<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Doctoral Final Assignments</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/27</link>
<description>Dissertations of IPB's Ph.D. student</description>
<pubDate>Wed, 16 Sep 2026 05:58:27 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-09-16T05:58:27Z</dc:date>
<item>
<title>Studi Pengaruh Genangan Air pada Morfofisiologi, Pertumbuhan, dan Produksi Tanaman Kelapa Sawit serta Deteksinya melalui Analisis Spektral</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179940</link>
<description>Studi Pengaruh Genangan Air pada Morfofisiologi, Pertumbuhan, dan Produksi Tanaman Kelapa Sawit serta Deteksinya melalui Analisis Spektral
Sukmawan, Yan
Tanaman kelapa sawit sering kali menghadapi cekaman abiotik yang berkaitan dengan ketersediaan air, baik defisit maupun kelebihan air. Perubahan iklim meningkatkan risiko cekaman air melalui perubahan pola curah hujan dan meningkatnya kejadian hujan ekstrem yang pada areal rendahan dengan drainase buruk berpotensi menyebabkan banjir dan genangan air.  Cekaman genangan air menginduksi kondisi hipoksia pada zona perakaran yang mengganggu respirasi akar, penyerapan hara, dan keseimbangan air tanaman, yang pada akhirnya menekan pertumbuhan dan produktivitas kelapa sawit. Orientasi penelitian terdahulu masih didominasi oleh evaluasi pengaruh genangan air pada fase bibit muda dan pada skala rumah kaca atau pot percobaan serta dengan durasi yang relatif pendek. Fokus tersebut menyisakan kesenjangan dan keterbatasan informasi mengenai pengaruh genangan air jangka panjang, deteksi cekaman genangan air melalui analisis spektral, dan pengembangan model kerentanan berbasis spasial-temporal. Tiga seri percobaan telah dilakukan di Kebun Percobaan Cikabayan, Institut Pertanian Bogor mulai dari Juli 2024 sampai dengan Agustus 2025 untuk menginvestigasi pengaruh genangan air pada tanaman kelapa sawit. Percobaan pertama bertujuan untuk mempelajari pengaruh cekaman genangan air jangka panjang pada morfofisiologi, anatomi, dan alokasi biomassa tanaman kelapa sawit. Cekaman genangan parah (tinggi muka air 0 cm) secara terus-menerus terbukti menekan performa morfofisologis dengan penurunan tinggi tanaman (21,7%), jumlah daun (12,1%), diameter batang (15,6%), panjang anak daun (16,7%), laju fotosintesis (74,8%), laju transpirasi (56,21%), konduktansi stomata (64,1%), dan indeks kehijauan daun (14,1%). Tanaman mengembangkan mekanisme adaptasi anatomis berupa peningkatan perkembangan aerenkima di jaringan akar hingga 17,43% pada zona akar bawah, serta pembentukan pneumatofor yang dilengkapi lentisel sebagai jalur aerasi internal pada kondisi cekaman kritis. Genangan air juga menurunkan bobot brangkasan kering sebesar 36,1%, dengan korelasi positif yang kuat antara bobot brangkasan kering dan laju fotosintesis (r = 0,76). Analisis komponen utama (PCA) memperjelas pola diferensiasi respons, di mana genangan parah membentuk klaster dengan ciri adaptasi anatomi yang kuat namun fisiologi tertekan, genangan sedang menempati posisi transisional, sementara genangan dengan tinggi  muka air lebih dalam dan kontrol (TMA -43 cm) mengelompok dengan karakter morfologi dan fisiologi yang lebih baik. Percobaan kedua bertujuan untuk mendeteksi cekaman genangan air pada tanaman kelapa sawit melalui pendekatan integratif yang menggabungkan pengukuran reflektansi spektral dengan indikator fisiologis dan biokimia. Hasil analisis pola spectral signature menunjukkan bahwa peningkatan level genangan menyebabkan perubahan reflektansi yang jelas pada beberapa wilayah spektral. Pada wilayah cahaya tampak, terutama pita biru dan merah, reflektansi cenderung meningkat seiring meningkatnya level genangan yang mengindikasikan penurunan absorpsi cahaya oleh pigmen fotosintetik akibat degradasi klorofil. Pada wilayah red edge, kemiringan kurva menjadi lebih landai yang menunjukkan melemahnya transisi antara absorpsi merah dan reflektansi NIR akibat penurunan klorofil dan gangguan fisiologis daun. Sementara itu, reflektansi pada wilayah NIR mengalami penurunan yang nyata pada perlakuan genangan berat yang mengindikasikan adanya perubahan struktur internal daun dan kondisi jaringan mesofil. Temuan ini didukung oleh analisis korelasi pasangan pita spektral antara kondisi kontrol dan tergenang penuh yang menunjukkan bahwa wilayah NIR memiliki korelasi positif yang relatif homogen, sedangkan zona transisi red edge memperlihatkan perubahan pola korelasi yang lebih kontras sehingga menjadi wilayah spektral yang paling responsif terhadap perubahan fisiologis tanaman akibat genangan. Dari pengujian sensitivitas indeks vegetasi, ditemukan bahwa TCARI, ARI1, dan R800*R550/R680 secara konsisten mampu membedakan tingkat keparahan genangan, dengan korelasi yang kuat terhadap karakter fisiologis (laju fotosintesis dan laju transpirasi) dan biokimia (kandungan MDA dan aktivitas CAT), melampaui keterbatasan indeks konvensional seperti NDVI. Percobaan ketiga bertujuan untuk mengestimasi kelembapan tanah, kadar air daun, dan kehijauan daun menggunakan data multispektral berbasis pesawat udara nirawak dan pembelajaran mesin serta mengklasifikasikan kerentanan tanaman kelapa sawit terhadap kelembapan tanah berlebih. Analisis temporal menunjukkan variabilitas kelembapan tanah dan kadar air daun yang berkaitan erat dengan dinamika curah hujan, sementara kehijauan daun relatif konstan, yang mengindikasikan bahwa kandungan klorofil tidak responsif terhadap fluktuasi curah hujan dalam jangka pendek. Estimasi variabel biofisik menggunakan algoritma pembelajaran mesin menunjukkan bahwa PLSR memiliki performa paling stabil untuk estimasi kelembapan tanah dan kadar air daun (R² tertinggi 0,613 dan 0,492 pada April 2025), sementara Random Forest unggul dalam estimasi kehijauan daun (R² = 0,827 pada Januari 2025). Kehijauan daun berkorelasi positif kuat dengan indeks berbasis red edge seperti NDRE, LCI, dan CIred-edge, memperkuat keunggulan spektral red edge dalam mendeteksi perubahan kandungan klorofil, kondisi fisiologis tanaman, dan struktur internal daun. Integrasi antara pengamatan morfofisiologi, respons spektral, dan pendekatan spasial berbasis penginderaan jauh menunjukkan bahwa pengaruh genangan air pada kelapa sawit perlu dipahami sebagai respons yang saling terhubung dari tingkat tanaman hingga lanskap kebun. Perubahan fisiologis dan biokimia akibat genangan yang tercermin melalui perubahan karakteristik spektral berpotensi digunakan sebagai nondestruktif untuk memantau respons tanaman terhadap cekaman genangan. Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya pengembangan pendekatan interdisipliner yang menghubungkan pengetahuan agronomi, fisiologi tanaman, penginderaan jauh, dan pembelajaran mesin untuk mendukung pengembangan sistem monitoring kondisi tanaman serta pemetaan kerentanan terhadap kelembapan tanah berlebih di perkebunan kelapa sawit.; Oil palm frequently experiences abiotic stresses related to water availability, including both water deficit and water excess. Climate change is expected to increase the risk of water-related stress through altered precipitation patterns and more frequent extreme precipitation events, particularly in low-lying areas with poor drainage, thereby increasing the likelihood of flooding and waterlogging. Waterlogging induces hypoxic conditions in the root zone, disrupting root respiration, nutrient uptake, and plant water balance, ultimately suppressing oil palm growth and productivity. Previous studies have primarily focused on evaluating the effects of waterlogging on young seedlings under greenhouse or pot conditions over relatively short experimental durations. This focus has left gaps and limited information regarding the effects of long-term waterlogging, the detection of waterlogging stress using spectral analysis, and the development of spatiotemporal susceptibility models. Three experimental series were conducted at the Cikabayan Teaching Farm, IPB University, from July 2024 to August 2025 to investigate the effects of waterlogging on oil palm. The first experiment investigated the effects of long-term waterlogging stress on the morphophysiology, anatomy, and biomass allocation of oil palm. Continuous severe waterlogging stress (0 cm water table) suppressed morphophysiological performance, reducing plant height (21.7%), leaf number (12.1%), stem diameter (15.6%), leaflet length (16.7%), photosynthesis rate (74.8%), transpiration rate (56.2%), stomatal conductance (64.1%), and leaf greenness index (14.1%). Oil palm developed anatomical adaptations, characterized by increased aerenchyma development up to 17.43% in the lower root zone and the formation of pneumatophores with lenticels as internal aeration pathways under critical stress conditions. Waterlogging also reduced total dry weight by 36.1%, with a strong positive correlation between total dry weight and photosynthesis rate (r = 0.76). Principal component analysis (PCA) further differentiated treatment responses, with severe waterlogging forming a distinct cluster characterized by pronounced anatomical adaptation but impaired physiological performance. Moderate waterlogging occupied a transitional position, whereas treatments with a deeper water table and the control clustered together, exhibiting superior morphological and physiological characteristics. The second experiment aims to detect waterlogging stress in oil palm using an integrative approach that combines spectral reflectance measurements with physiological and biochemical indicators. Spectral signature analysis revealed distinct changes in canopy reflectance across several spectral regions with increasing waterlogging level, indicating reduced light absorption by photosythetic pigments due to chlorophyll degradation. In the red edge region, the spectral slope is becoming progressively flatter, reflecting a weaker transition between red absorption and NIR reflectance due to reduced chlorophyll levels and physiological disturbances. Meanwhile, NIR reflectance decreased markedly under severe waterlogging, indicating alterations in the internal structure of leaves and mesophyll tissue. These findings were further supported by spectral band-pair correlation analysis between the control and fully waterlogged conditions. The NIR region showed consistently high positive correlations, whereas the red edge transition zone showed a more contrasting correlation pattern than other regions. This pattern indicates that the red edge region is the spectral portion most responsive to plant physiological alterations induced by waterlogging. Sensitivity analysis of vegetation indices demonstrated that TCARI, ARI1, and R800*R550/R680 consistently discriminated waterlogging severity and exhibited strong correlations with physiological traits (photosynthesis and transpiration rate) and biochemical traits (MDA content and CAT activity), outperforming conventional indices such as NDVI. The third experiment aimed to estimate soil moisture, leaf water content, and leaf greenness using UAV-based multispectral imagery and machine learning algorithms, and to classify oil palm susceptibility to excess soil moisture. Temporal analysis showed that soil moisture and leaf water content varied closely with precipitation dynamics, whereas leaf greenness remained relatively constant, indicating that chlorophyll content was less responsive to short-term precipitation fluctuations. Among the evaluated machine-learning algorithms, partial least squares regression provided the most stable performance for estimating soil moisture and leaf water content (highest R² of 0.613 and 0.492, respectively, in April 2025), whereas Random Forest achieved the highest accuracy for estimating leaf greenness (R² = 0.827 in January 2025). Leaf greenness was strongly positively correlated with red edge-based indices such as NDRE, LCI, and CIred-edge, confirming the superior sensitivity of red edge spectral region for detecting changes in chlorophyll content, plant physiological status, and leaf internal structure. The integration of morphophysiological observations, spectral responses, and remote-sensing-based spatial approaches indicates that the effects of waterlogging on oil palm should be understood as interconnected responses spanning from the individual plant to the plantation landscape scale. Physiological and biochemical changes induced by waterlogging were reflected in alterations of spectral characteristics, enabling rapid, large-scale, and nondestructive monitoring of plant condition. The findings of this study highlight the importance of developing an interdisciplinary approach that integrates agronomy, plant physiology, remote sensing, and machine learning to support the development of plant condition monitoring systems and the spatial assessment of excess soil moisture susceptibility in oil palm plantations.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179940</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Strategi Pengembangan Industri Bioetanol Sagu dengan Penerapan Prinsip Biorefinery di Kabupaten Kepulauan Meranti</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179917</link>
<description>Strategi Pengembangan Industri Bioetanol Sagu dengan Penerapan Prinsip Biorefinery di Kabupaten Kepulauan Meranti
Kartika, Nadia Dwi
Ketergantungan Indonesia pada bahan bakar fosil mendorong pemerintah menetapkan target penyediaan bioetanol 1,2 juta kiloliter per tahun melalui Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023, guna mendukung mandatori E5 dan rencana E10 pada 2030. Namun, kapasitas produksi fuel-grade nasional hanya mencakup kurang dari 6% dari kebutuhan nasional. Sagu (Metroxylon sagu Rottb.) di Kabupaten Kepulauan Meranti berpotensi mendukung pengembangan bioetanol karena memiliki produktivitas pati yang tinggi dan dapat tumbuh di lahan gambut melalui sistem paludikultur. Meskipun memiliki potensi besar, pengembangan industrinya memerlukan strategi yang mengintegrasikan aspek teknis, lingkungan, ekonomi, dan kelembagaan. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi pengembangan industri bioetanol berbasis sagu dengan penerapan prinsip biorefinery melalui enam analisis: (1) potensi bahan baku dan ketersediaan lahan berbasis GIS; (2) neraca massa dan energi sistem biorefinery skala industri 50 kL/hari; (3) penilaian dampak lingkungan dengan Life Cycle Assessment (LCA) gate-to-gate tiga skenario energi; (4) analisis kelayakan tekno-ekonomi berbasis Discounted Cash Flow; (5) pemetaan struktur pemangku kepentingan dengan Interpretative Structural Modelling (ISM); dan (6) perumusan strategi SWOT-TOWS-QSPM. Hasil analisis spasial mengidentifikasi 130.170 ha lahan sesuai sagu, terdiri atas 55.433 ha zona pangan dan 74.737 ha zona energi, dengan potensi bioetanol sebesar 271–370 juta liter/tahun. Tren luas panen dan produksi pati 2014–2024 menunjukkan pertumbuhan yang konsisten (231,49 ha/tahun; R²=0,917), dengan produktivitas meningkat dari 5,19 menjadi 6,59 ton/ha. Neraca massa-energi menunjukkan bahwa sistem biorefinery terintegrasi yang memanfaatkan co-product padat sagu dan biogas stillage mampu memenuhi kebutuhan energi pabrik secara internal. Hasil LCA menunjukkan bahwa skenario biorefinery terintegrasi (S3-BES) menurunkan Global Warming Potential sebesar 89% (dari 1,74 menjadi 0,19 kg CO2-eq/L) dan deplesi fosil sebesar 91%, yang divalidasi melalui simulasi Monte Carlo dengan 10.000 iterasi. Analisis tekno-ekonomi menunjukkan hanya S3-BES yang layak dengan NPV USD 6,50 juta, IRR 15,11%, payback period 5,8 tahun, dan Minimum Selling Price USD 0,52/L. Analisis ISM menempatkan Pemerintah Pusat sebagai aktor penggerak utama dalam pengembangan industri bioetanol sagu dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebagai pembuat kebijakan, sedangkan integrasi SWOT–TOWS–QSPM menghasilkan 16 strategi prioritas yang berfokus pada pengembangan biorefinery, penguatan kelembagaan dan pembiayaan hijau, pengelolaan paludikultur, serta diversifikasi produk. Penelitian ini menghasilkan kerangka analisis terintegrasi yang menghubungkan analisis spasial, neraca massa dan energi, LCA, TEA, ISM, serta SWOT–TOWSQSPM dalam penyusunan strategi pengembangan industri bioetanol berbasis sagu di lahan gambut tropis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip biorefinery menjadi dasar untuk mencapai kelayakan teknis, lingkungan, dan ekonomi, sedangkan keberhasilan implementasinya bergantung pada penguatan kelembagaan, dukungan pembiayaan, serta kebijakan yang terintegrasi.; Indonesia's dependence on fossil fuels has prompted the government to establish a national bioethanol supply target of 1.2 million kiloliters per year through Presidential Regulation No. 40 of 2023 to support the E5 mandate and the planned E10 implementation by 2030. However, national fuel-grade bioethanol production capacity currently accounts for less than 6% of national demand. Sago (Metroxylon sagu Rottb.) in the Meranti Islands Regency has the potential to support bioethanol development due to its high starch productivity and its ability to grow on peatlands under a paludiculture system. Despite this potential, industrial development requires a strategy that integrates technical, environmental, economic, and institutional aspects. This study aimed to formulate a strategy for developing a sago-based bioethanol industry through the application of biorefinery principles using six analyses: (1) GIS-based assessment of feedstock potential and land availability; (2) mass and energy balance of a 50 kL/day industrial-scale biorefinery system; (3) environmental impact assessment using gate-to-gate Life Cycle Assessment (LCA) under three energy scenarios; (4) techno-economic feasibility analysis based on Discounted Cash Flow; (5) stakeholder structure mapping using Interpretative Structural Modelling (ISM); and (6) strategy formulation using SWOT-TOWS-QSPM. The spatial analysis identified 130,170 ha of land suitable for sago cultivation, comprising 55,433 ha of food-production zones and 74,737 ha of energy zones, with a bioethanol production potential of 271–370 million liters/year. Trends in harvested area and starch production from 2014 to 2024 showed consistent growth (231.49 ha/year; R² = 0.917), with productivity increasing from 5.19 to 6.59 tons/ha. The mass and energy balance demonstrated that an integrated biorefinery system utilizing solid sago co-products and stillage-derived biogas could meet the plant's energy requirements internally. The LCA results showed that the integrated biorefinery scenario (S3-BES) reduced Global Warming Potential by 89% (from 1.74 to 0.19 kg CO2-eq/L) and fossil depletion by 91%, as validated through a Monte Carlo simulation with 10,000 iterations. The techno-economic analysis indicated that only the S3-BES scenario was economically feasible, with an NPV of USD 6.50 million, an IRR of 15.11%, a payback period of 5.8 years, and a Minimum Selling Price of USD 0.52/L. The ISM analysis identified the Central Government as the primary driver of the development of the sago-based bioethanol industry, with the Ministry of Energy and Mineral Resources serving as the key policymaking institution. Meanwhile, the integration of SWOT-TOWS-QSPM generated 16 priority strategies focusing on biorefinery development, institutional strengthening, green financing, paludiculture management, and product diversification. This study developed an integrated analytical framework that links spatial analysis, mass and energy balance, LCA, TEA, ISM, and SWOT-TOWS-QSPM to formulate a development strategy for a sago-based bioethanol industry in tropical peatlands. The findings demonstrate that applying biorefinery principles provides a foundation for achieving technical, environmental, and economic feasibility, while successful implementation depends on institutional strengthening, financing support, and integrated policy measures.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179917</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Bioaktivitas Hidrolisat Protein Produk Samping Ikan Tenggiri Hasil Fermentasi Menggunakan Pediococcus pentosaceus IL13</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179864</link>
<description>Bioaktivitas Hidrolisat Protein Produk Samping Ikan Tenggiri Hasil Fermentasi Menggunakan Pediococcus pentosaceus IL13
Ariandi
Produksi dan pengolahan ikan menghasilkan produk samping yang belum dimanfaatkan secara optimal. Produk samping ikan tenggiri (Scomberomorus commerson), khususnya daging sisa dan kulit, kaya protein dan kolagen sehingga berpotensi sebagai sumber peptida bioaktif. Penelitian ini bertujuan mengkaji bioaktivitas hidrolisat protein produk samping ikan tenggiri hasil fermentasi Pediococcus pentosaceus IL13 melalui pendekatan in vitro, in silico, peptidomics, dan metabolomics. Produk samping daging, kulit, dan campuran daging-kulit (1:1) difermentasi menggunakan P. pentosaceus IL13, kemudian hidrolisat kasar difraksinasi secara ultrafiltrasi menjadi fraksi &lt;30, &lt;10, dan &lt;3 kDa. Identifikasi peptida dilakukan menggunakan LC-HRMS/MS setelah preparasi dengan digesti tripsin, sedangkan prediksi bioaktivitas, toksisitas, alergenisitas, serta aktivitas antidiabetes dan antimikroba dilakukan secara in silico. Untargeted metabolomics berbasis LC-HRMS digunakan untuk mengidentifikasi metabolit yang berpotensi berkontribusi terhadap bioaktivitas. Hasil menunjukkan bahwa fermentasi meningkatkan derajat hidrolisis dan menghasilkan hidrolisat dengan bioaktivitas multifungsi. Fraksi &lt;3 kDa secara konsisten menunjukkan aktivitas tertinggi. Hidrolisat kulit memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi terbaik, sedangkan hidrolisat campuran menunjukkan aktivitas antidiabetes tertinggi dengan IC50 a-glukosidase sebesar 34,692 mg/mL. Seluruh hidrolisat menghambat bakteri Gram-positif dan Gram-negatif, dengan aktivitas terkuat terhadap Listeria monocytogenes. LC-HRMS/MS mengidentifikasi 211 sekuens peptida, terutama terkait kolagen, miosin, dan aktin. Peptida representatif diprioritaskan; sebagian besar diprediksi novel, tidak toksik, dan tidak alergenik. Peptida TGPIGMPGAR dan RLNFDAFLPMLK menunjukkan afinitas tinggi terhadap Keap1 dan TNF-a. Metabolomics mengidentifikasi taurin, asam amino, kreatin, kreatinin, dan metabolit lain yang berpotensi berkontribusi terhadap aktivitas biologis. Temuan ini menunjukkan bahwa fermentasi dan ultrafiltrasi efektif meningkatkan nilai tambah produk samping ikan tenggiri sebagai sumber bahan pangan fungsional dan nutraseutikal berkelanjutan.; Fish production and processing generate products that remain underutilized. Mackerel by-products (Scomberomorus commerson), including residual muscle and skin, are rich in protein and collagen and represent sources of bioactive peptides. This study aimed to evaluate the bioactivities of protein hydrolysates from mackerel by-products fermented with Pediococcus pentosaceus IL13 using in vitro, in silico, peptidomic, and metabolomic approaches. Muscle, skin, and muscle-skin (1:1) by-products were fermented with P. pentosaceus IL13, and crude hydrolysates were fractionated by ultrafiltration into &lt;30, &lt;10, and &lt;3 kDa fractions. Peptides were identified by LC-HRMS/MS following tryptic digestion, while bioactivity, toxicity, allergenicity, antidiabetic, and antimicrobial potentials were predicted in silico. Untargeted LC-HRMS metabolomics was performed to identify metabolites potentially contributing to bioactivity. Fermentation increased the degree of hydrolysis and produced hydrolysates with multifunctional bioactivities. The &lt;3 kDa fraction consistently exhibited the highest activities. Skin hydrolysate showed the strongest antioxidant and anti-inflammatory activities, whereas the mixed hydrolysate exhibited the highest antidiabetic activity, with an a-glucosidase inhibition IC50 of 34.692 mg/mL. All hydrolysates inhibited Gram-positive and Gram-negative bacteria, with the strongest activity against Listeria monocytogenes. LC-HRMS/MS identified 211 peptide sequences, mainly associated with collagen, myosin, and actin. Selected peptides were prioritized, with most predicted to be novel, non-toxic, and non-allergenic. TGPIGMPGAR and RLNFDAFLPMLK showed high binding affinities toward Keap1 and TNF-a, respectively. Metabolomics identified taurine, amino acids, creatine, creatinine, and metabolites potentially contributing to bioactivities. These findings demonstrate that fermentation combined with ultrafiltration can enhance the value of mackerel by-products as sustainable sources of functional food and nutraceutical ingredients.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179864</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Desain Model Peningkatan Kinerja Rantai Pasok Berkelanjutan Agroindustri Tuna dengan Pendekatan Soft System Dynamics Methodology (Studi Kasus di PT XYZ)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179858</link>
<description>Desain Model Peningkatan Kinerja Rantai Pasok Berkelanjutan Agroindustri Tuna dengan Pendekatan Soft System Dynamics Methodology (Studi Kasus di PT XYZ)
Wibowo, Raden Bagus Tri Joko
PT XYZ merupakan salah satu industri perikanan tuna skala menengah yang berlokasi di Bali. Nilai tambah yang dihasilkan dari proses penanganan tuna PT XYZ masih tergolong rendah karena proses utama penanganan tunanya adalah pembekuan. Pasar utama dari PT XYZ masih sangat terbatas karena PT XYZ berposisi sebagai pemasok bagi industri perikanan lain yang mengolah tuna dengan nilai tambah yang lebih tinggi. PT XYZ mendapatkan pasokan tuna dari hasil tangkapan kapal berjenis handline. Fasilitas penanganan tuna pada kapal jenis handline belum memadai untuk mempertahankan tuna pada kualitas yang terbaik. Hal ini menunjukkan bahwa rantai pasok PT XYZ memiliki potensi perbaikan yang sangat banyak. Perbaikan rantai pasok PT XYZ perlu dilakukan agar kinerja rantai pasoknya meningkat dan mampu bersaing dengan industri perikanan lain yang lebih unggul di Bali.&#13;
PT XYZ menghadapi permasalahan yang kompleks dan ambigu, namun juga memerlukan perbaikan yang terukur dan mudah dievaluasi. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan pendekatan soft system dynamics methodology untuk mengkaji permasalahan dan potensi perbaikan dari rantai pasok PT XYZ. Aspek permasalahan utama yang dikaji adalah kinerja, susut, dan risiko rantai pasok. Penelitian studi kasus rantai pasok di PT XYZ ini menggunakan data primer dan data sekunder. Penelitian dilaksanakan sejak April 2024 hingga April 2026. Data dikumpulkan dengan wawancara, observasi, kajian literatur, dan pendapat pakar.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis situasional rantai pasok agroindustri tuna frozen, 2) mengevaluasi kinerja keberlanjutan sistem rantai pasok agroindustri tuna frozen dilihat pada aspek resilience, ekonomi, sosial, maupun lingkungan, 3) menganalisis susut dan faktor penyebab susut pada rantai nilai agroindustri tuna frozen, 4) menganalisis risiko rantai pasok agroindustri  tuna frozen dan 5) merancang bangun model peningkatan kinerja rantai pasok yang berkelanjutan pada agroindustri  tuna frozen PT XYZ.&#13;
Tahapan penelitian meliputi: 1) menganalisis situasional rantai pasok dengan pendekatan Vorst, 2) melakukan pembobotan indikator kinerja rantai pasok menggunakan analytical hierarchy process (AHP), 3) mengukur kinerja rantai pasok menggunakan supply chain operation reference digital standard (SCOR DS) dan pemilihan strategi peningkatan kinerja dengan menggunakan fuzzy AHP, 4) menganalisis risiko dan sumber risiko dengan menggunakan house of risk, 5) menyusun causal loop diagram (CLD) dan stock flow diagram (SFD) yang menggambarkan dinamika variabel utama peningkatan kinerja.&#13;
	Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Situasi industri tuna, khususnya di Bali, sangat memengaruhi pengelolaan rantai pasok tuna PT XYZ. Volume produksi PT XYZ sangat kecil dibandingkan dengan total volume tangkapan tuna di Pelabuhan Benoa. PT XYZ memiliki sumber daya aset pengolahan tuna yang cukup dan sistem manajemen yang lengkap, namun tidak beroperasi dengan baik. PT XYZ mengalami kendala di dua sisi, yaitu sisi pasokan dan sisi penjualan. PT XYZ kehilangan pembeli besar di sisi penjualan dan kehilangan pemasok besar di sisi pasokan. Hal tersebut menyebabkan PT XYZ tidak mampu bersaing dengan baik dengan industri perikanan di Bali; 2) kinerja keberlanjutan rantai pasok agroindustri tuna berada pada tingkat moderat. Rantai pasok agroindustri tuna yang dikaji memiliki 2 aktor utama, yaitu agroindustri tuna dan nelayan tuna. Tingkat kinerja keberlanjutan rantai pasok aktor agroindustri senilai 69,9%. Tingkat kinerja keberlanjutan rantai pasok aktor nelayan senilai 74%. Kedua nilai tingkat kinerja tersebut masuk ke dalam kategori moderat. Tingkat kinerja tersebut disebabkan oleh adanya banyak sumber risiko yang menghambat pencapaian kinerja. Alternatif peningkatan kinerja bersama adalah peningkatan kompetensi pengolahan tuna melalui pelatihan dan sosialisasi, kemitraan agroindustri dengan nelayan dan/atau UMKM (berbagi pemanfaatan by-product), peningkatan implementasi jaminan keamanan pangan (CPIB) pada aktor nelayan, peningkatan fasilitas bongkar muat tuna di lokasi pendaratan dan peningkatan implementasi jaminan keamanan pangan (HACCP) pada aktor agroindustri; 3) hasil tangkapan aktor nelayan yang menangkap dengan kapal jenis handline berada pada tingkat mutu 25% masuk kategori lokal dengan susut mutu pada pemeriksaan mutu pada agroindustri senilai 3% yang diakibatkan adanya yake dan asuki; 4) aktor agroindustri dan nelayan masing-masing memiliki risiko dan sumber risiko yang kompleks. Tindakan pencegahan sumber risiko yang paling prioritas pada aktor agroindustri adalah peningkatan kualitas manajemen internal untuk meningkatkan efektivitas proses bisnis (PA3), sedangkan tindakan pencegahan sumber risiko pada aktor nelayan adalah pengendalian dan penurunan susut tuna (PA1); dan 5) perancangan model sistem dinamik peningkatan kinerja rantai pasok menghasilkan empat submodel, yaitu submodel kualitas, submodel nilai tambah, submodel aset, submodel fleksibilitas pasar. Peningkatan kinerja difokuskan pada variabel downgrade, nilai tambah dan by-product, return on fixed assets, dan fleksibilitas pasar. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kontinuitas pasokan bahan baku tuna dan pengolahan tuna menjadi faktor penentu perbaikan kinerja pada keempat variabel tersebut. Namun demikian, kontinuitas pasokan bahan baku tuna akan berpotensi membebani biaya produksi jika harga dan volume penjualan produk pengolahan tuna tidak kompetitif di pasaran.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179858</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
