<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Agronomy and Horticulture</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/121</link>
<description/>
<pubDate>Fri, 07 Aug 2026 02:46:52 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-07T02:46:52Z</dc:date>
<item>
<title>Studi Keragaman Pola Tanam Tumpangsari Cabai  Rawit (Capsicum frutescens L.) Senang Naungan dan Jagung Manis (Zea  mays saccharata S.)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177498</link>
<description>Studi Keragaman Pola Tanam Tumpangsari Cabai  Rawit (Capsicum frutescens L.) Senang Naungan dan Jagung Manis (Zea  mays saccharata S.)
Rizky, Azka Alif
Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) senang naungan berpotensi dikembangkan dalam sistem tumpangsari dengan jagung manis untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi penggunaan lahan. Namun, informasi mengenai pola tanam yang paling sesuai untuk mendukung pertumbuhan dan hasil  kedua komoditas masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh  beberapa pola tanam tumpangsari terhadap pertumbuhan dan hasil cabai rawit varietas Shadiva IPB serta jagung manis varietas Arinta IPB. Penelitian menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) satu faktor dengan tujuh perlakuan dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola tanam tumpangsari memodifikasi mikroklimat dan meningkatkan pertumbuhan, fruit set, hasil, serta produktivitas cabai rawit dibandingkan monokultur. Sebaliknya, pertumbuhan, hasil, dan kualitas jagung manis relatif tidak dipengaruhi oleh pola tanam yang diterapkan. Perlakuan tumpangsari pola zig-zag (P6) memberikan produktivitas cabai rawit, produktivitas jagung manis, dan nilai Nisbah Kesetaraan Lahan (NKL) tertinggi. Dengan demikian, sistem tumpangsari mampu meningkatkan hasil cabai rawit tanpa menurunkan produktivitas jagung manis, dan pola tanam zig-zag merupakan kombinasi yang paling efektif untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi penggunaan lahan.; Chilli pepper (Capsicum frutescens L.) adapted to shaded conditions has the potential to be cultivated in an intercropping system with sweet corn to improve productivity and land-use efficiency. However, information regarding the most suitable planting pattern to optimize the growth and yield of both crops is still limited. This study aimed to evaluate the effects of different intercropping planting patterns on the growth and yield of Shadiva IPB Chilli pepper and Arinta IPB sweet corn. The experiment was arranged in a Randomized Complete Block Design (RCBD) with a single factor consisting of seven treatments and three replications. The results showed that intercropping modified the microclimate and enhanced the growth, fruit set, yield, and productivity of Chilli pepper compared with monoculture. In contrast, the growth, yield, and quality of sweet corn were not significantly affected by the planting patterns. The zig-zag intercropping pattern (P6) produced the highest Chilli pepper productivity, sweet corn productivity, and Land Equivalent Ratio (LER). Therefore, the intercropping system increased Chilli pepper yield without reducing sweet corn productivity, and the zig-zag planting pattern was the most effective combination for improving productivity and land-use efficiency.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177498</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Evaluasi Keragaman dan Kemurnian Genetik Tujuh Genotipe Melon (Cucumis melo L.) Berdasarkan Karakter Morfoagronomi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177441</link>
<description>Evaluasi Keragaman dan Kemurnian Genetik Tujuh Genotipe Melon (Cucumis melo L.) Berdasarkan Karakter Morfoagronomi
SANTOSO, CLARISSA AURELLIA RAHARJO
Melon (Cucumis melo L.) merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi yang pengembangannya memiliki berbagai tantangan dalam aspek luas panen, produksi, perubahan iklim, serangan hama dan penyakit, hingga ketersediaan varietas dan benih. Upaya perbaikan karakter melalui pemuliaan tanaman menjadi salah satu langkah solutif dalam pengembangan melon sebagai produk unggulan. Efektivitas perbaikan karakter tanaman dipengaruhi oleh informasi keragaman dan kemurnian genetik pada tetua persilangan. Kedua informasi tersebut dapat diperoleh berdasarkan keragaan morfoagronomi tanaman sehingga penelitian ini bertujuan mengevaluasi keragaman dan kemurnian genetik berdasarkan karakter morfoagronomi pada enam genotipe melon koleksi PKHT IPB dengan Alisha F1 sebagai varietas pembanding. Keragaman genetik dievaluasi menggunakan analisis deskriptif, sidik ragam, analisis korelasi, koefisien keragaman, nilai heritabilitas, dan analisis gerombol, sedangkan kemurnian genetik dievaluasi dengan pendekatan tipe simpang dan standar deviasi relatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya keragaman antargenotipe dengan tingkat disimilaritas sebesar 0,26–0,65; koefisien keragaman genetik 0,021–0,552; dan nilai heritabilitas arti luas &gt;50 %. Evaluasi kemurnian genetik menunjukkan tidak ada genotipe yang seragam pada seluruh karakter morfoagronomi yang diamati. Genotipe IPB-M1, IPB-M21, dan IPB-M23 memiliki satu karakter tidak seragam; Snow White dan IPB-M13 memiliki lima karakter tidak seragam; dan IPB-M7 memiliki satu individu tipe simpang dan sebelas karakter tidak seragam.; Melon (Cucumis melo L.), a high-value horticulture crop, faces various challenges in harvest area, production, climate change, pest, disease, and the availability of varieties and seeds. Plant breeding is one of the strategies for developing melon as a key commodity. The effectiveness of improving plant traits is influenced by information on genetic variability and purity of parental lines used for crossing. Both types of information can be obtained using morphoagronomic traits, so this study aimed to evaluate genetic variability and purity using morphoagronomic traits in six melon genotypes from PKHT IPB and Alisha F1 as a reference variety. Genetic variability was evaluated using descriptive statistics, analysis of variance, correlation analysis, coefficient of variation, heritability value, and cluster analysis, while genetic purity was assessed on the basis of the off-type and relative variance method. The results showed that the intergenotype had dissimilarity levels of 0,26–0,65; genetic coefficients of variance 0,021–0,552; and broad-sense heritability values &gt;50%. The evaluation of genetic purity indicated that no genotype was uniform for all morphoagronomic traits. IPB-M1, IPB-M21, and IPB-M23 had one non-uniform trait; Snow White and IPB-M13 had five non-uniform traits; and IPB-M7 had one off-type plant and eleven non-uniform traits.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177441</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Induksi Kalus Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) dengan Auksin (Picloram, 2,4-D) dan Sitokinin (TDZ)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177430</link>
<description>Induksi Kalus Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) dengan Auksin (Picloram, 2,4-D) dan Sitokinin (TDZ)
AULIA, LERISA
Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) merupakan tanaman rempah khas Sumatera Utara yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta berpotensi dikembangkan sebagai sumber senyawa bioaktif. Perbanyakan tanaman andaliman secara konvensional masih mengalami kendala, seperti daya kecambah biji yang rendah dan pertumbuhan tanaman yang lambat. Kultur jaringan melalui induksi kalus dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendukung perbanyakan tanaman andaliman. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas kombinasi auksin (picloram dan 2,4-D) dengan TDZ dalam menginduksi kalus tanaman andaliman. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Gedung Biomaterial BRIN Cibinong, Bogor, pada November 2025 hingga Januari 2026 menggunakan rancangan faktorial RKLT dua faktor, yaitu auksin dan TDZ. Parameter yang diamati meliputi waktu muncul kalus, persentase pembentukan kalus, diameter, tekstur, dan warna kalus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa auksin dan sitokinin berpengaruh nyata terhadap waktu muncul kalus, sedangkan interaksi keduanya berpengaruh nyata terhadap persentase pembentukan kalus. Perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap diameter kalus. Perlakuan 2,4-D 1,0 mg L-1 menghasilkan waktu muncul kalus tercepat, sedangkan kombinasi picloram 1,5 mg L-1 dan TDZ 0,5 mg L-1 menghasilkan persentase pembentukan kalus tertinggi sebesar 90%. Kalus yang terbentuk adalah kalus kompak yang tidak bersifat organogenik maupun embrogenik dengan warna greyed-yellow hingga greyed-brown.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177430</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Uji Stabilitas Mutan Putatif Beberapa Genotipe Bunga Lipstik Generasi MV2</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177423</link>
<description>Uji Stabilitas Mutan Putatif Beberapa Genotipe Bunga Lipstik Generasi MV2
DAFIANTI, ALMIRA GANTARI
ALMIRA GANTARI DAFIANTI. Uji Stabilitas Mutan Putatif Beberapa Genotipe Bunga Lipstik Generasi MV2. Dibimbing oleh SYARIFAH IIS AISYAH dan SRI RAHAYU. &#13;
Bunga Lipstik memiliki daun berwarna hijau mengkilap berbentuk oval dan runcing. Mahkota bunga Aeschynanthus berbentuk tubular (tabung), melengkung, dan menjulur ke bawah sehingga banyak ditanam menggunakan pot gantung. Penelitian ini bertujuan menguji stabilitas dan keseragaman mutan putatif 5 genotipe bunga lipstik terdiri dari satu spesies dan empat kultivar yakni Aeschynanthus pulcher, Aeschynanthus Bravera, Aeschynanthus Mahligai, Aeschynanthus Redona dan Aeschynanthus Soedjana Kassan hasil induksi mutasi menggunakan EMS pada generasi MV2. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2025 hingga bulan Januari 2026 di Screenhouse tanaman hias kampus IPB University. Penelitian sebelumnya menggunakan mutagen Etyl methanasulfonate (EMS) sebagai faktor dengan menggunakan empat taraf konsentrasi diantaranya 0% (kontrol), 1%, 2% dan 3%. Mutan putatif bunga lipstik generasi MV2 memiliki respons pertumbuhan yang bervariasi antar genotipe dan konsentrasi EMS, namun sebagian besar genotipe menunjukkan peningkatan karakter vegetatif dibandingkan MV1, terutama pada panjang tunas total, panjang ruas, dan karakter daun, dengan Mahligai sebagai genotipe yang paling stabil, seragam dan adaptif. Generasi MV2 belum menunjukkan kestabilan pertumbuhan karakter vegetatif dibanding MV1. Karakter panjang tunas, panjang ruas, panjang daun, lebar daun dan tebal daun &#13;
MV2 secara umum menunjukkan hasil yang lebih tinggi atau seragam pada hampir &#13;
seluruh genotipe dan konsentrasi EMS.  &#13;
&#13;
Kata kunci: Tanaman hias, mutasi induksi, Ethyl metanasulfonat (EMS), stabil, seragam, karakter
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177423</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
