<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Medicine</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/159591</link>
<description>Faculty of Medicine</description>
<pubDate>Sun, 12 Jul 2026 06:42:58 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-07-12T06:42:58Z</dc:date>
<item>
<title>PANGAN HORTIKULTURA UNTUK PEMENUHAN GIZI PADA MENU MAKAN BERGIZI GRATIS (MBG)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174293</link>
<description>PANGAN HORTIKULTURA UNTUK PEMENUHAN GIZI PADA MENU MAKAN BERGIZI GRATIS (MBG); Optimalisasi Sayur dan Buah dalam Mendukung Gizi Seimbang Anak Indonesia  Disusun
Mauludyani, Anna Vipta Resti
Indonesia saat ini menghadapi tantangan gizi yang kompleks, yang dikenal&#13;
dengan istilah Triple Burden of Malnutrition atau tiga beban masalah gizi yang terjadi&#13;
secara bersamaan, yaitu gizi kurang, gizi lebih, dan kekurangan gizi mikro. Ketiga&#13;
masalah ini terjadi di tengah masyarakat secara bersamaan dan saling berkaitan,&#13;
sehingga memerlukan pendekatan intervensi yang menyeluruh dan tepat sasaran,&#13;
khususnya bagi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.&#13;
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir sebagai salah satu upaya&#13;
pemerintah untuk menjawab tantangan gizi tersebut, dengan menyediakan menu&#13;
makanan yang beragam, bergizi, dan terjangkau bagi anak sekolah. Agar program ini&#13;
dapat memberikan dampak yang optimal, penyusunan menu MBG perlu&#13;
memperhatikan pemenuhan zat gizi makro maupun mikro secara seimbang, termasuk&#13;
kecukupan serat, vitamin, dan mineral. Dalam konteks ini, pangan hortikultura berupa&#13;
sayur dan buah memiliki peran yang sangat strategis, karena merupakan sumber&#13;
utama vitamin, mineral, serat, dan senyawa antioksidan yang dibutuhkan tubuh.&#13;
Meskipun peranannya sangat penting, pemenuhan sayur dan buah dalam menu&#13;
MBG masih menghadapi berbagai tantangan, baik dari sisi ketersediaan pasokan&#13;
pangan hortikultura lokal maupun dari sisi tingkat konsumsi anak terhadap sayur dan&#13;
buah yang cenderung masih rendah. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang&#13;
komprehensif mengenai peran, kandungan gizi, standar porsi, serta strategi&#13;
optimalisasi pangan hortikultura dalam mendukung keberhasilan program MBG, yang&#13;
menjadi fokus pembahasan dalam makalah ini. ...
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jun 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174293</guid>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Peran Generasi Muda dalam Mencegah Sisa Makanan (Food Waste) untuk Menyelamatkan Bumi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174292</link>
<description>Peran Generasi Muda dalam Mencegah Sisa Makanan (Food Waste) untuk Menyelamatkan Bumi; GREEN GENERATION: DARI PIRING HINGGA PLANET
Mauludyani, Anna Vipta Resti
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang keberadaannya&#13;
melibatkan rantai proses panjang, mulai dari produksi di lahan pertanian,&#13;
pengangkutan, pengolahan, distribusi, hingga akhirnya disajikan di atas piring. Namun&#13;
demikian, tidak semua makanan yang telah melalui perjalanan panjang tersebut habis&#13;
dikonsumsi. Sisa makanan atau food waste menjadi salah satu persoalan global yang&#13;
berdampak luas, tidak hanya pada aspek ekonomi, tetapi juga pada lingkungan dan&#13;
sosial. Indonesia bahkan tercatat sebagai salah satu penyumbang sisa makanan&#13;
terbesar di dunia, dengan jumlah yang mencapai puluhan juta ton setiap tahunnya.&#13;
Kondisi ini menjadi semakin memprihatinkan mengingat sisa makanan yang&#13;
terbuang percuma sesungguhnya turut membawa serta seluruh sumber daya yang&#13;
telah digunakan dalam proses produksinya, seperti air, pupuk, lahan pertanian, dan&#13;
energi. Selain itu, sisa makanan yang membusuk di tempat pembuangan akhir&#13;
menghasilkan gas metana yang berkontribusi terhadap pemanasan global dan&#13;
perubahan iklim, yang pada akhirnya memicu berbagai bencana seperti banjir, angin&#13;
puting beliung, dan kekeringan. Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang&#13;
mengalami kerawanan pangan dan kekurangan gizi, sehingga permasalahan sisa&#13;
makanan ini menjadi ironi yang perlu segera diatasi bersama. ...
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jun 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174292</guid>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>GIZI TEPAT UNTUK LANSIA</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174291</link>
<description>GIZI TEPAT UNTUK LANSIA; Untuk Mendukung Kesehatan dan Kualitas Hidup Lansia Indonesia
Mauludyani, Anna Vipta Resti
Populasi lanjut usia (lansia) di Indonesia terus mengalami peningkatan yang&#13;
signifikan seiring dengan membaiknya derajat kesehatan masyarakat dan meningkatnya&#13;
angka harapan hidup. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa proporsi penduduk lansia&#13;
semakin bertambah dari tahun ke tahun, sehingga Indonesia berada pada fase menuju&#13;
struktur penduduk menua (ageing population). Peningkatan jumlah lansia ini membawa&#13;
konsekuensi penting, yaitu perlunya perhatian khusus terhadap pemenuhan kebutuhan&#13;
gizi agar lansia dapat menjalani masa tuanya dengan sehat, aktif, dan mandiri, bukan&#13;
sekadar berumur panjang.&#13;
Proses menua yang dialami lansia menyebabkan berbagai perubahan fisiologis,&#13;
mulai dari penurunan massa otot dan tulang, perubahan fungsi kognitif, penurunan nafsu&#13;
makan, hingga meningkatnya risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus,&#13;
hipertensi, dan penyakit jantung. Perubahan-perubahan tersebut sangat erat kaitannya&#13;
dengan status gizi lansia. Asupan gizi yang tidak tepat, baik dalam hal jumlah maupun&#13;
jenisnya, dapat memperberat kondisi kesehatan lansia dan mempercepat penurunan&#13;
kualitas hidup. Oleh karena itu, pemahaman mengenai gizi tepat untuk lansia menjadi hal&#13;
yang sangat penting, baik bagi tenaga kesehatan, keluarga, maupun lansia itu sendiri. ...
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jun 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174291</guid>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pendekatan Klinis Hematuria</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173942</link>
<description>Pendekatan Klinis Hematuria
Rahim, Ditia Gilang Shah Putra
Hematuria merupakan tanda umum kelainan genitourinaria yang dapat berasal dari ginjal, ureter, saluran kemih, prostat, maupun uretra. Hematuria dapat berupa hematuria makroskopik yang tampak secara kasat mata atau hematuria mikroskopik yang hanya dapat ditemukan melalui pemeriksaan mikroskopis. Prevalensi hematuria mikroskopik pada populasi umum berkisar 0,19–16,1%, sedangkan hematuria persisten relatif jarang.&#13;
Hematuria makroskopik didefinisikan sebagai perubahan warna urin akibat darah. Hematuria mikroskopik menurut American Urological Association adalah adanya ≥3 eritrosit per lapang pandang besar pada dua dari tiga pemeriksaan urin yang sesuai. Berdasarkan asalnya, hematuria dibedakan menjadi glomerular dan non-glomerular. ...
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jun 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173942</guid>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
