<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Veterinary Paramedic</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153669</link>
<description/>
<pubDate>Tue, 21 Jul 2026 19:54:05 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-07-21T19:54:05Z</dc:date>
<item>
<title>Analisis Jenis Media Air terhadap Perkembangan Morfologi Nyamuk Aedes aegypti</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175212</link>
<description>Analisis Jenis Media Air terhadap Perkembangan Morfologi Nyamuk Aedes aegypti
Pebrian, Aulia
Perkembangan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penyakit sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama media air sebagai tempat berkembang biak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jenis media air terhadap perkembangan morfologi dan siklus hidup Aedes aegypti. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan empat jenis media air, yaitu air ragi, air PAM, air hujan, dan air sumur, dengan pemberian pakan ikan komersial sebanyak 1 gram per hari pada setiap perlakuan. Parameter yang diamati meliputi lama perkembangan dari telur hingga dewasa serta perbedaan ukuran morfologi nyamuk yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media air memberikan pengaruh terhadap kecepatan perkembangan dan ukuran morfologi Aedes aegypti, media air ragi mempercepat perkembangan dan menghasilkan ukuran tubuh lebih besar, sedangkan media air hujan dan air sumur cenderung memperlambat pertumbuhan. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam pengendalian vektor melalui pengelolaan lingkungan terutama pada sumber air sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk.; The development of Aedes aegypti mosquitoes as disease vectors is strongly influenced by environmental conditions, particularly water media as breeding sites. This study aims to analyze the effect of different types of water media on the morphological development and life cycle of Aedes aegypti. This study used an experimental method with four types of water media, namely yeast water, tap water, rainwater, and well water, with the same feeding treatment of 1 gram of commercial fish feed per day for each group. The observed parameters included the duration of development from egg to adult and differences in mosquito morphological size. The results showed that water media affected the development rate and morphology of Aedes aegypti, where yeast water accelerated development and produced larger body sizes, while rainwater and well water tended to slow growth. The results of this study can be used as a reference for vector control through environmental management, particularly water sources as mosquito breeding sites.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175212</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Faktor Predisposisi dan Perawatan Penyakit Dermatofitosis pada Anjing di Gustavet Klinik Hewan Periode 2024–2025</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175001</link>
<description>Faktor Predisposisi dan Perawatan Penyakit Dermatofitosis pada Anjing di Gustavet Klinik Hewan Periode 2024–2025
MUKTIAR, RIZKY
Dermatofitosis merupakan penyakit infeksi jamur superfisial yang menyerang jaringan berkeratin seperti kulit, rambut, dan kuku pada anjing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengetahui faktor predisposisi  dan perawatan penyakit dermatofitosis pada anjing di Gustavet. Penelitian dilaksanakan sejak 4 Agustus hingga 1 Oktober 2025 menggunakan data rekam medis anjing dengan diagnosa penyakit kulit selama satu tahun sejak Agustus 2024 hingga Agustus 2025 dengan jumlah 116 kasus yang dikelompokkan berdasarkan diagnosa penyakit kulit, ras, jenis kelamin, usia, dan cuaca yang didapat menggunakan web MSN cuaca. Data tersebut dilakukan uji chi-square untuk mengetahui faktor yang signifikan terhadap kejadian dermatofitosis. Hasil statistik menunjukkan bahwa hubungan cuaca dengan kejadian penyakit dermatofitosis pada anjing memiliki hubungan yang signifikan (p &lt; 0,05). Faktor ras, umur, dan jenis kelamin tidak memiliki hubungan secara signifikan terhadap kejadian dermatofitosis (p &gt; 0,05). Keseluruhan pasien dermatofitosis pada anjing menjalani perawatan dengan obat antijamur sistemik yaitu itraconazole, ketoconazole dan obat terapi topikal dengan ecoenzym spray buatan Gustavet.; Dermatophytosis is a superficial fungal infection that affects keratinized tissues such as the skin, hair, and nails in dogs. This study aimed to analyze and identify the predisposing factors and treatment of dermatophytosis in dogs at Gustavet Veterinary Clinic. The research was conducted from August 4 to October 1, 2025, using medical record data of dogs diagnosed with skin diseases over a one-year period from August 2024 to August 2025, comprising a total of 116 cases. The cases were categorized based on skin disease diagnosis, breed, sex, age, and weather conditions obtained from the MSN Weather website. The data were analyzed using the chi-square test to determine factors significantly associated with the occurrence of dermatophytosis. Statistical results showed that weather had a significant association with the incidence of dermatophytosis in dogs. Meanwhile, breed, age, and sex did not show a significant relationship with the occurrence of dermatophytosis (p &gt; 0.05). All dogs diagnosed with dermatophytosis received treatment with a systemic antifungal drug, itraconazole, ketoconazole along with topical therapy using ecoenzyme spray produced by Gustavet.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175001</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Prevalensi Kejadian Feline Lower Urinary&#13;
Tract Disease (FLUTD) Periode Oktober – November 2025 di Zoom Vet Clinic</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174938</link>
<description>Prevalensi Kejadian Feline Lower Urinary&#13;
Tract Disease (FLUTD) Periode Oktober – November 2025 di Zoom Vet Clinic
Nadya Rahmah Nurjannah S
Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD) merupakan gangguan saluran kemih bagian bawah pada kucing yang sering ditemukan di praktik klinik. Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD) merupakan gangguan saluran kemih bagian bawah yang sering ditemukan pada kucing dan dapat berkembang menjadi kondisi kegawatdaruratan. Penelitian ini bertujuan mengetahui prevalensi kejadian FLUTD dan distribusi kasus berdasarkan jenis kelamin, bobot badan, ras, dan gejala klinis utama pada kucing di Zoom Vet Clinic. Penelitian menggunakan metode observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif berdasarkan data rekam medik pasien kucing periode Oktober–November 2025. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi FLUTD sebesar 1,29% (35/2.704). Kasus FLUTD lebih banyak ditemukan pada kucing jantan (91,43%), kelompok bobot badan 4–5 kg (62,86%), dan ras Persia (34,29%). Gejala klinis utama yang paling sering ditemukan adalah hematuria (37,14%) dan stranguria (34,29%). Simpulan pada penelitian ini yaitu memberikan gambaran epidemiologis awal mengenai kejadian FLUTD pada pasien kucing di Zoom Vet Clinic.; Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD) is a common lower urinary tract disorder in cats and may develop into an emergency condition. This study aimed to determine the prevalence of FLUTD and describe the distribution of cases based on sex, body weight, breed, and primary clinical signs in cats presented to Zoom Vet Clinic. A descriptive observational study with a retrospective approach was conducted using medical records of feline patients from October to November 2025. The prevalence of FLUTD was 1.29% (35/2,704). Most cases occurred in male cats (91.43%), cats weighing 4–5 kg (62.86%), and Persian cats (34.29%). Hematuria (37.14%) and stranguria (34.29%) were the most common primary clinical signs. The conclusion of this study is to provide an initial epidemiological overview of the incidence of FLUTD in cat patients at Zoom Vet Clinic.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174938</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Studi Kasus: Peran Paramedis dalam Penanganan&#13;
Prolapsus Uterus pada Kucing Persia di DITPOLSATWA</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174935</link>
<description>Studi Kasus: Peran Paramedis dalam Penanganan&#13;
Prolapsus Uterus pada Kucing Persia di DITPOLSATWA
Ayuningtyas, Rahanum
Prolapsus uterus merupakan kondisi darurat reproduksi pada hewan betina &#13;
yang ditandai dengan keluarnya uterus melalui vulva, umumnya terjadi pascapartus. &#13;
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran paramedis veteriner dalam &#13;
pemeriksaan penunjang dan penanganan kasus polapsus uterus pada kucing Persia &#13;
di Direktorat Polisi Satwa (DITPOLSATWA). Metode yang digunakan adalah studi &#13;
kasus deskriptif pada satu ekor kucing betina berumur 3 tahun dengan keluhan &#13;
massa keluar dari vulva setelah melahirkan. Data diperoleh melalui anamnesis, &#13;
pemeriksaan fisik, hematologi, dan radiografi. Hasil menunjukkan prolapsus uterus &#13;
disertai edema jaringan dan respons inflamasi berupa leukositosis serta anemia &#13;
ringan. Paramedis veteriner berperan dalam menunjang keberhasilan penanganan &#13;
melalui pemeriksaan fisik, persiapan operasi dan pasien, pemasangan infus, &#13;
pemberian terapi sesuai instruksi dokter hewan, asistensi pembedahan, pemantauan &#13;
selama anestesi dan operasi, serta perawatan pascaoperasi. Penanganan yang cepat &#13;
dan tepat mendukung keberhasilan terapi dan pemulihan pasien.; Uterine prolapse is a reproductive emergency in female animals &#13;
characterized by the protrusion of the uterus through the vulva, most commonly &#13;
occurring postpartum. This study aimed to describe the role of veterinary &#13;
paramedics in the diagnostic examination and management of a uterine prolapse &#13;
case in a Persian cat at the Directorate of Animal Police (DITPOLSATWA). The &#13;
study employed a descriptive case study involving a 3 yearold female Persian cat &#13;
presented with a uterine mass protruding from the vulva after parturition. Data were &#13;
collected through anamnesis, physical examination, hematological analysis, and &#13;
radiographic examination. The findings revealed uterine prolapse accompanied by &#13;
tissue edema, leukocytosis indicating an inflammatory response, and mild anemia. &#13;
Veterinary paramedics contributed to the successful management of the case by &#13;
performing physical examinations, preparing the patient and surgical equipment, &#13;
establishing intravenous access, administering treatments under the veterinarian's &#13;
supervision, assisting during surgery, monitoring physiological parameters &#13;
throughout anesthesia and surgery, and providing postoperative care. Prompt and &#13;
appropriate management contributed to successful treatment and patient recovery.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174935</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
