<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Geophysics and Meteorology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/45</link>
<description/>
<pubDate>Tue, 07 Apr 2026 18:57:14 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-07T18:57:14Z</dc:date>
<item>
<title>Analisis Kesesuaian Tanaman Mangga (Mangifera Indica L.,) Menggunakan Model Distribusi Spasial Maximum Entropy Di Kabupaten Indramayu</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160475</link>
<description>Analisis Kesesuaian Tanaman Mangga (Mangifera Indica L.,) Menggunakan Model Distribusi Spasial Maximum Entropy Di Kabupaten Indramayu
Amaliah, Fitri Rizki; Sugiarto, Yon; Sarvina, Yeli
Kabupaten Indramayu secara konsisten menjadi daerah penghasil mangga&#13;
terbesar di Jawa Barat. Bahwa budidaya mangga menghadapi tantangan peningkatan&#13;
suhu dan perubahan pola curah hujan di masa depan. Penelitian ini bertujuan&#13;
mengidentifikasi kondisi kesesuaian iklim tanaman mangga di Kabupaten Indramayu&#13;
saat ini maupun proyeksi tahun 2050 dengan menggunakan pendekatan Maximum&#13;
Entropy umumnya digunakan untuk pemodelan distribusi spasial suatu spesies.. Data&#13;
kejadian yang digunakan dalam penelitian ini adalah titik koordinat lokasi kebun&#13;
mangga dipilih berdasarkan tumpang susun agroklimat. Data lingkungan yang&#13;
digunakan dalam penelitian ini adalah data iklim dari worldclim baik data saat ini&#13;
maupun data proyeksi. ArcGIS digunakan untuk memvisualisasikan peta kesesuaian&#13;
iklim keluaran model. Hasil proyeksi pada model memperlihatkan bahwa perubahan&#13;
iklim mempengaruhi kesesuaian lahan. Distribusi spasial tanaman mangga pada&#13;
penelitian ini dipengaruhi oleh curah hujan bulan basah. Luas lahan sangat sesuai&#13;
model iklim CMCC-ESM2 berkurang untuk skenario perubahan iklim SSP 245 dan&#13;
SSP 585 luas lahan sangat sesuai tidak ada. Berbeda hal dengan model iklim&#13;
HadGEM3-GC31-LL kelas sesuai bertambah untuk kedua skanario.
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jan 2024 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160475</guid>
<dc:date>2024-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Recent Development on Estimation of the Mean Function of a Compound Cyclic Poisson Process</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/112870</link>
<description>Recent Development on Estimation of the Mean Function of a Compound Cyclic Poisson Process
Mangku, I Wayan
Compound cyclic Poisson process is a special form of compound inhomogeneous Poisson process, which has many applications in applied sciences. The objective of this paper is to survey some recent development on estimation of the mean function of a compound cyclic Poisson process. The presented results will include formulation of the estimator, consistency, asymptotic approximations to its bias and variance, asymptotic normality, and a confidence interval for the mean function. We will also show that, in order to have asymptotic bias and asymptotic variance of the estimator, it is needed to modify the estimator. Furthermore, in order to have asymptotic normality of the estimator, it is needed to rewrite the estimator as a sum of independent components. Some simulation results on distribution of the estimator and some applications of this process will also be presented.
</description>
<pubDate>Sat, 01 Jan 2022 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/112870</guid>
<dc:date>2022-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Upaya adaptasi sektor sumberdaya air dan pertanian untuk mengurangi dampak perubahan iklim</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/81317</link>
<description>Upaya adaptasi sektor sumberdaya air dan pertanian untuk mengurangi dampak perubahan iklim
Dasanto, Bambang Dwi; Impron, .
Secara umum pemanasan global diartikan sebagai peningkatan suhu di seluruh&#13;
pemukaan bumi baik darat maupun laut. Peningkatan suhu permukaan bumi ini&#13;
dikarenakan oleh faktor alami (natural) dan/atau aktivitas manusia (anthropogenic).&#13;
Gas-gas rumah kaca utama yang menyebabkan terjadinya pemanasan global, antara&#13;
lain: karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrous oksida (N2O) dan halokarbon&#13;
(sekelompok gas yang mengandung florin, klorin dan bromin). Gas-gas ini&#13;
berakumulasi di atmosfer dan menunjukkan kecenderungan adanya peningkatan&#13;
konsentrasi dari tahun ke tahun.&#13;
&#13;
Laporan IPCC (2007) menyatakan bahwa pemanasan global terutama&#13;
disebabkan oleh tingginya konsentrasi gas-gas rumah kaca (GRK) di atmosfer.&#13;
Laporan ini juga menyatakan bahwa peningkatan GRK tersebut terutama diakibatkan&#13;
oleh aktivitas manusia seperti penggunaan bahan bakar fosil (batu bara, minyak bumi)&#13;
dan perubahan penggunaan/penutup lahan.&#13;
&#13;
Pemanasan global dalam jangka panjang akan mempengaruhi sebagian atau&#13;
seluruh sistem iklim bumi dan memacu terjadinya perubahan iklim. Perubahan iklim&#13;
ini terutama berkaitan dengan perubahan unsur-unsur iklim, antara lain: radiasi surya,&#13;
lama penyinaran surya, suhu udara, kelembaban udara, tekanan udara, evaporasi/&#13;
evapotranspirasi dan presipitasi. Dampak dari perubahan iklim tersebut adalah (1)&#13;
suhu udara menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun terutama setelah revolusi industri pada tahun 1880-an, (2) pergeseran waktu awal musim hujan dan perubahan distribusi serta jeluk hujan, (3) peningkatan intensitas kejadian iklim ekstrim, dan (4) kenaikan muka air laut.&#13;
&#13;
Pergeseran awal musim hujan menyebabkan terjadinya pergeseran waktu tanam&#13;
yang berimplikasi pada ketersediaan bibit dan pupuk. Perubahan distribusi dan jeluk&#13;
hujan berdampak pada ketersediaan air antar wilayah dan waktu. Intensitas kejadian&#13;
iklim ekstrim yang semakin meningkat seperti kekeringan (akibat El Nino) dan banjir&#13;
(La Nina) akan berdampak pada turunnya produksi pertanian, rusaknya bangunan air&#13;
akibat banjir, dan defisit air industri/domestik akibat kekeringan ataupun turunnya&#13;
kualitas air akibat banjir.
</description>
<pubDate>Tue, 01 Jan 2008 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/81317</guid>
<dc:date>2008-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Kuantifikasi osilasi kuasi dua tahunan stratosfer (QBO) menggunakan data ECMWF-interim reanalysis</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/72538</link>
<description>Kuantifikasi osilasi kuasi dua tahunan stratosfer (QBO) menggunakan data ECMWF-interim reanalysis
Alsepan, Givo
Data ERA-Interim dengan periode 30 tahun (Januari 1981 – Desember 2010) keluaran ECMWF (European Center for Medium-Range Weather Forecasts) digunakan untuk menganalisis secara kuantitatif karakteristik QBO (quasi-biennial oscillation). Analisis pada penelitian ini menunjukkan bahwa fasa timuran dan baratan QBO merambat bergantian dengan periode ~27.7 bulan, yang secara garis besar periodenya lebih pendek dari 28.4 bulan hasil perhitungan Baldwin et al. (2001; observasi) dan 28.2 bulan hasil perhitungan Pascoe et al. (2005; ERA-40). Berdasarkan metode EQA (Equivalent QBO Amplitude), kami menemukan bahwa amplitudo maksimum dari kecepatan rata-rata angin zonal terhadap bujur (U), rata-rata zonal dari suhu (T), pergeseran vertikal angin zonal (du/dz), dan laju perubahan vertikal pergeseran vertikal angin zonal (d2u/dz2) secara berturut-turut adalah ~28.3 m/s, ~3.4 K, ~4.8 m/s/km, dan ~1.0 m/s/km2. Amplitudo tersebut berkurang secara eksponensial mengikuti distribusi Gaussian terhadap lintang. Struktur twofold dari QBO merambat ke bawah dengan laju ~1 km/bulan. Kami juga menemukan bahwa hubungan QBO-du/dz dengan QBO-T memenuhi persamaan angin termal, karena sangat kecilnya kontribusi dari rata-rata pergerakan angin vertikal dan meridional. Selain itu, konsentrasi dari total column ozone (TCO) di daerah tropis secara signifikan dipengaruhi oleh QBO. Selama fasa baratan QBO konsentrasi TCO secara relatif meningkat di wilayah stratosfer-bawah, namun menurun selama fasa timuran.; A 30-year ERA-Interim data from the European Center for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) was used to quantitatively analyze the characteristics of the quasi-biennial oscillation (QBO). The analysis of this research showed that the zonally symmetric easterly and westerly phase of QBO regimes alternate with period of ~27.7 months, being marginally shorter than ~28.4 and ~28.2 months as measured by Baldwind et al. (2001; observation) and Pascoe et al. (2005; ERA-40) respectively. Based on Equivalent QBO Amplitude (EQA) method, we found that the maximum amplitudes in zonal mean zonal wind (u), temperature (T), vertical shear (du/dz) and quadratic vertical shear (d2u/dz2) are ~28.3 m/s , ~3.4 K, ~4.8 m/s/km, and ~1.0 m/s/km2 respectively. The amplitudes decay exponentially with a Gaussian distribution in latitude. The twofold-structure of QBO descends downward at rate of ~1 km/month. We also showed that QBO-du/dz and QBO-T satisfy the thermal wind balance relation due to very small contribution of the mean meridional and vertical motion. Moreover, we found that the concentration of the total column ozone (TCO) in the tropics is significantly influenced by QBO. During the westerly phase of QBO, the TOC is relatively increased in the lower-stratosphere, but decreased during the opposite phase. Keywords: QBO, amplitudes, thermal wind balance, total column ozone (TCO).
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2014 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/72538</guid>
<dc:date>2014-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
