<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Master Final Assignments</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/26</link>
<description>Master Final Assignments of IPB's master student</description>
<pubDate>Wed, 07 Oct 2026 23:49:39 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-10-07T23:49:39Z</dc:date>
<item>
<title>Pengembangan Metode Adaptive Neighborhood Representative Plus (ANR?) untuk Peningkatan Performa Deteksi Outlier</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180076</link>
<description>Pengembangan Metode Adaptive Neighborhood Representative Plus (ANR?) untuk Peningkatan Performa Deteksi Outlier
Abdullah, Adib Roisilmi
Deteksi outlier bertujuan mengidentifikasi objek yang memiliki pola berbeda dari&#13;
mayoritas pengamatan. Metode berbasis k-nearest neighbors mampu menangkap&#13;
struktur ketetanggaan antarobjek, tetapi kinerjanya sensitif terhadap pemilihan nilai&#13;
. Metode yang hanya menggunakan skor individual juga dapat mengabaikan&#13;
informasi pada tingkat kelompok. Penelitian ini bertujuan mengembangkan&#13;
Adaptive Neighborhood Representative Plus (ANR?) melalui integrasi K-Finder&#13;
based on Neighborhood Consistency (KFC) dan Neighborhood Representative Plus&#13;
(NR?). Kinerja ANR? kemudian dievaluasi menggunakan data referensi. Metode&#13;
tersebut selanjutnya diterapkan pada data SUSENAS Maret 2024 Provinsi Jawa&#13;
Barat.&#13;
&#13;
ANR? menggunakan KFC untuk memilih nilai k secara adaptif berdasarkan&#13;
konsistensi struktur ketetanggaan. Objek representative dibentuk melalui iterative&#13;
medoid-shift. Skor ANR? diperoleh dengan menggabungkan skor lokal setiap objek&#13;
dan skor global dari objek representative. Kinerja metode dievaluasi pada 14&#13;
dataset referensi menggunakan AUC-ROC dan dibandingkan dengan KFCS serta&#13;
NR? rujukan. KNN digunakan sebagai detektor utama, sedangkan LOF, ODIN, dan&#13;
MOD+ digunakan untuk menilai konsistensi hasil antardetektor. Weighted ANR?&#13;
juga dianalisis sebagai oracle upper bound untuk menilai potensi pembobotan skor&#13;
lokal dan global.&#13;
&#13;
Evaluasi pada delapan dataset yang dapat dibandingkan menunjukkan rata-rata&#13;
AUC ANR? sebesar 0,733 dibandingkan 0,680 pada KFCS rujukan. ANR?&#13;
menghasilkan AUC lebih tinggi pada enam dari delapan dataset tersebut.&#13;
Perbandingan dengan NR? rujukan menunjukkan rata-rata AUC ANR? sebesar&#13;
0,831 dan NR? sebesar 0,812 pada sebelas dataset. ANR? menghasilkan AUC lebih&#13;
tinggi pada lima dataset. Weighted ANR? menghasilkan rata-rata AUC 0,798&#13;
dibandingkan 0,775 pada ANR? utama di 14 dataset. Hasil tersebut menunjukkan&#13;
bahwa kontribusi skor lokal dan global berbeda pada setiap dataset sehingga&#13;
perbedaan kinerja ANR? tetap bergantung pada karakteristik data.&#13;
&#13;
ANR? selanjutnya diterapkan pada 26.012 rumah tangga SUSENAS Maret 2024&#13;
Provinsi Jawa Barat. Analisis menggunakan lima peubah, yaitu pengeluaran&#13;
makanan per kapita, pengeluaran nonmakanan per kapita, konsumsi kalori per&#13;
kapita, konsumsi protein per kapita, dan jumlah anggota rumah tangga. Seluruh&#13;
peubah kemudian distandardisasi menggunakan z-score sebelum pembentukan&#13;
struktur neighborhood. Pemilihan k menghasilkan nilai 10 untuk KNN, 21 untuk&#13;
LOF, 52 untuk ODIN, dan 20 untuk MOD+. KNN sebagai detektor utama&#13;
membentuk 2.055 objek representative melalui delapan iterasi.&#13;
&#13;
Penerapan Two-Stage Thresholding pada skor ANR?-KNN menghasilkan ambang&#13;
akhir sebesar 1,790 dan mengidentifikasi 1.932 rumah tangga atau 7,43% sebagai&#13;
kandidat outlier. Kandidat tersebut terdiri atas 1.538 Global-like atau 79,61%, 320&#13;
Local-like atau 16,56%, dan 74 Collective-like atau 3,83%, sedangkan kategori&#13;
Others tidak ditemukan. Perbandingan antardetektor menunjukkan kesesuaian&#13;
terbesar antara KNN dan MOD+ dengan indeks Jaccard sebesar 0,806 dan korelasi&#13;
peringkat Spearman sebesar 0,978. Sebanyak 603 rumah tangga memperoleh&#13;
dukungan sedikitnya tiga detektor dan 75 di antaranya ditetapkan sebagai kandidat&#13;
oleh seluruh empat detektor.&#13;
&#13;
Profil kandidat menunjukkan bahwa perbedaan terhadap nonkandidat terutama&#13;
terdapat pada dimensi pengeluaran. Rata-rata pengeluaran nonmakanan dan&#13;
makanan per kapita kandidat masing-masing mencapai 6,520 dan 2,838 kali rata-&#13;
rata nonkandidat. Rasio rata-rata konsumsi protein, jumlah anggota rumah tangga,&#13;
dan konsumsi kalori masing-masing sebesar 1,510, 0,824, dan 1,315. Perbedaan&#13;
pada konsumsi gizi dan ukuran rumah tangga relatif lebih kecil. Hasil tersebut&#13;
menunjukkan bahwa kandidat terbentuk dari kombinasi karakteristik dalam ruang&#13;
multivariat. Kandidat tersebut tidak dapat dijelaskan oleh satu peubah secara&#13;
terpisah.&#13;
&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ANR? dapat mengintegrasikan pemilihan&#13;
neighborhood adaptif dengan informasi keterpencilan pada tingkat objek dan objek&#13;
representative. Metode ini menunjukkan kinerja pemeringkatan outlier yang secara&#13;
rata-rata lebih tinggi pada data referensi, meskipun tidak pada seluruh struktur data.&#13;
Penerapan pada SUSENAS menunjukkan bahwa ANR? dapat digunakan sebagai&#13;
kerangka screening untuk memprioritaskan rumah tangga dengan pola multivariat&#13;
yang tidak biasa. Kandidat yang diperoleh dari data tanpa label tetap memerlukan&#13;
penelaahan substantif dan tidak dapat langsung diperlakukan sebagai outlier&#13;
terverifikasi.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180076</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Efektivitas Fly Ash dalam Menyerap CO2 dari Dekomposisi Bahan Organik di Ultisol</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180075</link>
<description>Efektivitas Fly Ash dalam Menyerap CO2 dari Dekomposisi Bahan Organik di Ultisol
Lorinanggarani, Ray Harmida
Penyelesaian masalah pemanasan global memerlukan upaya untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) secara signifikan. Indonesia pada tahun 2030 berkomitmen menurunkan emisi GRK sebesar 31,89% secara mandiri, 43,20% bila dengan bantuan international dari baseline emisi tahun 2010. Sektor pertanian termasuk dalam sektor prioritas dalam penargetan tersebut. Salah satu sumber utama emisi CO2 dari kegiatan pertanian adalah proses dekomposisi bahan organik oleh mikrob tanah. Namun pemberian bahan organik penting untuk dilakukan karena dapat memperbaiki sifat tanah baik secara biologi, kimia dan fisika, terutama pada tanah dengan tingkat kesuburan yang rendah seperti Ultisol. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan yang dapat mempertahankan manfaat pemberian bahan organik sekaligus menekan pelepasan CO2 selama proses dekomposisi. Salah satu material yang mampu memperbaiki sifat kimia Ultisol sekaligus menjadi material mitigasi penangkapan CO2 pada tanah, yaitu fly ash. Fly ash bersifat alkalis dan mengandung oksida seperti CaO, dan MgO dan lainnya. Kedua oksida tersebut mampu bereaksi dengan CO2 yang dihasilkan sehingga CO2 yang akan kembali ke atmosfer akan menjadi mineral karbonat yang stabil di dalam tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mempelajari pengaruh pemberian fly ash dan bahan organik terhadap fluks CO2 dari proses dekomposisi bahan organik di Ultisol. (2) Mengetahui bagaimana dinamika fluks CO2 pada interaksi dari pemberian fly ash dan bahan organik, dan (3) Mengkaji evektivitas dari fly ash dalam menangkap CO2 dari dekomposisi bahan organik di Ultisol.&#13;
?Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Dapartemen Ilmu Tanah Sumberdaya Lahan IPB. Percobaan dilakukan dengan menginkubasi tanah yang diberi perlakuan fly ash dan bahan organik menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua faktor, yaitu dosis fly ash (F1 = Tanpa fly ash, F2 = fly ash 2,17 g.kg-1, F3 = fly ash 4,16 g.kg-1, dan F4 = fly ash 8,7 g.kg-1) dan jenis bahan organik (tanpa bahan organik, jerami padi, jagung dan pukan sapi masing-masing 8,7 g.kg-1). Penelitian ini terdiri dari 16 kombinasi perlakuan dan masing-masing kombinasi perlakuan memiliki tiga ulangan, sehingga diperoleh 48 unit percobaan. Campuran tanah, bahan organik, dan fly ash diinkubasi pada suhu 25-28 °C dengan kelembaban dipertahankan mendekati 80% kapasitas lapang. Wadah inkubasi yang digunakan pada penelitian ini menggunakan paralon PVC dengan panjang 30 cm dan diameter 4 inci. Tanah dimasukkan kedalam paralon sampai 20 cm. Pengukuran Fluks CO2 setiap unit percobaan diukur pada hari ke 1, 5, 13, 21, 35, 49, dan hari ke 70 inkubasi menggunakan Li-Cor Li-830. Akumulasi emisi CO2 selama inkubasi dihitung menggunakan metode trapesium. Data dianalisis melalui uji normalitas residual Shapiro-Wilk. Data yang tidak berdistribusi dengan normal dianalisis menggunakan Kruskal-Wallis dan uji lanjut Mann-Whitney U.&#13;
?Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian fly ash tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap fluks CO2 yang dihasilkan. Pada perlakuan pukan sapi menghasilkan fluks CO2 paling rendah dibandingkan dengan perlakuan berangkasan jagung dan jerami padi. Sedangkan pada pemberian bahan organik memberikan pengaruh yang nyata pada setiap hari pengamatan. Dinamika fluks CO2 yang dihasilkan menunjukkan fluks CO2 pada awal inkubasi merupakan fluks tertinggi lalu menurun seiring dengan waktu inkubasi, pada perlakuan tanpa bahan organik stabilnya fluks CO2 yang dihasilkan pada hari ke 21, sedangkan pada perlakuan yang diberikan bahan organik menghasilkan fluks CO2 yang stabil pada hari ke 35. Perlakuan tanpa bahan organik dan pukan sapi memiliki pola dinamika yang sama sedangakan pola yang sama lainnya dihasilkan pada perlakuan jerami padi dan berangkasan jagung. Akumulasi emisi CO2 selama 70 hari inkubasi menunjukkan respon yang berbeda pada setiap jenis bahan organik terhadap dosis fly ash. Dosis fly ash dalam menangkap CO2 yang dihasilkan berbeda beda pada setiap bahan organik, Dosis fly ash 2,17 g.kg-1 menangkap CO2 terendah pada perlakuan berangkasan jagung, dosis fly ash 4,16 g.kg-1 pada perlakuan pukan sapi dan dosis fly ash 8,7 g.kg-1 terendah menghasilkan akumulasi emisi CO2 untuk perlakuan jerami padi. Karakteristik kimia setelah 70 hari inkubasi menunjukkan variasi kandungan C-organik, N-total, dan rasio C/N pada setiap kombinasi perlakuan. Kandungan C-organik tidak menunjukkan pola perubahan yang konsisten seiring dengan meningkatnya dosis fly ash yang diberikan. Kandungan N-total juga tidak menunjukkan perbedaan jauh pada setiap kombinasi perlakuan, kandungan yang dihasilkan masih dalam kadar yang sangat rendah sampai rendah. Sedangkan rasio C/N yang dihasilkan menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan pada jerami padi memiliki C/N paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan pukan sapi dan berangkasan jagung.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180075</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Kepemimpinan Perempuan dalam Menghadapi Glass Ceiling pada Industri Kesehatan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180070</link>
<description>Kepemimpinan Perempuan dalam Menghadapi Glass Ceiling pada Industri Kesehatan
Seruni, Ainiyya Hana Pathi
Fenomena kesetaraan gender dalam dunia kerja global baru mencapai 68%. Representasi perempuan pada industri kesehatan cenderung menurun, mulai dari posisi entry level hingga tingkat eksekutif. Kondisi ini menunjukkan adanya fenomena glass ceiling yang menghambat perempuan untuk mencapai posisi kepemimpinan strategis. Penelitian mengenai kepemimpinan perempuan di industri kesehatan relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan penelitian, aspek-aspek dan gaya kepemimpinan, indikator kepemimpinan perempuan pada industri kesehatan, serta langkah-langkah calon pemimpin perempuan dalam menghadapi glass ceiling pada Industri Kesehatan. &#13;
Penelitian ini berlangsung sejak Bulan Oktober 2025 hingga Bulan September 2026 dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan indepth interview terhadap sembilan narasumber serta studi literatur. Sembilan narasumber merupakan perwakilan tiap sub sektor. Metode analisis yang digunakan meliputi Systematic Literature Review (SLR), thematic analysis, dan Interpretive Structural Modeling (ISM)-MICMAC. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa riset tentang kepemimpinan perempuan telah meningkat dengan dominasi teori glass ceiling, dan area kesehatan termasuk penyumbang terkecil pada riset ini. Aspek-aspek gaya kepemimpinan, yaitu kemampuan komunikasi, pemikiran strategis, kecerdasan emosional, resiliensi, dan adaptabilitas. Gaya kepemimpinan yang dihasilkan cenderung mengarah kepada gaya kepemimpinan transformasional yang terbentuk dari integrasi lima aspek tersebut. Indikator keberhasilan pemimpin perempuan di industri kesehatan merupakan sebuah proses keberhasilan mengatasi faktor struktural dan sosial-budaya, pengembangan kompetensi dengan modal relasional, dan berakhir dengan adanya kebijakan, teknologi, serta hard work. Langkah-langkah yang dapat dilakukan bagi calon pemimpin perempuan untuk bisa menempati posisi kepemimpinan di antaranya, yaitu mengikuti program sertifikasi atau pelatihan komunikasi untuk melatih kemampuan berkomunikasi, membangun personal branding serta keberanian menyampaikan ide dalam forum strategis, dan mengembangkan kompetensi diri dengan cara mengikuti pelatihan. Organisasi sebagai wadah perempuan juga diharapkan dapat menerapkan konsep Diversity, Equity, and Inclusivity (DEI), mengevaluasi serta audit kesetaraan karier secara berkala, serta menciptakan kebijakan yang mendukung keseimbangan kerja dan keluarga, terutama bagi keluarga dual-career. Dukungan penuh dari keluarga terutama orang tua, suami, dan anak juga merupakan faktor penting bagi calon pemimpin perempuan agar mampu menghadapi glass ceiling, khususnya di industri kesehatan.; Gender equality in the global workforce has only reached 68%. Women’s representation in the healthcare industry tends to decline across all levels, from entry-level positions to executive roles. This situation indicates the existence of a glass ceiling that prevents women from reaching strategic leadership positions. On the other hand, research on women’s leadership in the healthcare industry remains relatively limited. Therefore, this study aims to analyze the development of research, leadership styles, and indicators of women’s leadership in the healthcare industry, while also providing steps taken by aspiring women leaders to navigate the glass ceiling in the healthcare industry. &#13;
This study was conducted from October 2025 to September 2026 using a qualitative approach. Data collection was carried out through in-depth interviews with nine informants and a literature review. The nine informants represented each subsector. The analytical methods used included a Systematic Literature Review (SLR), thematic analysis, and Interpretive Structural Modeling (ISM)-MICMAC. &#13;
Research findings indicate that studies on women’s leadership have increased, with the “glass ceiling” theory dominating the field, and the health sector was the smallest share of this research. Leadership style aspects, are communication skills, strategic thinking, emotional intelligence, resilience, and adaptability. The resulting leadership style is a transformational leadership style shaped by the integration of five competencies. Indicators of success for women leaders in the healthcare industry include successfully overcoming structural and sociocultural factors, developing competencies through relational capital, and ultimately implementing policies, technology, and hard work.. Steps taken by women leaders to navigate the glass ceiling in the healthcare industry are participating in certification programs or communication training to hone their communication skills, building a personal brand and the confidence to present ideas in strategic forums, and developing their competencies through training. Organizations serving as platforms for women are also expected to implement the DEI (Diversity, Equity, and Inclusivity) framework, periodically evaluate and audit career equity, and create policies that support work-life balance, particularly for dual-career families. Full support from family especially parents, spouses, and children are also a crucial factor for aspiring female leaders in overcoming the glass ceiling, particularly in the healthcare industry.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180070</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Pengaruh Sukuk terhadap Pertumbuhan Ekonomi dengan Peran Moderasi Financial Development</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180061</link>
<description>Analisis Pengaruh Sukuk terhadap Pertumbuhan Ekonomi dengan Peran Moderasi Financial Development
Taqiyyah, Asma
Meningkatnya permintaan dan penawaran sukuk menunjukkan pertumbuhan pasar sukuk. Sukuk dapat meningkatkan akumulasi modal dan inovasi sehingga akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Namun, penelitian terdahulu menunjukkan pengaruh yang tidak konsisten antara sukuk dengan pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, peningkatan financial development cenderung melambat setelah terjadinya krisis global 2008. Hal ini dapat memengaruhi kontribusi sukuk terhadap pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji pengaruh sukuk terhadap pertumbuhan ekonomi dengan financial development sebagai variabel moderasi. Penelitian ini menggunakan data panel dari 14 negara penerbit sukuk selama periode 2016–2023. Financial development disusun menggunakan metode Analisis Komponen Utama, sedangkan hubungan antarvariabel dianalisis menggunakan pendekatan data panel statis dan dinamis.&#13;
Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat financial development di negara sampel masih relatif rendah, dengan pola perkembangan yang beragam. Estimasi dari data panel statis dan dinamis menghasilkan temuan yang konsisten, yaitu belum terdapat bukti yang cukup bahwa sukuk, financial development, dan interaksi keduanya berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan sukuk belum mampu secara optimal mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama ketika tingkat financial development masih terbatas. Peningkatan financial development dapat difokuskan pada penguatan kredit domestik kepada sektor swasta dan nilai perdagangan saham sebagai indikator dengan bobot relatif terbesar pada masing-masing subindeks. Meskipun koefisien sukuk tidak signifikan, hasil tersebut tidak secara langsung menunjukkan bahwa sukuk tidak diperlukan, mengingat analisis deskriptif menunjukkan hubungan positif dengan pertumbuhan ekonomi pada tingkat financial development yang lebih tinggi, sehingga pengembangan pasar sukuk tetap perlu dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan sistem keuangan dan karakteristik masing-masing negara.; The increasing demand for and supply of sukuk indicates the expansion of the sukuk market. Sukuk can boost capital accumulation and innovation, thereby influencing economic growth. However, previous studies have reported inconsistent relationships between sukuk and economic growth. On the other hand, the pace of financial development has tended to slow down following the 2008 global financial crisis. This may affect the contribution of sukuk to economic growth. Therefore, this study examines the effect of sukuk on economic growth, with financial development serving as a moderating variable. This study uses panel data from 14 sukuk-issuing countries over the 2016–2023 period. Financial development is measured using Principal Component Analysis, while the relationships among variables are analyzed using both static and dynamic panel data approaches.&#13;
The results of the analysis show that the level of financial development in the sample countries remains relatively low, with varying patterns of development. Estimates from static and dynamic panel data yield consistent findings: there is insufficient evidence that sukuk, financial development, and the interaction between sukuk and financial development significantly effects economic growth. These findings suggest that the existence of sukuk instruments has not yet been able to optimally drive economic growth, particularly when the level of financial system development remains limited. Efforts to strengthen financial development may focus on improving domestic credit to the private sector and stock market value, which have the highest relative weights within their respective sub-indices. Although the sukuk coefficient is statistically insignificant, the findings do not imply that sukuk are unnecessary, as the descriptive analysis indicates a positive relationship between sukuk and economic growth at higher levels of financial development. Therefore, the development of the sukuk market may continue alongside efforts to strengthen the financial system while considering country-specific characteristics.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180061</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
