<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Management of Food Service and Nutrition</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153661</link>
<description/>
<pubDate>Thu, 24 Sep 2026 20:42:52 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-09-24T20:42:52Z</dc:date>
<item>
<title>Pengembangan Produk Celimpungan Ikan Teri Jengki (Stolephorus indicus) sebagai Alternatif Sumber Kalsium untuk Remaja</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179902</link>
<description>Pengembangan Produk Celimpungan Ikan Teri Jengki (Stolephorus indicus) sebagai Alternatif Sumber Kalsium untuk Remaja
SABIRA, NAZLA
Penelitian ini bertujuan mengembangkan produk celimpungan ikan teri sebagai alternatif sumber kalsium untuk remaja. Penilitian menggunakan tiga formulasi, yaitu F1 (20 g ikan teri jengki dan 80 g tepung sagu), F2 (25 g dan 75 g), dan F3 (30 g dan 70 g). Proses pembuatan meliputi persiapan bahan, pencampuran bahan, pencetakan, perebusan, pembuatan kuah kuning, dan penyajian. Uji organoleptik dilakukan terhadap warna, aroma, rasa, dan tekstur menggunakan panelis semi terlatih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter warna, aroma, rasa, dan tekstur tidak berbeda signifikan (p&gt;0,05) antar formulasi. Formula F1 menjadi formulasi terpilih karena memperoleh tingkat kesukaan tertinggi pada parameter warna, aroma, dan tekstur. Kandungan gizi per 100 g produk yaitu energi 155 Kal, protein 5,4 g, lemak 0,1 g, dan karbohidrat 32 g. Produk ini memiliki  potensi menjadi alternatif sumber kalsium untuk remaja; This study aimed to develop a jengki anchovy celimpungan product as an&#13;
alternative source of calcium for adolescents. Three formulations were used: F1 (20&#13;
g jengki anchovy and 80 g sago flour), F2 (25 g anchovy and 75 g sago flour), and&#13;
F3 (30 g anchovy and 70 g sago flour). The production process included ingredient&#13;
preparation, mixing, shaping, boiling, preparation of yellow broth, and serving.&#13;
Organoleptic evaluation was conducted on color, aroma, taste, and texture using&#13;
semi-trained panelists. The results showed that there were no significant differences&#13;
(p &gt; 0.05) among the formulations in terms of color, aroma, taste, and texture.&#13;
Formula F1 was selected as the preferred formulation because it achieved the&#13;
highest acceptability scores for color, aroma, and texture. The nutritional content&#13;
per 100 g of product was 155 kcal of energy, 5.4 g of protein, 0.1 g of fat, and 32 g&#13;
of carbohydrates. This product has the potential to serve as an alternative source of&#13;
calcium for adolescents.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179902</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Edukasi Menggunakan Pop-up book terhadap Peningkatan Pengetahuan PHBS pada Anak Usia Sekolah Dasar</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179484</link>
<description>Pengaruh Edukasi Menggunakan Pop-up book terhadap Peningkatan Pengetahuan PHBS pada Anak Usia Sekolah Dasar
Safitri, Amelia
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan perilaku untuk menjaga kesehatan, mencegah penyakit, dan mendukung pertumbuhan anak. Peningkatan pengetahuan PHBS melalui media edukasi pop-up book. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas media edukasi pop-up book dalam meningkatkan pengetahuan PHBS pada siswa kelas IV SD Negeri Gedong Dalem 03 Kota Cilegon. Penelitian menggunakan desain pra-eksperimental one group pretest-posttest pada 40 siswa dengan teknik total sampling. Media ini dikembangkan menggunakan model ADDIE dan divalidasi oleh ahli media, ahli materi, dan ahli Bahasa. Media sangat layak digunakan berdasarkan hasil penilaian dari para ahli dengan skor 93,3-100%. Pengetahuan responden meningkat dari 61,15 sebelum dilakukan edukasi naik menjadi 88,48 Setelah dilakukan edukasi. Hasil uji Wilcoxon menunjukan adanya perbedaan signifikan (p&lt;0,001). Media pop-up book efektif meningkatkan pengetahuan responden.; Healthy and Clean Living Practices (PHBS) refer to behaviors that maintain&#13;
health, prevent disease, and support children’s growth. Improving knowledge of&#13;
PHBS through pop-up books as an educational medium. This study aims to Analysis&#13;
the effectiveness of pop-up books as an educational medium in improving PHBS&#13;
knowledge among fourth-grade students at Gedong Dalem 03 Public Elementary&#13;
School in Cilegon City. The study employed a one-group pretest-post test preexperimental Design involving 40 students selected through total sampling. The&#13;
educational medium was developed using the ADDIE model and validated by&#13;
media experts, subject matter experts, and language experts. The medium was&#13;
deemed highly suitable for use based on the experts’ evaluations, with scores&#13;
ranging from 93.3% to 100%. The respondents’ knowledge increased from 61.15&#13;
before the educational intervention to 88.48 after the intervention. The results of the&#13;
Wilcoxon test indicated a significant difference (p &lt; 0.001). The pop-up book&#13;
medium was effective in improving the respondents’ knowledge.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179484</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pemanfaatan Hati Ayam dan Bayam dalam Produksi Pasta Ravioli Sebagai Alternatif Hidangan Pencegah Anemia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179126</link>
<description>Pemanfaatan Hati Ayam dan Bayam dalam Produksi Pasta Ravioli Sebagai Alternatif Hidangan Pencegah Anemia
Ramadhan, Tegar Muhamad
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk modifikasi berupa pemanfaatan hati ayam dan bayam dalam pembuatan ravioli sebagai alternatif hidangan Pencegah anemia pada remaja putri. Hati ayam dipilih karena kandungan zat besi heme yang tinggi dan mudah diserap tubuh, sedangkan bayam sebagai sumber zat besi non-heme dan vitamin. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga formulasi F1 50 gr hati ayam + 15 gr bayam, F2 40 gr hati ayam + 30 gr bayam, F3 30 gr hati ayam + 45 gr bayam. Uji organoleptik dilakukan terhadap 35 panelis menggunakan skala hedonik 1–5 untuk menilai rasa, aroma, tekstur, dan warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi F1 dengan penambahan hati ayam 50 gr dan bayam 15 gr memberikan penerimaan terbaik dari segi organoleptik serta meningkatkan kandungan zat besi dan protein sesuai kebutuhan gizi remaja putri. Analisis biaya menggunakan metode full costing dengan menghitung kebutuhan bahan,biaya overhead dan biaya tenaga kerja menunjukkan produk ravioli ini layak diproduksi dengan harga jual terjangkau. Dengan demikian, ravioli penambahan hati ayam dan isi bayam dapat menjadi alternatif pangan fungsional yang bergizi, menarik, dan berpotensi mencegah anemia pada remaja.; This study aims to develop a modified product by using chicken liver and spinach&#13;
in making ravioli as an alternative dish to help prevent anemia in teenage girls.&#13;
Chicken liver is chosen because it has a high heme iron content that is easily&#13;
absorbed by the body, while spinach serves as a source of non-heme iron and&#13;
vitamins. The study uses a Completely Randomized Design (CRD). with three&#13;
formulations: F1 50 g chicken liver + 15 g spinach, F2 40 g chicken liver + 30 g&#13;
spinach, F3 30 g chicken liver + 45 g spinach. Organoleptic tests were carried out&#13;
with 35 panelists using a 1–5 hedonic scale to assess taste, aroma, texture, and&#13;
color. The study results showed that formulation F1, with 50 g chicken liver and 15&#13;
g spinach, received the best acceptance in terms of organoleptic properties and also&#13;
increased iron and protein content according to the nutritional needs of teenage&#13;
girls. Cost analysis using the full costing method, which calculates material&#13;
requirements, overhead costs, and labor costs, showed that this ravioli product is&#13;
feasible to produce at an affordable selling price. Therefore, ravioli with added&#13;
chicken liver and spinach filling can be a nutritious, appealin
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179126</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengembangan Wedang Ronde Berbahan Tepung Talas Beneng dan Bekatul Sebagai Minuman Tinggi Serat bagi Lansia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178852</link>
<description>Pengembangan Wedang Ronde Berbahan Tepung Talas Beneng dan Bekatul Sebagai Minuman Tinggi Serat bagi Lansia
Naja, Rashif
Pengembangan Wedang Ronde Berbahan Tepung Talas Beneng dan &#13;
Bekatul Sebagai Minuman Tinggi Serat Bagi Lansia. Dibimbing oleh MIA &#13;
MUSTIKA HUTRIA UTAMI. &#13;
Lansia memiliki risiko konstipasi akibat rendahnya konsumsi serat. Wedang ronde &#13;
merupakan salah satu minuman tradisional berbahan rempah yang digemari lansia &#13;
sehingga berpotensi dikembangkan sebagai minuman tinggi serat. Penelitian ini &#13;
bertujuan mengembangkan wedang ronde dengan substitusi tepung talas beneng dan &#13;
bekatul sebagai sumber serat. Penelitian menggunakan desain eksperimental dengan &#13;
Rancangan Acak Lengkap (RAL) pada tiga formulasi perbandingan tepung ketan, &#13;
tepung talas beneng, dan bekatul, yaitu F1 (85%:10%:5%), F2 (70%:25%:5%), dan &#13;
F3 (50%:45%:5%). Uji organoleptik dilakukan terhadap 35 panelis semi terlatih &#13;
meliputi uji hedonik dan mutu hedonik. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal&#13;
Wallis dan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan &#13;
bahwa formulasi terbaik adalah F2. Satu sajian 170 g, formulasi tersebut &#13;
mengandung energi sebesar 98 kkal, lemak 1,8 g, protein 1,4 g, karbohidrat 19 g, dan &#13;
serat pangan 5,64 g. Satu sajian wedang ronde (170 g) memiliki kandungan serat &#13;
produk mencapai 5,28 g per 100 kkal sehingga dapat dikategorikan sebagai minuman &#13;
tinggi serat.  &#13;
Kata Kunci: bekatul, serat pangan, tepung talas beneng, wedang ronde; Development of Wedang Ronde Made from Beneng Taro Flour and&#13;
Rice Bran as a High-Fiber Beverage for the Elderly.&#13;
Eldery are at risk of constipation due to inadequate dietary fiber intake. Wedang&#13;
ronde, a traditional Indonesian spiced beverage that is popular among older adults,&#13;
has the potential to be developed as a high-fiber beverage. This study aimed to&#13;
develop wedang ronde by substituting glutinous rice flour with Beneng taro flour and&#13;
rice bran as sources of dietary fiber.This study employed an experimental design&#13;
using a Completely Randomized Design (CRD) with three formulations of glutinous&#13;
rice flour, Beneng taro flour, and rice bran: F1 (85%:10%:5%), F2 (70%:25%:5%),&#13;
and F3 (50%:45%:5%). Organoleptic evaluation was conducted with 35 semi-trained&#13;
panelists using hedonic and hedonic quality tests. The data were analyzed using the&#13;
Kruskal–Wallis test followed by the Mann–Whitney test. The results showed that F2&#13;
was the best formulation. One serving (170 g) contained 98 kcal of energy, 1.8 g of&#13;
fat, 1.4 g of protein, 19 g of carbohydrates, and 5.64 g of dietary fiber. With a fiber&#13;
content of 5.28 g per 100 kcal, one serving (170 g) of wedang ronde can be classified&#13;
as a high-fiber beverage.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178852</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
