<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>MF - Medicine and Nutrition</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173021</link>
<description/>
<pubDate>Wed, 12 Aug 2026 23:55:23 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-12T23:55:23Z</dc:date>
<item>
<title>Potensi Antidiabetik in vitro, Kandungan Bioaktif dan Mutu Fisikokimia Suplemen Ekstrak Okra Ungu</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178477</link>
<description>Potensi Antidiabetik in vitro, Kandungan Bioaktif dan Mutu Fisikokimia Suplemen Ekstrak Okra Ungu
Baso, Asral
Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah dan berisiko menimbulkan berbagai komplikasi. Salah satu pendekatan untuk membantu mengendalikan glukosa darah postprandial adalah menghambat enzim a-amilase dan a-glukosidase. Okra ungu (Abelmoschus esculentus (L.) Moench) mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi memberikan aktivitas antidiabetik. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi mutu fisikokimia, kandungan senyawa bioaktif, aktivitas inhibisi enzim, dan bioaksesibilitas flavonoid pada suplemen ekstrak okra ungu dengan konsentrasi magnesium stearat berbeda. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap satu faktor dengan dua perlakuan dan tiga ulangan, yaitu F1 dengan magnesium stearat 2% dan F2 dengan magnesium stearat 5%. Parameter yang dianalisis meliputi mutu fisikokimia, total terpenoid, alkaloid, flavonoid, identifikasi tentatif kaempferol, inhibisi a-amilase dan a-glukosidase, serta bioaksesibilitas flavonoid secara *in vitro*. Hasil menunjukkan rendemen ekstrak sebesar 17,44%. F1 memiliki kandungan total terpenoid, alkaloid, dan flavonoid masing-masing sebesar 78,33 mg UAE g?¹ db, 13,92 mg KE g?¹ db, dan 117,92 mg QE g?¹ db, sedangkan F2 masing-masing sebesar 68,33 mg UAE g?¹ db, 10,02 mg KE g?¹ db, dan 104,38 mg QE g?¹ db. F1 menunjukkan inhibisi a-amilase sebesar 58,33%, lebih tinggi dibandingkan F2 sebesar 35,83%, sedangkan inhibisi a-glukosidase masing-masing sebesar 31,02% dan 27,92% dan tidak berbeda signifikan. Bioaksesibilitas flavonoid F1 dan F2 masing-masing sebesar 49,72% dan 52,05% dan tidak berbeda signifikan. Peningkatan magnesium stearat dari 2% menjadi 5% diikuti penurunan kandungan senyawa bioaktif terukur dan aktivitas inhibisi a-amilase. F1 lebih unggul dalam kandungan bioaktif dan inhibisi a-amilase, tetapi masih memerlukan perbaikan pada kadar air.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178477</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Pemberian Jus Mentimun Rosella terhadap Tekanan Darah, Kalium Darah dan Natrium Urin Penderita Hipertensi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178071</link>
<description>Pengaruh Pemberian Jus Mentimun Rosella terhadap Tekanan Darah, Kalium Darah dan Natrium Urin Penderita Hipertensi
Ningsih, Srirahayu
Hipertensi mempengaruhi sekitar 1,4 miliar atau 31,1 % orang dewasa diseluruh dunia, sementara di Indonesia 30,8% atau sebanyak 566,883 orang pada tahun 2023. Tekanan darah dipengaruhi oleh keseimbangan natrium dan kalium: retensi natrium meningkatkan volume darah, sementara asupan kalium yang lebih tinggi mendukung natriuresis dan vasodilatasi. Strategi gizi biasanya berfokus pada pembatasan natrium dan peningkatan asupan kalium. Mentimun (Cucumis sativus L.) kaya akan kalium dan air dengan potensi efek diuretik, sementara rosella (Hibiscus sabdariffa) mengandung antioksidan dan dapat mendukung ekskresi natrium. Meskipun keduanya telah menunjukkan potensi antihipertensi secara individual, bukti mengenai efek kombinasinya masih terbatas.&#13;
Tujuan penelitian ini secara umum adalah mengkaji pengaruh pemberian jus mentimun rosella terhadap penurunan tekanan darah, kadar kalium darah, dan natrium urin penderita hipertensi. Adapun tujuan khusus adalah (1) menganalisis formula terpilih jus mentimun rosella berdasarkan karakteristik organoleptik dan kandungan gizi. (2) mengidentifikasi karakteristik sosio demografi dan riwayat hipertensi subjek penderita hipertensi. (3) menganalisis perbedaan tingkat asupan kalium dan natrium antar kelompok sebelum dan setelah pemberian jus mentimun rosella. (4) mengkaji pengaruh jus mentimun rosella terhadap tekanan darah, kadar kalium darah, dan natrium urin penderita hipertensi. &#13;
Penelitian ini menggunakan desain ekperimental Rancangan Acak Lengkap dan intervensi dengan desain quasi eksperimental dengan rancangan non randomized with control group pre postest two group. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai Desember 2025. Intervensi penelitian dilakukan di wilayah UPT Puskesmas Cangkurawok, Kec. Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dengan dua desa yaitu Desa Babakan dan Desa Cikarawang. Penelitian ini terdiri dua tahap, yaitu penentuan formula jus didasarkan pada uji organoleptik dan analisis kandungan gizi; dan intervensi jus dan minuman placebo, masing-masing diberikan kepada subjek hipertensi pada kelompok perlakuan dan kontrol. Intervensi jus dan placebo dilakukan selama 14 hari dengan frekuensi 2 x 200 g per hari. Subjek penelitian berjumlah 24 orang dan terdiri dari 2 kelompok, yaitu kelompok intervensi (12 orang) dan kelompok kontrol (12 orang).&#13;
Kriteria inklusi pada penelitian ini yaitu laki-laki dan perempuan berusia 26 - &gt;65 tahun, mengalami hipertensi dengan tekanan darah sistolik =140 mmHg dan atau diastolik = 90 mmHg, menderita hipertensi esensial tidak mengalami penyakit komplikasi lainnya. Kriteria eksklusi adalah memiliki alergi mentimun dan rosella, pernah atau memiliki penyakit komplikasi atau kronis dan mengalami gangguan penyakit lainnya, dan mengonsumsi minuman sejenis (herbal).&#13;
Tiga formulasi (F1, F2, dan F3) jus dibuat dengan menggunakan bahan utama mentimun dan rosella. Perbandingan berat mentimun (g); berat rosella (g) pada F1, F2, dan F3 berturut-turut adalah 100:2, 100;3, dan 100;4. Kandungan gizi jus yang dianalisis adalah kadar air, abu, protein, lemak, karbohidrat, dan mineral (kalium dan natrium). &#13;
Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa daya terima hedonik panelis terhadap warna dan rasa berpengaruh signifikan dan berada pada rentang (nilai 5 = netral) hingga (nilai 7 = suka). Uji mutu hedonik juga menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap aroma rosella, rasa rosella, rasa masam, dan tekstur berpengaruh signifikan dan berasa pada rentang (nilai 5 = netral) hingga (nilai 8 = sangat kuat). Hal ini disebabkan karena penambahan rosella dapat mengurangi tingkat kesukaan panelis. Hasil penelitian pada kandungan gizi juga menunjukkan bahwa proporsi rosella terhadap mentimun berpengaruh signifikan terhadap kadar kalium dan natrium jus. &#13;
Tiga formula yang dibuat selanjutnya dipilih satu formula yang digunakan dalam intervensi. Dasar pemilihan formula adalah pertimbangan dari penerimaan panelis dan kandungan gizi dari jus. F2 memiliki penerimaan terbaik dengan kandungan gizi yang masih tergolong tinggi. Mempertimbangkan aspek daya terima dan nilai gizi secara keseluruhan, F2 ditetapkan sebagai formula terpilih dengan proporsi mentimun:rosella yakni 100 g : 3 g. &#13;
Jus mentimun rosella terpilih (F2) mengandung air 95,23 %, abu 0,29%, protein 0,43%, lemak 0,04%, karbohidrat 4,01%, kalium 179,62 mg/L, natrium 11,00 mg/L, dan magnesium 3,38 mg/L. Adapun kandungan energi per 100 g jus adalah sebanyak 18,25 kkal. &#13;
Subjek didominasi dengan perempuan pada masing-masing kelompok. Karakteristik subjek pada kelompok kontrol dan intervensi umumnya relatif serupa. Sebagian besar subjek berusia 56–65 tahun, tidak bekerja/IRT, tidak merokok, serta memiliki status gizi obesitas. Seluruh subjek telah terdiagnosis hipertensi dan mengonsumsi obat hipertensi. Uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan bermakna pada karakteristik pekerjaan dan kebiasaan merokok (p&lt;0,05), sedangkan karakteristik lainnya tidak berbeda signifikan antar kelompok (p&gt;0,05).&#13;
Jus mentimun–rosella secara signifikan meningkatkan asupan kalium harian (p&lt;0,05), menurunkan tekanan darah sistolik (?-8±11,26 mmHg; p=0,007), dan meningkatkan kadar kalium serum (?0,13±0,20 mmol/L; p=0,000) pada kelompok intervensi. Namun, kadar natrium urin tidak mengalami penurunan yang signifikan. Pengaruh placebo tidak signifikan, sedangkan kalium serum terjadi penurunan pada kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa jus mentimun rosella berpotensi dalam menurunkan tekanan darah dan meningkatkan kalium darah.&#13;
Jus mentimun rosella menunjukkan bahwa formula 2 (100 g mentimun : 3 g rosella) dipilih sebagai formula terbaik berdasarkan tingkat penerimaan panelis dan kandungan gizinya. Pemberian jus mentimun rosella F2 selama 14 hari pada penderita hipertensi terbukti meningkatkan asupan kalium dan kadar kalium serum serta menurunkan tekanan darah sistolik secara signifikan, namun belum memberikan pengaruh yang bermakna terhadap natrium urin. Dengan demikian, jus mentimun rosella berpotensi menjadi alternatif terapi diet pendukung dalam membantu pengendalian hipertensi.; Hypertension affects approximately 1.4 billion adults worldwide (31.1%). In Indonesia, the prevalence of hypertension is 30.8%, with approximately 566,883 reported cases in 2023. Blood pressure is regulated by the balance between sodium and potassium: sodium retention increases blood volume, whereas higher potassium intake promotes natriuresis and vasodilation. Therefore, nutritional strategies for hypertension management typically emphasize sodium restriction and increased potassium intake. Cucumber (Cucumis sativus L.) is rich in potassium and water, contributing to its potential mild diuretic effects, while roselle (Hibiscus sabdariffa L.) contains antioxidants and may enhance urinary sodium excretion. Although both have demonstrated antihypertensive potential individually, evidence regarding their combined effects remains limited. &#13;
The general objective of this study was to evaluate the effect of cucumber–roselle juice administration on blood pressure, serum potassium levels, and urinary sodium excretion in patients with hypertension. The specific objectives were to: (1) determine the selected cucumber–roselle juice formulation based on its organoleptic characteristics and nutritional composition; (2) identify the sociodemographic characteristics and hypertension history of the study participants; (3) analyze differences in potassium and sodium intake between groups before and after the administration of cucumber–roselle juice; and (4) assess the effect of cucumber–roselle juice on blood pressure, serum potassium levels, and urinary sodium excretion in patients with hypertension.&#13;
This study employed an experimental design using a Complete Randomized Design (CRD) and a quasi-experimental intervention with a non-randomized control group pre-test post-test two-group design. The study was conducted from July to December 2025. The research intervention was carried out in the working area of the Cangkurawok Public Health Center (Puskesmas), Dramaga District, Bogor Regency, West Java, covering two villages, namely Babakan Village and Cikarawang Village. This study consisted of two phases: first, the determination of the juice formula based on organoleptic testing and nutritional content analysis; and second, the intervention involving juice and placebo drinks, each administered to hypertensive subjects in the treatment and control groups, respectively. The juice and placebo interventions were conducted over 14 days with a frequency of 2 × 200 g per day. The study subjects totaled 24 individuals, divided into two groups: the intervention group (12 subjects) and the control group (12 subjects)&#13;
The inclusion criteria for this study were: males and females aged 26 to &gt;65 years, diagnosed with hypertension with systolic blood pressure =140 mmHg and/or diastolic blood pressure =90 mmHg, and having essential hypertension without any other complicating diseases. The exclusion criteria were: having allergies to cucumber and roselle, having a history of or currently suffering from complicating or chronic diseases and other medical disorders, and consuming similar types of beverages (herbal).&#13;
Three formulations (F1, F2, and F3) of the juice were prepared using cucumber and roselle as the main ingredients. The weight ratios of cucumber (g) to roselle (g) for F1, F2, and F3 were 100:2, 100:3, and 100:4, respectively. The nutritional components analyzed in the juice included water content, ash, protein, fat, carbohydrate, and minerals (potassium and sodium). &#13;
The organoleptic test results showed that the panelists' hedonic acceptance of color and flavor was significantly influenced, falling within the range of (score 5 = neutral) to (score 7 = like). The hedonic quality test also revealed significant differences in roselle aroma, roselle flavor, sour taste, and texture, with scores ranging from (score 5 = neutral) to (score 8 = very strong). This was attributed to the addition of roselle, which reduced the panelists' level of preference. The results of the nutritional content analysis also showed that the proportion of roselle to cucumber significantly affected the potassium and sodium levels of the juice.&#13;
Among the three formulations, one formula was selected for use in the intervention. The selection was based on considerations of panelist acceptance and nutritional content of the juice. F2 demonstrated the best acceptance while still having relatively high nutritional content. Considering both acceptability and overall nutritional value, F2 was determined as the selected formula, with a cucumber-to-roselle ratio of 100 g : 3 g.&#13;
The selected cucumber roselle juice (F2) contained 95.23% water, 0.29% ash, 0.43% protein, 0.04% fat, 4.01% carbohydrates, 179.62 mg/L potassium, 11.00 mg/L sodium, and 3.38 mg/L magnesium. The energy content per 100 g of juice was 18.25 kcal.&#13;
Female subjects dominated both groups. The characteristics of subjects in the control and intervention groups were generally relatively similar. Most subjects were aged 56–65 years, unemployed/housewives, non-smokers, and had obese nutritional status. All subjects had been diagnosed with hypertension and were taking antihypertensive medication. Statistical analysis showed significant differences in employment status and smoking habits (p&lt;0.05), while other characteristics did not differ significantly between groups (p&gt;0.05).&#13;
Cucumber–roselle juice significantly increased daily potassium intake (p&lt;0.05), reduced systolic blood pressure (?-8±11.26 mmHg; p=0.007), and increased serum potassium levels (?0.13±0.20 mmol/L; p=0.000) in the intervention group. However, urinary sodium levels did not show a significant decrease. The placebo effect was not significant, whereas serum potassium levels decreased in the control group. This indicates that cucumber–roselle juice has the potential to lower blood pressure and increase blood potassium levels.&#13;
Cucumber–roselle juice showed that Formula 2 (100 g cucumber : 3 g roselle) was selected as the best formula based on panelists' acceptance and nutritional content. Administration of cucumber–roselle juice Formula 2 for 14 days in hypertensive patients was proven to significantly increase potassium intake and serum potassium levels, as well as reduce systolic blood pressure, although it did not have a significant effect on urinary sodium. Thus, cucumber–roselle juice has the potential to serve as an alternative supportive dietary therapy in helping to manage hypertension.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178071</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Hubungan Indeks Ketahanan Pangan Dengan Prevalensi Stunting Pada Tingkat Desa di Kabupaten Penajam Paser Utara</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177824</link>
<description>Hubungan Indeks Ketahanan Pangan Dengan Prevalensi Stunting Pada Tingkat Desa di Kabupaten Penajam Paser Utara
Pratama, Muhammad Rafki
Ketahanan pangan merupakan salah satu determinan penting yang memengaruhi status gizi masyarakat, termasuk kejadian stunting pada balita. Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memiliki prevalensi stunting yang relatif tinggi meskipun berdasarkan Indeks Ketahanan Pangan (IKP) yang dikembangkan Badan Pangan Nasional (BAPANAS) tergolong sangat tahan pangan. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara kondisi ketahanan pangan pada tingkat kabupaten dan kondisi aktual pada tingkat desa. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan IKP dengan prevalensi stunting pada tingkat desa, mengidentifikasi status ketahanan pangan desa, dan menentukan indikator ketahanan pangan yang paling berhubungan dengan prevalensi stunting di Kabupaten PPU. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder Data Desa Presisi (DDP) 2023 dan data prevalensi stunting dari e-PPGBM Dinas Kesehatan Kabupaten PPU tahun 2023. Analisis mencakup 40 dari 54 desa/kelurahan yang memiliki data lengkap. IKP tingkat desa dihitung menggunakan kerangka yang dimodifikasi dengan sembilan indikator yang merepresentasikan aspek ketersediaan pangan, akses pangan, dan pemanfaatan pangan. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, korelasi Spearman, dan regresi linear berganda metode backward. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata IKP tingkat desa sebesar 57,81 dengan rentang 33,41–81,04 dan termasuk kategori agak rentan. Rata-rata prevalensi stunting sebesar 13,70% dengan rentang 0–36,17%. IKP berhubungan negatif dan signifikan dengan prevalensi stunting (r = -0,464; p = 0,003). Kemiskinan merupakan indikator yang paling dominan dalam model regresi (ß = 0,379; p = 0,002), sedangkan angka harapan hidup menunjukkan hubungan negatif tetapi tidak signifikan pada a = 5% (ß = -0,722; p = 0,077). Model akhir memiliki Adjusted R² sebesar 0,261. Penelitian menyimpulkan bahwa ketahanan pangan tingkat desa berhubungan signifikan dengan prevalensi stunting, dengan kemiskinan sebagai faktor yang paling dominan. Penguatan ketahanan pangan desa melalui pengurangan kemiskinan, peningkatan pendidikan perempuan, dan optimalisasi pemanfaatan Dana Desa dapat mendukung percepatan penurunan stunting.; Food security is an important determinant of nutritional status, including stunting among children under five years of age. Penajam Paser Utara Regency (PPU) has a relatively high prevalence of stunting despite being classified as highly food-secure based on the Food Security Index (Indeks Ketahanan Pangan, IKP) developed by the National Food Agency (BAPANAS). This study aimed to analyze the relationship between village-level IKP and stunting prevalence, identify village food security status, and determine the indicators most strongly associated with stunting prevalence in PPU. This cross-sectional study used secondary data from Data Desa Presisi (DDP) 2023 and stunting prevalence data from e-PPGBM of the PPU District Health Office. The analysis included 40 of 54 villages/urban villages with complete data. Village-level IKP was calculated using a modified framework comprising nine indicators representing food availability, food access, and food utilization. Data were analyzed using descriptive statistics, Spearman's rank correlation, and backward multiple linear regression. The mean village-level IKP score was 57.81, ranging from 33.41 to 81.04, and was classified as moderately food vulnerable. The mean stunting prevalence was 13.70%, ranging from 0% to 36.17%. IKP was significantly and negatively correlated with stunting prevalence (r = -0.464; p = 0.003). Poverty rate (r = 0.529; p &lt; 0.001), food expenditure exceeding 65% of total expenditure (r = 0.420; p = 0.007), and households without electricity (r = 0.427; p = 0.006) were positively correlated with stunting, while women's mean years of schooling was negatively correlated (r = -0.356; p = 0.024). The final regression model included poverty and life expectancy (adjusted R² = 0.261). Poverty was the most dominant indicator (ß = 0.379; p = 0.002), while life expectancy showed a negative but non-significant effect (ß = -0.722; p = 0.077). The study concludes that better village-level food security is associated with lower stunting prevalence, with poverty emerging as the most dominant associated factor. Strengthening village food security through poverty reduction, improved women's education, and optimization of Village Fund utilization may support stunting reduction efforts.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177824</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengembangan Produk Sosis Ikan Layang (Decapterus sp.) dengan Wortel (Daucus Carota L.) sebagai Kudapan untuk Anak Usia Sekolah</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177778</link>
<description>Pengembangan Produk Sosis Ikan Layang (Decapterus sp.) dengan Wortel (Daucus Carota L.) sebagai Kudapan untuk Anak Usia Sekolah
Unzila, Silma
Anak usia sekolah rentan mengalami kekurangan gizi yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan, sehingga diperlukan pangan yang bergizi dan disukai anak. Kebiasaan konsumsi jajanan yang cenderung rendah kualitas gizi mendorong pengembangan alternatif kudapan sehat, salah satunya sosis yang populer di kalangan anak. Pemanfaatan ikan sebagai bahan baku sosis menjadi solusi karena kaya protein dan asam lemak omega-3 serta lebih ekonomis, sementara penambahan wortel berpotensi meningkatkan kandungan ß-karoten sebagai provitamin A. Ikan layang dipilih karena ketersediaannya melimpah namun pemanfaatannya masih belum optimal, sehingga perlu diversifikasi pengolahan produk untuk meningkatkan konsumsi ikan. Kombinasi ikan layang dan wortel diharapkan menghasilkan produk sosis yang tidak hanya memiliki nilai gizi lebih baik, tetapi juga tetap memiliki karakteristik sensori yang disukai. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan sosis ikan layang dengan penambahan wortel serta mengevaluasi karakteristik fisik, kandungan gizi, dan daya terima sebagai alternatif kudapan bergizi bagi anak.&#13;
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengembangkan produk sosis dengan bahan dasar daging ikan layang (Decapterus sp.) dengan penambahan wortel untuk anak. Adapun tujuan khusus penelitian ini yaitu (1) mengkaji kandungan zat gizi (air, abu, protein, lemak, karbohidrat, kandungan serat pangan, omega 3, kalsium, zat besi, dan kadar ß-karoten) produk sosis ikan layang (Decapterus sp.) dengan penambahan wortel (Daucus carota L.) untuk anak usia sekolah, (2) mengevaluasi karakteristik fisik (warna dan tekstur) dan sensori meliputi tingkat kesukaan panelis dan mutu hedonik sosis ikan layang (Decapterus sp.) dengan penambahan wortel (Daucus carota L.) untuk anak usia sekolah, (3) mengkaji deskripsi sensori (aroma, rasa, mouthfeel, dan aftertaste) sosis ikan layang dengan penambahan wortel formula terbaik menggunakan metode Quantitetive Descriptive Analysis (QDA), (4) mengevaluasi daya terima anak sekolah dasar serta mengkaji daya cerna protein dan bioaksesibilitas mineral pada produk sosis terpilih, (5) mengkaji kontribusi zat gizi terhadap angka kecukupan gizi (AKG) anak, dan Acuan Label Gizi (ALG) umum.&#13;
Rancangan penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain rancangan acak lengkap (RAL) dua ulangan. Perlakuan berupa variasi kombinasi ikan layang, wortel, dan tepung tulang ikan layang pada tiga formula, yaitu F1 (100:0:0), F2 (60:40:0), dan F3 (55:40:5), dari ketiga formula dipilih satu berdasarkan karakteristik organoleptik dan kandungan gizi. Data penelitian diolah menggunakan Microsoft Excel 2016 dan IBM SPSS. Uji beda dilakukan menggunakan analisis ragam one way ANOVA. Selanjutnya terdapat perbedaan signifikan antar perlakuan (p&lt;0,05) lalu dilakukan uji lanjut menggunakan uji Duncan Multiple Range Test untuk mengetahui perbedaan dari perlakuan tiap formula.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan wortel pada sosis ikan layang berpengaruh signifikan terhadap karakteristik fisik, sensori, dan kandungan gizi produk. Kandungan omega-3 berkisar 0,62–1,12%, zat besi menurun dari 2,69 menjadi 1,31 mg, sedangkan kalsium meningkat dari 7,09 menjadi. Komposisi proksimat sosis ikan layang per 100 g menunjukkan bahwa energi berkisar 157,94–175,22 kkal, dengan penurunan seiring meningkatnya substitusi. Kadar air berada pada 61,36–63,33%, sedangkan kadar abu meningkat dari 1,35% menjadi 2,47%. Protein dan lemak menurun masing-masing dari 17,43% menjadi 11,67% dan dari 5,36% menjadi 4,23%, sementara karbohidrat dan serat meningkat dari 14,31% menjadi 18,80% dan dari 0,71% menjadi 5,12%. Kandungan omega-3 berkisar 0,62–1,12%, zat besi menurun dari 2,69 menjadi 1,31 mg, sedangkan kalsium meningkat dari 7,09 menjadi 41,29 mg dan ß-karoten dari 414,41 mcg, 2841,11 mcg, dan 2698,46 mcg.&#13;
Peningkatan proporsi wortel membuat warna sosis lebih cerah kekuningan akibat kandungan ß-karoten, namun tekstur menjadi lebih lunak karena berkurangnya protein ikan pembentuk gel. Analisis deskriptif menunjukkan F1 memiliki elastisitas tertinggi, sedangkan F2 memiliki kualitas sensori dan kandungan gizi paling seimbang dengan warna lebih cerah, tekstur kenyal, serta rasa dan aroma ikan yang masih disukakesukaan, terutama pada atribut rasa dan tekstur. Penentuan formula terpilih didasarkan pada kombinasi terbaik antara kualitas sensori dan kandungan gizi. Formula terbaik umumnya merupakan formulasi dengan tingkat substitusi wortel sedang, yang mampu mempertahankan kandungan protein yang cukup tinggi sekaligus meningkatkan kandungan ß-karoten. &#13;
Analisis deskriptif menunjukkan F1 memiliki elastisitas tertinggi, sedangkan F2 memberikan kualitas sensori dan kandungan gizi paling seimbang dengan warna lebih cerah, tekstur kenyal, serta rasa dan aroma ikan yang masih disukai. Formula F2 mengandung protein 12,50% dengan daya cerna protein 64,44%, serta bioaksesibilitas zat besi dan kalsium masing-masing 9,11% dan 11,06%. Selain itu, F2 berkontribusi terhadap AKG anak usia 7–9 tahun, terutama protein, omega-3, dan ß-karoten, serta berpotensi diklaim sebagai pangan sumber protein dan sumber serat sesuai ketentuan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2022, dengan syarat memenuhi batas maksimum yaitu lemak total = 18 g, lemak jenuh = 6 g, kolesterol = 60 mg, dan natrium = 300 mg.&#13;
Dapat disimpulkan bahwa formula F2 merupakan formula terbaik karena memberikan keseimbangan paling optimal antara mutu sensori dan kandungan gizi. Penambahan wortel mampu meningkatkan kandungan serat pangan dan ß-karoten tanpa menurunkan penerimaan konsumen secara signifikan, sedangkan penambahan tepung tulang ikan berkontribusi dalam peningkatan kandungan kalsium. Dengan daya terima yang baik dan kandungan gizi yang mendukung kebutuhan anak, sosis ikan layang dengan penambahan wortel berpotensi dikembangkan sebagai alternatif kudapan bergizi untuk anak usia sekolah.; School-aged children are vulnerable to malnutrition, which may hinder their growth and development; therefore, the development of nutritious and acceptable food innovations is essential. The frequent consumption of low-nutrient snacks highlights the need for healthier snack alternatives, one of which is sausage, a product widely favored by children. The utilization of fish as the main raw material offers a promising solution due to its high protein and omega-3 fatty acid content, as well as its economic value. Meanwhile, the incorporation of carrots has the potential to enhance ß-carotene content as a provitamin A source. Round scad was selected due to its abundant availability and underutilized potential, highlighting the need for product diversification to promote greater fish consumption. The combination of round scad and carrots is expected to produce a sausage with improved nutritional value while maintaining desirable sensory characteristics. Therefore, this study aimed to develop round scad sausage with carrot addition and to evaluate its physical properties, nutritional composition, and acceptability as a nutritious snack alternative for school-aged children.&#13;
This study generally aimed to develop a sausage product based on round scad (Decapterus sp.) with carrot addition for children. The specific objectives of this study were to: (1) determine the nutritional composition, including moisture, ash, protein, fat, carbohydrate, dietary fiber, omega-3 fatty acids, calcium, iron, and ß-carotene contents of round scad (Decapterus sp.) sausage fortified with carrot (Daucus carota L.) for school-aged children; (2) evaluate the physical characteristics (color and texture) and sensory properties, including hedonic preference and sensory quality, of the developed sausage; (3) characterize the sensory attributes (aroma, taste, mouthfeel, and aftertaste) of the selected formulation using Quantitative Descriptive Analysis (QDA); (4) evaluate the acceptability of the selected sausage among elementary school children and assess its protein digestibility and mineral bioaccessibility; and (5) determine its contribution to the Recommended Dietary Allowance (RDA) for children and the Reference Intake (RI) for nutrition labeling purposes.&#13;
The results demonstrated that the addition of carrot significantly affected the physical characteristics, sensory properties, and nutritional composition of round scad sausage. The omega-3 content ranged from 0.62% to 1.12%, while iron content decreased from 2.69 to 1.31 mg/100 g. In contrast, calcium content increased from 7.09 to 41.29 mg/100 g. The proximate composition per 100 g of sausage showed that the energy content ranged from 157.94 to 175.22 kcal and decreased with increasing levels of carrot substitution. Moisture content ranged from 61.36% to 63.33%, whereas ash content increased from 1.35% to 2.47%. Protein and fat contents decreased from 17.43% to 11.67% and from 5.36% to 4.23%, respectively, while carbohydrate and dietary fiber contents increased from 14.31% to 18.80% and from 0.71% to 5.12%, respectively. Furthermore, ß-carotene content increased markedly from 414.41 µg/100 g in the control formulation to 2,841.11 µg/100 g and 2,698.46 µg/100 g in the carrot-fortified formulations.&#13;
This research employed an experimental design using a Completely Randomized Design (CRD) with two replications. The treatments consisted of variations in the proportion of round scad, carrot, and round scad bone meal in three formulations: F1 (100:0:0), F2 (60:40:0), and F3 (55:40:5). One formulation was selected based on its organoleptic characteristics and nutritional composition. Data were processed using Microsoft Excel 2016 and IBM SPSS. Statistical analysis was performed using one-way ANOVA, and when significant differences were observed (p&lt;0.05), Duncan’s Multiple Range Test was applied to determine differences among formulations.&#13;
Increasing the proportion of carrot resulted in a brighter yellowish color due to its ß-carotene content but produced a softer texture because of the reduced proportion of fish protein responsible for gel formation. Quantitative Descriptive Analysis (QDA) revealed that F1 exhibited the highest elasticity, whereas F2 demonstrated the most balanced sensory quality and nutritional composition, characterized by a brighter color, a firm and elastic texture, and acceptable fish aroma and flavor. The selected formulation was determined based on the optimal balance between sensory acceptability and nutritional quality. Overall, the formulation containing a moderate level of carrot substitution (F2) was identified as the optimal formulation because it maintained a relatively high protein content while substantially increasing ß-carotene content.&#13;
Descriptive sensory analysis revealed that F1 exhibited the highest elasticity, whereas F2 demonstrated the most balanced sensory and nutritional characteristics, characterized by a brighter color, a firmer texture, and acceptable fish flavor and aroma. F2 contained 12.50% protein with an in vitro protein digestibility of 64.44%, while the bioaccessibility of iron and calcium reached 9.11% and 11.06%, respectively. Furthermore, F2 contributed to the recommended dietary allowance (RDA) for children aged 7–9 years, particularly for protein, omega-3 fatty acids, and ß-carotene. The formulation also has the potential to be labeled as a source of protein and a source of dietary fiber in accordance with the Indonesian Food and Drug Authority Regulation (BPOM RI) No. 1 of 2022, provided that it complies with the maximum allowable limits per serving, namely total fat =18 g, saturated fat =6 g, cholesterol =60 mg, and sodium =300 mg.&#13;
It can be concluded that F2 was the best formulation, as it provided the most optimal balance between sensory quality and nutritional value. The addition of carrot increased dietary fiber and ß-carotene contents without significantly reducing consumer acceptance, while the incorporation of fish bone flour contributed to an increase in calcium content. With good acceptability and nutritional properties that support children’s nutritional needs, scad fish sausage with carrot addition has the potential to be developed as a nutritious snack alternative for school-aged children.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177778</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
