<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>MF - Medicine and Nutrition</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173021</link>
<description/>
<pubDate>Wed, 16 Sep 2026 03:44:01 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-09-16T03:44:01Z</dc:date>
<item>
<title>Hubungan Indeks Inflamasi Diet, Aktivitas Fisik, Kualitas Tidur, dan Penggunaan Media Sosial dengan Kesehatan Mental Remaja di Depok</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179531</link>
<description>Hubungan Indeks Inflamasi Diet, Aktivitas Fisik, Kualitas Tidur, dan Penggunaan Media Sosial dengan Kesehatan Mental Remaja di Depok
Rudiansyah
Kesehatan mental remaja merupakan salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang semakin meningkat, termasuk di Indonesia. Selain dipengaruhi oleh faktor biologis dan genetik, kesehatan mental juga berkaitan dengan berbagai faktor gaya hidup, seperti pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, dan penggunaan media sosial bermasalah. Salah satu pendekatan yang banyak digunakan untuk menggambarkan kualitas diet berdasarkan potensi inflamasi adalah Energy-adjusted Dietary Inflammatory Index (E-DII). Namun, penelitian yang mengintegrasikan hubungan E-DII dengan aktivitas fisik, kualitas tidur, penggunaan media sosial, dan kesehatan mental pada remaja di Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan indeks inflamasi diet, aktivitas fisik, kualitas tidur, dan penggunaan media sosial bermasalah dengan kesehatan mental remaja di Kota Depok, sekaligus mengidentifikasi faktor yang paling kuat yang berhubungan dengan gejala depresi, ansietas, dan stres.&#13;
Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional pada 174 remaja berusia 15–18 tahun yang berasal dari lima sekolah menengah atas di Kota Depok dan dipilih menggunakan multistage random sampling. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik subjek dan keluarga, konsumsi pangan menggunakan Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), aktivitas fisik menggunakan International Physical Activity Questionnaire-Short Form (IPAQ-SF), kualitas tidur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), penggunaan media sosial bermasalah menggunakan Social Media Disorder Scale (SMD-9), kesehatan mental menggunakan Depression Anxiety Stress Scales-21 (DASS-21), serta pengukuran antropometri untuk menentukan status gizi berdasarkan IMT/U. Skor E-DII dihitung menggunakan 34 komponen pangan sesuai metode Shivappa et al. (2014). Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan uji korelasi Spearman, dan regresi linier berganda dengan taraf signifikansi p&lt;0,05.&#13;
Mayoritas subjek berjenis kelamin perempuan (62,1%) dengan rata-rata usia 16,5±0,7 tahun dan memiliki status gizi baik. Sebagian besar ibu berpendidikan SMA atau perguruan tinggi, lebih dari separuh tidak bekerja, dan hampir separuh keluarga memiliki pendapatan kurang dari Rp5.000.000 per bulan. Berdasarkan E-DII, sebanyak 86,2% remaja memiliki diet dengan potensi inflamasi bersifat proinflamasi dengan rata-rata skor E-DII 1,97±1,67. Aktivitas fisik tergolong rendah pada 69,5% remaja, 50,0% memiliki kualitas tidur yang buruk, dan 68,4% memenuhi kriteria berisiko atau bermasalah dalam penggunaan media sosial. Berdasarkan DASS-21, gejala depresi ditemukan pada 36,2%, ansietas 55,7%, dan stres 42,5% remaja. &#13;
Analisis komponen penyusun E-DII menunjukkan bahwa skor E-DII yang lebih tinggi terutama berkaitan dengan rendahnya asupan beberapa komponen diet yang bersifat antiinflamasi, seperti serat, flavonoid, magnesium, vitamin B6, vitamin C, dan PUFA, sementara konsumsi komponen pangan proinflamasi relatif tidak menunjukkan pola yang sama. Temuan ini menunjukkan bahwa pada populasi penelitian, skor E-DII lebih mencerminkan rendahnya kualitas diet akibat keterbatasan asupan pangan kaya zat gizi protektif dibandingkan dengan tingginya konsumsi pangan proinflamasi.&#13;
Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa E-DII tidak berhubungan secara bermakna dengan gejala depresi, ansietas, maupun stres. Aktivitas fisik hanya berhubungan dengan gejala ansietas dan stres pada analisis bivariat, sedangkan kualitas tidur tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan seluruh domain kesehatan mental. Sebaliknya, penggunaan media sosial bermasalah menunjukkan hubungan positif yang bermakna dengan gejala depresi, ansietas, dan stres, serta tetap menjadi variabel utama yang paling kuat setelah dilakukan penyesuaian terhadap karakteristik individu dan keluarga melalui analisis regresi linier berganda.&#13;
Penelitian ini menunjukkan bahwa kesehatan mental remaja berkaitan dengan berbagai faktor biologis, perilaku, dan psikososial. Dalam konteks remaja perkotaan di Indonesia, kekuatan hubungan faktor psikososial yang berkaitan dengan penggunaan media sosial tampak lebih besar dibandingkan dengan faktor potensi inflamasi diet yang diukur melalui E-DII. Selain itu, tingginya skor E-DII pada sebagian besar remaja lebih menggambarkan rendahnya kualitas diet akibat kurangnya konsumsi pangan kaya zat gizi antiinflamasi daripada tingginya konsumsi pangan proinflamasi. Temuan ini memberikan bukti baru mengenai karakteristik potensi inflamasi diet pada remaja Indonesia dalam konteks transisi gizi, serta menunjukkan bahwa upaya peningkatan kesehatan mental remaja perlu dilakukan melalui pendekatan multidimensional yang mengintegrasikan perbaikan kualitas diet, peningkatan aktivitas fisik, perbaikan kualitas tidur, dan penggunaan media sosial yang sehat.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179531</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Praktik Terkait Sustainable Diet dengan Status Gizi Overweight dan Obesitas Mahasiswa IPB</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179523</link>
<description>Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Praktik Terkait Sustainable Diet dengan Status Gizi Overweight dan Obesitas Mahasiswa IPB
Sari, Dewi Firda
Overweight dan obesitas merupakan masalah kesehatan global yang prevalensinya terus meningkat, termasuk pada kelompok mahasiswa. Bukti empiris yang menghubungkan pengetahuan, sikap, dan praktik (KAP) terkait sustainable diet dengan status gizi lebih di Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, dan praktik sustainable diet dengan status gizi overweight dan obesitas mahasiswa IPB. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik desain cross-sectional dan telah dilaksanakan pada bulan Desember 2025 hingga Januari 2026 yang berlokasi di Kampus IPB University, Dramaga, Bogor. Sampel sebanyak 97 mahasiswa IPB non ilmu gizi (S1 dan S2) berusia 18–30 tahun dengan status gizi overweight atau obesitas, dipilih secara purposive sampling. Perhitungan sampel menggunakan rumus estimasi proporsi berdasarkan Lwanga dan Lemeshow (1991). Data penelitian dikumpulkan secara primer menggunakan kuisioner. Adapun jenis data yang dikumpulkan yaitu karakteristik individu dan sosial ekonomi (usia, jenis kelamin, uang saku dan status tempat tinggal), akses media informasi, pengetahuan, sikap terkait sustainable diet, praktik pemilihan pangan, pola konsumsi pangan, konsumsi pangan dan status gizi. Pengumpulan data pengetahuan, dan sikap terkait sustainable diet pada mahasiswa IPB diperoleh dari kuisioner Sustainable Diet Questionnaire (SUSDQ), dan kemudian diuji validitas dan reliabilitasnya pada konteks populasi mahasiswa di Indonesia yang memiliki karakteristik yang sama dengan karakteristik sampel penelitian. Data pemilihan pangan diperoleh menggunakan Food Choice Questionnaire (FCQ). Data pola konsumsi dan konsumsi pangan dikumpulkan melalui kuisioner Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Data status gizi diperoleh melalui pengukuran antropometri berat badan dan tinggi badan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). Pengolahan data dilakukan menggunakan Microsoft Excel 2021 for windows, Statistical Package for Social Sciences (SPSS) version 26 serta software smartPLS versi 4.0 untuk analisis multivariat. Uji multivariat untuk mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan, sikap dan praktik terkait sustainable diet terhadap status gizi lebih mahasiswa IPB secara simultan.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar subjek berusia 18–21 tahun (81,4%) dan belum pernah mendapat informasi sustainable diet (63,9%). Hampir separuh subjek (46,4%) memiliki pengetahuan kategori baik, mayoritas (71,1%) bersikap cukup. Alasan pemilihan pangan tertinggi adalah kesehatan (4,53 ± 0,45) dan harga (4,45 ± 0,67), sedangkan dimensi lingkungan belum menjadi pertimbangan utama. Pola konsumsi mahasiswa IPB saat ini belum sejalan dengan EAT-Lancet di mana 100% subjek defisit serelia tinggi serat, 99% defisit kacang-kacangan, sementara konsumsi telur (322,84%), unggas (261,06%), dan daging merah (187,57%) jauh melampaui target. Proporsi protein hewani (53,60%) melebihi protein nabati (46,40%). Sebanyak 81,4% subjek tergolong defisit berat pada tingkat kecukupan serat dan tingkat kecukupan zat gizi mikro ditemukan tergoloing kurang pada vitamin B12 (80,41%) dan kalsium (74,23%). Hasil SEM-PLS menunjukkan satu-satunya jalur signifikan adalah pengetahuan terhadap sikap (ß=0,411; p&lt;0,001; R²=0,169; f²=0,204). Jalur dari sikap ke praktik konsumsi dan dari pola konsumsi ke status gizi tidak signifikan, mencerminkan adanya fenomena value-action gap. Skor diet berkelanjutan hanya berhubungan signifikan dengan tingkat kecukupan serat (r=0,334; p=0,001), yang selanjutnya berhubungan negatif dengan status gizi (r=-0,218; p=0,032). Model memiliki kemampuan prediksi kuat (Q²=0,482) dengan GoF sebesar 24% dan nilai SRMR=0,09. Temuan ini mengindikasikan bahwa tingginya asupan serat melalui diversifikasi pangan nabati berkaitan erat dengan penurunan risiko obesitas, sehingga dapat menjadi strategi penting dalam penerapan sustainable diet pada mahasiswa. Intervensi yang efektif diperlukan dengan mengintegrasikan modifikasi lingkungan pangan kampus melalui pendekatan nudging untuk menjembatani kesenjangan antara sikap dan praktik konsumsi berkelanjutan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179523</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Faktor Gizi dan Lingkungan terhadap Prevalensi Stunting pada Balita di Wilayah Pertanian Kabupaten Enrekang</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179520</link>
<description>Analisis Faktor Gizi dan Lingkungan terhadap Prevalensi Stunting pada Balita di Wilayah Pertanian Kabupaten Enrekang
Azhar, Anastasya Adawiah
Stunting pada balita masih menjadi masalah gizi penting karena berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, produktivitas, dan kualitas sumber daya manusia pada masa depan. Kabupaten Enrekang merupakan salah satu wilayah pertanian dengan prevalensi stunting yang masih tinggi. Wilayah pertanian memiliki karakteristik yang khas, baik dari sisi ketahanan pangan rumah tangga, pola konsumsi, praktik pengasuhan, higiene sanitasi, penyakit infeksi, maupun potensi paparan pestisida. Perbedaan subsektor pertanian, seperti tanaman pangan dan hortikultura, juga dapat membentuk kondisi sosial ekonomi, pangan, dan lingkungan yang berbeda. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk memahami faktor gizi dan lingkungan yang berkaitan dengan stunting pada balita di wilayah pertanian secara lebih kontekstual. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan faktor gizi, faktor lingkungan, dan prevalensi stunting antara wilayah pertanian tanaman pangan dan hortikultura; menganalisis hubungan faktor gizi dan lingkungan dengan stunting pada balita; serta mengidentifikasi faktor yang paling berpengaruh terhadap stunting balita di wilayah pertanian Kabupaten Enrekang. &#13;
Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Penelitian dilakukan pada Januari 2026 di wilayah tanaman pangan (padi) dan hortikultura (bawang merah). Subjek penelitian berjumlah 148 balita usia 24–59 bulan, terdiri atas 74 balita dari wilayah tanaman pangan dan 74 balita dari wilayah hortikultura. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri, wawancara karakteristik balita dan keluarga, ketahanan pangan rumah tangga, praktik pemberian makan responsif, higiene dan sanitasi lingkungan, paparan pestisida, riwayat penyakit infeksi, serta recall 24 jam. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan binary logistic regression. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi stunting secara keseluruhan sebesar 42,6%. Prevalensi stunting lebih tinggi pada wilayah hortikultura dibandingkan wilayah tanaman pangan, yaitu 58,1% dan 27,0%. Ketahanan pangan rumah tangga berbeda signifikan antarwilayah, dengan proporsi rumah tangga tahan pangan lebih tinggi pada wilayah hortikultura, sedangkan kerawanan pangan lebih banyak ditemukan pada wilayah tanaman pangan. Praktik pemberian makan responsif tidak berbeda antarwilayah dan sebagian besar ibu telah berada pada kategori baik. Higiene dan sanitasi lingkungan berbeda signifikan, dengan kondisi kurang lebih banyak ditemukan pada wilayah hortikultura. Riwayat penyakit infeksi lebih banyak ditemukan pada wilayah tanaman pangan. Paparan pestisida tidak berbeda signifikan antarwilayah, tetapi sebagian besar rumah tangga berada pada kategori paparan tinggi.  Asupan dan tingkat kecukupan zat gizi menunjukkan bahwa balita di wilayah tanaman pangan cenderung memiliki kecukupan protein, zat besi, dan seng yang lebih baik dibandingkan balita di wilayah hortikultura. Namun, masalah kecukupan zat gizi masih ditemukan pada kedua wilayah. Analisis hubungan menunjukkan bahwa seluruh variabel tidak berhubungan secara signifikan terhadap stunting. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa tinggal di wilayah hortikultura dan tingkat kecukupan energi yang kurang merupakan faktor paling berpengaruh terhadap stunting.&#13;
Temuan penting penelitian ini menunjukkan bahwa balita di wilayah hortikultura memiliki beban stunting yang lebih tinggi meskipun wilayah tersebut memiliki proporsi rumah tangga tahan pangan dan pendapatan yang lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa risiko stunting di wilayah pertanian tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekonomi dan ketahanan pangan rumah tangga, tetapi juga dipengaruhi oleh kualitas asupan gizi, higiene sanitasi, penyakit infeksi, serta karakteristik lingkungan pertanian. Implikasi penelitian ini adalah perlunya strategi pencegahan stunting yang disesuaikan dengan karakteristik subsektor pertanian.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179520</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Keterampilan Pangan Ibu dan Masalah Stunting pada Anak Baduta di Kota Bogor, Jawa Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179466</link>
<description>Keterampilan Pangan Ibu dan Masalah Stunting pada Anak Baduta di Kota Bogor, Jawa Barat
Hanifah, Zuraidah
Kajian mengenai hubungan keterampilan pangan ibu dengan kejadian stunting di wilayah perkotaan Indonesia masih sangat terbatas. Sebagian besar penelitian sebelumnya lebih berfokus pada faktor ketersediaan pangan, kondisi sosial ekonomi, dan praktik pemberian makan, sementara keterampilan pangan ibu sebagai faktor perilaku yang dapat dimodifikasi masih jarang dikaji secara komprehensif. Selain itu, belum tersedia instrumen yang sesuai dengan konteks sosial-budaya Indonesia untuk mengukur keterampilan pangan secara menyeluruh. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan karakteristik keluarga, keterampilan pangan ibu, praktik pemberian makan, ketahanan pangan rumah tangga, dan asupan zat gizi baduta stunting dan normal, serta menganalisis hubungan keterampilan pangan ibu dengan praktik pemberian makan, ketahanan pangan rumah tangga, asupan zat gizi, dan status gizi baduta di Kota Bogor. &#13;
Penelitian ini menggunakan desain comparative cross-sectional study yang dilaksanakan pada Januari–April 2026 di Kota Bogor, Jawa Barat, dan telah memperoleh persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian yang Melibatkan Subjek Manusia IPB University (No. 2129/IT3.KEPMSM-IPB/SK/2026). Sebanyak 136 baduta terdiri atas 68 baduta stunting dan 68 baduta normal dipilih menggunakan teknik multistage sampling dengan kombinasi purposive sampling dan simple random sampling. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik keluarga dan anak, keterampilan pangan ibu, praktik pemberian makan, ketahanan pangan rumah tangga, asupan zat gizi menggunakan repeated 2×24-hour dietary recall, dan status gizi baduta. Analisis data dilakukan menggunakan uji bivariat berpa uji independent t-test, Mann–Whitney, Chi-square, dan spearman. Selanjutnya dilakukan uji multivariat dengan uji SEM-PLS.&#13;
Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat beberapa karakteristik yang berbeda secara signifikan antara kelompok baduta stunting dan normal. Kelompok baduta stunting memiliki proporsi yang lebih tinggi pada usia 12–23 bulan, riwayat berat badan lahir rendah (BBLR), riwayat panjang badan lahir rendah (&lt; 48 cm), pendapatan keluarga di bawah Upah Minimum Kota (UMK), serta riwayat penyakit infeksi dibandingkan kelompok normal (p&lt;0,05). Pada aspek keterampilan pangan ibu, hanya domain pengelolaan anggaran yang berbeda secara signifikan, dengan skor yang lebih tinggi pada kelompok normal (p&lt;0,05). Praktik pemberian makan juga menunjukkan perbedaan signifikan pada indikator Minimum Meal Frequency (MMF), Minimum Acceptable Diet (MAD), dan Zero Vegetable and Fruit Consumption (ZVF), di mana kelompok normal memiliki proporsi pemenuhan MMF dan MAD yang lebih tinggi serta proporsi ZVF yang lebih rendah dibandingkan kelompok stunting (p&lt;0,05). Selain itu, tingkat kecukupan energi, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, dan zink berbeda secara signifikan antara kedua kelompok, dengan kelompok normal memiliki tingkat kecukupan yang lebih tinggi (p&lt;0,05), sedangkan ketahanan pangan rumah tangga, skor total keterampilan pangan ibu, serta kecukupan zat besi, vitamin A, dan vitamin C tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (p&gt;0,05).&#13;
Hasil analisis hubungan menunjukkan bahwa keterampilan pangan ibu berhubungan positif dengan praktik pemberian makan baduta, terutama pada indikator kualitas diet, yaitu Minimum Dietary Diversity (MDD) dan Egg and/or Flesh Food Consumption (EFF), serta berhubungan dengan tingkat kecukupan protein baduta (p&lt;0,05). Hubungan signifikan juga ditemukan antara domain pengelolaan anggaran dengan tingkat kecukupan kalsium serta domain berbelanja dengan tingkat kecukupan zat besi (p&lt;0,05). Secara umum, hubungan yang ditemukan memiliki kekuatan korelasi yang lemah.&#13;
Hasil analisis SEM-PLS menunjukkan bahwa keterampilan pangan ibu berhubungan positif dengan praktik pemberian makan baduta (ß=0,208; p=0,024) dan ketahanan pangan rumah tangga (ß=0,232; p=0,022). Praktik pemberian makan baduta (ß=0,275; p&lt;0,001) dan ketahanan pangan rumah tangga (ß=0,191; p=0,015) berhubungan positif dengan kecukupan zat gizi makro, serta kecukupan zat gizi makro berhubungan positif dengan status gizi baduta (ß=0,154; p&lt;0,001). Selain itu, ditemukan hubungan tidak langsung yang signifikan antara keterampilan pangan ibu dengan kecukupan zat gizi makro melalui praktik pemberian makan baduta (ß=0,057; p=0,041), praktik pemberian makan baduta dengan status gizi baduta melalui kecukupan zat gizi makro (ß=0,085; p=0,016), serta ketahanan pangan rumah tangga dengan status gizi baduta melalui kecukupan zat gizi makro (ß=0,059; p=0,045). Total hubungan tidak langsung antara keterampilan pangan ibu dengan status gizi baduta juga ditemukan adanya hubungan yang signifikan (ß=0,032; p=0,020). Model memiliki predictive relevance, namun kemampuan prediksinya masih tergolong rendah (low predictive power).&#13;
Penelitian ini menunjukkan bahwa pada kelompok baduta stunting yang dianalisis lebih banyak berada pada kelompok usia 12–23 bulan, memiliki riwayat BBLR, panjang badan lahir rendah, berasal dari keluarga dengan pendapatan di bawah UMK, serta memiliki riwayat penyakit infeksi dibandingkan baduta normal. Kelompok stunting juga memiliki tingkat kecukupan energi, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, dan zink yang lebih rendah, serta lebih sedikit yang memenuhi indikator praktik pemberian makan berupa MMF dan MAD dan memiliki konsumsi buah dan sayur yang lebih baik dibandingkan kelompok normal. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada skor total keterampilan pangan ibu dan ketahanan pangan rumah tangga antara kedua kelompok, meskipun domain pengelolaan anggaran keterampilan pangan ibu lebih baik pada kelompok normal. Keterampilan pangan ibu menunjukkan hubungan dengan beberapa indikator praktik pemberian makan dan kecukupan zat gizi baduta. Hasil analisis SEM-PLS menunjukkan adanya hubungan tidak langsung antara keterampilan pangan ibu dengan kecukupan zat gizi makro melalui praktik pemberian makan, yang kemudian praktik pemberian makan dengan  status gizi baduta melalui kecukupan zat gizi makro.; Research examining the association between maternal food skills and stunting among children in urban areas of Indonesia remains limited. Previous studies have largely focused on food availability, socioeconomic conditions, and child feeding practices, while maternal food skills, as one of the modifiable behavioral factors, have received relatively little comprehensive attention. In addition, an instrument specifically adapted to the Indonesian sociocultural context for comprehensively assessing food skills is not yet available. Therefore, this study aimed to analyze differences in family characteristics, maternal food skills, child feeding practices, household food security, and nutrient intake between stunted and normal children, as well as to examine the associations of maternal food skills with child feeding practices, household food security, nutrient intake, and nutritional status among children in Bogor City.&#13;
This study used a comparative cross-sectional study design and was conducted from January to April 2026 in Bogor City, West Java. Ethical approval was obtained from the IPB University Research Ethics Committee for Research Involving Human Subjects (No. 2129/IT3.KEPMSM-IPB/SK/2026). A total of 136 children aged 6–23 months, comprising 68 stunted and 68 normal children, were selected using multistage sampling with a combination of purposive sampling and simple random sampling. Data collected included family and child characteristics, maternal food skills, child feeding practices, household food security, nutrient intake assessed using repeated 2×24-hour dietary recalls, and child nutritional status. Data were analyzed using bivariate tests, including the independent t-test, Mann–Whitney, Chi-square, and Spearman correlation tests. Multivariate analysis was subsequently conducted using SEM-PLS.&#13;
The results showed significant differences in several characteristics between the stunted and normal groups. The stunted group had higher proportions of children aged 12–23 months, a history of low birth weight (LBW), a birth length of less than 48 cm, family income below the City Minimum Wage (UMK), and a history of infectious diseases compared with the normal group (p&lt;0.05). Regarding maternal food skills, only the budgeting domain differed significantly between the groups, with a higher score in the normal group (p&lt;0.05). Child feeding practices also differed significantly in the Minimum Meal Frequency (MMF), Minimum Acceptable Diet (MAD), and Zero Vegetable and Fruit Consumption (ZVF) indicators. The normal group had a higher proportion meeting MMF and MAD and a lower proportion reporting ZVF compared with the stunted group (p&lt;0.05). In addition, the adequacy levels of energy, protein, fat, carbohydrates, calcium, and zinc differed significantly between the groups, with higher adequacy levels observed in the normal group (p&lt;0.05). In contrast, household food security, total maternal food skills scores, and the adequacy levels of iron, vitamin A, and vitamin C did not differ significantly between the groups (p&gt;0.05).&#13;
The relationship analysis showed that maternal food skills were positively associated with feeding practices among young children, particularly diet quality indicators, namely Minimum Dietary Diversity (MDD) and Egg and/or Flesh Food Consumption (EFF), as well as with the adequacy of protein intake (p&lt;0.05). Significant associations were also found between the budgeting domain and calcium intake adequacy, and between the shopping domain and iron intake adequacy (p&lt;0.05). Overall, the observed associations were characterized by weak correlation strength.&#13;
The SEM-PLS analysis showed that maternal food skills were positively associated with child feeding practices (ß=0.208; p=0.024) and household food security (ß=0.232; p=0.022). Child feeding practices (ß=0.275; p&lt;0.001) and household food security (ß=0.191; p=0.015) were positively associated with macronutrient adequacy, which was subsequently positively associated with child nutritional status (ß=0.154; p&lt;0.001). Significant indirect associations were found between maternal food skills and macronutrient adequacy through child feeding practices (ß=0.057; p=0.041), between child feeding practices and child nutritional status through macronutrient adequacy (ß=0.085; p=0.016), and between household food security and child nutritional status through macronutrient adequacy (ß=0.059; p=0.045). The total indirect association between maternal food skills and child nutritional status was also significant (ß=0.032; p=0.020). The model demonstrated predictive relevance, although its predictive capability was classified as low.&#13;
Overall, the stunted group had a higher proportion of children aged 12–23 months, a history of LBW, shorter birth length, family income below the UMK, and a history of infectious diseases compared with the normal group. The stunted group also had lower adequacy levels of energy, protein, fat, carbohydrates, calcium, and zinc, as well as a lower proportion meeting the MMF and MAD indicators and a higher proportion reporting zero vegetable and fruit consumption. No significant differences were found in total maternal food skills scores or household food security between the two groups, although the budgeting domain of maternal food skills was higher in the normal group. Maternal food skills were associated with several indicators of child feeding practices and nutrient adequacy. The SEM-PLS analysis indicated an indirect association between maternal food skills and macronutrient adequacy through child feeding practices, followed by an indirect association between child feeding practices and child nutritional status through macronutrient adequacy.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179466</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
