<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Articles</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/45590</link>
<description>Artikel terbitan penulis IPB</description>
<pubDate>Wed, 16 Sep 2026 09:00:41 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-09-16T09:00:41Z</dc:date>
<item>
<title>Model Strategi Hilirisasi Robot Antrac 1.0 Program Hilirisasi Riset IPB University Penguatan Ketahanan Pangan Dan Pertanian Presisi Melalui Robot Deteksi Antraknosa Berbasis Kecerdasan Buatan (Ai)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179942</link>
<description>Model Strategi Hilirisasi Robot Antrac 1.0 Program Hilirisasi Riset IPB University Penguatan Ketahanan Pangan Dan Pertanian Presisi Melalui Robot Deteksi Antraknosa Berbasis Kecerdasan Buatan (Ai)
Siskandar, Ridwan; Novianti, Inna; Undang; Barokah, Wuliddah Tamsil; Daniswara, Alyssa; Rahmawati, Susan Anis
Kajian Pra-Studi Kelayakan (Pre-Feasibility Study) ini diinisiasi sebagai langkah&#13;
strategis untuk mengevaluasi kelayakan hilirisasi dan komersialisasi produk teknologi dalam&#13;
negeri, yaitu Robot Pertanian Otonom ANTRAC 1.0 (Anthracnose Detection and Control&#13;
System). Produk ini dikembangkan oleh akademisi dan peneliti di Institut Pertanian Bogor&#13;
(IPB) sebagai solusi atas tantangan struktural yang dihadapi oleh sektor pertanian hortikultura&#13;
di Indonesia.&#13;
Sektor pertanian hortikultura merupakan penyumbang signifikan terhadap PDB nasional,&#13;
namun komoditas cabai rawit (Capsicum frutescens) di dalamnya bukan sekadar kebutuhan&#13;
kuliner sekunder-ia adalah instrumen penggerak inflasi (volatile food) yang sangat sensitif dan&#13;
berkontribusi langsung pada fluktuasi Consumer Price Index (CPI) nasional (Theresia et al.&#13;
2025). Stabilitas produksi komoditas ini secara historis terus dihantui oleh ancaman kegagalan&#13;
panen struktural akibat epidemiologi penyakit Antraknosa (patek).&#13;
Patogenesis dan Skala Kerusakan Ekonomi. Penyakit ini disebabkan oleh jamur&#13;
Colletotrichum spp. yang sangat virulen pada iklim tropis lembap. Pada kelembapan tinggi&#13;
(RH &gt; 80%) dan musim hujan, infeksi berkembang cepat sehingga dapat menyebabkan&#13;
kerusakan 50–90% tanaman jika tidak dikendalikan (de Silva et al. 2019). Dampaknya adalah&#13;
penurunan hasil panen, kerugian ekonomi petani, dan terganggunya rantai pasok hortikultura.&#13;
Keterbatasan Resolusi Optik dan Intervensi Konvensional. Pengendalian konvensional&#13;
bergantung pada inspeksi visual manual yang tidak mampu mendeteksi lesi mikro secara&#13;
konsisten. Saat gejala terlihat jelas, konidia umumnya telah menyebar ke area sehat melalui&#13;
angin dan percikan hujan. Akibatnya, deteksi manual bersifat reaktif, terlambat, dan&#13;
memerlukan tenaga kerja yang besar karena inspeksi harus dilakukan berulang di seluruh lahan.&#13;
Paradoks Blanket Spraying dan Degradasi Ekosistem. Sebagai respons atas kepanikan&#13;
gagal panen, petani umumnya menerapkan protokol blanket spraying-penyemprotan fungisida&#13;
kimia spektrum luas secara membabi buta, terjadwal, tanpa mempertimbangkan titik koordinat&#13;
infeksi presisi. Praktik ini memicu tiga kerugian fatal secara serentak: ...
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jun 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179942</guid>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>A Story of Carbohydrates in Plants: From a &#13;
Basic Concept to Advanced Technology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179890</link>
<description>A Story of Carbohydrates in Plants: From a &#13;
Basic Concept to Advanced Technology
Syaifullah, Syahnada Jaya
Carbohydrates are crucial to natural macromolecules in plants.&#13;
Carbohydrates can be a substrate to produce energy and gene expression regulator for&#13;
plant growth in entire plant life cycle (Hill, 1998; KE Koch, 1996; Smeekens, 2000;&#13;
Smeekens et al., 2010). The carbohydrate function is strongly related to its capability to&#13;
be transformed from one substance into others (MacNeill et al., 2017; Ruhland &amp; Wolf,&#13;
1936) (Fig. 1) especially being able to provide building blocks for most of essestial&#13;
constituents in plant such as amino acid, fatty acid and some other compounds&#13;
(Smeekens, 2000). Carbohydrate is primary final product of photosynthesis in green&#13;
plants (Blechschmidt-Schneider et al., 1989). Plants produce carbohydrates from free C02&#13;
in the air and H20 taken by roots which is for each carbohydrate product, 02 will be&#13;
released (Baslam et al., 2021). Long time ago, photosynthesis was broadly thought in the&#13;
school consisted of two major reactions: light and dark reaction and it was inspired by a&#13;
historical report in photosynthesis by Blackman in 1905 (Blackman, 1905). Later, the&#13;
carbon reaction replaced dark reaction when some important fact was revealed about&#13;
photosynthesis reaction light dependency. ...
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jun 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179890</guid>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Smoothed Empirical Likelihood Approach to Quantile Differences in Paired Data: A Simulation and Application Study on Indonesian Economic Data</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179885</link>
<description>Smoothed Empirical Likelihood Approach to Quantile Differences in Paired Data: A Simulation and Application Study on Indonesian Economic Data
Utami, Eka Putri Nur; Destania, Yuriska; Sadik, Kusman; Kurnia, Anang
This study aims to conduct inference on quantile differences in paired data using the smoothed empirical likelihood (SEL) approach. Conventional mean-based approaches are limited in their ability to handle outliers and are less effective in comprehensively representing changes in distribution. The SEL method addresses the issue of the discontinuity of indicator functions in standard empirical likelihood by integrating kernel-based smoothing techniques, thereby enhancing computational stability and coverage accuracy. Through simulation studies involving various distribution scenarios (normal, exponential, and lognormal), sample sizes, and correlation levels, the performance of SEL is evaluated based on coverage probability and average interval length, compared to bootstrap, t-test, and Wilcoxon test methods. The simulation results demonstrate that SEL consistently yields stable coverage probabilities close to the nominal target and achieves high estimation efficiency with narrow confidence intervals, particularly for skewed data distributions. In an empirical application using Indonesia's Gross Regional Domestic Product (PDRB) data for 2016 and 2025, the SEL method proves to be more robust in representing regional economic dynamics than the mean-based method, which tends to be upwardly biased due to the influence of extreme values in metropolitan provinces. Furthermore, the confidence intervals generated by SEL are almost twice as precise as those from the t-test, making it a more accurate analytical tool for development planning aimed at regional equity.
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jun 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179885</guid>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Model Strategi Hilirisasi Ai-Trac Program Hilirisasi Riset IPB University</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179874</link>
<description>Model Strategi Hilirisasi Ai-Trac Program Hilirisasi Riset IPB University; Ai-Trac: Module Device 2-Mode Pada Traktor Tangan Berbasis Artificial Intelligence Dan Geospatial Information Untuk Meningkatkan Produktivitas Operasional Pertanian Berkelanjutan
Siskandar, Ridwan; Novianti, Inna; Kusumah, Billi Rifa; Arios, Roma Juliana; Maimun, Annisa Raihanah
Sektor pertanian memegang peranan krusial sebagai penopang utama ketahanan&#13;
pangan nasional, meskipun mayoritas petani di Indonesia masih bertumpu pada mekanisasi&#13;
konvensional yang mengandalkan tenaga manusia. Di tingkat global, mekanisasi pertanian&#13;
telah menjadi pendorong utama peningkatan produktivitas dan efisiensi sektor pertanian.&#13;
Pasar traktor pertanian dunia mencapai nilai sekitar USD 60,08 mi liar pada tahun 2024 dan&#13;
diproyeksikan meningkat menjadi USD 88,95 miliar pada tahun 2030 dengan laju&#13;
pertumbuhan tahunan (Compound Annual Growth Rate/CAGR) sebesar 6,5%.&#13;
Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya kebutuhan akan efisiensi tenaga kerja&#13;
pertanian, dukungan kebijakan pemerintah melalui berbagai program mekanisasi, serta&#13;
semakin luasnya adopsi teknologi pertanian presisi di berbagai negara (Fortune Business&#13;
Insights, 2025).&#13;
Sejalan dengan itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa memproyeksikan bahwa populasi&#13;
dunia akan mencapai 9,7 miliar jiwa pada tahun 2050, sehingga produksi pangan global&#13;
perlu meningkat sekitar 69% dibandingkan tahun 2010. Kondisi tersebut menjadikan&#13;
investasi pada alat dan mesin pertanian (alsintan) sebagai salah satu kebutuhan strategis&#13;
untuk menjamin ketahanan pangan dunia (Statistics Market Research Consulting, 2024).&#13;
Di kawasan Asia-Pasifik, pasar mekanisasi pertanian bernilai USD 25,12 miliar pada tahun&#13;
2023 dan diperkirakan mencapai USD 39,84 miliar pada tahun 2032 dengan CAGR sebesar&#13;
5,25%, menjadikan kawasan ini sebagai penyumbang sekitar 45,81% pasar traktor global&#13;
(Market Data Forecast, n.d.). Sementara itu, tingkat mekanisasi di berbagai negara masih&#13;
menunjukkan kesenjangan yang cukup besar. Vietnam, misalnya, telah mencapai tingkat&#13;
mekanisasi sekitar 3,8 hp/ha dengan kepadatan 202 unit traktor per 1.000 hektar, sedangkan&#13;
beberapa negara Afrika seperti Nigeria dan Ethiopia masih memiliki kepadatan di bawah&#13;
20 unit per 1.000 hektar (Yadav et al., 2025). ...
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179874</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
