<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Soil Science and Land Resource</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/68</link>
<description/>
<pubDate>Sun, 30 Aug 2026 02:23:55 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-30T02:23:55Z</dc:date>
<item>
<title>Strategi Reklamasi Tanah Pascatambang Dalam Mendukung Produksi Tanaman Pangan Berkelanjutan Di Indonesia Post-Mining Land Reclamation Strategies to Support Sustainable Food Crop Production in Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174288</link>
<description>Strategi Reklamasi Tanah Pascatambang Dalam Mendukung Produksi Tanaman Pangan Berkelanjutan Di Indonesia Post-Mining Land Reclamation Strategies to Support Sustainable Food Crop Production in Indonesia
Widjaja, Hermanu; Iskandar
Post-mining soils in Indonesia are subject to complex biophysical degradation, including soil compaction, loss of organic fractions, deficiencies in essential nutrients, and potential contamination from heavy metals and acid-forming materials. This study aims to evaluate the physical, chemical, and biological limitations of soils in various post-mining ecosystems, specifically former tin, coal, and nickel mining sites, and to assess the effectiveness of integrated reclamation approaches for restoring soil quality and land productivity. Interventions involving the application of organic fertilizers, mineral amendments, inorganic soil conditioners, and leguminous cover crops have demonstrated significant improvements in soil aggregation, cation exchange capacity, and microbial activity. A pilot project in Air Kundur–Bukit Layang, Bangka, revealed that post-mining lands can be successfully converted into productive food crop cultivation zones within 2–3 years, achieving agronomic yields comparable to conventional farmland. The success of post-mining land reclamation is not solely dependent on technical measures, but also on participatory governance and socio-ecological integration, which are essential prerequisites for long-term sustainability and meaningful contributions to national food security
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jun 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174288</guid>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Praktik Penggunaan Aplikasi GPS Telepon genggam untuk Pemetaan Lahan Pertanian</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173592</link>
<description>Praktik Penggunaan Aplikasi GPS Telepon genggam untuk Pemetaan Lahan Pertanian
Iskandar, Wahyu
Perkembangan teknologi Global Navigation Satellite Systems (GNSS) telah mendorong penggunaan telepon pintar sebagai perangkat pengumpulan data spasial yang murah, praktis, dan mudah dioperasikan (Longley et al. 2015). Pada kegiatan pemetaan lahan pertanian, aplikasi GPS pada telepon genggam dapat digunakan untuk menentukan posisi, merekam titik koordinat, membuat jalur (tracking), mendokumentasikan objek lapang, hingga membangun basis data spasial yang siap diolah pada perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (SIG) (Aronoff 1989). Pendekatan ini sangat sesuai untuk kegiatan inventarisasi petak persil sawah, pemetaan komoditas, survei irigasi, maupun pengawasan atau pemantauan lahan pertanian lainnya.&#13;
Tulisan ini mengulas aplikasi Aplikasi GPS pada telepon genggam untuk keperluan survei lapang. Dibandingkan GPS handheld, penggunaan telepon genggam memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan perangkat dan kemudahan integrasi data. Berbagai aplikasi seperti Avenza Maps, SW Maps, GPS Essentials, maupun aplikasi sejenis mampu menampilkan posisi pengguna secara real-time, merekam data koordinat, dan menyimpan informasi atribut (Tomlinson 2013). Meskipun ketelitian posisi dipengaruhi oleh kualitas sensor GNSS pada telepon pintar, akurasi yang diperoleh umumnya sudah memadai untuk kegiatan pemetaan pertanian skala petak. ...
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jun 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173592</guid>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengendalian Dan Pemantauan Erosi Di Lahan Bekas Tambang</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173575</link>
<description>Pengendalian Dan Pemantauan Erosi Di Lahan Bekas Tambang
Baskoro, Dwi Putro Tejo
Tanah merupakan sumberdaya lahan yang vital dalam menunjang kehidupan&#13;
manusia. Fungsi lahan dalam menunjang kehidupan manusia dapat berkurang akibat&#13;
menurunnya kualitas tanah. Penurunan kualitas tanah dapat disebabkan oleh berbagai&#13;
kegiatan manusia, salah satu diantaranya adalah kegiatan penambangan.&#13;
Kegiatan penarnbangan adalah usaha mengelola sumberdaya alam yang tidak&#13;
terbaharui dengan mengambil endapan mineral dan batubara yang berharga dari dalam&#13;
bumi. Karena sifat alarniahnya yang merubah bentang alam dan ekosistem, kegiatan&#13;
pertambangan jika tidak dilaksanakan secara tepat dapat menimbulkan dampak negatif&#13;
terhadap lingkungan, terutama gangguan keseimbangan permukaan tanah yang cukup&#13;
besar. Dampak lingkungan yang mungkin timbul akibat kegiatan pertambangan antara&#13;
lain adalah terjadinya erosi dan sedimentasi, terjadinya pergerakan tanah atau longsoran,&#13;
terganggunya flora dan fauna (keanekaragaman flora dan fauna), terganggunya&#13;
kesehatan masyarakat, serta perubahan iklim mikro. Oleh karena itu setiap perusahaaan&#13;
tambang wajib melakukan reklamasi lahan bekas tambang.&#13;
Kegiatan reklamasi lahan bekas tambang adalah salah satu kewajiban yang harus&#13;
dilakukan oleh setiap Perusahaan Tambang yang merupakan amanah undang-undang,&#13;
antara lain: Undang-Undang No. 41/1999 tentang Kehutanan, Undang-Undang No.&#13;
4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Undang-Undang No. 32/2009&#13;
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Sedangkan tata cara&#13;
pelaksanaannya mengacu pada norma-norma peraturan dan perundang-undangan yang&#13;
berlaku, yaitu antara lain: Permenhut No. P.60/Menhut-II/2009 tentang Pedoman&#13;
Penilaian Keberhasilan Reklamasi Hutan, Permenhut No. P.4/Menhut-II/2011 tentang&#13;
Pedoman Reklamasi Hutan, Permen ESDM No. 26/2018 tentang Pelaksanaan Kaidah&#13;
Pertambangan yang Baik dan Pengawasan Pertambangan Mineral dan Batubara serta&#13;
Kepmen ESDM No. 1827 K/30/MEM/2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah&#13;
Teknik Pertambangan Yang Baik. ...
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jun 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173575</guid>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Efektivitas Senyawa Humat Pada Pertumbuhan Dan Hasil Panen Okra Hijau (Abelmoschus Esculentus) Di Latosol, Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171946</link>
<description>Efektivitas Senyawa Humat Pada Pertumbuhan Dan Hasil Panen Okra Hijau (Abelmoschus Esculentus) Di Latosol, Bogor
Indriyati, Lilik Tri
Asam humat Adalah molekul-molekul organik yang berperan penting dalam memperbaiki sifat-sifat tanah, pertumbuhan tanaman, dan parameter agronimi. Sumber-sumber asam humat meliputi batu bara (coal), lignit, gambut dan bahan organik lainnya. Percobaan pengaruh senyawa humat ini dilakukan pada tanaman okra hijau (Abelmoschus esculentus) sebagai tanaman indikator pada media bahan tanah Latosol dalam pot-pot yang diletakkan di lahan terbuka. Percobaan pengaruh senyawa humat ini dilakukan dengan membandingkan pengaruh beberapa takaran senyawa humat yang dikombinasikan dengan 0%, 50%, dan 75% takaran pupuk N, P, K terhadap beberapa peubah pertumbuhan dan hasil panen buah okra. Contoh bahan tanah diambil dari hamparan lahan kering pada kedalaman 0- 20 cm, dibersihkan dari sisa-sisa akar tanaman, dan dimasukkan ke dalam tiap pot setara dengan 10 kg bobot kapasitas lapang. Tanaman indikator yang digunakan adalah tanaman Okra hijau (Abelmoschus esculentus). Perlakuan pupuk N (urea), P (SP36), dan K (KCl) dengan 100% takaran disebut sebagai perlakuan pupuk standar (NPK standar). Takaran pupuk NPK standar yang diberikan adalah setara dengan 200 kg urea/ha, 200 kg SP36/ha, dan 150 kg KCl/ha. Konsentrasi senyawa humat cair yang diberikan adalah 10 mL per liter air untuk satu kali takaran (1AH), dan aplikasi senyawa humat diberikan tiga kali pemberian selama masa pertumbuhan tanaman. Hasil percobaan menunjukkan bahwa senyawa humat, baik yang diberikan secara tunggal maupun yang dikombinasikan dengan 50% atau 75% takaran pupuk N, P, K nyata meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar tanaman, dan hasil buah okra per tanaman dibandingkan dengan Kontrol. Perlakuan kombinasi 1AH+0.5NPK dan 2AH+0.5NPK menunjukkan nilai RAE lebih dari 100% (1NPK), yaitu masing-masing sebesar 154% dan 136%.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171946</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
