<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>DF - Medicine and Nutrition</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160868</link>
<description/>
<pubDate>Wed, 12 Aug 2026 18:53:58 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-12T18:53:58Z</dc:date>
<item>
<title>Pengaruh Intervensi Nudging terhadap Kualitas Diet dan Food Waste pada Siswa Boarding School</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178289</link>
<description>Pengaruh Intervensi Nudging terhadap Kualitas Diet dan Food Waste pada Siswa Boarding School
Yunianto, Andi Eka
Food waste (FW) adalah salah satu tantangan terbesar dalam mencapai pola makan yang sehat dan berkelanjutan, serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama tujuan ke-12 yang berkaitan dengan produksi dan konsumsi. Lingkungan sekolah, khususnya di boarding school, dapat menjadi salah satu penyebab potensi terjadinya FW. Hal ini disebabkan oleh pola konsumsi remaja yang belum optimal, minimnya kesadaran akan nilai-nilai pangan, serta kurangnya strategi intervensi yang efektif sehingga diperlukan pendekatan inovatif yang mampu meningkatkan kualitas diet sekaligus menurunkan FW. Nudging merupakan salah satu bentuk intervensi dalam merurubah perilaku makan remaja.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh intervensi nudging terhadap kualitas diet dan FW pada siswa boarding school. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik sosiodemografi, asupan zat gizi, kebiasaan makan, kualitas diet, dan FW siswa boarding school; menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kualitas diet dan FW; mengembangkan strategi dan media nudging yang sesuai dengan karakteristik remaja; serta mengevaluasi efektivitas intervensi nudging dalam meningkatkan kualitas diet dan menurunkan FW. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan media nudging yang dirancang berdasarkan mediator perubahan perilaku dan diaplikasikan secara langsung pada sistem penyelenggaraan makanan boarding school.&#13;
Penelitian ini dibagi menjadi desain dua tahap yang dilaksanakan pada bulan Januari hingga Mei 2025 di 4 SMA boarding school di Kabupaten Lampung Timur. Tahap pertama adalah studi formatif yang menggunakan desain cross-sectional untuk mendapatkan gambaran awal mengenai kualitas diet, food waste (FW), serta faktor-faktor yang mempengaruhi pola makan siswa sedangkan tahap kedua merupakan penelitian intervensi dengan desain Cluster Randomized Controlled Trial (CRCT). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa yang berusia 15 hingga 17 tahun yang tinggal di asrama dan mendapatkan makanan dari kantin sekolah. Pada studi formatif, jumlah subjek yang diteliti 153 siswa sedangkan pada tahap intervensi terdapat kelompok kontrol dan kelompok nudging yang terdiri masing-masing kelompok 40 siswa. Intervensi nudging dilaksanakan selama dua bulan dengan penerapan arsitektur pilihan. Beberapa cara yang digunakan termasuk cara pengaturan tata letak makanan, penyajian sayuran lebih awal, penggunaan mangkuk standar yang menarik (smiley healthy bowl), serta media edukasi berupa poster yang telah di validasi.&#13;
Data karakteristik sosiodemografi siswa diperoleh menggunakan kuesioner dengan wawancara. Data kualitas diet dievaluasi dengan menggunakan Healthy Eating Index (HEI) 2015, sementara FW diukur melalui metode penimbangan makanan. Analisis regresi linear berganda dilakukan untuk menganalisis faktor yang berhuungan dengan kualitias diet dan FW remaja.  Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial, termasuk uji paired t-test, independent t-test, serta Analysis of Covariance (ANCOVA) untuk mengendalikan variabel perancu seperti usia, jenis kelamin, jenis sekolah, uang saku, dan skor baseline. &#13;
Penelitian menunjukkan bahwa sebelum dilakukan intervensi, kualitas pola makan siswa umumnya masih rendah. Hal ini terutama terlihat dalam konsumsi sayur, buah, dan produk susu yang kurang. Kontribusi FW didominasi oleh makanan makanan pokok dan sayur. Setelah dilakukannya intervensi, kelompok nudging menunjukkan perbaikan yang signifikan dalam kualitas diet dibandingkan dengan kelompok kontrol (p&lt;0,001) sementara kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan (p=0,147). Hasil analisis ANCOVA mengonfirmasi bahwa intervensi nudging merupakan prediktor paling dominan terhadap peningkatan kualitas diet (p&lt;0,001). Hal yang sama juga terjadi pada kelompok nudging mengalami penurunan FW yang jauh lebih besar dibandingkan kelompok kontrol (p=0,000). Analisis ANCOVA menunjukkan bahwa nudging berpengaruh signifikan terhadap FW (p&lt;0,001).&#13;
Secara konseptual, temuan dari penelitian ini mendukung teori nudge yang mengemukakan bahwa penyesuaian kecil dalam lingkungan siswa secara otomatis memengaruhi perilaku individu tanpa perlu adanya paksaan. Nudging terbukti mampu meningkgurangi FW. Ini juga menunjukkan bahwa efek nudging bersifat universal dan tidak terpengaruh oleh perbedaan dalam karakteristik demografis, sehingga memiliki potensi besar untuk diterapkan secara luas.&#13;
Implikasi penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa nudging merupakan strategi pendidikan gizi yang efektif untuk meningkatkan kualitas diet dan mengurangi FW pada remaja. Secara praktis, temuan penelitian ini dapat digunakan sebagai landasan bagi sekolah dan para pembuat kebijakan dalam merancang regulasi pengelolaan makanan yang berfokus pada choice architecture untuk mendukung kesehatan serta keberlanjutan pangan. Dengan demikian, intervensi nudging memiliki potensi untuk menjadi solusi yang strategis, hemat biaya, dan berkelanjutan dalam mendukung sistem pangan sekolah yang sehat dan ramah lingkungan.; Food waste (FW) is one of the greatest challenges in achieving healthy and sustainable dietary patterns, as well as in supporting the attainment of the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly Goal 12, which focuses on responsible production and consumption. The school environment, especially in boarding schools, can be a significant contributor to the potential occurrence of food waste. This condition is influenced by suboptimal dietary habits among adolescents, limited awareness of food values, and the lack of effective intervention strategies. Therefore, innovative approaches are needed to improve diet quality while simultaneously reducing food waste. Nudging is one form of intervention that can be applied to influence and modify adolescents’ eating behaviors.&#13;
This study aims to analyze the effect of nudging interventions on diet quality and food waste (FW) among boarding school students. Specifically, the study seeks to identify the sociodemographic characteristics, nutrient intake, eating habits, diet quality, and food waste of boarding school students; to analyze factors influencing diet quality and food waste; to develop nudging strategies and media that are appropriate to adolescent characteristics; and to evaluate the effectiveness of nudging interventions in improving diet quality and reducing food waste. The novelty of this study lies in the development of nudging media designed based on behavioral change mediators and directly applied within the food service system of boarding schools.&#13;
This study employed a two-stage design conducted from January to May 2025 in four senior high school boarding schools in East Lampung Regency. The first stage was a formative study using a cross-sectional design to obtain an initial overview of diet quality, food waste (FW), and factors influencing students’ eating patterns, while the second stage was an intervention study using a Cluster Randomized Controlled Trial (CRCT) design. The study subjects were students aged 15–17 years who lived in dormitories and received meals from the school canteen. In the formative study, 153 students were included, whereas in the intervention stage there were a control group and a nudging group, each consisting of 40 students. The nudging intervention was implemented over a two-month period through the application of choice architecture, including food layout arrangements, serving vegetables first, the use of attractive standard bowls (smiley healthy bowls), and validated educational media in the form of posters.&#13;
Data on students’ sociodemographic characteristics were collected using a questionnaire administered through interviews. Diet quality was assessed using the Healthy Eating Index (HEI) 2015, while food waste (FW) was measured using the food weighing method. Multiple linear regression analysis was conducted to examine factors associated with adolescents’ diet quality and food waste. Data analysis was performed using both descriptive and inferential approaches, including paired t-tests, independent t-tests, and Analysis of Covariance (ANCOVA) to control for potential confounding variables such as age, sex, type of school, pocket money, and baseline scores.&#13;
The study found that prior to the intervention, students’ overall diet quality was generally low, particularly with respect to insufficient consumption of vegetables, fruits, and dairy products. The contribution to food waste was predominantly from staple foods and vegetables. Following the intervention, the nudging group demonstrated a significant improvement in diet quality compared with the control group (p &lt; 0.001), whereas no significant change was observed in the control group (p=0,147). ANCOVA results confirmed that the nudging intervention was the most dominant predictor of improved diet quality (p &lt; 0.001). Similarly, the nudging group experienced a substantially greater reduction in food waste than the control group (p=0.000). ANCOVA analysis further indicated that nudging had a significant effect on food waste (p &lt; 0.001).&#13;
Conceptually, the findings of this study support nudge theory, which posits that small adjustments in the environment can automatically influence individual behavior without coercion. Nudging was shown to effectively reduce food waste. These results also suggest that the effects of nudging are universal and not influenced by differences in demographic characteristics, indicating strong potential for broad application.&#13;
The implications of this study provide empirical evidence that nudging is an effective nutrition education strategy for improving diet quality and reducing food waste among adolescents. Practically, these findings can serve as a foundation for schools and policymakers in designing food management regulations that emphasize choice architecture to promote health and food sustainability. Thus, nudging interventions have the potential to become a strategic, cost-effective, and sustainable solution for supporting healthy and environmentally friendly school food systems.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178289</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Intervensi Nudging terhadap Kualitas Diet dan Food Waste pada Siswa Boarding School</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178295</link>
<description>Pengaruh Intervensi Nudging terhadap Kualitas Diet dan Food Waste pada Siswa Boarding School
Yunianto, Andi Eka
Food waste (FW) adalah salah satu tantangan terbesar dalam mencapai pola makan yang sehat dan berkelanjutan, serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama tujuan ke-12 yang berkaitan dengan produksi dan konsumsi. Lingkungan sekolah, khususnya di boarding school, dapat menjadi salah satu penyebab potensi terjadinya FW. Hal ini disebabkan oleh pola konsumsi remaja yang belum optimal, minimnya kesadaran akan nilai-nilai pangan, serta kurangnya strategi intervensi yang efektif sehingga diperlukan pendekatan inovatif yang mampu meningkatkan kualitas diet sekaligus menurunkan FW. Nudging merupakan salah satu bentuk intervensi dalam merurubah perilaku makan remaja.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh intervensi nudging terhadap kualitas diet dan FW pada siswa boarding school. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik sosiodemografi, asupan zat gizi, kebiasaan makan, kualitas diet, dan FW siswa boarding school; menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kualitas diet dan FW; mengembangkan strategi dan media nudging yang sesuai dengan karakteristik remaja; serta mengevaluasi efektivitas intervensi nudging dalam meningkatkan kualitas diet dan menurunkan FW. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan media nudging yang dirancang berdasarkan mediator perubahan perilaku dan diaplikasikan secara langsung pada sistem penyelenggaraan makanan boarding school.&#13;
Penelitian ini dibagi menjadi desain dua tahap yang dilaksanakan pada bulan Januari hingga Mei 2025 di 4 SMA boarding school di Kabupaten Lampung Timur. Tahap pertama adalah studi formatif yang menggunakan desain cross-sectional untuk mendapatkan gambaran awal mengenai kualitas diet, food waste (FW), serta faktor-faktor yang mempengaruhi pola makan siswa sedangkan tahap kedua merupakan penelitian intervensi dengan desain Cluster Randomized Controlled Trial (CRCT). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa yang berusia 15 hingga 17 tahun yang tinggal di asrama dan mendapatkan makanan dari kantin sekolah. Pada studi formatif, jumlah subjek yang diteliti 153 siswa sedangkan pada tahap intervensi terdapat kelompok kontrol dan kelompok nudging yang terdiri masing-masing kelompok 40 siswa. Intervensi nudging dilaksanakan selama dua bulan dengan penerapan arsitektur pilihan. Beberapa cara yang digunakan termasuk cara pengaturan tata letak makanan, penyajian sayuran lebih awal, penggunaan mangkuk standar yang menarik (smiley healthy bowl), serta media edukasi berupa poster yang telah di validasi.&#13;
Data karakteristik sosiodemografi siswa diperoleh menggunakan kuesioner dengan wawancara. Data kualitas diet dievaluasi dengan menggunakan Healthy Eating Index (HEI) 2015, sementara FW diukur melalui metode penimbangan makanan. Analisis regresi linear berganda dilakukan untuk menganalisis faktor yang berhuungan dengan kualitias diet dan FW remaja.  Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial, termasuk uji paired t-test, independent t-test, serta Analysis of Covariance (ANCOVA) untuk mengendalikan variabel perancu seperti usia, jenis kelamin, jenis sekolah, uang saku, dan skor baseline. &#13;
Penelitian menunjukkan bahwa sebelum dilakukan intervensi, kualitas pola makan siswa umumnya masih rendah. Hal ini terutama terlihat dalam konsumsi sayur, buah, dan produk susu yang kurang. Kontribusi FW didominasi oleh makanan makanan pokok dan sayur. Setelah dilakukannya intervensi, kelompok nudging menunjukkan perbaikan yang signifikan dalam kualitas diet dibandingkan dengan kelompok kontrol (p&lt;0,001) sementara kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan (p=0,147). Hasil analisis ANCOVA mengonfirmasi bahwa intervensi nudging merupakan prediktor paling dominan terhadap peningkatan kualitas diet (p&lt;0,001). Hal yang sama juga terjadi pada kelompok nudging mengalami penurunan FW yang jauh lebih besar dibandingkan kelompok kontrol (p=0,000). Analisis ANCOVA menunjukkan bahwa nudging berpengaruh signifikan terhadap FW (p&lt;0,001).&#13;
Secara konseptual, temuan dari penelitian ini mendukung teori nudge yang mengemukakan bahwa penyesuaian kecil dalam lingkungan siswa secara otomatis memengaruhi perilaku individu tanpa perlu adanya paksaan. Nudging terbukti mampu meningkgurangi FW. Ini juga menunjukkan bahwa efek nudging bersifat universal dan tidak terpengaruh oleh perbedaan dalam karakteristik demografis, sehingga memiliki potensi besar untuk diterapkan secara luas.&#13;
Implikasi penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa nudging merupakan strategi pendidikan gizi yang efektif untuk meningkatkan kualitas diet dan mengurangi FW pada remaja. Secara praktis, temuan penelitian ini dapat digunakan sebagai landasan bagi sekolah dan para pembuat kebijakan dalam merancang regulasi pengelolaan makanan yang berfokus pada choice architecture untuk mendukung kesehatan serta keberlanjutan pangan. Dengan demikian, intervensi nudging memiliki potensi untuk menjadi solusi yang strategis, hemat biaya, dan berkelanjutan dalam mendukung sistem pangan sekolah yang sehat dan ramah lingkungan.; Food waste (FW) is one of the greatest challenges in achieving healthy and sustainable dietary patterns, as well as in supporting the attainment of the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly Goal 12, which focuses on responsible production and consumption. The school environment, especially in boarding schools, can be a significant contributor to the potential occurrence of food waste. This condition is influenced by suboptimal dietary habits among adolescents, limited awareness of food values, and the lack of effective intervention strategies. Therefore, innovative approaches are needed to improve diet quality while simultaneously reducing food waste. Nudging is one form of intervention that can be applied to influence and modify adolescents’ eating behaviors.&#13;
This study aims to analyze the effect of nudging interventions on diet quality and food waste (FW) among boarding school students. Specifically, the study seeks to identify the sociodemographic characteristics, nutrient intake, eating habits, diet quality, and food waste of boarding school students; to analyze factors influencing diet quality and food waste; to develop nudging strategies and media that are appropriate to adolescent characteristics; and to evaluate the effectiveness of nudging interventions in improving diet quality and reducing food waste. The novelty of this study lies in the development of nudging media designed based on behavioral change mediators and directly applied within the food service system of boarding schools.&#13;
This study employed a two-stage design conducted from January to May 2025 in four senior high school boarding schools in East Lampung Regency. The first stage was a formative study using a cross-sectional design to obtain an initial overview of diet quality, food waste (FW), and factors influencing students’ eating patterns, while the second stage was an intervention study using a Cluster Randomized Controlled Trial (CRCT) design. The study subjects were students aged 15–17 years who lived in dormitories and received meals from the school canteen. In the formative study, 153 students were included, whereas in the intervention stage there were a control group and a nudging group, each consisting of 40 students. The nudging intervention was implemented over a two-month period through the application of choice architecture, including food layout arrangements, serving vegetables first, the use of attractive standard bowls (smiley healthy bowls), and validated educational media in the form of posters.&#13;
Data on students’ sociodemographic characteristics were collected using a questionnaire administered through interviews. Diet quality was assessed using the Healthy Eating Index (HEI) 2015, while food waste (FW) was measured using the food weighing method. Multiple linear regression analysis was conducted to examine factors associated with adolescents’ diet quality and food waste. Data analysis was performed using both descriptive and inferential approaches, including paired t-tests, independent t-tests, and Analysis of Covariance (ANCOVA) to control for potential confounding variables such as age, sex, type of school, pocket money, and baseline scores.&#13;
The study found that prior to the intervention, students’ overall diet quality was generally low, particularly with respect to insufficient consumption of vegetables, fruits, and dairy products. The contribution to food waste was predominantly from staple foods and vegetables. Following the intervention, the nudging group demonstrated a significant improvement in diet quality compared with the control group (p &lt; 0.001), whereas no significant change was observed in the control group (p=0,147). ANCOVA results confirmed that the nudging intervention was the most dominant predictor of improved diet quality (p &lt; 0.001). Similarly, the nudging group experienced a substantially greater reduction in food waste than the control group (p=0.000). ANCOVA analysis further indicated that nudging had a significant effect on food waste (p &lt; 0.001).&#13;
Conceptually, the findings of this study support nudge theory, which posits that small adjustments in the environment can automatically influence individual behavior without coercion. Nudging was shown to effectively reduce food waste. These results also suggest that the effects of nudging are universal and not influenced by differences in demographic characteristics, indicating strong potential for broad application.&#13;
The implications of this study provide empirical evidence that nudging is an effective nutrition education strategy for improving diet quality and reducing food waste among adolescents. Practically, these findings can serve as a foundation for schools and policymakers in designing food management regulations that emphasize choice architecture to promote health and food sustainability. Thus, nudging interventions have the potential to become a strategic, cost-effective, and sustainable solution for supporting healthy and environmentally friendly school food systems.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178295</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Model Skrining Risiko Berat dan Panjang Lahir serta Grafik Pertumbuhan Janin Lokal Kota Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177729</link>
<description>Model Skrining Risiko Berat dan Panjang Lahir serta Grafik Pertumbuhan Janin Lokal Kota Bogor
Siregar, Mukhlidah Hanun
Berat dan panjang lahir merupakan indikator penting yang mencerminkan kualitas pertumbuhan janin selama kehamilan serta menjadi penentu awal status kesehatan anak di masa mendatang. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan Panjang Badan Lahir Rendah (PBLR) memiliki risiko tinggi terhadap kematian neonatal, stunting, gangguan perkembangan, serta penyakit kronis di masa dewasa. Terjadi peningkatan prevalensi BBLR dan PBLR pada tahun 2021-2022 di Kota Bogor, seiring dengan peningkatan prevalensi stunting di tahun yang sama. Di sisi lain, pemantauan pertumbuhan janin di Puskesmas masih terbatas pada pengukuran tinggi fundus uteri yang memiliki keterbatasan akurasi, sementara pemanfaatan ultrasonografi (USG) yang tersedia di Puskesmas belum didukung oleh grafik pertumbuhan janin berbasis populasi lokal. Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk mengidentifikasi faktor risiko BBLR dan PBLR secara komprehensif serta mengembangkan grafik pemantauan pertumbuhan janin. &#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi laju pertumbuhan janin (LPJ), berat lahir, dan panjang lahir, serta mengembangkan model skrining BBLR, PBLR, dan grafik lokal pertumbuhan janin berbasis biometri USG di Kota Bogor. Penelitian menggunakan desain kohort prospektif di 10 Puskesmas Kota Bogor dari bulan Juli 2024 sampai Mei 2025. Responden penelitian yaitu 113 ibu hamil sejak usia kehamilan awal (=12 minggu) yang melakukan pemeriksaan Antenatal Care (ANC) di Puskesmas sampai melahirkan dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Data dikumpulkan melalui 3 tahap yaitu tahap baseline yaitu mengumpulkan faktor ibu dan ayah pada trimester pertama, follow-up data ibu, ayah dan janin pada trimester kedua dan ketiga, dan follow-up data ibu dan janin pasca persalinan. Data diolah dan dianalisis menggunakan uji regresi linier berganda, regresi logistik berganda, dan regresi curve estimation. Penelitian ini telah memperoleh izin etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.&#13;
Rata-rata berat badan lahir bayi adalah 3008,3±422,7 g dan terdapat 7,1% bayi termasuk BBLR. Sementara rata-rata panjang badan lahir adalah 48,2±2,0 cm, dengan proporsi PBLR sebesar 34,5%. Laju pertumbuhan janin dipengaruhi oleh kombinasi faktor ibu dan ayah dari awal kehamilan. Faktor ibu yaitu usia ibu menikah, berat badan prahamil, status anemia pada trimester pertama, usia kehamilan pada ANC pertama, dan perilaku merokok aktif ibu pada trimester pertama. Faktor ayah yaitu pendidikan dan Indeks Massa Tubuh (IMT). Namun, kombinasi faktor ini hanya mampu menjelaskan sebagian kecil variasi LPJ (5,4-17%).&#13;
Prediktor utama BBLR meliputi IMT prahamil, berat badan ibu saat kunjungan ANC pertama, tinggi badan ayah, panjang femur (PF) awal trimester tiga, dan diameter biparietal (DBP) akhir trimester tiga, dengan model yang mampu menjelaskan 67,5% variasi kejadian BBLR dan memiliki kemampuan diskriminasi sangat baik hingga sangat tinggi (AUC 0,864-0,914); sensitivitas model meningkat dari 62,5% pada trimester pertama menjadi 75% pada trimester tiga, sedangkan spesifisitas meningkat dari 85,7% menjadi 90,5%, menunjukkan bahwa skrining sejak awal kehamilan sudah efektif dan semakin akurat pada trimester akhir, sehingga model ini layak digunakan sebagai alat skrining risiko BBLR berbasis kombinasi faktor ibu, ayah, dan janin. Model prediksi PBLR menunjukkan bahwa faktor utama adalah IMT prahamil, berat badan ibu saat ANC pertama, perilaku merokok aktif ayah pada trimester ketiga, dan lingkar kepala (LK) pada awal trimester ketiga, dengan kemampuan model menjelaskan 59,2% variasi kejadian PBLR serta memiliki performa diskriminasi cukup baik (AUC 0,634 pada trimester pertama dan 0,731 pada trimester tiga awal). Nilai sensitivitas meningkat dari 71,8% menjadi 76,9%, sedangkan spesifisitas relatif rendah (44,6%-50,0%). Kedua model ini cukup efektif untuk skrining dini berbasis lembar checklist di Puskesmas meskipun masih perlu validasi eksternal dengan sampel besar.&#13;
Grafik lokal taksiran berat janin (TBJ) dikembangkan dengan Model II berbasis biometri janin DBP, LK, lingkar perut (LP), dan PF dengan kemampuan prediksi yang sangat baik (r=0,989, adjusted R²=0,977), dan tingkat kesalahan prediksi yang kecil. Sedangkan model prediksi usia kehamilan dan TBJ yang terbaik yaitu model quadratic dengan kemampuan prediksi yang sangat baik (r=0,951; adjusted R²=0,904) dan tingkat kesalahan prediksi yang relatif kecil. Analisis capability chart menunjukkan bahwa sebagian besar pengamatan TBJ berada pada rentang persentil 10-90th, sedangkan proporsi TBJ &lt;10th lebih banyak ditemukan pada kelompok BBLR dan PBLR dibandingkan kelompok dengan berat dan panjang badan lahir normal. Temuan ini menunjukkan bahwa model TBJ dan grafik pertumbuhan yang dikembangkan mampu mengidentifikasi gangguan pertumbuhan janin sejak usia kehamilan 28 minggu. Model quadratic juga menunjukkan performa yang sangat baik pada semua parameter biometri janin dengan koefisien korelasi yang kuat (rentang r=0,93-0,95) dan nilai R² berkisar 0,86-0,90, serta tingkat kesalahan prediksi yang relatif kecil. Analisis capability chart menunjukkan bahwa sebagian besar pengamatan biometri janin berada pada rentang persentil 10-90th, sedangkan proporsi ukuran biometri &lt;10th lebih sering ditemukan pada kelompok BBLR maupun PBLR. Pola ini menunjukkan bahwa parameter biometri janin juga mampu menggambarkan variasi pertumbuhan janin secara longitudinal dan berpotensi digunakan sebagai alat skrining untuk mendeteksi gangguan pertumbuhan intrauterin sejak usia kehamilan 28 minggu sampai melahirkan.&#13;
Temuan ini memperkuat bukti bahwa status gizi ibu prahamil (IMT prahamil dan berat badan awal kehamilan) dan faktor ayah (tinggi badan dan perilaku merokok) merupakan prediktor terkuat kejadian BBLR dan PBLR. Kondisi ini mencerminkan cadangan energi dan zat gizi ibu yang tidak memadai sebelum, awal kehamilan serta faktor ayah berdampak pada suplai kebutuhan pertumbuhan janin yang berdampak pada berat dan panjang lahir.; Birth weight and length are important indicators that reflect the quality of fetal growth during pregnancy and serve as early determinants of a child's future health status. Infants with low birth weight (LBW) and short birth length (SBL) have a high risk of neonatal mortality, stunting, developmental disorders, and chronic diseases in adulthood. There was an increase in the prevalence of LBW and SBL between 2021 and 2022 in Bogor City, alongside a rise in stunting prevalence during the same period. However, fetal growth monitoring in Primary Healthcare Centers (Puskesmas) remains limited to fundal height measurements, which lack accuracy, while the utilization of available ultrasonography (USG) at these centers is not yet supported by local population-based fetal growth charts. This situation highlights an urgent need to comprehensively identify the risk factors for LBW and SBL and to develop fetal growth monitoring charts.&#13;
This study aims to analyze the factors affecting fetal growth velocity (FGV), LBW, and SBL; to develop screening checklists and USG biometry-based fetal growth charts according to the population characteristics of Bogor City. The study conducted by prospective cohort design across 10 Puskesmas in Bogor City from July 2024 to May 2025. The respondents were pregnant women from early pregnancy (=12 weeks) who underwent antenatal care (ANC) examinations at the centers until delivery, based on inclusion and exclusion criteria. Data were collected in three stages: a baseline stage collecting maternal and paternal factors in the first trimester; a follow-up of maternal, paternal, and fetal data in the second and third trimesters; and a postpartum follow-up of maternal and infant data. The obtained data were processed and analyzed using multiple linear regression, multiple logistic regression and curve estimation regression. This research obtained ethical clearance from the Health Research Ethics Committee at the Faculty of Medicine and Health Sciences, Sultan Ageng Tirtayasa University.&#13;
The average infant birth weight of 3008.3±422.7 g, with 7.1% of infants classified as LBW. Meanwhile, the average birth length was 48.2±2.0 cm, with the proportion of SBL at 34.5%. Fetal growth velocity was influenced by a combination of maternal and paternal factors from early pregnancy. Maternal factors included maternal age at marriage, pre-pregnancy weight, anemia status in the first trimester, gestational age at the first ANC visit, and active maternal smoking in the first trimester. Paternal factors included the father's education and Body Mass Index (BMI). However, this combination of factors was only able to explain a small portion of the variation in fetal growth rate (5.4-17%).&#13;
The main predictors of LBW included pre-pregnancy BMI, maternal weight at the first ANC visit, paternal height, Femur Length (FL) at early of the third trimester, and Biparietal Diameter (BPD) at the end of the third trimester. This model explained 67.5% of the variation in LBW incidence and demonstrated excellent to highly excellent discriminative ability (AUC 0.864-0.914); the model's sensitivity increased from 62.5% in the first trimester to 75% in the third trimester, while specificity increased from 85.7% to 90.5%. This indicates that screening from early pregnancy is highly effective and becomes progressively more accurate in the final trimester, making this model suitable as an early screening tool for LBW risk based on a combination of maternal, paternal, and fetal factors. The SBL prediction model showed that the primary influencing factors were pre-pregnancy BMI, maternal weight at the first ANC visit, active paternal smoking behavior in the third trimester, and fetal Head Circumference (HC) at the beginning of the third trimester. This model explained 59.2% of the variation in SBL incidence and demonstrated acceptable discriminative performance (AUC 0.634 in the first trimester and 0.731 in the early third trimester). The sensitivity value increased from 71.8% to 76.9%, while the specificity was relatively low (44.6%-50.0%). Both models are sufficiently effective for early screening using checklist sheets at Puskesmas, although external validation with larger sample sizes is required.&#13;
The local fetal growth chart was developed using an estimated fetal weight (EFW) model derived from fetal biometric parameters, including biparietal diameter (BPD), head circumference (HC), abdominal circumference (AC), and femur length (FL). The model demonstrated excellent predictive accuracy (r = 0.989; adjusted R² = 0.977) and a low level of prediction error. Meanwhile, the best prediction model for gestational age and EFW was the quadratic model, showing excellent predictive ability (r=0.951; adjusted R² 0.904) and small prediction error rate. Capability chart analysis demonstrated that most EFW observations within the 10th-90th percentile range, whereas the proportion of EFW &lt;10th percentile was more frequently found in the group of infants with LBW and SBL compared to the group with normal. These findings indicate that the developed EFW model and growth charts are highly capable of identifying fetal growth disorders from 28 weeks of gestation. The quadratic model also exhibited excellent performance across all fetal biometry parameters, yielding strong correlation coefficients (r around 0.93-0.95), R² values ranging from 0.86-0.90, and a relatively small prediction error rate. Capability chart analysis showed that most fetal biometric observations were within the 10th-90th percentile range, while the proportion of biometric measurements &lt;10th percentile was more frequently found in both the LBW and SBL groups. This pattern suggests that fetal biometry parameters can also illustrate longitudinal fetal growth variations and have the potential to be used as screening tools to detect intrauterine growth restriction from 28 weeks of gestation until delivery.&#13;
These findings strengthen the evidence that poor maternal nutritional status before pregnancy (pre-pregnancy BMI and early pregnancy body weight =50 kg) and paternal factors (height =165 cm and smoking behavior) are the strongest nutritional predictors of LBW and SBL. These conditions reflect inadequate energy and nutrient reserves before and early pregnancy, which subsequently affect the nutritional supply required for optimal fetal growth, ultimately influencing birth weight and birth length.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177729</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Edukasi Gizi Berbasis Media Interaktif Terhadap Perubahan Perilaku Makan dan Aktivitas Fisik Remaja Kegemukan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173239</link>
<description>Pengaruh Edukasi Gizi Berbasis Media Interaktif Terhadap Perubahan Perilaku Makan dan Aktivitas Fisik Remaja Kegemukan
Said, Irfan
IRFAN SAID. Pengaruh Edukasi Gizi Berbasis Media Interaktif  terhadap Perilaku Makan dan Aktivitas Fisik Remaja Kegemukan. Dibimbing oleh DODIK BRIAWAN, CESILIA METI DWIRIANI dan ANNISA UTAMI SEMINAR.&#13;
&#13;
Kegemukan pada remaja merupakan masalah kesehatan yang semakin meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Prevalensi obesitas pada remaja telah meningkat secara signifikan, dengan dampak buruk terhadap kesehatan jangka panjang, termasuk peningkatan risiko penyakit degeneratif seperti diabetes tipe 2, hipertensi, gangguan metabolik, dan masalah psikologis. Di Indonesia, pada tahun 2018, prevalensi kegemukan pada remaja usia 13-15 tahun tercatat sebesar 16%, dengan 4,8% di antaranya mengalami obesitas. Penyebab utama kegemukan pada remaja adalah pola makan yang tidak sehat, seperti tingginya konsumsi makanan cepat saji yang kaya akan lemak, gula, dan garam, serta rendahnya tingkat aktivitas fisik. Faktor tidak langsung, seperti pengetahuan gizi dan sikap terhadap pola makan, juga berperan penting dalam meningkatkan risiko obesitas. Edukasi gizi berbasis media interaktif, khususnya menggunakan media sosial seperti TikTok, telah dipertimbangkan sebagai sarana efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan memengaruhi perubahan perilaku makan serta aktivitas fisik remaja. Media sosial memungkinkan penyampaian informasi yang menarik, interaktif, dan mudah diakses, yang dapat mendorong remaja untuk mengubah kebiasaan makan mereka serta meningkatkan aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh edukasi gizi berbasis media interaktif terhadap perubahan perilaku makan dan aktivitas fisik pada remaja kegemukan.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi gizi berbasis media interaktif terhadap perubahan perilaku makan dan aktivitas fisik pada remaja kegemukan. Kegemukan pada remaja telah menjadi masalah kesehatan yang signifikan, dengan prevalensinya yang terus meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Data menunjukkan bahwa penyebab utama kegemukan pada remaja adalah ketidakseimbangan antara asupan energi dan pengeluaran energi, yang dipengaruhi oleh pola makan yang tidak sehat dan rendahnya aktivitas fisik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi apakah edukasi gizi berbasis media interaktif, khususnya menggunakan media sosial seperti TikTok, dapat mempengaruhi perubahan perilaku makan dan meningkatkan aktivitas fisik pada remaja kegemukan.&#13;
Penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimen dengan metode pre-post test control group. Subjek penelitian terdiri dari remaja berusia 15-17 tahun yang dipilih dari dua sekolah di Jakarta Selatan, yang memiliki prevalensi obesitas tinggi. Penelitian dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah survei pendahuluan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kegemukan pada remaja, seperti pola makan, aktivitas fisik, pengetahuan, sikap, dan status gizi. Hasil survei menunjukkan bahwa faktor yang paling signifikan terkait kegemukan adalah rendahnya tingkat aktivitas fisik dan konsumsi makanan cepat saji yang tinggi kalori, gula, dan lemak. Temuan ini menjadi dasar bagi pengembangan media edukasi pada tahap selanjutnya.&#13;
Pada tahap kedua, dikembangkan media edukasi berbasis TikTok, yang terdiri dari video pendek yang menarik dan informatif tentang pola makan sehat dan pentingnya aktivitas fisik. Media ini dirancang khusus agar sesuai dengan karakteristik remaja dan diterima dengan baik oleh mereka. Uji coba terhadap media edukasi ini menunjukkan respons yang sangat positif dari remaja, dengan tingkat keterlibatan yang tinggi.&#13;
Tahap ketiga adalah intervensi dengan menggunakan media edukasi TikTok yang berlangsung selama enam minggu. Kelompok intervensi mendapatkan edukasi melalui media tersebut, sementara kelompok kontrol tidak menerima intervensi. Pengukuran dilakukan sebelum dan setelah intervensi untuk menilai perubahan perilaku makan, aktivitas fisik, dan status gizi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan berat badan (BMI) pada kelompok intervensi menunjukkan penurunan signifikan, dengan rata-rata BMI sebelum intervensi adalah 30,8±5,4 kg/m², yang turun menjadi 29,8±5,7 kg/m² setelah intervensi, dengan nilai P&lt;0,01. Selain itu, aktivitas fisik kelompok intervensi meningkat secara signifikan, dengan rata-rata perubahan aktivitas fisik sebesar 8,9±4,3 menit/hari, sedangkan pada kelompok kontrol terjadi penurunan sebesar -13,8±3,3 menit/hari, dengan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (P&lt;0,001). Selain itu, asupan lemak pada kelompok intervensi juga mengalami penurunan yang signifikan.&#13;
Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa edukasi gizi berbasis media interaktif, seperti TikTok, efektif dalam meningkatkan pengetahuan, mengubah perilaku makan, dan meningkatkan aktivitas fisik pada remaja kegemukan. Oleh karena itu, media sosial dapat dijadikan sarana yang efektif untuk penyuluhan gizi, membantu remaja mengubah kebiasaan makan mereka dan meningkatkan tingkat aktivitas fisik, yang pada gilirannya dapat membantu mengatasi masalah obesitas pada remaja; IRFAN SAID. The Effect of Interactive Media-Based Nutrition Education on Eating Behavior and Physical Activity of Overweight Adolescents. Supervised by DODIK BRIAWAN, CESILIA METI DWIRIANI and ANNISA UTAMI SEMINAR.&#13;
&#13;
Obesity in adolescents is a health problem that is increasing around the world, including in Indonesia. The prevalence of obesity in adolescents has increased significantly, with adverse long-term health impacts, including an increased risk of degenerative diseases such as type 2 diabetes, hypertension, metabolic disorders, and psychological problems. In Indonesia, in 2018, the prevalence of obesity in adolescents aged 13-15 years was recorded at 16%, with 4.8% of them being obese. The main cause of obesity in adolescents is an unhealthy diet, such as high consumption of fast food rich in fat, sugar, and salt, as well as low levels of physical activity. Indirect factors, such as nutritional knowledge and attitudes towards diet, also play an important role in increasing the risk of obesity. Nutrition education based on interactive media, especially using social media such as TikTok, has been considered as an effective means to increase knowledge and influence changes in adolescents' eating behavior and physical activity. Social media allows for the delivery of engaging, interactive, and accessible information, which can encourage teens to change their eating habits as well as increase physical activity. This study aims to test the influence of interactive media-based nutrition education on changes in eating behavior and physical activity in obese adolescents.&#13;
This study aims to analyze the influence of interactive media-based nutrition education on changes in eating behavior and physical activity in obese adolescents. Childhood obesity has become a significant health problem, with its prevalence steadily increasing around the world, including in Indonesia. Data show that the main cause of obesity in adolescents is an imbalance between energy intake and energy expenditure, which is affected by an unhealthy diet and low physical activity. Therefore, this study aims to explore whether nutrition education based on interactive media, particularly using social media such as TikTok, can influence changes in eating behavior and increase physical activity in obese adolescents.&#13;
This study uses a quasi-experimental design with a pre-post test control group method. The study subjects consisted of adolescents aged 15-17 years who were selected from two schools in South Jakarta, which had a high prevalence of obesity. The research was conducted in three stages. The first stage is a preliminary survey to identify factors that affect obesity in adolescents, such as diet, physical activity, knowledge, attitudes, and nutritional status. The survey results showed that the most significant factors related to obesity were low levels of physical activity and consumption of fast food that was high in calories, sugar, and fat. These findings are the basis for the development of educational media at the next stage.&#13;
In the second stage, TikTok-based educational media was developed, which consisted of interesting and informative short videos about healthy eating and the importance of physical activity. This media is specifically designed to fit the characteristics of teenagers and be well received by them. This trial of educational media showed a very positive response from adolescents, with a high level of engagement.&#13;
The third stage is an intervention using TikTok educational media which lasts for six weeks. The intervention group received education through the media, while the control group did not receive the intervention. Measurements were taken before and after the intervention to assess changes in eating behavior, physical activity, and nutritional status. The results showed that  the change in body weight (BMI) in the intervention group showed a significant decrease, with the mean BMI before the intervention being 30.8±5.4 kg/m², which dropped to 29.8±5.7 kg/m² after the intervention, with a P value of &lt; 0.01. In addition, the physical activity of the  intervention group increased significantly, with an average change in physical activity of 8.9±4.3 minutes/day, while in the control group there was a decrease of -13.8±3.3 minutes/day, with significant differences between the two groups (P&lt;0.001). In addition, fat intake in the intervention group also decreased significantly.&#13;
Overall, the results of this study show that nutrition education based on interactive media, such as TikTok, is effective in increasing knowledge, changing eating behaviors, and increasing physical activity in obese adolescents. Therefore, social media can be used as an effective means for nutrition counseling, helping adolescents change their eating habits and increase physical activity levels, which in turn can help overcome the problem of obesity in adolescents
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173239</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
