<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Center for Agriculture and Rural Development Studies (CARDS)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/45059</link>
<description>Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3)</description>
<pubDate>Sat, 18 Apr 2026 06:54:44 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-18T06:54:44Z</dc:date>
<item>
<title>Profil gender dan anak Kota Bogor 2010</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/55554</link>
<description>Profil gender dan anak Kota Bogor 2010
Amanah, Siti; Hastuti, Dwi; Purnomo, Agustina M.; Virianita, Ratri; Defina
</description>
<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/55554</guid>
<dc:date>2010-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Tekanan penduduk, degradasi lingkungan dan ketahanan pangan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/45112</link>
<description>Tekanan penduduk, degradasi lingkungan dan ketahanan pangan
Pusat Studi pembangunan (PSP-IPB)
Tekanan penduduk yang demikian besar akan berakibat pada dua hal pokok. Pertama, kebutuhan akan pangan. Setiap tahun Indonesia akan membutuhkan tambahan pangan setidaknya untuk memenuhi tambahan kebutuhan sekitar 3,5 juta jiwa penduduk tersebut. Jika memperhatikan keseimbangan konsumsi pangan masyarakat Indonesia saat ini, maka akan terdapat dorongan kebutuhan yang lebih besar bagi pemenuhan pangan non-sereal seperti sayur, buah, produk peternakan, dan perikanan untuk memperoleh status konsumsi gizi yang berimbang. Untuk keperluan tersebut dibutuhkan setidaknya tambahan 100.000 hektar lahan pertanian untuk memproduksi sereal (padi), dan beberapa puluh ribu hektar lagi untuk memproduksi produk pertanian lain. Akibatnya terjadi tekanan yang semakin berat pada sumberdaya alam, apalagi jika pendayagunaan sumberdaya alam tersebut tidak dilakukan dengan bijaksana.
</description>
<pubDate>Tue, 01 Jan 2002 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/45112</guid>
<dc:date>2002-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Suatu analisis dari perspektif kelembagaan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/45111</link>
<description>Suatu analisis dari perspektif kelembagaan
Nasdian, Fredian Tonny
Orientasi penguatan kecamatan dari perspektif kelembagaan adalah mengefektifkan pemerintahan kabupaten untuk memberdayakan desa dan masyarakat desa. Dengan orientasi tersebut diperlukan suatu bentuk kelembagaan kecamatan, yang disatu sisi mendudukan posisi camat dan kelembagaan kecamatan sebagai ujung tombak pemerintahan kabupaten, sehingga lebih banyak mengemban kepentingan supra-desa. pada sisi yang lain menempatkan posisi camat dan kelembagaan kecamatan adalah ujung tombak atau menyambung kepentingan desa yang berada di wilayah administratifnya. Camat dan kelembagaan kecamatan berperan mempersambungkan birokrasi (pemerintah "supra kecamatan") dan warga masyarakat (komunitas desa).
</description>
<pubDate>Tue, 01 Jan 2008 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/45111</guid>
<dc:date>2008-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Suara dari Bogor sistem danusaha agribisnis kacamata sang pemikir</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/45110</link>
<description>Suara dari Bogor sistem danusaha agribisnis kacamata sang pemikir
Tampubolon, S.M.H.
Salah satu ciri sektor pertanian, sesuai dengan berbagai kajian empirik, adalah bahwa respon perkembangan komoditas pertanian menjadi nyata pada jangka panjang. Ciri ini juga membedakannya dengan sektor sekunder dan tersier lainnya. Oleh sebab itu, perencanaan pembangunan pertanian (on-farm) dan sistem agribisnis secara keseluruhan perlu mengacu pada perspektif jangka panjangtersebut. itulah sebabnya berbagai goncangan dan ketidak stabilan jangka pendek, tidak hanya ekonomi tetapi juga politik, akan sangat mempersulit pembangunan sistem agribisnis. Dengan begitu sudah jelas bahwa stabilitas menjadi kondisi yang pertama yang harus ada dalam suatu pembangunan sistem agribisnis yang dapat diandalkan. pendekatan-pendekatan politik ekonomi menjadi sangat penting agar berbagai kebijakan dalam pengembangan sistem agribisnis dapat berjalan lebih mulus.
</description>
<pubDate>Tue, 01 Jan 2002 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/45110</guid>
<dc:date>2002-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
