<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Dissertations</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/27</link>
<description>Dissertations of IPB's Ph.D. student</description>
<pubDate>Sat, 20 Jun 2026 12:12:28 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-06-20T12:12:28Z</dc:date>
<item>
<title>Evaluasi Ekosistem Pulau Osi (Seram Bagian Barat) Untuk Model Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173474</link>
<description>Evaluasi Ekosistem Pulau Osi (Seram Bagian Barat) Untuk Model Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan
Wakano, Deli
Pulau Osi merupakan pulau kecil yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap sumber daya pesisir, khususnya ekosistem mangrove dan lamun yang berperan penting dalam menopang kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Tekanan pemanfaatan yang terus meningkat, terutama dari sektor perikanan tangkap, berpotensi menurunkan daya dukung ekosistem dan mengancam keberlanjutan pembangunan pulau kecil. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan pengelolaan yang mampu mengintegrasikan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial secara terpadu dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi ekosistem Pulau Osi serta merumuskan model pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan berbasis sistem sosial-ekologis. Pendekatan yang digunakan adalah pemodelan sistem dinamik yang mengintegrasikan sub-model ekologi (mangrove dan lamun), ekonomi (pendapatan per kapita), dan sosial (jumlah nelayan). Model ini disusun untuk menangkap hubungan sebab-akibat dan mekanisme umpan balik antar komponen sistem dalam jangka panjang, serta digunakan untuk mensimulasikan berbagai skenario pengelolaan.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem mangrove dan lamun merupakan komponen kunci yang menentukan stabilitas sistem Pulau Osi. Degradasi kedua ekosistem tersebut berdampak langsung terhadap penurunan produktivitas perikanan dan peningkatan tekanan sosial berupa bertambahnya jumlah nelayan. Dari aspek ekonomi, peningkatan pemanfaatan sumber daya alam mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dalam jangka pendek, namun bersifat tidak berkelanjutan ketika daya dukung ekosistem terlampaui. Kondisi ini menunjukkan adanya batas pertumbuhan sosial-ekonomi berbasis daya dukung lingkungan pada skala pulau kecil. Dari aspek sosial, tingginya ketergantungan masyarakat terhadap sektor perikanan dan terbatasnya alternatif mata pencaharian memperkuat tekanan terhadap sumber daya pesisir. Pertumbuhan jumlah nelayan yang relatif konsisten mencerminkan kerentanan sistem sosial-ekonomi terhadap perubahan kondisi ekosistem. Tanpa pengelolaan yang adaptif dan terpadu, peningkatan kesejahteraan masyarakat cenderung bersifat semu dan berpotensi menurun dalam jangka panjang. &#13;
Simulasi skenario current dan reference pada penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan pengelolaan yang menitikberatkan pada perlindungan dan rehabilitasi ekosistem pesisir, pengendalian tekanan pemanfaatan, serta diversifikasi ekonomi masyarakat mampu meningkatkan stabilitas sistem secara keseluruhan. Model sistem dinamik yang dikembangkan terbukti efektif sebagai alat pendukung pengambilan keputusan (decision support system) dalam mengevaluasi dampak kebijakan pengelolaan pulau kecil sebelum diterapkan. &#13;
Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan model sistem dinamik terpadu yang menempatkan ekosistem mangrove dan lamun sebagai variabel pengungkit utama keberlanjutan, sekaligus mengidentifikasi batas pertumbuhan sosial-ekonomi berbasis daya dukung lingkungan pada skala pulau kecil. Penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi konseptual dalam pengelolaan sistem sosial-ekologis pulau kecil, tetapi juga menawarkan kerangka operasional kebijakan yang adaptif dan aplikatif bagi pemerintah daerah. &#13;
Secara keseluruhan, disertasi ini menegaskan bahwa keberlanjutan pengelolaan Pulau Osi hanya dapat dicapai melalui keseimbangan antara perlindungan ekosistem, peningkatan kesejahteraan ekonomi, dan penguatan kapasitas sosial masyarakat. Pendekatan berbasis sistem dinamik menjadi instrumen penting dalam mendukung perencanaan dan pengelolaan sumber daya alam pulau kecil secara berkelanjutan.; Osi Island is a small island characterized by a high dependence on coastal resources, particularly mangrove and seagrass ecosystems, which play a crucial role in supporting the social and economic livelihoods of local communities. Increasing resource utilization pressures, especially from capture fisheries, have the potential to reduce ecosystem carrying capacity and threaten the sustainability of small island development. Therefore, an integrated and sustainable management approach that incorporates ecological, economic, and social dimensions is required. This study aims to assess the condition of Osi Island’s ecosystems and formulate a sustainable natural resource management model based on a social-ecological systems framework. The study employs a system dynamics modeling approach that integrates ecological sub-models (mangroves and seagrasses), an economic sub-model (per capita income), and a social sub-model (number of fishers). The model was developed to capture causal relationships and feedback mechanisms among system components over the long term and to simulate various management scenarios. &#13;
The results indicate that mangrove and seagrass ecosystems are key components determining the overall stability of the Osi Island system. Degradation of these ecosystems directly leads to declining fisheries productivity and increasing social pressure, reflected in the growing number of fishers. From an economic perspective, intensified exploitation of natural resources can increase community income in the short term; however, such gains become unsustainable once ecosystem carrying capacity thresholds are exceeded. This finding highlights the existence of socio-economic growth limits constrained by environmental carrying capacity at the small-island scale. From a social standpoint, the community’s high dependence on the fisheries sector and the lack of alternative livelihoods exacerbate pressure on coastal resources. The relatively consistent growth in the number of fishers reflects the vulnerability of the local socio-economic system to changes in ecosystem conditions. Without adaptive and integrated management, improvements in community welfare are likely to be illusory and may decline over the long term.&#13;
Through simulations of current and reference scenarios, this study demonstrates that management strategies emphasizing coastal ecosystem protection and rehabilitation, control of exploitation pressures, and diversification of local economic activities can significantly enhance overall system stability. The developed system dynamics model proved effective as a decision support system for assessing the potential impacts of small-island management policies prior to implementation.&#13;
The novelty of this research lies in the development of an integrated system dynamics model that positions mangrove and seagrass ecosystems as key leverage variables for sustainability, while explicitly identifying socio-economic growth limits based on environmental carrying capacity at the small-island scale. This study contributes not only conceptually to the understanding of small-island social-ecological systems but also provides an adaptive and operational policy framework applicable to local government decision-making.&#13;
Overall, this dissertation affirms that sustainable management of Osi Island can only be achieved through a balanced approach that integrates ecosystem protection, economic welfare improvement, and strengthening of community social capacity. A system dynamics-based approach emerges as a critical instrument for supporting sustainable planning and natural resource management on small islands.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173474</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Model Spasial Penetapan Areal Konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Berbasis Jasa Ekosistem (JE) :  Studi Kasus DAS Citarum, Provinsi Jawa Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173465</link>
<description>Model Spasial Penetapan Areal Konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Berbasis Jasa Ekosistem (JE) :  Studi Kasus DAS Citarum, Provinsi Jawa Barat
Nahib, Irmadi
Daerah aliran sungai (DAS) Citarum merupakan kawasan strategis yang menopang ketahanan air, pangan, energi, dan keberlanjutan lingkungan bagi Provinsi Jawa Barat dan wilayah metropolitan Jakarta. DAS ini menyuplai air baku, mendukung sistem irigasi dan pembangkit listrik tenaga air, serta menyediakan berbagai fungsi ekologis penting. Dalam beberapa dekade terakhir, pertumbuhan penduduk, urbanisasi, ekspansi pertanian, industrialisasi, dan perubahan iklim telah mendorong perubahan tutupan dan penggunaan lahan (TPL) yang berdampak pada degradasi hutan, peningkatan erosi dan sedimentasi, penurunan kualitas dan kuantitas air, serta berkurangnya kapasitas penyimpanan karbon. Perubahan TPL yang tidak terkendali mengganggu keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan. Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan perencanaan DAS yang mengintegrasikan dinamika lahan, jasa ekosistem (JE), nilai ekonomi jasa ekosistem (NEJE), dan perencanaan konservasi secara spasial dan terpadu.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model spasial perencanaan konservasi DAS berbasis JE. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis perubahan TPL tahun 2003, 2013, dan 2023 serta memproyeksikan TPL tahun 2043 dalam beberapa skenario; (2) menyusun model  JE, yaitu hasil air (HA), retensi sedimen (RS), dan stok karbon (SK), serta menganalisis hubungan sinergi dan trade-off antar JE; (3) menilai dinamika nilai ekonomi JE (NEJE) berdasarkan fungsi penyediaan air, pengendalian erosi, pengaturan iklim, dan penyediaan bahan pangan, serta menganalisis sensitivitas NEJE terhadap perubahan TPL; dan (4) menyusun model spasial perencanaan konservasi DAS berbasis JE.&#13;
Penelitian ini dilaksanakan pada Agustus 2024 hingga Maret 2025 di DAS Citarum, Provinsi Jawa Barat. Metodologi penelitian terdiri atas empat tahapan utama. Tahap pertama adalah analisis perubahan dan proyeksi TPL menggunakan citra Landsat 5 dan Landsat 8/OLI yang diklasifikasikan dengan algoritma Random Forest (RF) pada platform Google Earth Engine (GEE). Proyeksi TPL tahun 2043 dilakukan dengan model Multi Layer Perceptron-Markov Chain (MLP-MC) pada platform  Idrisi TerrSet dengan tiga skenario, yaitu business as usual (BAU), perlindungan lahan sawah (PLS), dan perlindungan hutan (PH). Tahap kedua adalah pemodelan JE menggunakan perangkat Integrated Valuation of Ecosystem Services and Trade-offs (InVEST). Model Annual Water Yield digunakan untuk menghitung HA, Sediment Delivery Ratio (SDR) untuk RS, dan Carbon Storage and Sequestration untuk SK. Hubungan sinergi dan trade-off antar JE  dianalisis menggunakan korelasi Pearson dan analisis  Moran's I bivariat untuk mengidentifikasi keterkaitan dan konflik spasial antar JE. Tahap ketiga adalah perhitungan nilai ekonomi JE  menggunakan pendekatan traditional benefit transfer (TBT) dan spatial benefit transfer (SBT) yang merupakan pengembangan dari metode TBT. Pendekatan SBT  mengintegrasikan variabel biofisik : HA, RS, SK, dan  normalized difference vegetation index (NDVI) serta variabel sosial ekonomi : upah minimum kabupaten/kota (UMK)  dan produk domestik regional bruto (PDRB) sebagai faktor koreksi dalam unit analisis grid  dengan resolusi 100 m × 100 m. Tahap keempat adalah penyusunan zonasi areal konservasi menggunakan pendekatan perencanaan konservasi sistematis (PKS) dengan perangkat lunak Marxan. Penyusunan areal konservasi dilakukan dengan dua skenario yaitu skenario A yang memasukkan kawasan konservasi eksisting dan skenario B yang tidak memasukkan kawasan konservasi eksisting. Perbedaan pola spasial antar skenario dianalisis menggunakan Jensen–Shannon Divergence (JSD) dan analisis overlay dalam ArcGIS.&#13;
Hasil analisis TPL selama 2003–2023, hutan dan semak belukar menurun masing-masing sebesar 101.161 ha ( 47,63%)  dan 13.387 ha (34,62%), sementara pemukiman dan pertanian lahan kering meningkat  32.518  ha (89,49%) dan 78.634 ha (38,87%). Validasi model menunjukkan akurasi tinggi dengan nilai Kappa 0,91.  Proyeksi tahun 2043 menunjukkan bahwa pada skenario BAU, tren degradasi berlanjut dengan penurunan luas hutan sebesar 38.561 ha  (34,66%), peningkatan lahan terbangun sebesar 25.328  ha (36,79%), dan peningkatan pertanian lahan kering sebesar  20.936  ha (7,45%). Skenario PLS efektif mempertahankan sawah, tetapi kurang mampu menekan deforestasi. Sedangkan skenario PH paling efektif menjaga hutan meskipun mengurangi luas perkebunan.  Temuan ini menunjukkan adanya trade-off antara perlindungan pangan dan konservasi ekosistem yang memerlukan integrasi kebijakan lintas sektor.&#13;
Pemetaan JE menunjukkan bahwa antara 2003–2013, total HA dan total SK mengalami penurunan sebesar 25,39% dan 6,81%, sedangkan RS meningkat 20,27%. Pada periode 2013–2023, penurunan HA dan SK sebesar  19,31% dan 0,37%, sementara RS meningkat sebesar 14,00%. Pola ini mencerminkan dampak konversi hutan menjadi pertanian lahan kering dan pemukiman.  Analisis korelasi Pearson menunjukkan adanya sinergi kuat antara HA-RS (0,613–0,652), serta sinergi lemah antara HA-SK (0,280–0,262) serta RS-SK (0,297-0,349). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat wilayah yang mengalami trade-off dan terdapat wilayah lain yang menunjukkan hubungan sinergis. &#13;
Analisis NEJE dengan metode SBT menunjukkan penurunan  total NEJE sebesar US$ 108,07 juta (-25,48%) selama 2003–2023. Penurunan terbesar terjadi pada periode 2003–2013 sebesar  US$ 67,64 juta (-15,95%), sedangkan pada 2013–2023 sebesar US$ 40,43 juta (-11,34%). Berdasarkan fungsi JE, NEJE  penyediaan air menyumbang penurunan terbesar dengan nilai US$ 44,93 juta (36,57%), dan NEJE fungsi pengaturan iklim sebesar US$ 38,80 juta (26,14%). Metode SBT menghasilkan faktor koreksi sebesar 0,34–0,56 terhadap NEJE dengan metode TBT. Hasil uji sensitivitas menunjukkan bahwa hutan memiliki indeks tertinggi (rata-rata 0,6851), menunjukkan hutan relatif stabil terhadap perubahan NEJE. &#13;
Hasil simulasi Marxan menunjukkan bahwa pendekatan multi-JE (all ecosystem services, AES) menghasilkan konfigurasi areal konservasi paling optimal dibandingkan pendekatan JE tunggal. Pada target perlindungan JE sebesar 60%, skenario A menghasilkan areal konservasi seluas 247.600 ha (34,24%) dengan pola distribusi yang berdekatan dengan kawasan konservasi eksisting, mencerminkan keterhubungan dan kesinambungan ekologi yang baik. Skenario B menghasilkan areal konservasi seluas 217.400 ha (30,04%) dengan areal yang tersebar dan terfragmentasi. Strategi penerapan skenario sangat tergantung kebijakan pengelolaan untuk menambah areal konservasi eksisting atau mencari areal potensi untuk dicadangkan sebagai areal konservasi. Nilai JSD sebesar  0,89 menunjukkan perbedaan pola  distribusi spasial  yang signifikan antara kedua skenario konservasi. Areal dengan status yang sama pada kedua peta tersebut adalah seluas  425.600 ha (58,85%) yakni areal konservasi sebesar 83.700 ha (11,57%) dan areal non konservasi sebesar 341.900 ha (47,28%).&#13;
Penelitian ini menghasilkan kerangka kerja  perencanaan konservasi DAS berbasis JE yang komprehensif dan aplikatif. Model yang dikembangkan ini menyediakan dasar ilmiah yang kuat bagi perencanaan tata ruang, pengendalian degradasi lingkungan, dan implementasi kebijakan konservasi DAS yang selaras dengan agenda nasional dan global, termasuk target 30 by 30 dalam kerangka Kunming–Montreal Global Biodiversity Framework.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173465</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Konversi Lahan Kopi ke Kelapa Sawit dan Strategi Mata Pencaharian Rumah Tangga Petani Kelapa Sawit di Provinsi Lampung</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173440</link>
<description>Konversi Lahan Kopi ke Kelapa Sawit dan Strategi Mata Pencaharian Rumah Tangga Petani Kelapa Sawit di Provinsi Lampung
Hernanda, Tiara Aprilia Putri
Konversi lahan merupakan salah satu dinamika spasial paling signifikan dalam pembangunan wilayah perdesaan di Indonesia, khususnya pada sektor perkebunan.  Di Provinsi Lampung, ekspansi kelapa sawit sebagai komoditas strategis nasional telah mendorong alih fungsi lahan dari komoditas unggulan daerah, salah satunya kopi robusta, menuju sistem monokultur kelapa sawit rakyat.  Fenomena ini tidak hanya merepresentasikan perubahan tutupan dan penggunaan lahan secara fisik, tetapi juga mencerminkan restrukturisasi ekonomi wilayah, perubahan struktur mata pencaharian rumah tangga petani, serta pergeseran konfigurasi sosial-ekologis perdesaan.  Dalam perspektif perencanaan pembangunan wilayah dan perdesaan, konversi lahan kopi ke kelapa sawit perlu dipahami secara komprehensif dengan mengintegrasikan dimensi spasial, determinan struktural, serta implikasinya terhadap keberlanjutan penghidupan rumah tangga.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi pola spasial dan dinamika perubahan penggunaan lahan dari kopi ke kelapa sawit di Provinsi Lampung; (2) menganalisis determinan yang mendorong konversi lahan; (3) memprediksi tingkat keberlanjutan mata pencaharian rumah tangga petani kelapa sawit hasil konversi; serta (4) merumuskan strategi usahatani kelapa sawit rakyat berkelanjutan berbasis diferensiasi wilayah.  Wilayah studi difokuskan pada Kabupaten Way Kanan sebagai salah satu sentra kopi robusta sekaligus wilayah dengan perkembangan kelapa sawit rakyat yang progresif dan memungkinkan koeksistensi agroekologis kedua komoditas tersebut.&#13;
Penelitian ini disusun dalam format kumpulan esai yang terintegrasi melalui pendekatan stitching strategy.  Esai pertama menganalisis dinamika spasial konversi lahan menggunakan penginderaan jauh dan analisis sistem informasi geografis (GIS) untuk mengidentifikasi pola persebaran konversi berdasarkan aksesibilitas, topografi, dan karakteristik wilayah.  Hasil analisis menunjukkan bahwa konversi lahan cenderung terjadi pada wilayah dengan aksesibilitas tinggi, kemiringan lereng rendah–sedang, serta kedekatan dengan infrastruktur jalan dan pusat pengolahan. Pola ini mengindikasikan bahwa rasionalitas ekonomi dan kemudahan distribusi menjadi pertimbangan utama dalam keputusan alih komoditas.&#13;
Esai ke dua mengkaji struktur determinan konversi lahan menggunakan pendekatan MICMAC (Matrice d’Impacts Croisés Multiplication Appliquée à un Classement).  Analisis ini mengidentifikasi variabel kunci dengan daya pengaruh tinggi terhadap sistem konversi, antara lain harga komoditas, nilai land rent, akses pasar, dukungan kelembagaan, dan kapasitas modal rumah tangga.  Hasil pemetaan menunjukkan bahwa faktor ekonomi, khususnya insentif harga dan potensi peningkatan pendapatan, berfungsi sebagai variabel penggerak utama (driving variables), sementara faktor sosial dan kelembagaan berperan sebagai variabel penghubung yang memperkuat atau melemahkan keputusan konversi. Struktur sistem tersebut memperlihatkan bahwa konversi lahan merupakan hasil interaksi antara tekanan ekonomi makro, dinamika kebijakan, serta kapasitas adaptif rumah tangga.&#13;
Esai ke tiga memodelkan implikasi konversi lahan terhadap keberlanjutan mata pencaharian rumah tangga petani menggunakan metode Bayesian Belief Network (BBN). Pendekatan ini dipilih karena kemampuannya menangani ketidakpastian dan memodelkan hubungan probabilistik antarvariabel. Kerangka analisis mengacu pada lima modal utama, yaitu modal manusia, finansial, sosial, fisik, dan alam. Hasil simulasi menunjukkan bahwa keberlanjutan penghidupan sangat dipengaruhi oleh kinerja ekonomi usahatani, diversifikasi sumber pendapatan, serta kapasitas adaptif rumah tangga dalam menghadapi fase belum produktif tanaman kelapa sawit.  Pada fase transisi, rumah tangga cenderung mengalami kerentanan pendapatan akibat jeda produksi, sehingga strategi diversifikasi dan penguatan modal manusia menjadi krusial.  Analisis sensitivitas dan inferensi balik menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas, kapasitas manajerial, serta akses pembiayaan dan pasar meningkatkan probabilitas keberlanjutan livelihood pada kategori tinggi.  Sebaliknya, ketergantungan tunggal pada kelapa sawit meningkatkan risiko kerentanan jangka panjang, terutama akibat fluktuasi harga global.  Temuan ini menegaskan bahwa keberlanjutan sawit rakyat tidak semata ditentukan oleh luasan lahan, melainkan oleh kualitas pengelolaan, kapasitas rumah tangga, dan dukungan kelembagaan.&#13;
Berdasarkan sintesis temuan spasial, struktural, dan probabilistik, penelitian ini merumuskan strategi tata kelola transisi penggunaan lahan berbasis diferensiasi wilayah, meliputi pengendalian konversi pada wilayah lindung dan lereng tinggi, penguatan intensifikasi berbasis good agricultural practices (GAP) pada wilayah produktif, pengembangan diversifikasi usaha pada fase transisi, serta penguatan kelembagaan dan akses pembiayaan. Pendekatan ini menegaskan bahwa kebijakan seragam tidak efektif dalam konteks heterogenitas spasial dan sosial perdesaan.&#13;
Secara konseptual, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kerangka Theory of Change berbasis lokasi yang menghubungkan dinamika spasial, determinan struktural, mekanisme keputusan rumah tangga, dan keberlanjutan penghidupan. Secara metodologis, integrasi analisis spasial, MICMAC, dan Bayesian Belief Network menjembatani analisis makro–mikro dalam perencanaan wilayah. Secara praktis, hasil penelitian ini menjadi dasar perumusan kebijakan pengelolaan penggunaan lahan dan pengembangan sawit rakyat berkelanjutan di Provinsi Lampung, sehingga konversi lahan dipahami sebagai proses transformasi wilayah yang memerlukan intervensi terencana untuk memastikan keberlanjutan pembangunan perdesaan jangka panjang.; Land conversion constitutes one of the most consequential spatial processes shaping rural transformation in Indonesia, particularly within the plantation sector.  In Lampung Province, the expansion of oil palm as a nationally strategic commodity has accelerated the conversion of robusta coffee historically a dominant regional crop into smallholder oil palm monoculture systems.  This transition extends beyond physical land-use change; it reflects broader regional economic restructuring, shifts in household livelihood configurations, and reorganisation of rural socio-ecological systems.  From a regional and rural planning perspective, coffee to oil palm conversion must therefore be examined through an integrated framework that links spatial dynamics, structural determinants, and implications for household livelihood sustainability.&#13;
This dissertation aims to: (1) identify spatial patterns and trajectories of land-use change from coffee to oil palm in Lampung Province; (2) analyse the structural determinants driving land conversion; (3) predict livelihood sustainability among smallholder oil palm households following conversion; and (4) formulate differentiated regional strategies for sustainable smallholder oil palm development.  The empirical focus is Way Kanan Regency, a traditional robusta coffee production centre that has experienced rapid oil palm expansion, creating conditions for agro-ecological coexistence and commodity transition.&#13;
The dissertation adopts an integrated essay-based structure using a stitching strategy to connect macro-level spatial analysis with micro-level household modelling.  The first essay examines spatial conversion dynamics using remote sensing and Geographic Information Systems (GIS).  Conversion patterns are analysed in relation to accessibility, slope gradients, and regional characteristics.  The findings indicate that conversion predominantly occurs in highly accessible areas with low to moderate slopes and proximity to infrastructure and processing facilities, underscoring the central role of market integration and economic rationality in commodity transition decisions.&#13;
The second essay investigates the structural configuration of conversion determinants using the MICMAC (Matrice d’Impacts Croisés Multiplication Appliquée à un Classement) approach.  The analysis identifies key driving variables, including commodity prices, land rent differentials, market access, institutional support, and household capital capacity.  Economic incentives particularly price signals and expected income gains emerge as dominant drivers, while social and institutional factors operate as linkage variables that reinforce or constrain household decisions.  The resulting system structure demonstrates that land conversion is not merely an individual economic choice but an outcome of interactions among macroeconomic pressures, policy dynamics, and household adaptive capacity.&#13;
The third essay models the implications of land conversion for household livelihood sustainability using a Bayesian Belief Network (BBN).  This probabilistic framework captures uncertainty and interdependencies among human, financial, social, physical, and natural capital.  Simulation results indicate that livelihood sustainability is strongly influenced by farm performance, income diversification, and adaptive capacity during the immature phase of oil palm production.  The transition period generates temporary income vulnerability due to production gaps, making diversification and human capital strengthening critical stabilisation mechanisms.  Sensitivity and backward inference analyses show that productivity enhancement, managerial capacity improvement, and improved access to finance and markets significantly increase the probability of achieving high livelihood sustainability.  Conversely, reliance on oil palm as a single income source increases long-term vulnerability, particularly under global price volatility.  These findings suggest that smallholder oil palm sustainability depends less on land size than on management quality, institutional embeddedness, and adaptive capacity.&#13;
Synthesising spatial, structural, and probabilistic evidence, this research proposes a differentiated land-use transition governance framework.  Strategic recommendations include regulating conversion in environmentally sensitive and high-slope areas, promoting intensification through Good Agricultural Practices (GAP) in suitable zones, supporting on- and off-farm diversification during transition phases, and strengthening farmer institutions and financial access.  The differentiated approach highlights the limitations of uniform policy instruments in spatially and socially heterogeneous rural contexts.&#13;
Conceptually, this dissertation advances a place-based Theory of Change integrating spatial dynamics, structural drivers, household decision-making mechanisms, and livelihood sustainability outcomes within a unified regional planning framework. Methodologically, the integration of spatial analysis, MICMAC structural modelling, and Bayesian probabilistic simulation bridges macro-level regional planning and micro-level household livelihood analysis.  Practically, the findings provide an evidence-based foundation for land-use governance and sustainable smallholder oil palm development in Lampung Province, positioning land conversion as a structural regional transformation requiring context-sensitive planning interventions to ensure long-term rural sustainability.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173440</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Studi Potensi Khasiat Senyawa Aktif Daun Kelor (Moringa Oleifera Lam.) Pada Proses  Laktasi Tikus Sebagai Hewan Model</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173435</link>
<description>Studi Potensi Khasiat Senyawa Aktif Daun Kelor (Moringa Oleifera Lam.) Pada Proses  Laktasi Tikus Sebagai Hewan Model
Fachruddin
Anak baru lahir atau bayi membutuhkan kecukupan nutrisi yang memadai &#13;
untuk mendukung tumbuh kembangnya secara optimal. Makanan terbaik bagi bayi &#13;
adalah air susu ibu (ASI). Manfaat ASI bagi bayi antara lain untuk pertumbuhan &#13;
dan perkembangan, imunitas, kognisi, kesehatan pencernaan, dan pencegahan &#13;
risiko penyakit jangka panjang. Meskipun demikian, pemberian ASI seringkali &#13;
menghadapi berbagai tantangan. Salah satu alasan fisiologis yang menjadi kendala &#13;
utama adalah belum optimalnya kuantitas produksi ASI selama periode laktasi.&#13;
Secara fisiologis, produksi susu bergantung pada fungsionalitas sel-sel &#13;
kelenjar susu yang dirancang terutama selama masa kehamilan dan kecukupan &#13;
nutrisi untuk sintesis susu selama masa laktasi. Baik pertumbuhan dan &#13;
perkembangan kelenjar susu maupun produksi ASI sangat bergantung pada kontrol &#13;
hormonal, seperti estrogen, progesteron, prolaktin, oksitosin dan sejumlah hormon &#13;
pendukung lainnya. Kadar hormon regulator yang tidak adekuat dalam tubuh, &#13;
khususnya selama periode reproduksi akan memengaruhi perkembangan kelenjar &#13;
susu yang berdampak pada minimnya jumlah ASI yang dihasilkan. Salah satu &#13;
upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan cara mengonsumsi tanaman &#13;
herbal yang memiliki efek galaktagogum. Pada penelitian ini digunakan daun kelor &#13;
(Moringa oleifera) yang secara empirik dan saintifik telah terbukti mampu &#13;
meningkatkan produksi ASI. Khasiat galaktagogum daun kelor dihipotesiskan &#13;
sebagai konsekuensi biologis dari sejumlah senyawa aktif yang dikandungnya, &#13;
seperti fitoestrogen, fitosterol, dan asam lemak untuk meningkatkan hormon &#13;
reproduksi yang penting untuk mendukung mammogenesis dan laktasi. Sejauh ini, &#13;
masih belum dapat diverifikasi senyawa-senyawa spesifik apa saja yang benar-&#13;
benar bertanggung jawab dan bagaimana mekanisme aksinya dalam menjalankan &#13;
peran sebagai herbal galaktagogum.&#13;
Penelitian ini merupakan tipe eksperimental murni (pure experimental &#13;
research) dengan pendekatan multi-tahap. Tahap pertama merupakan penelitian &#13;
jenis eksploratif dan deskriptif dengan mengkarakterisasi simplisia daun kelor dan &#13;
mengidentifikasi fitokonstituen ekstrak daun kelor. Tahap kedua adalah penelitian &#13;
eksperimental murni dengan desain kelompok kontrol acak (randomized controlled &#13;
group design). Tahap ketiga adalah studi bioinformatika dengan pendekatan &#13;
Network Pharmacology (untuk identifikasi target potensial) dan Molecular &#13;
Docking (untuk verifikasi afinitas ikatan).&#13;
Penelitian tahap pertama menunjukkan bahwa daun kelor mengandung &#13;
senyawa flavonoid, tanin, dan steroid dengan intensitas tinggi hingga rendah &#13;
berdasarkan pemeriksaan fitokimia kualitatif. Analisis LC-HRMS menunjukkan &#13;
perbedaan komposisi kimia dari ketiga jenis ekstrak daun kelor berdasarkan pola &#13;
kromatogram dan jumlah peak (puncak). Senyawa dominan berdasarkan persentase &#13;
area puncak darisetiap ekstrak adalah Unknown (C29H44N4O7) 8,04% dalam ekstrak &#13;
etanol (EEDK), DL-malic acid 9,27% dalam ekstrak etanol-air (EADK), dan 13-&#13;
KODE 13,47% dalam ekstrak n-Heksana. Senyawa-senyawa dalam ekstrak daun kelor memiliki potensi aktivitas biologi yang relevan dengan peningkatan performa &#13;
reproduksi mamalia betina selama masa reproduksinya.&#13;
Penelitian tahap kedua, ekstrak daun kelor diimbuhkan dalam pakan tikus &#13;
dengan dosis 53,5 mg EEDK, 36,5 mg EADK, dan 26 mg EHDK yang &#13;
disuplementasi sejak masa prakebuntingan, kebuntingan hingga laktasi. Penelitian &#13;
menunjukkan terjadinya peningkatan yang signifikan pada kinerja laktasi yang &#13;
termanifestasi melalui produksi susu yang tinggi. Respons positif ini berbanding &#13;
lurus dengan peningkatan bobot badan anak tikus selama periode laktasi. Kinerja &#13;
laktasi yang baik tidak terlepas dari dukungan kinerja reproduksi secara &#13;
keseluruhan. Dukungan ini terlihat pada masa laktasi melalui peningkatan kadar &#13;
prolaktin dan pertambahan morfometri alveoli kelenjar susu. Selain itu, terdapat &#13;
persiapan panjang sejak masa prakebuntingan hingga kebuntingan yang ditandai &#13;
dengan keteraturan siklus estrus (durasi 4,6-5,3 hari). Peningkatan estrogen dan &#13;
progesteron serta ekspresi reseptornya juga teramati secara spesifik pada kelompok &#13;
EEDK dan EHDK. Berbeda dengan kelompok EADK yang menunjukkan &#13;
gangguan hormonal (penurunan tajam estrogen dan progesteron) selama periode &#13;
kebuntingan yang berdampak pada viabilitas janin yang rendah. Capaian kinerja &#13;
reproduksi dan laktasi juga didorong oleh konsumsi pakan dan pertambahan bobot &#13;
badan induk yang menunjukkan adanya efisiensi metabolisme serta didukung oleh &#13;
profil hematologi yang berada dalam rentang sehat. Data menunjukkan tidak &#13;
adanya gangguan palatabilitas pakan, bahkan meningkat pada EHDK selama &#13;
kebuntingan. Tikus yang mengonsumsi ekstrak daun kelor juga memperlihatkan &#13;
status kesehatan yang lebih baik dengan peningkatan pada beberapa parameter &#13;
hematologi penting seperti jumlah sel darah putih (WBC), sel darah merah (RBC), &#13;
hemoglobin (HGB), hematokrit (HCT), dan rata-rata hemoglobin korpuskel &#13;
(MCH) pada masa kebuntingan. Namun demikian, nilai hematologi yang terlihat &#13;
baik pada kelompok EADK tidak sejalan dengan profil hormon yang pengaruhnya &#13;
lebih kuat pada kinerja repopduksi.&#13;
Penelitian tahap ketiga, sebanyak 21 senyawa aktif daun kelor terpilih sebagai &#13;
kandidat potensial berdasarkan seleksi Lipinski dan profil ADMET. Analisis &#13;
farmakologi jaringan menunjukkan 21 senyawa aktif berinteraksi dengan 34 protein &#13;
mammogenesis melalui jalur pensinyalan estrogen dan jalur pensinyalan prolaktin, &#13;
sementara itu ada 18 senyawa aktif yang berinteraksi dengan 30 protein laktasi &#13;
melalui jalur pensinyalan prolaktin dan jalur pensinyalan PI3K-Akt. Analisis &#13;
penambatan molekuler menunjukkan sinergi lima senyawa kunci, yaitu quercetin, &#13;
12-oxo phytodienoic acid, 13(S)-HpOTrE, 2,3-dinor-8-epi-prostaglandin F2a, dan &#13;
DL-tryptophan yang memengaruhi proses laktasi. Quercetin menunjukkan ikatan &#13;
energi terkecil (-7,4 kcal/mol) yang mendekati ligan kontrol EST (-11 kcal/mol) &#13;
pada reseptor ESR1 untuk mammogenesis, dan quercetin (-8,5 kcal/mol) berselisih &#13;
tipis dengan ligan kontrol G4H501 (-10,1 kcal/mol) pada reseptor AKT1 untuk &#13;
laktasi. Hasil ini menunjukkan potensi quercetin dan senyawa lainnya dalam &#13;
mendukung pertumbuhan dan perkembangan kelenjar susu dan meningkatkan &#13;
produksi susu melalui pemeliharaan sel-sel epitel susu (pro-survival dan anti-&#13;
apoptosis) dan peningkatan kadar prolaktin sirkulasi selama masa laktasi.; Newborns and infants require adequate nutrition to support their optimal &#13;
growth and development. Breast milk is universally recognized as the optimal &#13;
source of nutrition for infants. The benefits of breast milk for infants include &#13;
promoting growth and development, enhancing immunity, supporting cognitive &#13;
function, maintaining gastrointestinal health, and mitigating the risk of long-term &#13;
diseases. However, breastfeeding practices frequently encounter various challenges. &#13;
One of the primary physiological barriers is the suboptimal quantity of breast milk &#13;
produced during the lactation period.&#13;
Physiologically, milk production depends on the functionality of mammary &#13;
gland cells, which undergo primary development during pregnancy, as well as the &#13;
adequacy of nutritional supply for milk synthesis during lactation. Both the growth &#13;
and development of the mammary gland and subsequent breast milk production are &#13;
highly dependent on hormonal regulation, which includes estrogen, progesterone, &#13;
prolactin, oxytocin, and several other supportive hormones. Inadequate levels of &#13;
these regulatory hormones, particularly during the reproductive period, can impair &#13;
mammary gland development, ultimately resulting in insufficient breast milk yield. &#13;
One strategy to overcome this issue is the consumption of medicinal plants&#13;
exhibiting galactagogue properties. Thisstudy investigates Moringa oleifera leaves, &#13;
which have been empirically and scientifically proven to enhance breast milk &#13;
production. The galactagogue efficacy of M. oleifera leaves is hypothesized to be a &#13;
biological consequence of their active constituents—such as phytoestrogens,&#13;
phytosterols, and fatty acids—which elevate the reproductive hormones essential &#13;
for supporting mammogenesis and lactation. However, to date, the specific &#13;
compounds definitively responsible for this activity and their exact mechanisms of &#13;
action as an herbal galactagogue remain largely unverified.&#13;
This study represents pure experimental research utilizing a multi-stage &#13;
approach. The first stage is an explorative and descriptive study involving the &#13;
characterization of M. oleifera leaf simplicia and the identification of &#13;
phytoconstituents within the leaf extracts. The second stage constitutes pure &#13;
experimental research employing a randomized controlled group design. The third &#13;
stage is a bioinformatics study utilizing Network Pharmacology (to identify &#13;
potential targets) and Molecular Docking approaches (to verify binding affinities)&#13;
The first stage of the study demonstrated that Moringa leaves contain &#13;
flavonoids, tannins, and steroids with varying intensities, ranging from high to low, &#13;
based on qualitative phytochemical screening. LC-HRMS analysis revealed &#13;
differences in the chemical composition among the three types of Moringa leaf &#13;
extracts, as indicated by their chromatogram patterns and the number of peaks . &#13;
Based on the peak area percentages, the dominant compounds for each extract were &#13;
an unknown compound (C29H44N4O7) at 8.04% in the ethanol extract (EEDK), DL-&#13;
malic acid at 9.27% in the ethanol-water extract (EADK), and 13-KODE at 13.47% &#13;
in the n-hexane extract. The compounds present in the Moringa leaf extracts possess potential biological activities relevant to the enhancement of reproductive &#13;
performance in female mammals during their reproductive period.&#13;
In the second stage of the study, Moringa oleifera leaf extracts were &#13;
incorporated into the rat diets at doses of 53.5 mg for EEDK, 36.5 mg for EADK, &#13;
and 26 mg for EHDK. The supplementation was administered throughout the pre-&#13;
gestation, gestation, and lactation periods. The study demonstrated a significant &#13;
improvement in lactation performance, manifested by high milk production. This &#13;
positive response was directly proportional to the increased body weight of the rat &#13;
pups during the lactation period. This favorable lactation performance was &#13;
intrinsically supported by the overall reproductive performance. During lactation, &#13;
thissupport was evidenced by elevated prolactin levels and increased morphometric &#13;
measurements of the mammary gland alveoli. Furthermore, a prolonged preparatory &#13;
phase from pre-gestation to gestation was indicated by the regularity of the estrous &#13;
cycle (duration of 4.6–5.3 days). Increases in estrogen and progesterone levels, &#13;
along with the expression of their respective receptors, were specifically observed &#13;
in the EEDK and EHDK groups. In contrast, the EADK group exhibited hormonal &#13;
disruptions—characterized by a sharp decline in estrogen and progesterone during &#13;
the gestation period—which consequently resulted in low fetal viability. The &#13;
achievements in reproductive and lactation performance were also driven by &#13;
maternal feed consumption and body weight gain, indicating metabolic efficiency, &#13;
and were further supported by hematological profiles remaining within the healthy &#13;
range. The data indicated no impairment in feed palatability; in fact, it increased in &#13;
the EHDK group during gestation. Rats consuming the Moringa leaf extracts also &#13;
displayed improved health status, characterized by increases in several key &#13;
hematological parameters during gestation, including white blood cell (WBC) &#13;
count, red blood cell (RBC) count, hemoglobin (HGB), hematocrit (HCT), and &#13;
mean corpuscular hemoglobin (MCH). Nevertheless, the seemingly favorable &#13;
hematological values in the EADK group did not align with its hormonal profile, &#13;
which exerts a more profound impact on reproductive performance.&#13;
In the third stage of the study, 21 active compounds of Moringa leaves were &#13;
selected as potential candidates based on Lipinski's Rule of Five and ADMET &#13;
profiling. Network pharmacology analysis revealed that these 21 active compounds &#13;
interacted with 34 mammogenesis-related proteins via the estrogen and prolactin &#13;
signaling pathways. Meanwhile, 18 active compounds interacted with 30 lactation-&#13;
related proteins through the prolactin and PI3K-Akt signaling pathways. Molecular &#13;
docking analysis demonstrated the synergy of five key compounds—namely &#13;
quercetin, 12-oxo phytodienoic acid, 13(S)-HpOTrE, 2,3-dinor-8-epi-prostaglandin &#13;
F2a, and DL-tryptophan—in influencing the lactation process. Quercetin exhibited &#13;
the lowest binding energy (-7.4 kcal/mol), closely approaching that of the control &#13;
ligand EST (-11.0 kcal/mol) at the ESR1 receptor for mammogenesis. Furthermore, &#13;
the binding energy of quercetin (-8.5 kcal/mol) showed only a marginal difference &#13;
from the control ligand G4H501 (-10.1 kcal/mol) at the AKT1 receptor for lactation. &#13;
These findings underscore the potential of quercetin and other compounds in &#13;
supporting mammary gland growth and development, as well as enhancing milk &#13;
production through the maintenance of mammary epithelial cells (pro-survival and &#13;
anti-apoptotic effects) and the elevation of circulating prolactin levels during the &#13;
lactation period.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173435</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
