<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>MT - Fisheries</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73</link>
<description/>
<pubDate>Wed, 17 Jun 2026 01:10:27 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-06-17T01:10:27Z</dc:date>
<item>
<title>Efektivitas Metabolit Penicillium sp. KTR58 terhadap Respons Imun dan Resistansi Udang Vaname yang Diinfeksi Vibrio parahaemolyticus</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173418</link>
<description>Efektivitas Metabolit Penicillium sp. KTR58 terhadap Respons Imun dan Resistansi Udang Vaname yang Diinfeksi Vibrio parahaemolyticus
AGUSTINA, PUTRI
Udang vaname (Litopenaeus vannamei) menjadi salah satu komoditas utama untuk ekspor dan Indonesia menjadi produsen utama urutan ke-5 di dunia pada tahun 2022. Upaya pengembangan produksi udang vaname terus dilakukan salah satunya melalui intensifikasi. Meski demikian, budidaya intensif masih menghadapi berbagai kendala seperti penyakit acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND). AHPND yang sebelumnya dikenal sebagai early mortality syndrome (EMS) adalah salah satu penyakit bakteri mematikan yang umumnya menyerang berbagai spesies udang. Vibrio parahaemolyticus menjadi penyebab penyakit tersebut telah menyebabkan kerugian sosial-ekonomi yang tinggi di beberapa negara sehingga berdampak buruk pada produksi akuakultur dan berisiko terhadap ketahanan pangan global.&#13;
Strategi pencegahan dan pengobatan telah banyak dikembangkan, salah satunya adalah penggunaan bahan alami berupa metabolit sekunder fungi. Metabolit sekunder fungi adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh fungi yang tidak esensial untuk pertumbuhan fungi, tetapi memberikan keunggulan adaptif dalam lingkungan mereka tumbuh. Metabolit sekunder memiliki keragaman kimia yang luar biasa termasuk empat kelompok utama yaitu terpenoid, poliketida, peptida non-ribosom, atau kombinasinya. Contoh metabolit sekunder yang telah diteliti di bidang akuakultur adalah fungi Nodulisporium sp. KT29 yang diketahui mampu meningkatkan kinerja produksi udang vaname yang dibudidayakan di laut dan menghambat pertumbuhan bakteri V.harveyi. Pada penelitian ini eksplorasi pemanfaatan metabolit sekunder fungi dalam budidaya udang vaname kembali dilakukan menggunakan jenis fungi Penicillium sp. KTR58. Fungi ini merupakan jenis fungi endofit mangrove Rhizophora mucronata yang diisolasi dari bagian daun dan memiliki potensi yang cukup besar untuk menghasilkan senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi budidaya udang vaname. &#13;
Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk menganalisis efektivitas metabolit Penicillium sp. KTR58 terhadap respons imun dan resistansi udang vaname yang diinfeksi V. parahaemolyticus serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan udang vaname. Penelitian dilaksanakan pada rentang bulan Juni-Desember 2025. Udang vaname berukuran stadia post larvae 10 bersertifikat Specific Pathogen Free berasal dari Hatchery Suri Tani Pemuka, Anyer. Pemeliharaan hewan uji dilakukan di Laboratorium Marikultur, IPB University. Kultur fungi dan uji in vitro dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi, Departemen Teknologi Hasil Perairan, IPB University. Analisis kualitas air dilaksanakan di Laboratorium Lingkungan Akuakultur. Analisis status kesehatan dan histologi di Laboratorium Kesehatan Organisme Akuatik, IPB University. &#13;
Penelitian ini terdiri dari uji in vitro dan uji in vivo (uji pada udang vaname). Uji in vitro terdiri dari kromatografi lapis tipis (KLT), uji bioautografi, uji aktivitas proteolitik, dan uji aktivitas antibakteri. Desain eksperimen uji in vivo yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 2 yaitu RAL pemeliharaan udang dengan pakan uji (4 perlakuan dengan 3 ulangan) dan RAL uji tantang dengan V.parahaemolyticus (5 perlakuan dengan 3 ulangan). Pemeliharaan udang dengan pakan uji dilakukan selama 30 hari dengan feeding rate 6 - 8% dari biomas udang. Pakan uji terdiri dari pakan komersial tanpa penambahan metabolit atau kontrol (K), pakan yang mengandung metabolit Penicillium sp. KTR58 dosis 10 mL kg-1 pakan (P10), 20 mL kg-1 pakan (P20), dan 30 mL kg-1 pakan (P30). Kemudian uji tantang udang dengan V.parahaemolyticus 105 CFU mL-1 dilakukan selama tujuh hari dan dilengkapi dengan kontrol positif (KP) dan kontrol negatif (KN). Parameter pengamatan yaitu kinerja pertumbuhan (laju pertumbuhan spesifik (LPS), rasio konversi pakan (RKP), biomass akhir, dan tingkat kelangsungan hidup (TKH)), histologi usus, respons imun (respiratory burst (RB), phenoloxidase (PO), total hemosit, aktivitas fagositosis (AF)), kelimpahan bakteri di hepatopankreas, dan respons stres (kadar glukosa, gejala klinis, dan histopatologi hepatopankreas). &#13;
Hasil penelitian ini menunjukkan diameter zona hambat tertinggi pada uji aktivitas antibakteri diperoleh dari perlakuan dengan dosis 30 µL disc-1 sebesar 26,50 ± 0,50 mm. Uji KLT menunjukkan dugaan kandungan senyawa steroid, flavonoid, terpenoid, saponin, kumarin dan alkaloid. Senyawa yang menunjukkan aktivitas antibakteri dari hasil uji bioautografi diduga sebagai kumarin, flavonoid, alkaloid, saponin dan steroid. Kinerja pertumbuhan udang vaname yang diberikan metabolit Penicillium sp. KTR58 selama 30 hari lebih tinggi dan berbeda nyata dibanding kontrol dengan hasil terbaik terdapat pada perlakuan P20 yaitu nilai bobot akhir, biomas akhir, LPS dan RKP berturut-turut adalah 8,87 ± 0,16 g; 123,79 ± 8,10 g; 3,96 ± 0,18% hari-1; 1,45 ± 0,05. Hasil parameter respons imun (total hemosit, RB, PO, dan AF) selama pemeliharaan dengan pakan uji dan pascauji tantang pada udang yang diberikan pakan metabolit Penicillium sp. KTR58 lebih tinggi dan berbeda nyata dibanding dengan kontrol. Nilai respons imun tertinggi selama uji tantang ditemukan pada perlakuan P30, dengan nilai total hemosit, AF, RB, dan PO masing-masing sebesar 15,60 x 106 ± 0,40 x 106 sel mL-1; 57,22 ± 0,78%; 0,388 ± 0,004; dan 0,392 ± 0,004. Penambahan metabolit fungi Penicillium sp. KTR58 secara efektif mengurangi kelimpahan bakteri total, total vibrio count (TVC), jumlah V.parahaemolyticus RfR (VpRf) hepatopankreas pada perlakuan P10, P20 dan P30 dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kadar glukosa pascauji tantang pada udang perlakuan metabolit Penicillium sp. KTR58 menunjukkan penurunan jumlah dibanding perlakuan kontrol positif. TKH udang vaname yang diberikan metabolit Penicillium sp. KTR58 pascauji tantang lebih tinggi dibandingkan kontrol positif dengan hasil terbaik terdapat pada perlakuan P30 yaitu sebesar 76,7%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penambahan metabolit Penicillium sp. KTR58 dengan dosis 20 mL kg-1 pada pakan terbukti efektif dan berbeda nyata dengan kontrol dalam meningkatkan respons imun seperti total hemosit, AF, RB, PO dan resistansi udang vaname terhadap V. parahaemolyticus berupa peningkatan kelangsungan hidup, penurunan total V. parahaemolyticus, dan histopatologi hepatopankreas yang lebih sehat, sekaligus meningkatkan performa pertumbuhan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173418</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>DISTRIBUSI MIKROPLASTIK DI AIR DAN SEDIMEN DI PERAIRAN PESISIR TELUK LABUAN, BANTEN</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173366</link>
<description>DISTRIBUSI MIKROPLASTIK DI AIR DAN SEDIMEN DI PERAIRAN PESISIR TELUK LABUAN, BANTEN
Mahsa, Nur Almira
Desa Teluk di Kecamatan Labuan, Pandeglang, merupakan wilayah pesisir yang rentan terhadap akumulasi sampah plastik akibat aktivitas masyarakat, pariwisata yang masuk melalui aliran sungai serta sampah yang terbawa arus laut. Penumpukan sampah plastik ini berpotensi terdegradasi menjadi mikroplastik yang mencemari perairan dan sedimen, sehingga mengancam ekosistem laut serta kesehatan masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengukur akumulasi dan distribusi mikroplastik di air dan sedimen guna memahami pola penyebarannya di wilayah pesisir Desa Teluk. Pengumpulan sampel air dan sedimen dilakukan pada 10 Mei 2025 di 9 stasiun, yang terdiri dari 2 stasiun berada di badan Sungai Cipunten Agung, 1 stasiun tepat di muara, 3 stasiun berada di sekitar pesisir dan 3 stasiun lainnya mengarah ke laut. Selain sampel air dan sedimen, pada tiap stasiun juga diukur parameter fisik seperti suhu, salinitas, densitas, dan kecepatan arus yang kemudian divisualisasi menggunakan Ocean Data View. Data prediksi pasang surut serta debit sungai merupakan data sekunder yang diperlukan sebagai data pendukung. Selain itu, pengukuran fraksi sedimen juga dilakukan untuk melihat kemampuan dalam memerangkap partikel mikroplastik yang ditampilkan menggunakan perangkat lunak ArcMap. Kemudian untuk mengkaji hubungan antara distribusi bentuk mikroplastik dengan parameter fisika serta jenis sedimen digunakan analisis multivariat Analisis Komponen Utama (PCA).&#13;
Hasil pengukuran parameter fisika perairan menunjukkan gradasi dari badan sungai menuju laut terbuka. Suhu, salinitas, dan densitas mengalami peningkatan seiring bertambah jarak dari muara, akan tetapi kecepatan arus cenderung lebih rendah ditemukan pada zona pertemuan air tawar dan air laut. Kemudian jenis sedimen yang paling umum ditemukan di lokasi penelitian didominasi oleh sedimen dengan ukuran butiran halus. Hasil identifikasi mikroplastik menunjukkan adanya perbedaan karakteristik mikroplastik pada air dan sedimen. Pada sampel air didominasi oleh bentuk fiber (49,53%), sedangkan pada sampel sedimen bentuk yang paling banyak ditemukan adalah fragmen (40,57%). Ukuran mikroplastik yang banyak ditemukan pada air berkisar antara 200 - 500 µm (36,83%), sementara pada sedimen dominan berukuran &lt; 200 µm (47,94%). Berdasarkan warna, tipe transparan merupakan warna yang paling umum ditemukan pada kedua media, yaitu 31,46% di air dan 27,23% di sedimen. Secara kuantitatif, kelimpahan mikroplastik di air yaitu 2,25 ± 0,99 partikel/L, sedangkan pada sedimen yaitu 1566,67 ± 859,19 partikel/kg. Temuan ini menunjukkan bahwa perbedaan bentuk, ukuran, warna, serta kelimpahan mikroplastik di air dan sedimen bergantung pada hidrodinamika perairan, yang mempengaruhi proses transport, pengendapan, dan distribusi mikroplastik di lingkungan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173366</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Strategi Pengelolaan Kawasan Pesisir di Kepulauan Joronga Maluku Utara Untuk Pengembangan Budidaya Rumput Laut</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173273</link>
<description>Strategi Pengelolaan Kawasan Pesisir di Kepulauan Joronga Maluku Utara Untuk Pengembangan Budidaya Rumput Laut
Jamaludin, Hamran Ulil Amrin
Pengembangan budidaya rumput laut di Kawasan Kepulauan Joronga menjadi salah satu komoditas unggulan sektor perikanan, memiliki peran strategis dalam mendukung ekonomi pesisir dan keberlanjutan lingkungan. Kepulauan Joronga, Provinsi Maluku Utara memiliki potensi dikembangkannya budidaya rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii. Namun demikian, budidaya rumput laut di kepulauan tersebut mengalami penurunan karena pengelolaannya belum mengacu pada prinsip keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian kawasan, daya dukung dan persepsi masyarakat terhadap budidaya rumput laut, menganalisis kelayakan usaha, menganalisis status keberlanjutan, dan merumuskan strategi pengelolaan kawasan budidaya rumput laut di Kepulauan Joronga. Penelitian dilaksanakan di sepuluh stasiun pengamatan sebagai lokasi studi serta melibatkan pembudidaya dari kedua desa, yaitu Desa Tawabi dan Desa Pulau Gala. Kesesuaian dianalisis menggunakan pendekatan Spatial Multi Criteria Evaluation (SMCE). Menilai bobot setiap parameter menggunakan Analytical Hierarchy Proses (AHP) melalui hasil penilaian ahli/pakar (Expert judgement). Daya dukung kawasan dinilai dengan menghitung luas aktual, luas ideal, jumlah unit, dan volume produksi serta persepsi masyarakat (aspek sosial) dianalisis dengan skala Likert. Kelayakan usaha dianalisis dengan analisis biaya-manfaat (cost-benefit analysis) dan faktor-faktor produksi. Keberlanjutan budidaya rumput laut dianalisis menggunakan pendekatan Multidimensional Scaling (MDS) melalui perangkat RAP-Seaweed. Strategi Pengelolaan Budidaya Rumput laut dianalisis berdasarkan responden ahli melibatkan lima responden dengan metode (AHP).&#13;
Budidaya rumput laut di Kepulauan Joronga dikategorikan kawasan yang cukup sesuai untuk budidaya rumput laut, yaitu metode tancap dan metode long-line. Daya dukung lingkungan budidaya rumput laut di Kepulauan Joronga ini dengan luas aktual pada metode tancap sebesar 2.836,77 ha, dan long-line sebesar 3.461,79 ha, diikuti jumlah unit budidaya metode tancap 26.856,95 unit dan 29.306,12 unit long-line. Jumlah padat tebar mencapai 120.856,29 ton untuk tancap dan 58.612,24 ton long-line. Volume produksi per tahun tancap mencapai 103.573,84 ton dan 50.230,69 ton long-line. Persepsi masyarakat terkait budidaya rumput laut di Kepulauan Joronga sangat antusias dan diterima baik oleh masyarakat setempat. Kelayakan usaha budidaya rumput laut di Kepulauan Joronga layak untuk di budidaya dan di kembangkan kedua metode tersebut. Keberlanjutan budidaya rumput laut di Kepulauan Joronga tergolong cukup berkelanjutan pada dimensi ekonomi dan sosial, namun masih lemah pada dimensi ekologi dan teknologi, serta buruk pada dimensi kelembagaan. Strategi yang diprioritaskan untuk pengelolaan berkelanjutan kawasan budidaya rumput laut yaitu kriteria ekologi. Alternatif strategi pengelolaan yang diprioritaskan yaitu edukasi dan pendampingan kegiatan budidaya rumput laut.; The development of seaweed cultivation in the Joronga Island as a leading fisheries commodity plays a strategic role in supporting coastal economies and environmental sustainability. The Joronga Island, North Moluccas Province, possesses significant potential for the development of seaweed cultivation Kappaphycus alvarezii. However, seaweed cultivation in this region has experienced a decline, as its management has not yet been aligned with sustainability principles. This study aims to analyze suitability, carrying capacity, and community perceptions of seaweed aquaculture, assess business feasibility, evaluate sustainability status, and formulate management strategies for seaweed cultivation areas in the Joronga Islands. The study was conducted at ten observation stations, which served as the study sites, and involved seaweed cultivators from two villages, Tawabi Village and Pulau Gala Village. Suitability was assessed using the Spatial Multi-Criteria Evaluation (SMCE) approach, while parameter weighting was determined through the Analytical Hierarchy Process (AHP) based on expert judgment. Carrying capacity was evaluated by calculating the actual area, ideal area, number of cultivation units, and production volume. Community perceptions (social aspects) were analyzed using a Likert scale. Business feasibility was examined through a cost-benefit analysis and a production factor assessment. The sustainability of seaweed aquaculture was analyzed using the Multidimensional Scaling (MDS) approach implemented through the RAP-Seaweed tools. Management strategies for seaweed aquaculture were formulated based on expert assessments involving five respondents, who used the AHP method. &#13;
The results indicate that seaweed aquaculture in the Joronga Islands falls within the moderately suitable category for both off-bottom and long-line cultivation methods. The carrying capacity shows that the actual cultivation area reaches 2.836,77 ha for the off-bottom method and 3.461,79 ha for the long-line method, with an estimated 26.856,95 cultivation units for the off-bottom system and 29.306,12 units for the long-line system. Stocking density is estimated at 120.856,29 tons (wet weight) for the off-bottom method and 58.612,24 tons for the long-line method, resulting in annual production volumes of 103.573,84 tons and 50.230,69 tons (dry weight), respectively. Community perceptions of seaweed cultivation in the Joronga Islands are highly positive and well-received by local communities. The business feasibility analysis indicates that both cultivation methods are economically viable and suitable for further development. The sustainability of seaweed aquaculture in the Joronga Islands is considered moderately sustainable in the economic and social dimensions. However, it remains relatively weak in the ecological, technological, and institutional dimensions. The prioritized criterion for sustainable management of seaweed cultivation areas is the ecological dimension, with education and extension services for seaweed cultivation activities identified as the primary management strategy.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173273</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>MODEL TATA KELOLA INTERAKTIF  JASA PROVISIONING EKOSISTEM SKALA KECIL  DENGAN PENDEKATAN SISTEM SOSIAL-EKOLOGI   (Studi Kasus: Teluk Jor, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173253</link>
<description>MODEL TATA KELOLA INTERAKTIF  JASA PROVISIONING EKOSISTEM SKALA KECIL  DENGAN PENDEKATAN SISTEM SOSIAL-EKOLOGI   (Studi Kasus: Teluk Jor, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat)
WAHID, MATHORI ABDUL
Teluk Jor, Lombok Timur, merupakan kawasan pesisir yang mengalami tekanan sosial-ekologi akibat intensifikasi pemanfaatan sumber daya, khususnya dari aktivitas budidaya lobster dengan keramba jaring apung (KJA) serta meningkatnya kompetisi ruang antar pengguna. Kawasan ini dapat dipahami sebagai sistem sosial-ekologi skala kecil, yang ditandai oleh batas ruang teluk yang relatif jelas, jumlah aktor yang terbatas, serta intensitas interaksi yang tinggi antara masyarakat lokal dan sumber daya pesisir melalui aktivitas perikanan tangkap dan budidaya. Tekanan terhadap ekosistem pesisir di Teluk Jor tercermin dari degradasi habitat, penurunan kualitas perairan, serta konflik pemanfaatan ruang, yang menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara sistem yang dikelola dan sistem pengelola dalam konteks tata kelola sumber daya.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) memetakan jejaring Social-Ecological System (SES) jasa provisioning ekosistem skala kecil di Teluk Jor; (2) menganalisis interaksi tata kelola; (3) menganalisis performa tata kelola yang memengaruhi pemanfaatan sumber daya; dan (4) merumuskan model tata kelola interaktif untuk pengelolaan kawasan. &#13;
Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus hingga September 2024 di Teluk Jor, Nusa Tenggara Barat. Pendekatan yang digunakan adalah analisis sistem sosial-ekologi berbasis jaringan melalui Social-Ecological Network Analysis (SENA) untuk memetakan keterhubungan antar komponen, yang dikombinasikan dengan governability analysis untuk menilai kapasitas sistem, governance interaction analysis untuk mengidentifikasi pola interaksi antar aktor, serta Interpretative Structural Modelling (ISM) untuk menyusun struktur prioritas intervensi dan merumuskan model tata kelola.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jejaring sosial-ekologi Teluk Jor terdiri dari 36 komponen (node) dan 67 hubungan (edge), yang menggambarkan kompleksitas tinggi dalam hubungan antar komponen. Aturan lokal (LocalRule) merupakan komponen paling sentral, sementara ancaman ekosistem (ResThreat) dan infrastruktur buatan (HumConFac) menjadi komponen pengganggu utama. Analisis sentra perantara (betweenness) mengidentifikasi aturan lokal (LocalRule), kualitas ekosistem (EcoQual), dan fasilitas buatan manusia (HumConFac) sebagai penghubung utama dalam aliran informasi. Analisis deteksi komunitas (centrality cluster) menghasilkan enam kelompok dengan nilai modularitas 0,49, menunjukkan struktur jejaring yang representatif. Penilaian governability menunjukkan bahwa tata kelola berada pada kategori rendah hingga sedang, ditandai oleh dominasi tata kelola hierarkis, lemahnya koordinasi lintas lembaga, serta belum efektifnya pelaksanaan co-management. Hasil Governance Interaction Analysis (GIA) menemukan 65 interaksi tata kelola dengan kualitas sedang-cukup baik; aturan lokal (LocalRule), pemerintah desa (VilGov), dan Non-Goverment Organitation (NGO) merupakan aktor dengan pengaruh tertinggi, sedangkan kebijakan regional (RegPolicy) dan institusi formal (FormInst) memiliki nilai interaksi terendah. Performa tata kelola secara agregat berada pada kategori baik, dengan dimensi ekologi dan governance paling kuat, sementara dimensi sosial dan ekonomi masih lemah.&#13;
Penelitian ini menghasilkan model tata kelola interaktif yang disusun dalam tiga horizon perbaikan, yaitu: jangka pendek (peningkatan koordinasi dan kepatuhan terhadap aturan lokal), jangka menengah (penegasan kewenangan dan harmonisasi kelembagaan), dan jangka panjang (pengendalian intensitas pemanfaatan serta pemulihan ekosistem). Model ini diharapkan menjadi acuan dalam mewujudkan tata kelola jasa provisioning ekosistem skala kecil yang lebih efektif, partisipatif, dan berkelanjutan di Teluk Jor.; Jor Bay, East Lombok, represents a coastal area experiencing significant social-ecological pressures due to the intensification of resource utilization, particularly from lobster aquaculture using floating net cages and increasing spatial competition among resource users. This area can be understood as a small-scale social–ecological system, characterized by clearly defined spatial boundaries, a relatively limited number of actors, and high-intensity interactions between local communities and coastal resources through capture fisheries and aquaculture activities. These pressures are reflected in habitat degradation, declining water quality, and conflicts over resource use, indicating an imbalance between the system to be governed and the governing system within the resource governance framework.&#13;
This study aims to: (1) map the Social–Ecological System (SES) network of provisioning ecosystem services in Jor Bay; (2) analyze governance interactions; (3) assess governance performance influencing resource utilization; and (4) develop an interactive governance model for sustainable coastal management.&#13;
The study was conducted from August to September 2024 in Jor Bay, West Nusa Tenggara, Indonesia. A network based social-ecological systems approach was employed using Social–Ecological Network Analysis (SENA) to map interconnections among system components. This approach was complemented by governability analysis to assess system capacity, governance interaction analysis to examine patterns of interaction among actors, and Interpretative Structural Modelling (ISM) to structure priority interventions and formulate the interactive governance model.&#13;
The results indicate that the social–ecological network of Jor Bay consists of 36 components (nodes) and 67 linkages (edges), reflecting a high level of system complexity. Local rules (LocalRule) emerged as the most central component, while ecosystem threats (ResThreat) and human-constructed facilities (HumConFac) were identified as major stressors. Betweenness centrality analysis highlights local rules, ecosystem quality (EcoQual), and human infrastructure as key connectors in information flow. Community detection analysis identified six clusters with a modularity value of 0.49, indicating a well-defined network structure. Governability assessment shows that the governance system ranges from low to moderate capacity, characterized by hierarchical dominance, weak inter-institutional coordination, and limited effectiveness of co-management practices. Governance Interaction Analysis (GIA) identified 65 governance interactions with moderate to fairly good quality; local rules, village government (VilGov), and non-governmental organizations (NGOs) were the most influential actors, whereas regional policies (RegPolicy) and formal institutions (FormInst) showed the lowest interaction levels. Overall governance performance is categorized as good, with ecological and governance dimensions being relatively strong, while social and economic dimensions remain weaker.&#13;
This study proposes an interactive governance model structured across three time horizons: short-term (strengthening coordination and compliance with local rules), medium-term (clarifying authority and institutional harmonization), and long-term (controlling resource use intensity and ecosystem restoration). The model provides a strategic framework for enhancing adaptive, participatory, and sustainable governance of provisioning ecosystem services in small-scale coastal systems such as Jor Bay.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173253</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
