<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Geophysics and Meteorology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/36</link>
<description/>
<pubDate>Fri, 19 Jun 2026 18:39:46 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-06-19T18:39:46Z</dc:date>
<item>
<title>Analisis Respon Biogeofisik Akibat Perubahan Local Climate Zone (LCZ) di Bekasi Tahun 2000, 2015 dan 2023</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173514</link>
<description>Analisis Respon Biogeofisik Akibat Perubahan Local Climate Zone (LCZ) di Bekasi Tahun 2000, 2015 dan 2023
Firdaus, Najmi
Bekasi sebagai kawasan penyangga Jakarta mengalami transformasi lanskap yang sangat masif selama periode 2000, 2015 dan 2023, sehingga penelitian ini bertujuan menganalisis respon biogeofisik berupa Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Land Surface Temperature (LST), albedo permukaan, dan Urban Thermal Field Variance Index (UTFVI) terhadap perubahan Local Climate Zone (LCZ) menggunakan pendekatan WUDAPT Level 0 dengan algoritma Random Forest pada citra Landsat 5 TM dan Landsat 8 OLI/TIRS yang divalidasi dengan nilai kappa accuracy di atas 0,81. Ekspansi kawasan terbangun &#13;
dari 16,1% menjadi 61,4% membawa dampak penurunan rata-rata NDVI sebesar 66,56%, peningkatan LST rata-rata dari 34,02°C menjadi 39,57°C, lonjakan albedo dari 0,1265 menjadi 0,3188, serta meluasnya kondisi UHI ekstrem yang tercermin dari nilai rata-rata UTFVI yang melampaui ambang batas 0,020 di seluruh sektor terbangun. Analisis per tipe LCZ menunjukkan diferensiasi termal yang sangat nyata, dimana LCZ 10 (Heavy Industry) mencatat LST tertinggi sebesar 43,1°C dan UTFVI tertinggi sebesar 0,062 pada tahun 2023, berbanding terbalik dengan LCZ G (Water) yang mempertahankan fungsi pendinginan terkuat dengan selisih suhu permukaan mencapai 12,6°C terhadap zona industri dalam satu wilayah administratif yang sama. Meskipun zona sisa vegetatif seperti LCZ A dan LCZ G terus mengalami penyusutan spasial, keduanya terbukti menjadi instrumen pendinginan alami paling strategis sehingga perlindungan ketat terhadap kedua  zona tersebut, dikombinasikan dengan penerapan green roof, green wall dan sabuk hijau wajib di kawasan industri, menjadi rekomendasi mitigasi berbasis tipe LCZ yang paling mendesak untuk mewujudkan tata ruang berkelanjutan di Bekasi.; Bekasi, as a buffer zone of Jakarta, underwent massive landscape transformation throughout 2000–2023, prompting this study to analyze biogeophysical responses namely the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Land Surface Temperature (LST), surface albedo, and Urban Thermal Field Variance Index (UTFVI) resulting from Local Climate Zone (LCZ) changes, using the WUDAPT Level 0 approach with a Random Forest algorithm applied to Landsat 5 TM and Landsat 8 OLI/TIRS imagery, validated at a kappa accuracy exceeding 0.81. Built-up area expansion from 16.1% to 61.4% drove a 66.56% decline in mean NDVI, a consistent LST rise from 34.02°C to 39.57°C, an albedo increase from 0.1265 to 0.3188, and widespread extreme Urban Heat Island (UHI) conditions reflected by mean UTFVI values surpassing the 0.020 threshold across all urbanized sectors. Per-LCZ analysis revealed stark thermal differentiation, where LCZ 10 (Heavy Industry) recorded the highest LST of 43.1°C and the &#13;
highest UTFVI of 0.062 in 2023, in sharp contrast to LCZ G (Water), which maintained the strongest cooling function with a surface temperature differential of up to 12.6°C against industrial zones within the same administrative boundary. Although residual vegetated zones such as LCZ A (Dense Trees) and LCZ G (Water) continued to shrink spatially, both proved to be the most strategically irreplaceable natural cooling instruments; therefore, their strict preservation combined with mandatory green roofs, green walls, and industrial greenbelts constitutes the most urgent LCZ-based mitigation recommendation for achieving sustainable spatial planning in Bekasi.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173514</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Incidence Rate Diare Berbasis Variabel Hidroklimat dengan Generalized Linear Model pada Skenario Perubahan Iklim di Jawa Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173510</link>
<description>Analisis Incidence Rate Diare Berbasis Variabel Hidroklimat dengan Generalized Linear Model pada Skenario Perubahan Iklim di Jawa Barat
Ramadika, Aufaa Ikram
Penyakit diare merupakan salah satu penyebab tertinggi dari kematian pada balita dan berbagai kelompok umur dengan kasus kejadian yang tinggi. Perubahan iklim dan ketersediaan air bersih saling berhubungan dan berpengaruh terhadap potensi kejadian diare. Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi dengan kasus diare terbanyak dengan frekuensi yang terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis incidence rate diare berbasis variabel hidroklimat dengan Generalized Linear Model pada skenario perubahan iklim. Variabel hidroklimat historis (2016-2024) dan proyeksi CMIP6 (2025-2029) dianalisis menggunakan elastic net untuk seleksi variabel dan Generalized Linear Model (GLM) untuk pemodelan persamaan untuk proyeksi tingkat kabupaten/kota. Hasil menunjukkan bahwa variabel hidroklimat yang memberikan performa prediktif&#13;
terbaik merupakan indeks curah hujan tahunan (PRCPTOT) dan defisit air (DEF). Proyeksi potensi incidence rate diare pada tahun 2025-2029 menunjukkan adanya fluktuasi dengan nilai rata-rata lebih tinggi dibandingkan data historis. Wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Pangandaran, Kota Banjar, dan Kota Tasikmalaya membutuhkan perhatian khusus dalam mitigasi penyakit diare. Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi indeks iklim ekstrem dengan&#13;
neraca air penting dalam perencanaan mitigasi kejadian diare di wilayah Jawa Barat.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173510</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>RANCANG BANGUN SISTEM PEMANTAUAN HIDROMETEOROLOGI BERBASIS INTERNET OF THINGS (IOT) DI  SUBDAS CIAPUS-DAS CISADANE</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173430</link>
<description>RANCANG BANGUN SISTEM PEMANTAUAN HIDROMETEOROLOGI BERBASIS INTERNET OF THINGS (IOT) DI  SUBDAS CIAPUS-DAS CISADANE
Anggara, Andri Yasmin
Data hidrometeorologi beresolusi tinggi sangat penting dalam pengelolaan daerah aliran sungai mikro yang memiliki respons hidrologi cepat terhadap curah hujan. Namun, ketersediaan data tersebut di Sub DAS Ciapus masih terbatas dan tidak berkesinambungan. Penelitian ini bertujuan merancang dan mengimplementasikan sistem pemantauan hidrometeorologi berbasis internet  menggunakan mikrokontroler ESP32-S3 dan sensor ultrasonik untuk pengukuran tinggi muka air yang terintegrasi dengan jaringan Stasiun Cuaca Otomatis untuk merekam curah hujan. Sistem bekerja secara otomatis, mengirimkan data melalui jaringan nirkabel ke server, menyimpan data ke dalam basis data, serta menampilkan visualisasi pada dashboard secara waktu nyata. Implementasi Stasiun Cuaca Otomatis dan stasiun tinggi muka air pada wilayah Sub DAS Ciapus menunjukkan adanya jeda waktu antara hujan dan limpasan berkisar 1,4–1,6 jam. Kondisi tersebut mencerminkan respons daerah tangkapan air yang cepat serta menunjukkan potensi peningkatan risiko banjir di wilayah penelitian. Sistem yang dikembangkan dapat digunakan sebagai model awal jaringan pemantauan hidrometeorologi berbasis teknologi pada daerah aliran sungai mikro di wilayah tropis.; High-resolution hydrometeorological data are essential for the management of micro-watersheds that exhibit rapid hydrological responses to rainfall events. However, the availability of such data in the Ciapus Sub-watershed remains limited and discontinuous. This study aimed to design and implement an Internet of Things (IoT)-based hydrometeorological monitoring system using an ESP32-S3 microcontroller and an ultrasonic sensor for water level measurement integrated with an Automatic Weather Station (AWS) network for rainfall monitoring. The system operates automatically by transmitting data through a wireless network to a server, storing the data in a database, and displaying real-time visualizations on a dashboard. The implementation of the AWS and water level monitoring stations within the Ciapus Sub-watershed indicated a rainfall–runoff lag time ranging from 1.4 to 1.6 hours. This condition reflects the rapid response of the catchment area and indicates a potential increase in flood risk within the study area. The developed system can serve as a preliminary model for technology-based hydrometeorological monitoring networks in tropical micro-watersheds.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173430</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Fluks Uap Air di Stasiun Cuaca  Mikro Multilayer Taman Hutan Kampus IPB</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173429</link>
<description>Analisis Fluks Uap Air di Stasiun Cuaca  Mikro Multilayer Taman Hutan Kampus IPB
Suryadi, Umaraditya Panji
Penelitian ini mengkaji dinamika diurnal fluks uap air pada sistem mikroklimat multilapis di Hutan Kampus IPB Dramaga. Pengamatan dilakukan menggunakan Automatic Weather Station (AWS) yang dipasang pada empat tingkat vertikal (0,5 m, 1,5 m, 5 m, dan 13,5 m) selama periode 47 hari dengan resolusi data per jam. Fluks uap air diestimasi menggunakan metode gradien berdasarkan perbedaan vertikal kelembapan spesifik yang diturunkan dari suhu udara, kelembapan relatif, dan tekanan udara. Hasil penelitian menunjukkan pola diurnal yang jelas, dengan fluks meningkat dari pagi menuju siang hari dan mencapai puncak sekitar pukul 10.00–12.00 waktu setempat, seiring dengan maksimum radiasi matahari dan meningkatnya ketidakstabilan atmosfer. Fluks terkuat terjadi pada lapisan 1,5–5 m, yang menunjukkan bahwa lapisan ini merupakan zona utama transport vertikal uap air akibat kombinasi gradien kelembapan yang kuat dan pencampuran turbulen yang aktif. Sebaliknya, lapisan dekat permukaan (0,5–1,5 m) menunjukkan nilai fluks yang lebih rendah akibat turbulensi yang terbatas meskipun ketersediaan uap air tinggi, sedangkan lapisan atas (5–13,5 m) menunjukkan nilai fluks mendekati nol sebagai akibat kondisi atmosfer yang telah tercampur dengan baik dan gradien vertikal yang minimal. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan peran penting struktur vertikal atmosfer, turbulensi, dan gradien kelembapan dalam mengendalikan pertukaran uap air, serta menunjukkan efektivitas pendekatan multilapis dalam menangkap proses mikrometeorologi di lingkungan hutan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173429</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
