<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Chemistry</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/56</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 31 Oct 2026 14:52:45 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-10-31T14:52:45Z</dc:date>
<item>
<title>Isolasi dan Elusidasi Struktur Biflavonoid dari Fraksi G9 Daun Araucaria bidwillii</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180142</link>
<description>Isolasi dan Elusidasi Struktur Biflavonoid dari Fraksi G9 Daun Araucaria bidwillii
WIDHIANA, RYANDRA PUTRI
Biflavonoid merupakan metabolit sekunder yang banyak ditemukan pada&#13;
famili Araucariaceae, termasuk genus Araucaria, dan berperan sebagai penanda&#13;
kemotaksonomi. Berdasarkan penelusuran literatur, belum ditemukan laporan&#13;
mengenai isolasi dan elusidasi struktur biflavonoid dari A. bidwillii yang tumbuh di&#13;
Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengisolasi dan mengelusidasi struktur senyawa&#13;
biflavonoid dari daunnya. Fraksi G9 dimurnikan menggunakan kromatografi kolom&#13;
gravitasi (silika gel; eluen diklorometana:etanol 100:1), menghasilkan isolat 9ef&#13;
sebanyak 6,5 mg. Struktur kimia isolat dielusidasi menggunakan spektroskopi&#13;
NMR 1D (&#13;
1H dan 13C) dan 2D (HSQC dan HMBC). Komponen utama isolat 9ef&#13;
diidentifikasi sebagai 4',4''',7,7''-tetra-O-metilagatisflavon, dengan ikatan dimer&#13;
pada C6-C8'' dan empat gugus metoksi pada posisi 4', 4''', 7, dan 7''. Keberadaan&#13;
senyawa ini sebelumnya hanya dilaporkan pada Agathis australis dan Agathis ovata&#13;
berdasarkan profil kromatografi lapis tipis tanpa data spektroskopi NMR, dan&#13;
berdasarkan literatur yang ditelusuri, belum pernah dilaporkan dari genus&#13;
Araucaria.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180142</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Profil Metabolit  Ekstrak Aseton dan Isolasi Fraksi Bb1 Daun Binahong (Anredera cordifolia)  Menggunakan LC-MS/MS</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180139</link>
<description>Profil Metabolit  Ekstrak Aseton dan Isolasi Fraksi Bb1 Daun Binahong (Anredera cordifolia)  Menggunakan LC-MS/MS
ULYA, ANNA HIMMATUL
Daun binahong (Anredera cordifolia) mengandung berbagai metabolit, tetapi profil metabolit ekstrak aseton dan hasil isolasinya masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi profil metabolit ekstrak aseton serta mengisolasi dan mengarakterisasi fraksi hasil pemurnian. Ekstrak diperoleh melalui maserasi dengan aseton dan dianalisis menggunakan LC-MS/MS. Fraksionasi dan pemurnian dilakukan menggunakan kromatografi cair vakum, kromatografi kolom gravitasi, dan kromatografi lapis tipis preparatif, kemudian hasil pemurnian dianalisis menggunakan LC-MS/MS dan 1H-NMR. Hasil analisis menunjukkan tujuh metabolit yang teridentifikasi secara putatif, yaitu 8-hidroksikuinolin, apigenin, katekin, asam oleanolat, asam oleat, kuersetin-3-ß-D-glukosida, dan asam a-linolenat. Proses pemurnian menghasilkan fraksi Bb1 yang diperkaya komponen dengan karakteristik golongan sitosterol. Berdasarkan analisis LC-MS/MS dan 1H-NMR, komponen utama Bb1 diduga sebagai golongan sitosterol, tetapi fraksi masih mengandung komponen lain sehingga belum dapat dinyatakan sebagai senyawa murni.; Anredera cordifolia leaves contain various metabolites, but information on the metabolite profile of the acetone extract and its isolated components remains limited. This study aimed to identify the metabolite profile of the acetone extract and to isolate and characterize the purified fraction. The extract was obtained by maceration with acetone and analyzed using LC-MS/MS. Fractionation and purification were performed using vacuum liquid chromatography, gravity column chromatography, and preparative thin layer chromatography, followed by LC-MS/MS and 1H-NMR analysis of the purified fraction. The analysis putatively identified seven metabolites, namely 8-hydroxyquinoline, apigenin, catechin, oleanolic acid, oleic acid, quercetin-3-ß-D-glucoside, and a-linolenic acid. The purification process yielded fraction Bb1 enriched with a component exhibiting characteristics of the sitosterol group. Based on LC-MS/MS and 1H-NMR analyses, the major component of Bb1 was suggested to belong to the sitosterol group; however, the fraction still contained other components and therefore could not yet be considered a pure compound.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180139</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Asetilasi RBDPO Terepoksidasi Menggunakan Katalis Campuran SnO2 dan ZnO</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179630</link>
<description>Asetilasi RBDPO Terepoksidasi Menggunakan Katalis Campuran SnO2 dan ZnO
Musa, Hans Christian
Minyak kelapa sawit merupakan minyak nabati yang menjadi bahan alternatif pengganti minyak bumi sebagai bahan dasar dari pelumas. Akan tetapi, minyak kelapa sawit memiliki stabilitas oksidatif yang rendah dan rentan terhadap serangan radikal akibat ikatan rangkap asam lemak bebas tak jenuh pada strukturnya. Penelitian ini bertujuan untuk menanggulangi kekurangan tersebut dengan melakukan modifikasi secara molekular pada struktur minyak melalui proses epoksidasi yang dilanjutkan dengan proses asetilasi menggunakan bantuan katalis. Katalis hasil sintesis yang digunakan pada penelitian adalah timah(IV) oksida dan seng oksida. Katalis hasil sintesis ditentukan kesesuaiannya menggunakan difraktometer sinar-X (XRD) dan mikroskop elektron pindai (SEM). Hasil dari SEM pada katalis menunjukkan morfologi yang teraglomerasi. Aktivitas katalisis diamati dari perlakuan dengan parameter waktu yang berbeda pada suhu reaksi yang sama. Minyak kelapa sawit termodifikasi dikarakterisasi dengan spektrometer inframerah transformasi-Fourier (FTIR). Hasil dari spektrum FTIR menunjukkan terjadinya proses asetilasi. Serangkaian modifikasi yang dilakukan berhasil dalam menghasilkan produk minyak kelapa sawit terasetilasi dengan karakteristik kuantitatif yang memenuhi standar dalam penggunaannya sebagai bahan dasar pelumas.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179630</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Sintesis Sodalit berbasis Silika dari Abu Kulit Jagung dan  Aplikasinya sebagai Adsorben Logam Pb(II)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179343</link>
<description>Sintesis Sodalit berbasis Silika dari Abu Kulit Jagung dan  Aplikasinya sebagai Adsorben Logam Pb(II)
Marliani, Ai Ninda
Pencemaran logam berat Pb(II) di perairan memerlukan solusi alternatif yang efektif dan berbahan baku terbarukan. Adsorpsi merupakan metode yang efektif menangani masalah tersebut. Kulit jagung merupakan limbah biomassa yang berpotensi dijadikan sodalit sebagai adsorben. Penelitian ini bertujuan menyintesis sodalit berbasis silika dari abu kulit jagung melalui metode hidrotermal serta mengevaluasi kinerjanya sebagai adsorben Pb(II). Silika diekstraksi dari abu kulit jagung, direaksikan dengan natrium aluminat pada kondisi alkalis, kemudian dikristalisasi secara hidrotermal. Produk sintesis membentuk fase sodalit dengan ukuran kristalit rata-rata 25,49 nm. Optimasi kondisi adsorpsi menggunakan Box Behnken Design (BBD) dengan variabel massa adsorben (0,01; 0,03; 0,05) g, konsentrasi Pb(II) (10, 20, 30) mg/L, dan waktu kontak (60, 80, 100) menit. Kondisi optimum diperoleh pada massa adsorben 0,05 g, konsentrasi Pb(II) 24 mg/L, dan waktu kontak 100 menit. Sodalit berbasis silika dari abu kulit jagung berperan penting dalam pengembangan adsorben logam berat yang ekonomis dan berkelanjutan.; Heavy metal Pb(II) pollution in aquatic environments requires effective alternative solutions using renewable raw materials. Adsorption is an effective method to address this issue. Corn husk is a biomass waste with the potential to be converted into sodalite as an adsorbent. This study aims to synthesize silica-based sodalite from corn husk ash using the hydrothermal method and to evaluate its performance as a Pb(II) adsorbent. Silica was extracted from corn husk ash, reacted with sodium aluminate under alkaline conditions, and then crystallized hydrothermally. The synthesized product formed a sodalite phase with an average crystallite size of 25.49 nm. Optimization of adsorption conditions was conducted using the Box-Behnken Design (BBD) with variables of adsorbent mass (0.01, 0.03, 0.05 g), Pb(II) concentration (10, 20, 30 mg/L), and contact time (60, 80, 100 minutes). The optimum conditions were obtained at an adsorbent mass of 0.05 g, Pb(II) concentration of 24 mg/L, and a contact time of 100 minutes. Silica-based sodalite from corn husk ash plays an important role in the development of economical and sustainable heavy-metal adsorbents.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179343</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
