<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Biochemistry</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/53</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 08 Aug 2026 12:46:50 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-08T12:46:50Z</dc:date>
<item>
<title>Pengaruh Variasi Naungan Terhadap Kadar Total Fenolik dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Tanaman Miana (Coleus scutellarioides (L.) Benth)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177606</link>
<description>Pengaruh Variasi Naungan Terhadap Kadar Total Fenolik dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Tanaman Miana (Coleus scutellarioides (L.) Benth)
JANNAH, ANNISA WAROTSATI
Tanaman miana (Coleus scutellarioides (L.) Benth) telah terbukti mengandung berbagai senyawa aktif, salah satunya adalah senyawa fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan. Biosintesis senyawa tersebut berpotensi dipengaruhi oleh intensitas paparan cahaya yang diterima tanaman. Penelitian ini bertujuan mengukur kadar total fenolik dan aktivitas antioksidan dari tanaman miana yang diberi perlakuan naungan. Kadar total fenolik ditentukan dengan metode Folin-Ciocalteu dan aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode penangkapan radikal (DPPH) dan aktivitas reduksi (FRAP). Hasil menunjukkan perbedaan signifikan antar perlakuan naungan. Kadar total fenolik dan aktivitas antioksidan tertinggi dimiliki oleh ekstrak perlakuan naungan 0%, yaitu sebesar 6,307±0,07 mg GAE/BK, 8,199±0,21 µmol TE/g BK untuk metode DPPH, dan 39,323±0,60 µmol TE/g BK untuk metode FRAP. Kadar total fenolik dan aktivitas antioksidan cenderung menurun pada naungan 25% dan 50%, tetapi kembali naik pada naungan 75%. Hal tersebut diduga disebabkan oleh respon adaptasi tanaman terhadap intensitas cahaya yang diterima. Analisis korelasi menunjukkan kadar total fenolik cenderung berhubungan linear dengan aktivitas antioksidan.; Coleus scutellarioides (L.) Benth has been reported to contain various bioactive compounds, one of which is phenolic compounds that possess antioxidant activity. These compounds are potentially influenced by the intensity of light exposure received by the plant. This study aimed to determine the total phenolic content and antioxidant activity of the plant through shading treatments. Total phenolic content was determined using the Folin–Ciocalteu method, while antioxidant activity was evaluated using the radical scavenging method (DPPH) and ferric reducing antioxidant power (FRAP) assay. The results showed significant differences among treatments. The highest total phenolic content and antioxidant activity were observed in the 0% shading treatment extract, with values of 6,307 ± 0,07 mg GAE/g DW, 8,199 ± 0,21 µmol TE/g (DPPH), and 39,323 ± 0,60 µmol TE/g (FRAP). TPC and antioxidant activity tended to decrease under 25% and 50% shading treatments, but increased again under 75% shading. Correlation analysis showed that total phenolic content tended to have a linear relationship with antioxidant activity.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177606</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Evaluasi Agromorfologi dan Metabolit Primer Tanaman Miana (Coleus atropurpureus L. Benth) Akibat Pemberian Pupuk NPK dan Cekaman Garam</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177584</link>
<description>Evaluasi Agromorfologi dan Metabolit Primer Tanaman Miana (Coleus atropurpureus L. Benth) Akibat Pemberian Pupuk NPK dan Cekaman Garam
Fahreza, Muhammad Rafi
Tanaman hias miana (Coleus atropurpureus L. Benth) mengandung &#13;
berbagai metabolit sekunder yang bernilai farmakologis dan diproduksi dari &#13;
metabolit primer. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh kombinasi pupuk &#13;
NPK dan cekaman garam terhadap pertumbuhan agromorfologi serta produksi &#13;
metabolit primer miana. Metode penelitian meliputi pemberian perlakuan, &#13;
pengamatan agronomi, preparasi sampel daun, serta pengujian klorofil dan pati. &#13;
Hasil menunjukkan bahwa perlakuan D3 memberikan peningkatan pertumbuhan &#13;
agromorfologi terbaik pada sebagian besar parameter. Kadar klorofil total tertinggi &#13;
diperoleh pada perlakuan D3S0 sebesar 2,213 mg/g, sedangkan terendah pada &#13;
D0S3 sebesar 0,742 mg/g. Pola serupa ditemukan pada kadar pati, dengan nilai &#13;
tertinggi 0,276 g/100 g FW pada D3S0 dan terendah 0,108 g/100 g FW pada D0S3. &#13;
Simpulan menunjukkan bahwa pupuk NPK meningkatkan pertumbuhan dan &#13;
produksi metabolit primer, sedangkan cekaman garam menghambat keduanya. &#13;
Pemberian NPK juga mampu mengurangi dampak negatif stres salinitas pada &#13;
tanaman.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177584</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Evaluasi Ligan Potensial Alfa-Glukosidase sebagai Kandidat Antidiabetes Melitus</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177514</link>
<description>Evaluasi Ligan Potensial Alfa-Glukosidase sebagai Kandidat Antidiabetes Melitus
Fauziyah, Zalfa Aghniya
Diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme yang ditandai oleh peningkatan kadar glukosa darah, salah satunya dipengaruhi oleh aktivitas enzim a-glukosidase dalam proses hidrolisis karbohidrat menjadi glukosa setelah makan. Penghambatan enzim ini merupakan salah satu pendekatan terapeutik yang potensial dalam pengelolaan diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi ligan yang berpotensi sebagai inhibitor a-glukosidase dari 5606 kandidat ligan dengan membandingkan metode molecular docking menggunakan&#13;
AutoDock Vina dan AutoDock 4 terhadap reseptor a-glukosidase (PDB ID: 2QMJ) serta pemeringkatan ulang berbasis Uni-GBSA. Hasil skrining menunjukkan adanya perbedaan nilai afinitas dan peringkat ligan yang dihasilkan oleh kedua metode docking akibat perbedaan fungsi skor dan pendekatan perhitungan energi yang digunakan. Ligan yang menunjukkan nilai afinitas dan peringkat yang baik secara konsisten pada kedua metode dianggap memiliki potensi yang lebih tinggi sebagai kandidat inhibitor a-glukosidase. Penentuan ligan potensial juga mempertimbangkan interaksi ligan-reseptor, keterlibatan residu pada sisi katalitik, serta evaluasi toksisitas untuk menilai keamanan awal senyawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandidat senyawa yang diprioritaskan untuk pengujian lebih lanjut sebagai antidiabetes melitus adalah Hordatine B, (9Z)-ß,ß-Carotene, 3 Hydroxysintaxanthin, 9-Ribosyl-trans-zeatin, dan  Schleicherastatin 2.; Diabetes mellitus is a metabolic disorder characterized by elevated blood glucose levels, which are partly influenced by the activity of the a-glucosidase enzyme in the hydrolysis of carbohydrates into glucose following food intake. Inhibition of this enzyme represents a promising therapeutic approach for diabetes mellitus management. This study aimed to identify potential a-glucosidase inhibitory ligands from 5,606 candidate compounds by comparing molecular docking methods using AutoDock Vina and AutoDock 4 against the a-glucosidase&#13;
receptor (PDB ID: 2QMJ), followed by Uni-GBSA-based rescoring. The screening results revealed differences in binding affinity values and ligand rankings generated by the two docking methods due to variations in their scoring functions and energy calculation approaches. Ligands exhibiting consistently favorable binding affinities&#13;
and high rankings across both methods were considered to have greater potential as a-glucosidase inhibitors. The selection of potential ligands also considered ligand– receptor interactions, involvement of catalytic site residues, and toxicity evaluation to assess the preliminary safety profile of the compounds. The results identified Hordatine B, (9Z)-ß,ß-Carotene, Capsanthone, 3-Hydroxysintaxanthin, 9-Ribosyl- trans-zeatin, and Schleicherastatin 2 as the prioritized compounds for further investigation as antidiabetic candidates.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177514</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Optimasi Ekstraksi Senyawa Flavonoid Daun Miana (Coleus scutellarioides) dengan Desain I-optimal sebagai Antibakteri Penyebab Jerawat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177513</link>
<description>Optimasi Ekstraksi Senyawa Flavonoid Daun Miana (Coleus scutellarioides) dengan Desain I-optimal sebagai Antibakteri Penyebab Jerawat
PUTRI, AMANDA PARAMADITA
Daun miana (Coleus scutellarioides) mengandung flavonoid yang berpotensi sebagai agen antibakteri alami. Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan ekstraksi flavonoid daun miana dan mengevaluasi aktivitas antibakterinya terhadap Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Ekstraksi dilakukan dengan metode sonikasi, kadar total flavonoid ditentukan menggunakan metode kolorimetri AlCl3, dan aktivitas antibakteri diuji melalui metode difusi cakram, dan pengaruh konsentrasi ekstrak terhadap aktivitas antibakteri. Hasil verifikasi menunjukkan bahwa sampel ekstrak mampu menghambat pertumbuhan kedua bakteri dengan aktivitas tertinggi ditunjukkan sampel 2, dengan diameter zona hambat 9,03 ± 1,60 mm terhadap C. acnes dan 9,98 ± 0,40 mm terhadap S. epidermidis pada konsentrasi 100 mg/mL. Seluruh sampel bersifat bakteriostatik pada rentang konsentrasi yang diuji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak flavonoid daun miana efektif menghambat pertumbuhan bakteri penyebab jerawat.; Miana leaves (Coleus scutellarioides) contain flavonoids with potential as natural antibacterial agents. This study aimed to optimize the extraction of flavonoids from miana leaves and evaluate their antibacterial activity against Cutibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis. Extraction was carried out using the sonication method, the total flavonoid content was determined using the AlCl3 colorimetric method, and antibacterial activity was tested using the disc diffusion method, along with the effect of concentration on antibacterial activity. Verification results showed that the extract samples were able to inhibit the growth of both bacteria, with the highest activity shown by sample 2, with inhibition zone diameters of 9.03 ± 1.60 mm against C. acnes and 9.98 ± 0.40 mm against S. epidermidis at a concentration of 100 mg/mL. All samples exhibited bacteriostatic properties within the tested concentration range. The results indicate that the flavonoid extract from miana leaves is effective in inhibiting the growth of acnecausing bacteria.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177513</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
