<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Community Nutrition</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/32</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 11 Apr 2026 14:57:21 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-11T14:57:21Z</dc:date>
<item>
<title>Pengembangan Recovery Liquid Meal Berbahan Dasar Labu Kuning, Telur Puyuh, dan Madu Untuk Atlet Endurance</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171970</link>
<description>Pengembangan Recovery Liquid Meal Berbahan Dasar Labu Kuning, Telur Puyuh, dan Madu Untuk Atlet Endurance
Setiawan, Budi; M. Rizal M. D; Sulaeman, Ahmad
Pemenuhan gizi pasca latihan merupakan komponen penting dalam pemulihan atlet.&#13;
Pengembangan minuman pemulihan berbahan dasar labu kuning, telur puyuh, dan madu kaliandra&#13;
berpotensi menyediakan energi, protein, dan senyawa bioaktif yang mendukung proses tersebut.&#13;
Penelitian ini bertujuan memformulasikan minuman pemulihan dalam bentuk cair dan instan serta&#13;
mengevaluasi sifat proksimat, viskositas, warna, dan penerimaan sensori untuk menentukan&#13;
formulasi terbaik. Produk dikembangkan melalui variasi jenis dan konsentrasi protein. Analisis&#13;
proksimat dilakukan untuk menentukan kadar air, abu, protein, lemak, dan karbohidrat. Viskositas&#13;
diukur pada kondisi suhu terkontrol dan warna dianalisis melalui parameter L*, a*, dan b*. Uji hedonik dan mutu hedonik dilakukan untuk menilai penerimaan dan karakteristik sensori utama. Seluruh formulasi menunjukkan viskositas dalam rentang 5.000–10.000 cP. Warna cenderung stabil dengan nilai L* lebih tinggi pada varian B1 dibanding B2, serta tren penurunan nilai a* dan b* pada B2. Komposisi proksimat memperlihatkan pola kadar air, abu, protein, dan lemak yang sesuai dengan karakteristik masing- masing formula, sementara karbohidrat dihitung secara by difference berdasarkan data yang tersedia. Formulasi A1B2 memperoleh skor hedonik tertinggi dan mutu hedonik yang paling konsisten. Produk ini berpotensi dikembangkan lebih lanjut sebagai minuman fungsional untuk atlet.
</description>
<pubDate>Mon, 01 Dec 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171970</guid>
<dc:date>2025-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Laporan Akhir : Penyusunan Neraca Bahan Makanan Kota Bekasi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171918</link>
<description>Laporan Akhir : Penyusunan Neraca Bahan Makanan Kota Bekasi
Heryatno, Yayat; Setiawan, Budi; Mardatillah, Mutiah; Adinta, Afifah Hasya Putri; Nisya, Karin Zikra
Program peningkatan ketahanan pangan merupakan prioritas utama dalam pembangunan di Indonesia. Pencapaian ketahanan pangan nasional yang diawali dengan perwujudan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Negara atau wilayah dapat dikatakan mempunyai ketahanan pangan yang baik jika mampu menyelenggarakan pasokan pangan yang stabil dan masing-masing rumah tangga mampu memperoleh pangan sesuai kebutuhannya. Dengan demikian, terdapat suatu jaminan bagi seluruh penduduk untuk memperoleh pangan dan gizi yang cukup untuk menghasilkan generasi yang sehat dan cerdas.&#13;
Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan (Undang-undang Pangan No.18 Tahun 2012). Pemantapan ketahanan pangan merupakan salah satu fokus dari pembangunan nasional yang dilaksanakan di setiap daerah. Perwujudan ketahanan pangan dapat dicapai melalui empat pilar yaitu: (1) ketersediaan pangan; (2) cadangan pangan; (3) penganekaragaman konsumsi pangan; dan (4) pencegahan dan penanggulangan masalah pangan. Dengan demikian, ketersediaan pangan wilayah merupakan prasyarat terwujudnya ketahanan pangan penduduk.&#13;
Situasi ketersediaan pangan menunjukkan jumlah dan jenis pangan yang tersedia untuk penduduk yang akan mengalami variasi dari waktu ke waktu maupun antara satu tempat dengan tempat lain. Hal tersebut sangat tergantung pada kondisi lingkungan baik politik, iklim, jenis tanah, teknologi pertanian, cara penyimpanan pangan, sarana transportasi dan pemasaran. Neraca Bahan Makanan (NBM) merupakan salah satu instrumen data statistitik yang dapat memberikan informasi mengenai situasi ketahanan pangan di suatu wilayah, khususnya untuk aspek ketersediaan pangan, baik di tingkat nasional maupun provinsi dan kabupaten/kota. Melaui analisis situasi ketersediaan pangan secara kuantitatif dengan menggunakan NBM yang memberikan informasi mengenai data produksi, pengadaan serta semua perubahan yang terjadi di suatu wilayah dapat diketahui sejauh mana kondisi bahan makanan yang tersedia dan siap untuk dikonsumsi penduduk. ...
</description>
<pubDate>Mon, 01 Dec 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171918</guid>
<dc:date>2025-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Peran Susu untuk Pertumbuhan Balita Dalam Program MBG</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171828</link>
<description>Peran Susu untuk Pertumbuhan Balita Dalam Program MBG
Khomsan, Ali; Tanziha, Ikeu; Riyadi, Hadi; Hayati, Aslis Wirda; Picauly, Intje; Purwaningtyas, Desiani Rizki; Perdana, Fachruddin; Priyatnasari, Nabila Sukma; Adha, As Syaffa Amalia
Penurunan stunting masih belum memenuhi target pembangunan nasional. Saat ini prevalensi stunting pada balita adalah 19.8%. Stunting tidak hanya memengaruhi&#13;
pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan kognitif anak. Salah satu intervensi yang dijalankan pemerintah adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG).&#13;
Stunting tidak hanya berkaitan postur tubuh anak yang lebih pendek dibandingkan usia sebaya, tetapi juga berkaitan erat dengan keterlambatan perkembangan, termasuk kemampuan&#13;
kognitif yang rendah. Kondisi ini, apabila tidak segera ditangani, akan berdampak pada&#13;
menurunnya kualitas sumber daya manusia dan berpotensi menghambat pembangunan nasional dalam jangka panjang (Akseer et al. 2023).&#13;
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko stunting sangat kompleks. Salah&#13;
satu faktor risiko utama yang memengaruhi kejadian stunting adalah ketidakcukupan asupan gizi, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Kekurangan energi dan protein kronis dapat menghambat pertumbuhan linier anak sementara defisiensi mikronutrien seperti kalsium juga berkontribusi terhadap gangguan pertumbuhan tulang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rendahnya asupan protein hewani, antara lain susu berhubungan erat dengan tingginya prevalensi stunting (Ratnayani et al. 2024). Kondisi ini tidak terlepas dari pengaruh faktor sosial ekonomi keluarga seperti rendahnya akses terhadap pangan bergizi (Suryani et al. 2023).&#13;
Untuk menjawab permasalahan tersebut, Pemerintah Republik Indonesia melalui&#13;
Badan Gizi Nasional telah meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bertujuan meningkatkan asupan gizi kelompok sasaran. Salah satu kelompok sasaran penerima manfaat MBG adalah anak balita. Program MBG diharapkan dapat mendukung percepatan penurunan stunting di Indonesia. Bukti dari berbagai feeding programs di&#13;
negara lain memperlihatkan hasil positif. ...
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171828</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Strategi Ketahanan dan Keamanan Pangan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171670</link>
<description>Strategi Ketahanan dan Keamanan Pangan
Khomsan, Ali; Khuzaimah, Ummi; Wahyuni, Leny Eka Tyas; Aryatika, Karera; Fikrah ‘Arifah, Dzakiyyatul
Ketahanan pangan keluarga menyangkut tiga hal penting yaitu ketersediaan,&#13;
akses, dan konsumsi pangan. Aspek ketersediaan pangan tergantung pada&#13;
sumberdaya alam, fisik, dan manusia. Pengalaman ketika wabah Covid-19 merebak&#13;
ketersediaan pangan terkendala oleh terbatasnya pilihan pangan di pasaran,&#13;
berkurangnya tukang sayur keliling, dan banyaknya warung penjual makanan kaki&#13;
lima yang tutup.&#13;
Sementara itu, akses pangan hanya dapat terjadi apabila rumahtangga&#13;
mempunyai penghasilan yang cukup. Penghasilan masyarakat yang rendah,&#13;
pemutusan hubungan kerja (PHK), dan pengangguran tentu menyebabkan gangguan&#13;
akses pangan. Berbagai bantuan pemerintah semisal program sembako murah&#13;
ataupun Program Keluarga Harapan (PKH) untuk sementara dapat menjadi penolong&#13;
untuk mengatasi situasi kurang pangan yang mungkin terjadi di tingkat keluarga.&#13;
Selanjutnya, setelah akses pangan adalah konsumsi pangan yang ini akan sangat&#13;
menentukan apakah seluruh anggota keluarga nantinya bisa mencapai derajat&#13;
kesehatan dan gizi yang optimal. ...
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171670</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
