<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Medicine and Nutrition</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/151149</link>
<description>Undergraduate Theses on Faculty of Medicine and Nutrition</description>
<pubDate>Tue, 01 Sep 2026 14:59:56 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-09-01T14:59:56Z</dc:date>
<item>
<title>Keterkaitan Body Image, Perilaku Makan, Konsumsi Pangan, dan Status Gizi (IMT/U) Remaja Putri</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179668</link>
<description>Keterkaitan Body Image, Perilaku Makan, Konsumsi Pangan, dan Status Gizi (IMT/U) Remaja Putri
Miranti, Adelia
Permasalahan gizi pada remaja putri, seperti overweight dan obese berkaitan dengan ketidakpuasan body image yang dapat memicu perilaku makan yang kurang baik. Penelitian cross-sectional ini menganalisis keterkaitan body image, perilaku makan, konsumsi pangan, dan status gizi (IMT/U) pada 61 siswi kelas 8 SMPN 1 Ciomas, Kabupaten Bogor, Mei 2026, menggunakan purposive sampling. Body image dan perilaku makan diukur dengan BSQ-34 dan DEBQ, konsumsi pangan melalui food recall 2×24 jam, aktivitas fisik melalui activity recall 2×24 jam, dan status gizi melalui antropometri IMT/U. Analisis menggunakan uji korelasi Spearman dan Pearson. Hasil menunjukkan sebagian besar subjek berusia 14 tahun (80,3%), memiliki uang saku Rp15.000,00-Rp20.000,00/hari, serta berasal dari keluarga dengan tingkat pendidikan dan pendapatan orang tua yang relatif rendah. Sebagian besar subjek memiliki body image positif (63,9%), perilaku emotional eating (57,4%), restrained eating (54,1%), dan external eating (52,5%) yang kurang baik, aktivitas sedentary (57,4%), kecukupan energi dan zat gizi yang defisit, serta status gizi normal (83,6%). Terdapat hubungan yang signifikan (p&lt;0,05) antara body image dengan perilaku makan, pendidikan ibu dengan kecukupan lemak, usia subjek dengan kecukupan protein, serta external eating dengan kecukupan energi, protein, dan karbohidrat. Body image negatif meningkatkan risiko perilaku makan yang kurang baik, sehingga diperlukan edukasi gizi dan psikologis komprehensif.; Nutritional problems among adolescent girls, such as being overweight and obese, are associated with body image dissatisfaction, which can trigger unhealthy eating behaviors. This cross-sectional study analyzed the associations between body image, eating behaviors, food intake, and nutritional status (BMI-for-Age) among 61 eighth-grade female students at SMPN 1 Ciomas, Bogor Regency, in May 2026, using purposive sampling. Body image and eating behaviors were measured using the BSQ-34 and DEBQ; food intake was assessed via a 2×24-hour food recall; physical activity was assessed via a 2×24-hour activity recall; and nutritional status was assessed via anthropometric measurements of BMI-for-Age. Analyses were performed using Spearman’s and Pearson’s correlation tests. The results showed that the majority of the subjects were 14 years old (80.3%), had an allowance of Rp15,000.00–Rp20,000.00 per day, and came from families with relatively low levels of parental education and income. Most subjects had a positive body image (63.9%), but exhibited less-than-ideal emotional eating (54.1%), and external eating (52.5%) behaviors, as well as sedentary activity (57.4%), energy and nutrient deficiencies, and normal nutritional status (83.6%). There were significant associations (p&lt;0.05) between body image and eating behaviors; between maternal education and fat adequacy; between subject age and protein adequacy; and between external eating and energy, protein, and carbohydrate adequacy. Negative body image increases the risk of unhealthy eating behaviors, thus requiring comprehensive nutritional and psychological education.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179668</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Hubungan Kerawanan Pangan, Keamanan Pangan, dan Konsumsi Pangan dengan Prevalensi Stunting di Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179609</link>
<description>Hubungan Kerawanan Pangan, Keamanan Pangan, dan Konsumsi Pangan dengan Prevalensi Stunting di Indonesia
PRILITA, FIRNA ZHAFIRA
Target penurunan prevalensi stunting menjadi 14% pada akhir RPJMN 2020–&#13;
2024 belum tercapai, dengan capaian nasional tahun 2024 masih berada pada angka&#13;
19,8%. Kondisi ini menegaskan pentingnya pemenuhan gizi melalui konsumsi&#13;
pangan yang adekuat, beragam, dan berkelanjutan disertai dukungan akses dan&#13;
keamanan pangan yang memadai. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan&#13;
antara kerawanan pangan (FIES), keamanan pangan (IKPS), dan konsumsi pangan&#13;
dengan prevalensi stunting di 34 provinsi Indonesia tahun 2024. Data sekunder&#13;
diperoleh dari Kemenkes, Bapanas, dan BPS, kemudian dianalisis menggunakan&#13;
uji korelasi Pearson dan Spearman. Hasil menunjukkan kerawanan pangan&#13;
menurut FIES (p = 0,001), IKPS (p = 0,021), skor PPH (p &lt; 0,001), dan konsumsi&#13;
ikan berdasarkan PHD (p = 0,042) berhubungan signifikan dengan stunting. Skor&#13;
PPH memiliki korelasi negatif terkuat (r = -0,627), yang mengindikasikan&#13;
pentingnya keberagaman diet dalam mendukung penurunan prevalensi stunting.; The national target of reducing stunting prevalence to 14% by the end of the&#13;
2020–2024 National Medium-Term Development Plan (RPJMN) was not achieved,&#13;
as the prevalence in 2024 remained at 19.8%. This condition emphasizes the need&#13;
to ensure adequate, diverse, and sustainable food consumption, supported by&#13;
sufficient food access and food safety. This study aimed to examine the association&#13;
between food insecurity (FIES), food safety (IKPS), and food consumption with&#13;
stunting prevalence in 34 Indonesian provinces in 2024. Secondary data were&#13;
obtained from the Ministry of Health, the National Food Agency, and Statistics&#13;
Indonesia, and analyzed using Pearson and Spearman correlation tests. The results&#13;
showed that FIES (p = 0.001), IKPS (p = 0.021), DDP score (p &lt; 0.001), and fish&#13;
consumption based on the Planetary Health Diet (PHD) (p = 0.042) were&#13;
significantly associated with stunting. The DDP score showed the strongest&#13;
negative correlation (r = -0.627), indicating the importance of dietary diversity in&#13;
supporting the reduction of stunting prevalence.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179609</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Tingkat Stres, Frekuensi Olahraga, dan Kecukupan Zat Gizi Mikro, Hubungannya dengan Hipertensi pada Pasien Rawat Jalan di Poliklinik IPB</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179446</link>
<description>Tingkat Stres, Frekuensi Olahraga, dan Kecukupan Zat Gizi Mikro, Hubungannya dengan Hipertensi pada Pasien Rawat Jalan di Poliklinik IPB
Halim, Indra
Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi tinggi di Indonesia. Berbagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi, seperti tingkat stres, frekuensi olahraga, serta kecukupan zat gizi mikro, diduga berperan dalam kejadian hipertensi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat stres, frekuensi olahraga, serta kecukupan natrium, kalium, kalsium, dan magnesium dengan kejadian hipertensi pada pasien rawat jalan di Poliklinik IPB. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan 92 subjek yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Data tingkat stres diperoleh menggunakan kuesioner DASS-42, frekuensi olahraga melalui wawancara, serta asupan natrium, kalium, dan kalsium menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Analisis data meliputi analisis deskriptif, uji Chi-Square untuk analisis bivariat, dan regresi logistik biner untuk analisis multivariat. Sebagian besar subjek berjenis kelamin laki-laki (52,2%), berusia 18–39 tahun (58,7%), mengalami obesitas (39,1%), dan memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga (65,2%). Hasil bivariat menunjukkan frekuensi olahraga (p=0,002), kecukupan kalium (p=0,002), dan kecukupan kalsium (p=0,002) berhubungan signifikan dengan hipertensi. Tingkat stres (p=0,607) dan kecukupan natrium (p=0,183) tidak berhubungan signifikan. Regresi logistik menunjukkan frekuensi olahraga sebagai faktor paling berpengaruh (OR=5,603; p=0,028). Subjek yang kurang aktif berolahraga berpeluang 5,6 kali lebih besar mengalami hipertensi.; Hypertension is one of the major public health problems with a high prevalence in Indonesia. Various modifiable risk factors, such as stress level, exercise frequency, and micronutrient adequacy levels, are thought to contribute to the occurrence of hypertension. This study aimed to analyze the associations of stress level, exercise frequency, and sodium, potassium, calcium, and magnesium intake with hypertension among outpatients at the IPB Polyclinic. This cross-sectional study involved 92 subjects selected using consecutive sampling. Stress level data were obtained using the DASS-42 questionnaire, exercise frequency through interviews, and sodium, potassium, and calcium intake using a Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Data analysis included descriptive analysis, the Chi-Square test for bivariate analysis, and binary logistic regression for multivariate analysis. Most subjects were male (52.2%), aged 18–39 years (58.7%), obese (39.1%), and had a family history of hypertension (65.2%). Bivariate analysis showed that exercise frequency (p=0.002), potassium adequacy (p=0.002), and calcium adequacy (p=0.002) were significantly associated with hypertension. Stress level (p=0.607) and sodium adequacy (p=0.183) were not significantly associated with hypertension. Logistic regression showed that exercise frequency was the most influential factor (OR=5,603; p=0.028). Subjects who were less physically active had a 5.6-fold higher likelihood of having hypertension.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179446</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Aktivitas Fisik, Emotional Eating, Konsumsi Junk Food, dan Status Gizi Siswi SMK Kehutanan Bhakti Rimba</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179436</link>
<description>Aktivitas Fisik, Emotional Eating, Konsumsi Junk Food, dan Status Gizi Siswi SMK Kehutanan Bhakti Rimba
SYAHRANI, TENGKU TRI YUNI
Remaja rentan mengalami perubahan pola makan dan gaya hidup yang dapat&#13;
memengaruhi status gizi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara emotional&#13;
eating dengan konsumsi Junk food, serta hubungan aktivitas fisik, emotional eating, dan&#13;
konsumsi Junk food dengan status gizi pada siswi SMK Kehutanan Bhakti Rimba. Penelitian&#13;
menggunakan desain cross-sectional pada 22 siswi berusia 16–18 tahun yang dipilih secara&#13;
purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Dutch Eating Behavior Questionnaire&#13;
(DEBQ), Semi Quantitative Food Frequency Quetionnaire (SQ-FFQ), recall aktivitas fisik&#13;
2×24 jam, dan pengukuran IMT/U, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dan&#13;
Rank-Spearman. Sebagian besar subjek memiliki aktivitas fisik ringan (86,0%), termasuk&#13;
kategori emotional eating (59,1%), sering mengonsumsi junk food, dan memiliki status gizi&#13;
normal (77,0%). Emotional eating berhubungan signifikan (p &lt;0,05) dengan frekuensi&#13;
konsumsi Junk food serta kontribusi energi, protein, lemak, dan karbohidrat dari junk food.&#13;
Namun, aktivitas fisik, emotional eating, frekuensi konsumsi Junk food, dan kontribusi zat gizi&#13;
makro dari Junk food tidak berhubungan secara signifikan dengan status gizi.; Adolescents are vulnerable to changes in dietary habits and lifestyle that may affect their&#13;
nutritional status. This study aimed to analyze the association of emotional eating and junk&#13;
food consumption, as well as the associations of physical activity, emotional eating, and junk&#13;
food consumption with nutritional status among female students at Bhakti Rimba Forestry&#13;
Vocational High School. A cross-sectional study was conducted among 22 female students&#13;
aged 16–18 years selected using purposive sampling. Emotional eating was assessed using the&#13;
Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ), junk food consumption using a SemiQuantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), physical activity using a 2×24-hour&#13;
physical activity recall, and nutritional status based on BMI-for-age. Data were analyzed using&#13;
Pearson and Spearman's rank correlation tests. Most participants had light physical activity&#13;
(86.0%), were classified as emotional eaters (59.1%), frequently consumed junk food, and had&#13;
normal nutritional status (77.0%). Emotional eating was significantly associated (p &lt;0.05) with&#13;
the frequency of junk food consumption and the contributions of energy, protein, fat, and&#13;
carbohydrate from junk food. However, physical activity, emotional eating, junk food&#13;
consumption frequency, and the contributions of energy, protein, fat, and carbohydrate from&#13;
junk food were not significantly associated with nutritional status.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179436</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
