<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Faculty of Fisheries and Marine Science</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/26690</link>
<description/>
<pubDate>Tue, 14 Apr 2026 13:38:20 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-14T13:38:20Z</dc:date>
<item>
<title>PENELITIAN KURA-KURA MONCONG BABI DAN HERPETOFAUNA DI KORINDO GROUP 2023</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/142052</link>
<description>PENELITIAN KURA-KURA MONCONG BABI DAN HERPETOFAUNA DI KORINDO GROUP 2023
Kusrini, Mirza D.
Provinsi Papua merupakan salah satu bagian dari kepulauan Indonesia timur yang secara &#13;
astronomis memiliki panjang 2800 km dengan lebar 750 km dan terbentang dari garis khatulistiwa &#13;
hingga 12 LS dan 129-155 BT (Kartikasari et al. 2012). Letak astronomis yang demikian &#13;
menyebabkan wilayah Papua memiliki berbagai macam tipe ekosistem dan daerah biogeografis &#13;
(Iyai et al. 2020). Wilayah ini memiliki berbagai tipe ekosistem seperti ekosistem pantai, dataran &#13;
rendah, gua, pegunungan rendah, dan pegunungan tinggi (Kartikasari et al. 2012). Keunikan &#13;
ekosistem ini menjadi habitat yang ideal bagi kehidupan satwa endemik maupun eksotik. &#13;
Tingginya potensi keanekaragaman hayati yang dimiliki tersebut menyebabkan semakin tinggi &#13;
pula tantangan dalam mempertahankannya. Pemanasan global dan perusakan habitat akibat adanya &#13;
pembangunan menjadi ancaman terbesar terhadap kepunahan biodiversitas tersebut (Lovejoy dan &#13;
Hannah 2005).&#13;
Provinsi Papua memiliki sungai-sungai besar dengan lebar melebihi 50 m yang melewati &#13;
berbagai tipe lanskap, mulai dari kawasan urban, peri-urban, pertanian sampai hutan. Sungai sungai ini terhubung dengan rawa-rawa permanen maupun rawa banjir yang menjadi sumber air &#13;
utama bagi kehidupan di sekitarnya. Lanskap perairan tawar di Papua bagian selatan masuk ke &#13;
dalam ecoregion perairan tawar Southwest New Guinea –Trans Fly Lowland (Abell et al. 2008). &#13;
Kabupaten Digul yang terletak di propinsi Papua bagian selatan memiliki beberapa sungai besar. &#13;
Paling tidak terdapat sungai Digul yang kemudian bercabang menjadi sungai Uwin Merah atau &#13;
sungai Kao. &#13;
Sungai Digul merupakan sungai yang dalam dan lebar, yang memungkinkan kapal-kapal &#13;
besar masuk ke Boven Digul. Sungai Uwin merah lebih sempit dari sungai Digul namun memiliki &#13;
lebar lebih dari 50 m. Makin ke hulu, lebar sungai makin menyempit namun masih lebih lebar dari &#13;
30 m. Di kiri-kanan sungai ini adalah kawasan konsesi pengusahaan hutan dan hutan tanaman &#13;
milik Korindo Grup. Korindo Group di kabupaten Boven Digul terdiri dari 11 perusahaan dengan &#13;
bergerak di bidang pengelolaan hutan, perkebunan sawit dan tanaman industri. PT Inocin Abadi &#13;
merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan dan pemanfaatan hasil &#13;
hutan kayu hutan alam (HPH) di Provinsi Papua. Perusahaan ini berlokasi di Kampung Asiki, &#13;
Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. PT Inocin Abadi memiliki luas keseluruhan kurang &#13;
lebih 99,665 Ha yang terdiri atas berbagai tipe habitat berupa hutan lahan kering primer, hutan &#13;
lahan kering sekunder, hutan rawa primer, hutan rawa sekunder, belukar, belukar rawa, semak, &#13;
lahan terbuka, dan badan air (Jaya et al. 2022). Kawasan PT Inocin Abadi ini terbagi menjadi &#13;
beberapa wilayah RKT (Rencana Kinerja Tahunan). Setiap tahun RKT tersebut memiliki tipe &#13;
habitat dan tutupan lahan yang bervariasi. Kondisi kawasan setelah dilakukan penebangan berbeda &#13;
antara lahan yang baru ditebang dan sudah lama ditebang. Variasi tutupan lahan yang berbeda &#13;
menyebabkan tingkat keanekaragaman yang berbeda pula (Kwatrina et al. 2018). &#13;
Menurut Kartikasari et al. (2012), terdapat 150 jenis amfibi di Papua yang sebagian besar &#13;
masih belum diketahui jenisnya. Penelitian terkait keanekaragaman herpetofauna telah dilakukan &#13;
Krey dan Burwos (2019) di Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Penelitian selanjutnya &#13;
dilakukan oleh Indrayani et al. (2020) terkait keanekaragaman katak di Pegunungan Arfak, &#13;
Provinsi Papua Barat. Papua sebagai salah satu pulau besar, namun penelitian keanekaragaman khususnya amfibi di Papua belum banyak dilakukan, terutama di wilayah kabupaten dan wilayah &#13;
terbangun lainnya. Penelitian keanekaragaman amfibi di lokasi ini penting dilakukan untuk &#13;
mengetahui perbedaan keanekaragaman amfibi pada kawasan tebangan lama dan kawasan &#13;
tebangan baru sekaligus melihat data keanekaragaman amfibi dan reptil terbaru di Papua, terutama &#13;
di Kabupaten Boven Digoel dalam upaya manajemen dan konservasi. &#13;
Beberapa jenis satwa yang ada di sekitar sungai di areal Korindo Group dapat menjadi &#13;
spesies bendera (flagship species) yang penting untuk mempromosikan konservasi hidupan liar &#13;
kepada masyarakat, yaitu Kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta). Carettochelys &#13;
insculpta merupakan salah satu kura-kura yang jenisnya di Indonesia hanya terdapat di Papua &#13;
bagian selatan, menyebar dari wilayah Merauke sampai ke Kaimana. Saat ini, C. insculpta&#13;
dimasukkan ke dalam Apendix II CITES (Convention International Trade in Endangered Spesies &#13;
of Wild Flora and Fauna) (UNEP-WCMC, 2011) dengan status Endangered oleh The IUCN Red &#13;
List of Threatened Species (Eisemberg et al., 2018). Di Indonesia Carettochelys insculpta &#13;
merupakan satwa dilindungi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. &#13;
327/Kpts/Um/5/1978 dan dikuatkan pula oleh PP No. 7 Tahun 1999 serta PP Menteri Lingkungan &#13;
Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MenLHK/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan &#13;
Satwa yang Dilindungi. &#13;
Tekanan pada kura-kura moncong babi telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, &#13;
khususnya di Papua Barat (Indonesia) dan Papua New Guinea, terutama karena pertumbuhan &#13;
populasi manusia, kecenderungan yang lebih besar bagi pembangunan desa-desa di tepi sungai &#13;
setelah penghentian perang suku dan pengenalan teknologi baru (Alvarenga 2010), sedangkan &#13;
kegiatan pertanian dan drainase pada Daerah Aliran Sungai (DAS) di Australia Utara potensi &#13;
memberikan dampak serius bagi populasi kura-kura moncong babi (Georges et al. 2008). Pada &#13;
degradasi habitat kura-kura, Carriére dan Demers (2010) menyampaikan bahwa kehilangan tempat &#13;
berjemur alami, pertumbuhan rumput pada tepi, hilangnya vegetasi air, dan pembangunan &#13;
dermaga, dapat memberikan dampak buruk bagi berkurangnya populasi kura-kura Graptemys &#13;
geographica. &#13;
Penelitian kura-kura moncong babi yang dipublikasikan lebih banyak dilakukan di &#13;
Australia dan Papua New Guinea (Doody et al. 2000, Georges et al. 2008, Eisemberg 2005). Di &#13;
Indonesia, laporan mengenai Carettochelys insculpta di alam hanya ada di Sungai Vriendschap, &#13;
Asmat dan Kaimana sementara di DAS Digul tidak ada. Oleh karena itu, mulai tahun 2022 &#13;
dilakukan penelitian pendahuluan yang menganalisa perlu dilakukan penelitian lebih mendalam &#13;
mengenai ekologi, populasi dan pemanfaatan tradisional di kawasan ini. Namun demikian, untuk &#13;
melestarikan jenis ini perlu dilakukan pembinaan habitat secara baik. &#13;
Pemahaman tentang pergerakan dan home range kura-kura dan peran mereka dalam &#13;
komunitas akuatik dapat ditingkatkan lebih lanjut dengan studi menggunakan radio telemteri. &#13;
Peralatan radio telemetri merupakan salah satu teknik mengamati pergerakan satwa liar. Radio &#13;
telemetri tetap menjadi metode yang paling populer untuk menemukan hewan berulang kali (White &#13;
dan Garrott 1990). Teknik ini memungkinkan para peneliti untuk menjaga kontak dengan hewan &#13;
yang diteliti, memberikan kesempatan untuk menjawab berbagai pertanyaan mengenai biologi dan &#13;
konservasi hewan. Secara tradisional, telemetri radio sangat penting untuk menentukan ekologi &#13;
spasial suatu spesies, pergerakan dan penggunaan habitat. Ujvari dan Korsos (2000) meyatakan &#13;
bahwa radio telemetri mampu menghasilkan data ekologi yang tidak bisa didapatkan dengan &#13;
teknik pengamatan langsung tradisional, serta memungkinkan untuk mengukur data tersebut &#13;
dalam bentuk kuantitatif. Data yang diperoleh dari satwaliar yang dipantau berupa daerah jelajah, &#13;
aktivitas harian dan musiman, penggunaan substrat dan mikrohabitat yang diperlukan untuk konservasi in-situ satwaliar. Penggunaan telemetri ini menggunakan objek individu dari satwaliar &#13;
yang terpilih kemudian dianalisis data ekologinya (Rogers and White 2007). Selain itu penggunaan &#13;
radio telemetri dalam pengamatan langsung pergerakan satwaliar dianggap lebih efisien &#13;
dibandingan metode pengamatan langsung manual, karena penggunaan radio tracking dapat &#13;
menghasilkan data yang lebih akurat dibandingkan metode manual.&#13;
Menurut Doody (2009) Reptil menjadi subjek yang baik untuk telemetri radio karena &#13;
beberapa alasan. Pertama, reptil dewasa dari sebagian besar spesies cukup ukuran yang besar untuk &#13;
membawa pemancar dengan masa pakai baterai yang cukup untuk beberapa bulan pelacakan. &#13;
Kedua, permukaan keras beberapa reptil, seperti kura-kura dan buaya, memudahkan pemasangan &#13;
radio-tag dan tubuh panjang ular dan biawak sangat cocok untuk menanamkan radio-tag dan &#13;
antena terkait. Ketiga, reptil bersifat tertutup dan banyak yang tetap tidak aktif hampir sepanjang &#13;
hari atau musim. Dalam banyak kasus, pemahaman tentang biologi mereka hanya dapat &#13;
diungkapkan melalui radio telemetri. Beberapa penelitian menggunakan radio telemetri telah &#13;
dilakukan pada, kura-kura, penyu, mamalia, dan burung baik di Indonesia. Hasil dari penelitian &#13;
memberikan nilai positif terhadap upaya konservasi di Negara tersebut. Di Indonesia, penelitian &#13;
menggunakan radio telemetri dilakukan sejak 1986 (Crompton dan Andau 1986). Hingga saat ini, &#13;
penelitian menggunaan metode ini di Indonesia baru dilakukan untuk melihat pergerakan beberapa &#13;
jenis satwa liar saja seperti yang pernah dilakukan pada katak pohon jawa di Taman Nasional Gede &#13;
Pangrango oleh Siregar (2013), lemur oleh Tsuji et al. di Pangandaran (2019), poksai sumatera di &#13;
Sumatera Utara oleh Busina et al. (2018), pada kura-kura Ambon oleh Aini (2021).&#13;
Carettochelys insculpta (Kura-kura moncong babi, pig-nosed turtle) termasuk dalam famili &#13;
Carettochelyidae dan merupakan satu-satunya spesies dari famili ini yang masih tersisa di dunia. &#13;
Kura-kura ini merupakan salah satu jenis berukuran besar dengan sebaran terbatas di Selatan New &#13;
Guinea dan Australia Utara dengan populasi perkembangbiakan cukup baik terdapat di sungai &#13;
Daly pada aliran Alligator Timur dan Alligator Selatan (Doody et al. 2000; Georges dan Kennett &#13;
1989) dan di Indonesia (IUCN 2010) yang hanya terdapat di Papua bagian selatan, menyebar dari &#13;
wilayah Merauke sampai ke Kaimana. C. insculpta merupakan satwa reptil yang hampir seluruh &#13;
hidupnya selalu di dalam air (aquatic) dan hanya ke darat saat bertelur saja. Salah satu upaya &#13;
pelestariannya adalah melalui pembinaan habitat alami. Untuk dapat melakukan pembinaan habitat &#13;
secara baik, salah satunya diperlukan informasipergerakan dan home range. Dengan mengetahui &#13;
perilaku dan luas daerah jelajah tersebut maka dapat diketahui tindakan yang diperlukan dalam &#13;
pembinaan habitat. Informasi terkait pergerakan dan home range spesies C. insculpta di Indonesia &#13;
sangatlah kurang walau dengan status vulnerable pada daftar merah IUCN. Oleh karena itu, perlu &#13;
dilakukan penelitian mengenai pergerakan dan home range oleh kura-kura moncong babi. Dengan &#13;
mengetahui informasi terkait pergerakan dan home range serta informasi pendukung lainnya, maka &#13;
manajemen pengelolaan terhadap kelestarian spesies C. insculpta dapat dilakukan dengan baik. &#13;
Dalam upaya mendapatkan informasi terkait C. insculpta maka dalam penelitian ini perlu diketahui &#13;
pergerakan dan home range.
89 hlm.
</description>
<pubDate>Sun, 01 Jan 2023 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/142052</guid>
<dc:date>2023-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Changes in Freshness of Steak and Loin Tuna (Thunnus albacares) during 15 Day-chilled Storage</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/77173</link>
<description>Changes in Freshness of Steak and Loin Tuna (Thunnus albacares) during 15 Day-chilled Storage
I. Widiastuti; S. Putro; D. Fardiaz; W. Trilaksani; T. Inaoka
The present study was undertaken to assess the effect of chilled storage on the quality of steak and loin tuna by studying the changes in chemistry, microbiology and sensory attributes. Six fresh tuna unloaded in Pelabuhan Ratu, West Java, Indonesia were transported to Jakarta with proper icing. Upon arrival at the factory, the fish were carefully cut into steak and loin, followed by storage at chilled temperature (0-4°C) for 15 days in the laboratory. Changes in freshness were monitored by 3 days interval, including K-value, histamine, heavy metals, microbiology and sensory test. The initial values of K-value, histamine contents, total microbial count and histamine producing bacteria were 2.01-13.74%, 1.28-1.61 mg/100 g, 2.68-5.10 log CFU g-1 and 1.35-2.20 log CFU g-1 , respectively, whereas mercury and cadmium concentrations (markers of environmental pollution) were around the Indonesian standards. During chilled storage at 0-4°C for 15 days, the K-value of tuna steak constantly increased from 2.85-29.88% and the histamine content of it also increased from 1.41-5.60 mg/100 g while total microbial count and histamine producing bacteria fluctuated within the acceptable levels, i.e., 2.68-5.10 log CFU g-1 ; and 1.35-2.20 log CFU g-1 , respectively. However, the sensory scores by 7 trained panelists gradually decreased with storage time and both steak and loin tuna were judged as not fresh after 15 days of chilled storage.
</description>
<pubDate>Tue, 01 Jan 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/77173</guid>
<dc:date>2013-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>The Use of Passive Filtration for Optimization of Magnesol XL Function for Improving the Quality of Sardinella lemuru Oil</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/77157</link>
<description>The Use of Passive Filtration for Optimization of Magnesol XL Function for Improving the Quality of Sardinella lemuru Oil
Suseno S.H; Tajul A.Y; Wan Nadiah, W.
Factors important to alkali refining operation of fish oil are optimum soapstock separation to get maximum on removal free fatty acid (FFA) and bleaching. This paper discusses the use of centrifuge and whatman filter paper to get optimum condition magnesol XL for removing polar compound of fish oil alkali refining. The best treatment for soapstocks removal was centrifugation at 15,000 rpm for 2 hours, with yield of neutral fish oil by 82.53%, then for passive filtration using whatman grade no. 54 filter paper could remove soapstocks was 77.63% of alkali fish oil yield. The use of passive filter treatment, optimum conditions to reduce FFA of sardine alkali refining was centrifugation at 5000 rpm for 60 minute, removing 69.92% of FFA. The combination of passive filtration using centrifugation at 5000 rpm for 30 minutes with depth filtration using 1% magnesol XL are the best treatment FFA reduction by 91.05%. At all treatment showed significant (p≤0.05) for Σ SFA, Σ MUFA and Σ PUFA of fatty acid.
</description>
<pubDate>Sat, 01 Jan 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/77157</guid>
<dc:date>2011-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>The Effect of Gelling Agent Concentration on the Characteristic of Gel Produced From the Mixture of Semi-refined Carrageenan and Glukomannan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/77156</link>
<description>The Effect of Gelling Agent Concentration on the Characteristic of Gel Produced From the Mixture of Semi-refined Carrageenan and Glukomannan
Kaya, Adrianus O W; Suryani, Ani; Santoso, Joko; Rusli, Meika Syahbana
Carrageenan and konjac glucomannan mixture is synergistic in producing a gel with high gel strength, good and elastic texture, as well as low syneresis. The synergistic effect is a very crucial factor in the utilization of carrageenan and konjac glucomannan mixture extensively for both food and non-food purposes. The use of these two types of polysaccharides can also reduce dependence on imported gelling agents such as locust bean gum. This study aims to produce such concentration of semi-refined carrageenan and glucomannan mixture as best gelling agents by evaluating the physical properties of the resulted gel mixture in terms of gel strength, hardness, rigidity, syneresis, and gel micro structure. The experimental design used in this study is completely randomized design with two factors to compare namely proportion ratio of gel-forming material and concentration of gel-forming material. Data is then processed using analysis of variance and the Tukey’s test. The results show that the concentration of gel-forming material 7% in comparison with semi-refined carrageenan and glucomannan mixture of 1: 1 has the highest gel strength value of 3361.14 g/cm2; lowest syneresis value of 0.7%, with such dense and compact gel matrix form.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2015 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/77156</guid>
<dc:date>2015-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
