<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>MF - Veterinary Science</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/72</link>
<description/>
<pubDate>Wed, 02 Sep 2026 16:21:45 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-09-02T16:21:45Z</dc:date>
<item>
<title>Evaluasi Conditioning Clamping Sebagai Mekanisme Proteksi Kerusakan Remote Ischemia Reperfusion Injury Pada Saluran Cerna Tikus Putih</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179873</link>
<description>Evaluasi Conditioning Clamping Sebagai Mekanisme Proteksi Kerusakan Remote Ischemia Reperfusion Injury Pada Saluran Cerna Tikus Putih
Ramli, Aqidatul Izzah
Ischemia-reperfusion injury (IRI) merupakan bentuk kerusakan jaringan yang timbul akibat gangguan metabolik dan hipoksia seluler, diikuti oleh lonjakan stres oksidatif setelah aliran darah dipulihkan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas conditioning clamping dalam mencegah dampak remote IRI pada saluran cerna. Dua puluh ekor tikus Sprague-Dawley (Rattus norvegicus) jantan dibagi menjadi empat kelompok: kontrol tanpa perlakuan (NTC), kelompok pre conditioning clamping (Pre), kelompok post-conditioning clamping (Post), dan kelompok kombinasi pre- dan post-conditioning clamping (PP). Ligasi arteri femoralis dilakukan selama dua jam pada seluruh kelompok, diikuti reperfusi selama dua jam. Pada kelompok Pre diberikan teknik conditioning clamping sebelum ligasi dilakukan. Kelompok Post, diberikan setelah ligasi a. femoralis dan kelompok PP diberikan sebelum dan setelah prosedur ligasi-reperfusi. Parameter kimia darah (aspartate aminotransferase (AST), alanine aminotransferase (ALT), dan albumin), motilitas usus halus, serta histopatologi usus dievaluasi. Kelompok NTC menunjukkan induksi remote IRI berhasil dengan kerusakan jaringan yang nyata, tercermin dari peningkatan kadar AST, penurunan albumin, dan gangguan motilitas usus (16,09% ± 3,90%). Di antara kelompok conditioning, kelompok Pre menunjukkan efek protektif paling baik karena telah melewati proses adaptasi, dilihat kadar AST terendah, motilitas usus tertinggi (94,97% ± 1,57%), dan integritas mukosa yang terjaga pada pemeriksaan histopatologi. Sebaliknya, kelompok PP tidak menunjukkan perbaikan; kelompok ini justru mengalami kerusakan jaringan paling berat, ditandai lonjakan AST yang nyata dan deskuamasi epitel yang ekstensif, diduga akibat beban stres oksidatif tambahan dari siklus reperfusi berulang. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa pre-conditioning memberikan proteksi yang lebih unggul terhadap kerusakan jaringan akibat hipoksia dan lebih efektif meredam respons inflamasi sistemik dibanding strategi conditioning lain yang diuji.; Ischemia-reperfusion injury (IRI) is a form of tissue damage arising from metabolic disturbance and cellular hypoxia, followed by a surge in oxidative stress after blood flow is restored. This study aimed to evaluate the effectiveness of conditioning clamping in preventing the effects of remote IRI on the gastrointestinal tract. Twenty male Sprague-Dawley rats (Rattus norvegicus) were divided into four groups: a non-treatment control group (NTC), a pre-conditioning clamping group (Pre), a post-conditioning clamping group (Post), and a combined pre- and post conditioning clamping group (PP). Femoral artery ligation was performed for two hours in all groups, followed by two hours of reperfusion. The Pre group received the conditioning clamping technique before ligation was performed, the Post group received it after femoral artery ligation, and the PP group received it both before and after the ligation-reperfusion procedure. Blood biochemical parameters (aspartate aminotransferase (AST), alanine aminotransferase (ALT), and albumin), small intestinal motility, and intestinal histopathology were evaluated. The NTC group demonstrated successful induction of remote IRI, evidenced by marked tissue damage, reflected in elevated AST levels, decreased albumin, and impaired intestinal motility (16.09% ± 3.90%). Among the conditioning groups, the Pre group exhibited the most favorable protective effect, attributable to a preceding adaptive process, as shown by the lowest AST level, the highest intestinal motility (94.97% ± 1.57%), and preserved mucosal integrity on histopathological examination. In contrast, the PP group showed no improvement; this group instead sustained the most severe tissue damage, marked by a pronounced surge in AST and extensive epithelial desquamation, presumably due to additional oxidative stress from repeated reperfusion cycles. Overall, these findings indicate that pre conditioning confers superior protection against hypoxia-induced tissue damage and more effectively attenuates the systemic inflammatory response compared with the other conditioning strategies tested.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179873</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>POTENSI PROTEKTIF EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera Lam.) TERHADAP AORTA DAN PANKREAS TIKUS OBESITAS YANG DIINDUKSI PAKAN TINGGI LEMAK</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179744</link>
<description>POTENSI PROTEKTIF EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera Lam.) TERHADAP AORTA DAN PANKREAS TIKUS OBESITAS YANG DIINDUKSI PAKAN TINGGI LEMAK
Harsanto, Yudha Dwi
Obesitas merupakan gangguan metabolik yang disertai inflamasi kronis derajat rendah. Aorta dan pankreas rentan mengalami remodeling vaskular, gangguan histoarsitektur, serta peningkatan aktivitas kompensatorik sel ß. Daun kelor (Moringa oleifera Lam.) mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh ekstrak daun kelor terhadap profil hemogram, histopatologi dan morfometri aorta serta pankreas, imunoekspresi TNF-a pada aorta, dan imunoekspresi insulin pada pankreas tikus obesitas.&#13;
Sebanyak dua puluh ekor tikus Sprague–Dawley jantan dibagi menjadi empat kelompok (n = 5), yaitu kontrol normal (KK) yang diberi pakan standar, kontrol negatif (KN) yang diberi pakan tinggi lemak, kontrol positif (KP) yang diberi pakan tinggi lemak dan orlistat 10 mg/kg berat badan, serta perlakuan ekstrak (PE) yang diberi pakan tinggi lemak dan ekstrak daun kelor 500 mg/kg berat badan. Parameter yang diperiksa meliputi hemogram, histopatologi aorta dan pankreas, morfometri ketebalan intima-media aorta dan luas pulau Langerhans, serta imunoekspresi TNF-a dan insulin. Data dianalisis menggunakan ANOVA satu arah dan uji Tukey atau uji Kruskal–Wallis dan Dunn pada p &lt; 0,05.&#13;
Sebagian besar parameter hemogram tidak berbeda nyata antarkelompok (p &gt; 0,05). Monosit KN (0,16 ± 0,11 × 10³/µL) lebih rendah dan berbeda nyata dibandingkan KK dan PE (masing-masing 0,32 ± 0,08 × 10³/µL; p &lt; 0,05). Ketebalan intima-media KN (180,77 ± 7,71 µm) lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan KK (112,15 ± 36,86 µm) dan PE (136,23 ± 12,49 µm), sedangkan KP (165,22 ± 3,28 µm) lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan KK (p &lt; 0,05). Imunoekspresi TNF-a PE (1,49 ± 1,00%) lebih rendah dan berbeda nyata dibandingkan KN (9,33 ± 1,77%) dan KP (4,45 ± 1,91%; p &lt; 0,05), tetapi tidak berbeda nyata dari KK (0,99 ± 0,25%; p &gt; 0,05). Skor edema PE pada pankreas (0,28 ± 0,34) lebih rendah dan berbeda nyata dibandingkan KN (1,20 ± 0,37) dan KP (1,08 ± 0,34; p &lt; 0,05). Luas pulau Langerhans PE (11.019,69 ± 2.816,56 µm²) berbeda nyata dibandingkan KN (23.906,93 ± 1.507,57 µm²). Imunoekspresi insulin PE (3,15 ± 1,39%) lebih rendah dan berbeda nyata dibandingkan KN (8,88 ± 2,88%) dan KP (7,25 ± 0,91%; p &lt; 0,05), tetapi tidak berbeda nyata dari KK (1,48 ± 0,61%; p &gt; 0,05). Dengan demikian, ekstrak daun kelor diduga mampu menekan inflamasi dan remodeling aorta serta memperbaiki perubahan pankreas akibat obesitas.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179744</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Tesis a.n Alyssa (B3501222038)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179732</link>
<description>Tesis a.n Alyssa (B3501222038)
Alyssa
Sapi pesisir merupakan sapi lokal Sumatera Barat yang telah beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan tropis, tetapi data dasar hemogram yang terpublikasi secara ilmiah belum tersedia seperti sapi lokal lainnya. Sapi betina dara dan dewasa diketahui memiliki profil fisiologis yang berbeda akibat perubahan metabolik, hormonal, dan perkembangan organ reproduksi sehingga ketiadaan data acuan berbasis kelompok umur berisiko menimbulkan kesalahan interpretasi klinis pada manajemen kesehatan sapi pesisir. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi profil hemogram dan morfologi sel darah sapi pesisir betina pada dua kelompok umur yang berbeda, yaitu betina dara (8 – 12 bulan) dan betina dewasa (di atas 12 bulan). Penelitian ini dirancang menggunakan pendekatan studi potong lintang (cross-sectional study) dengan metode pengambilan sampel acak bertingkat (stratified random sampling) pada populasi sapi pesisir sehat yang dipelihara di BPTU-HPT Padang Mengatas pada ketinggian 740 – 1041 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sampel darah dikoleksi melalui vena jugularis dari&#13;
20 ekor sapi pada tiap kelompok umur untuk pemeriksaan profil hemogram menggunakan mesin hematologi otomatis Exigo H400, dan pemeriksaan morfologi serta morfometri sel darah dengan metode pewarnaan Giemsa yang dianalisis dengan software ImageJ. Kemudian data dianalisis menggunakan uji Shapiro-Wilk menguji sebaran data, dilanjutkan dengan uji Independent T-test atau Mann-Whitney U, serta uji effect size (Cohen’s d atau Rank-Biserial Correlation). Hasil pemeriksaan hemogram menunjukkan adanya perbedaan nyata (p &lt; 0.05) pada seluruh parameter profil eritrosit yang ditandai dengan peningkatan nilai total eritrosit dan MCHC pada sapi dara, dan peningkatan nilai hemoglobin, hematokrit, serta MCV pada sapi dewasa. Profil leukosit menunjukkan bahwa nilai limfosit absolut dan relatif lebih tinggi pada sapi dara, sedangkan nilai neutrofil relatif, eosinofil relatif, dan rasio N/L lebih tinggi pada sapi dewasa. Hasil pemeriksaan morfologi menunjukkan bahwa diameter sel eritrosit, limfosit, monosit, dan eosinofil secara signifikan berbeda antar kelompok umur. Penelitian ini menunjukkan bahwa pertambahan umur memengaruhi seluruh parameter profil eritrosit dan sebagian parameter profil leukosit sapi pesisir betina, tanpa adanya perubahan patologis pada morfologi selnya. Profil hemogram sapi pesisir secara umum berbeda dari sapi lokal Indonesia lainnya. Temuan ini menjadi infomasi dasar untuk interpretasi profil darah sapi pesisir betina berbasis umur dan lokasi geografis.; Pesisir cattle is a local cattle breed of West Sumatra that has adapted well to the tropical environment; however, scientifically published baseline hemogram data are not yet available for this breed, unlike for other Indonesian local cattle. Heifer (nulliparous) and adult female cattle are known to have different physiological profiles due to metabolic, hormonal, and reproductive organ developmental changes, such that the absence of age-group-based reference data risks causing clinical misinterpretation in the health management of Pesisir cattle. This study aimed to explore the hemogram profile and blood cell morphology of female Pesisir cattle across two different age groups, namely heifer (8–12 months) and adult females (over 12 months). This study was designed using a cross-sectional study approach with a stratified random sampling method in a healthy Pesisir cattle population maintained at BPTU-HPT Padang Mengatas (740–1041 meter above sea level). Blood samples were collected via the jugular vein from 20 head of cattle in each age group for hemogram profile examination using an Exigo H400 automated hematology analyzer, and for blood cell morphology and morphometry examination using Giemsa staining analyzed with ImageJ software. Data were then analyzed using the Shapiro-Wilk test to examine data distribution, followed by an Independent T-test or Mann-Whitney U test, as well as effect size testing (Cohen's d or Rank-Biserial Correlation). Hemogram examination results showed significant differences (p &lt; 0.05) in all erythrocyte parameters, marked by increased erythrocyte and MCHC values in heifer, and increased hemoglobin, hematocrit, and MCV values in adult cattle. The leukocyte profile showed that absolute and relative lymphocyte values were higher in heifer, whereas relative neutrophil, relative eosinophil, and N/L ratio values were higher in adult cattle. Morphological examination results showed that the cell diameters of erythrocytes, lymphocytes, monocytes, and eosinophils differed significantly between age groups. This study shows that increasing age affects all erythrocyte profile parameters and part of the leukocyte profile parameters of female Pesisir cattle, without any pathological changes in cell morphology. The hemogram profile of pesisir cattle generally differs from that of other Indonesian local cattle. These findings serve as baseline information for the interpretation of blood profiles of female pesisir cattle based on age and geographic location.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179732</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Individual Variation in Semen Quality of Sumatran Rhinoceros (Dicerorhinus sumatrensis) Breeding Males: Implications for ART and Biobanking</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179527</link>
<description>Individual Variation in Semen Quality of Sumatran Rhinoceros (Dicerorhinus sumatrensis) Breeding Males: Implications for ART and Biobanking
Cecile, Sarasvathi
SARASVATHI CECILE. Individual Variation in Semen Quality of Sumatran Rhinoceros (Dicerorhinus sumatrensis) Breeding Males: Implications for ART and Biobanking. Supervised by MUHAMMAD AGIL, BAMBANG PURWANTARA, and THOMAS B. HILDEBRANDT. &#13;
&#13;
	The Sumatran rhinoceros (Dicerorhinus sumatrensis) is one of the world's most critically endangered mammals, with only three adult males currently maintained under ex situ conservation. Despite the importance of sperm cryopreservation for reproductive biobanking, comprehensive information regarding post-thaw sperm quality and DNA integrity in this species remains lacking. This study aimed to evaluate the post-thaw quality and functional competence of cryopreserved sperma obtained from the three remaining adult male Sumatran rhinoceroses. Cryopreserved ejaculates collected by electroejaculation were assessed for sperm motility and kinematics using computer-assisted sperm analysis (CASA), whereas morphology, viability, acrosome integrity, and DNA fragmentation were evaluated using Diff-Quik, eosin–nigrosin, Coomassie Brilliant Blue G-250, and Halomax® assays, respectively. Post-thaw sperm quality was generally compromised, characterized by low motility, reduced viability, and a high incidence of morphological abnormalities. Total morphological defects ranged from 49.22% to 64.99%, whereas sperm viability ranged from 23.03 ± 7.54% to 41.53 ± 6.80%. In contrast, acrosome integrity remained relatively high (&gt;70%) in all individuals. Notably, sperm DNA fragmentation indices were consistently low, ranging from 0.91 ± 0.30% to 3.78 ± 1.12%, indicating substantial preservation of nuclear integrity despite compromised conventional sperm quality. These findings demonstrate that poor conventional sperm quality does not necessarily imply compromised nuclear integrity and highlight the substantial conservation value of cryopreserved semen from the three remaining adult male Sumatran rhinoceroses. The present study provides an important foundation for reproductive biobanking and future assisted reproductive applications aimed at preserving the genetic legacy of this critically endangered species.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179527</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
