<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Bulletin Teknologi Hasil Perikanan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/29152</link>
<description/>
<pubDate>Thu, 07 May 2026 14:53:22 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-05-07T14:53:22Z</dc:date>
<item>
<title>Penapisan Inhibitor Protease Yang Dihasilkan Oleh Sponge Asal Kepulauan Seribu</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/53049</link>
<description>Penapisan Inhibitor Protease Yang Dihasilkan Oleh Sponge Asal Kepulauan Seribu
Nurhayati, Tati; Suptijah, Pipih; Suhartono, Maggy T.; Febrian, Irman
Several medicines showing protease inhibitor mechanism are widely available in the markets. Among marine organisms, sponge is the big producer of bioactive compound, include protease inhibitor. The purpose of this research was to screen of protease inhibitor produced by sponge. Screening was be conducted using agar diffusion methods on ten of sponge which be extracted with methanol and distilled water. As test bacteria were used three species of pathogenic bacteria that is Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, and Staphylococcus aureus. The result of research showing that sponge which be extracted using methanol have low protease inhibitory activity (&lt; 30%), while that which be extracted using distilled water have high protease inhibitory, that is extract of Jaspis stellifera and extract of Plakortis nigra (&gt; 50%). The extract of Jaspis stellifera was inhibited of protease from Escherichia.coli and Staphylococcus aureus by minimum inhibitory concentration (MIC) 0.08%, while that extract of Plakortis nigra was inhibited protease from S. aureus by MIC 0.12%. Ethylenediamine tetraacetic acid (EDTA) was inhibited S. aureus and 'E. coli by MIC 0,16%. Based on the data, can be concluded that both the extract of sponge were potential as protease inhibitor.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2004 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/53049</guid>
<dc:date>2004-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pembuatan Tepung Puding Instan Karaginan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/53046</link>
<description>Pembuatan Tepung Puding Instan Karaginan
Nurjanah; Suptijah, Pipih; Rani, Lila
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan bagian telur ayam (utuh, putih, dan kuning) terhadap mutu puding instan karaginan dan menentukan jumlah air yang harus ditambahkan untuk memperoleh puding instan karaginan terbaik. Penelitian ini terdiri dari 3 tahap, tahap I adalah pembuatan tepung karaginan, tahap II penentuan bagian telur ayam (utuh, putih dan kuning) masing-masing 15 %. Tahap III adalah penentuan perbandingan tepung puding instan dengan air yang harus ditambahkan (1:4, 1:5, 1:6, dan 1:7). Tepung puding instan terpilih adalah perlakuan kuning telur dengan penambahan air 1:4. Karakteristik dari produk terpilih adalah dengan nilai sensori warna 4,87 (putih susu), tekstur 4,07 (ukuran partikel kurang seragam, agak halus), bau 3,83 (bau spesifik karaginan dan sedikit bau telur), penerimaan 4 (suka), rendemen 25,28 %, kekuatan gel 171,50 g/cm2, suhu pembentukan gel 34,50 °C, suhu pelelehan gel 66,00 °C dan derajat putih 77,30 %. Nilai proksimat dari puding instan adalah sebagai berikut: kadar protein 0,50 %; air 78,52 %; abu 0,45 %; lemak 0,33 %; karbohidrat 20,20 % dan serat pangan 5,23 %.
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jan 2007 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/53046</guid>
<dc:date>2007-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Penggunaan Kitosan Sebagai Pembentuk Gel Pada Bakso Ikan Kurisi (Nemipterus nematophorus)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/53045</link>
<description>Penggunaan Kitosan Sebagai Pembentuk Gel Pada Bakso Ikan Kurisi (Nemipterus nematophorus)
Nurilmala, Mab; Suptijah, Pipih; Nurfianti, Dini
Konsumsi daging ikan Indonesia tahun 2005 masih rendah sebesar 26 kg/kapita/tahun, karena masyarakat kurang menggemari ikan dalam bentuk penyajian utuh sehingga perlu adanya diversifikasi produk seperti bakso ikan. Bakso merupakan produk makanan yang banyak digemari masyarakat, tetapi adanya isu penggunaan bahan tambahan berbahaya menurunkan minat konsumen. Untuk itu penggunaan bahan alami seperti kitosan sangat diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kitosan yang dibuat serta memanfaatkannya sebagai pembentuk gel bakso ikan kurisi (Nemipterus nematophorus). Pada penelitian pendahuluan dibuat kitosan yang memenuhi standar. Konsentrasi kitosan yang digunakan ke dalam adonan dalam penelitian utama adalah 0% (tanpa kitosan); 0,1 %(v/b); 0,2 %(v/b); 0,3 %(v/b); 0,4 %(v/b); 0,5 %(v/b) yang diperoleh dari larutan kitosan 1,5 %(b/v) dan STPP 0,15 %(b/b) untuk pembanding. Konsentrasi kitosan terpilih untuk pengadonan adalah 0,2 %(v/b), bila dibandingkan dengan sodium tripoliposfat, kitosan lebih unggul dalam membentuk gel maupun organoleptik produk bakso ikan. Kitosan berpengaruh nyata terhadap organoleptik (penampakan dan tekstur), fisik (uji lipat uji gigit dan kekuatan gel.
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jan 2007 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/53045</guid>
<dc:date>2007-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Penggunaan Bentonit Dalam Pembuatan Sabun Dari Limbah Netralisasi Minyak Ikan Lemuru (Sardinella sp)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/53043</link>
<description>Penggunaan Bentonit Dalam Pembuatan Sabun Dari Limbah Netralisasi Minyak Ikan Lemuru (Sardinella sp)
Ibrahim, Bustami; Ibrahim; Hermanto, Slamet
Proses pemurnian minyak ikan lemuru menghasilkan limbah yang memiliki warna dan bau yang merusak lingkungan. Limbah ini merupakan hasil penyabunan dari asam lemak bebas dari minyak ikaa Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan bentonit sebagai adsorben dalam menghilangkan bau dan warna dari limbah netralisasi minyak ikan lemuru (Sardinella sp) agar sabun yang dihasilkan dapat bermanfaat. Penelitian pendahuluan yang lelah dilakukan menunjukkan bahwa pengolahan dengan perbandingan antara limbah minyak ikan lemuru, NaOH dan NaCl 15 % (b/v) yaitu 1:3:0,1 adalah yang terbaik berdasarkan uji kesukaan terhadap warna sabun minyak ikan lemuru, sehingga dijadikan kontrol pada penelitian utama Hasil analisis kimia produk sabun pada penelitian utama dengan konsentrasi bentonit yang berbeda-beda menunjukkan bahwa kadar air sabun minyak ikan lemuru berkisar antara 58,32¬64,54 %. Nilai pH sabun berkisar antara 10,96-12,01. Kadar asam lemak bebas sabun minyak ikan lemuru tidak terdeteksi dan kadar alkali bebas berkisar antara 0,10-0,15 %. Kadar total nitrogen pada sabun minyak ikan lemuru berkisar antara 0,45-0,56 %. Kadar amonia sabun minyak ikan lemuru untuk semua perlakuan tidak terdeteksi. Uji hedonik menunjukkan bahwa sabun minyak ikan lemuru dengan penambahan bentonit yang berbeda tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap kesukaan panelis terhadap warna, bau maupun tekstur.
</description>
<pubDate>Sat, 01 Jan 2005 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/53043</guid>
<dc:date>2005-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
