<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Biology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/31</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 11 Apr 2026 11:34:59 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-11T11:34:59Z</dc:date>
<image>
<title>UT - Biology</title>
<url>http://repository.ipb.ac.id:80/bitstream/id/b228e3ff-9ec2-4cf5-aa3f-507ccb3aaf46/</url>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/31</link>
</image>
<item>
<title>Serangga Penyerbuk Tanaman Ficus spp. (Moraceae) di Area Kampus IPB Dramaga</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172852</link>
<description>Serangga Penyerbuk Tanaman Ficus spp. (Moraceae) di Area Kampus IPB Dramaga
Rasyid, Muhammad Ibrahim
Penyerbukan tumbuhan fikus (Ficus spp.) sangat bergantung pada serangga penyerbuk. Serangga penyerbuk pada tumbuhan fikus adalah kelompok tawon Agaonidae (Hymenoptera: Agaonidae). Hubungan antara tumbuhan fikus dengan penyerbuknya merupakan bentuk ko-evolusi yang telah terjadi jutaan tahun lalu. Penelitian ini bertujuan menganalisis kekayaan jenis serangga penyerbuk pada tumbuhan fikus di Kampus IPB Dramaga. Pengambilan sampel buah Ficus dilakukan secara acak dari pohon Ficus hispida, F. septica, dan F. racemosa. Buah Ficus spp. dipelihara dalam botol pada suhu ruang dan diamati hingga serangga keluar. Serangga yang keluar diidentifikasi berdasarkan karakter morfologi menggunakan mikroskop stereo. Hasil penelitian menunjukkan keberadaan serangga penyerbuk Ceratosolen solmsi (47,11%) pada F. hispida dan Ceratosolen sp. (33,44%) pada F. septica. Serangga non-penyerbuk Philotrypesis sp. (famili Pteromalidae, subfamili Sycoryctinae) ditemukan pada F. hispida (13,37%) dan F. septica (6,08%), serta berperan sebagai parasitoid. Keberagaman jenis dan peran serangga dalam buah fikus menunjukkan dinamika ekologi kompleks yang mencakup mutualisme hingga parasitisme.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172852</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Identifikasi  Tumbuhan Berpotensi sebagai Anti Inflamasi dengan Pendekatan In Silico serta  Validasi Eksperimental</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172569</link>
<description>Identifikasi  Tumbuhan Berpotensi sebagai Anti Inflamasi dengan Pendekatan In Silico serta  Validasi Eksperimental
Renhar, Rafli
Inflamasi adalah respon tubuh terhadap alergen yang masuk ke dalam tubuh. Penggunaan obat-obatan antiinflamasi secara berlebihan dapat menyebabkan efek samping merugikan. Investigasi pengobatan inflamasi alternatif dengan tumbuhan obat telah banyak dilakukan, terutama menggunakan sumber daya hayati lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tumbuhan asal Pulau Belitung dengan kandungan metabolit sekunder yang paling menjanjikan untuk mengatasi inflamasi. Seleksi in silico pada enam tumbuhan potensial yang sering digunakan oleh masyarakat Belitung Timur. Pecah tujuh atau Ipomoea cairica menjadi tumbuhan paling potensial. Uji eksperimental secara in vitro pada ekstrak kasar etanol I. cairica menunjukkan aktivitas antioksidan dengan IC50 sebesar 325,7 ppm. Ekstrak tersebut mempertahankan stabilitas membran sel eritrosit relatif lebih tinggi dibandingkan dengan natrium diklofenak dalam setiap seri perlakuan uji. Akan tetapi, ekstrak kasar etanol I. cairica tergolong sangat toksik (LC50 7,2 ppm), sehingga penggunaan ekstrak kasar I. cairica sebagai agen antiinflamasi potensial perlu kehati-hatian.; Inflammation is a body’s response to infiltrating allergen. An excessive use of anti-inflammation medicine may triggers adverse side-effects. The investigation of alternative medication utilizing medicinal plants had been performed many times, particularly by utilizing local biological resources. The aim of this study is to determine a plant from Belitung Island with the most promising secondary metabolites content to alleviate inflammation. In silico selection was conducted to six species of potential plant that mostly utilized by indigenous people of East Belitung. Pecah tujuh or Ipomoea cairica come as the most potent plant. In vitro experimental tests showed antioxidant activity of  I. cairica crude ethanol extract represented by the IC50 of 325,7 ppm. The extract maintains the erythrocyte membrane’s stability relatively higher compared to sodium diclofenac in every test’s series. Nevertheless, crude ethanol extract of I. cairica  is classified as ‘highly toxic’ (LC50 of 7,2 ppm), so the utilization of I. cairica crude extract as anti-inflammation agent must be handled with care.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172569</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Isolasi Bacillus Spp. dari Sampel Tanah</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172245</link>
<description>Isolasi Bacillus Spp. dari Sampel Tanah
Tsani, Bariq Fajar
Bacillus merupakan salah satu genus bakteri yang berasal dari famili Bacillaceae. Bacillus spp. dikenal karena kemampuannya untuk bertahan terhadap kondisi ekstrem seperti suhu atau asam melalui pembentukan endospora dan memiliki kelimpahan yang tinggi di tanah. Tingginya potensi Bacillus spp. melalui kemampuan endosporanya dalam bertahan terhadap kondisi ekstrem dan kelimpahan Bacillus spp. yang luas di tanah, menarik perhatian peneliti untuk mengisolasi dan menguji isolat Bacillus spp. yang berasal dari sampel tanah. Hasil penelitian menunjukkan koloni isolat yang diambil memiliki karakter bentuk sel mikroskopik batang, hasil pewarnaan Gram yaitu Gram positif, dan hasil pewarnaan endospora yang positif menghasilkan lapisan endospora. Uji hemolitik agar darah menunjukkan hasil yang beragam, namun hanya isolat BB 4.2 yang tidak menunjukkan aktvitas hemolitik. Oleh karena itu, isolat BB 4.2 menunjukkan sifat non-patogenik. Berdasarkan hasil penelitian, isolat BB 4.2 menunjukkan potensi terbesar sebagai isolat yang dapat diteliti lebih lanjut dibandingkan isolat lainnya dalam penelitian.; Bacillus is a genus of bacteria belonging to the family Bacillaceae. Bacillus spp. are well known for their ability to survive extreme conditions such as high temperatures or acidic environments through the formation of endospores, as well as for their high abundance in soil. Due to the strong potential of Bacillus spp. stemming from their endospore-forming ability which enables survival under extreme conditions and their widespread abundance in soil, researcher have shown great interest in isolating and characterizing Bacillus spp. isolates obtained from soil samples. The results of the study revealed that the colonies of the isolated strains exhibited the following microscopic characteristics: rod-shaped (bacillary) cells, Gram-positive staining, and positive endospore staining showing a distinct endospore layer. Hemolytic activity on blood agar showed varied results among the isolates; however, only isolate BB 4.2 displayed no hemolytic activity. Therefore, isolate BB 4.2 is considered non-pathogenic. Based on the research findings, isolate BB 4.2 demonstrates the greatest potential as a candidate for further investigation and development compared to other isolates that being used in the research.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172245</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Karakterisasi Ekson dan Intron Gen Defensin 1 pada Apis nigrocincta, A. andreniformis, dan A. mellifera ligustica</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172071</link>
<description>Karakterisasi Ekson dan Intron Gen Defensin 1 pada Apis nigrocincta, A. andreniformis, dan A. mellifera ligustica
Nagari, Sofia Faradina Puspa
Indonesia memiliki keanekaragaman lebah madu sebanyak enam dari sembilan spesies lebah madu, termasuk Apis nigrocincta dan A. andreniformis. Selain itu, A. mellifera ligustica telah diperkenalkan ke Indonesia. Apis mellifera memiliki gen defensin 1 yang menyandikan peptida antibakteri. Karakterisasi gen defensin 1 pada A. nigrocincta dan A. andreniformis belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengarakterisasi gen defensin 1 pada A. nigrocincta dan A. andreniformis, mengonfirmasi sekuens A. m. ligustica, menganalisis hubungan molekuler antar-lebah, serta mengungkap ikatan disulfida sistein pada protein defensin 1. Metode meliputi analisis nukleotida, konstruksi pohon filogenetik, dan bioinformatika pada motif asam amino putatif. Diperoleh sekuens parsial gen defensin 1 pada wilayah ekson 2 dan intron 2. Gen defensin 1 pada A. nigrocincta dan A. andreniformis berturut-turut memiliki 24 dan 82 variasi nukleotida dibandingkan dengan A. m. ligustica. Jarak genetik dan hubungan filogenetik menunjukkan bahwa A. nigrocincta berkerabat dekat dengan A. cerana, lebah madu cavity nesting, sedangkan A. andreniformis membentuk klade terpisah sebagai lebah madu open nesting. Ditemukan tiga ikatan sistein pada protein defensin 1.; Indonesia is home to six out of nine honeybee species, including Apis nigrocincta and A. andreniformis. Besides, A. mellifera ligustica was introduced to Indonesia. Apis mellifera possesses defensin 1 gene which encode peptide with antibacterial properties. However, characterization of the defensin 1 gene in A. nigrocincta and A. andreniformis has not been done. Therefore, this study aimed to characterize the defensin 1 gene in A. nigrocincta, A. andreniformis, to confirm the A. m. ligustica, molecular relationship among bees, and to reveal the cysteine bonds in defensin 1. Methods included nucleotide analysis, phylogenetic construction, and bioinformatics on the putative amino acid motifs. We obtained the partial defensin 1 gene in the region of exon 2 and intron 2.  The defensin 1 gene of A. nigrocincta and A. andreniformis showed a total of 24 and 82 nucleotide variations compared to A. m. ligustica in exon 2 and intron 2, respectively. Genetic distance and phylogenetic relationship revealed that A. nigrocincta was closely related to A. cerana, a cavity-nesting honey bee, while A. andreniformis clustered separately as the open nesting honey bee. We also found three conserved cysteine bonds among all three studied species in the protein motifs of defensin 1.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172071</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
