<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Baharian Assessment</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/6780</link>
<description/>
<pubDate>Tue, 21 Apr 2026 23:10:29 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-21T23:10:29Z</dc:date>
<item>
<title>Teknik reduksi kadar merkuri (hg) pada hasil kelautan di teluk buyat  serta batas aman konsumsinya bagi manusia dalam bentuk produk perikanan bernilai tambah</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7242</link>
<description>Teknik reduksi kadar merkuri (hg) pada hasil kelautan di teluk buyat  serta batas aman konsumsinya bagi manusia dalam bentuk produk perikanan bernilai tambah
Wahyuni, Mita
Hasil riset menunjukkan bahwa daging ikan kerapu dan daging ikan kurisi segar dari Teluk Buyat yang digunakan dalam riset ini mempunyai kandungan merkuri (Hg) sebesar 0.017 dan 0.034 ppm, dimana hal ini jauh lebih rendah daripada batas aman yang telah ditetapkan oleh WHO yaitu 0.5 ppm.  Perlakukan perendaman dalam larutan asam cuka 5% selama 30 menit mampu mereduksi kadar merkuri (Hg) dalam daging ke 2 ikan demersal tersebut di Teluk Buyat sebanyak 61.76-64.70% serta hati ke 2 ikan demersal tersebut di Teluk Buyat sebanyak 77.27-88.21%.  Biskuit ikan yang mengandung 5, 10, dan 15% daging ikan kerapu dan ikan kurisi (1:1) ternyata semua dapat diterima panelis dengan perbedaan yang tidak nyata.    Biscuit ikan dengan 15% kandungan daging ikan mempunyai profil kimia sebagai berikut : Kadar air 3.19%, kadar abu 2.67%, kadar protein 16.75% kadar lemak 23.48%, serta kadar karbohidrat 53.89%; dimana kadar protein tersebut mengalami peningkatan sekitar 80% daripada Biscuit ikan tanpa kandungan daging ikan (kontrol).  Biskuit ikan ini mempunyai mutu protein yang cukup tinggi dengan kandungan asam amino esensial yang tinggi, dimana peningkatan konsentrasi daging ikan yang ditambahkan (15%) dalam biscuit mampu meningkatkan kadar asam-asam amino esensial sekitar 130-380% dibandingkan kontrol, khususnya asama amino lisin.   Nilai kecernaan (daya cerna) protein biscuit berkisar antara 79.32-82.96%,  dimana semakin tinggi penambahan daging ikan ternyata mampu meningkatkan daya cerna protein biscuit.  Derajat keasaman produk biscuit dengan semua perlakuan masih berada dalam keadaan netral (6.07 – 6.30), dengan keadaan aktivitas air (Aw) produk yang berkisar 0.35 – 0.39 sehingga produk mempunyai daya tahan simpan yang relative lama dalam suhu kamar.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2004 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7242</guid>
<dc:date>2004-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pemetaan bioekologi padang lamun (sea grass)  di kepulauan seribu, jakarta utara</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7232</link>
<description>Pemetaan bioekologi padang lamun (sea grass)  di kepulauan seribu, jakarta utara
Kawaroe, Mujizat; Jaya, Indra; Indarto Happy S.
Padang lamun merupakan ekosistem  yang memiliki berbagai macam manfaat, tetapi di Indonesia pemanfaatan untuk kebutuhan manusia kurang dioptimalisasikan, bahkan cenderung dirusak untuk dialihfungsikan lahannya untuk kepentingan lain.  Beberapa faktor yang mempengaruhi kerusakan padang lamun antara lain pencemaran oleh limbah industri, limbah pertanian, pembuangan sampah organik cair, pengerukan pasir dan reklamasi pantai serta pembabatan secara langsung. Selain itu  secara spesifik keberadaan lamun di Kepulauan Seribu saat ini menghadapi ancaman yang cukup serius,  salah satunya adalah pencemaran minyak yang terjadi beberapa kali di tahun 2004 yang mengakibatkan lapisan permukaan air tertutup oleh tumpahan minyak berwarna hitam pekat.  Dan juga meningkatnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun menambah tekanan terhadap ekosistem ini dan menjadikannya penting untuk menentukan struktur komunitas Kepulauan Seribu.  Dan diharapkan hasil yang diperoleh dapat digunakan untuk membantu pengelolaan ekosistem pesisir dan menjaga kelestarian jenis-jenis lamun di Kepulauan Seribu,  terutama di pulau-pulau yang berpenghuni.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2004 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7232</guid>
<dc:date>2004-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Kajian potensi bioaktif karang lunak ( octocorallia :  alcyonacea) di perairan kepulauan seribu, dki jakarta</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7217</link>
<description>Kajian potensi bioaktif karang lunak ( octocorallia :  alcyonacea) di perairan kepulauan seribu, dki jakarta
Soedharma, Dedi; Kawaroe, Mujizat; Harris, Abdul
Penelitian mengenai kandungan bioaktif karang lunak dilakukan di Pulau Pari, Pulau Pramuka, dan Pulau Kotok, Kepulauan Seribu.  Komunitas karang lunak di lokasi penelitian terdiri atas 39 spesies,  yang berasal dari 12 genera dan 4 famili,  dengan komposisi yang berbeda antar stasiun penelitian dan antar kedalaman.  Pada kedalaman 3 meter,  karang lunak umumnya didominasi oleh genus Lobophytum,  sedangkan pada kedalaman 10 meter, karang lunak umumnya didominasi oleh genus Sarcophyton  dan Dendonephthya.   Dari ke 39 spesies karang lunak tersebut,  30 species di antaranya memiliki kandungan bioaktif, terhadap bakteri patogen Escherichia coli dan  Staphylococcus aureus.   Berdasarkan analisis kandungan dapat disimpulkan bahwa semakin menjauh dari daratan utama,  bioaktivitas ekstrak beberapa karang lunak semakin rendah.  Begitu pula, karang lunak yang tumbuh pada kedalaman 3 meter,  bioaktivitas ekstraknya lebih tinggi dari pada yang tumbuh pada kedalaman 10 meter.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2004 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7217</guid>
<dc:date>2004-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
