<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>MF - Veterinary Science</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/72</link>
<description/>
<pubDate>Thu, 13 Aug 2026 08:11:46 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-13T08:11:46Z</dc:date>
<item>
<title>PENGEMBANGAN SEDIAAN SPRAY MIST EKSTRAK ETANOL 70% DAUN KELOR (Moringa oleifera Lam.) SEBAGAI ANTIBAKTERI Staphylococcus aureus: STUDI IN SILICO DAN IN VITRO</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177735</link>
<description>PENGEMBANGAN SEDIAAN SPRAY MIST EKSTRAK ETANOL 70% DAUN KELOR (Moringa oleifera Lam.) SEBAGAI ANTIBAKTERI Staphylococcus aureus: STUDI IN SILICO DAN IN VITRO
Nugraha, Salma Ersyara Putri
Staphylococcus aureus merupakan bakteri patogen utama yang menyebabkan berbagai infeksi pada kulit dan jaringan lunak pada manusia maupun hewan. Meningkatnya kejadian infeksi bakteri menunjukkan perlunya pengembangan agen antibakteri alternatif yang berasal dari bahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi antibakteri ekstrak etanol 70% daun kelor (Moringa oleifera melalui pendekatan penambatan molekuler (molecular docking) dan uji antibakteri in vitro, serta mengembangkan formulasi spray mist untuk aplikasi topikal. Penambatan molekuler dilakukan terhadap protein DNA Gyrase B (GyrB), Tyrosyl-tRNA Synthetase (TyrRS), dan Dihydropteroate Synthase (DHPS) menggunakan kuersetin, kaempferol, rutin dan enrofloksasin sebagai kontrol positif. Aktivitas antibakteri ekstrak dievaluasi menggunakan metode difusi sumuran agar terhadap S. aureus pada konsentrasi ekstrak 25%, 50%, 75%, dan 100%. Konsentrasi yang paling efektif selanjutnya diformulasikan ke dalam empat formula spray mist dengan komposisi eksipien yang berbeda dan dievaluasi karakteristik fisiknya. Hasil penambatan molekuler menunjukkan bahwa seluruh senyawa uji memiliki nilai energi ikatan negatif terhadap protein target yang mengindikasikan kekuatan interaksi. Rutin menunjukkan afinitas terkuat terhadap TyrRS dengan energi ikatan sebesar -8,37 kcal/mol. Pengujian antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak dengan konsentrasi 100% menghasilkan diameter zona hambat terbesar, yaitu 23,33 ± 3,06 mm, yang dikategorikan sebagai aktivitas antibakteri sangat kuat. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan. Evaluasi fisik menunjukkan bahwa formula 4 merupakan formula terbaik karena memenuhi seluruh persyaratan mutu, meliputi sifat organoleptik, homogenitas, daya sebar, daya lekat, keseragaman bobot semprot, waktu pengeringan, pH dan stabilitas selama 28 hari. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% daun kelor memiliki aktivitas antibakteri yang menjanjikan terhadap S. aureus serta dapat diformulasikan secara berhasil menjadi sediaan spray mist yang memenuhi standar mutu fisik.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177735</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>STUDI BIOKOMPATIBILITAS IMPLAN LOGAM YANG DILAPISI MEMBRAN ELEKTROSPUN POLYCAPROLACTON DENGAN BIOAKTIF ESTRADIOL PADA DOMBA GARUT</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177520</link>
<description>STUDI BIOKOMPATIBILITAS IMPLAN LOGAM YANG DILAPISI MEMBRAN ELEKTROSPUN POLYCAPROLACTON DENGAN BIOAKTIF ESTRADIOL PADA DOMBA GARUT
ALAHMAD, ALI OMAR
Keberhasilan implan ortopedi sangat dipengaruhi oleh biokompatibilitas dan kemampuan material dalam mendukung osseointegrasi pada fase awal penyembuhan tulang. Modifikasi permukaan implan logam menggunakan membran biodegradable yang dikombinasikan dengan molekul bioaktif merupakan strategi yang menjanjikan untuk meningkatkan respons biologis implan. Polycaprolactone (PCL) merupakan polimer biodegradable dengan biokompatibilitas yang baik, sedangkan estradiol berperan dalam meningkatkan aktivitas osteoblas dan menghambat resorpsi tulang. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi biokompatibilitas serta respons biologis awal implan logam yang dilapisi membran electrospun PCL dan PCL–Estradiol (PCL-ES) pada model domba Garut. Sebanyak delapan ekor domba Garut jantan sehat berumur 8 – 14 bulan digunakan dalam penelitian ini. Defek tulang dibuat pada kedua tibia dan dibagi ke dalam empat kelompok perlakuan, yaitu Sham (defek tanpa implan), Bare (implan logam tanpa pelapis), PCL (implan berlapis polycaprolactone), dan PCL-ES (implan berlapis polycaprolactone–estradiol). Hewan diamati selama 56 hari pascaimplantasi melalui evaluasi makroskopis penyembuhan luka, ultrasonografi, radiografi kuantitatif berbasis nilai grayscale, analisis hematologi, dan pemeriksaan biokimia serum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyembuhan luka berlangsung baik pada seluruh kelompok tanpa komplikasi, dengan penutupan luka hampir sempurna pada hari ke-56. Ketebalan jaringan lunak, pembengkakan, serta densitas radiografis antarmuka tulang–implan dipengaruhi secara signifikan oleh kelompok perlakuan dan waktu pengamatan (p &lt; 0,05). Kelompok PCL-ES menunjukkan respons inflamasi lokal yang lebih rendah dan perkembangan osseointegrasi yang lebih baik dibandingkan kelompok lainnya. Seluruh parameter hematologi tetap berada dalam kisaran fisiologis normal tanpa menunjukkan toksisitas sistemik, sedangkan analisis biokimia menunjukkan perubahan kadar fosfor, kalsium, dan magnesium yang berkaitan dengan proses remodeling tulang. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa membran electrospun PCL–Estradiol memiliki biokompatibilitas yang baik, mampu mempercepat penyembuhan jaringan lunak, mengurangi respons inflamasi lokal, serta meningkatkan osseointegrasi tanpa menimbulkan gangguan sistemik. Membran ini berpotensi menjadi strategi modifikasi permukaan yang efektif untuk meningkatkan kinerja implan ortopedi biodegradable
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177520</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Evaluasi Seluler Sperma Sapi Pasca Sex-Sorting  Berbasis Aktivasi TLR7/8 dengan Ligan R848</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177512</link>
<description>Evaluasi Seluler Sperma Sapi Pasca Sex-Sorting  Berbasis Aktivasi TLR7/8 dengan Ligan R848
Nahriyatussyifa, Anggi
Sapi merupakan salah satu komoditas ternak yang memiliki nilai ekonomi &#13;
tinggi sehingga peningkatan efisiensi reproduksi menjadi aspek penting dalam &#13;
industri peternakan modern. Teknologi sex-sorting sperma memungkinkan &#13;
produksi embrio dengan jenis kelamin yang sesuai kebutuhan, namun metode yang &#13;
ada saat ini masih menghadapi beberapa keterbatasan, seperti biaya yang tinggi, &#13;
peralatan yang khusus, dan penurunan kualitas sperma. Aktivasi Toll-like Receptor &#13;
(TLR) 7/8 menggunakan ligan resiquimod (R848) merupakan salah satu metode &#13;
sex-sorting alternatif yang dikembangkan dengan prosedur yang lebih sederhana &#13;
dan mudah diaplikasikan. Metode sex-sorting berbasis aktivasi TLR7/8 &#13;
menggunakan ligan R848 telah berhasil memisahkan sperma pembawa kromosom &#13;
X dan Y pada berbagai spesies. Sebagian besar penelitian masih berfokus pada &#13;
tingkat keberhasilan pemisahan sperma, sedangkan informasi mengenai perubahan &#13;
karakteristik seluler sperma setelah proses sex-sorting, terutama pada sapi, masih &#13;
belum banyak dilaporkan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk &#13;
mengevaluasi pengaruh aktivasi TLR7/8 menggunakan ligan R848 terhadap &#13;
karakteristik seluler sperma sapi serta mengonfirmasi keberhasilan sex-sorting &#13;
sperma melalui analisis molekuler. &#13;
Penelitian ini menggunakan semen beku dari satu ekor sapi Friesian Holstein &#13;
yang diproses dengan metode double swim-up menggunakan R848 konsentrasi 0,03 &#13;
µM dengan jumlah ulangan sebanyak enam kali. Penelitian ini mengevaluasi &#13;
viabilitas, konsentrasi, motilitas, kinematika, aktivitas mitochondrial membrane &#13;
potential (MMP), dan integritas akrosom sperma setelah perlakuan sexing-sorting. &#13;
Persentase sperma pembawa kromosom X dan Y dievaluasi dengan quantitative &#13;
polymerase chain reaction (qPCR) dengan gen Proteolipid Protein (PLP) dan Sex&#13;
determining Region (SRY) sebagai penanda molekuler. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan sex-sorting tidak &#13;
memengaruhi viabilitas, konsentrasi, dan integritas akrosom sperma pada fraksi &#13;
lapisan atas dan lapisan bawah. Perlakuan sex-sorting menurunkan motilitas sperma &#13;
pada fraksi lapisan atas dibandingkan kelompok kontrol. Perlakuan sex-sorting &#13;
tidak memengaruhi aktivitas MMP pada fraksi lapisan atas. Perlakuan sex-sorting &#13;
menurunkan persentase sperma dengan aktivitas MMP kategori sedang pada fraksi &#13;
lapisan bawah dibandingkan kelompok kontrol. Analisis molekuler menunjukkan &#13;
bahwa perlakuan sex-sorting tidak meningkatkan persentase sperma pembawa &#13;
kromosom Y pada fraksi lapisan atas tetapi meningkatkan persentase sperma &#13;
pembawa kromosom X pada fraksi lapisan bawah dari 41,5% menjadi 64,0%. &#13;
Penelitian ini menyimpulkan bahwa aktivasi TLR7/8 menggunakan ligan &#13;
R848 dengan konsentrasi 0,03 µM mampu memperkaya sperma pembawa &#13;
kromosom X pada fraksi lapisan bawah, tetapi belum mampu memperkaya sperma &#13;
pembawa kromosom Y pada fraksi lapisan atas. Perlakuan sex-sorting sperma &#13;
dengan R848 menjaga fungsi seluler utama sperma sehingga berpotensi menjadi &#13;
alternatif yang relatif sederhana dan aman untuk memperkaya sperma pembawa &#13;
kromosom X pada sapi. Sperma hasil sex-sorting berpotensi untuk dimanfaatkan &#13;
pada teknologi reproduksi berbantu, khususnya intracytoplasmic sperm injection &#13;
(ICSI), untuk menghasilkan embrio sapi dengan jenis kelamin yang lebih terarah &#13;
sesuai kebutuhan program pemuliaan dan produksi ternak.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177512</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Karakteristik Morfometri Jantung Kucing Domestic Shorthair di Indonesia Berdasarkan Pemeriksaan Ekokardiografi dan Radiografi&#13;
Toraks</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177029</link>
<description>Karakteristik Morfometri Jantung Kucing Domestic Shorthair di Indonesia Berdasarkan Pemeriksaan Ekokardiografi dan Radiografi&#13;
Toraks
Rahman, Dina Zuhdina
DINA ZUHDINA RAHMAN. Karakteristik Morfometri Jantung Kucing Domestic Shorthair di Indonesia Berdasarkan Pemeriksaan Ekokardiografi dan Radiografi Toraks. Dibimbing oleh DENI NOVIANA dan LENI MAYLINA.&#13;
&#13;
Penyakit jantung merupakan salah satu gangguan kardiovaskular yang sering ditemukan pada kucing dan dapat menyebabkan perubahan morfometri jantung, termasuk pembesaran atrium kiri. Interpretasi hasil pemeriksaan jantung yang akurat memerlukan data referensi morfometri jantung pada kucing sehat, terutama berdasarkan faktor biologis seperti jenis kelamin dan berat badan.&#13;
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh jenis kelamin dan berat badan terhadap morfometri jantung dan atrium kiri pada kucing Domestic Shorthair (DSH) sehat di Indonesia menggunakan pemeriksaan ekokardiografi dan radiografi toraks. Sebanyak 20 ekor kucing DSH sehat berumur 1–5 tahun dengan berat badan 2–6,1 kg digunakan dalam penelitian ini. Pemeriksaan ekokardiografi B-mode dilakukan untuk mengukur parameter struktur dan fungsi jantung yang meliputi interventricular septum systole (IVSs), left ventricular internal diameter systole (LVIDs), left ventricular posterior wall systole (LVPWs), end-systolic volume (ESV), interventricular septum diastole (IVSd), left ventricular internal diameter diastole (LVIDd), left ventricular posterior wall diastole (LVPWd), end-diastolic volume (EDV), stroke volume (SV), ejection fraction (EF), fractional shortening (FS), serta rasio atrium kiri terhadap aorta (LA:Ao). Pemeriksaan radiografi toraks dilakukan menggunakan metode left atrial vertebral heart scale (LA-VHS). Data dianalisis menggunakan uji Shapiro–Wilk, Levene, independent t-test, Welch t-test, dan Mann–Whitney U test pada tingkat kepercayaan 95%.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan jenis kelamin, parameter LVIDd, EDV, dan SV berbeda signifikan (p&lt;0,05), dengan nilai yang lebih tinggi pada kelompok kucing jantan dibandingkan betina. Berdasarkan kelompok berat badan, hanya parameter LVPWd yang menunjukkan perbedaan signifikan (p&lt;0,05), sedangkan parameter lainnya tidak berbeda nyata. Nilai rasio LA:Ao dan LA-VHS tidak menunjukkan perbedaan signifikan baik berdasarkan jenis kelamin maupun berat badan (p&gt;0,05).&#13;
Disimpulkan bahwa jenis kelamin memengaruhi beberapa parameter volumetrik ventrikel kiri, sedangkan berat badan hanya memengaruhi ketebalan dinding posterior ventrikel kiri pada fase diastol. Ukuran atrium kiri yang diukur menggunakan metode LA:Ao dan LA-VHS tidak dipengaruhi secara signifikan oleh jenis kelamin maupun berat badan pada kucing DSH sehat.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177029</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
