<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Geophysics and Meteorology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/36</link>
<description/>
<pubDate>Thu, 09 Jul 2026 21:21:09 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-07-09T21:21:09Z</dc:date>
<item>
<title>Pemetaan Kesesuaian Spasial Lokasi Pembangunan PLTS dan PLTB Berbasis Multi-Criteria Decision Making (MCDM) di Jawa</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174309</link>
<description>Pemetaan Kesesuaian Spasial Lokasi Pembangunan PLTS dan PLTB Berbasis Multi-Criteria Decision Making (MCDM) di Jawa
Fernando
Meningkatnya kebutuhan energi listrik di Pulau Jawa mendorong pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT), salah satunya energi surya dan angin. Kajian potensi EBT di Indonesia masih banyak berfokus pada ketersediaan sumber daya tanpa mempertimbangkan kesesuaian wilayah secara spasial. Penelitian ini bertujuan memetakan area potensial pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Jawa. Metode yang digunakan adalah analisis spasial dan Multi-Criteria Decision Making (MCDM) dengan pendekatan pembobotan entropi dan Weighted Linear Combination (WLC) berbasis data variabel meteorologi dan spasial tutupan lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi radiasi matahari di Jawa relatif tinggi dan merata dengan nilai 1660,7–1849,8 kWh/m²/tahun, sedangkan potensi angin dengan nilai 3,16–3,58 m/s dipengaruhi oleh sistem monsun Asia–Australia dengan kecepatan tertinggi di pesisir selatan Jawa pada periode Juni–Agustus. Area potensial PLTS terutama tersebar di sepanjang pantai utara Jawa, sedangkan PLTB terkonsentrasi di Probolinggo, Situbondo, Sukabumi, dan sebagian pesisir Jawa Timur. Potensi pengembangan sistem hibrida PLTS-PLTB ditemukan di Probolinggo, Situbondo, Kediri, dan Sukabumi. Studi ini menunjukkan bahwa PLTS memiliki potensi pengembangan yang lebih luas dibandingkan PLTB, sementara pendekatan MCDM-WLC efektif dalam mengidentifikasi wilayah prioritas pengembangan EBT sebagai dasar perencanaan energi berkelanjutan di Jawa.; The increasing demand for electrical energy in Java Island encourages the development of New and Renewable Energy (NRE), one of which is solar and wind energy. Studies of NRE potential in Indonesia still focus largely on resource availability without considering spatial regional suitability. This study aims to map potential areas for the development of Solar Power Plants (PLTS) and Wind Power Plants (PLTB) in Java. The methods used are spatial analysis and Multi-Criteria Decision Making (MCDM) with entropy weighting and Weighted Linear Combination (WLC) approaches with meteorological and spatial land cover variable data. The results show that the potential for solar radiation in Java is relatively high and evenly distributed with a value of 1660.7–1849.8 kWh/m²/year, while wind potential ranges from 3.16 to 3.58 m/s and is influenced by the Asian–Australian monsoon system with the highest speed on the southern coast of Java during the June–August period. Potential areas for PLTS are mainly spread along the northern coast of Java, while PLTB are concentrated in Probolinggo, Situbondo, Sukabumi, and parts of the East Java coast. Potential for hybrid solar-wind power plant (PLTS) and wind power plants (PLTB) systems has been identified in Probolinggo, Situbondo, Kediri, and Sukabumi. This study shows that solar power plants have broader development potential than wind power plants (PLTB), while the MCDM-WLC approach is effective in identifying priority areas for renewable energy development as a basis for sustainable energy planning in Java.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174309</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Potensi  Serangan Hama Penggerek Batang Padi (Scirpophaga sp.) berdasarkan Faktor  Musim di Kabupaten Cirebon</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174308</link>
<description>Analisis Potensi  Serangan Hama Penggerek Batang Padi (Scirpophaga sp.) berdasarkan Faktor  Musim di Kabupaten Cirebon
ROSANDI, MUHAMMAD TAUFIK
Hama penggerek batang padi (Scirpophaga sp.) merupakan salah satu hama tanaman utama dalam budidaya padi, yang mampu menyebabkan kerugian hasil panen hingga 30%. Perkembangan hama ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor meteorologi musiman, sehingga analisis pola musiman menjadi sangat penting untuk mendukung upaya pengendalian preventif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi serangan hama penggerek batang padi berdasarkan pola musiman dengan menggunakan model CLIMEX di Kabupaten Cirebon. Data meteorologi harian dari tahun 2017 hingga 2024 yang diperoleh dari Stasiun Pos Meteorologi Penggung serta data Luas Area Serangan Tambahan Kumulatif dari Balai Perlindungan Tanaman Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat diolah menggunakan model CLIMEX 3.0 dengan template Wet-tropical dan analisis distribusi visual. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa Indeks Ekoklimatik (EI) berkisar antara 72 hingga 73 tanpa adanya indikator stres iklim, yang mengindikasikan bahwa Kabupaten Cirebon sangat cocok untuk pertumbuhan hama tersebut. Distribusi visual menunjukkan bahwa area serangan terkonsentrasi pada curah hujan sedang, kelembapan 70-90%, dan suhu 26-32°C. Total luas area serangan pada musim kemarau (5.544 ha) lebih tinggi daripada pada musim hujan (3.675 ha), dengan puncaknya terjadi pada bulan Maret dan September, sejalan dengan sinkronisasi fase generatif padi pada musim tanam pertama dan kedua.; Rice stem borer (Scirpophaga sp.) is one of the major plant pests in rice cultivation, capable of causing yield losses of up to 30%. The development of this pest is strongly influenced by seasonal meteorological factors, making seasonal pattern analysis essential to support preventive control. This study aims to analyze the potential infestation of rice stem borer based on seasonal patterns using the CLIMEX model in Cirebon Regency. Daily meteorological data from 2017 to 2024 obtained from the Penggung Meteorological Post Station and the Cumulative Additional Infestation Area data from the West Java Province Plantation and Horticultural Plant Protection Center were processed using the CLIMEX 3.0 model with a Wet-tropical template and visual distribution analysis. The modeling results show that the Ecoclimatic Index (EI) ranged from 72 to 73 with no climatic stress indicators, indicating that Cirebon Regency is highly suitable for the pest's growth. Visual distribution showed that infestation areas were concentrated under moderate rainfall, humidity of 70-90%, and temperatures of 26-32°C. The total infestation area in the dry season (5,544 ha) was higher than in the wet season (3,675 ha), peaking in March and September, following the synchronization of the generative phase of rice in the first and second planting seasons.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174308</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Evaluasi Aksi Adaptasi Iklim terhadap Suhu Ekstrem di Kawasan Pesisir Jakarta Utara</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174299</link>
<description>Evaluasi Aksi Adaptasi Iklim terhadap Suhu Ekstrem di Kawasan Pesisir Jakarta Utara
Ariij, Erlita Nayla
Kawasan pesisir Jakarta Utara menghadapi konvergensi tekanan termal akibat pemanasan antropogenik dan intensifikasi Urban Heat Island (UHI), namun efektivitas dan relevansi aksi adaptasi iklim yang telah diimplementasikan terhadap risiko tersebut belum dievaluasi secara sistematis. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas dan relevansi aksi adaptasi iklim terhadap risiko suhu ekstrem di kawasan pesisir Jakarta Utara serta merumuskan rekomendasi penyempurnaan berbasis dampak. Analisis tren suhu menggunakan data ERA5-Land terkoreksi bias terhadap observasi BMKG Tanjung Priok periode 1995–2025 dengan indeks ETCCDI, sedangkan evaluasi aksi menggunakan matriks Community-Based Climate Action (CBCA) dan instrumen MoNEv Permen LHK 12/2024 terhadap 14 rincian implementasi dari 8 program prioritas. Hasil menunjukkan kenaikan Tavg sebesar 0,732°C selama tiga dekade dengan asimetri pemanasan Tmin (0,909°C) yang melampaui Tmax (0,521°C), mengonfirmasi dominasi mekanisme supresi pendinginan radiatif UHI. Seluruh aksi memenuhi dimensi kebijakan dan kelembagaan (100%), namun tidak ada satu pun yang memiliki metode Monitoring, Evaluation, Accountability, Learning (MEAL) terstandar (0%), sehingga dampak termal tidak dapat dibuktikan secara empiris. Kesenjangan antara capaian administratif RTH (62,76%) dan tutupan vegetasi aktual (19,50%) mengindikasikan disonansi serius antara pelaporan dan keberfungsian ekologis di lapangan. Penelitian ini merekomendasikan transformasi sistem pelaporan menuju evaluasi berbasis dampak iklim (?LST, TX90p, UTCI), dan integrasi data adaptasi ke Sistem Registri Nasional.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174299</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Proyeksi Suhu Permukaan Laut Menggunakan Pendekatan Statistical Downscaling dengan Luaran Model GCM di WPPNRI  712 Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174101</link>
<description>Proyeksi Suhu Permukaan Laut Menggunakan Pendekatan Statistical Downscaling dengan Luaran Model GCM di WPPNRI  712 Indonesia
Fauziyyah, Adetriati
Perairan WPPNRI 712 (Laut Jawa) merupakan zona perikanan strategis yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu permukaan laut (SPL), namun resolusi model sirkulasi umum global CMIP6 (~100 km) tidak memadai untuk kajian iklim regional. Penelitian ini bertujuan menghasilkan, mengevaluasi, dan membandingkan proyeksi SPL harian beresolusi ~5 km di WPPNRI 712 hingga tahun 2100 menggunakan metode downscaling statistik Quantile Delta Mapping (QDM) dan Asynchronous Linear Regression (ALR) terhadap tiga model GCM CMIP6 pada skenario emisi SSP1-2.6, SSP2-4.5, dan SSP5-8.5, dengan data referensi NASA MUR SST v4.1 sebagai kalibrasi (2003-2014) dan validasi out-of-sample (2015-2019). Evaluasi kuantitatif menunjukkan ALR menghasilkan performa ensemble yang lebih baik dibandingkan QDM, dengan RMSE musiman ensemble 0,188°C dan korelasi musiman 0,972. Proyeksi ALR memperlihatkan kenaikan SPL rata-rata domain sebesar +0,119°C/dekade (SSP1-2.6), +0,228°C/dekade (SSP2-4.5), dan +0,431°C/dekade (SSP5-8.5), dengan anomali pemanasan akhir abad (2071-2100) rata-rata +2,66°C pada SSP5-8.5. Distribusi pemanasan tidak seragam secara spasial, dengan intensitas tertinggi di bagian barat domain. Siklus musiman bimodal yang dikontrol monsun Indo-Australia tetap terjaga strukturnya, namun SPL minimum Agustus diproyeksikan melampaui 31°C pada SSP5-8.5, mengindikasikan hilangnya termal refugia yang kritis bagi ekosistem dan perikanan WPPNRI 712.; WPPNRI 712 (Java Sea) is a strategic fisheries zone highly sensitive to sea surface temperature (SST) change, however, the spatial resolution of CMIP6 global climate models (~100 km) is inadequate for regional climate assessment. This study aimed to produce, evaluate, and compare high resolution (~5 km) daily SST projections for WPPNRI 712 through 2100 using statistical downscaling methods Quantile Delta Mapping (QDM) and Asynchronous Linear Regression (ALR) applied to three CMIP6 GCMs under SSP1-2.6, SSP2-4.5, and SSP5-8.5 emission scenarios, with NASA MUR SST v4.1 as calibration (2003-2014) and out-of-sample validation (2015-2019) reference. Quantitative evaluation showed ALR achieved superior ensemble performance over QDM, with seasonal RMSE of 0.188°C and seasonal correlation of 0.972. ALR projections indicate domain-averaged warming rates of +0.119°C/decade (SSP1-2.6), +0.228°C/decade (SSP2-4.5), and +0.431°C/decade (SSP5-8.5), with late-century (2071-2100) mean warming anomaly of +2.66°C under SSP5-8.5. Warming is spatially non-uniform, with the highest intensity in the western domain. The Indo-Australian monsoon-driven bimodal seasonal cycle is structurally preserved; however, August minimum SST is projected to exceed 31°C under SSP5-8.5, indicating the loss of the thermal refugia critical to the ecosystems and fisheries of WPPNRI 712.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174101</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
