<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Undergraduate Final Assignments</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/25</link>
<description>Undergraduate Final Assignments of IPB's bachelor student</description>
<pubDate>Tue, 21 Jul 2026 15:08:00 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-07-21T15:08:00Z</dc:date>
<item>
<title>Penerapan Class Weight pada Model ResNet-50 untuk Klasifikasi Citra Penyakit Tanaman Padi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175295</link>
<description>Penerapan Class Weight pada Model ResNet-50 untuk Klasifikasi Citra Penyakit Tanaman Padi
Zahrani, Rahma Alya
Penyakit tanaman padi seperti bacterial blight, blast, brown spot, dan tungro kerap dijumpai di lapangan dan dapat menurunkan kuantitas maupun kualitas hasil panen sehingga identifikasi terhadap keempatnya menjadi penting untuk membatasi kerugian yang ditimbulkan. Dalam upaya identifikasi keempat penyakit tanaman padi tersebut dapat dilakukan dengan klasifikasi citra menggunakan model ResNet-50 dengan pendekatan transfer learning. Salah satu kendala selama proses pelatihan adalah distribusi kelas yang tidak seimbang. Untuk mengatasi hal ini, diterapkan &#13;
class weight pada fungsi loss agar kontribusi setiap kelas terhadap proses pelatihan menadi lebih proporsional. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penerapan class weight dan penggunaan algoritma optimasi Adam dan Stochastic &#13;
Gradient Descent with Momentum (SGD-M) terhadap kinerja model. Hasil menunjukkan bahwa skenario terbaik adalah optimizer Adam dengan class weight yang menghasilkan accuracy 98,99% dan f1-score 99,01%, dibandingkan optimizer &#13;
Adam tanpa class weight sebesar 98,85% dan optimizer SGD-M dengan class weight sebesar 98,60%.; Rice plant diseases such as bacterial blight, blast, brown spot, and tungro are commonly found in the field and can reduce both the quantity and quality of harvest yields, making identification of these four diseases important to limit the &#13;
resulting losses. Identification of these four rice plant diseases can be carried out through image classification using a ResNet-50 model with a transfer learning approach. One challenge encountered during the training process is class imbalance in the data distribution. To address this, class weight is applied to the loss function so that each class contributes more proportionally during training. This study aims to analyze the effect of applying class weight and using the Adam and Stochastic Gradient Descent with Momentum (SGD-M) optimization algorithms on model performance. The results show that the best-performing scenario is the Adam optimizer with class weight, achieving an accuracy of 98.99% and an F1-score of 99.01%, compared to Adam without class weight at 98.85% and SGD-M with class weight at 98.60%.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175295</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Perubahan Jumlah Makrofag Peritoneal terhadap Kandidat Vaksin Iradiasi Streptococcus agalactiae Kombinasi Nanopartikel Kitosan pada Mencit</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175294</link>
<description>Perubahan Jumlah Makrofag Peritoneal terhadap Kandidat Vaksin Iradiasi Streptococcus agalactiae Kombinasi Nanopartikel Kitosan pada Mencit
TANIHARJA, ALVIN
Mastitis subklinis yang disebabkan oleh Streptococcus agalactiae merupakan masalah penting pada sapi perah, sehingga diperlukan pengembangan vaksin yang mampu memicu aktivasi imun yang lebih efektif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi respons imun bawaan melalui dinamika makrofag peritoneal pada mencit setelah pemberian kandidat vaksin iradiasi S. agalactiae yang diformulasikan dengan nanopartikel kitosan sebagai adjuvan. Sebanyak 40 mencit galur DDY dibagi ke dalam sepuluh kelompok perlakuan dan diberikan injeksi intraperitoneal yang terdiri atas kontrol, nanopartikel kitosan, antigen iradiasi, serta kombinasi antigen–nanopartikel. Pengambilan cairan peritoneal dilakukan pada hari ke-1 dan ke-4 untuk menghitung jumlah makrofag sebagai indikator respons imun awal. Uji Two-Way ANOVA menunjukkan adanya interaksi signifikan antara jenis perlakuan dan waktu observasi (Sig. &lt; 0,001). Pada hari ke-1, kombinasi antigen iradiasi dengan nanopartikel kitosan menghasilkan aktivasi makrofag peritoneal tertinggi, menunjukkan potensi kitosan dalam meningkatkan imunogenisitas antigen iradiasi. Pada hari ke-4, kelompok yang menerima antigen mengalami penurunan jumlah makrofag yang konsisten dengan fenomena Macrophage Disappearance Reaction, sedangkan kelompok kontrol tetap stabil. Temuan ini menegaskan bahwa formulasi nanopartikel kitosan mampu memperkuat respons imun bawaan dan berpotensi dikembangkan sebagai adjuvan inovatif dalam kandidat vaksin iradiasi S. agalactiae untuk pencegahan mastitis subklinis.; Subclinical mastitis caused by Streptococcus agalactiae remains a major issue in dairy cows, highlighting the need for vaccines capable of inducing stronger immune activation. This study evaluated innate immune responses by examining the dynamics of peritoneal macrophages in mice following administration of an irradiated S. agalactiae vaccine candidate formulated with chitosan nanoparticles as an adjuvant. Forty DDY mice were allocated into ten treatment groups and received intraperitoneal injections consisting of a control, chitosan nanoparticles, irradiated antigen, and a combination of antigen–nanoparticles. Peritoneal fluid was collected on days 1 and 4 to quantify macrophage numbers as an indicator of early immune activation. Two-Way ANOVA revealed a significant interaction between treatment type and observation time (Sig. &lt; 0.001). On day 1, the combination of irradiated antigen with chitosan nanoparticles triggered the highest peritoneal macrophage activation, demonstrating the ability of chitosan to enhance the immunogenicity of the irradiated antigen. On day 4, antigen-receiving groups showed a reduction in macrophage numbers consistent with the Macrophage Disappearance Reaction, while control groups remained stable. These findings confirm that chitosan nanoparticle formulation can potentiate innate immune activation and holds promise as an innovative adjuvant for S. agalactiae irradiated vaccine development against subclinical mastitis.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175294</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengelolaan Sumberdaya Ikan Bilih Mystacoleucus padangensis (Bleeker, 1852) dengan Pendekatan Spawning Potential Ratio di Danau Singkarak, Sumatera Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175293</link>
<description>Pengelolaan Sumberdaya Ikan Bilih Mystacoleucus padangensis (Bleeker, 1852) dengan Pendekatan Spawning Potential Ratio di Danau Singkarak, Sumatera Barat
AYU, SEKAR
Ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) merupakan ikan endemik di Danau Singkarak yang bernilai ekologis dan ekonomis penting. Penelitian ini bertujuan menduga status stok sumberdaya ikan bilih dengan pendekatan spawning potential ratio sebagai dasar pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Pengambilan data dilakukan pada bulan Oktober hingga November 2025, dengan mengumpulkan contoh ikan sebanyak 2089 individu. Ukuran ikan bilih yang tertangkap berkisar antara 42,5–98,5 mm. Panjang pertama kali tertangkap (Lc) 62,07 mm lebih besar dari panjang pertama kali matang gonad (Lm) 60,74 mm. Fekunditas ikan bilih berkisar antara 2.740–8.300 butir telur, dengan rata-rata 4.711 butir telur. Analisis pertumbuhan menggunakan metode ELEFAN I dalam aplikasi FISAT II menghasilkan panjang asimtotik (L8) jantan 90,68 mm dan betina 98,50 mm dengan koefisien pertumbuhan (K) jantan 0,60 per tahun dan betina 0,40 per tahun. Nilai mortalitas penangkapan (F) lebih tinggi dibandingkan dengan mortalitas alami (M), dengan laju eksploitasi yang menunjukkan overfishing (E = 0,72 untuk jantan, E = 0,65 untuk betina). Nilai spawning potential ratio ikan bilih sebesar 24% berada pada kondisi fully-moderately yang memungkinkan terjadinya recruitment overfishing.; Bilih fish (Mystacoleucus padangensis) is an endemic species of Lake Singkarak with important ecological and economic value. This study aims to estimate the stock status of bilih fish resources using the Spawning Potential Ratio approach as a basis for sustainable fisheries management. Data collection was conducted from October to November 2025, with a total sample of 2089 individuals. The length at first capture (Lc) was 62,07 mm, which was greater than the length at first maturity (Lm) 60,74 mm. Bilih fish fecundity ranged from 2740–8300 eggs, with an average of 4711 eggs. Growth analysis using the ELEFAN I method in the FISAT II application estimated an asymptotic length (L8) of 90,68 mm for males and 98,50 mm for females, with growth coefficients (K) of 0,60 year for males and 0.40 year for females. Fishing mortality (F) was higher than natural mortality (M), with the exploitation rate indicating overfishing (E = 0,72 for males, E = 0,65 for females). The spawning potential ratio value of bilih fish was estimated at 24%, indicating a fully to moderately exploited stock with a potential risk of recruitment overfishing.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175293</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Reformulasi Sediaan Kondimen Marinasi Berbasis Rumput Laut Lokal (Ulva lactuca) dengan Teknologi Bigel</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175292</link>
<description>Reformulasi Sediaan Kondimen Marinasi Berbasis Rumput Laut Lokal (Ulva lactuca) dengan Teknologi Bigel
KHAIR, ADZ DZARIYAAT
Sistem penghantar flavor berbasis bigel berpotensi menjaga stabilitas flavor dan kualitas sensori produk pangan. Ulva lactuca merupakan sumber flavor alami kaya senyawa volatil dan komponen umami yang memerlukan sistem penghantar untuk mempertahankan karakteristiknya. Penelitian ini bertujuan menentukan formulasi basis flavor U. lactuca terbaik serta mengevaluasi sistem bigel sebagai penghantar flavor pada kondimen marinasi. Formulasi basis flavor diinkorporasikan ke dalam bigel dengan berbagai rasio oleogel dan hidrogel. Karakteristik bigel dianalisis menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), sedangkan kondimen dievaluasi berdasarkan oil binding capacity (OBC), warna, stabilitas, dan uji hedonik. Basis flavor dengan penambahan kaldu jamur menunjukkan penerimaan terbaik, formulasi kondimen dengan bigel OH37 menghasilkan OBC tertinggi (98,39±0,90%), sedangkan OH82 memperoleh tingkat kesukaan keseluruhan tertinggi. Sistem bigel efektif meningkatkan stabilitas dan kualitas sensori kondimen marinasi berbasis U. lactuca.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175292</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
