<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Faculty of Veterinary</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/5343</link>
<description/>
<pubDate>Sun, 21 Jun 2026 02:48:29 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-06-21T02:48:29Z</dc:date>
<item>
<title>Laporan Kasus: Kasus Suspect Pneumonia pada Anjing di Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP) Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173207</link>
<description>Laporan Kasus: Kasus Suspect Pneumonia pada Anjing di Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP) Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB
Emira, Intan; Padang, Ardy Armando; Razdian, Farahdhiya Bunga; Hidayat, Rayhan Arya; Arraudha, Naura Athira; Firdaus, Munira Laeli; Manika, Josephine Maria; Retno Wulansari; Deny Setyo Widodo
Seekor anjing jantan bernama Jacko, ras mix golden berumur tiga tahun dengan warna&#13;
rambut golden datang ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP), Sekolah Kedokteran&#13;
Hewan dan Biomedis (SKHB) karena dicurigai menelan benda asing. Anjing Jacko kemudian&#13;
diarahkan untuk melakukan x-ray untuk melihat kondisi saluran pencernaan, namun tidak&#13;
ditemukan adanya benda asing (corpus alienum). Anjing jacko kemudian menjalani prosedur&#13;
ekokardiografi dan USG TFAST sebagai pemeriksaan lebih lanjut. Tidak ditemukan adanya&#13;
kelainan pada jantung, namun hasil USG menunjukkan adanya wet lung, lung pocket, dan&#13;
B-line pada daerah Chest Tube Site (CTS). Pada daerah Pericardial Site (PCS) juga terlihat&#13;
ada B-lines di daerah lobus cranial lung. Hal tersebut mengindikasikan kemungkinan anjing&#13;
Jacko mengalami pneumonia, bronchopneumonia, atau mild effusion. Terapi yang diberikan&#13;
kepada anjing Jacko berupa antibiotik, bronchodilator, furosemide, aspar-k, dan vitamin C.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173207</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Laporan Kasus: Squamous Cell Carcinoma (SCC) pada Anjing Ras Golden Retriever di Rumah Sakit Hewan Pendidikan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173206</link>
<description>Laporan Kasus: Squamous Cell Carcinoma (SCC) pada Anjing Ras Golden Retriever di Rumah Sakit Hewan Pendidikan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University
Yohan, Patricia; Aulia, Darapuspa Widyadhari; Zulfa, Andharani; Gotama, I Made; Salsabila, Aisyah; Raihan, Muhammad Ammar; Yen, Amabel See Li; Deny Setyo Wibowo; Retno Wulansari
Squamous cell carcinoma (SCC) merupakan neoplasia ganas kulit yang berasal dari sel epitel&#13;
skuamosa dan bersifat invasif lokal dengan potensi destruksi jaringan sekitarnya. Laporan kasus&#13;
ini menggambarkan seekor anjing jantan ras Golden Retriever berusia sekitar 12 tahun bernama&#13;
Oscar dengan lesi ulseratif kronis pada regio siku kanan yang telah berlangsung selama dua tahun&#13;
dan mengalami progresi menjadi massa proliferatif yang tidak sembuh. Pemeriksaan fisik umum,&#13;
pemeriksaan hematologi lengkap, kimia darah, serta biopsi kulit untuk histopatologi dilakukan&#13;
sebagai penunjang diagnosis. Hasil histopatologi menunjukkan proliferasi sel-sel skuamosa&#13;
neoplastik yang membentuk pulau-pulau tumor dengan mutiara tanduk serta ulserasi akibat invasi&#13;
tumor, sehingga meneguhkan diagnosis SCC. Terapi yang diberikan meliputi tindakan bedah&#13;
pengangkatan jaringan terinfeksi beserta margin jaringan sehat, perawatan luka lokal, pemberian&#13;
antibiotik sistemik dan topikal, kortikosteroid, obat antikanker, serta multivitamin sebagai terapi&#13;
suportif yang memberikan perbaikan klinis berupa penurunan eksudat, bau, dan inflamasi&#13;
meskipun luka belum menutup sempurna. Kasus ini menegaskan pentingnya deteksi dini,&#13;
pemeriksaan penunjang komprehensif, dan penatalaksanaan multimodal pada SCC kutaneus&#13;
dengan ulserasi kronis pada anjing geriatri.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173206</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>FLUTD pada Kucing British Short Hair di KM  Global Animal Hospital</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171716</link>
<description>FLUTD pada Kucing British Short Hair di KM  Global Animal Hospital; Laporan Kasus
Wijaya, Agus; Wulansari, Retno; Widhyari, Sus Derthi; Esfandiari, Anita; Purwadi, Andi  Abimanyu Rizki; Elin; Elvira, Natasha; Raj, Navhin; Yulianawati, Nur Indria; Mulyadi, Reinhart Kurniawan; Milna, Resi
Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD) pada kucing merupakan istilah&#13;
yang terkait dengan gangguan yang terjadi pada vesica urinaria dan saluran urinaria&#13;
bagian bawah. Gejala klinis yang terlihat berupa periuria, haematuria dan stranguria.&#13;
Faktor yang mempengaruhi gangguan ini yaitu umur dan pakan. Seekor kucing British&#13;
Short Hair jantan berusia 2 tahun dengan bobot badan 4,68 kg dibawa ke KM Global&#13;
Animal Hospital dengan keadaan lemas dan sulit urinasi sejak satu hari terakhir.&#13;
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yaitu X-ray right lateral view, hematologi&#13;
darah, dan uji kimia darah. Hasil pemeriksaan X-ray menunjukkan pembesaran pada&#13;
vesica urinaria dan perubahan bentuk pada ginjal. Hasil pemeriksaan hematologi&#13;
menunjukkan peningkatan pada leukosit (leukositosis). terapi yang diberikan pada&#13;
kasus ini berupa pemberian terapi cairan NaCl 0,95%, clavaseptin dan urinorm.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171716</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pelacakan Sianida Dalam Upaya Pencegahan Penggunaan Sianida Pada Destructive Fishing</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162539</link>
<description>Pelacakan Sianida Dalam Upaya Pencegahan Penggunaan Sianida Pada Destructive Fishing
Pribadi, Eko S; Deskiharto, Arman
Selain menggunakan setrum, sodium sianida juga digunakan untuk&#13;
menangkap ikan hidup-hidup dari habitat aslinya. Setelah ditangkap, ikan-ikan&#13;
tersebut dipindahkan dan disimpan dalam air tawar untuk memulihkan dan&#13;
mengurangi jumlah sianida karena hampir 80% dari semua sianida diubah&#13;
menjadi anion tiosianat (SCN-&#13;
). Anion tiosianat (SCN-&#13;
) dihasilkan melalui jalur&#13;
metabolisme utama untuk mendetoksifikasi anion sianida (CN-&#13;
) dan kemudian&#13;
dikeluarkan melalui air seni (urin) (Rubec et al., 2002).&#13;
Penangkapan ikan menggunakan sianida dianggap merupakan cara&#13;
menangkap ikan karang yang mudah dan murah. Ikan karang bernilai tinggi&#13;
dapat ditangkap hidup-hidup (Frey 2012). Penggunaan sianid tidak selektif&#13;
terhadap jenis ikan yang akan ditangkap. Terumbu karang hidup dapat&#13;
teracuni oleh sianida. Paparan sianida diketahui menyebabkan pemutihan&#13;
karang di terumbu, karena sianida mengganggu simbiosis hubungan antara&#13;
polip karang dan zooxanthelle yang memberi nutrisi pada karang (Mak et al.,&#13;
2005; Almany et al., 2007).&#13;
Meskipun melawan hukum, penangkapan ikan dengan sianida masih&#13;
umum dilakukan oleh nelayan di masyarakat miskin dan pedesaan yang&#13;
mengandalkan perdagangan untuk mata pencaharian mereka (Frey, 2012;&#13;
Reksodihardjo dan Lilley, 2007).  ...
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162539</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
