<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Environmental Engineering and Management</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153667</link>
<description/>
<pubDate>Wed, 12 Aug 2026 17:28:06 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-12T17:28:06Z</dc:date>
<item>
<title>Perumusan Detailed Engineering Design Instalasi Pengolahan Air Limbah di PT Pertamina (Persero) Kawasan Simprug.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178461</link>
<description>Perumusan Detailed Engineering Design Instalasi Pengolahan Air Limbah di PT Pertamina (Persero) Kawasan Simprug.
Sinaga, Gembira Ramve
Kawasan PT Pertamina (Persero) Simprug merupakan area komposit mixed-use yang mengalami kendala effluent melampaui baku mutu, kegagalan hidrolis, dan operasional pada IPAL existing. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja IPAL existing, memproyeksikan debit, serta merumuskan DED IPAL agar memenuhi Peraturan Menteri LHK No. 11 Tahun 2025. Metode penelitian mencakup observasi lapangan, evaluasi, dan perencanaan DED berkapasitas 418,7 m³/hari. Hasil DED dengan estimasi biaya Rp399.790.720,00 mencakup perencanaan teknologi screening, klorinasi, grease trap, serta pengolahan anaerob-aerob bermedia sarang tawon untuk parameter yang melebihi baku mutu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rancangan mampu mengatasi overflow, mengoptimalkan penyisihan polutan, dan menjamin operasional IPAL yang berkelanjutan sebagai cetak biru infrastruktur sanitasi di PT Pertamina Kawasan Simprug.; The PT Pertamina (Persero) Simprug complex is a private mixed-use area experiencing effluent quality exceedances, hydraulic failures, and operational problems at the existing WWTP. This research aims to evaluate the existing WWTP and project wastewater discharge, and to formulate a DED that meets the Regulation of the Minister of Environment and Forestry No. 11 of 2025. The research method involved field observation, evaluation, and DED planning with a capacity of 418.7 m³/day. The DED results, with an estimated cost of Rp399,790,720.00, include screening, chlorination, grease traps, and honeycomb anaerobic-aerobic biological treatment for parameters exceeding standards. This study concludes that the design addresses overflow issues, optimizes pollutant removal efficiency, and ensures sustainable WWTP operations, serving as a sanitation infrastructure blueprint for the PT Pertamina Simprug Complex.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178461</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Perancangan Rotating Biological Contactor dalam Penyisihan Biochemical Oxygen Demand Air Limbah Peternakan Sapi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178430</link>
<description>Perancangan Rotating Biological Contactor dalam Penyisihan Biochemical Oxygen Demand Air Limbah Peternakan Sapi
Romadhona, Ananda Kartini Sugiatik
Air limbah peternakan sapi yang terdiri dari urin, sisa kotoran hewan, sisa pakan, air pencucian, serta air domestik mengandung nilai BOD yang cukup tinggi sehingga berpotensi mencemari lingkungan. Rotating biological contactor adalah alat pengolahan biologi yang memanfaatkan attached growth untuk menyisihkan BOD. Penelitian bertujuan untuk merancang unit RBC sebagai teknologi pengolahan air limbah peternakan sapi untuk menurunkan kadar BOD. Variasi yang digunakan adalah luas area terendam 30%, 50%, dan 70%. Variasi luas area terendam 30% menghasilkan kinerja penyisihan BOD terbaik dengan konsentrasi BOD akhir sebesar 99,84 mg/L sehingga telah memenuhi baku mutu air limbah berdasarkan Permen LH Nomor 5 Tahun 2014. Hal ini dikarenakan luas area terendam tersebut memberikan keseimbangan yang lebih baik antara kontak biofilm dengan air limbah dan paparan oksigen dari udara sehingga proses biodegradasi berlangsung lebih optimal dibandingkan variasi luas area terendam lainnya.; Cattle farm wastewater, consisting of urine, animal manure residues, feed residues, wash water, and domestic wastewater, contains relatively high Biochemical Oxygen Demand (BOD) concentrations, posing a potential risk of environmental pollution. The Rotating Biological Contactor (RBC) is a biological wastewater treatment technology that utilizes an attached-growth process to remove BOD. This study aimed to design an RBC unit as a treatment technology for cattle farm wastewater to reduce BOD concentrations. The reactor was operated with three submerged area variations: 30%, 50%, and 70%. The 30% submerged area achieved the best BOD removal performance, resulting in a final BOD concentration of 99.84 mg/L, which complied with the wastewater quality standard stipulated in the Indonesian Minister of Environment Regulation No. 5 of 2014. This result was attributed to the 30% submerged area providing a more favorable balance between biofilm contact with wastewater and oxygen exposure from the air, thereby promoting a more efficient biodegradation process than the other submerged-area variations.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178430</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pemanfaatan Selulosa Bakteri sebagai Penguat Honeycomb Paper Wrap Berbasis Limbah Pelepah Pisang</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178423</link>
<description>Pemanfaatan Selulosa Bakteri sebagai Penguat Honeycomb Paper Wrap Berbasis Limbah Pelepah Pisang
FAUZI, FAHRIZIL
Peningkatan penggunaan kemasan plastik pada sektor e-commerce mendorong pengembangan material kemasan ramah lingkungan berbasis sumber daya terbarukan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas selulosa bakteri hasil fermentasi limbah cair tahu sebagai bahan penguat pada honeycomb paper wrap berbasis pulp pelepah pisang. Penelitian menggunakan empat perlakuan berdasarkan variasi komposisi pulp pelepah pisang dan selulosa bakteri, yaitu P0 (100:0), P1 (90:10), P2 (80:20), dan P3 (70:30). Karakterisasi meliputi sifat fisik, mekanik, dan morfologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan selulosa bakteri membentuk struktur serat yang lebih kompak melalui jaringan nanofibril yang mengisi ruang antar fiber, sehingga meningkatkan densitas, menurunkan porositas, serta memperbaiki sifat mekanik dan kapasitas menahan beban. Perlakuan P3 menghasilkan karakteristik terbaik dan melampaui kertas komersial pada sebagian besar parameter yang diuji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pulp pelepah pisang dan selulosa bakteri berpotensi menghasilkan material kemasan berbasis serat non-kayu yang lebih ramah lingkungan.; The increasing use of plastic packaging in the e-commerce sector has encouraged the development of environmentally friendly packaging materials as an alternative to conventional plastic packaging. This study aimed to evaluate the effectiveness of bacterial cellulose produced through the fermentation of tofu wastewater as a reinforcing material in honeycomb paper wrap made from banana pseudostem pulp. The study employed four pulp composition treatments consisting of banana pseudostem pulp and bacterial cellulose, namely P0 (100:0), P1 (90:10), P2 (80:20), and P3 (70:30). The material characteristics were evaluated through physical, mechanical, and morphological analyses. The results showed that the addition of bacterial cellulose produced a more compact fiber structure through a nanofibril network that filled the spaces between fibers, thereby increasing density, reducing porosity, and improving mechanical properties and load-bearing capacity. The P3 treatment exhibited the best overall performance and outperformed commercial paper in most of the evaluated parameters. These findings indicate that the combination of banana pseudostem pulp and bacterial cellulose has considerable potential as an environmentally friendly non-wood-based packaging material.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178423</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Redesign Cerobong Furnace pada Area Casting di Perusahaan Manufaktur</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178397</link>
<description>Redesign Cerobong Furnace pada Area Casting di Perusahaan Manufaktur
HARDOMO, KARINA SETYAWATI
Proses peleburan aluminium pada box furnace menghasilkan emisi yang berpotensi memengaruhi kualitas udara di lingkungan sekitar, terutama Total Suspended Partikulat (TSP) dan nitrogen dioksida (NO2). Cerobong eksisting memiliki ketinggian 11 m berdiameter 0,58 m dengan ketinggian gedung 13,5 m, sehingga tidak memenuhi syarat Keputusan Kepala Bapedal No. 205 Tahun 1996 tentang Pedoman Teknis Pengendalian Pencemaran Udara Sumber Tidak Bergerak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisi pola sebaran emisi berdasarkan variasi ketinggian cerobong menggunakan AERMOD View serta merancang kembali cerobong furnace sesuai dengan pedoman teknis pengendalian pencemaran udara sumber tidak bergerak. Penelitian dilakukan dengan menghitung neraca massa dari proses peleburan aluminium menggunakan natural gas, memodelkan konsentrasi TSP dan NO2 berdasarkan variasi ketinggian cerobong hingga merancang kembali cerobong sesuai pedoman teknis. Hasil pemodelan TSP dan NO2 ketinggian aktual cerobong 11 m memiliki konsentrasi maksimum diatas baku mutu udara ambien dan penurunan konsentrasi yang signifikan pada variasi ketinggian cerobong 27 m, 30,37m, dan 33,75 m. Hasil evaluasi pemodelan merekomendasikan desain cerobong dengan ketinggian 27 m sebagai ketinggian optimum untuk mendispersikan polutan.; The aluminum smelting process in a box furnace produces emissions that have the potential to affect air quality in the surrounding environment, particularly Total Suspended Particulates (TSP) and nitrogen dioxide (NO2). The existing stack is 11 m high and 0.58 m in diameter, with a building height of 13.5 m, and therefore does not meet the requirements of Bapedal Head Decree No. 205 of 1996 concerning Technical Guidelines for Air Pollution Control from Stationary Sources. The study was conducted by calculating the mass balance of the aluminum smelting process using natural gas, modeling TSP and NO2 concentrations based on variations in stack height, and redesigning the stack in accordance with technical guidelines. The modeling results for TSP and NO2 at the actual stack height of 11 m showed maximum concentrations exceeding ambient air quality standards, with a significant decrease in concentrations at stack heights of 27 m, 30.37 m, and 33.75 m. The results of the modeling evaluation recommend a stack design with a height of 27 m as the optimal height for dispersing pollutants.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178397</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
