<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>MF - Veterinary Science</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/72</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 11 Jul 2026 23:38:24 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-07-11T23:38:24Z</dc:date>
<item>
<title>Deteksi Patogen pada Tikus dan Pinjal sebagai Kewaspadaan Dini Potensi Penularan Leptospirosis dan Rickettsiosis di Pelabuhan Palabuhanratu</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174159</link>
<description>Deteksi Patogen pada Tikus dan Pinjal sebagai Kewaspadaan Dini Potensi Penularan Leptospirosis dan Rickettsiosis di Pelabuhan Palabuhanratu
INDRIASARI, DIAN
Keberadaan tikus dan ektoparasitnya di lingkungan pelabuhan merupakan faktor risiko potensial terhadap penularan zoonosis, seperti leptospirosis dan rickettsiosis. Tingginya populasi tikus di kawasan pelabuhan dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit, terutama pada wilayah dengan aktivitas manusia yang padat seperti Pelabuhan Palabuhanratu. Tikus diketahui berperan sebagai reservoir Leptospira patogen, sedangkan pinjal tikus, khususnya Xenopsylla cheopis, merupakan vektor utama murine typhus yang disebabkan oleh Rickettsia typhi, namun informasi mengenai keberadaan Leptospira patogen pada tikus serta Rickettsia pada pinjal di wilayah Pelabuhan Palabuhanratu masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ragam jenis tikus, ragam jenis pinjal yang menginfestasi tikus, mendeteksi Leptospira patogen pada tikus, serta mendeteksi Rickettsia pada pinjal di Pelabuhan Palabuhanratu.&#13;
Penelitian dilakukan pada bulan Juli hingga Oktober 2025 di Pelabuhan Palabuhanratu. Koleksi tikus dilakukan menggunakan single live trap sebanyak 100 buah yang dipasang selama empat hari berturut turut setiap bulan. Tikus dan pinjal yang diperoleh diidentifikasi secara morfologi, kemudian dilakukan deteksi molekuler menggunakan PCR dengan target gen lipL32 untuk Leptospira patogen serta gen 17-kDa dan gltA untuk Rickettsia. Produk PCR positif dipilih berdasarkan kualitas pita DNA terbaik untuk selanjutnya dilakukan sekuensing dan analisis filogenetik. &#13;
Berdasarkan hasil identifikasi, ragam jenis tikus di Pelabuhan Palabuhanratu terdiri atas dua spesies, yaitu Rattus norvegicus (76,3%) dan Rattus tanezumi (23,7%). Ragam jenis pinjal yang menginfestasi tikus di Pelabuhan Palabuhanratu terdiri atas dua spesies, yaitu Xenopsylla cheopis (97,1%) dan Ctenocephalides felis (2,9%). Hasil PCR menunjukkan bahwa 42,7% tikus positif Leptospira patogen, sedangkan deteksi Rickettsia pada pinjal menunjukkan hasil positif masing-masing sebesar 89,7% berdasarkan target gen 17-kDa dan 65,5% berdasarkan gen gltA. Analisis filogenetik menunjukkan bahwa Leptospira yang terdeteksi memiliki kekerabatan yang sangat dekat dengan L. interrogans dan L. kirschneri, sedangkan Rickettsia terkonfirmasi sebagai R. typhi. Temuan ini menunjukkan adanya sirkulasi aktif L. interrogans dan L. kirschneri pada tikus serta R. typhi pada pinjal, yang mengindikasikan risiko zoonosis yang signifikan di Pelabuhan Palabuhanratu. Penguatan surveilans serta pengendalian terpadu tikus dan vektor diperlukan untuk mendukung sistem kewaspadaan dini dan kesiapsiagaan terhadap penyakit zoonosis di lingkungan pelabuhan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174159</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Interval Referensi Ekokardiografi Transtoraks dan Radiografi Toraks pada Kucing Domestic Shorthair Steril Sehat di Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174007</link>
<description>Interval Referensi Ekokardiografi Transtoraks dan Radiografi Toraks pada Kucing Domestic Shorthair Steril Sehat di Indonesia
Putri, Dita Pratama
Radiografi toraks dan ekokardiografi M-mode penting untuk deteksi dini Hypertrophic Cardiomyopathy (HCM), penyakit jantung paling umum pada kucing. Evaluasi jantung melalui radiografi toraks dan ekokardiografi Motion mode (M-mode) sangat penting untuk deteksi dini  dan evaluasi kondisi eksternal dan internal jantung. Penelitian ini melibatkan total 35 ekor kucing steril dengan berat badan 1,75–6,5 kg yang menjalani pemeriksaan komprehensif. Radiografi toraks metode vertebral heart score (VHS) digunakan untuk mengevaluasi ukuran jantung, sedangkan ekokardiografi M-mode untuk struktur internal jantung. Analisis statistik meliputi estimasi interval referensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai vertebral heart score (VHS) pada kucing berada dalam kisaran normal (6,81–8,12 vertebrae). Variabel ekokardiografi M-mode, meliputi left ventricular internal diameter in diastole (LVIDd), left ventricular posterior wall thickness in diastole (LVPWd), left ventricular posterior wall thickness in systole (LVPWs), interventricular septal thickness in diastole (IVSd), dan interventricular septal thickness in systole (IVSs), menunjukkan peningkatan seiring bertambahnya berat badan, sedangkan left ventricular internal diameter in systole (LVIDs) relatif stabil. Variabel LVIDd (r = 0,34; p &lt; 0,001), LVPWd (r = 0,488; p &lt; 0,001), IVSs (r = 0,354; p &lt; 0,001), dan LVPWs (r = 0,63; p &lt; 0,001) menunjukkan korelasi positif dan signifikan dengan berat badan, sedangkan IVSd (r = 0,156; p = 0,111) dan LVIDs (r = -0,017; p = 0,862) tidak menunjukkan korelasi signifikan. Interpretasi ekokardiografi perlu mempertimbangkan berat badan karena memengaruhi ukuran jantung. Pendekatan allometric scaling memberikan gambaran yang lebih akurat terhadap pengaruh ukuran tubuh, sehingga dapat meningkatkan ketepatan interpretasi ekokardiografi.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174007</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Deteksi Coxiella burnetii pada Sapi Potong di Empat Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173799</link>
<description>Deteksi Coxiella burnetii pada Sapi Potong di Empat Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan
Utami, Wulandari
Sapi potong menjadi salah satu komoditas andalan di Provinsi Sulawesi Selatan. Tingginya populasi sapi di Provinsi Sulawesi Selatan diikuti peningkatan konsumsi daging sapi di wilayah tersebut. Populasi sapi dan permintaan pasar akan daging sapi yang tinggi akan meningkatkan aktivitas pemotongan hewan. Aktivitas pemotongan hewan terutama dilakukan pada rumah potong hewan (RPH) dan tempat pemotongan hewan (TPH). Proses pemotongan hewan di RPH maupun TPH akan menghasilkan limbah yang dapat menjadi sumber penularan berbagai penyakit ke lingkungan, salah satunya penyakit Q fever. Mengingat kejadian Q fever di Provinsi Sulawesi Selatan belum pernah dilaporkan sebelumnya, eksplorasi terhadap penyakit ini penting dan perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeteksi distribusi antigen C. burnetii pada beberapa organ sapi di Provinsi Sulawesi Selatan.&#13;
Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif dan pengambilan sampelnya dilakukan di RPH dan TPH di Kab. Sidenreng Rappang, Kab. Maros, Kab. Bone, dan Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pengujian nested-PCR dilakukan untuk mendeteksi agen pada sampel yang dikoleksi dari lapangan. Pada penelitian ini digunakan pasangan primer OMP1-OMP2 dan OMP3-OMP4 yang dirancang untuk mengamplifikasi fragmen masing-masing pada 501 bp dan 437 bp dengan target gen com1. Pewarnaan khusus imunohistokimia (IHK) dilakukan untuk melihat distribusi antigen C. burnetii pada organ-organ dari individu yang terdeteksi positif Q fever. Pewarnaan hematoksilin eosin (HE) dilakukan untuk melihat perubahan histopatologi pada jaringan dari sampel organ dengan hasil positif nested-PCR. Data hasil pengujian nested-PCR disajikan dalam bentuk gambar hasil elektroforesis dan dijelaskan secara deskriptif. Data yang diperoleh dari hasil pewarnaan IHK dan HE disajikan dalam bentuk tabel dan gambar, lalu dianalisis secara deskriptif.&#13;
Sampel diperoleh dari 100 ekor sapi dari empat kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan. Uji first PCR tidak menunjukkan hasil positif pada seluruh sampel, namun analisis dengan nested-PCR ditemukan hasil positif dengan ukuran pita DNA pada posisi 437 bp yang sesuai dengan kontrol positif. Hasil positif ditemukan pada 3 sampel yang tersebar pada organ berbeda yaitu paru-paru, ginjal, dan hati. Organ tersebut berasal dari 3 ekor sapi berbeda yang merupakan sapi Bali yang dipotong di RPH Tibojong Kab. Bone. Hasil pewarnaan IHK sampel organ menunjukkan imunoreaksi positif terhadap antibodi poliklonal Rabbit anti-C. burnetii FKH IPB pada sampel hati dan ginjal. Hasil pewarnaan HE pada sampel positif tidak menunjukkan lesio spesifik. Ditemukan infiltrasi sel radang derajat ringan pada hati, ginjal, dan paru-paru sebagai respon adanya peradangan pada organ tersebut. Data ini merupakan yang pertama kali dilaporkan dari pulau Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan.; Beef cattle is one of the main commodity of South Sulawesi. The high population followed by high consumption of meat. This big cattle population with increasing market demand for beef, result in high slaughter activities. Slaughter activities primarily take place at slaughterhouses (RPH) and slaughtering facilities (TPH). The slaughter process (both in RPH and TPH) generates waste that could be the source of various diseases for the environment, including Q fever. The incidence of Q fever in South Sulawesi has never been previously reported, thus the exploration of this disease is crucial and necessary. This study aims to identify and detect the distribution of C. burnetii antigens in beef cattle organs in South Sulawesi.&#13;
The sample of this explorative study was collected from slaughterhouses and slaughtering facilities in Sidenreng Rappang Regency, Maros Regency, Bone Regency, and Makassar City, South Sulawesi. Nested-PCR was performed to detect the Coxiella burnetii in samples. This study performed using two primer pairs, consist of OMP1-OMP2 and OMP3-OMP4. This primers designed to amplify fragments of 501 bp and 437 bp, respectively, targeting the com1 gene. IHC staining was performed to examine the distribution of C. burnetii antigens in organs from individuals with positive Q fever. HE staining was performed to identify the histopathological changes in tissue samples from organs with positive Q fever. Nested-PCR results were presented as electrophoresis images and are described descriptively. Data obtained from IHC and HE staining results are presented in tables and figures, then analyzed descriptively.&#13;
Samples were obtained from 100 cattle from four districts in South Sulawesi Province. The first PCR test did not show positive results in all samples. However, nested-PCR analysis found positive results with a DNA band at position 437 bp, consistent with the positive control. Positive results were found in three samples consist of lungs, kidneys, and liver. These organs were collected from three different Bali cattle, slaughtered at the Tibojong slaughterhouse in Bone Regency. IHC staining results showed positive immunoreactivity to the Rabbit anti-C. burnetii polyclonal antibody FKH IPB. HE staining results for positive samples did not show any specific lesions. Mild inflammatory cell infiltration was found in the liver, kidneys, and lungs as the response to inflammation in these organs. This data is the first to be reported from Sulawesi, particularly South Sulawesi.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173799</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Karakteristik Habitat dan Status Resistensi Aedes aegypti terhadap Temefos dan Sipermetrin di Wilayah Buffer Pelabuhan Laut Kota Padang</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173703</link>
<description>Karakteristik Habitat dan Status Resistensi Aedes aegypti terhadap Temefos dan Sipermetrin di Wilayah Buffer Pelabuhan Laut Kota Padang
Oktarita, Sonya
Wilayah buffer Pelabuhan Laut Kota Padang memiliki kondisi ekologis yang mendukung perkembangbiakan Aedes aegypti, vektor utama demam dengue. Berdasarkan International Health Regulation (IHR) 2005 dan pedoman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kawasan pelabuhan wajib bebas dari vektor penyakit dalam radius minimal 400 meter dari titik masuk pelabuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik habitat larva, menganalisis status resistensi populasi Ae. aegypti terhadap temefos dan sipermetrin, serta menganalisis penggunaan insektisida rumah tangga oleh masyarakat di tiga wilayah buffer Pelabuhan Laut Kota Padang: Teluk Bayur, Muara Padang, dan Bungus. Pengambilan sampel dilakukan melalui survei wadah/kontainer pada 300 bangunan dan pemasangan 600 ovitrap (perangkap telur nyamuk) secara merata. Uji resistensi terhadap temefos (menggunakan larvasida kimiawi technical grade) dianalisis menggunakan regresi probit untuk memperoleh nilai LC90, sedangkan uji kerentanan nyamuk dewasa terhadap sipermetrin 0,05% menggunakan kertas impregnasi (WHO Collaborating Centre) dilakukan sesuai prosedur WHO susceptibility test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa habitat perkembangbiakan larva Ae. aegypti dominan ditemukan pada bak mandi terbuka berbahan semen. Nilai House Index, Container Index dan Breteau Index mengindikasi risiko penularan sedang dan melebihi ambang batas Kementerian Kesehatan RI. Nilai LC90 temefos berkisar 0,011-0,029 mg/L menunjukan populasi Ae. aegypti masih rentan, meskipun terdapat indikasi awal toleransi pada wilayah Teluk Bayur. Uji kerentanan terhadap sipermetrin menunjukkan populasi Ae. aegypti masih rentan dengan mortalitas 100% pada seluruh isolat. Hasil penelitian menunjukkan terdapat potensi risiko penularan dengue di wilayah buffer Pelabuhan Laut Kota Padang, dan memberikan data dasar untuk memperkuat strategi pengelolaan vektor terpadu di lingkungan pelabuhan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173703</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
