<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>MF - Fisheries</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73</link>
<description/>
<pubDate>Fri, 07 Aug 2026 02:46:43 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-07T02:46:43Z</dc:date>
<item>
<title>Optimasi Produktivitas Chlorella sp. Berdasarkan Efektivitas dan Efisiensi Aplikasi Nutrien dan Karbon Dioksida (CO2) Skala Laboratorium</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177528</link>
<description>Optimasi Produktivitas Chlorella sp. Berdasarkan Efektivitas dan Efisiensi Aplikasi Nutrien dan Karbon Dioksida (CO2) Skala Laboratorium
Iskandar
Produktivitas Chlorella sp. dipengaruhi oleh parameter fisika dan kimia&#13;
dalam media kultur. Parameter yang menjadi faktor pembatas adalah ketersediaan&#13;
nutrien dan karbon dioksida (CO2). Nutrien berperan sebagai sumber unsur hara&#13;
untuk pertumbuhan sel, sedangkan CO2 berperan sebagai sumber karbon anorganik&#13;
dalam proses fotosintesis. Namun, perbedaan konsentrasi nutrien dan CO2 dapat&#13;
menghasilkan pertumbuhan sel yang berbeda, sehingga diperlukan kajian untuk&#13;
menentukan perlakuan yang sesuai. Penelitian ini bertujuan menentukan kombinasi&#13;
nutrien dan CO2 yang paling efektif dan efisien dalam meningkatkan produktivitas&#13;
Chlorella sp.&#13;
Penelitian ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu penelitian&#13;
pendahuluan, penelitian Tahap I, penelitian Tahap II, dan penelitian Tahap III.&#13;
Penelitian pendahuluan dilakukan untuk menentukan rasio nitrogen dan fosfor&#13;
(N:P) dari pupuk teknis yang paling efektif bagi pertumbuhan Chlorella sp. Sumber&#13;
nitrogen yang digunakan berasal dari pupuk Urea dan ZA, sedangkan sumber fosfor&#13;
berasal dari pupuk TSP. Parameter pertumbuhan yang diamati meliputi kelimpahan&#13;
sel, laju pertumbuhan spesifik, dan waktu penggandaan. Hasil penelitian&#13;
menunjukkan bahwa kombinasi pupuk Urea, ZA, dan TSP dengan rasio N:P 7,2:1&#13;
merupakan rasio pupuk yang paling efektif dalam mendukung pertumbuhan&#13;
Chlorella sp.&#13;
Penelitian Tahap I dilakukan untuk menentukan konsentrasi pupuk teknis&#13;
yang paling efektif berdasarkan rasio N:P terbaik dari penelitian pendahuluan.&#13;
Pengujian dilakukan dengan mengamati respons pertumbuhan Chlorella sp. Hasil&#13;
analisis menunjukkan bahwa di antara perlakuan pupuk teknis, kombinasi 203,76&#13;
mg/L ZA + 92,76 mg/L Urea + 27,48 mg/L TSP merupakan konsentrasi pupuk yang&#13;
paling efektif dalam mendukung pertumbuhan sel Chlorella sp.&#13;
Penelitian Tahap II dilakukan untuk menentukan konsentrasi CO2 yang paling&#13;
efektif dalam meningkatkan produktivitas Chlorella sp. Parameter yang diamati&#13;
meliputi kelimpahan sel, laju pertumbuhan spesifik, waktu penggandaan,&#13;
perubahan konsentrasi nutrien, dan laju fiksasi CO2. Hasil analisis menunjukkan&#13;
bahwa pemberian CO2 dengan konsentrasi 4% merupakan konsentrasi yang paling&#13;
efektif dalam meningkatkan produktivitas mikroalga.&#13;
Penelitian Tahap III dilakukan untuk menentukan kombinasi perlakuan&#13;
optimal antara konsentrasi pupuk teknis dan CO2 dalam meningkatkan&#13;
produktivitas Chlorella sp. Berdasarkan matriks pengambilan keputusan,&#13;
kombinasi 203,76 mg/L ZA + 92,76 mg/L Urea + 27,48 mg/L TSP dengan injeksi&#13;
CO2 sebesar 4% ditetapkan sebagai perlakuan optimal. Kombinasi tersebut&#13;
menunjukkan respons terbaik dibandingkan perlakuan lainnya, sehingga dapat&#13;
direkomendasikan untuk meningkatkan produktivitas sel Chlorella sp.&#13;
Kata kunci: Nutrien; Karbon Dioksida; Kelimpahan Sel; Laju Pertumbuhan&#13;
Spesifik; Pertumbuhan Mikroalga.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177528</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Tesis a.n Kyssha Alya Larasati (C4503242031)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177518</link>
<description>Tesis a.n Kyssha Alya Larasati (C4503242031)
Larasati, Kyssha Alya
Indonesia mengalami peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 38,78% pada tahun 2013 hingga 2020. Peningkatan emisi GRK berdampak signifikan terhadap pemanasan global yang memicu perubahan iklim. Aktivitas yang berkontribusi terhadap tingginya emisi GRK salah satunya adalah kegiatan penangkapan ikan. Perikanan tangkap berkontribusi secara signifikan terhadap perekonomian nasional, dengan pendapatan mencapai 2,66% pada tahun 2023, serta menjadi produsen tuna terbesar di dunia dengan produksi 1,5 juta ton atau setara dengan 19,1% pasokan global. Tingginya permintaan tuna mendorong peningkatan penangkapan melalui penambahan jumlah trip maupun unit kapal yang berdampak pada emisi GRK. Meskipun subsektor tuna memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian, aspek keberlanjutan lingkungan tetap menjadi tantangan utama.&#13;
Upaya pengendalian emisi GRK membutuhkan informasi yang akurat terkait data kuantitatif serta identifikasi hotspot, yaitu titik kritis yang paling berkontribusi terhadap dampak lingkungan. Namun, hingga saat ini analisis hotspot dalam aktivitas penangkapan ikan tuna belum teridentifikasi secara jelas. Penelitian ini bertujuan menghitung emisi GRK yang dihasilkan dari proses penangkapan ikan tuna dan mengidentifikasi hotspot untuk potential improvement proses penangkapan ikan tuna. Metode yang digunakan adalah Life Cycle Assessment (LCA) dengan pendekatan Cradle to gate sesuai standar ISO 14040:2006. Pengumpulan data meliputi verifikasi data sebelumnya, observasi langsung, dan perhitungan emisi yang mengacu pada panduan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Hasil menunjukkan bahwa pada analisis Life Cycle Inventory (LCI) untuk satu unit kapal membutuhkan bahan bakar solar 1.091 kg/tahun. Sementara itu, Life Cycle Impact Assessment (LCIA) menunjukkan bahwa bahan bakar solar teridentifikasi sebagai sumber dampak utama, dengan total beban emisi mencapai 157.497 CO2eq per kapal per tahun. Konsumsi bahan bakar solar selama aktivitas penangkapan ikan tuna teridentifikasi sebagai hotspot utama yang secara signifikan meningkatkan nilai Global Warming Potential (GWP). Tingginya emisi CO2 sebagai polutan primer dipicu oleh karakteristik kapal longline yang beroperasi di WPPNRI 573 dengan jarak tempuh jauh dari fishing base, durasi trip yang panjang, serta kebutuhan mesin utama yang bekerja terus-menerus selama proses setting dan hauling alat tangkap. Sebagai langkah mitigasi, potential improvement harus diprioritaskan pada efisiensi operasional melalui penyempurnaan lambung kapal dan penentuan jalur pelayaran yang efisien, minimisasi kebocoran sistem pendingin dengan beralih ke teknologi yang lebih ramah lingkungan, serta mengkaji ulang kebijakan yang telah ditetapkan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177518</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Efektivitas arang aktif ampas kopi dalam mitigasi paparan timbal subkronis pada ikan bawal (Colossoma macropomum)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177506</link>
<description>Efektivitas arang aktif ampas kopi dalam mitigasi paparan timbal subkronis pada ikan bawal (Colossoma macropomum)
KIAT, MUHAMAD RENALDY
Timbal (Pb) merupakan logam berat toksik yang dapat mencemari media budidaya, mengganggu kesehatan ikan, dan terakumulasi pada jaringan ikan konsumsi. Paparan Pb pada ikan dapat menurunkan fungsi respirasi, mengganggu keseimbangan fisiologis, menekan pertumbuhan, serta merusak jaringan insang dan hati. Upaya mitigasi Pb pada sistem budidaya perlu dilakukan dengan metode yang sederhana, efektif, dan dapat diterapkan langsung pada media pemeliharaan. Ampas kopi berpotensi digunakan sebagai bahan baku arang aktif karena mengandung senyawa lignoselulosa dan memiliki struktur karbon yang dapat dikembangkan menjadi adsorben logam berat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas arang aktif ampas kopi atau coffee-ground activated carbon (CGAC) dalam menurunkan bioavailabilitas Pb dan mengurangi dampak toksiknya pada ikan bawal (Colossoma macropomum) selama paparan subkronis.&#13;
Penelitian terdiri atas uji toksisitas akut Pb sebagai dasar penentuan konsentrasi subkronis dan uji subkronis dengan penambahan CGAC selama 30 hari. Uji toksisitas akut dilakukan pada juvenil ikan bawal melalui uji kisaran 0 sampai 150 mg L?¹ selama 48 jam dan uji definitif 0, 50, 65, 80, dan 95 mg L?¹ selama 96 jam. Nilai LC50-96 jam Pb sebesar 73 mg L?¹ dan digunakan sebagai dasar penetapan konsentrasi Pb subkronis 10% sebesar 7,3 mg L?¹. Selama uji akut, frekuensi gerak operkulum meningkat pada awal paparan dari 83 ± 1,25 menjadi 129 ± 1,53 kali menit?¹, kemudian menurun pada paparan lanjut di konsentrasi Pb tinggi. Gejala klinis berkembang seiring peningkatan konsentrasi dan waktu paparan, terutama berupa gangguan ventilasi, renang tidak teratur, kehilangan keseimbangan, letargi, dan mortalitas pada konsentrasi Pb tinggi.&#13;
Uji subkronis disusun menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas kontrol negatif tanpa Pb dan tanpa CGAC (K-), kontrol positif dengan Pb tanpa CGAC (K+), serta perlakuan Pb dengan penambahan CGAC pada dosis 1,5; 2,5; dan 3,5 g L?¹. Ikan dipelihara selama 30 hari dalam akuarium dengan volume air kerja 50 L dan kepadatan 20 ekor per akuarium. Parameter yang diamati meliputi kelangsungan hidup, pertumbuhan, kualitas air, Pb terlarut, akumulasi Pb pada daging, faktor biokonsentrasi, efisiensi penghilangan Pb, respons hematologi, glukosa darah, serta histopatologi insang dan hati.&#13;
Arang aktif ampas kopi yang dihasilkan memiliki rendemen 50%, kadar air 5,35%, dan kadar abu 1,90%. Nilai kadar air dan kadar abu tersebut berada di bawah batas maksimum mutu arang aktif teknis, sehingga CGAC layak digunakan sebagai adsorben dalam media budidaya. Pada uji subkronis, paparan Pb tanpa adsorben menurunkan kondisi biologis ikan. Perlakuan K+ menghasilkan kelangsungan hidup sebesar 85%, pertambahan bobot mutlak sebesar 7,24 g, dan laju pertumbuhan spesifik pada kisaran 2,11 sampai 1,75% hari?¹. Selain itu, Pb terlarut pada media K+ mencapai 2,85 mg L?¹ pada akhir pemeliharaan, sedangkan akumulasi Pb pada daging mencapai 6,92 mg kg?¹.&#13;
Penambahan CGAC mampu menurunkan Pb terlarut dan menekan akumulasi Pb pada daging ikan. Pada perlakuan CGAC, Pb terlarut pada akhir pemeliharaan berada pada kisaran 0,07 sampai 0,21 mg L?¹, sedangkan Pb pada daging berada pada kisaran 3,36 sampai 5,41 mg kg?¹. Efisiensi penghilangan Pb mencapai 96,61 sampai 98,85%. Penurunan Pb terlarut menunjukkan bahwa CGAC mampu mengurangi fraksi Pb yang tersedia di media pemeliharaan. Penurunan bioavailabilitas Pb tersebut berperan dalam memperbaiki kelangsungan hidup, pertumbuhan, respons hematologi, kadar glukosa darah, serta kondisi jaringan insang dan hati dibandingkan dengan perlakuan Pb tanpa adsorben.&#13;
Paparan Pb tanpa CGAC menyebabkan gangguan fisiologis yang ditunjukkan oleh penurunan hemoglobin dan hematokrit, peningkatan leukosit, perubahan rasio neutrofil/limfosit, serta perubahan glukosa darah. Kerusakan jaringan juga lebih jelas pada perlakuan K+, terutama pada insang dan hati. Insang menunjukkan lesi berupa edema, pengangkatan epitel, hiperplasia, fusi lamela, kongesti, pemendekan lamela sekunder, dan nekrosis. Hati menunjukkan perubahan berupa hemoragi, degenerasi inti, ruptur inti, ruptur sel, kongesti sinusoid, infiltrasi eritrosit, vakuolisasi, dan nekrosis. Penambahan CGAC menurunkan tingkat kerusakan jaringan secara bertahap, terutama pada dosis 2,5 dan 3,5 g L?¹.&#13;
Dosis CGAC 2,5 sampai 3,5 g L?¹ memberikan respons biologis terbaik. Perlakuan AK 3,5 menghasilkan kondisi ikan yang paling mendekati kontrol negatif (K-), terutama berdasarkan kelangsungan hidup, pertumbuhan, penurunan Pb terlarut, penekanan akumulasi Pb pada daging, serta perbaikan kondisi fisiologis dan histopatologis. Temuan ini menunjukkan bahwa CGAC berpotensi digunakan sebagai adsorben in-tank untuk menekan bioavailabilitas Pb dan mengurangi dampak toksik Pb pada budidaya ikan air tawar. Penerapan CGAC dapat menjadi pendekatan mitigasi sederhana berbasis limbah organik untuk mendukung pengelolaan kualitas air dan keamanan ikan konsumsi pada sistem akuakultur.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177506</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Tesis a.n David Perlindungan Gea (C1501241019)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177409</link>
<description>Tesis a.n David Perlindungan Gea (C1501241019)
Gea, David Perlindungan
Permintaan lobster air tawar  yang tinggi menyebabkan adanya peningkatan &#13;
produksi lobster hampir di seluruh belahan dunia termasuk di Indonesia. Budidaya &#13;
lobster air tawar merupakan salah satu komoditas akuakultur yang bernilai &#13;
ekonomis penting dan memiliki potensi pasar yang luas. Namun, kendala utama &#13;
dalam budidaya intensif komoditas ini adalah tingginya tingkat mortalitas yang &#13;
disebabkan oleh kegagalan proses molting serta tingginya tingkat kanibalisme, &#13;
terutama pada fase pasca-molting ketika cangkang baru masih lunak. Proses &#13;
molting dan pengerasan eksoskeleton (kalsifikasi) sangat bergantung pada &#13;
ketersediaan hara dan konsentrasi mineral makro esensial yang larut di dalam media &#13;
air, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan kalium (K). &#13;
Salah satu aspek utama dalam budidaya lobster adalah keseimbangan ion &#13;
dalam air, yang berperan dalam proses osmoregulasi dan metabolisme lobster. &#13;
Ketidakseimbangan konsentrasi ion dalam tubuh dengan lingkungan dapat memicu &#13;
stres osmotik, pertumbuhan menjadi terganggu, bahkan dapat menyebabkan &#13;
kematian Kondisi ion yang seimbang dibutuhkan dalam masa molting dan &#13;
selanjutnya dapat membantu pembentukan eksoskeleton. Defisiensi mineral&#13;
mineral tersebut tidak hanya mengganggu pembentukan cangkang baru, tetapi juga &#13;
memicu stres osmotik akibat terganggunya regulasi ionik dan fungsi osmoregulasi &#13;
biota. Manipulasi lingkungan melalui suplementasi mineral makro eksternal &#13;
menggunakan kombinasi dolomit (CaMg(CO3)2) dan kalium klorida (KCl) &#13;
merupakan salah satu solusi strategis untuk menjaga keseimbangan ionik media dan &#13;
mendukung status fisiologis lobster air tawar.  &#13;
Pemberian kombinasi mineral kalsium magnesium karbonat (CaMg(CO3)2) &#13;
dan kalium klorida (KCl) berfungsi sebagai penyedia mineral makro esensial yang &#13;
mengoptimalkan kualitas air dalam proses molting dan menjaga keseimbangan ion &#13;
didalam tubuh lobster serta mendukung keseimbangan osmoregulasi. &#13;
(CaMg(CO3)2) membantu meningkatkan kualitas air, pada alkalinitas dan &#13;
kesadahan serta  menjaga stabilitas pH, sekaligus menyediakan unsur kalsium dan &#13;
magnesium yang diperlukan untuk pembentukan eksoskeleton selama proses &#13;
molting. Di sisi lain KCl berfungsi mengatur tekanan osmotik sel serta aktivitas &#13;
enzimatis yang mendukung sistem imun dan metabolisme energi. Sinergi antara &#13;
kedua mineral ini dalam dosis yang tepat menciptakan lingkungan media yang kaya &#13;
akan ion, sehingga memudahkan organisme menyerap nutrisi mineral secara &#13;
langsung dari air. Hal ini secara efektif mampu menurunkan tingkat stres akibat &#13;
fluktuasi lingkungan, mempercepat pemulihan pasca-ganti kulit, dan meningkatkan &#13;
mortalitas yang tinggi.  &#13;
Tujuan dilakukan penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi efektivitas &#13;
kombinasi dosis mineral kalsium magnesium karbonat (dolomit) dan kalium klorida &#13;
(KCl) terhadap kualitas air, respons fisiologi, serta kinerja pertumbuhan LAT. &#13;
Penelitian dilaksanakan pada rentang bulan Mei sampai Juli 2025. LAT berukuran &#13;
Juvenil yaitu rata-rata panjang 3,48±0,06 cm dan bobot 1,14±0,08 g, pemeliharaan &#13;
laboratorium lingkungan akuakultur, IPB University. Analisis kualitas air &#13;
dilakukan di Laboratorium Lingkungan Akuakultur, Departemen Budidaya &#13;
Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, &#13;
pengamatan respon imun di Laboratorium Kesehatan Organisme Akuatik, &#13;
pengujian kalsium cangkang di laboratorium Nutrisi dan Teknologi Pakan Ikan IPB &#13;
University. Analisis Fisika Kimia pada air di Laboratorium ilmu tanah IPB &#13;
University. Analisis Fisika Kimia pada tubuh lobster di Laboratorium terpadu dan &#13;
riset unggulan IPB Baranasiang IPB University. &#13;
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 &#13;
perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari Kontrol (tanpa mineral), K+ &#13;
(CaMg(CO3)2)  40 ppm, serta perlakuan kombinasi (CaMg(CO3)2) 40 ppm dengan &#13;
dosis KCl yang berbeda: 25 mg/L-1, 50 mg/L-1, dan 75 mg/L-1. Parameter yang diuji &#13;
meliputi kualitas air (fisika-kimia), kandungan Ca, Mg dan KCl di air dan di tubuh &#13;
lobster, respons imun (THC), kadar glukosa darah, aktivitas enzim antioksidan &#13;
(SOD), dan daya hantar listrik (DHL) serta kinerja pertumbuhan (laju pertumbuhan &#13;
spesifik, laju pertumbuhan panjang harian, rasio konversi pakan, tingkat &#13;
kelangsungan hidup, dan frekuensi molting). &#13;
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian kombinasi mineral &#13;
(CaMg(CO3)2) dan (KCl) berpengaruh nyata terhadap kualitas air, respon fisiologi, &#13;
dan kinerja pertumbuhan lobster air tawar (Cherax quadricarinatus). Penambahan &#13;
mineral tersebut secara efektif meningkatkan nilai pH dan alkalinitas media, serta &#13;
konsentrasi mineral kalsium, magnesium, dan kalium dalam tubuh lobster yang &#13;
krusial untuk proses kalsifikasi kulit. Hasil terbaik ditemukan pada perlakuan dosis &#13;
40 ppm (CaMg(CO3)2) dan 50 mg/L-1 KCl, yang menghasilkan tingkat kelangsungan &#13;
hidup (SR) maksimal sebesar 100%, laju pertumbuhan spesifik (LPS) tertinggi &#13;
mencapai 9,55%, serta frekuensi molting yang paling banyak. Dari sisi fisiologi, &#13;
dosis ini mampu menjaga stabilitas kadar glukosa darah dan meningkatkan sistem &#13;
imun (THC), sementara dosis yang lebih tinggi (75 mg/L-1) justru memicu stres &#13;
oksidatif yang ditandai dengan penurunan aktivitas enzim SOD dan tingginya &#13;
angka mortalitas.  &#13;
Penambahan mineral (CaMg(CO3)2) 40 ppm dan KCL 50 mg L-1  ke dalam &#13;
media pemeliharaan mempengaruhi parameter kualitas air hingga berdampak pada &#13;
respon fisiologis dan kinerja pertumbuhan lobster air tawar (Cherax &#13;
quadricarinatus).Dengan demikian, pengelolaan mineral dengan dosis optimal &#13;
sangat penting dilakukan untuk mendukung sistem osmoregulasi dan keberhasilan &#13;
molting guna meningkatkan produktivitas budidaya lobster air tawar secara &#13;
signifikan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177409</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
