<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>MT - Veterinary Science</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/72</link>
<description/>
<pubDate>Wed, 17 Jun 2026 06:39:42 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-06-17T06:39:42Z</dc:date>
<item>
<title>Komposisi dan Distribusi Spasial Habitat Perkembangbiakan serta Deteksi Patogen pada Nyamuk dalam Kaitannya sebagai Vektor Penyakit pada Sapi Perah di Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173398</link>
<description>Komposisi dan Distribusi Spasial Habitat Perkembangbiakan serta Deteksi Patogen pada Nyamuk dalam Kaitannya sebagai Vektor Penyakit pada Sapi Perah di Bogor
Vernanda, Muhammad Israfii
Kawasan Usaha Peternakan Sapi Perah (KUNAK) Bogor memiliki potensi tinggi terhadap transmisi penyakit tular nyamuk (mosquito-borne diseases) akibat interaksi antara ternak, peternak sebagai inang dan reservoir patogen di dalam lingkungan peternakan, serta lahan pertanian. Penelitian ini bertujuan menganalisis komposisi dan dominansi spesies, distribusi spasial habitat perkembangbiakan dan karakteristiknya, serta menganalisis potensi nyamuk sebagai vektor penyakit di lingkungan peternakan sapi perah KUNAK Bogor. Penelitian dilakukan sejak Mei September 2025 dengan metode survei lapangan melalui penangkapan nyamuk dewasa dan pengambilan larva nyamuk. Karakteristik habitat yang diamati meliputi aspek fisika, kimia, dan biologis, sedangkan analisis potensi nyamuk sebagai vektor dilakukan dengan mendeteksi arbovirus menggunakan metode RT-PCR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesies nyamuk dominan yang ditemukan termasuk ke dalam genus Aedes, Culex, Anopheles, dan Armigeres, yang berpotensi sebagai vektor penyakit pada hewan dan manusia, dengan Cx. tritaeniorhynchus (57.40%) sebagai spesies paling dominan. Distribusi spasial habitat perkembangbiakan nyamuk tersebar luas di lingkungan peternakan dengan penemuan habitat positif larva nyamuk sebanyak 2–8 habitat per bulan. Wadah buatan merupakan habitat yang paling dominan (39,29%) dan memiliki kepadatan larva tertinggi, sedangkan habitat alami seperti kolam, kubangan, dan kobakan memiliki keanekaragaman spesies yang lebih tinggi. Faktor lingkungan seperti luas, kedalaman, suhu, pH, salinitas, tanaman air, dan predator larva memengaruhi keberadaan dan kelimpahan larva nyamuk. Hasil analisis potensi nyamuk sebagai vektor penyakit menunjukkan bahwa seluruh sampel nyamuk negatif terhadap arbovirus (Flavivirus, Alphavirus, dan Phlebovirus). Meskipun demikian, keberadaan nyamuk beserta habitat perkembangbiakannya yang melimpah tetap menunjukkan potensi risiko penularan penyakit di lingkungan peternakan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173398</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Anestesi terhadap Fungsi Jantung Kucing Domestik Steril melalui Gambaran Ekokardiografi Dan Elektrokardiografi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173306</link>
<description>Pengaruh Anestesi terhadap Fungsi Jantung Kucing Domestik Steril melalui Gambaran Ekokardiografi Dan Elektrokardiografi
Krismaningrum, Heppy Fani
Penggunaan anestesi pada kucing sering diperlukan untuk mendukung&#13;
prosedur diagnostik kardiologi karena dapat mengurangi stres dan pergerakan&#13;
selama pemeriksaan. Kombinasi tiletamin - zolazepam dikenal memberikan&#13;
anestesi yang stabil pada kucing, namun pengaruhnya terhadap fungsi jantung&#13;
berdasarkan ekokardiografi dan elektrokardiografi masih perlu dipahami lebih&#13;
jelas. Perbedaan respons antara kucing domestik jantan dan betina steril juga&#13;
menjadi pertimbangan penting dalam evaluasi kardiovaskular selama anestesi.&#13;
Sebanyak tujuh belas kucing domestik sehat yang telah disterilisasi terdiri&#13;
atas enam jantan dan sebelas betina digunakan sebagai subjek dilakukan&#13;
pemeriksaan sebelum dan sesudah pemberian anestesi kombinasi tiletamin -&#13;
zolazepam. Pemeriksaan ekokardiografi dilakukan menggunakan metode M-mode&#13;
untuk menilai variabel struktur dan fungsi jantung sebelum serta sesudah pemberian&#13;
anestesi. Pemeriksaan elektrokardiografi digunakan untuk mengevaluasi aktivitas&#13;
listrik jantung.&#13;
Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian anestesi kombinasi tiletamin&#13;
- zolazepam menyebabkan penurunan yang bermakna secara statistik pada variabel&#13;
fungsi sistolik jantung, meliputi stroke volume (SV), ejection fraction (EF),&#13;
fractional shortening (FS) dan cardiac output (CO) (p &lt; 0,05). Terdapat&#13;
peningkatan signifikan pada variabel left ventricular posterior wall diastole&#13;
(LVPWd), sementara sebagian besar variabel struktural lainnya tidak menunjukkan&#13;
perubahan yang bermakna. Hasil elektrokardiografi menunjukkan bahwa mayoritas&#13;
variabel tetap stabil, namun terjadi peningkatan signifikan pada amplitudo&#13;
gelombang Q serta pemanjangan interval QT (p &lt; 0,05).&#13;
Berdasarkan perbandingan jenis kelamin, parameter ekokardiografi&#13;
ditemukan adanya perbedaan pada beberapa variabel ekokardiografi sebelum&#13;
anestesi. Pada variabel struktural dan fungsi jantung yang cenderung lebih tinggi&#13;
pada kucing jantan. Namun, setelah pemberian anestesi, perbedaan struktur dan&#13;
fungsi jantung antara kucing domestik jantan dan betina steril menjadi berkurang.&#13;
Berdasarkan parameter elektrokardiografi, tidak terjadi perbedaan signifikan pada&#13;
jenis kelamin sebelum dan setelah anestesi.&#13;
Secara keseluruhan, pemberian anestesi kombinasi tiletamin - zolazepam&#13;
memberikan efek depresan terhadap fungsi sistolik jantung serta memengaruhi&#13;
aktivitas elektrofisiologis ventrikel, meskipun perubahan tersebut masih berada&#13;
dalam batas fisiologis pada kucing sehat. Temuan ini menegaskan pentingnya&#13;
pemantauan fungsi kardiovaskular selama prosedur anestesi, terutama pada pasien&#13;
dengan risiko gangguan jantung.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173306</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Penilaian Biosekuriti dan Implikasi Multisektor dari Risiko Highly Pathogenic Avian Influenza Pada Pasar Unggas Hidup Di Wilayah Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173081</link>
<description>Penilaian Biosekuriti dan Implikasi Multisektor dari Risiko Highly Pathogenic Avian Influenza Pada Pasar Unggas Hidup Di Wilayah Bogor
Hidayah, Dinda Nur
Pasar unggas hidup merupakan simpul penting dalam sistem distribusi unggas di Indonesia karena mempertemukan berbagai jenis dan sumber unggas dalam satu lingkungan yang padat dan dinamis. Kondisi ini berpotensi menjadi titik akumulasi agen penyakit apabila tidak didukung praktik pengelolaan yang memadai. Interaksi intensif antara unggas, pedagang, konsumen, serta lingkungan pasar menjadikan pasar unggas hidup sebagai ruang dengan potensi risiko kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan secara simultan.&#13;
Biosekuriti di pasar unggas hidup menjadi komponen kunci dalam meminimalkan risiko tersebut, melalui penerapan pemisahan spesies, pembersihan dan disinfeksi rutin, pengelolaan limbah yang aman, serta pengendalian pergerakan unggas. Namun, implementasi biosekuriti di Indonesia masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan infrastruktur sanitasi, lemahnya pengawasan, dan belum optimalnya kepatuhan terhadap regulasi. World Health Organization melalui Healthy Food Market Programme (HFMP) menekankan bahwa pasar pangan, termasuk pasar unggas hidup, perlu memenuhi standar higiene dan pengelolaan lingkungan sebagai bagian dari pencegahan zoonosis dan peningkatan keamanan pangan. Dalam konteks ini, pendekatan One Health menjadi relevan karena menempatkan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan dalam satu kerangka risiko yang saling terhubung.&#13;
Avian Influenza (AI) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan menyerang berbagai jenis unggas. Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) seperti H5N1 bersifat sangat virulen dan berpotensi menular ke manusia, sehingga menjadi ancaman serius secara global. Virus ini mampu mengalami mutasi dan reassortment yang menghasilkan varian baru dengan tingkat patogenisitas berbeda. Sejak kemunculannya di Indonesia pada 2003, HPAI H5N1 telah menjadi endemik dan terus berevolusi, dengan dinamika klade yang menunjukkan sirkulasi virus yang berkelanjutan dalam sistem perunggasan.&#13;
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penerapan biosekuriti serta implikasi multisektor terhadap risiko HPAI di sembilan pasar unggas hidup di wilayah Bogor menggunakan pendekatan One Health. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan uji serologis Hemagglutination Inhibition (HI) terhadap antibodi H5N1 klade 2.1.3.2 dan 2.3.2.&#13;
Hasil menunjukkan bahwa 100% pedagang menjual unggas tanpa Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH), 77,8% mencampur unggas dari berbagai sumber, dan 88,9% pasar tidak memiliki fasilitas pengolahan limbah cair. Hewan liar ditemukan di 66,7% pasar. Secara serologis, antibodi terhadap H5N1 klade 2.1.3.2 dan 2.3.2 terdeteksi terutama pada ayam layer dan broiler, mengindikasikan adanya riwayat paparan virus sebelum atau selama distribusi. Analisis kesenjangan terhadap standar WHO HFMP menunjukkan sebagian besar pasar masih lemah pada aspek pemisahan, disinfeksi, dan manajemen limbah. Temuan ini memperlihatkan bahwa pasar unggas hidup berpotensi sebagai titik konsolidasi risiko, dengan implikasi terhadap kesehatan hewan, potensi paparan zoonosis pada manusia, serta kontaminasi lingkungan.&#13;
Penelitian ini menegaskan perlunya intervensi terintegrasi dengan pendekatan One Health yang mencakup peningkatan infrastruktur sanitasi, penerapan wajib SKKH untuk unggas yang dijual, pengawasan rutin oleh pengelola pasar, serta pelatihan biosekuriti bagi pedagang. Implementasi strategi ini diharapkan dapat memperkuat pengendalian HPAI dan mendukung terciptanya pasar unggas hidup yang sehat, aman, dan berkelanjutan.; Live bird markets (LBMs) represent a critical node in Indonesia’s poultry distribution system, as they bring together different poultry species originating from multiple sources within dense and dynamic environments. Such conditions create potential points of pathogen accumulation when market management practices are inadequate. The close interaction between poultry, traders, consumers, and the surrounding environment positions LBMs as spaces where animal, human, and environmental health risks may converge simultaneously.&#13;
Biosecurity in live bird markets is therefore a key component in mitigating these risks, encompassing species segregation, routine cleaning and disinfection, proper waste management, and control of poultry movement. However, the implementation of biosecurity measures in Indonesia remains suboptimal due to limited sanitation infrastructure, weak regulatory enforcement, and low compliance among traders. The World Health Organization, through its Healthy Food Market Programme (HFMP), emphasizes the importance of hygiene standards and environmental management in food markets as part of zoonotic disease prevention and food safety improvement. Within this framework, the One Health approach provides a comprehensive perspective by recognizing the interconnectedness of animal, human, and environmental health.&#13;
Avian Influenza (AI) is a contagious disease caused by influenza A viruses affecting various poultry species. Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI), such as H5N1, is highly virulent and has zoonotic potential, posing significant global threats to animal health, public health, and economic stability. The virus is characterized by its ability to mutate and undergo genetic reassortment, generating new variants with varying levels of pathogenicity. Since its emergence in Indonesia in 2003, HPAI H5N1 has become endemic in poultry populations and continues to evolve, reflecting sustained viral circulation within the poultry production and marketing system.&#13;
This study aimed to assess biosecurity implementation and its multisectoral implications for HPAI risk in nine live bird markets in Bogor using a One Health approach. Data were collected through observations, interviews, and structured questionnaires, alongside poultry blood sampling for serological testing. Antibodies against H5N1 clades 2.1.3.2 and 2.3.2 were detected using the Hemagglutination Inhibition (HI) assay.&#13;
The findings revealed that 100% of traders sold poultry without Animal Health Certificates, 77.8% mixed poultry from different sources, and 88.9% of markets lacked liquid waste treatment facilities. The presence of free-ranging animals, such as cats and wild birds, was observed in 66.7% of markets. Serological results indicated antibodies against H5N1 clades 2.1.3.2 and 2.3.2, predominantly in layer chickens and broilers, suggesting prior exposure to the virus before or during distribution. Gap analysis against WHO HFMP standards showed that most markets were deficient in segregation, disinfection, and waste management practices. These conditions suggest that live bird markets may function as consolidation points of risk, with implications not only for poultry health but also for zoonotic exposure in humans and environmental contamination.&#13;
These findings highlight the need for integrated interventions through a One Health approach, including improved sanitation infrastructure, mandatory health certification, regular inspections, and trader biosecurity training. Strengthening these measures will support effective HPAI prevention and promote healthier and safer live bird market systems.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173081</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Karakterisasi Molekuler dan Evaluasi Model Infeksi Bakteri Avibacterium paragallinarum Isolat Lokal Penyebab Penyakit Coryza pada Ayam</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172326</link>
<description>Karakterisasi Molekuler dan Evaluasi Model Infeksi Bakteri Avibacterium paragallinarum Isolat Lokal Penyebab Penyakit Coryza pada Ayam
Karunia, Nia
Coryza merupakan salah satu penyakit pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Avibacterium paragallinarum (A. paragallinarum). Penyakit ini menimbulkan ancaman besar bagi kesehatan dan produktivitas unggas, terutama di negara-negara tropis seperti Indonesia. Meskipun kasusnya banyak dilaporkan, informasi mengenai karakteristik molekuler, patogenisitas, dan dinamika infeksi isolat lokal Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk karakterisasi molekuler dan mengevaluasi model infeksi A. paragallinarum dari ayam yang menunjukkan gejala klinis coryza.&#13;
&#13;
Sebanyak 60 sampel swab dikoleksi dari peternakan ayam di wilayah Kabupaten Bogor dan sekitarnya. Identifikasi dilakukan melalui pendekatan fenotipik (kultur pada media yang disuplemen Nicotinamide Adenine Dinucleotide [NAD], pewarnaan Gram, dan uji biokimia) serta konfirmasi molekuler menggunakan PCR HPG-2, ERIC-PCR, dan sekuensing gen 16S rRNA. Desain primer dilakukan menggunakan sekuens dari GenBank dan menargetkan gen HMTp210. Pada pemodelan infeksi, empat kelompok ayam digunakan yaitu kelompok kontrol, kelompok inokulasi A. paragallinarum, kelompok koinfeksi Staphylococcus aureus, dan kelompok transmisi. Bakteri diinokulasi ke sinus infraorbital, gejala klinis diamati, skor rata-rata harian dicatat, dan konfirmasi kembali dilakukan dengan PCR HPG-2. &#13;
&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 37 dari 60 sampel terkonfirmasi positif A. paragallinarum menggunakan PCR HPG-2, namun hanya delapan isolat yang berhasil dikultur. Uji biokimia memperlihatkan hasil uji katalase dan oksidase negatif, serta tampilan bakteri Gram negatif. Analisis sekuens menunjukkan homologi 95,7–99,2% dengan strain referensi A. paragallinarum di GenBank, dan homologi 96,5–99,2% antar isolat. Pohon filogenetik menunjukkan semua sampel berada dalam klade yang sama, namun berbeda klade dengan strain referensi. Evaluasi keragaman genetik dilakukan melalui ERIC-PCR, yang mengidentifikasi lima kelompok di antara isolat, menunjukkan variasi genomik yang cukup besar. Upaya desain primer baru yang dilakukan belum berhasil membedakan serovar isolat Indonesia secara spesifik. Sementara itu, uji patogenisitas dan pemodelan infeksi berhasil mengevaluasi gejala klinis kategori ringan yang ditunjukkan dari ayam yang telah ditantang dengan positif A. paragallinarum dari hasil uji PCR mulai hari ke-2 pasca infeksi.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172326</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
