirebon.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172928</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Dampak Musim Hujan terhadap Fitoplankton, Respons Imun, dan Kinerja Produksi Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) pada Tambak Intensif.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172891</link>
<description>Dampak Musim Hujan terhadap Fitoplankton, Respons Imun, dan Kinerja Produksi Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) pada Tambak Intensif.
Prakarsa, Rizki Gencar
Tantangan dalam budidaya udang vaname salah satunya adalah musim&#13;
hujan. Musim hujan memberikan dampak negatif terhadap kualitas air di tambak,&#13;
di mana fluktuasi parameter lingkungan menyebabkan ketidakstabilan komunitas&#13;
fitoplankton. Ketidakstabilan tersebut dapat menurunkan respons imun udang dan&#13;
kinerja produksinya. Fitoplankton memiliki peran penting dalam menjaga&#13;
keseimbangan ekosistem tambak. Perubahan dominansi fitoplankton yang terjadi&#13;
secara ekstrem dan terus-menerus setiap minggunya dapat meningkatkan risiko&#13;
penyakit, karena keseimbangan antara lingkungan, patogen, dan inang menjadi&#13;
tidak stabil. Akibatnya, performa produksi udang pun cenderung menurun.&#13;
Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak musim hujan terhadap&#13;
fitoplankton, respons imun, dan kinerja produksi udang vaname (Litopenaeus&#13;
vannamei) pada tambak intensif. Penelitian dilaksanakan di tambak udang&#13;
Malingping selama satu siklus produksi yang dilakukan secara non eksperimental&#13;
dengan pendekatan observasi lapangan. Lokasi pengamatan terdiri atas enam&#13;
petak tambak. Pengambilan sampel air dilakukan sebanyak empat titik dan&#13;
digabung secara komposit pada setiap petak tambak. Sampel fitoplankton diambil&#13;
menggunakan plankton net berukuran 15 µm dengan metode pasif sebanyak 30&#13;
liter. Sampel disimpan pada botol HDPE, dan diawetkan dengan menggunakan&#13;
H2SO4 ataupun lugol. Pengambilan darah udang dilakukan sebanyak 20 ekor per&#13;
petak tambak menggunakan syringe 1 mL yang diencerkan dengan antikoagulan&#13;
1:2, lalu dimasukkan ke dalam microtube. Semua sampel tersebut dimasukkan ke&#13;
dalam coolbag.&#13;
Data yang diperoleh di antaranya yaitu curah hujan, kemudian kualitas air&#13;
(fisika, kimia, dan biologi), lalu metrik stabilitas fitoplankton (turnover, mean&#13;
rank abundance (MRA), synchrony, dan stability), kemudian struktur komunitas&#13;
fitoplankton (kelimpahan, keragaman, keseragaman, dan dominansi), lalu respons&#13;
imun udang (total haemocyte count (THC), aktivitas fagositik (AF), respiratory&#13;
burst (RB), dan phenoloxidase (PO)), kemudian kinerja produksi (average daily&#13;
growth (ADG), average body weight (ABW), kematian udang, survival rate (SR),&#13;
dan feed conversion ratio (FCR)). Analisis yang digunakan yaitu regresi panel&#13;
dengan menggunakan common effect model (CEM), lalu dilakukan eksplorasi&#13;
menggunakan principal component analysis (PCA) dan analisis klaster k-means.&#13;
Hasil regresi yang tidak memenuhi uji asumsi, dilakukan transformasi logaritmik,&#13;
akar kuadrat (SQRT), ataupun box-cox, lalu jika tetap tidak memenuhi uji asumsi&#13;
maka dilakukan robust standard errors.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa musim hujan dengan status curah&#13;
hujan yang tinggi (300-500 mm bulan-1), memiliki dampak yang besar terhadap&#13;
kestabilan kualitas air, fitoplankton, respons imun, dan kinerja produksi, hal&#13;
tersebut terjadi selama penelitian dari day of culture (DOC) 0 sampai 70.&#13;
Parameter seperti suhu, salinitas, kecerahan, total ammonia nitrogen (TAN), nitrit,&#13;
total organic matter (TOM) berada di luar batas optimal budidaya udang. Selama&#13;
sembilan kali pengambilan sampel, kelimpahan fitoplankton didominasi oleh&#13;
kelas yang berbeda-beda, di mana Cyanophyceae menjadi kelas yang sering&#13;
mendominasi tiap sampling, walaupun keberadaannya juga sempat tergantikan&#13;
oleh jenis yang lain. Nilai Turnover dan MRA fitoplankton memiliki nilai yang&#13;
tinggi, hal tersebut menunjukkan rendahnya stabilitas fitoplankton. Synchrony&#13;
memiliki nilai rata-rata sebesar 0,37, yang artinya beberapa spesies merespons&#13;
perubahan lingkungan yang berbeda-beda. Hasil stability sebesar satu juga tidak&#13;
baik pada petak tambak. Hasil pengukuran respons imun, termasuk THC, AF, RB,&#13;
dan PO, menunjukkan tren penurunan seiring mendekati DOC 70. Selain itu, nilai&#13;
ADG yang diperoleh sempat rendah, disertai dengan tingginya angka kematian&#13;
udang di waktu akhir budidaya. Nilai FCR berada di atas 1,4 di semua kolam,&#13;
sedangkan SR kurang dari 46%. Hasil ini diduga karena dampak dari paparan&#13;
toksin yang berasal dari fitoplankton kelas Cyanophyceae (Aphanizomenon sp.,&#13;
Anabaena sp., dan Trichodesmium sp.), walaupun hal tersebut perlu dikaji lebih&#13;
lanjut berdasarkan hasil penelitian ilmiah melalui uji toksisitas toksin BGA&#13;
terhadap respons imun udang dan kinerja produksinya pada skala laboratorium.&#13;
Hasil regresi panel (Y = kelimpahan fitoplankton ; X = kualitas air)&#13;
dengan transformasi logaritmik menunjukkan bahwa alkalinitas total, TVC, TBV,&#13;
dan nitrat berpengaruh signifikan positif (a = 0,05), sedangkan DO berpengaruh&#13;
signifikan negatif terhadap kelimpahan fitoplankton (a = 0,05), dengan R-squared&#13;
sebesar 58% dan p-value sebesar 1,53 x 10-7, selanjutnya regresi panel (Y = THC;&#13;
X = fitoplankton) dengan SQRT dan robust standard errors menunjukkan bahwa&#13;
kelimpahan dan keragaman berpengaruh signifikan negatif (a = 0,05), dengan Rsquared&#13;
sebesar 55% dan p-value sebesar 7 x 10-9, serta regresi panel (Y = ADG ;&#13;
X = respons imun udang) dengan transformasi box-cox dan robust standard errors&#13;
menunjukkan bahwa THC berpengaruh signifikan negatif (a = 0,05), dengan Rsquared&#13;
sebesar 76% dan p-value sebesar &lt; 2,22 x 10-16. Sementara itu, hasil&#13;
regresi panel (Y = Jumlah kematian udang; X = respons imun udang)&#13;
menggunakan transformasi box-cox dan robust standard errors menunjukkan&#13;
bahwa THC dan RB berpengaruh signifikan negatif (a = 0,05), dengan R-squared&#13;
sebesar 82% dan p-value sebesar &lt; 2,22 x 10-16. Semua model dalam analisis&#13;
regresi panel menggunakan CEM, karena hasil uji Chow dan Lagrange Multiplier&#13;
tidak signifikan. Hasil PCA menunjukkan bahwa variabel yang menjadi&#13;
komponen utama selama musim hujan di antaranya yaitu suhu, pH siang, salinitas,&#13;
TAN, kecerahan, keragaman, dominansi, MRA, THC, AF, size, dan ABW, hal&#13;
tersebut berdasarkan nilai eigenvector yang dominan pada masing-masing&#13;
variabel terhadap sumbu utama yang terbentuk. Hasil biplot PCA menunjukkan&#13;
bahwa kematian udang yang tinggi dimulai saat DOC 42, hal tersebut juga&#13;
didukung dengan hasil analisis klaster k-means yang terbagi atas dua klaster&#13;
berdasarkan uji dengan metode silhouette, di mana klaster satu terdiri dari DOC&#13;
10 hingga 33, sedangkan klaster dua terdiri atas DOC 42 hingga 70. Penelitian ini&#13;
menunjukkan bahwa musim hujan memiliki dampak yang negatif terhadap&#13;
kondisi fitoplankton, respons imun, dan kinerja produksi udang vaname pada&#13;
tambak intensif.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172891</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Optimasi Ekstraksi Fikoeritrin dari Kappaphycus alvarezii menggunakan Ultrasonikasi dengan Pendekatan Response Surface Methodology (RSM)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172845</link>
<description>Optimasi Ekstraksi Fikoeritrin dari Kappaphycus alvarezii menggunakan Ultrasonikasi dengan Pendekatan Response Surface Methodology (RSM)
Iwada, Marwah
Pemanfaatan Kappaphycus alvarezii di Indonesia masih berfokus pada &#13;
produksi karaginan, sehingga pigmen bernilai tinggi misalnya R-fikoeritrin (R-PE) berpotensi terbuang selama pengolahan. Pigmen R-PE merupakan protein pigmen larut air yang bernilai untuk pewarna alami dan komponen antioksidan, namun ekstraksinya memerlukan strategi ekstraksi yang efektif karena terperangkap dalam matriks dinding sel kaya gel karaginan serta sensitif terhadap kondisi proses. Penelitian ini bertujuan menentukan kondisi optimum ekstraksi R-PE dari biomassa basah K. alvarezii menggunakan ultrasound-assisted extraction (UAE) melalui Response Surface Methodology (RSM)–Central Composite Design (CCD) pada variasi suhu, waktu, dan rasio pelarut terhadap padatan biomassa (LSR), dengan tetap mengendalikan kadar karaginan yang terekstrak (carrageenan yield; CY) sebagai indikator kehilangan karaginan dari biomassa. Optimasi dilakukan menggunakan CCD sebanyak 20 run dengan tiga faktor, yaitu suhu 13–47 °C, waktu 20–70 menit, dan LSR 2–18 v/b. Respons yang dianalisis meliputi konsentrasi R-PE (R-PEC), yield R-PE (R-PEY), indeks kemurnian R-PE (R-PEPI), serta kadar karaginan yang terekstrak (CY). Kondisi optimum ditetapkan menggunakan fungsi desirability, kemudian diverifikasi secara eksperimental dan dibandingkan dengan UAE kontrol serta maserasi. Ekstrak terpilih kemudian dimurnikan melalui presipitasi amonium sulfat 60% dan dialisis, lalu dievaluasi spektrum UV–Vis, warna CIELAB, profil protein SDS-PAGE, aktivitas antioksidan (ABTS dan DPPH), serta residu pasca-ekstraksi. Kondisi optimum diperoleh pada 20 °C, 30 menit, dan LSR 12 v/b dengan desirability 0,822; seluruh respons hasil verifikasi berada pada selang kepercayaan 95% sehingga model dinyatakan valid. Kondisi UAE optimum menghasilkan ekstrak kasar terbaik dengan R-PEC 0,028 mg/mL, R-PEY 0,334 mg/g, dan R-PEPI 0,250. Setelah pemurnian, fraksi R-PE mencapai R-PEC 1,833 mg/mL, R-PEPI 0,666, dan recovery 72,65%, serta menunjukkan aktivitas antioksidan paling kuat (IC50 ABTS 13,77 µg/mL; IC50 DPPH 21,12 µg/mL). Residu kering tidak berbeda nyata antar metode (8–9 g/100 g biomassa basah), menandakan UAE teroptimasi tidak menyebabkan kehilangan biomassa struktural berlebih. Temuan ini menunjukkan UAE teroptimasi efektif menghasilkan R-PE berkualitas lebih baik dalam waktu singkat, sekaligus menyisakan residu yang berpotensi untuk pemanfaatan lanjutan.; Indonesia’s utilization of Kappaphycus alvarezii remains largely centered on carrageenan production, which may result in the loss of high-value pigments, such as R-phycoerythrin (R-PE), during processing. R-PE is a water-soluble chromoprotein with considerable value as a natural colorant and antioxidant ingredient; however, its extraction requires an effective strategy because the pigment is entrapped within a carrageenan gel-rich cell wall matrix and is sensitive to processing conditions. This study aimed to determine the optimum conditions for R-phycoerythrin (R-PE) extraction from wet K. alvarezii biomass using ultrasound assisted extraction (UAE) optimized through Response Surface Methodology (RSM) with a Central Composite Design (CCD) by varying temperature, extraction time, and the rasio-to-solid biomass ratio (LSR), while controlling the co-extracted carrageenan (carrageenan yield; CY) as an indicator of carrageenan loss from the biomass. Optimization was performed using a 20-run CCD with three factors: temperature (13–47 °C), extraction time (20–70 min), and LSR (2–18 v/b). The evaluated responses included R-PE concentration (R-PEC), R-PE yield (R-PEY), R-PE purity index (R-PEPI), and CY. The optimum condition was identified using a desirability function, experimentally verified, and compared with the UAE control and maceration. The selected extract was subsequently purified by 60% ammonium sulfate precipitation, followed by dialysis, and further characterized in terms of UV–Vis spectra, CIELAB color parameters, SDS–PAGE protein profile, antioxidant activity (using the ABTS and DPPH assays), and post-extraction residues. The optimum condition was obtained at 20 °C, 30 min, and LSR 12 v/b, with a desirability of 0.822; all verified responses fell within the 95% confidence interval, confirming the model's validity. Under optimal UAE conditions, the best crude extract was obtained, with an R-PEC of 0.028 mg/mL, an R-PEY of 0.334 mg/g, and an R-PEPI of 0.250. After purification, the R-PE fraction reached an R-PEC of 1.833 mg/mL and an R-PEPI of 0.666, with a recovery of 72.65%, and exhibited the strongest antioxidant activity (IC50 ABTS 13.77 µg/mL; IC50 DPPH 21.12 µg/mL). The dry residue did not differ significantly among extraction methods (8–9 g/100 g wet biomass), indicating that optimized UAE did not cause excessive loss of structural biomass. Overall, these findings demonstrate that optimized UAE enables rapid production of higher-quality R-PE while leaving a residue that remains amenable to further valorization.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172845</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Efikasi Vaksin Inaktif Streptococcus agalactiae melalui  Metode Pemberian yang Berbeda pada Juvenil Ikan Nila Oreochromis niloticus</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172844</link>
<description>Efikasi Vaksin Inaktif Streptococcus agalactiae melalui  Metode Pemberian yang Berbeda pada Juvenil Ikan Nila Oreochromis niloticus
Sitanggang, Bertha Citra Asih Br.
Nile tilapia production in Indonesia has shown a fairly positive increase, with total production reaching 1.368 million tons in 2023. The growth amounted to 5,13% over the period from 2020 to 2025. However, the presence of streptococcosis caused by Streptococcus agalactiae in aquaculture remains a persistent issue in the industry. This disease manifests clinical symptoms observable through physiological and behavioral changes, primarily affecting the brain and eyes. The infection triggers severe clinical signs such as swimming disorientation (whirling), cloudy eyes (purulens), bulging eyes (exophthalmia), and abdominal swelling (dropsy), ultimately leading to mass mortality and significant economic losses. &#13;
Vaccination is considered a safe and effective control strategy to induce adaptive immunity by establishing long-term immunological memory. Among the various vaccine types studied, formalin-killed inactivated vaccines have emerged as a popular choice due to several advantages, including ease of production, affordability, and enhanced safety. The effectiveness of vaccine performance is influenced by the administration method, which requires optimization, particularly for juvenile fish. This study aims to evaluate the efficacy of an inactivated S. agalactiae vaccine delivered via different administration routes in juvenile Nile tilapia by analyzing immune responses and protection levels post-challenge.&#13;
This study employed a completely randomized design with six treatments: intraperitoneal injection (IP), intramuscular injection (IM), immersion (I), oral administration (O), negative control (KN), and positive control (KP). Juvenile Nile tilapia (Oreochromis niloticus) with an initial weight of 10.53 ± 0.23 g and length of 8.71 ± 0.11 cm were used. The inactivated S. agalactiae vaccine was prepared using formalin at a concentration of 1% of the total culture volume. Prior to use, the vaccine was confirmed to be safe through viability testing on Brain Heart Infusion Agar (BHIA) and injection into healthy tilapia. The IP, IM, I, and O groups received their initial vaccination on day 0, followed by an oral booster vaccination on day 28. During the vaccination period, fish were maintained in 1×1×1 m³ hapas in the outdoor pond (Kolam Percobaan FPIK IPB) with a stocking density of 50 fish per hapa. On day 56, all groups except KN were challenged with the pathogenic S. agalactiae at dose 104 CFU per fish and observed for 14 days. Measured parameters included specific growth rate (SGR), survival rate (SR), relative percent survival (RPS), hematological profile (total erythrocyte and leukocyte counts, and phagocytic activity), antibody levels, and the expression of immune-related genes TNF-a and MHC-IIß.&#13;
The study results indicate that all vaccination methods significantly enhanced growth performance, with the highest specific growth rates observed in the oral (O) (2.93% per day) and intraperitoneal (IP) (2.85% per day) groups. During the vaccination period, the survival rate of all vaccinated groups remained high (&gt;95%) and did not differ significantly from the negative control. Following the challenge test, the IP and IM groups provided the highest level of protection, with relative survival rates reaching 78.57% and 75.00%. The oral and immersion groups also demonstrated significant protection compared to the positive control. &#13;
Hematological analysis revealed that vaccination, particularly via the IP and IM routes, consistently maintained total erythrocyte and leukocyte counts within the normal physiological range despite pathogenic S. agalactiae infection. Phagocytic activity increased from day 14 post-vaccination, with the highest values recorded in the IP group during the challenge period. Antibody titers began testing positive on day 42 and peaked after the challenge, with the IP group again exhibiting the highest levels. The regulation of TNF-a and MHC-IIß genes in kidney tissue significantly increased 24 hours post-challenge across all vaccinated groups. The highest upregulation of the TNF-a gene was observed in the IM treatment (7.22 fold), while the highest upregulation of the MHC-IIß gene was recorded in the IP treatment (3.68-fold).&#13;
Based on these results, it can be concluded that all administration methods of the inactivated S. agalactiae vaccine significantly enhance both nonspecific and specific immune responses and confer protection against pathogenic S. agalactiae infection in juvenile Nile tilapia. However, the intraperitoneal injection method combined with an oral booster yielded the most optimal protective effect, as reflected by the highest relative survival rate, antibody response, and immune gene activation. The practical implication of this study is the recommendation to implement a primary vaccination strategy via intraperitoneal injection followed by an oral booster in fish health management programs for aquaculture.; Produksi ikan nila di Indonesia mengalami kenaikan yang cukup baik dengan total produksi 1,368 juta ton pada tahun 2023. Kenaikan terjadi sebesar 5,13% dalam kurun waktu tahun 2020 hingga 2025. Namun, keberadaan penyakit streptococcosis yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus agalactiae dalam budidaya masih menjadi masalah dalam industri ini. Penyakit ini menimbulkan gejala klinis yang dapat dilihat dari perubahan fisiologi dan tingkah laku yang berfokus menyerang organ otak serta mata. Infeksi bakteri ini memicu gejala klinis seperti disorientasi gerak (whirling), mata berkabut (purulens), menonjol (exophthalmia), serta pembengkakan tubuh (dropsy), yang akhirnya menyebabkan mortalitas massal dan kerugian ekonomi signifikan.&#13;
Vaksinasi dinilai sebagai strategi pengendalian yang aman dan efektif untuk menginduksi kekebalan adaptif dengan membentuk memori jangka panjang. Dari banyaknya jenis vaksin yang telah diteliti, vaksin yang dimatikan dengan formalin (formalin-killed inactivated vaccine) menjadi pilihan yang populer dengan beberapa keunggulan seperti mudah dibuat, harga terjangkau, dan lebih aman. Efektivitas kinerja vaksin dipengaruhi oleh metode pemberian yang perlu dioptimalkan terutama untuk ikan ukuran pendederan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efikasi vaksin inaktif S. agalactiae melalui metode pemberian vaksin yang berbeda pada juvenil ikan nila melalui analisis respons imun dan tingkat perlindungan pasca uji tantang.&#13;
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan enam perlakuan yaitu injeksi intraperitoneal (IP), injeksi intramuscular (IM), perendaman atau imersi (I), oral melalui pakan (O), kontrol negatif (KN) dan kontrol positif (KP). Juvenil ikan nila (Oreochromis niloticus) yang digunakan memiliki bobot awal 10,53 ± 0,23 g dan panjang 8,71 ± 0,11 cm. Pembuatan vaksin inaktif S. agalactiae menggunakan formalin sebanyak 1% dari total volume biakan. Sebelum digunakan, vaksin sudah dipastikan aman dengan uji viabilitas pada media Brain Heart Infusion Agar (BHIA) dan penyuntikan ke ikan nila sehat. Kelompok IP, IM, I, dan O divaksinasi pada hari ke-0 lalu dilanjutkan vaksinasi booster oral pada hari ke-28. Selama periode vaksinasi, ikan dipelihara di hapa 1×1 ×1 m3 pada Kolam Percobaan FPIK IPB dengan padat tebar 50 ekor per hapa. Pada hari ke-56, seluruh kelompok kecuali KN diuji tantang dengan bakteri patogen kepadatan 104 CFU per ikan, dan diamati selama 14 hari. Parameter yang diukur meliputi laju pertumbuhan spesifik (LPS), kelangsungan hidup (KH), kelangsungan hidup relatif (KHR), gambaran darah (total eritrosit dan leukosit, dan aktivitas fagositosis), level antibodi, serta ekspresi gen imunitas TNF-a dan MHC-IIß.&#13;
Hasil penelitian menunjukan bahwa semua metode vaksinasi mampu meningkatkan kinerja pertumbuhan secara signifikan, dengan laju pertumbuhan spesifik tertinggi pada perlakuan O (2,93% per hari) dan IP (2,85% per hari). Selama periode pemeliharaan, kelangsungan hidup semua kelompok vaksinasi tetap tinggi (&gt;95%) dan tidak berbeda dengan kontrol negatif. Pasca uji tantang, perlakuan IP dan IM memberikan perlindungan tertinggi dengan kelangsungan hidup relatif mencapai 78,57% dan 75,00%. Kelompok oral dan imersi juga menunjukan proteksi yang signifikan dibanding kontrol positif.&#13;
Analisis gambaran darah mengungkapkan bahwa vaksinasi, khususnya melalui IP dan IM, secara konsisten mempertahankan total eritrosit dan leukosit dalam kisaran fisiologis normal meskipun terjadi infeksi. Aktivitas fagositosis meningkat sejak hari ke-14 pasca vaksinasi, dengan nilai tertinggi pada kelompok IP selama masa uji tantang. Level antibodi mulai terdeteksi bernilai positif pada hari ke-42 dan mencapai puncak setelah uji tantang dengan kelompok IP kembali mencatat level tertinggi. Regulasi gen TNF-a dan MHC-IIß di jaringan ginjal meningkat secara nyata 24 jam pasca tantang pada semua kelompok vaksinasi. Peningkatan regulasi tertinggi untuk gen TNF-a diamati pada perlakuan IM (7,22 kali lipat), sedangkan untuk MHC-IIß tertinggi pada perlakuan IP (3,68 kali lipat).&#13;
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa semua metode pemberian vaksin inaktif S. agalactiae secara signifikan meningkatkan respons imun non spesifik dan spesifik serta memberikan proteksi terhadap infeksi S. agalactiae patogenik pada juvenil ikan nila. Namun, metode injeksi intraperitoneal yang dikombinasikan dengan booster oral menghasilkan efek protektif paling optimal, yang tercermin dari nilai kelangsungan hidup relatif, respons antibodi, dan aktivasi gen imunitas, Implikasi praktis dari penelitian ini adalah rekomendasi untuk menerapkan strategi vaksinasi pertama melalui injeksi diikuti booster oral dalam program kesehatan ikan skala budidaya.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172844</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
