<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Faculty of Forestry</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/5355</link>
<description/>
<pubDate>Fri, 10 Apr 2026 07:54:23 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-10T07:54:23Z</dc:date>
<item>
<title>Perkembangan Ekowisata Di Taman Nasional Karimunjawa</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172906</link>
<description>Perkembangan Ekowisata Di Taman Nasional Karimunjawa
Aflaha, Fairuz Rafidah
Indonesia memiliki tujuh taman nasional laut, dan dua di antaranya terdapat di Pulau Jawa. Kedua taman nasional tersebut adalah Taman Nasional Kepulauan Seribu dan Taman Nasional Karimunjawa (Humas Kemensetneg RI, 2016). Kedua kawasan konservasi tersebut merupakan habitat penyu dan menjadi destinasi ekowisata populer. Jika dibandingkan dengan Taman Nasional Kepulauan Seribu, Taman Nasional Karimunjawa lebih sedikit diteliti. Salah satu penyebabnya adalah lokasi Taman Nasional Karimunjawa yang jauh dari pusat kota serta akses yang terbatas (Yaqin et al., 2025). Padahal, perairan Karimunjawa merupakan ekosistem penting penopang tiga jenis penyu yang ditetapkan sebagai spesies mandat, yakni penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea) (Direktorat Jenderal KSDAE, n.d.).&#13;
Pada mulanya, Karimunjawa ditetapkan sebagai Cagar Alam Laut melalui Surat Keputusan No. 123/Kpts-II/1986 tanggal 9 April 1986. Kemudian, Karimunjawa ditetapkan menjadi taman nasional pada 29 Februari 1988 berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 161/Menhut-II/1988 dalam kategori Kawasan Pelestarian Alam (KPA). Selanjutnya, Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 78/Kpts-II/1999 tanggal 22 Februari 1999 menyatakan bahwa kawasan Cagar Alam Karimunjawa dan sekitarnya resmi ditetapkan sebagai Taman Nasional Karimunjawa. Sejalan dengan perkembangan manajemen kawasan konservasi, zonasi pada taman nasional ini ditetapkan pada tahun 2005 dan diperbarui pada tahun 2012 (Taman Nasional Karimunjawa, 2025a). ...
</description>
<pubDate>Mon, 01 Sep 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172906</guid>
<dc:date>2025-09-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Komunikasi Konservasi Dan Ekowisata Di Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172905</link>
<description>Komunikasi Konservasi Dan Ekowisata Di Indonesia
Aflaha, Fairuz Rafidah
Degradasi lingkungan di era modern erat kaitannya dengan upaya konservasi sebagai salah satu solusi. Konservasi memiliki tiga pilar, yakni perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Ketiga pilar ini penuh dengan jargon dan bahasa saintifik rumit yang seringkali sangat jauh dari topik obrolan masyarakat sehari-hari. Untuk itu, konservasi membutuhkan teknik-teknik komunikasi yang efektif agar masyarakat dapat turut serta mengokohkan ketiga pilar konservasi. Salah satu contoh populer keberhasilan komunikasi konservasi adalah kiprah The Sierra Club, organisasi lingkungan tertua di Amerika Serikat. Didirikan pada tahun 1892, organisasi ini dipimpin oleh John Muir, seorang naturalis, penulis, dan filsuf lingkungan keturunan Skotlandia-Amerika.&#13;
Misi The Sierra Club adalah "To explore, enjoy, and render accessible the mountain regions of the Pacific Coast; to publish authentic information concerning them [and] to enlist the support and cooperation of the people and government in preserving the forests and other natural features of the Sierra Nevada." Tak hanya mempopulerkan konsep wilderness tourism yang menjadi cikal bakal ekowisata, The Sierra Club juga memegang peran penting dalam pembentukan awal taman nasional dan wilderness areas seperti Yosemite National Park dan Grand Canyon, serta mengadvokasi pembentukan Dinas Taman Nasional dan badan-badan federal lainnya yang bertugas mengelola dan melindungi lahan publik (Clay, 2024; Gao, 2025; Young, 2008). Pencapaian-pencapaian organisasi ini menunjukkan bagaimana komunikasi konservasi dan ekowisata yang efektif dapat secara masif mengajak masyarakat luas melindungi ekosistem penting dan mempopulerkan rekreasi di alam terbuka. ...
</description>
<pubDate>Fri, 01 Aug 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172905</guid>
<dc:date>2025-08-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Beberapa Sifat Fisis-Mekanis Empat Jenis Kayu Dari Kebun Masyarakat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171967</link>
<description>Beberapa Sifat Fisis-Mekanis Empat Jenis Kayu Dari Kebun Masyarakat
Wahyudi, Imam; Maharani, Annisa Zahira
Kayu merupakan salah satu sumberdaya alam yang multi fungsi yang pemanfaatannya tidak&#13;
tergantikan meski sudah ada bahan sintetis yang fungsinya mirip kayu. Saat ini, kayu-kayu&#13;
dari hutan tanaman alam sudah menjadi penyuplai utama untuk berbagai industri perkayuan&#13;
di tanah air akibat terbatasnya ketersediaan kayu hutan alam di pasar. Mempertimbangkan&#13;
informasi tentang karakteristik kayu-kayu hutan tanaman belum tersedia, maka penelitian&#13;
ini bertujuan mengkaji beberapa sifat fisis-mekanis empat jenis kayu yang berasal dari kebun&#13;
masyarakat sekitar kampus IPB Dramaga, yakni mahoni (Swietenia macrophylla), meranti&#13;
merah (Shorea spp.), sungkai (Peronema canescens) dan suren (Toona sureni), dan&#13;
membandingkannya dengan sifat sejenis yang tercantum dalam buku rujukan. Hal ini&#13;
penting dilakukan agar pemanfaatan kayu tetap optimal. Sifat fisis yang diuji terdiri dari&#13;
kadar air, kerapatan dan berat jenis; sedangkan sifat mekanisnya meliputi kekuatan,&#13;
kekakuan, keteguhan tekan sejajar serat dan kekerasan sisi. Pengujian dilakukan dengan&#13;
mengacu kepada BS 373-1957 menggunakan 5 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan&#13;
sebagian besar sifat fisis-mekanis yang diuji lebih rendah dibandingkan sifat sejenis dari kayu&#13;
sejenis yang berasal dari hutan alam, kecuali keteguhan tekan sejajar serat pada kayu&#13;
sungkai dan kekerasan sisi pada kayu suren karena cenderung meningkat. Diperlukan&#13;
tindakan yang berbeda dalam rangka memanfaatkan kayu-kayu tersebut.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Oct 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171967</guid>
<dc:date>2025-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Sifat Fisis-Mekanis Tiga Generasi Kayu Mangium Hasil Kegiatan Pemuliaan Pohon</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171959</link>
<description>Sifat Fisis-Mekanis Tiga Generasi Kayu Mangium Hasil Kegiatan Pemuliaan Pohon
Wahyudi, Imam; Genenan, Yano Farros Amrullah
Kebutuhan kayu yang semakin meningkat mengakibatkan kayu mangium (Acacia&#13;
mangium) menjadi primadona program HTI di Indonesia. Untuk meningkatkan nilai tambah&#13;
kayu mangium, Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Kehutanan (BBPSIK) Yogyakarta&#13;
terus melakukan kegiatan pemuliaan pohon untuk memperbaiki karakteristik kayunya. Salah&#13;
satu langkah untuk mendukung hal tersebut adalah dengan mengkaji sifat fisis-mekanis&#13;
kayu hasil kegiatan pemuliaan secara komprehensif dan membanding-kannya dengan data&#13;
sejenis dari rujukan. Hal ini sekaligus untuk mengevaluasi perlakuan pemuliaan yang&#13;
diterapkan. Sampel yang digunakan adalah kayu mangium dari tegakan umur 10 tahun di&#13;
lokasi yang sama, yang terdiri dari F0 (indukan), F1 (turunan pertama) dan F2 (turunan&#13;
kedua). Sifat fisis-mekanis yang diuji meliputi kerapatan dan berat jenis serta keteguhan&#13;
lentur statis (MOE dan MOR), keteguhan tekan sejajar serat dan kekerasan sisi pada kondisi&#13;
kering udara mengikuti British Standard 373-57. Data yang diperoleh kemudian dianalisis&#13;
statistik dengan one-way Anova. Hasil penelitian menunjukkan sifat fisis-mekanis ketiga&#13;
generasi kayu mangium hasil kegiatan pemuliaan (F0, F1 dan F2) tersebut tidak berbeda&#13;
nyata. Ketiganya masuk ke dalam golongan kelas kuat III.
</description>
<pubDate>Mon, 01 Sep 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171959</guid>
<dc:date>2025-09-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
