<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>PKM - Penulisan Ilmiah</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/32663</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 11 Apr 2026 12:16:50 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-11T12:16:50Z</dc:date>
<item>
<title>Standards Of Pharmaceutical Services In  Animal Hospital Ipb University And Secondary Acute Anterior Uveitis With Hyphema In A Purpose-Bred Kitten</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/111266</link>
<description>Standards Of Pharmaceutical Services In  Animal Hospital Ipb University And Secondary Acute Anterior Uveitis With Hyphema In A Purpose-Bred Kitten
Joon, Liew Kah
Pharmaceutical services in animal hospitals are an inseparable part of the&#13;
hospital service system that is focused on patient care, providing quality and&#13;
affordable pharmaceutical preparations, medical devices, and medicinal products.&#13;
“Reseptir dan Aplikasi Obat” is one of the courses in the Program Profesi Dokter&#13;
Hewan (PPDH) of the Faculty of Veterinary Medicine (FKH) Bogor Agricultural&#13;
University (IPB). PPDH students are required to know and understand&#13;
pharmaceutical services at veterinary hospitals to improve the quality of&#13;
pharmaceutical services in the field of veterinary medicine.&#13;
The definition of pharmaceutical service according to Permenkes number 76&#13;
of 2016 is a direct service to patients related to pharmaceutical preparations with&#13;
the aim of achieving definite results to improve the quality of life of patients.&#13;
Pharmaceutical activities that initially only focused on drug management as a&#13;
commodity became a comprehensive service. Hospital pharmacists are&#13;
responsible for all pharmaceutical goods circulating in hospitals. The Ministry of&#13;
Health (2004) explains that the practice of pharmaceutical services is an integrated&#13;
activity with the aim of identifying, preventing, and resolving drug problems and&#13;
health-related problems. .. dst
</description>
<pubDate>Fri, 01 Jan 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/111266</guid>
<dc:date>2021-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Perbandingan Komposisi Vegetasi Hutan Hujan Dataran rendah dengan Hutan Hujan egunungan Tengah (studi Kasus di Taman Nasional Gunung Ciremai)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/33052</link>
<description>Perbandingan Komposisi Vegetasi Hutan Hujan Dataran rendah dengan Hutan Hujan egunungan Tengah (studi Kasus di Taman Nasional Gunung Ciremai)
Nababan, S. Dian Firdaus; Parinda, Sambang; Aulia, Agha Respati
Hutan Hujan Tropis adalah suatu masyarakat tumbuhan yang kompleks merupakan tempat yang menyediakan pohon dari berbagai ukuran. Di dalam ekosistem hutan iklim mikro berbeda dengan di luarnya; cahaya lebih sedikit kelembaban sangat tinggi, dan temperatur lebih rendah. Banyak dari pohon yang lebih kecil berkembang dalam naungan pohon yang lebih besar dan adanya iklim mikro memberikan pola-pola pertumbuhan yang khas dalam ekosistem hutan. Tujuan praktek lapang ini adalah untuk mengkaji perbandingan komposisi vegetasi hutan hujan dataran rendah dengan hutan hujan pegunungan tengah di Taman Nasional Gunung Ciremai. Penelitian yang dilakukan menggunakan susunan dan bentuk vegetasi tegakan hutan yaitu semai, pancang, tiang, dan pohon. Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan yang telah dilakukan, hutan hujan dataran rendah dan hutan hujan pegunungan tengah mempunyai perbedaan pada komposisi ilegetasinya. Komposisi vegetasi suatu ripe hutan dipengaruhi beberapa faktor seperti ketinggian, suhu, cahaya, jenis tanah, dan sebagainya.
</description>
<pubDate>Tue, 01 Jan 2008 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/33052</guid>
<dc:date>2008-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Tingkat Korelasi Produktifitas Lahan dengan Penerimaan Usahatani (Studi Kasus Petani Padi di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/33049</link>
<description>Analisis Tingkat Korelasi Produktifitas Lahan dengan Penerimaan Usahatani (Studi Kasus Petani Padi di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor)
Pustpitasari, Ratna; Utami, Vica Adriana Tyas; Isaurdianyah
Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya masih menggantungkan pendapatan pada sektor pertanian. Pertanian mejadi tumpuan hampir 75 persen masyarakat Indonesia. Namun ironinya tingkat kesejahteraan petani masih tergolong rendah. Rendahnya tingkat kesejahteraan petani menunjukkan bahwa hingga kini sektor pertanian ternyata belum mampu mengentaskan masyarakat dari kemiskinan. Fakta yang baru-baru ini ada adalah produktifitas lahan cenderung meningkat namun tidak diiringi pula oleh peningkatan kesejahteraan petani. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat tingkat korelasi antara lahan dan produktifitas lahan usahatani dan menganalisis tingkat korelasi antara produktifitas lahan dengan penerimaan, sebagai salah satu indikator dari kesejahteraan.
</description>
<pubDate>Tue, 01 Jan 2008 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/33049</guid>
<dc:date>2008-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Aplikasi Atapulgit Sistem Pendingin Gudang Penyimpanan Hasil Pertanian</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/33045</link>
<description>Aplikasi Atapulgit Sistem Pendingin Gudang Penyimpanan Hasil Pertanian
Kartika, Ika Nuryuni; Shofiyanto, M. Edy; Husien, Haekal Saddam; Adrianto, Ari; Hardayanti, Siti Sartika
Atapulgit merupakan senyawa yang memiliki fungsi sebagai absorber kelembaban dari lingkungan serta memiliki ukuran pori yang kecil. Salah satu pemanfaatan kemampuan tersebut adalah dikembangkannya alat pendingin hemat energi yang dapat dioperasikan tanpa energi listrik. Aplikasi penting perancangan sistem pendingin ini adalah pada gudang penyimpanan komoditas hasil pertanian. Alat pendingin tersebut akan dioperasikan baik pada malam hari maupun pada siang hari. Pada malam hari atapulgit akan menyerap uap air pada ruangan penyimpanan sehingga kelembaban di dalam alat akan turun. Dengan terjadinya penurunan kelembaban maka suhu di dalam ruangan juga akan turun sehingga ruangan menjadi lebih sejuk. Sementara pad siang hari, atapulgit yang telah jenuh oleh uap air yang diserap dari dalam ruangan pada malam hari akan diuapkan secara paksa di bawah titik didihnya. Hal ini membutuhkan kalor yang berasal dari dalam ruangan. Dengan demikian suhu di dalam alat akan menjadi lebih sejuk. Pengujian terhadap kinerja atapulgit menunjukkan bahwa dalam waktu 5 jam penurunan suhu yang dapat dicapai sebesar 3,I OC (280C-24,PC) dan kelembaban yang diturunkan sebesar 8% (75% - 67%). Berdasarkan kinerja tersebut, jumlah kalor yang dapat dipompakan ke luar ruangan pada fenomena malam hari oleh atapulgit adalah sebesar 1240 kal untuk volume ruang sebesar 2985 cm3. Sementara pada siang hari kalor yang dapat dipompakan oleh setiap gram atapulgit pada kondisi jenuh adalah sebesar 80 kal. Dalam perancangan gudang penyimpanan hasil pertanian prakiraan jumlah atapulgit untuk ruangan berukuran 4 m x 4 m x 3 meter adalah sebanyak 142.2 kg.
</description>
<pubDate>Tue, 01 Jan 2008 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/33045</guid>
<dc:date>2008-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
