<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Faculty of Medicine</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/156493</link>
<description/>
<pubDate>Wed, 01 Jul 2026 12:02:14 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-07-01T12:02:14Z</dc:date>
<item>
<title>Penghambatan Fertilisasi Oleh Anti-Spam1 Sebagai Kandidat Imunokontrasepsi Pria</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173831</link>
<description>Penghambatan Fertilisasi Oleh Anti-Spam1 Sebagai Kandidat Imunokontrasepsi Pria
Setyoadi, Andika
Jumlah populasi manusia di dunia telah mengalami peningkatan sebanyak dua kali lipat selama periode tahun 1860-1930 dan telah mencapai jumlah 2 miliar jiwa saat ini. Peningkatan jumlah populasi ini diperkirakan akan menjadi tiga kali lipatnya pada 70 tahun kedepan hingga mencapai jumlah 10 miliar jiwa di tahun 2050. Jika hal ini terus berlanjut maka akan terjadi ledakan populasi. Ledakan populasi merupakan salah satu masalah terbesar di dunia yang jika tidak ditangani dengan tepat maka akan menjadi ancaman serius bagi generasi masa depan. Permasalahan pertumbuhan penduduk yang sangat pesat tersebut dapat diatasi salah satunya yaitu dengan menggunakan metode kontrasepsi. Metode kontrasepsi tertentu memiliki tingkat kesulitan, keamanan, dan cara pemakaian yang berbeda. Metode imunokontrasepsi merupakan sebuah metode kontrasepsi modern yang baru-baru ini sering digunakan. Metode imunokontrasepsi menggunakan vaksin kontrasepsi yang nantinya diharapkan akan menstimulasi terbentuknya antibodi tertentu yang dapat mencegah terjadinya proses fertilisasi. Salah satu vaksin kontrasepsi yang baru dikembangkan diantaranya yaitu Sperm Adhesion Molecule (SPAM1). SPAM1 merupakan protein yang terdapat pada sperma yang diketahui berperan dalam proses fertilisasi.&#13;
Proses fertilisasi dimulai dengan terjadinya fusi antara gamet jantan dan betina. Gamet jantan yang berupa spermatozoa memiliki antigen pada permukaan selnya yang unik, spesifik, dan bersifat imunogenik yang dapat berikatan dengan antibodi. Ikatan yang terbentuk antara antibodi dan antigen ini dapat menghambat fungsi dari gamet tersebut dan dapat mencegah terjadinya proses fertilisasi. Dengan demikian, antigen yang dimiliki oleh sperma tersebut dapat dikembangkan untuk pembuatan antibodi (anti-sperma) yang dapat digunakan sebagai vaksin imunokontrasepsi pada pria. Pembahasan makalah ini akan lebih terfokus pada pencegahan terjadinya proses fertilisasi dengan cara menggunakan antibodi pengikat protein yang berperan dalam proses fertilisasi. Penggunaan vaksin imunokontrasepsi dengan cara penghambatan pencegahan terhadap terjadinya fertilisasi ini merupakan metode yang tidak memiliki efek samping tertentu, aman digunakan serta bersifat reversibel. Dengan demikian diharapkan jika metode vaksin imunokontrasepsi ini dapat menjadi salah satu metode kontrasepsi unggulan dan menjadi solusi bagi permasalahan ledakan populasi manusia.
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jun 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173831</guid>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Infark Miokard Sekunder pada Pasien dengan Syok Septik</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173830</link>
<description>Infark Miokard Sekunder pada Pasien dengan Syok Septik
Kurniawan, Mohammad Arief
Sepsis merupakan sindroma klinis disfungsi organ akut yang mengancam jiwa yang disebabkan oleh disregulasi respons pejamu terhadap infeksi.1–3 Dalam spektrum klinisnya, terdapat pula kondisi yang disebut syok septik (septic shock), yaitu bagian dari pasien sepsis yang mengalami disfungsi sirkulasi sehingga memiliki risiko kematian yang lebih tinggi.3 Secara epidemiologi, sepsis telah ditetapkan sebagai prioritas kesehatan global karena beban penyakitnya yang sangat besar. Diperkirakan terdapat sekitar 49 juta kasus sepsis setiap tahunnya di seluruh dunia. Dampak mortalitas akibat sepsis sangat memprihatinkan, dengan perkiraan 13 juta kematian terkait sepsis setiap tahun secara global.4 Di Indonesia, angka kematian akibat sepsis tergolong sangat tinggi dan bervariasi antar wilayah. Survei di beberapa kota besar (Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Samarinda, dan Banda Aceh) menunjukkan rata-rata angka kematian berkisar antara 20% hingga 70%.1 Salah satu komplikasi yang paling sering terjadi adalah gangguan pada sistem kardiovaskular, di mana sekitar 50% pasien sepsis yang dirawat di unit perawatan intensif (ICU) mengalami disfungsi miokard. Selain itu, di antara kematian terkait sepsis, 70% hingga 90% kasus melibatkan pasien dengan disfungsi jantung. Cedera miokardium adalah salah satu disfungsi organ umum pada sepsis, yang mempercepat perkembangan sepsis dan merupakan faktor penting yang menyebabkan sindrom disfungsi organ multipel (MODS) dan prognosis yang buruk. ...
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jun 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173830</guid>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Pemberian Dini Norepinefrin Pada Tatalaksana Pasien Dengan Syok Septik: Penilaian Terhadap Durasi Hipotensi, Kadar Laktat, Saturasi Vena Sentral, Profil Hemodinamik, Dan Skor Sofa</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173829</link>
<description>Pengaruh Pemberian Dini Norepinefrin Pada Tatalaksana Pasien Dengan Syok Septik: Penilaian Terhadap Durasi Hipotensi, Kadar Laktat, Saturasi Vena Sentral, Profil Hemodinamik, Dan Skor Sofa
Kurniawan, Mohammad Arief; Farida Soenarto, Ratna; Firdaus, Riyadh; George, Yohanes WH
Septic shock induce severe vasoplegia, reduced vascular tone, and impaired tissue perfusion. The timing of norepinephrine administration as the first-line vasopressor remains debated. This study aimed to evaluate the effect of early norepinephrine administration on clinical parameters in septic shock patients. A randomized clinical trial was conducted involving 44 patients with septic shock in the RSUD Cibinong. The treatment group (n=22) received norepinephrine at 0.05 mcg/kg/min along with maintenance fluids, whereas the control group (n=22) received norepinephrine only if the target mean arterial pressure (MAP) ≥ 65 mmHg was not achieved after fluid resuscitation. Hypotension duration was recorded within the first 24 hours. Sequential Organ Failure Assessment (SOFA) score, lactate levels, central venous oxygen saturation (ScvO₂), thoracic fluid content (TFC), stroke volume variation (SVV), and cardiac contractility index (CCI) were measured at 0, 1, 3, and 24 hours post-admission. The treatment group showed a significantly shorter duration of hypotension compared to the control group (6.36 ± 2.46 vs 13.31 ± 4.41 minutes; p&lt;0.001). Additionally, the treatment group demonstrated significantly better SOFA scores, lactate levels, ScvO₂, TFC, SVV, and CCI at 1, 3, and 24 hours post-admission compared to the control group. Sepsis management with early norepinephrine administration results in significant clinical improvement in patients with septic shock.
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jun 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173829</guid>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Tinjauan Pustaka Penyakit Demielinisasi Dan Inflamasi Sistem Saraf: Transverse Myelitis Dan Sindrom Guillainbarré</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173774</link>
<description>Tinjauan Pustaka Penyakit Demielinisasi Dan Inflamasi Sistem Saraf: Transverse Myelitis Dan Sindrom Guillainbarré
Mondiani, Yeni Quinta
Penyakit demielinisasi dan inflamasi sistem saraf pusat dan tepi merupakan&#13;
kelompok kondisi neurologis yang ditandai oleh kerusakan pada selubung mielin atau&#13;
peradangan akut pada sumsum tulang belakang dan akar saraf perifer. Dua variasiklinis&#13;
yang paling relevan dalam kelompok ini dan sering dijumpai dalam praktik neurologi&#13;
maupun neuropediatri adalah Transverse Myelitis (TM) dan Sindrom Guillain-Barré&#13;
(GBS).&#13;
Transverse Myelitis adalah sindrom inflamasi fokal pada korda spinalis yang dapat&#13;
timbul akibat berbagai etiologi, mulai dari idiopatik, pasca-infeksi, penyakit autoimun&#13;
sistemik, hingga sebagai manifestasi awal penyakit demielinisasi seperti Multiple Sclerosis&#13;
(MS) atau Neuromyelitis Optica Spectrum Disorder (NMOSD). Secara global, insiden TM&#13;
diperkirakan 1–8 kasus per juta penduduk per tahun, dengan distribusi bimodal pada usia&#13;
10–19 tahun dan 30–39 tahun. Pengenalan dini TM menjadi sangat penting karena&#13;
prognosis yang sangat bervariasi: sepertiga pasien pulih sempurna, sepertiga mengalami&#13;
defisit residual, dan sepertiga lainnya tidak menunjukkan perbaikan yang berarti. ...
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jun 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173774</guid>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
