<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>MF - Agriculture</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71</link>
<description/>
<pubDate>Thu, 15 Oct 2026 06:15:57 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-10-15T06:15:57Z</dc:date>
<item>
<title>Identifikasi Jagung Manis Pembawa Gen wxwx dan Prediksi Tetua Hibrida Jagung Pulut Manis Berdasarkan Jarak Genetik</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180105</link>
<description>Identifikasi Jagung Manis Pembawa Gen wxwx dan Prediksi Tetua Hibrida Jagung Pulut Manis Berdasarkan Jarak Genetik
Indrayani, Sri
Jagung pulut dan jagung manis merupakan produk pertanian yang memiliki&#13;
nilai konsumsi dan ekonomi tinggi. Jagung pulut disukai karena teksturnya pulen,&#13;
sedangkan jagung manis diminati karena rasa manis dan tekstur lembut.&#13;
Penggabungan kedua karakter tersebut diperlukan untuk menghasilkan hibrida&#13;
jagung pulut-manis yang memiliki daya hasil tinggi dan kualitas konsumsi baik.&#13;
Penelitian ini bertujuan: (1) memperoleh informasi galur jagung manis yang&#13;
membawa gen wxwx, (2) memperoleh informasi jarak genetik tetua jagung pulutmanis berdasarkan morfologi kernel, biokimia, marka molekuler, dan (3)&#13;
mengevaluasi hibrida jagung pulut-manis antara jarak genetik jauh (antar klaster)&#13;
dengan jarak genetik dekat (dalam klaster).&#13;
Penelitian ini terdiri atas tiga percobaan. Percobaan pertama adalah&#13;
identifikasi jagung manis pembawa gen wxwx dengan analisis keragaman dan&#13;
analisis persilangan. Percobaan kedua adalah prediksi hibrida jagung pulut-manis&#13;
berdasarkan karakter morfologi kernel, biokimia dan marka molekuler. Percobaan&#13;
ketiga adalah verifikasi hibrida jagung pulut manis.&#13;
Percobaan pertama menunjukkan bahwa hasil analisis klaster berdasarkan&#13;
karakter kualitatif dan kuantitatif tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk&#13;
mendeteksi keberadaan gen wxwx. Berdasarkan hasil ini, genotipe pembawa gen&#13;
tersebut tetap terkelompok bersama jagung manis yang tidak membawa gen waxy.&#13;
Hasil persilangan antara jagung pulut (P1 – P3) dan jagung manis (P4 – P17)&#13;
menunjukkan dua ekspresi fenotipe berbeda, yaitu pulut dan pipil. Persilangan&#13;
antara jagung pulut dengan jagung manis P4 dan P5 menghasilkan fenotipe biji&#13;
pulut sedangkan persilangan antara jagung pulut dengan jagung manis (P6 – P17)&#13;
menghasilkan fenotipe biji pipil. Metode persilangan yang memanfaatkan&#13;
metaxenia dapat digunakan sebagai metode seleksi fenotipik untuk&#13;
mengidentifikasi galur jagung manis pembawa gen wxwx.&#13;
Percobaan kedua menunjukkan bahwa analisis klaster terhadap tujuh galur&#13;
jagung pulut dan jagung manis menggunakan data gabungan yang mencakup&#13;
karakter morfologi kernel, biokimia, dan marka molekuler RAPD menghasilkan&#13;
dua kelompok utama. Pengelompokan ini menunjukkan adanya perbedaan genetik&#13;
antar galur yang terlihat dari jarak genetiknya.&#13;
Percobaan ketiga menunjukkan bahwa hibrida yang berasal dari persilangan&#13;
antar klaster menunjukkan potensi hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan&#13;
hibrida yang berasal dari dalam klaster yang sama. Hibrida JPM 1.2P3 × JPS&#13;
13.6.1K.1 menunjukkan performa lebih baik pada beberapa karakter hasil dan&#13;
berpotensi dikembangkan sebagai kandidat hibrida jagung pulut-manis.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180105</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Efektivitas Fly Ash dalam Menyerap CO2 dari Dekomposisi Bahan Organik di Ultisol</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180075</link>
<description>Efektivitas Fly Ash dalam Menyerap CO2 dari Dekomposisi Bahan Organik di Ultisol
Lorinanggarani, Ray Harmida
Penyelesaian masalah pemanasan global memerlukan upaya untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) secara signifikan. Indonesia pada tahun 2030 berkomitmen menurunkan emisi GRK sebesar 31,89% secara mandiri, 43,20% bila dengan bantuan international dari baseline emisi tahun 2010. Sektor pertanian termasuk dalam sektor prioritas dalam penargetan tersebut. Salah satu sumber utama emisi CO2 dari kegiatan pertanian adalah proses dekomposisi bahan organik oleh mikrob tanah. Namun pemberian bahan organik penting untuk dilakukan karena dapat memperbaiki sifat tanah baik secara biologi, kimia dan fisika, terutama pada tanah dengan tingkat kesuburan yang rendah seperti Ultisol. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan yang dapat mempertahankan manfaat pemberian bahan organik sekaligus menekan pelepasan CO2 selama proses dekomposisi. Salah satu material yang mampu memperbaiki sifat kimia Ultisol sekaligus menjadi material mitigasi penangkapan CO2 pada tanah, yaitu fly ash. Fly ash bersifat alkalis dan mengandung oksida seperti CaO, dan MgO dan lainnya. Kedua oksida tersebut mampu bereaksi dengan CO2 yang dihasilkan sehingga CO2 yang akan kembali ke atmosfer akan menjadi mineral karbonat yang stabil di dalam tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mempelajari pengaruh pemberian fly ash dan bahan organik terhadap fluks CO2 dari proses dekomposisi bahan organik di Ultisol. (2) Mengetahui bagaimana dinamika fluks CO2 pada interaksi dari pemberian fly ash dan bahan organik, dan (3) Mengkaji evektivitas dari fly ash dalam menangkap CO2 dari dekomposisi bahan organik di Ultisol.&#13;
?Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Dapartemen Ilmu Tanah Sumberdaya Lahan IPB. Percobaan dilakukan dengan menginkubasi tanah yang diberi perlakuan fly ash dan bahan organik menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua faktor, yaitu dosis fly ash (F1 = Tanpa fly ash, F2 = fly ash 2,17 g.kg-1, F3 = fly ash 4,16 g.kg-1, dan F4 = fly ash 8,7 g.kg-1) dan jenis bahan organik (tanpa bahan organik, jerami padi, jagung dan pukan sapi masing-masing 8,7 g.kg-1). Penelitian ini terdiri dari 16 kombinasi perlakuan dan masing-masing kombinasi perlakuan memiliki tiga ulangan, sehingga diperoleh 48 unit percobaan. Campuran tanah, bahan organik, dan fly ash diinkubasi pada suhu 25-28 °C dengan kelembaban dipertahankan mendekati 80% kapasitas lapang. Wadah inkubasi yang digunakan pada penelitian ini menggunakan paralon PVC dengan panjang 30 cm dan diameter 4 inci. Tanah dimasukkan kedalam paralon sampai 20 cm. Pengukuran Fluks CO2 setiap unit percobaan diukur pada hari ke 1, 5, 13, 21, 35, 49, dan hari ke 70 inkubasi menggunakan Li-Cor Li-830. Akumulasi emisi CO2 selama inkubasi dihitung menggunakan metode trapesium. Data dianalisis melalui uji normalitas residual Shapiro-Wilk. Data yang tidak berdistribusi dengan normal dianalisis menggunakan Kruskal-Wallis dan uji lanjut Mann-Whitney U.&#13;
?Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian fly ash tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap fluks CO2 yang dihasilkan. Pada perlakuan pukan sapi menghasilkan fluks CO2 paling rendah dibandingkan dengan perlakuan berangkasan jagung dan jerami padi. Sedangkan pada pemberian bahan organik memberikan pengaruh yang nyata pada setiap hari pengamatan. Dinamika fluks CO2 yang dihasilkan menunjukkan fluks CO2 pada awal inkubasi merupakan fluks tertinggi lalu menurun seiring dengan waktu inkubasi, pada perlakuan tanpa bahan organik stabilnya fluks CO2 yang dihasilkan pada hari ke 21, sedangkan pada perlakuan yang diberikan bahan organik menghasilkan fluks CO2 yang stabil pada hari ke 35. Perlakuan tanpa bahan organik dan pukan sapi memiliki pola dinamika yang sama sedangakan pola yang sama lainnya dihasilkan pada perlakuan jerami padi dan berangkasan jagung. Akumulasi emisi CO2 selama 70 hari inkubasi menunjukkan respon yang berbeda pada setiap jenis bahan organik terhadap dosis fly ash. Dosis fly ash dalam menangkap CO2 yang dihasilkan berbeda beda pada setiap bahan organik, Dosis fly ash 2,17 g.kg-1 menangkap CO2 terendah pada perlakuan berangkasan jagung, dosis fly ash 4,16 g.kg-1 pada perlakuan pukan sapi dan dosis fly ash 8,7 g.kg-1 terendah menghasilkan akumulasi emisi CO2 untuk perlakuan jerami padi. Karakteristik kimia setelah 70 hari inkubasi menunjukkan variasi kandungan C-organik, N-total, dan rasio C/N pada setiap kombinasi perlakuan. Kandungan C-organik tidak menunjukkan pola perubahan yang konsisten seiring dengan meningkatnya dosis fly ash yang diberikan. Kandungan N-total juga tidak menunjukkan perbedaan jauh pada setiap kombinasi perlakuan, kandungan yang dihasilkan masih dalam kadar yang sangat rendah sampai rendah. Sedangkan rasio C/N yang dihasilkan menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan pada jerami padi memiliki C/N paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan pukan sapi dan berangkasan jagung.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180075</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Produksi Biomassa, Minyak Atsiri, Dan Aktivitas Antioksidan Daun Kari (Murraya koenigii L.Spreng) Dengan Beberapa Aplikasi Dosis Pupuk Nitrogen Dan Umur Panen</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180022</link>
<description>Produksi Biomassa, Minyak Atsiri, Dan Aktivitas Antioksidan Daun Kari (Murraya koenigii L.Spreng) Dengan Beberapa Aplikasi Dosis Pupuk Nitrogen Dan Umur Panen
Wahyuni, Anggita Sri
Daun tanaman kari (Murraya koenigii) merupakan salah satu rempah penting&#13;
yang banyak dimanfaatkan dalam kuliner di Indonesia. Selain sebagai rempah, daun&#13;
tanaman ini juga mengandung minyak atsiri yang berpotensi dikembangkan untuk&#13;
berbagai keperluan. Informasi mengenai pengaruh dosis nitrogen dan umur panen&#13;
terhadap rendemen serta komposisi senyawa minyak atsiri daun kari masih terbatas.&#13;
Dosis nitrogen dan umur panen diketahui dapat memengaruhi pertumbuhan&#13;
tanaman, akumulasi metabolit sekunder, dan kualitas minyak atsiri pada tanaman&#13;
aromatik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi rendemen&#13;
dan komposisi senyawa minyak atsiri daun kari (Murraya koenigii) yang&#13;
dipengaruhi oleh beberapa dosis nitrogen dan umur panen. Penelitian ini bertujuan&#13;
untuk mengevaluasi karakteristik kimia minyak atsiri daun kari (Murraya koenigii)&#13;
yang dipengaruhi oleh beberapa dosis nitrogen dan umur panen. Penelitian&#13;
menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan 2 faktor,&#13;
yaitu dosis nitrogen dan umur panen, dengan dosis nitrogen yang terdiri dari 4 taraf,&#13;
yaitu 0 ; 18,75; 37,5 , dan 56,25 gram tanaman-1. Umur panen terdiri dari 3 taraf,&#13;
yaitu 4 bulan setelah pemangkasan, 5 bulan setelah pemangkasan, dan 6 bulan&#13;
setelah pemangkasan. Percobaan diulang sebanyak 3 kali sehingga terdapat 36 unit&#13;
percobaan. Satu unit percobaan terdiri dari delapan tanaman, sehingga terdapat 288&#13;
tanaman. Daun kari dipanen dan diekstrak minyak atsiringnya menggunakan&#13;
metode hidrodistilasi. Komposisi kimia minyak atsiri yang diperoleh&#13;
dikarakterisasi menggunakan kromatografi gas-spektrometri massa (GC-MS) dan&#13;
aktivitas antioksidan dievaluasi menggunakan uji penangkapan radikal ABTS (2,2'-&#13;
azino-bis(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid)). Hasil penelitian menunjukkan&#13;
bahwa dosis pupuk nitrogen dan umur panen secara signifikan memengaruhi&#13;
produksi biomassa, hasil minyak atsiri, komposisi kimia, dan aktivitas antioksidan.&#13;
Dosis nitrogen 18,75 g tanaman?¹ efektif dalam meningkatkan pertumbuhan&#13;
tanaman, produksi biomassa, dan hasil minyak atsiri, sedangkan umur panen 5&#13;
bulan setelah pemangkasan optimal untuk produksi minyak atsiri. Minyak atsiri&#13;
daun kari menunjukkan aktivitas antioksidan yang sangat kuat, dengan nilai IC50&#13;
terbaik sebesar 40,99 ppm yang diperoleh dari perlakuan dengan 56,25 g nitrogen&#13;
tanaman?¹ dan 6 bulan setelah pemangkasan. Dosis nitrogen 56,25 g dan umur&#13;
panen 6 bulan setelah pemangkasan meningkatkan senyawa Caryophyllene dengan&#13;
kelimpahan area sebesar 34,11%.; Curry leaf (Murraya koenigii) is an important spice widely used in Indonesian&#13;
cuisine. In addition to its culinary use, its leaves contain essential oils with potential&#13;
applications in various fields. Information on the effects of nitrogen dosage and&#13;
harvesting age on the yield and chemical composition of curry leaf essential oil&#13;
remains limited. Nitrogen dosage and harvesting age are known to affect plant&#13;
growth, secondary metabolite accumulation, and essential-oil quality in aromatic&#13;
plants.Therefore, this study aimed to evaluate the yield and chemical composition&#13;
of curry leaf (Murraya koenigii) essential oil under different nitrogen doses and&#13;
harvesting ages. The study employed a Randomized Complete Block Design&#13;
(RCBD) with two factors: nitrogen dosage and harvesting age. Nitrogen dosage&#13;
consisted of four levels: 0, 18.75, 37.5, and 56.25 g plant?¹. Harvesting age&#13;
consisted of three levels: 4, 5, and 6 months after pruning. The experiment was&#13;
replicated 3 times, yielding 36 experimental units. Each experimental unit consisted&#13;
of eight plants, for a total of 288 plants. Curry leaves were harvested, and their&#13;
essential oils were extracted using the hydrodistillation method. The chemical&#13;
composition of the essential oils was characterized using gas chromatography–mass&#13;
spectrometry (GC–MS), while antioxidant activity was evaluated using the ABTS&#13;
radical-scavenging assay (2,2'-azino-bis(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid).&#13;
The results showed that nitrogen fertilizer dosage and harvesting age significantly&#13;
affected biomass production, essential oil yield, chemical composition, and&#13;
antioxidant activity. A nitrogen dose of 18.75 g plant?¹ was effective in increasing&#13;
plant growth, biomass production, and essential-oil yield, whereas harvesting at 5&#13;
months after pruning was optimal for essential-oil production. Curry leaf essential&#13;
oil exhibited very strong antioxidant activity, with the best IC50 value of 40.99 ppm&#13;
obtained from the treatment of 56.25 g of nitrogen plant?¹ and harvesting at 6&#13;
months after pruning. A nitrogen dose of 56.25 g plant?¹ combined with harvesting&#13;
at 6 months after pruning increased the abundance of caryophyllene, reaching an&#13;
area percentage of 34.11%.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180022</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Iradiasi Sinar Gamma pada Genotipe Koro Pedang (Canavalia ensiformis L.) Koleksi IPB</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179879</link>
<description>Iradiasi Sinar Gamma pada Genotipe Koro Pedang (Canavalia ensiformis L.) Koleksi IPB
Rahayu, Gina
Koro pedang (Canavalia ensiformis L.) memiliki potensi sebagai alternatif kedelai karena memiliki kandungan protein tinggi (21,42-38,50%) dan mampu beradaptasi di lahan marginal. Namun, kendala utama pengembangannya terletak pada masa panen yang panjang dan produktivitas yang masih rendah. Pemuliaan menggunakan metode iradiasi sinar gamma diharapkan mampu meningkatkan keragaman koro pedang. Perlakuan iradiasi pada benih koro pedang dapat menyebabkan gangguan fisiologis pada generasi M1. Sementara itu, pada populasi M2 dapat diperoleh keragaman yang tinggi dan potensial untuk dilakukan seleksi. Karakter seleksi didasarkan pada potensi hasil yang tinggi, tinggi tanaman yang relatif rendah, dan umur panen yang genjah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai lethal dose 50% (LD50) iradiasi sinar gamma pada koro pedang, mengetahui pengaruh iradiasi sinar gamma terhadap morfologi koro pedang generasi M1, serta memperoleh keragaman genetik pada generasi M2 koro pedang koleksi IPB. &#13;
Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap di Dramaga, Bogor, pada periode 2024 hingga 2026. Percobaan pertama menggunakan benih koro pedang genotipe IPBFA KP01(SB) koleksi IPB yang telah diinduksi sinar gamma dengan rentang dosis 0–1.000 Gy menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga ulangan. Percobaan kedua mengevaluasi seluruh populasi M2 hasil selfing generasi sebelumnya menggunakan rancangan percobaan untuk populasi bersegregasi. Data percobaan pertama dianalisis menggunakan curve fit analysis dan sidik ragam (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji DMRT, sedangkan data pada percobaan kedua dianalisis menggunakan uji T dua populasi. Selain itu, pada populasi M2 dilakukan perhitungan indeks panen serempak (IPS), derajat indeterminasi, komponen ragam, heritabilitas, koefisien keragaman genetik, serta analisis korelasi.&#13;
Iradiasi sinar gamma pada koro pedang menghasilkan LD50 sebesar 355,91 Gy dengan ambang toleransi maksimum 400 Gy. Pada generasi M1, dosis rendah (100–200 Gy) memicu efek hormesis yang merangsang tinggi tanaman dan panjang daun, sementara dosis tinggi (300–400 Gy) menyebabkan inhibisi vegetatif, keterlambatan generatif, serta penurunan hasil akibat kerusakan DNA dan sterilitas tanaman. Iradiasi sinar gamma meningkatkan keragaman genetik pada populasi M2 koro pedang dan umumnya memengaruhi nilai rataan karakter pertumbuhan, namun tidak berpengaruh nyata pada komponen hasil dan kegenjahan. Umur panen menunjukkan heritabilitas tinggi dengan KKG sedang. Seleksi indeks terboboti dengan intensitas 10% menghasilkan 50 genotipe mutan putatif potensial dan efektif meningkatkan bobot biji serta menurunkan tinggi tanaman, meskipun demikian perubahan pada umur panen belum signifikan.; Jack bean (Canavalia ensiformis L.) has the potential to serve as an alternative to soybeans because it has a high protein content (21.42–38.50%) and can adapt to marginal lands. However, the main constraints to its development lie in its long harvest period and still-low productivity. Breeding using gamma-ray irradiation is expected to increase the diversity of jack bean. Irradiation treatment of jack bean seeds can cause physiological disturbances in the M1 generation. Meanwhile, the M2 population exhibits high diversity and has potential for selection. Selection criteria are based on high yield potential, relatively short plant height, and an early harvest period. This study aims to determine the lethal dose 50% (LD50) of gamma-ray irradiation on jack bean, to investigate the effect of gamma-ray irradiation on the morphology of M1-generation jack bean, and to assess the genetic diversity of the M2 generation of jack bean from the IPB collection. &#13;
The study was conducted in two phases in Dramaga, Bogor, during the period from 2024 to 2026. The first experiment used seeds from the jack bean IPBFA KP01(SB) genotype IPB collection that had been gamma-irradiated at doses ranging from 0 to 1,000 Gy using a completely randomized design with three replicates. The second experiment evaluated the entire M2 population resulting from self-pollination of the previous generation using an experimental design for segregating populations. Data from the first experiment were analyzed using curve fit analysis and analysis of variance, followed by the DMRT test, while data from the second experiment were analyzed using a two-population T test. In addition, for the M2 population, calculations were performed for the simultaneous harvest index, degree of indeterminacy, components of variance, heritability, coefficient of genetic variation, and correlation analysis.&#13;
Gamma-ray irradiation of jack bean resulted in an LD50 of 355.91 Gy with a maximum tolerance threshold of 400 Gy. In the M1 generation, low doses (100–200 Gy) triggered a hormetic effect that stimulated plant height and leaf length, while high doses (300–400 Gy) caused vegetative inhibition, delayed generative development, and reduced yield due to DNA damage and plant sterility. Gamma-ray irradiation increased genetic diversity in the M2 population of jack bean and generally affected the mean values of growth traits, but had no significant effect on yield components and maturity. Maturity showed high heritability with moderate heritability coefficient. Weighted index selection at an intensity of 10% yielded 50 potential putative mutant genotypes and effectively increased seed weight and reduced plant height. However, changes in maturity were not yet significant.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179879</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
