<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Undergraduate Final Assignments</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/25</link>
<description>Undergraduate Final Assignments of IPB's bachelor student</description>
<pubDate>Wed, 01 Jul 2026 10:19:34 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-07-01T10:19:34Z</dc:date>
<item>
<title>Efektifitas Metode Biosementasi Menggunakan Inokulum Tempe dan Presipitasi Kalsit Berbasis Kedelai untuk Perbaikan Tanah Pasir</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173892</link>
<description>Efektifitas Metode Biosementasi Menggunakan Inokulum Tempe dan Presipitasi Kalsit Berbasis Kedelai untuk Perbaikan Tanah Pasir
Khayyira, Avrill
Tanah berpasir memiliki ikatan antarpartikel yang lemah sehingga memerlukan perbaikan. Metode Soybean Crude Urease Carbonate Precipitation (SCU-CP) berpotensi menghasilkan CaCO3 secara ramah lingkungan. Stabilisasi berbasis jamur mampu membentuk jaringan miselium sebagai pengikat tanah, tetapi memiliki keterbatasan dalam ketahanan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penambahan jamur pada SCU-CP serta mengevaluasi pengaruh metode treatment terhadap stabilitas tanah pasir. Kinerja SCU-CP dievaluasi melalui pengujian hidrolisis urea dan presipitasi CaCO3. Stabilitas tanah dianalisis menggunakan pengujian Unconfined Compressive Strength (UCS), pengamatan mikroskopis, curing time, dan soaking time. Hasil penelitian menunjukkan penambahan inokulum tempe tidak mempengaruhi kinerja larutan. Kondisi optimum diperoleh pada 5% kadar air dan 5% dosis inokulum dengan nilai UCS 70,58 kPa. Miselium berfungsi sebagai matriks pengikat dan situs nukleasi CaCO3. Kombinasi miselium dan SCU-CP mampu mempertahankan 70,1% kekuatan awal setelah 3 hari perendaman.; Sandy soil has weak interparticle bonds and therefore requires improvement. The Soybean Crude Urease Carbonate Precipitation (SCU-CP) method has the potential to produce CaCO3 in an environmentally friendly manner. Fungus-based stabilization can form a mycelial network to bind the soil, but it has limitations in terms of long-term durability. This study aims to analyze the effect of adding fungi to the SCU-CP process and to evaluate the impact of treatment methods on the stability of sandy soil. The performance of SCU-CP was evaluated through urea hydrolysis and CaCO3 precipitation tests. Soil stability was analyzed using Unconfined Compressive Strength (UCS) testing, microscopic observation, curing time, and soaking time. The results showed that the addition of tempeh inoculum did not affect the solution’s performance. Optimal conditions were achieved at 5% moisture content and a 5% inoculum dose, yielding a UCS value of 70.58 kPa. The mycelium functions as a binding matrix and a nucleation site for CaCO3. The combination of mycelium and SCU-CP retained 70.1% of its initial strength after 3 days of soaking
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173892</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Pemberian Daun Lamtoro (Leucaena leucocephala)  terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelor (Moringa oleifera)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173891</link>
<description>Pengaruh Pemberian Daun Lamtoro (Leucaena leucocephala)  terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelor (Moringa oleifera)
Derima, Sri
Kelor (Moringa oleifera) adalah tanaman multiguna dengan komoditas &#13;
ekspor bernilai tinggi. Strategi budidaya diperlukan untuk memperoleh &#13;
produktivitas optimal, seperti sistem agroforestri dan penambahan bahan organik. &#13;
Lamtoro (Leucaena leucocephala) adalah salah satu tanaman yang dapat diterapkan &#13;
di sistem agroforestri karena daunnya memiliki unsur hara makro yang dapat &#13;
mendukung pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh &#13;
pemberian daun lamtoro dan mengetahui perlakuan yang paling baik bagi &#13;
pertumbuhan tanaman kelor. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap &#13;
dengan 5 perlakuan yaitu kontrol, daun lamtoro segar ditaburkan, daun lamtoro &#13;
segar dibenamkan, kompos daun lamtoro ditaburkan, dan kompos daun lamtoro &#13;
dibenamkan. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian daun lamtoro &#13;
berpengaruh nyata terhadap semua parameter pertumbuhan yang diamati meliputi &#13;
tinggi, diameter, jumlah helai daun, dan biomassa. Perlakuan daun lamtoro segar &#13;
dan kompos daun lamtoro yang ditaburkan memberikan pengaruh yang paling baik &#13;
bagi pertumbuhan tanaman kelor.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173891</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Karakterisasi Aspergillus flavus Non-Aflatoksigenik pada Oncom dengan Metode Whole Genome Sequencing</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173889</link>
<description>Karakterisasi Aspergillus flavus Non-Aflatoksigenik pada Oncom dengan Metode Whole Genome Sequencing
ANINDITA, CAESA
ABSTRAK&#13;
CAESA ANINDITA Karakterisasi Aspergillus flavus Non-Aflatoksigenik pada Oncom dengan Metode Whole Genome Sequencing. Dibimbing oleh SITI NURJANAH dan INAS SUCI RAHMAWATI&#13;
Oncom merupakan pangan fermentasi tradisional yang berpotensi terkontaminasi kapang toksigenik penghasil aflatoksin akibat proses produksi yang masih dilakukan secara terbuka. Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi Aspergillus flavus non-aflatoksigenik pada oncom merah dan oncom hitam melalui pendekatan Whole Genome Sequencing (WGS). Sampel dikumpulkan dari tiga produsen di Bogor Barat, kemudian dilakukan isolasi pada media DRBC dan SDA, diikuti identifikasi morfologi makroskopis dan mikroskopis. Uji potensi aflatoksin dilakukan menggunakan Coconut Agar Medium (CAM) dan dikonfirmasi dengan High Performance Liquid Chromatography (HPLC), sementara analisis genom dilakukan melalui WGS untuk identifikasi spesies dan karakteristik genetik. Hasil penelitian menunjukkan adanya keragaman kapang, yaitu Aspergillus sp., Neurospora sp., dan Rhizopus sp. Uji CAM menunjukkan adanya fluoresensi pada beberapa isolat yang mengindikasikan potensi aflatoksigenik, namun hasil HPLC menunjukkan kadar aflatoksin total berada di bawah batas deteksi (&lt;2,00 µg/kg). Analisis WGS mengidentifikasi isolat sebagai Aspergillus flavus dengan kualitas data tinggi dan cakupan genom yang luas. Analisis genom menunjukkan keberadaan beberapa gen yang terkait dengan biosintesis aflatoksin, yaitu aflR, aflS, aflD, aflM, aflO, aflP, dan aflQ, serta variasi genetik yang didominasi oleh upstream gene variant, synonymous variant, dan missense variant. Analisis antiSMASH juga mengidentifikasi keeradaan Biosynthetic Gene Cluster (BGC) tipe T1PKS yang berpotensi menghasilkan metabolit sekunder berbasis poliketida. Meskipun demikian, isolat tetap dikategorikan sebagai non-aflatoksigenik yang diduga berkaitan dengan variasi genetik dan tidak lengkapnya jalur biosintesis aflatoksin.&#13;
&#13;
Kata kunci: Aspergillus flavus, aflatoksin, oncom merah, oncom hitam, Whole Genome Sequencing.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173889</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Implementasi Metode AHP-VIKOR Untuk Pemilihan Supplier Tiang Penerangan Jalan Umum (PJU) Di PT Fokus Indo Lighting</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173887</link>
<description>Implementasi Metode AHP-VIKOR Untuk Pemilihan Supplier Tiang Penerangan Jalan Umum (PJU) Di PT Fokus Indo Lighting
Rizkyta, Adhyra Puti
PT Fokus Indo Lighting belum memiliki sistem pemilihan supplier yang terstruktur sehingga pengadaan tiang Penerangan Jalan Umum (PJU) dilakukan secara subjektif dan tidak terdokumentasi dengan baik. Penelitian ini mengimplementasikan metode AHP dan VIKOR untuk menghasilkan keputusan pemilihan supplier yang terukur dan objektif. AHP membobot tujuh kriteria evaluasi yaitu kualitas, harga, pengiriman, pelayanan perbaikan, fleksibilitas, reputasi, dan hubungan jangka panjang, sedangkan VIKOR menghasilkan perankingan empat supplier. Kriteria kualitas memperoleh bobot tertinggi (0,2617). PT Duta Hita Jaya terpilih sebagai supplier terbaik dengan indeks VIKOR 0,00 dan PT Rameyza Elya Lestari sebagai supplier cadangan. Analisis sensitivitas membuktikan perankingan tetap stabil terhadap perubahan bobot. Sistem evaluasi supplier berbasis web yang mengintegrasikan AHP dan VIKOR dirancang sebagai luaran aplikatif agar evaluasi dapat dilakukan secara mandiri dan terstandar.; PT Fokus Indo Lighting lacks a structured supplier selection system, causing subjective and poorly documented procurement of street lighting poles. This study implemented the Analytical Hierarchy Process (AHP) and VIKOR methods to produce measurable and objective supplier selection decisions. AHP weighted seven evaluation criteria: quality, price, delivery, repair service, flexibility, reputation, and long-term relationship, while VIKOR generated the final ranking of four suppliers. The quality criterion obtained the highest weight (0.2617). PT Duta Hita Jaya was selected as the best supplier with a VIKOR index of 0.00, followed by PT Rameyza Elya Lestari as the backup supplier. Sensitivity analysis confirmed ranking stability despite weight changes. A web-based supplier evaluation system integrating AHP and VIKOR was designed as a practical output for independent and standardized evaluations.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173887</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
