<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Agronomy and Horticulture</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/121</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 30 May 2026 20:16:21 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-05-30T20:16:21Z</dc:date>
<item>
<title>Pembibitan Kelor (Moringa oleifera (L.)) Pada Variasi Posisi Setek dan Metode Pemberian Auksin</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173185</link>
<description>Pembibitan Kelor (Moringa oleifera (L.)) Pada Variasi Posisi Setek dan Metode Pemberian Auksin
ANDRIANSYAH, RENDY
Kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman tahunan dengan potensi pengembangan yang besar dan dapat diperbanyak secara generatif maupun vegetatif. Perbanyakan vegetatif melalui setek batang banyak dipraktikkan, namun tingkat keberhasilannya relatif rendah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi respons pertumbuhan setek kelor terhadap perbedaan orientasi setek dan metode pemberian auksin. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Leuwikopo pada Juni–Agustus 2025 menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktorial. Perlakuan terdiri dari dua taraf posisi setek (vertikal dan horizontal) dan tiga taraf metode aplikasi auksin (tanpa auksin, perendaman dalam larutan auksin 1500 ppm, dan pengolesan pasta auksin). Posisi peletakan setek secara horizontal menghasilkan persentase bertunas lebih tinggi dari posisi vertikal, tetapi peubah seperti bobot basah dan bobot kering daun posisi vertikal lebih berat daripada posisi horizontal. Hal tersebut dikarenakan panjang akar pada posisi vertikal lebih panjang dari posisi penanaman horizontal yang menjadi indikator keberhasilan setek atau setek dapat beradaptasi dengan baik. Sedangkan pada perlakuan metode aplikasi auksin, taraf tanpa auksin memiliki panjang akar yang lebih panjang daripada perendaman dan pengolesan auksin yang mengindikasikan setek berhasil beradaptasi atau setek tersebut hidup.; Moringa (Moringa oleifera) is a perennial plant with considerable development potential and can be propagated both generatively and vegetatively. Vegetative propagation using stem cuttings is widely practiced, yet survival rates are relatively low. This study evaluated growth responses of Moringa cuttings to different cutting orientations and auxin application methods. The experiment was conducted at the Leuwikopo Experimental Field from June to August 2025 using a factorial Randomized Complete Block Design (RCBD). The treatments consisted of two cutting orientations (vertical and horizontal) and three auxin application methods (without auxin, soaking in 1500 ppm auxin solution, and application of auxin paste). The horizontal cutting position produced higher sprouting percentage than vertical position, however variables such as fresh leaf weight and dry leaf weight were greater in the vertical position than in the horizontal position. This was due to the longer root length in the vertical position compared to the horizontal planting position which served as an indicator of cutting establishment success or the ability of cuttings to adapt well. Meanwhile in auxin application treatment, without auxin level resulted in longer root length than soaking and auxin paste application treatments that indicating cuttings were able to adapt successfully or survive well.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173185</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Seed Coating dan Penyemprotan Daun dengan Mikronutrien Si, Se, dan Zn terhadap Pertumbuhan Tanaman, Produksi, dan Mutu Benih Jagung (Zea mays L.)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173164</link>
<description>Pengaruh Seed Coating dan Penyemprotan Daun dengan Mikronutrien Si, Se, dan Zn terhadap Pertumbuhan Tanaman, Produksi, dan Mutu Benih Jagung (Zea mays L.)
Alfareza, Justin Farel
Penurunan produktivitas jagung di Indonesia berkaitan erat dengan&#13;
keterbatasan ketersediaan unsur hara mikro yang berperan penting dalam&#13;
pembentukan hasil dan mutu benih. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh seed&#13;
coating dan pemupukan daun menggunakan mikronutrien silikon (Si), selenium&#13;
(Se), dan seng (Zn) terhadap pertumbuhan, produksi, dan mutu fisiologis benih&#13;
jagung (Zea mays L.). Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Leuwikopo dan&#13;
Laboratorium Penyimpanan dan Pengujian Mutu Benih IPB menggunakan&#13;
rancangan kelompok lengkap teracak pola petak terbagi. Perlakuan pemupukan&#13;
daun sebagai petak utama terdiri atas tiga taraf konsentrasi, yakni P0 (tanpa&#13;
pemupukan daun), P1 (pemupukan daun konsentrasi 2 ml/l), P2 (pemupukan daun&#13;
konsentrasi 4 ml/l). Perlakuan seed coating sebagai anak petak, terdiri atas dua taraf,&#13;
S0 (tanpa seed coating), S1 (aplikasi seed coating), dengan empat ulangan. Hasil&#13;
penelitian menunjukkan bahwa perlakuan seed coating sebagai faktor tunggal&#13;
meningkatkan parameter pertumbuhan vegetatif, seperti tinggi tanaman dan jumlah&#13;
daun, pada minggu pengamatan tertentu. Sebaliknya, perlakuan pemupukan daun&#13;
tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap parameter tersebut. Aplikasi seed&#13;
coating dan pemupukan daun dengan mikronutrien Si, Se, dan Zn pada penelitian&#13;
ini tidak berpengaruh nyata terhadap parameter hasil produksi maupun mutu&#13;
fisiologis benih jagung. Respons interaksi nyata hanya terdeteksi pada bobot 1000&#13;
butir benih, yang mengindikasikan benih yang dilapisi dengan mikronutrien hanya&#13;
memerlukan pemupukan daun dengan konsentrasi yang lebih rendah (P1)&#13;
dibandingkan benih yang tidak dilapisi mikronutrien.; Declining maize productivity in Indonesia is closely linked to micronutrient&#13;
deficiencies that impact seed yield and quality. This study evaluated the effects of&#13;
seed coating and foliar fertilization using silicon (Si), selenium (Se), and zinc (Zn)&#13;
on growth, seed yield, and physiological seed quality of maize (Zea mays L.). The&#13;
experiment was conducted at the Leuwikopo Experimental Field and the Seed&#13;
Storage and Testing Laboratory of IPB University using a split-plot randomized&#13;
complete block design. Foliar fertilization treatment, as the main plot, consisted of&#13;
three concentration levels: P0 (without foliar fertilization), P1 (foliar fertilization&#13;
at 2 ml/liter), and P2 (foliar fertilization at 4 ml/liter). The seed coating treatment&#13;
was used as a subplot, consisting of two levels, S0 (without seed coating) and S1&#13;
(seed coating application), with four replications. The results of the study showed&#13;
that seed coating treatment as a single factor increased vegetative growth&#13;
parameters, such as plant height and leaf number, during specific observation&#13;
weeks. In contrast, foliar fertilization treatment did not show significant effects on&#13;
these parameters. The application of seed coating and foliar fertilization with&#13;
micronutrients (Si, Se, and Zn) in this study did not significantly affect yield&#13;
parameters or the physiological quality of maize seeds. A significant interaction&#13;
response was detected at 1000 seed weights, indicating that micronutrient-coated&#13;
seeds required foliar fertilization at a lower concentration (P1) than non-coated&#13;
seeds.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173164</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Uji Kualitas Sumber Air Irigasi Kolam IPAL terhadap Pertumbuhan, Produksi, dan Kualitas Buah Nanas GP3</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173162</link>
<description>Uji Kualitas Sumber Air Irigasi Kolam IPAL terhadap Pertumbuhan, Produksi, dan Kualitas Buah Nanas GP3
PUTRI, KHOIRUNNISA LASTANTI
Nanas (Ananas comosus L. Merr) merupakan komoditas hortikultura unggulan bernilai ekonomi tinggi yang berperan penting dalam industri pengolahan dan ekspor. Dalam upaya mendukung keberlanjutan produksi, limbah cair IPAL berkapasitas debit hilir ±14 m3 hari-1 berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber irigasi alternatif. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan pengaruh sumber air irigasi dari kolam IPAL dan sumur bor terhadap pertumbuhan, produksi, dan kualitas buah nanas GP3. Penelitian dilaksanakan pada Juli–November 2025 di PT Great Giant Pineapple, Terbanggi Besar, Lampung. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan air irigasi dari kolam IPAL tidak memberikan perbedaan nyata terhadap pertumbuhan vegetatif dan produksi dibandingkan kontrol. Perlakuan kolam 15 IPAL nanas yang terkontaminasi Dickeya sp. (B) secara konsisten menunjukkan insidensi dan severitas penyakit tertinggi dibandingkan kontrol sumur bor (A) dan kolam 13 IPAL tapioka (C). Insidensi layu Dickeya pada plot generatif sebesar 15,87% (A: 12,60%; C: 12,73%) dan vegetatif 29,32% (A: 11,57%; C: 25,75%). Insidensi penyakit buah rotten 20,00% (A dan C: 0,00%) dengan severitas 15,00% (A dan C: 0,00%), serta penurunan kualitas ditunjukkan dengan peningkatan buah grade &lt;1T 25,82% (A: 7,29%; C: 6,60%) dan buah mentah 20,00% (A: 15,00%; C: 0,00%). Penggunaan air terkontaminasi bakteri meningkatkan serangan penyakit dan menurunkan mutu buah, pemanfaatan air kolam IPAL sebagai irigasi perlu dikelola agar mendukung produksi nanas optimal.; Pineapple (Ananas comosus L. Merr) is a superior horticultural commodity with high economic value and an important role in processing and export industries. To support sustainability, wastewater from a wastewater treatment plant (WWTP) with a downstream discharge capacity of ±14 m³ day-1 has potential as an alternative irrigation source. This study analyzed the effect of irrigation water from WWTP ponds and drilled wells on the growth, production, and fruit quality of GP3 pineapple. The study was conducted in July–November 2025 at PT Great Giant Pineapple, Terbanggi Besar, Lampung. Results showed WWTP pond irrigation had no significant difference in vegetative growth and production compared to the control. However, pond 15 WWTP pineapple contaminated with Dickeya sp. (B) consistently showed the highest disease incidence and severity compared to drilled well control (A) and pond 13 tapioca WWTP (C). Dickeya wilt incidence in generative plots was 15.87% (A: 12.60%; C: 12.73%) and vegetative 29.32% (A: 11.57%; C: 25.75%). Rotten fruit incidence was 20.00% (A, C: 0.00%) with 15.00% severity (A, C: 0.00%). Quality decline was shown by fruit grade &lt;1T 25.82% (A: 7.29%; C: 6.60%) and unripe fruit 20.00% (A: 15.00%; C: 0.00%). Bacterial contamination increased disease and reduced fruit quality also WWTP water use must be properly managed.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173162</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Deskripsi Agronomi Aksesi Padi Lokal Asal Desa Pangumbahan Kawasan Geopark Ciletuh Kabupaten Sukabumi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173150</link>
<description>Deskripsi Agronomi Aksesi Padi Lokal Asal Desa Pangumbahan Kawasan Geopark Ciletuh Kabupaten Sukabumi
Anggara, M Anandhita Yudha
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi aksesi padi lokal yang berasal dari &#13;
Desa Pangumbahan, Kawasan Geopark Kabupaten Sukabumi secara agronomis dan &#13;
menentukan aksesi padi lokal yang memiliki karakter unggul secara morfologis dan &#13;
agronomis. Penelitian ini mengamati karakteristik tanaman, karakteristik gabah dan &#13;
proyeksi hasil. Karakteristik tanaman yang diamati berupa tinggi tanaman, tinggi &#13;
batang, panjang daun bendera, lebar daun bendera, panjang malai, jumlah malai dan &#13;
jumlah anakan. Karakteristik gabah yang diamati berupa jumlah gabah malai-1, &#13;
jumlah gabah isi dan hampa malai-1, bobot gabah total, bobot gabah isi dan hampa, &#13;
warna gabah dan beras pecah kulit, dan bobot 1000 butir gabah bernas. Proyeksi &#13;
hasil dihitung dengan asumsi per hektar memiliki 200.000 rumpun dan &#13;
mengkalikan dengan berat gabah isi. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas &#13;
aksesi padi layak dan berpotensi untuk dikembangkan kecuali aksesi Ketan Odeng &#13;
dan Ketan Lilin karena karakteristik tanaman yang kurang ideal dan proyeksi hasil &#13;
yang masih rendah.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173150</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
