<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Dissertations</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/27</link>
<description>Dissertations of IPB's Ph.D. student</description>
<pubDate>Sat, 11 Apr 2026 17:01:13 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-11T17:01:13Z</dc:date>
<item>
<title>Pengaruh Kekuatan Keuangan Bank Sentral terhadap Kredibilitas Bank Sentral: Peran Kerangka Efisiensi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172911</link>
<description>Pengaruh Kekuatan Keuangan Bank Sentral terhadap Kredibilitas Bank Sentral: Peran Kerangka Efisiensi
Fauziah, Mega
Bank Sentral didirikan berdasarkan mandat hukum dan peraturan yang eksplisit yang mendefinisikan wewenang, tujuan, dan struktur tata kelola. Mengacu kepada hal tersebut, Bank Sentral memiliki fungsi dan peran unik yang bertanggung jawab atas kebijakan moneter, stabilitas keuangan, dan sistem keuangan. &#13;
Sebagai konsekuensi dari pelaksanaan mandatnya, Bank Sentral menghadapi berbagai risiko keuangan, khususnya ketika krisis ekonomi sebelumnya berdampak kepada tekanan dan kerugian pada banyak Bank Sentral. Kerugian tersebut tidak hanya memengaruhi kondisi neraca, tetapi juga berpotensi menimbulkan pertanyaan politis yang pada akhirnya dapat merusak kredibilitas Bank Sentral. Karena itu, penguatan kekuatan keuangan Bank Sentral (CBFS) dipandang penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap kemampuan Bank Sentral dalam menjalankan tugasnya. &#13;
Di samping aspek keuangan tersebut, independensi Bank Sentral yaitu otonomi dalam pengambilan keputusan tanpa campur tangan politik adalah menjadi elemen kunci agar kebijakan moneter dapat ditempuh berdasarkan pertimbangan ekonomi yang objektif, bukan kepentingan jangka pendek. Dengan demikian, kekuatan keuangan dan independensi Bank Sentral bersama-sama membentuk fondasi kredibilitas Bank Sentral.&#13;
Mengingat bahwa kekuatan keuangan dan independensi kelembagaan merupakan fondasi utama dalam pembentukan kredibilitas Bank Sentral, aspek tata kelola yang menopang elemen tersebut menjadi sama pentingnya. Dengan kata lain, kredibilitas tidak hanya bertumpu pada kapasitas institusi dalam merumuskan kebijakan yang efektif, tetapi juga pada cara Bank Sentral mempertanggungjawabkan penggunaan kewenangannya kepada publik sebagai perwujudan akuntabilitas. Akuntabilitas menjadi penting sebagai konsekuensi dari pemberian independensi kepada Bank Sentral, termasuk independensi finansialnya. &#13;
Efisiensi Bank Sentral merupakan komponen krusial dari akuntabilitas karena menunjukkan seberapa efektif Bank Sentral tersebut memanfaatkan independensinya untuk mencapai tujuan kebijakan. Akuntabilitas tidak hanya menuntut transparansi dalam pengambilan keputusan, tetapi juga hasil yang terukur yang mencerminkan efisiensi operasional. Dalam kerangka tersebut, efisiensi menjadi indikator penting yang memastikan bahwa mandat kebijakan dijalankan secara optimal dan berorientasi pada nilai publik.&#13;
Penelitian ini bertujuan pertama untuk menguji pengaruh kekuatan keuangan Bank Sentral dan guncangan eksternal global terhadap kredibilitas Bank Sentral yang ditunjukkan dengan deviasi inflasi (selisih antara target inflasi dengan inflasi aktual pada tahun yang sama), serta menilai peran independensi Bank Sentral dalam memperkuat pengaruh tersebut; kedua, untuk melihat kerangka efisiensi pada Bank Sentral dan faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi sehingga menghasilkan skor efisiensi yang dapat dibandingkan antara Bank Sentral; ketiga untuk menguji pengaruh efisiensi dan modal Bank Sentral terhadap kredibilitas Bank Sentral. Penelitian ini diharapkan dapat mengisi kesenjangan literatur di mana masing-masing dimensi telah diteliti secara terpisah namun belum diintegrasikan dalam satu kerangka analitis yang komprehensif. &#13;
Sampel data yang digunakan adalah 5 (lima) Bank Sentral di ASEAN, yaitu Bank Indonesia (BI), Bank Negara Malaysia (BNM), Bank of Thailand (BoT), Monetary Authority of Singapore (MAS) dan Bank Sentral Philipina (BSP). Data yang akan digunakan mencakup data makroekonomi (World Bank, International Monetary Fund, CEIC), dan data keuangan Bank Sentral (Bank Focus dan halaman resmi Bank Sentral terkait). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan kombinasi pendekatan data panel dan Stochastic Frontier Analysis (SFA).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kredibilitas Bank Sentral di Asia Tenggara sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar global. Selain itu, kredibilitas juga ditentukan oleh dua faktor utama, yakni kekuatan keuangan Bank Sentral (CBFS) dan tingkat independensi. Kekuatan keuangan terbukti berdampak positif terhadap kredibilitas, sementara analisis yang menggunakan interaksi antara kekuatan keuangan dan independensi menunjukkan adanya hubungan yang kuat terhadap kredibilitas. Temuan ini menegaskan bahwa reformasi kelembagaan yang memperkuat independensi perlu diiringi dengan kekuatan keuangan agar kredibilitas Bank Sentral tetap terjaga di tengah volatilitas global.&#13;
Selanjutnya, penelitian juga menemukan bahwa faktor produksi Bank Sentral berpengaruh terhadap efisiensi, di mana pembesaran neraca dan pengelolaan cadangan termasuk cadangan emas berkorelasi positif dengan peningkatan biaya operasional. Inefisiensi biaya turut memengaruhi kredibilitas, meskipun pengaruhnya relatif kecil dibandingkan dengan faktor kelembagaan, khususnya independensi yang direpresentasikan oleh CBIE dan CBI, serta guncangan eksternal yang tercermin dari indeks VIX dan pergerakan nilai tukar.&#13;
Secara konseptual, penelitian ini menegaskan bahwa, kombinasi antara kekuatan keuangan, independensi kelembagaan, serta respons adaptif terhadap risiko global serta efisiensi operasional merupakan fondasi utama untuk menjaga kredibilitas Bank Sentral di negara berkembang, Dengan mengintegrasikan dimensi tersebut dalam satu kerangka analitis, penelitian ini memperkaya literatur kebijakan moneter bahwa kredibilitas Bank Sentral di negara berkembang tidak hanya ditentukan oleh konsistensi kerangka inflation targeting, tetapi juga oleh kekuatan keuangan, independensi, efisiensi dalam menghadapi tekanan global.; Central banks are established under explicit legal and regulatory mandates that define their powers, objectives, and governance structures. Consequently, central banks have unique functions and roles responsible for monetary policy, financial stability, and the financial system.&#13;
As a consequence of fulfilling its mandate, the Central Bank faces various financial risks, particularly as the previous economic crisis resulted in pressure and losses for many Central Banks. These losses not only impact balance sheets but also have the potential to raise political questions that could ultimately undermine the Central Bank's credibility. Therefore, strengthening the Central Bank's financial strength (CBFS) is considered crucial to maintaining public confidence in the Central Bank's ability to carry out its duties.&#13;
In addition to these financial aspects, the independence of the Central Bank, namely its autonomy in decision-making without political interference, is a key element in ensuring that monetary policy is pursued based on objective economic considerations, rather than short-term interests. Thus, the financial strength and independence of the Central Bank together form the foundation of its credibility.&#13;
Given that financial strength and institutional independence are the primary foundations for establishing a Central Bank's credibility, the governance aspects that underpin these elements are equally important. In other words, credibility rests not only on the institution's capacity to formulate effective policies, but also on how the Central Bank is accountable to the public for the use of its authority, demonstrating accountability. Accountability is crucial as a consequence of granting independence to the Central Bank, including its financial independence.&#13;
Central Bank efficiency is a crucial component of accountability because it indicates how effectively the Central Bank utilizes its independence to achieve policy objectives. Accountability requires not only transparency in decision-making but also measurable results that reflect operational efficiency. Within this framework, efficiency is a crucial indicator that ensures that policy mandates are implemented optimally and oriented toward public value.&#13;
This study aims firstly to examine the influence of Central Bank financial strength and global external shocks on Central Bank credibility as indicated by inflation deviation (the difference between the inflation target and actual inflation in the same year), and to assess the role of Central Bank independence in strengthening this influence; secondly, to examine the efficiency framework in Central Banks and the factors that influence efficiency so as to produce efficiency scores that can be compared between Central Banks; thirdly to examine the influence of Central Bank efficiency and capital on Central Bank credibility. This study is expected to fill the gap in the literature where each dimension has been studied separately but has not been integrated into a comprehensive analytical framework.&#13;
&#13;
The data sample used is five central banks in ASEAN: Bank Indonesia (BI),  Bank Negara Malaysia (BNM), Bank of Thailand (BoT), Monetary Authority of Singapore (MAS), and Central Bank of the Philippines (BSP). The data used includes macroeconomic data (World Bank, International Monetary Fund, CEIC), and central bank financial data (Bank Focus and official websites of relevant central banks). This study employs a quantitative approach, combining panel data and Stochastic Frontier Analysis (SFA).&#13;
The research findings indicate that the credibility of Central Banks in Southeast Asia is significantly influenced by global market conditions. Furthermore, credibility is also determined by two main factors: Central Bank Financial Strength (CBFS) and the level of independence. Financial strength has been shown to have a positive impact on credibility, while an analysis using the interaction between financial strength and independence confirms a strong relationship between these factors. These findings emphasize that institutional reforms that strengthen independence must be accompanied by a strengthening of the financial position to maintain Central Bank credibility amidst global volatility.&#13;
Furthermore, the research also found that Central Bank production factors influence efficiency, with balance sheet expansion and reserve management, including gold reserves, positively correlated with increased operational costs. Cost inefficiency also impacts credibility, although its influence is relatively small compared to institutional factors, particularly independence as represented by the CBIE and CBI, as well as external shocks reflected in the VIX index and exchange rate movements.&#13;
Conceptually, this study confirms that the combination of financial strength, institutional independence, and adaptive response to global risks and operational efficiency are the main foundations for maintaining the credibility of Central Banks in developing countries. By integrating these dimensions in one analytical framework, this study enriches the monetary policy literature that the credibility of central banks in developing countries is not only determined by the consistency of the inflation targeting framework, but also by financial strength, independence, and efficiency in facing global pressures.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172911</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengembangan Sensor Cetak Chipless RFID Berbasis Nanokomposit CuNP-rGO-PANI untuk Multi-Analyte Sensing dan Evaluasi Kinerja Nirkabel</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172892</link>
<description>Pengembangan Sensor Cetak Chipless RFID Berbasis Nanokomposit CuNP-rGO-PANI untuk Multi-Analyte Sensing dan Evaluasi Kinerja Nirkabel
Wisudawaty, Priska
Sensor cetak berbasis tinta konduktif berperan penting dalam mendukung transformasi digital di sektor manufaktur dan logistik, khususnya pada kemasan cerdas untuk produk sensitif seperti pangan, farmasi, dan elektronik. Sensor ini memungkinkan integrasi fungsi identifikasi dan pemantauan kondisi lingkungan secara nirkabel dengan biaya rendah dan fleksibilitas tinggi. Pendekatan chipless RFID menjadi solusi menjanjikan karena menghilangkan kebutuhan chip aktif, sehingga lebih sesuai untuk produksi masal dan sistem internet of things (IoT) pasif. Namun demikian, kompleksitas desain resonator dan keterbatasan material konduktif cetak masih menjadi tantangan utama, sehingga diperlukan pengembangan material fungsional dan formulasi tinta yang sederhana, stabil, dan mudah diskalakan melalui metode screen printing.&#13;
Material berbasis grafena memiliki sifat listrik dan mekanik yang unggul, namun kecenderungan restacking antar lembaran reduced graphene oxide (rGO) dapat menurunkan kinerjanya. Dalam penelitian ini, polianilin (PANI) berperan sebagai matriks polimer sekaligus spacer utama yang mencegah restacking rGO dan membentuk struktur berpori, sedangkan nanopartikel tembaga (CuNP) berfungsi sebagai conductive bridge yang memperpendek jalur perkolasi elektron dan meningkatkan konduktivitas listrik. Kombinasi CuNP-Rgo-PANI dirancang sebagai material multifungsi yang berperan sebagai elemen konduktif sekaligus elemen sensitif pada sensor cetak chipless RFID.&#13;
Penelitian ini berfokus pada pengembangan sensor cetak chipless RFID berbasis nanokomposit CuNP-rGO-PANI dan evaluasi kinerjanya melalui dua aspek utama, yaitu (i) kemampuan sensing multi-analit, yang direpresentasikan oleh respon sensor terhadap amonia (NH3), etanol, dan kelembaban, serta (ii) keandalan pembacaan nirkabel (reading robustness) terhadap variasi jarak baca dan sudut pembacaan. Parameter S11 dan S21 digunakan sebagai indikator perubahan karakteristik resonansi frekuensi tinggi akibat interaksi material dengan analit, bukan sebagai parameter sensing itu sendiri. Respon sensor bersifat near real-time, di mana perubahan sifat listrik nanokomposit dapat terdeteksi secara langsung melalui pergeseran dan atenuasi sinyal resonansi tanpa proses pasca pengolahan yang kompleks.&#13;
Tahap pertama penelitian mencakup sintesis nanokomposit CuNP-rGO-PANI serta karakterisasi struktural, morfologi, dan interaksi kimia antar komponen. Hasil raman menunjukkan peningkatan rasio ID/IG akibat interaksi CuNP dan proses termal, sementara analisis SEM mengonfirmasi dispersi CuNP berukuran nano dengan ukuran ekuivalen rata-rata 11,48 nm dalam matriks rGO-PANI. Hasil FTIR mengindikasikan adanya interaksi kimia antar komponen, dan stabilisasi CuNP dalam matriks PANI terbukti membantu mengurangi restacking grafena. Hasil ini menegaskan bahwa nanokomposit CuNP-rGO-PANI memiliki potensi tinggi sebagai material tunggal multifungsi yang mampu berperan sekaligus sebagai elemen konduktif dan sensitif dalam sensor cetak chipless RFID.&#13;
Tahap kedua berfokus pada optimasi formulasi tinta konduktif menggunakan pendekatan response surface methodology-central composite design (RSM-CCD). 	Hasil penelitian menunjukkan formulasi terbaik pada 74,52% material, 17,40% pengikat, dan waktu curing 10,09 menit, menghasilkan konduktivitas sekitar 5,03 S/cm dan resistansi sekitar 20,12 O dengan validitas model yang tervalidasi secara statistik.&#13;
Tahap ketiga mengevaluasi kinerja sensor cetak terhadap berbagai analit dan performa pembacaan frekuensi tinggi untuk aplikasi chipless RFID. Sensor menunjukkan resonansi yang stabil di sekitar 8,58 GHz dengan penurunan tajam parameter S11 dan S21, serta mempertahankan respon resonansi yang andal hingga jarak baca sekitar 6,2 cm dan toleransi sudut pembacaan hingga ±30°. Sensor juga menunjukkan kemampuan multi-analyte sensing yang selektif, dengan respons paling kuat terhadap NH3 melalui mekanisme dedoping PANI yang diperkuat oleh rGO dan CuNP, sementara respons terhadap etanol dan kelembaban terdeteksi secara reproducible dan stabil. Secara keseluruhan, perubahan sifat listrik nanokomposit CuNP-rGO-PANI terbukti dapat dimanfaatkan secara efektif sebagai mekanisme sensing dalam sistem pembacaan nirkabel berbasis gelombang mikro untuk aplikasi sensor cetak chipless RFID.; Conductive ink-based printable sensors play an important role in supporting digital transformation in the manufacturing and logistics sectors, particularly in smart packaging for sensitive products such as food, pharmaceuticals, and electronics. These sensors enable the integration of identification and environmental monitoring functions wirelessly at low cost and with high flexibility. The chipless RFID approach is a promising solution because it eliminates the need for active chips, making it more suitable for mass production and passive internet of things (IoT) systems. However, the complexity of resonator design and the limitations of printable conductive materials remain major challenges, requiring the development of functional materials and ink formulations that are simple, stable, and easily scalable through screen printing methods.&#13;
Graphene-based materials have superior electrical and mechanical properties, but the tendency for reduced graphene oxide (rGO) sheets to restack can reduce their performance. In this study, polyaniline (PANI) acts as both a polymer matrix and a main spacer that prevents rGO restacking and forms a porous structure, while copper nanoparticles (CuNP) function as conductive bridges that shorten the electron percolation path and increase electrical conductivity. The CuNP-rGO-PANI combination is designed as a multifunctional material that acts as both a conductive element and a sensitive element in chipless RFID printed sensors.&#13;
This study focuses on the development of a printable chipless RFID sensor based on CuNP-rGO-PANI nanocomposites and the evaluation of its performance from two main perspectives: (i) multi-analyte sensing capability, as reflected by the sensor responses to ammonia (NH3), ethanol, and humidity; and (ii) the robustness of wireless readout under variations in reading distance and reading angle. The S11 and S21 parameters are employed as indicators of changes in high-frequency resonance characteristics resulting from interactions between the nanocomposite material and target analytes, rather than serving as direct sensing parameters. The sensor exhibits a near real-time response, wherein changes in the electrical properties of the nanocomposite are directly detected through resonance shifts and signal attenuation without the need for complex post-processing.&#13;
The first stage of the study involved the synthesis of CuNP-rGO-PANI nanocomposites and comprehensive characterisation of their structural, morphological, and chemical properties. Raman spectroscopy revealed an increase in the ID/IG ratio, attributed to interactions between CuNPs and rGO as well as thermal processing effects. SEM analysis confirmed the homogeneous dispersion of nano-sized CuNPs within the rGO-PANI matrix, with an average equivalent particle size of 11.48 nm. FTIR spectra indicated the presence of chemical interactions among the composite components, while stabilisation of CuNPs within the PANI matrix was found to mitigate graphene restacking. These findings demonstrate that the CuNP-rGO-PANI nanocomposite is a promising multifunctional single material capable of simultaneously serving as both conductive and sensitive elements in printed chipless RFID sensors.&#13;
The second stage focused on optimising the conductive ink formulation using a Response Surface Methodology–Central Composite Design (RSM–CCD) approach. The optimal formulation was determined to consist of 74.52% nanocomposite material, 17.40% binder, and a curing time of 10.09 minutes, yielding a conductivity of approximately 5.03 S/cm and an electrical resistance of approximately 20.12 O. The developed quadratic model exhibited strong statistical validity, confirming the reliability of the optimisation results.&#13;
The third stage evaluated the performance of the printed sensor in response to various analytes as well as its high-frequency wireless readout characteristics for chipless RFID applications. The sensor exhibited a stable single resonance at approximately 8.58 GHz, accompanied by sharp decreases in the S11 and S21 parameters. Reliable resonance behaviour was maintained at reading distances of up to approximately 6.2 cm, with angular tolerance extending to ±30°. In addition, the sensor demonstrated selective multi-analyte sensing performance, with the strongest and fastest response observed for NH3, attributed to a PANI dedoping mechanism synergistically enhanced by rGO and CuNPs. Responses to ethanol and humidity were also detected in a reproducible and stable manner. Overall, the observed changes in the electrical properties of the CuNP–rGO–PANI nanocomposite confirm its effective utilisation as a sensing mechanism in microwave-based wireless readout systems for printed chipless RFID sensor applications.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172892</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>REKAYASA SISTEM PEMBIAYAAN RANTAI PASOK KOPI DALAM KERANGKA TRANSFORMASI DIGITAL BERBASIS SISTEM TERDISTRIBUSI DI PULAU LOMBOK</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172889</link>
<description>REKAYASA SISTEM PEMBIAYAAN RANTAI PASOK KOPI DALAM KERANGKA TRANSFORMASI DIGITAL BERBASIS SISTEM TERDISTRIBUSI DI PULAU LOMBOK
Hidayat, Agriananta Fahmi
Pembiayaan rantai pasok kopi di Pulau Lombok masih banyak berjalan melalui hubungan informal dan mekanisme ijon. Dalam praktiknya, transaksi sering terjadi tanpa kontrak formal, tanpa verifikasi–validasi yang terdokumentasi, dan tanpa jejak audit yang konsisten. Akibatnya, bukti administratif mudah diperdebatkan, risiko moral hazard meningkat, dan ketidakpastian kualitas, kuantitas, waktu, serta pembayaran sulit dikendalikan. Kondisi ini membuat pembiayaan formal tersendat karena aktor yang berkepentingan tidak memiliki bukti yang cukup kuat untuk mendukung keputusan pembiayaan.&#13;
Disertasi ini mengembangkan rekayasa sistem pembiayaan dalam kerangka transformasi digital berbasis sistem terdistribusi untuk memperkuat tata kelola pembiayaan. Sistem terdistribusi diperlukan karena bukti pembiayaan tersebar lintas organisasi, sehingga dibutuhkan informasi yang dapat disepakati bersama, sulit dimanipulasi, dan dapat diaudit kapan pun dibutuhkan. Karena itu, pembayaran tetap dilakukan melalui bank konvensional agar kompatibel dengan praktik berjalan, sementara sistem terdistribusi diposisikan sebagai trust/proof layer yang merekam bukti administrasi dan bukti proses secara konsisten lintas aktor. Tujuan penelitian ini adalah merekayasa sistem informasi tata kelola pembiayaan rantai pasok kopi berbasis koperasi yang mengikat proses TO-BE, kontrak berbasis risiko, diagnosis kesiapan (TOE–TTI), dan uji kelayakan operasional proof layer sehingga keputusan pembiayaan menjadi berbasis bukti dan dapat diaudit lintas aktor tanpa memindahkan settlement dana ke on-chain.&#13;
Tahap awal penelitian memetakan proses pembiayaan eksisting menggunakan Business Process Model and Notation (BPMN) untuk menggambarkan aktor, aktivitas, dan aliran informasi sesuai kondisi lapangan. Selanjutnya, analisis kesenjangan supply chain finance (SCF) membandingkan kondisi aktual dengan karakteristik ideal SCF untuk menetapkan titik intervensi yang paling kritis. Rancangan BPMN TO-BE kemudian menempatkan koperasi sebagai pusat koordinasi pembiayaan sekaligus pusat koordinasi bukti, dengan langkah wajib verifikasi, validasi, dan perekaman bukti sebelum keputusan pembiayaan diambil. Uji persepsi multi-aktor digunakan untuk menilai penerimaan rancangan pada aspek proses, pembiayaan, kontrak, dan tata kelola.&#13;
Hasil Tahap 1 menegaskan bahwa kendala utama bukan sekadar kekurangan modal, melainkan lemahnya tata kelola bukti dan aliran risiko. Pemetaan AS-IS memperlihatkan dominasi kontrol pembayaran dan harga oleh aktor perantara serta minimnya pembuktian yang dapat ditelusuri. Analisis kesenjangan SCF mengidentifikasi gap kelembagaan koperasi dan gap aliran risiko sebagai celah paling menentukan untuk membuka pembiayaan formal dan mendorong partisipasi investor. Pada uji persepsi, dukungan terhadap perubahan proses dan penguatan kontrak cenderung lebih kuat dibanding penerimaan terhadap pembagian risiko, sehingga desain governance perlu menekankan mekanisme bukti dan aturan yang jelas.&#13;
Tahap berikutnya merancang kontrak pembiayaan berbasis risiko sebagai rule-driven contract lifecycle yang mencakup assessment, negotiation, execution, dan monitoring. Cooperative score digunakan untuk memetakan profil risiko koperasi dan mengarahkan pemilihan menu kontrak A/B/C. Kinerja operasional dinilai melalui SLA multi-dimensi dan konsekuensi diaktifkan melalui aturan penalty, buyback, dan reward yang terukur. Validasi deterministik dan simulasi Monte Carlo digunakan untuk menguji stabilitas rancangan dan memetakan sebaran outcome serta indikator risiko di bawah ketidakpastian.&#13;
Kelayakan implementasi kemudian diuji melalui pengukuran kesiapan adopsi berbasis integrasi Technology, Organization, dan Environment (TOE) dan Trust, Transparency, dan Inclusion (TTI). Hasilnya menunjukkan kesiapan ekosistem berada pada level tinggi, namun dimensi transparency dan kesiapan investor menjadi titik lemah yang perlu ditangani secara spesifik. Pemetaan berbasis aktor menempatkan koperasi sebagai institusi paling siap untuk menjadi anchor implementasi, sedangkan investor memerlukan penguatan proposisi manfaat dan jaminan bukti yang dapat diverifikasi lintas peran.&#13;
Tahap akhir menutup penelitian dengan uji kelayakan operasional menggunakan simulasi discrete-event berbasis kerangka tiga pilar: QoS jaringan, kualitas evidence, dan dampak ekonomi. Pilar evidence menilai apakah bukti dapat berfungsi sebagai marker governance yang committed, valid, dan timely, sementara perubahan kapasitas approval dan disiplin bukti diuji untuk melihat batas kelayakan dan mode kegagalan tata kelola pada kondisi operasi yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rancangan kontrak berbasis risiko stabil (deterministik dan Monte Carlo), readiness ekosistem relatif tinggi namun transparency dan investor menjadi bottleneck, serta proof layer hanya layak ketika bukti memenuhi CVT dan approval gate tidak menimbulkan backlog; disertasi menghasilkan tiga luaran utama: model kontrak berbasis risiko, indeks kesiapan TOE–TTI, dan kerangka uji kelayakan tiga pilar untuk evaluasi end-to-end
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172889</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Model Pengembangan Rantai Nilai Global Karet Alam Indonesia: Pendekatan Sistem Dinamik</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172884</link>
<description>Model Pengembangan Rantai Nilai Global Karet Alam Indonesia: Pendekatan Sistem Dinamik
AGUSTINA, DWI SHINTA
Pengembangan rantai nilai karet alam Indonesia masih dihadapkan pada&#13;
berbagai permasalahan mulai dari rendahnya produktivitas kebun karet, posisi&#13;
tawar petani yang lemah, rendahnya harga karet yang diterima petani, serta&#13;
kurangnya keterkaitan sektor hulu dan sektor hilir sehingga nilai tambah yang&#13;
diperoleh masih rendah. Penelitian mengenai peningkatan kinerja rantai nilai karet&#13;
pada umumnya dianalisis secara deskriptif, bersifat parsial, dan hanya mencakup&#13;
pada satu waktu tertentu yang biasanya bersifat statis sehingga belum mampu&#13;
menjelaskan dinamika jangka panjang di dalam rantai nilai global karet alam. Oleh&#13;
sebab itu, diperlukan suatu studi yang dapat memotret perilaku, interaksi, dan&#13;
dinamika di dalam rantai nilai secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk:&#13;
(1) memetakan (mapping) rantai nilai global karet alam Indonesia; (2) menganalisis&#13;
tata kelola (governance) rantai nilai global karet alam di Indonesia; (3)&#13;
menganalisis posisi dan partisipasi industri karet alam Indonesia dalam rantai nilai&#13;
global karet; dan (4) menganalisis strategi upgrading rantai nilai global karet alam&#13;
Indonesia. Kebaruan dari penelitian yaitu (a) mengintegrasikan konsep rantai nilai&#13;
global dengan pendekatan sistem sehingga dapat memotret dinamika sistem secara&#13;
holistik; (b) analisis rantai nilai global dilakukan secara keseluruhan mulai dari&#13;
pemetaan aktor, aktivitas, aliran produk, nilai tambah, cakupan geografis, dan tata&#13;
kelola; (c) penelitian ini tidak hanya memotret rantai nilai karet dalam lingkup&#13;
regional tetapi juga menganalisis partisipasi dan posisi industri karet Indonesia&#13;
dalam cakupan global; serta (d) penelitian ini menghasilkan rekomendasi kebijakan&#13;
upgrading karet yang dianalisis secara kuantitatif menggunakan pendekatan sistem&#13;
dinamik mulai dari subsistem produksi, subsistem pengolahan, dan subsistem&#13;
perdagangan.&#13;
Penelitian dilakukan dengan metode survei dan focus group discussion (FGD)&#13;
di dua provinsi sentra karet di Indonesia yaitu Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi.&#13;
Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer&#13;
dikumpulkan dari 236 aktor rantai nilai yang meliputi 201 orang petani, 8 orang&#13;
pedagang perantara skala kecil, 12 orang pedagang perantara skala besar, 9 orang&#13;
pengurus Unit Pengolahan dan Pemasaran Bahan Olah Karet (UPPB), dan 6 orang&#13;
perwakilan pabrik. Selanjutnya, data sekunder diperoleh dari berbagai publikasi&#13;
yang relevan dengan kegiatan penelitian ini seperti publikasi ilmiah hasil penelitian&#13;
terdahulu, data statistik, dokumen, dan laporan serta sumber lainnya. Analisis&#13;
pemetaan rantai nilai dilakukan dengan analisis deskriptif secara kualitatif dan&#13;
kuantitatif menggunakan pendekatan making market work better for the poor&#13;
(M4P). Analisis tata kelola menggunakan skala Likert berdasarkan pendekatan&#13;
Gereffi yang mencakup lima tipe tata kelola yaitu market, modular, relational,&#13;
captive, dan hierarchy. Analisis posisi dan partisipasi industri karet Indonesia dalam&#13;
rantai nilai global menggunakan data MRIO (Multi Regional Input-Output) dari&#13;
ADB (Asian Development Bank) tahun 2015 dan 2022 dari 35 negara. Selanjutnya,&#13;
model strategi peningkatan menggunakan pendekatan sistem dinamik dianalisis&#13;
melalui beberapa tahapan penelitian termasuk artikulasi masalah, identifikasi sistem, perumusan model simulasi, validasi model, analisis sensitivitas, simulasi&#13;
model serta evaluasi kebijakan. Pemodelan sistem dinamik dianalisis menggunakan&#13;
Powersim Studio Academic (versi 10).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rantai nilai global karet alam Indonesia&#13;
terdiri dari lima aktivitas utama yaitu produksi, pasca panen dan pengolahan awal,&#13;
pemasaran, pengolahan lanjutan, dan perdagangan yang melibatkan beragam aktor&#13;
seperti petani skala kecil, UPPB/pasar lelang, pengumpul, pabrik karet remah,&#13;
eksportir, dan konsumen akhir. Setiap pelaku di sepanjang rantai nilai memiliki&#13;
aktivitas yang berbeda yang memberikan nilai tambah dan membedakan produk&#13;
karet alam. Tipe tata kelola rantai nilai karet alam dikategorikan sebagai tata kelola&#13;
modular dengan kompleksitas informasi tinggi, kodifikasi informasi tinggi, dan&#13;
kapabilitas pemasok tinggi. Rantai nilai ini menunjukkan cakupan geografis North-&#13;
South, yaitu produsen karet sebagian besar berada di bumi bagian selatan dan&#13;
konsumen karet alam sebagian besar berada di bumi bagian utara. Hasil analisis&#13;
partisipasi Indonesia di dalam rantai nilai global karet alam dunia menunjukkan&#13;
bahwa partisipasi industri karet Indonesia di pasar karet global pada tahun 2022&#13;
mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2015. Pada tahun 2015 Indonesia&#13;
berada pada peringkat 32 sedangkan pada tahun 2022 berada pada peringkat 28.&#13;
Secara keseluruhan, nilai partisipasi ke belakang (backward participation)&#13;
Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan nilai partisipasi ke depan (forward&#13;
participation). Hasil analisis menunjukkan bahwa industri karet Indonesia paling&#13;
banyak menggunakan input dari negara Cina, Jepang, Singapura, Korea, Thailand,&#13;
India, dan Malaysia. Selanjutnya, negara yang paling banyak menggunakan hasil&#13;
karet Indonesia adalah negara Amerika, Jepang, Korea, Cina, Jerman, dan India. Di&#13;
sisi lain, posisi industri karet Indonesia di pasar karet global mengalami penurunan,&#13;
yang semula berada pada kuadran II pada tahun 2015, bergeser menjadi kuadran IV&#13;
pada tahun 2022. Posisi Indonesia di kuadran IV ini menunjukkan bahwa industri&#13;
karet Indonesia memiliki keterkaitan ke depan dan ke belakang di bawah rata-rata&#13;
dunia. Penggunaan input yang kurang dari sisi backward linkage memengaruhi&#13;
kemampuan ekspor Indonesia dari sisi forward linkage sehingga baik dari sisi input&#13;
dan output mengalami pelemahan.&#13;
Hasil analisis sistem dinamik pada kondisi basis menunjukkan bahwa target&#13;
produksi karet alam sebesar 4,4 juta ton serta target volume ekspor sebesar 4,27 juta&#13;
ton pada tahun 2045 tidak tercapai. Rendahnya produktivitas, pertumbuhan&#13;
produksi yang lambat, luas areal yang terus berkurang, serta fluktuasi harga global&#13;
menjadi kendala utama dalam pengembangan rantai nilai global karet alam&#13;
Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan strategi terintegrasi untuk meningkatkan&#13;
produktivitas, keberlanjutan pasokan, dan kesejahteraan petani guna memperkuat&#13;
kinerja ekspor karet Indonesia. Upaya peningkatan kinerja rantai nilai global karet&#13;
alam Indonesia dilakukan melalui perumusan dan pengujian enam skenario&#13;
kebijakan berupa empat skenario tunggal dan dua skenario gabungan. Empat&#13;
skenario tunggal meliputi upgrading proses melalui peningkatan produktivitas dan&#13;
luas areal (skenario 1), upgrading produk melalui peningkatan mutu produk&#13;
(skenario 2), upgrading fungsi melalui peningkatan teknologi pengolahan lateks&#13;
(skenario 3), dan upgrading rantai melalui perubahan saluran rantai (skenario 4).&#13;
Hasil analisis menunjukkan bahwa skenario 6, yang mengintegrasikan seluruh&#13;
bentuk kebijakan upgrading yang dilakukan secara bersamaan, merupakan strategi&#13;
yang paling efektif dalam mendorong pengembangan rantai nilai global karet alam Indonesia. Implementasi skenario ini meliputi peningkatan produktivitas kebun,&#13;
perluasan areal tanam, perbaikan mutu bahan olah karet, adopsi teknologi&#13;
pengolahan yang lebih maju, serta optimalisasi pemilihan rantai pemasaran. Hasil&#13;
simulasi menunjukkan bahwa skenario terintegrasi tersebut mampu menghasilkan&#13;
capaian tertinggi pada indikator produksi karet alam, pendapatan petani, serta&#13;
kinerja ekspor, baik dari sisi volume maupun nilai, pada akhir periode analisis.&#13;
Dibandingkan dengan jenis upgrading lainnya, perbaikan pada aspek proses,&#13;
khususnya peningkatan produktivitas dan perluasan areal, memberikan pengaruh&#13;
yang lebih besar pada kondisi awal. Analisis sensitivitas lebih lanjut&#13;
mengindikasikan bahwa produktivitas kebun dan luas areal tanam merupakan&#13;
faktor paling menentukan dalam pencapaian target ekspor karet alam Indonesia,&#13;
yang kemudian diikuti oleh peningkatan mutu produk dan peningkatan teknologi&#13;
pengolahan.&#13;
Rumusan kebijakan untuk pengembangan rantai nilai global karet alam perlu&#13;
dilakukan secara menyeluruh di sepanjang rantai nilai, mulai dari sektor hulu&#13;
hingga sektor hilir. Hal ini tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan petani&#13;
dan pelaku usaha, tetapi juga memperkuat partisipasi dan posisi Indonesia di dalam&#13;
rantai nilai global karet alam. Kebijakan di sektor hulu meliputi peningkatan&#13;
produktivitas, perluasan areal tanam, dan perbaikan mutu bahan olah karet&#13;
merupakan strategi yang dapat diambil untuk menjamin keberlanjutan pasokan dan&#13;
daya saing karet alam di pasar global. Selanjutnya, pada sektor hilir, penguatan&#13;
kapasitas pengolahan, inovasi barang jadi karet, serta strategi pemasaran yang lebih&#13;
terintegrasi diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah dan posisi tawar karet&#13;
Indonesia di pasar global.; The development of the Indonesian natural rubber value chain is still faced&#13;
with various problems ranging from low productivity of rubber plantations, weak&#13;
bargaining position of farmers, low prices of rubber received by farmers, and the&#13;
lack of linkage between upstream and downstream sectors so that the added value&#13;
obtained is still low. Research on improving the performance of the rubber value&#13;
chain is still partial so that a study is needed that can comprehensively capture the&#13;
behavior, interactions, and dynamics within the value chain. This study aims to: (1)&#13;
map the global value chain of Indonesian natural rubber; (2) analyze the governance&#13;
of the global value chain of natural rubber in Indonesia; (3) analyze the position and&#13;
participation of the Indonesian natural rubber industry in the global value chain of&#13;
rubber; and (4) analyze the upgrading strategy of the global value chain of&#13;
Indonesian natural rubber. The novelty of this study is (a) integrating the concept&#13;
of the global value chain with a systems approach so that it can capture the&#13;
dynamics of the system holistically; (b) the analysis of the global value chain is&#13;
carried out as a whole starting from mapping actors, activities, product flows, added&#13;
value, geographic scope, and governance; (c) this study not only captures the rubber&#13;
value chain in the regional scope but also analyzes the participation and position of&#13;
the Indonesian rubber industry in the global scope; and (d) this research produces&#13;
recommendations for rubber upgrading policies which are analyzed quantitatively&#13;
using a dynamic systems approach starting from the production subsystem,&#13;
processing subsystem, and trade subsystem.&#13;
The research was conducted using survey and focus group discussion (FGD)&#13;
methods in two rubber-producing provinces in Indonesia, namely South Sumatra&#13;
and Jambi. The data used in this study include primary and secondary data. Primary&#13;
data were collected from 236 value chain actors, including 201 farmers, 8 smallscale&#13;
intermediary traders, 12 large-scale intermediary traders, 9 UPPB&#13;
administrators, and 6 factory representatives. Furthermore, secondary data were&#13;
obtained from various publications relevant to this research activity, such as&#13;
scientific publications of previous research results, statistical data, documents, and&#13;
reports, and other sources. Value chain mapping analysis was conducted using&#13;
qualitative and quantitative descriptive analysis using the M4P approach.&#13;
Governance analysis used a Likert scale based on the Gereffi approach, which&#13;
includes five types of governance: market, modular, relational, captive, and&#13;
hierarchy. Analysis of the position and participation of the Indonesian rubber&#13;
industry in the global value chain used MRIO (Multi Regional Input-Output) data&#13;
from the ADB in 2015 and 2022 from 35 countries. Furthermore, the improvement&#13;
strategy model using a dynamic systems approach was analyzed through several&#13;
research stages, including problem articulation, system identification, simulation&#13;
model formulation, model validation, sensitivity analysis, model simulation, and&#13;
policy evaluation. The dynamic systems modeling was analyzed using Powersim&#13;
Studio Academic (version 10). The research results show that the Indonesian global natural rubber value&#13;
chain consists of five main activities, namely production, post-harvest and initial&#13;
processing, marketing, further processing, and trade, involving various actors such&#13;
as small-scale farmers, UPPB/auction markets, collectors, crumb rubber factories,&#13;
exporters, and end consumers. Each actor along the chain has different value&#13;
activities that add value and differentiate natural rubber products. The natural&#13;
rubber value chain governance type is categorized as modular governance with high&#13;
information complexity, high information codification, and high supplier&#13;
capabilities. This value chain demonstrates a North-South geographic location, with&#13;
rubber producers predominantly located in the southern hemisphere and natural&#13;
rubber consumers predominantly in the northern hemisphere. The analysis of&#13;
Indonesia's participation in the global natural rubber value chain shows that the&#13;
participation of the Indonesian rubber industry in the global rubber market in 2022&#13;
has increased compared to 2015. In 2015, Indonesia was ranked 32nd, while in 2022&#13;
it was ranked 28th. Overall, Indonesia's backward participation value is higher than&#13;
its forward participation value. The analysis shows that the Indonesian rubber&#13;
industry uses the most inputs from China, Japan, Singapore, Korea, Thailand, India,&#13;
and Malaysia. In addition, the countries that use the most Indonesian rubber&#13;
products are the United States, Japan, Korea, China, Germany, and India. On the&#13;
other hand, the position of the Indonesian rubber industry in the global rubber&#13;
market has decreased, from being in quadrant II in 2015, shifting to quadrant IV in&#13;
2022. Indonesia's position in quadrant IV indicates that the Indonesian rubber&#13;
industry has forward and backward linkages below the world average. Insufficient&#13;
use of inputs from the backward linkage side effects Indonesia's export capabilities&#13;
from the forward linkage side so that both the input and output sides experience&#13;
weakness.&#13;
A dynamic system analysis under baseline conditions indicates that the&#13;
natural rubber production target of 4.4 million tons and the export volume target of&#13;
4.27 million tons by 2045 will not be achieved. Low productivity, slow production&#13;
growth, continuously decreasing planted area, and global price fluctuations are the&#13;
main obstacles in the development of the Indonesian natural rubber global value&#13;
chain. Therefore, an integrated strategy is needed to increase productivity, supply&#13;
sustainability, and farmer welfare to strengthen Indonesia's rubber export&#13;
performance. Efforts to improve the performance of the Indonesian natural rubber&#13;
global value chain are carried out through the formulation and testing of six policy&#13;
scenarios: four single scenarios and two combined scenarios. The four single&#13;
scenarios include process upgrading through increased productivity and area&#13;
(scenario 1), product upgrading through improved product quality (scenario 2),&#13;
functional upgrading through improved latex processing technology (scenario 3),&#13;
and chain upgrading through changes in chain channels (scenario 4). The analysis&#13;
results indicate that scenario 6, which integrates all forms of upgrading policies&#13;
implemented simultaneously, is the most effective strategy in encouraging the&#13;
development of the Indonesian natural rubber global value chain. The&#13;
implementation of this scenario includes increasing plantation productivity,&#13;
expanding planted areas, improving the quality of rubber raw materials, adopting&#13;
more advanced processing technologies, and optimizing the marketing chain.&#13;
Simulation results indicate that this integrated scenario is capable of producing the&#13;
highest achievements in natural rubber production indicators, farmer income, and export performance, both in terms of volume and value, at the end of the analysis&#13;
period. Compared with other types of upgrading, improvements in process aspects,&#13;
particularly productivity increases and area expansion, have a greater impact on&#13;
initial conditions. Further sensitivity analysis indicates that plantation productivity&#13;
and planted area are the most determining factors in achieving Indonesia's natural&#13;
rubber export target, followed by improvements in product quality and the&#13;
improvement of processing technology.&#13;
Policy formulation for the development of the global natural rubber value&#13;
chain needs to be comprehensive, spanning the entire value chain, from upstream&#13;
to downstream. This not only has the potential to increase the income of farmers&#13;
and business actors but also strengthen Indonesia's participation and position within&#13;
the global natural rubber value chain. Upstream policies, including increasing&#13;
productivity, expanding planting areas, and improving the quality of processed&#13;
rubber materials, are strategies that can be adopted to ensure the sustainability of&#13;
natural rubber supply and competitiveness in the global market. Furthermore, in the&#13;
downstream sector, strengthening processing capacity, innovation in finished&#13;
rubber products, and a more integrated marketing strategy are needed to increase&#13;
the added value and bargaining position of Indonesian rubber in the global market.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172884</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
